Tag: virus nipah

  • Cegah Penyebaran Virus Nipah, Singapura Perketat Skrining Bandara

    Cegah Penyebaran Virus Nipah, Singapura Perketat Skrining Bandara

    7cloud.asia – Otoritas Singapura akan memberlakukan pemeriksaan suhu tubuh di bandara untuk penerbangan yang datang dari wilayah terdampak virus Nipah serta memperketat pengawasan epidemiologis terhadap pekerja migran yang tiba dari Asia Selatan,

    Dalam pernyataan resminya, Badan Pengendalian Penyakit Menular Singapura (CDA) memantau secara ketat wabah infeksi virus Nipah (NiV) di Benggala Barat, India.

    ”Ini merupakan wabah virus Nipah ketujuh di India sejak 2001 … Kami akan menerapkan pemeriksaan suhu tubuh di bandara untuk penerbangan yang tiba dari daerah terdampak,” bunyi pernyataan badan tersebut pada Rabu (28/1/2026).

    “Kementerian Tenaga Kerja (MOM) juga meningkatkan pengawasan terhadap pekerja migran yang baru tiba dari Asia Selatan serta berkoordinasi dengan penyedia layanan kesehatan primer MOM untuk meningkatkan kewaspadaan,” tambahnya,

    CDA tidak menutup kemungkinan penerapan langkah-langkah tambahan apabila risiko epidemiologis terhadap negara tersebut meningkat.

    Baca: Infuenza A Bisa Berakibat Fatal Bagi Kelompok Rentan

    Pada Selasa, Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga India membantah laporan mengenai lima kasus virus Nipah di negara bagian Benggala Barat, dengan menyatakan bahwa hanya dua kasus yang telah dikonfirmasi.

    Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan virus Nipah sebagai salah satu virus paling berbahaya di dunia yang hingga saat ini belum memiliki pengobatan maupun vaksin.

    Virus Nipah terutama menyebar melalui kelelawar buah dan kelelawar jenis lainnya, sementara manusia umumnya terinfeksi akibat mengonsumsi buah yang terkontaminasi air liur hewan yang terinfeksi. Hewan peliharaan juga dapat menularkan virus tersebut.

    Sementara penularan manusia ke manusia melalui kontak erat dengan cairan tubuh (darah, urin, air liur, atau cairan pernapasan) dari orang yang terinfeksi.

    Penularan virus Nipah ini sering terjadi di lingkungan rumah sakit atau keluarga.

    Baca: Perubahan Iklim Mendorong Penyebaran Penyakit Menular

    Menurut data dari World Health Organization (WHO), infeksi virus nipah dapat menyebabkan penyakit yang parah pada manusia, mulai dari infeksi pernapasan hingga ensefalitis (radang otak) yang mematikan.

    Sampai saat ini, belum ada vaksin atau pengobatan khusus untuk infeksi virus nipah, sehingga pencegahan menjadi kunci utama.

    Tanda-tanda infeksi virus nipah meliputi:
    Gejala awal: Demam, sakit kepala, nyeri otot (mialgia), muntah, dan sakit tenggorokan.

    Masalah pernapasan: Batuk, sulit bernapas, dan pneumonia (radang paru-paru) atipikal.

    Ensefalitis: Peradangan otak yang dapat menyebabkan kebingungan, disorientasi, kejang, penurunan kesadaran, hingga koma dalam waktu 24-48 jam.

    Keterlambatan diagnosis dan penanganan dapat meningkatkan risiko kematian akibat infeksi virus nipah.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik-RIA Novosti

  • WHO Paparkan Kasus Virus Nipah dalam Publikasi DONs

    WHO Paparkan Kasus Virus Nipah dalam Publikasi DONs

    7cloud.asia – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) membeberkan tujuh hal terkait temuan penularan virus nipah di Bengala Barat, India melalui sebuah publikasi “Disease Outbreak News (DONs).

    Seperti diketahui, pada 30 Januari 2026 dilaporkan kejadian infeksi virus nipah di Bengala Barat, India masuk dalam DONs WHO.

    Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof. Tjandra Yoga Aditama mengatakan bahwa dua kasus virus nipah yang banyak diperbincangkan, diketahui memiliki jenis kelamin satu laki-laki dan satu perempuan dengan rentang usia 20-30 tahun.

    Keduanya bekerja sebagai perawat di salah satu rumah sakit swasta yang terletak di Barasat.

    Pasien-pasien itu ternyata sudah mulai menunjukkan gejala sakit berat pada akhir Desember 2025 dan dirawat di rumah sakit pada awal Januari 2026.

    Baca: Cegah penyebaran virus nipah, Singapura perketat skrining bandara

    Setelah diketahui, pada 13 Januari 2026 keduanya terkonfirmasi terinfeksi virus nipah berdasarkan pemeriksaan di “India National Institute of Virology” kota Pune melalui pemeriksaan RT-PCR dan ELISA.

    “Waktu saya masih menjadi Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, memang reputasi The India National Institute of Virology selalu terpuji baik, dan akan bagus kalau kita di Indonesia juga punya institusi serupa,” katanya.

    Prof. Tjandra melanjutkan para perawat kemudian dirawat di rumah sakit sampai 21 Januari 2026. Pada kasus perawat perempuan, kondisinya diketahui masih kritis di ruang ICU dengan menggunakan alat ventilator, atau ventilasi mekanik.

    Sedangkan perawat laki-laki mengalami gangguan neurologik yang berat akibat virus nipah. Kondisinya dilaporkan terus membaik.

    Sampai laporan ini dikeluarkan, katanya, belum diketahui dari mana sumber penularan virus nipah yang mengenai ke dua perawat ini.

    Baca: Perubahan iklim mendorong penyebaran penyakit menular

    “Dengan belum ditemukannya bagaimana dua orang perawat di India ini tertular maka tentu sumber penular awalnya belum diketahui sehingga penanganannya belum sepenuhnya tuntas,” ucap Tjandra.

    The Indian National Centre for Disease Control pada tanggal 27 Januari 2026 resmi mengumumkan bahwa sudah tidak ada lagi kasus terkonfirmasi lanjutan dari kejadian di Basarat-Bengala Barat, India.

    Adapun WHO menyampaikan bahwa risiko kesehatan masyarakat akibat kejadian infeksi virus nipah yang terjadi saat ini, masuk dalam kategori moderat di sub nasional India.

    “Tetapi WHO juga menyatakan bahwa risiko kesehatan masyarakatnya kini di regional adalah rendah dan di global juga rendah,” katanya.

    Tjandra juga menyampaikan bahwa WHO sudah memasukkan virus nipah sebagai patogen prioritas untuk mengakselerasi penemuan alat dan upaya penanganan (medical countermeasures/MCMs) sebagai kesiapan respon pada epidemi dan pandemi, yang merupakan bagian dari cetak biru penelitian dan pengembangan WHO untuk epidemi.

  • Indonesia Tingkatkan Kewaspadaan terhadap Penyebaran Virus Nipah

    Indonesia Tingkatkan Kewaspadaan terhadap Penyebaran Virus Nipah

    7cloud.asia – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran virus nipah. Virus nipah kembali menjadi sorotan dunia setelah ditemukan dua kasus di Bengala, India.

    Hingga 26 Januari 2026, dua kasus terkonfirmasi dilaporkan di Distrik North 24 Parganas, West Bengal, tanpa adanya korban jiwa. Kedua kasus tersebut merupakan tenaga kesehatan.

    Lebih dari 120 kontak erat telah diidentifikasi dan menjalani karantina sambil proses investigasi berjalan.

    Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Kemenkes, Murti Utami, menjelaskan bahwa virus nipah adalah penyakit zoonotik yang berasal dari kelelawar pemakan buah sebagai inang utamanya.

    “Penularan antarmanusia telah dilaporkan, terutama melalui kontak dekat dengan pasien. Gejala klinis bisa beragam, mulai dari ISPA ringan hingga berat, serta ensefalitis (radang otak) yang berpotensi menyebabkan kematian,” tambahnya.

    Kemenkes menegaskan bahwa hingga saat ini belum ditemukan kasus penularan virus nipah di Indonesia.

