Tag: tuli

  • Cerita-cerita Tuli: Pameran Foto tentang Keseharian DIsabilitas Tuli di Kota Solo

    Cerita-cerita Tuli: Pameran Foto tentang Keseharian DIsabilitas Tuli di Kota Solo

    Foto: Gerkatin Solo

    7cloud.asia – Menjadi disabilitas tuli yang hidup di tengah masyarakat yang mayoritas warganya berkomunikasi secara verbal menjadi tantangan tersendiri. 

    Disabilitas tuli memiliki cara berkomunikasi dan budayanya sendiri. Sayangnya, masih banyak ruang publik di kota yang belum menyediakan fasilitas yang memadai untuk mengakomodasi kebutuhan disabilitas Tuli ini.

    Ketiadaan fasilitas publik yang memadai, membuat disabilitas Tuli harus mencari siasat tersendiri untuk dapat beraktivitas sehari-hari sebagaimana warga lainnya.

    Perbedaan cara berkomunikasi, baik di sekolah maupun di tempat kerja, menjadi hambatan pendidikan yang dialami sebagian disabilitas Tuli baik dalam mengikuti pelajaran maupun bersosialisasi.

    Untuk mengatasinya, disabilitas Tuli bersiasat dan mengandalkan bantuan di sekitar mereka serta sumber daya yang mereka punya.

    Berkat usaha-usaha yang telah dilakukan oleh komunitas Tuli di Indonesia, saat ini kesadaran masyarakat terhadap keberadaan disabilitas Tuli serta penggunaan Bahasa Isyarat terus meningkat.

    Baca: Anak disabilitas jadi korban kekerasan, bagaimana tanggung jawab lingkungan?

    Bagaimana keseharian disabilitas Tuli di tengah kehidupan kota yang lebih mengutamakan warga yang bisa mendengar, dipamerkan dalam pameran foto bertajuk Cerita-cerita Tuli.

    “Media foto dipilih karena teman-teman Tuli yang tergabung di Gerkatin sangat visual. Untuk menggambarkan tantangan yang dihadpai, medium foto dinilai yang paling tepat,” terang Vanesha Manuturi, Manajer Komunikasi dan Advokasi Kota Kita saat dihubungi 7cloud.asia melalui sambungan telepon Senin (22/5/2023)

    Pameran yang mulai digelar pada 21 hingga 27  Mei 2023  mengulik keseharian disabilitas Tuli yang seringkali luput dalam diskusi perkotaan melalui kumpulan foto tentang pengalaman sehari-hari disabilitas Tuli di kota Solo,” 

    Foto-foto itu memotret dari cara berkomunikasi, kesulitan sehari-hari, hingga harapan dan aspirasi dari teman-teman Tuli.

    Melalui cerita-cerita ini, ujar Vanesha, kami berharap untuk bisa mendorong fasilitas dan kebijakan publik yang lebih mudah diakses untuk teman disabilitas Tuli.

    Baca: Perempuan down syndrome rentan alami kekerasan tapi sering diabaikan

    Vanesha menambahkan, foto yang dipamerkan di Zine ini merupakan hasil dari Lokakarya Photovoice yang diadakan oleh Yayasan Kota Kita, Gerkatin Solo, dan Ruang Atas dengan dukungan Voice, sepanjang bulan Februari hingga Maret 2023.

    Dalam Lokakarya Photovoice, peserta diajak untuk mengambil foto yang menjawab serangkaian pertanyaan terbuka tentang keseharian dan kebutuhan di ruang publik.

    “Ini adalah Foto-foto individu, sedangkan tantangannya telah didisikusikan bersama,” imbuh Vanesha.

    Dalam diskusi tersebut, sebanyak 16 peserta diberi keleluasaan untuk mengambil foto sesuai dengan keseharian masing-masing. Dalam kelompok kecil berisi 4–5 orang, peserta diajak untuk bercerita dan berdiskusi tentang foto yang akan diambil.

    Cerita-cerita yang ada dikumpulkan dan dirangkai menjadi cerita kolektif mengenai kebutuhan, tantangan, dan aspirasi Tuli untuk membangun kota Solo yang lebih inklusif.

    Hasilnya sejumlah foto dengan cerita yang sangat beragam. Afrizal misalnya, memotret ruang gambar tempat ia praktik di kampus.

