Tag: World Water Forum

  • Museum Subak Jatiluwih Bakal Jadi Tujuan Kunjungan Delegasi World Water Forum ke-10

    Museum Subak Jatiluwih Bakal Jadi Tujuan Kunjungan Delegasi World Water Forum ke-10

    7cloud.asia – Delegasi World Water Forum ke-10 dijadwalkan mengunjungi beberapa Daerah Tujuan Wisata (DTA) seperti Museum Air di Tabanan, Situs Warisan Dunia UNESCO Jatiluwih, Danau Batur di Kintamani, dan Desa Budaya Ubud.

    World Water Forum ke-10 sendiri dijadwalkan akan berlangsung pada 18-25 Mei 2024 di Bali.

    I Ketut Purna, Pengelola Kawasan Tujuan Wisata (DTA) Jatiluwih, menyatakan Pemerintah Pusat dan Pemda Bali telah melakukan pembenahan infrastruktur transportasi dan mempercantik alam sekitar Desa Wisata Jatiluwih.

    Jatiluwih merupakan salah satu wujud tata kelola air berkelanjutan yang dikenal dengan istilah Subak. Koordinasi dengan pimpinan Subak juga terus dilakukan keluar.

    Sebagai negara tuan rumah Forum Air Dunia ke-10, Indonesia bertujuan menjadikan sawah yang terletak di kaki Gunung Batukaru sebagai contoh pengelolaan air berkelanjutan.

    Sistem subak berakar pada filosofi Tri Hita Karana yang menciptakan keharmonisan antar manusia. alam, dan yang ilahi.

    Subak Jatiluwih merupakan simbol kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan dan juga merupakan destinasi wisata yang menawarkan jalur trekking dan hiking bagi pengunjungnya.

    Warisan Budaya UNESCO

    UNESCO menetapkan sawah terasering Jatiluwih sebagai situs Warisan Budaya Dunia sejak tahun 2012.

    Sejumlah pejabat dan pimpinan mancanegara seperti Mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama juga pernah mengunjungi kawasan ini dan menekankan pentingnya Subak Jatiluwih dalam budaya global.

    Kunjungan World Water Forum ke-10 ke museum Subak Jatiluwih diharapkan tidak hanya meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan air berkelanjutan.

    Kunjungan dan pengenalan sistem Subak diharapkan juga menginspirasi komitmen global terhadap konservasi air dan warisan budaya.

    “Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan, memberikan dorongan bagi perekonomian lokal, dan memperkuat pemahaman global akan pentingnya melestarikan sistem subak dan warisan budaya Bali,” kata I Ketut Purna.

    Mempromosikan Kearifan Lokal

    Melalui Desa Wisata Jatiluwih, Indonesia dapat menunjukkan komitmen yang kuat terhadap diplomasi air, mengedepankan semangat perdamaian dan kolaborasi dalam menyelesaikan permasalahan air.

    Sebagai negara tuan rumah, Indonesia bertujuan untuk memberikan contoh yang baik dan menginspirasi masyarakat global.

    Selain itu, Forum Air Dunia ke-10 yang dihadiri oleh delegasi dari 250 negara merupakan peluang emas untuk mempromosikan kearifan lokal dan keindahan alam Bali sekaligus menegaskan peran Indonesia dalam diplomasi air global.

    I Ketut purna berharap kunjungan ke Jatiluwih dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat setempat dan meningkatkan kesadaran global akan pentingnya pengelolaan sumber daya air berkelanjutan.

  • The 10th World Water Forum: Air Bersih adalah Hak Asasi Manusia

    The 10th World Water Forum: Air Bersih adalah Hak Asasi Manusia

    7cloud.asia – DPR RI akan menjadi tuan rumah kegiatan ‘The 10th World Water Forum’ yang akan dilaksanakan di Bali pada tanggal 19-22 Mei 2024 mendatang.

    Adapun tema yang diangkat dalam ‘The 10th World Water Forum’adalah Watercracy: Water for Democracy.