    Baca: WHO paparkan kasus virus nipah di India 

    Peringatan dan arahan kewaspadaan kepada seluruh dinas kesehatan di Indonesia disampaikan melalui Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/445/2026 pada 30 Januari 2026.

    “Walaupun belum ada laporan kasus virus nipah pada manusia di Indonesia, kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan mengingat posisi geografis dan intensitas mobilitas dengan negara-negara yang pernah mengalami kejadian luar biasa,” jelas Murti.

    Ia meminta seluruh dinas kesehatan, mulai tingkat kabupaten/kota hingga provinsi, untuk terus memonitor dan memverifikasi tren kasus yang mengarah pada dugaan meningitis atau ensefalitis, Influenza Like Illness (ILI), Severe Acute Respiratory Infection (SARI), ISPA, serta pneumonia.

    Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung memastikan hingga saat ini belum ditemukan laporan mengenai warga yang terinfeksi virus Nipah di Jakarta.

    Meski kondisi masih terpantau aman, namun Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah mengambil langkah cepat guna mencegah potensi penyebaran virus tersebut.

    “Alhamdulillah sampai hari ini di Jakarta belum ditemukan yang terkena virus Nipah,” ujar Pramono di Cengkareng, Jakarta Barat, Selasa (3/2/2026).

    Baca: Cegah penyebaran virus nipah, Singapura perketat skrining bandara

    Pramono mengungkapkan, pihaknya terus berkoordinasi secara intensif dengan Menteri Kesehatan untuk memantau situasi perkembangan virus Nipah. Ia juga menginstruksikan Dinas Kesehatan agar segera melakukan langkah antisipasi.

    “Mudah-mudahan Jakarta segera mengantisipasi untuk itu dan saya sudah meminta kepada Dinas Kesehatan untuk segera mengatasi, menangani itu,” katanya.

    Penularan virus Nipah dapat terjadi melalui hewan lain, seperti babi, maupun dari makanan dan minuman yang terkontaminasi, misalnya buah atau nira.

    Sebagai langkah pencegahan, Murti mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsi nira atau aren langsung dari pohonnya karena ada kemungkinan cairan tersebut terpapar oleh kelelawar pada malam hari.

    Murti juga memaparkan hasil penelitian di Indonesia yang menemukan bukti serologis dan keberadaan virus pada kelelawar buah (Pteropus sp.) sebagai inang alami, sehingga menunjukkan adanya potensi sumber penularan di dalam negeri.

    Baca: Perubahan iklim mendorong penyebaran penyakit menular

  • Kenali Lebih Dekat Penyebaran Virus Nipah: Berawal dari Kelelawar ke Babi Kemudian Menulari Manusia

    Kenali Lebih Dekat Penyebaran Virus Nipah: Berawal dari Kelelawar ke Babi Kemudian Menulari Manusia

    7cloud.asia – Ditemukannya kasus virus nipah pada manusia di Bengal Barat, India memicu kekhawatiran banyak negara termasuk Indonesia.

    Pemerintah saat ini memperkuat pengawasan dan pencegahan penularan virus nipah dengan memperketat pemantauan pelaku perjalanan luar negeri, selain pengawasan pada alat angkut dan barang dari luar negeri di pelabuhan.

    Virus nipah merupakan virus yang ditularkan melalui kelelawar buah. Infeksi virus Nipah umumnya ditularkan dari kelelawar ke manusia melalui hewan perantara yang terinfeksi, seperti babi dan kuda.

    Virus nipah juga dapat menular dari manusia ke manusia melalui kontak erat dengan penderita. Penyakit ini dianggap berbahaya karena dapat menyebabkan masalah serius pada manusia.

    Meski virus ini berkembang dan menular antar sesama hewan, virus ini juga berpotensi menyebar ke manusia

    Baca: Indonesia tingkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran virus nipah

    Dosen Kesehatan Masyarakat Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan UGM, drh. Heru Susetya, M.P., Ph.D. menuturkan secara epidemiologis, kelelawar diketahui sebagai reservoir virus Nipah.

    Oleh karena itu, perhatian terhadap wabah ini sebagai penyakit zoonosis menjadi sangat penting dan perlu dicermati secara serius.