    “Sehari-hari, saya berkuliah di jurusan Desain Komunikasi Visual. Sebagai Tuli yang memiliki hambatan komunikasi, materi perkuliahan baik teori maupun praktik membingungkan dan sulit saya mengerti. Namun, keberadaan Juru Bahasa Isyarat (JBI) amat membantu kami dalam belajar lebih cepat dan lebih nyaman,” demikian ia menjelaskan fotonya.

    Baca: Mengkaji keterlibatan kelompok disabilitas dalam pemilu

    Sedangkan Eza memotret kesulitan yang dialaminya saat belajar di sekolah.

    “Guru-guru di sekolah tidak bisa berbahasa Isyarat dan seringkali berbicara dengan cepat, ditambah lagi, terkadang tidak menggunakan papan tulis yang bisa membantuku memahami informasi melalui teks” demikian teks yang dituliskannya.

    Lain lagi cerita Najwa yang menceritakan bagaimana hampir semua teman di sekolahnya  tidak bisa berbahasa Isyarat yang membuatnya kesulitan berteman dan bekerja.

    “Pernah, aku menawarkan teman-temanku untuk belajar BISINDO, namun mereka sering kali menolak dengan alasan sering lupa. Aku berharap, banyak teman-teman Dengar mau belajar Isyarat,” demikian Najwa menuliskan harapannya.

    Sedangkan dela memotret bagaimana usahanya untuk terus bisa mengikuti perkuliahan. 

    “Aku menggunakan web captioner dan berbagai cara lainnya, misalnya merekam perkuliahan, juga bertanya pada teman-teman, untuk membantu hari-hariku di kampus,” tulis Dela untuk caption fotonya.

    Baca: Sikap Bijak Cinta Laura

    Mendapatkan pekerjaan juga menjadi tantangan tersendiri bagi disabilitas tuli. Ruang dan kesempatan kerja yang tersedia untuk mereka bisa dibilang masih sangat terbatas. Masih banyak orang yang ragu dan bahkan menolak untuk mempekerjakan disablitas Tuli. 

    “Ada anggapan ‘repot’ untuk mempekerjakan orang Tuli di lingkungan kerja yang mayoritas dengar. Dalam pekerjaan butuh kerja tim yang bergantung pada komunikasi. Apabila dalam tim tidak ada pengguna Bahasa Isyarat, lantas, bagaimana bisa berkomunikasi dengan baik dan tidak canggung?” demikian suara Bima terkait kesempatan kerja bagi disabilitas Tuli. 

    Menyaksikan foto-foto ini menyadarkan kita, betapa selama ini ruang publik yang ada kurang memperhatikan wraga disabilitas termasuk teman-teman tuli. Namun menurut Vanesha, sejak beberapa tahun ini Solo punya banyak catatan jadi kota inklusi.

    “Ini jadi satu semangat yang pas dirayakan di Kota Solo. Dan pameran ini menjadi cara kami untuk mengajak mempromosikan dan mendorong inlusifitas di kota-kota di Indonesia,” ujar Vanesha.

     

     

  • Kafe Difabis, Kisah Perjuangan Kelompok Difabel di Tengah Kerasnya Kota Jakarta

    Kafe Difabis, Kisah Perjuangan Kelompok Difabel di Tengah Kerasnya Kota Jakarta

     
     

    7cloud.asia – SAYA TULI. Tulisan dengan huruf besar dari kapur tulis berwarna itu tersapu apik di papan yang dipasang di depan Kafe Difabis.

    Bagi pengguna CL, Kafe Difabis yang berada di kolong jembatan layang tepat di pintu keluar Stasiun Sudirman itu mungkin sudah tidak asing lagi. Kafe Difabis yang diawaki para difabel ini sudah berumur hampir dua tahun.

    Bangunan Kafe Difabis yang berwarna coklat muda itu terlihat mencolok, kontras dengan warna lingkungan sekitar yang didominasi abu-abu.

    Baca: Cerita-serita Tuli, kisah keseharian difabel tuli di Solo

    Saat saya datang pada Senin (25/6/2023) siang lalu, seorang barista sedang merapikan Kafe Difabis yang berdiri sejak 2021 itu. Lantas dengan menggunakan bahasa isyarat dia menanyakan saya pesan apa.

    Dia menunjuk ke papan lain yang memuat menu dan daftar harga minuman di Kafe Difabis. Di papan itu juga dilengkapi dengan pilihan porsi gula, apakah less sugar ataupun no sugar. Sayapun memesan latte hangat less sugar.

    Tak berapa lama minuman pesanan saya siap, dan saya menikmati di bangku kecil yang disediakan di depan Kafe Difabis sambil memperhatikan lalu lalang para penumpang di Stasiun Sudirman.