    Persoalan mengenai air ini penting untuk dibahas bersama dalam  ‘The 10th World Water Forum karena air merupakan kebutuhan pokok dan pemenuhan air bersih menjadi hak asasi manusia.

    Dan, DPR sebagai wakil rakyat punya tanggung jawab untuk menampung aspirasi dari masyarakat untuk membuat sejumlah regulasi atau aturan.

    Ketua ada Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR Fadli Zon mengatakan, DPR menganggap bahwa forum ini sangat penting bagi Indonesia dan bahkan bagi dunia karena dunia telah dan akan menghadapi krisis air ke depan.

    Kita, ujarnya, tidak ingin air sebagai sumber kehidupan itu nanti menjadi mahal, menjadi sangat susah untuk didapatkan. Karena banyak juga mata air yang sekarang ini semakin hilang di Indonesia, dan ini akan mempengaruhi kehidupan-kehidupan kita yang lain di bidang pangan.

    ”Ya lihat saja misalnya El Nino kemarin ya, bagaimana pengaruhnya terhadap pangan, bisa harga pangan naik, pemicu inflasi dan lain-lain,” ujarnya usai diskusi Youth Townhall on water dengan tema Watercracy: Water for Democracy di Komplek Parlemen, Jakarta, Jumat (19/04/2024).

    Baca Juga: BMKG: Indonesia Memiliki Teknologi yang Baik Atasi Krisis Air  

    DPR sesuai fungsinya yakni legislasi, pengawasan dan anggaran memiliki peran penting untuk turut membantu mengatasi permasalahan ketahanan air dan pelestarian air dengan terlibat dalam pembuatan dan pelaksanaan daripada kerangka hukum.

    Sehingga forum ini diharapkan dapat membahas mengenai pembaruan regulasi yang penting untuk dapat menjawab persoalan air ke depan.

     “Jadi, keterlibatan parlemen itu sangat penting, karena pemerintah ini yang menjalankan sebagai eksekutor ya harus dalam satu kerangka regulasi yang tentu dibuat oleh parlemen di dalam negara-negara demokrasi,” imbuhnya.

    Dia berharap, ‘The 10th World Water Forum’ bisa menjadi satu platform yang penting untuk awareness masyarakat ya terhadap air. Jangan take it for granted, jangan seolah-olah kita ini (terkena) air banjir tapi itu (seolah-olah dimaknai) temporary gitu ya.

    ”Kita harus melihat bahwa semakin sulit nanti kita akan mendapatkan air, semakin mahal air ini ke depan. Padahal kita bisa memelihara air bersih dengan murah dan juga ini akan menyangkut kehidupan yang lain,” pungkas Politisi Fraksi Partai Gerindra ini. 

    Baca Juga: Museum Subak Jatiluwih Bakal Jadi Tujuan Kunjungan Delegasi World Water Forum ke-10

    Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI Putu Supadma Rudana menyatakan ‘The 10th World Water Forum’ akan menghadirkan parlemen dari beberapa negara di dunia.

    Nantinya, pertemuan parlemen dunia itu akan membahas mengenai pentingnya ketahanan air, mengingat air bukan hanya sumber daya untuk memenuhi kebutuhan hidup namun juga merupakan hak asasi manusia.

    Sehingga setiap masyarakat dunia berhak mendapatkan akses air dan sanitasi yang bersih.

    “Karena memang air menjadi hal yang sangat terbatas di berbagai negara, contohnya di Timur Tengah, Nah air yang terlalu sedikit masalah, tapi yang berlebihan juga akan masalah,” ujar Putu.

    Merujuk apa yang terjadi di Dubai, terjadi banjir, artinya memang hari ini kita ingin maknai bagaimana kita mampu mengelola ketahanan air untuk memberikan kesejahteraan untuk semua pihak.  

    Baca Juga: Ribuan Relawan Sumut Bersihkan Sampah di World Clean Up Day2023

    Putu, mewakili BKSAP DPR RI pun sebelumnya telah mengajak para negara sahabat dalam pertemuan Inter-Parliamentary Union (IPU) Assembly di Jenewa, Swiss pada bulan Maret 2024 lalu.