    “Kekhawatiran kami dari sisi penyakit adalah kemungkinan terjadinya penularan antarmanusia, dan itu sudah terjadi, sudah ada buktinya,” ungkapnya seperti dikutip ugm.ac.id.

    Heru kemudian merunut sejarah kemunculan virus Nipah yang pertama kali terdeteksi di wilayah Nipah, Malaysia. Pola penularan awalnya terjadi dari kelelawar ke babi, kemudian dari babi ke manusia, yang disebut sebagai pola klasik.

    Namun, pada kasus di Bangladesh dan India, penularan dilaporkan terjadi langsung dari kelelawar ke manusia. Menurut Heru, hal ini dipengaruhi faktor lain, seperti konsumsi nira yang tidak ditangani dengan baik.

    Baca: WHO paparkan temuan kasus virus nipah di India

    “Selain itu, ada juga penularan dari manusia ke manusia. Itulah yang menjadi kekhawatiran kami dari segi penyakit,” jelasnya.

    Di Indonesia, Heru menilai, seharusnya sudah tersedia sistem peringatan dini (early warning system) terhadap berbagai penyakit zoonosis, termasuk Nipah. Sistem ini penting agar setiap temuan gejala dapat segera dilaporkan dan ditindaklanjuti.

    “Itulah mengapa Nipah menjadi perhatian pemerintah. Harapannya, siapa pun yang mengetahui gejalanya dapat segera melaporkan. Peringatan dini menjadi kunci utama,” tegasnya.

    Ia juga menekankan bahwa solusi bukan dengan menyalahkan atau memusnahkan kelelawar, melainkan menghindari kontak dan meningkatkan kewaspadaan sejak dini. Misalnya, dengan segera melaporkan jika terdapat babi yang menunjukkan gejala klinis tidak biasa.

    “Upaya ini diharapkan mampu mencegah penularan lebih lanjut, meskipun tetap bergantung pada pola penyebaran virus,” pungkasnya.

    Baca: Perubahan iklim mendorong penyebaran penyakit menular

    Sementara dosen mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM, drh. M. Th. Khrisdiana Putri Ph.D, menyampaikan infeksi virus Nipah pada manusia dapat berakibat fatal karena biasanya kematian terjadi akibat ensefalitis atau radang otak.

    Khrisdiana menambahkan bahwa virus Nipah bersifat musiman (seasonal). Menurutnya, kondisi ini juga dipengaruhi oleh faktor stres atau kelaparan pada kelelawar.

    Dilansir ugm.ac.id, Khrisdiana mencontohkan ketika sumber pakan alami, seperti nira di habitat hutan, berkurang, maka risiko penularan dapat meningkat karena virus menjadi lebih aktif.

    Khrisdiana menegaskan pemerintah telah melakukan langkah pengamanan melalui regulasi, salah satunya dengan melarang peternakan babi berada dekat dengan perkebunan nira. Menurutnya, kebijakan ini menjadi langkah awal dalam pencegahan.

    “Dengan adanya peraturan tersebut, penataan peternakan diharapkan dapat lebih mendukung pencegahan penularan dari kelelawar ke babi,” pungkasnya.

  • Virus Nipah Ditemukan di Indonesia, Tapi Mengapa Belum Ada Kasus Penularan pada Manusia

    Virus Nipah Ditemukan di Indonesia, Tapi Mengapa Belum Ada Kasus Penularan pada Manusia

    7cloud.asia – Penyebaran virus Nipah (NiV), disusul kematian dua orang di India dan Bangladesh, mendorong sejumlah negara di Asia Selatan dan Tenggara—termasuk Malaysia, Singapura, dan Filipina—memperketat sistem deteksi dini dan pengendalian penyakit.

    Sejak ditemukan tahun 1998, Nipah telah menginfeksi lebih dari 754 orang di kelima negara tersebut, serta menyebabkan lebih dari 435 kematian.

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mewanti-wanti tingginya risiko kematian manusia akibat infeksi virus Nipah, yakni mencapai 40-75 persen. Artinya, sekitar 4-8 orang dari 10 manusia yang terinfeksi bisa meninggal dunia.