    Baca: Kisah kelompok disabilitas dan perubahan iklim

    Robiatin, relawan difabel yang menjaga kedai kue Difabis di sebelahnya bercerita, awalnya Kafe Difabis ditujukan untuk difabel tuli dan daksa. Namun karena kondisi yang ada tidak memungkinkan, maka Difabis kini lebih banyak mempekerjakan difabel tuli.

    “Tempatnya terlalu sempit sehingga tidak bisa digunakan untuk pengguna kursi roda, selain itu toiletnya terlalu jauh,” ujar perempuan yang biasa dipanggil Atin itu.

    Atin, penyandang difabel fisik ini menambahkan, Kafe Difabis menyediakan kopi dan pastry. Kopi di Kafe Difabis diracik barista difabel yang sudah mendapatkan pelatihan barista yang digelar Baznas DKI Jakarta. 

    Baca: Menyoroti partisipasi kelompok disabilitas di panggung politik

    Sedangkan pastry di Kafe Difabis yang beroperasi sejak pukul 08:00 hingga pukul 19:00 ini dipasok oleh sebuah UMKM di Jakarta.

    Tak hanya mempelajari cara menakar komponen kopi, air, dan campurannya, para barista di Kafe Difabis juga belajar menghaluskan biji kopi.

    “Meski begitu, para barista belum belajar cara menyangrai biji kopi. Peran ini masih dilakukan oleh barista dan pengelola kedai kopi non difabel,” imbuh Atin.

    Baca: Perempuan dengan down syndrome rentan alami kekerasan

    Selain di Stasiun Sudirman, ada empat Kafe Difabis yang tersebar di sejumlah wilayah di Jakarta, seperti Matraman (Jakarta Timur) Sunter (Jakarta Utara) dan Jakarta Selatan. 

    Atin mengisahkan, keberadaan Kafe Difabis seperti ini sangat membantu para difabel seperti dirinya untuk bisa bekerja.

    Diakuinya, beberapa tahun belakangan ini makin banyak perusahaan ataupun lembaga pemerintah yang menyediakan kesempatan kerja bagi kelompok difabel, kesempatan kerja itu tak langsung mudah didapat.

    Baca; Mengenal bipolar, salah satu disabilitas mental

    Perusahaan, ujarnya, sering mensyaratkan pengalaman kerja. Padahal untuk mendapatkan kesempatan magang itu sering tak didapat dengan mudah oleh penyandang difabel. 

    “Secara tidak langsung kami akan terpinggirkan,” keluhnya.

    Ia berharap, ke depan semakin banyak pemerintah kota yang bersedia turun tangan dan memberi kesempatan kerja bagi kelompok difabel seperti yang dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta lewat Kafe Difabis ini. 

    Untuk diketahui UU no. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas mengamanatkan kesempatan kerja bagi kelompok difabel sebesar 1 persen (perusahaan swasta) dan 2 persen (lembaga pemerintah). 

     
  • Mengenal Surya Sahetapy, Satu-satunya Difabel Tuli Asal Indonesia yang Berhasil Jadi Dosen di Rochester AS

    Mengenal Surya Sahetapy, Satu-satunya Difabel Tuli Asal Indonesia yang Berhasil Jadi Dosen di Rochester AS

    7cloud.asia – Memperingati Hari Bahasa Isyarat Internasional yang jatuh pada Sabtu (23/9/2023) lalu, Ganjar Pranowo mengunggah video pendek berisi percakapannya dengan Surya Sahetapy di akun Instagramnya.

    “Alhamdulillah saya berkesempatan ngobrol banyak banget dengan Mas @suryasahetapy

    “Apa yang disampaikan Mas Surya Sahetapy juga mesti jadi pembelajaran buat kita semua bahwa memanusiakan manusia harus terejawantahkan dalam peraturan, kebijakan dan program kerja siapapun. Baik itu pemerintahan, lembaga maupun organisasi. Ruang diskriminasi harus kita tutup,” demikian Ganjar memberikan caption untuk unggahannya. 

    Panji Surya Sahetapy demikian nama lengkap laki-laki yang mencuri perhatian saya. Dia adalah putra bungsu pasangan Dewi Yull dan Ray Sahetapy.

    Baca: Putri Ariani, kisah sukses difabel netra

    Lantas apa yang membuat Surya Sahetapy berbeda? Dia adalah satu-satunya penyandang difabel tuli  dari Indonesia yang mengajar di Institut Teknologi Rochester Amerika Serikat. 