    Ia mengundang para delegasi untuk turut hadir dan mengikuti kegiatan ‘The 10th World Water Forum’ di Bali ini mengingat pembahasan mengenai air ini menjadi sangat penting.

    Dia berharap bahwa masyarakat juga ikut menjaga air dan anak-anak muda hari ini untuk aktif terlibat dalam pelestarian dan menjaga air bersih. Yang terpenting, sebetulnya dari forum ini ada aksi-aksi nyata.

    Dia ingin memastikan agar forum ini tidak hanya sebatas dialog forum pertemuan di Nusa Dua, tapi juga ada gerakan konkret untuk menghadirkan air bersih, dan menghadirkan teknologi tepat guna untuk pengadaan air bersih.

    ”Ataupun mengajak semua pihak untuk membantu masyarakat yang memang belum memiliki akses terhadap air bersih itu sendiri,” tegasnya.

  • Jadi Duta World Water Forum ke-10, Cinta Laura Akan Kampanyekan Konservasi Air Bersih

    Jadi Duta World Water Forum ke-10, Cinta Laura Akan Kampanyekan Konservasi Air Bersih

    7cloud.asia – Duta Komunikasi World Water Forum ke-10 Cinta Laura mengatakan agenda yang diusung oleh Indonesia di ajang WWF ke-10 sangat krusial, mengingat masih banyak penduduk yang belum memiliki akses ke air bersih.

    World Water Forum ke-10 yang akan berlangsung di Bali mengusung empat agenda utama, yaitu upaya konservasi air, ketersediaan air bersih dan sanitasi, ketahanan pangan dan energi, serta mitigasi bencana alam.

    “Fokus Indonesia pada konservasi air, akses air bersih, sanitasi, keamanan pangan dan energi, serta mitigasi bencana di World Water Forum sangatlah krusial,” ucap Cinta dalam keterangan tertulis kepada ANTARA, Jumat.

    “Dengan lebih dari 27 juta penduduk Indonesia yang belum memiliki akses ke air bersih dan 80 persen penyakit disebabkan oleh kualitas air yang buruk, agenda-agenda tadi perlu segera dilakukan,” sambung dia.

    Cinta menilai komitmen Indonesia di WWF ke-10 sudah sangat jelas, mengingat kerentanan negara terhadap bencana alam seperti banjir dan kekeringan, yang diperparah oleh perubahan iklim.

    Baca Juga: The 10th World Water Forum: Air Bersih adalah Hak Asasi Manusia

    Cinta Laura melihat agenda-agenda tersebut sebagai hal yang penting untuk pembangunan berkelanjutan.

    “Saya ingin memberikan apresiasi atas pendekatan proaktif Indonesia dalam mengatasi masalah-masalah mendesak ini di platform global,” kata dia.

    Sebagai Duta Komunikasi untuk World Water Forum ke-10, Cinta mengatakan dirinya berperan untuk menyebarkan pesan-pesan penting mengenai isu-isu air kepada masyarakat Indonesia secara luas.

    Melalui berbagai saluran komunikasi seperti penjangkauan media, kampanye di media sosial, acara publik, dan program-program edukasi.

    Dia akan berupaya meningkatkan kesadaran tentang pentingnya konservasi air, akses air bersih, sanitasi, keamanan pangan dan energi, serta mitigasi bencana.

    “Dengan menyampaikan pesan-pesan ini secara efektif, kami bertujuan untuk menggerakkan dukungan masyarakat, memfasilitasi kolaborasi antara pemangku kepentingan, dan menginspirasi tindakan kolektif dalam mengatasi tantangan terkait air di Indonesia dan di seluruh dunia,” ujar dia.

    Baca Juga: Museum Subak Jatiluwih Bakal Jadi Tujuan Kunjungan Delegasi World Water Forum ke-10

    Cinta Laura juga menyampaikan strateginya untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam upaya konservasi dan manajemen sumber daya air yang berkelanjutan.