    Infeksi Nipah pada tahap awal sering kali menimbulkan gejala yang tidak spesifik, seperti demam tinggi, sakit kepala berat, mual, muntah, hingga nyeri otot. Namun, sebagian pasien juga bisa mengalami ensefalitis (radang otak) mendadak—yang menyebabkan gangguan napas, kejang, hilang kesadaran, hingga kematian.

    Sayangnya, belum ada vaksin dan obat efektif untuk mencegah dan mengatasi infeksi virus zoonosis (menular dari hewan ke manusia) ini. Penularan Nipah terjadi lewat air liur dan urine manusia ataupun hewan yang terinfeksi (seperti kelelawar, babi, dan kuda) maupun pakan hewan tersebut.

    Secara ekologis, dengan kawasan hutan tropis yang luas dan populasi kelelawar berlimpah, Indonesia berisiko tinggi terhadap penularan Nipah.

    Apalagi berbagai penelitian di negara kita mengungkap bahwa materi genetik (RNA) virus Nipah sudah ditemukan pada berbagai jenis kelelawar di sejumlah daerah, seperti Sumatra Utara, Jawa Tengah, hingga Kalimantan.

    Namun, mengapa hingga hari ini Indonesia belum melaporkan satu pun kasus infeksi Nipah pada manusia?

    Penyebaran Nipah di Indonesia

    Sejumlah penelitian virologi di Indonesia sejak 2013 menunjukkan bahwa virus Nipah telah lama menular secara alami dan berulang pada populasi kelelawar (Gambar 1).

    Peneliti menemukan materi genetik virus maupun antibodi spesifik Nipah pada sampel kelelawar yang hidup di gua maupun yang diperjualbelikan di pasar satwa.

    Menariknya, kelelawar yang terinfeksi virus Nipah tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas. Alhasil, virus bisa menetap lama pada tubuh kelelawar, tanpa memunculkan tanda-tanda terinfeksi penyakit.

    Kelelawar pembawa virus Nipah hidup berdampingan dengan manusia, terutama di kawasan perekonomian yang bersinggungan langsung dengan habitat satwa liar. Contohnya, pasar satwa, kebun buah, peternakan, serta area permukiman di sekitar hutan.

    Area tersebut menjadi titik-titik potensial terjadinya interaksi tidak langsung antara manusia dan kelelawar. Misalnya, dengan mengonsumsi daging hewan yang terinfeksi, ataupun buah yang terkontaminasi air liur atau urine kelelawar.

    Penggundulan hutan, alih fungsi lahan, serta ekspansi pertanian kian memperbesar risiko penularan Nipah ke manusia. Aktivitas ini melenyapkan habitat alami kelelawar, sehingga mendorong mereka mencari sumber pakan di kebun, ladang, hingga permukiman warga.

    Sistem deteksi lemah hingga keberuntungan ekologis

    Pemerintah Indonesia seharusnya lebih serius menanggapi penyebaran virus Nipah pada kelelawar lokal sebagai sinyal peringatan dini. Ketiadaan laporan kasus Nipah pada manusia di Tanah Air tidak serta-merta meniadakan risiko penularan.

    Salah satu penjelasan paling masuk akal mengenai ketiadaan kasus Nipah pada manusia, yaitu karena adanya keterbatasan surveilans (sistem deteksi dini penyakit).

    Pemeriksaan rutin terhadap virus Nipah belum menjadi bagian standar dalam penanganan kasus ensefalitis akut atau sesak napas dengan penyebab tidak jelas.

    Gejala klinis Nipah pun bisa menyerupai infeksi virus lain yang lebih umum, sehingga terkadang ada kemungkinan terjadi salah diagnosis.

    Selain itu, penularan lintas spesies juga bisa dipengaruhi oleh kombinasi faktor yang sangat spesifik, seperti tingginya jumlah virus, rute paparan yang sesuai, serta kondisi inang (manusia).

    Virus Nipah yang terdeteksi pada kelelawar di Indonesia belum tentu memiliki karakteristik genetik dan tingkat virulensi (keganasan virus) yang sama dengan galur yang menyebabkan wabah besar di Malaysia, Singapura, Bangladesh, atau India.