    Dalam perbincangan itu, Surya Sahetapy mengatakan betapa njomplangnya sekolah inklusi di Indonesia dengan di Rochester AS. Di sana, sekolah inklusi memberikan kesempatan yang setara kepada difabel, termasuk difabel tuli. 

    “Di SD, SMP dan SMA ada juru bahasa isyarat dan ada program bahasa isyarat, yang gurunya adalah difabel tuli,” terang Surya di video itu.

    Surya Sahetapy sbelumnya memang aktif di Gerakan Untuk Kesejahteraan Disabilitas Pendengaran Indonesia (Gerkatin).

    Baca: Potret keseharian difabel tulidi Solo lewat Cerita-cerita Tuli

    Gerkatin adalah organisasi yang fokus memperjuangkan hak difabel pendengaran dan linguistik-budaya, seperti akses bahasa Indonesia melalui teks, akses bahasa isyarat, akses kesetaraan dalam pekerjaan, akses kesehatan, akses pendidikan, dan sebagainya.

    Surya Sahetapy sempat menyelesaikan program magang di kantor Gubernur DKI Jakarta. Bersama rekan-rekannya, Surya juga membuka kelas bahasa isyarat Indonesia (BISINDO) di beberapa kota di Indonesia.

    Pada tahun 2018, Surya Sahetapy dan kawan-kawannya mendirikan yayasan Handai Tuli untuk memajukan kesetaraan di antara masyarakat Tuli sebagai disabilitas linguistik-budaya dan masyarakat dengar di Indonesia.

    Surya Sahetapy divonis tuli sejak usianya 2 tahun. Namun, keterbatasan tersebut tak membuatnya menyerah. Ia pun belajar berkomunikasi dengan belajar bahasa isyarat sejak kecil karena memiliki kakak dan om Tuli.

    Baca: Cara kota Surabaya menjadi ramah difabel

    Ia menjalani terapi berbicara bersama Ibunya dan Instruktur dari sekolah, membaca gerak bibir lawan bicaranya serta komunikasi tulisan.

    Surya kemudian membuktikan walaupun tak mendengar, ia mampu menguasai Bahasa Indonesia lisan, tulis, bahasa isyarat Indonesia, Bahasa Isyarat Amerika, isyarat internasional, serta Bahasa Inggris tulis.

    Pada awalnya, Surya masuk jenjang TK dan SD di sekolah khusus bagi penyandang disabilitas pendengaran.

    Namun, ketika masuk ke SMP umum, ia merasa ada banyak hambatan, tidak seperti sekolah khusus penyandang disabilitas pendengaran, hingga kemudian ia memutuskan untuk bersekolah di rumah (home schooling).

    Surya memiliki keinginan untuk ke luar negeri, namun ia menyadari bahwa ia tidak bisa berbahasa Inggris.

    Baca: Kafe Difabis, potret perjuangan difabel di Jakarta

    Alih-alih menghindar, ia malah mengambil jurusan pendidikan bahasa Inggris sewaktu sempat berkuliah di Universitas Siswa Bangsa Internasional (Sampoerna University), Jakarta Selatan.

    Setelah cuti kuliah selama 1,5 tahun hingga akhirnya ia berhasil untuk bersekolah di Institut Teknologi Rochester (RIT), National Technical Institute for the Deaf, Amerika Serikat.

    Dia mendapatkan gelar diploma (D3) pada 2019 jurusan Applied Liberal Arts (Konsentrasi: Bahasa Isyarat dan Kajian Tuli) dengan predikat Cum Laude.

    Ia pun menyelesaikan pendidikannya untuk meraih sarjana (S1) Studi Internasional di RIT dengan predikat Magna Cum Laude demi bisa kembali untuk membangun Indonesia.

     

    T

     
  • Mengenal Bahasa Isyarat, Cara Komunitas Tuli Berkomunikasi

    Mengenal Bahasa Isyarat, Cara Komunitas Tuli Berkomunikasi

    7cloud.asia – Bertepatan dengan peringatan Hari Bahasa Isyarat Sedunia pada 23 September lalu, Komnas Perempuan mengingatkan urgensi aksesibilitas layanan bahasa isyarat bagi komunitas Tuli.

    Komnas Perempuan menagaskan, layanan bahasa isyarat merupakan kebutuhan dasar penyandang tuli dan pada konteks pemenuhan hak-hak asasi manusia. Layanan bahasa isyarat berkait-paut langsung maupun tak langsung dengan pemenuhan hak-hak dasar yang wajib dipenuhi pemerintah.