    Cinta Laura antara lain akan melaksanakan lokakarya dan program penjangkauan berkenaan dengan upaya konservasi air di tingkat komunitas.

    Menurut dia, lokakarya akan mencakup materi tentang teknik pengumpulan air hujan, metode pengoptimalan penggunaan air di tingkat rumah tangga dan usaha pertanian, serta strategi pelestarian ekosistem air.

    Dia juga mengemukakan pentingnya kolaborasi dengan organisasi lokal, lembaga pemerintah, dan institusi pendidikan dalam mempromosikan upaya konservasi air.

    Sebagai komisaris PT Maharaksa Biru Energi Tbk, Cinta Laura berkomitmen mendukung upaya pelestarian lingkungan.

    Baca Juga: Ribuan Relawan Sumut Bersihkan Sampah di World Clean Up Day2023

    Cinta menyampaikan bahwa dalam beberapa tahun terakhir dia aktif berinteraksi dengan universitas dalam mengorganisir pelaksanaan seminar dan diskusi untuk meningkatkan kepedulian pemuda terhadap lingkungan.

    “Saya secara teguh percaya bahwa mengedukasi tiap individu sangat penting untuk menumbuhkan kepedulian yang tulus terhadap lingkungan dan memahami dampaknya terhadap kesejahteraan fisik, mental, sosial, dan ekonomi kita,” jelasnya.

    Tanpa dasar ini, lanjutnya, sulit untuk menginspirasi perubahan yang bermakna dalam kebiasaan dan perilaku masyarakat.

    Cinta mengemukakan rencana untuk menggandeng lembaga pendidikan dan organisasi lokal dalam kampanye guna meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap masalah lingkungan.

    “Tujuan kami adalah untuk membangun keterlibatan jangka panjang dalam masyarakat untuk memastikan pelestarian sumber daya air dan lingkungan untuk generasi mendatang,” katanya.

    World Water Forum ke-10 akan diselenggarakan di Bali dari 18 sampai 24 Mei 2024. Forum itu akan membahas masalah konservasi air, air bersih dan sanitasi, ketahanan pangan dan energi, serta mitigasi bencana alam.

  • Manfaat yang Bisa Dipetik Indonesia dari Penyelenggaraan World Water Forum Ke-10 Bali

    Manfaat yang Bisa Dipetik Indonesia dari Penyelenggaraan World Water Forum Ke-10 Bali

    7cloud.asia – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyebutkan perhelatan World Water Forum Ke-10 di Bali pada Mei 2024 dapat meningkatkan kapasitas pengendalian banjir.

    “Peningkatan kapasitas di mana mendapatkan pengetahuan dan pelatihan yang dapat meningkatkan kapasitas pejabat dan tenaga teknis Kementerian PUPR dalam mengelola dan mengatasi masalah banjir,” ujar Staf Khusus (Stafsus) Menteri PUPR Bidang Sumber Daya Air Firdaus Ali kepada ANTARA di Jakarta, Minggu (28/4/2024).

    Firdaus Ali juga mengatakan bahwa perhelatan World Water Forum di Bali dapat mendorong transfer ilmu pengetahuan dan teknologi soal konservasi air.

    Baca:Cinta Laura jadi duta World-Water-Forum ke-10

    Di World Water Forum ini terbuka kesempatan untuk mendapatkan akses terhadap ilmu dan teknologi terbaru dan terbaik dalam pengelolaan sumber daya air dan pengendalian banjir.

    World Water Forum juga dapat menjadi pembelajaran bersama. Forum ini memungkinkan Kementerian PUPR untuk mempelajari pendekatan dan solusi yang telah berhasil diterapkan di negara lain dalam mengatasi banjir.

    World Water Forum juga berperan untuk bisa mendorong penggalangan dana, di mana forum ini juga bisa menjadi ajang untuk menggalang dukungan finansial yang berkelanjutan dari komunitas internasional untuk proyek-proyek mitigasi banjir di Indonesia.