    Perbedaan kecil dalam struktur genom dapat memengaruhi kemampuan virus untuk berikatan dengan reseptor sel manusia, bereplikasi secara efisien, dan menular antarmanusia.

    Faktor lainnya, struktur peternakan, pola konsumsi, serta bentuk interaksi manusia dengan satwa liar di Tanah Air tidak sepenuhnya identik dengan kelima negara dari Asia Selatan dan Tenggara. Artinya, kombinasi faktor ekologis dan sosial yang memicu penularan penyakit ke manusia dalam skala besar mungkin memang belum terbentuk.

    Untuk benar-benar bisa memastikan besarnya risiko penularan Nipah pada manusia di Indonesia, kita perlu melakukan penelitian genetik yang mendalam dan memantau darah kelompok orang yang paling berisiko tinggi tertular Nipah.

    Belajar dari negara lain

    Indonesia sebenarnya tidak perlu menunggu munculnya kasus manusia pertama untuk mulai bertindak. Kita bisa belajar dari Thailand yang aktif memantau penyebaran virus pada kelelawar meskipun belum pernah mewabah di sana.

    Sementara Singapura mengandalkan sistem surveilans klinis yang sensitif dan kapasitas diagnostik molekuler (identifikasi penyakit lewat DNA dan RNA) yang cepat.

    Adapun India—yang beberapa kali mengalami wabah Nipah—mengembangkan protokol respons cepat untuk kasus ensefalitis akut, termasuk pelacakan kontak dan isolasi pasien secara ketat.

    Kesamaan berbagai pendekatan tersebut adalah adanya upaya membangun sistem sebelum krisis terjadi, bukan menunggu hingga wabah muncul.

    Perluas deteksi dini segera

    Indonesia sebenarnya memiliki berbagai kerangka aturan terkait kewaspadaan dini penyakit dan pengendalian zoonosis. Namun, fokus kebijakan kesehatan saat ini masih banyak diarahkan pada penyakit yang sudah lama menjadi endemik (selalu ada di suatu daerah), sehingga Nipah belum menjadi prioritas dalam praktik klinis sehari-hari.

    Masalah lain yang menonjol adalah terpisahnya surveilans kesehatan manusia dengan satwa liar. Temuan virus pada kelelawar umumnya berasal dari riset akademis. Sementara sistem kesehatan manusia berjalan pada jalur yang berbeda.

    Pertukaran data yang lamban dan keterbatasan operasional antarsektor menyebabkan sinyal peringatan dini sulit diterjemahkan menjadi tindakan pengendalian penyakit.

    Di sisi lain, kapasitas diagnostik molekuler dengan standar biosafety (perlindungan laboratorium dan lingkungan) yang memadai juga belum merata di tingkat daerah, membuat deteksi dini menjadi tantangan tersendiri.

    Dengan perubahan lingkungan yang cepat dan meningkatnya interaksi manusia dengan satwa liar, pemerintah perlu melakukan sejumlah langkah berikut guna mencegah penularan wabah Nipah pada manusia:

      • Perluas surveilans pada kasus ensefalitis akut, dengan memasukkan Nipah sebagai salah satu kemungkinan penyebab.
      • Lakukan edukasi publik, seperti mencuci buah sebelum dikonsumsi, tidak makan buah yang jatuh dari pohon, mengelola pasar lebih higienis, serta mengurangi kontak langsung dengan satwa liar.
      • Tingkatkan kemampuan deteksi dini laboratorium dan jaringan rujukan di daerah.

    Sederet langkah tersebut tidak hanya membantu kita menghadapi virus Nipah, tapi juga ancaman penyakit zoonosis lainnya di masa depan.


    Arif Nur Muhammad Ansori, Peneliti, Sekolah Pascasarjana, Universitas Airlangga; Arli Aditya Parikesit, Professor of Bioinformatics, Indonesia International Institute for Life Sciences, Indonesia International Institute for Life Sciences; Ronny Soviandhi, Assistant researcher, Center for Tropical Medicine, Universitas Gadjah Mada , dan Yudhi Nugraha, Peneliti di Pusat Riset Biologi Molekular Eijkman, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.