    Hak itu di antaranya akses pada informasi dan pengetahuan, hak atas pendidikan, hak partisipasi sosial dan politik, hak atas sosial budaya, dan hak bebas dari diskriminasi.

    Bahasa isyarat merupakan temuan yang memperkaya ragam bahasa yang turut membangun peradaban yang inklusif termasuk pengetahuan berbasis kondisi ketulian.

    Bahasa isyarat tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi internal di antara komunitas Tuli, tetapi juga berperan penting dalam menjembatani mereka dengan masyarakat luas.

    Dengan bahasa isyarat komunitas tuli mampu terlibat secara signifikan dalam kehidupan sosial yang luas, mengembangkan diri dan penghidupan yang layak. Dalam konteks pencegahan kekerasan berbasis gender.

    Sebaliknya, keterbatasan akses pada layanan bahasa isyarat dapat menghambat kesempatan perempuan Tuli memperoleh informasi yang dibutuhkan untuk perlindungan dari berbagai bentuk diskriminasi, kekerasan dan berbagai perlakuan tak manusiawi.

    Dewasa ini, secara global adanya bahasa-bahasa isyarat relatif telah diketahui publik karena sebagian siaran berita televisi swasta maupun pemerintah di Indonesia maupun mancanegara telah menyediakannya.

    Baca: Cerita Tuli, memotret kseharian masyarakat tulis di Kota Solo

    Sayangnya, pemenuhan layanan bahasa isyarat masih terbatas atau tidak tersedia pada bidang-bidang layanan publik lainnya termasuk lembaga pendidikan, organisasi penyedia layanan yang dikelola pemerintah maupun masyarakat sipil di daerah-daerah. Juga di kanal-kanal informasi media sosial.

    Komisioner Ketua Bidang Advokasi Internasional Komnas Perempuan, Rainy M. Hutabarat, menegaskan bahwa penyandang Tuli memiliki kerentanan khusus di antaranya kondisi disabilitas “tidak terlihat” sehingga berpotensi mengalami diskriminasi berupa isolasi dan kekerasan.

    “Tanpa bahasa isyarat, terlebih tanpa “live/closed caption” termasuk di media sosial seperti youtube dan media virtual lainnya, perempuan tuli mengalami hambatan dalam menerima pesan khususnya pengetahuan tentang kesehatan seksual dan reproduksi dan mengenali ragam bentuk kekerasan untuk pencegahannya,“ ujarnya.

    Di sisi lain, minimnya akses pada pengetahuan dan informasi mengakibatkan perempuan Tuli lebih rentan menjadi pihak yang tertinggal dan mengalami kekerasan dan perlakuan tak manusiawi.

    Tanpa bahasa isyarat, rekan Tuli juga menjadi pihak yang pasif atau tampak tidak peduli, selain semakin rentan mengalami pelecehan.

    “Ketersediaan layanan bahasa isyarat yang layak memungkinkan rekan Tuli memperoleh informasi dan pengetahuan lebih baik tentang hak-hak mereka dan menguatkan langkah-langkah pencegahan terhadap kekerasan berbasis gender,” imbuh Rainy.

    Komisioner Komnas Perempuan Ketua Sub Komisi Pemantauan, Bahrul Fuad, menyoroti peran pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dalam mengembangkan sistem pembelajaran bahasa isyarat yang mudah diakses oleh masyarakat luas.

    Selain itu, ia juga menekankan pentingnya regulasi yang mengatur standarisasi dan biaya layanan Juru Bahasa Isyarat (JBI).

    Baca: Surya Sahetapy, penyandang tuli yang sukses jadi dosen

    Selama ini, biaya jasa Juru Bahasa Isyarat masih tergolong tinggi, sehingga banyak kegiatan publik seperti seminar atau webinar tidak mampu menyediakan layanan ini.

    “Pemerintah perlu mengambil langkah konkret untuk menstandarkan biaya dan memastikan layanan ini terjangkau, sebagai wujud komitmen terhadap prinsip ‘Nothing About Us without Us’,” ujar Bahrul.

    Sebagai salah satu amanat dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, layanan bahasa isyarat merupakan hak yang harus dijamin oleh negara.

    Pemenuhan hak ini sangat penting, terutama bagi perempuan Tuli, untuk memastikan mereka tidak hanya memiliki akses terhadap informasi yang relevan, tetapi juga terlindungi dari berbagai bentuk kekerasan.