    Baca:World-water-forum tekankan air bersih adalah hak asasi manusia

    Dalam rangka menyambut World Water Forum Ke-10 yang akan diselenggarakan di Bali, Indonesia, 18-25 Mei 2024, Kementerian PUPR terus memastikan kesiapan pelaksanaan forum air tingkat dunia tersebut.

    Sebagai tuan rumah World Water Forum Ke-10, Indonesia memiliki peran penting dalam menyediakan platform global bagi para pemangku kepentingan untuk membahas berbagai isu terkait pengelolaan air.

    Di samping itu, World Water Forum Ke-10 yang mengusung tema “Water for Shared Prosperity” ini diharapkan menjadi momentum bagi Indonesia untuk menunjukkan kepemimpinan serta komitmennya dalam upaya global mengatasi tantangan pengelolaan air.

    Baca: Museum-subak-Jatiluwih-bakal-jadi-tujuan-kunjungan-delegasi-world-water-forum

    World Water Forum Ke-10 terdiri atas tiga proses utama yaitu Proses Politik, Proses Regional dan Proses Tematik yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan terkait.

    Proses Tematik terdiri atas enam sub-tema yang nantinya akan didiskusikan bersama untuk mencari common goals secara global.

    Enam sub-tema tersebut meliputi Water Security and Prosperity, Water for Humans and Nature, Disaster Risk Reduction and Management, Governance, Cooperation and Hydro-diplomacy, Sustainable Water Finance, dan Knowledge and Innovation.

    Baca:Membangun-waduk-menjadi-salah-satu-cara-Pemprov-Jakarta-atasi-banjir

    Sedangkan, proses regional meliputi Asia Pasifik, Amerika, Afrika, dan Mediterania. Untuk Proses Politik terdiri dari 5 tingkat, yaitu Head of States, Parliamentarian, Ministerial, Local Authorities, dan Basin Authorities.

  • World Water Forum Bali Buka Jalan untuk Indonesia Bangun Pembangkit Listrik Murah dengan PLTA

    World Water Forum Bali Buka Jalan untuk Indonesia Bangun Pembangkit Listrik Murah dengan PLTA

    7cloud.asia – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan, penyelenggaraan World Water Forum ke-10 dapat membuka jalan bagi Indonesia untuk mendapatkan listrik yang lebih murah, melalui pengembangan pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

    Potensi pengembangan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) ini diungkapvDirektur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi dalam pernyataannya, dikutip Senin (29/4/2024).

    “Dengan World Water Forum ini, isu hydropower (PLTA) kami harapkan bisa lebih besar lagi, karena dengan air kita bisa mendapatkan listrik yang paling murah,” ujarnya.

    Eniya menjelaskan, salah satu proyek strategis yang ditawarkan oleh Indonesia untuk masuk ke kompendium World Water Forum 2024 adalah PLTA.

    Baca: World-water-forum-ke-10-air-bersih-adalah-hak-asasi-manusia

    Dia menambahkan, selama ini pemerintah mendorong pemanfaatan air untuk menjadi sumber listrik di Indonesia. Apalagi Indonesia dinilai memiliki sumber daya air yang luar biasa.

    “Apalagi sumber air di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, sama Papua. Kalau di Pulau Jawa, mungkin sedikit-sedikit tergerus, tetapi PLTA-nya sudah lama-lama,” kata dia.

    Oleh karena itu, ia sangat mendukung proyek PLTA untuk masuk ke kompendium World Water Forum 2024.

    “Saat ini, listrik yang termurah, sekitar 3 sen atau di bawah, adalah hydro (air),” ujar eks Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu.

    Baca: Manfaat-yang-bisa-dipetik-Indonesia-dari-World-Water-Forum-ke-10-Bali

    Sebelumnya, Staf Ahli Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Bidang Teknologi, Industri, dan Lingkungan Endra S Atmawidjaja mengatakan Indonesia menawarkan sejumlah proyek strategis untuk masuk dalam kompendium World Water Forum 2024 di Bali.