    Ketua Komnas Perempuan, Andy Yentriyani, juga menggarisbawahi bahwa bahasa isyarat harus diakui setara dengan bahasa lisan.

    “Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas (CRPD) mengharuskan negara untuk mempromosikan identitas linguistik komunitas Tuli serta memfasilitasi pembelajaran bahasa isyarat sebagai bagian dari pemenuhan hak-hak mereka,” ujar Andy.

    Hal ini, menurutnya, menjadi langkah penting dalam memperkuat posisi komunitas Tuli, khususnya perempuan tuli dalam masyarakat.

    Peringatan Hari Bahasa Isyarat Internasional ini kembali mengingatkan semua pihak bahwa pemenuhan hak atas layanan bahasa isyarat bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga merupakan bagian integral dari upaya negara dalam mencegah kekerasan berbasis gender dan melindungi hak-hak perempuan Tuli di Indonesia.

  • Edukasi Bahasa Isyarat Penting: Komunikasi adalah Hak Semua Orang

    Edukasi Bahasa Isyarat Penting: Komunikasi adalah Hak Semua Orang

    7cloud.asia – Memperingati hari jadinya yang ke-24 Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) menggelar kegiatan edukasi bahasa isyarat di Museum Penerangan, Jakarta Timur.

    Edukasi bahasa isyarat yang berlangsung di Museum Penerangan, Jakarta Timur ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat semangat solidaritas sosial.

    ”Kami percaya bahwa setiap orang berhak untuk dipahami dan memahami. Melalui kegiatan belajar bahasa isyarat ini, kami ingin membangun jembatan komunikasi yang lebih inklusif,” kata Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media (Dirjen KPM) Fifi Aleyda Yahya di Jakarta, Minggu (28/9/2025) dikutip dari Antaranews.com

    Acara bertema “Mengenal Isyarat, Menebar Manfaat” itu digelar sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Bahasa Isyarat Internasional yang diperingati setiap tanggal 23 September.

    Hari Bahasa Isyarat Internasional ini menjadi momen penting untuk mengingat bahwa komunikasi adalah hak semua orang.

    Baca: Mengenal bahasa isyarat, cara komunitas tuli berkomunikasi

    Bahasa isyarat hadir sebagai cara berkomunikasi yang kaya makna, bukan hanya bagi komunitas Tuli, tapi juga bagi siapa pun yang ingin membuka akses komunikasi lebih luas.

    Bagi disabilitas tuli dan mereka yang memiliki gangguan pendengaran dan bicara, bahasa isyarat menjadi jembatan penting untuk berinteraksi di lingkungan sosial. Menariknya, kini bahasa isyarat semakin dipelajari banyak orang karena manfaatnya yang begitu beragam.

    Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Museum Penerangan (Muspen) Mashuri Nur, mengatakan edukasi bahasa isyarat ini sejalan dengan visi pembangunan Muspen sebagai ruang publik untuk mengenal komunikasi secara luas.

    Menurutnya, acara seperti ini juga dapat menjadi pemantik untuk lebih banyak masyarakat berkomunikasi dengan beragam cara dan membuatnya semakin inklusif.

    “Hari ini bukan hanya soal belajar bahasa isyarat, tetapi juga langkah awal menjadi orang yang peduli, mau belajar, dan berdiri bersama komunitas tuli dalam membangun komunikasi yang setara dan inklusif,” katanya.

    Baca: Drama Korea When the Phone Rings populerkan penggunaan bahasa isyarat

    Meski masih kurang, penggunaan bahasa isyarat di Indonesia terus menunjukkan kemajuan yang positif. Semakin banyak kalangan yang menyertakan penerjemah bahasa isyarat untuk mengakomodasi disabilitas tuli.

    Dilansir di wikipedia, perkembangan bahasa isyarat di Indonesia ditandai dengan munculnya dua sistem utama, yaitu Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) yang berkembang alami dari komunitas Tuli.

    Selain itu juga ada Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) yang lebih formal dan didasarkan pada American Sign Language (ASL) untuk pendidikan.

    Meskipun penggunaan bahasa isyarat sudah ada sejak abad ke-20 dengan pendirian sekolah untuk anak tuli pada 1954, pengakuan formal BISINDO baru berkembang pada 2006, sementara SIBI dibakukan pada 1994.

    Baca: Surya Sahetapy, difabel tuli Indonesia yang sukses jadi dosen di AS