    “Mulai dari modernisasi irigasi bersama World Bank hingga PLTA,” ujar dia.

    World Water Forum ke-10 jadwalkan akan berlangsung pada 18-25 Mei 2024 di Badung, Bali.

    Adapun World Water Forum ke-10 memiliki tiga proses utama, yakni politik, regional, dan tematik dimana ketiganya akan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

    Baca: Museum-Subak-Jatiluwih-bakal-dikunjungi-delegasi-World-Water-Forum-ke-10

    Mulai dari pemimpin negara, menteri, pemimpin daerah, akademisi, peneliti, hingga generasi muda yang akan saling bertukar pikiran.

    Fokus pembahasan forum ada empat hal, yakni konservasi air (water conservation), air bersih dan sanitasi (clean water and sanitation), ketahanan pangan dan energi (food and energy security), serta mitigasi bencana alam (mitigation of natural disasters).

    “Sebanyak 244 sesi dalam forum tersebut diharapkan dapat memberikan hasil konkret mengenai pengarusutamaan pengelolaan air terpadu untuk pulau-pulau kecil atau integrated water resources management (IWRM) on small islands,” tutur Endra.

    Selain itu, pembentukan pusat keunggulan atau praktik terbaik untuk ketahanan air dan iklim atau Centre of Excellence on Water and Climate Resilience (COE), serta penetapan Hari Danau Sedunia.

    Baca: Cinta-Laura-akan-kampanyekan-konservasi-air-bersih

  • Sukses Turunkan Angka Stunting dengan Sanitasi Layak, Program WASH UNICEF Akan Dibahas di World Water Forum

    Sukses Turunkan Angka Stunting dengan Sanitasi Layak, Program WASH UNICEF Akan Dibahas di World Water Forum

    7cloud.asia – Program Air, Sanitasi dan Kebersihan (WASH) oleh Dana Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) di Nusa Tenggara Barat, akan dibahas di World Water Forum ke-10.

    World Water Forum ke-10 akan diselenggarakan di Bali, pada 18-25 Mei 2024.

    “Program WASH menjadi salah satu agenda yang akan dibahas di World Water Forum ke-10, misalnya bagaimana komitmen para pemerintah negara untuk mendorong kerja sama mengatasi masalah air dan juga sanitasi,” ujar Spesialis WASH UNICEF Indonesia, Muhammad Zainal, Jumat (3/5/2024).

     

    Dilansir di laman resmi UNICEF, program WASH dilatarbelakangi dampak dari air, sanitasi dan kebersihan yang tidak aman pada anak bisa berakibat fatal.

    Lebih dari 700 anak di bawah usia 5 tahun meninggal setiap hari karena penyakit diare karena kurangnya layanan WASH yang memadai.

    Di wilayah konflik, anak-anak mempunyai kemungkinan 20 kali lebih besar untuk meninggal akibat penyakit diare dibandingkan akibat konflik itu sendiri.

    Baca Juga: Kasus Stunting Masih Tinggi, Pemprov DKI Jakarta Juga Diminta Benahi Sanitasi dan Layanan Air Bersih

    Zainal mengatakan layanan WASH pada fasilitas kesehatan dan sanitasi di unit pendidikan, yang selama ini berlangsung di NTB, sejalan dengan topik yang akan dibahas dalam World Water Forum Bali.

    Program WASH untuk mendukung sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) di sejumlah kabupaten di Provinsi NTB telah dimulai sejak 2017.

    Program WASH ditujukan untuk percepatan open defecation free, atau yang dikenal sebagai program bebas buang air sembarangan (BABS).

    Zainal menilai perkembangan pencapaian di NTB cukup bagus, terlebih dengan komitmen kuat para pemerintah daerah untuk mencapai target tujuan pembangunan berkelanjutan.

    Menyangkut target sanitasi, menurut dia, NTB ingin memastikan semua orang memiliki akses terhadap sanitasi yang layak.

    “NTB merupakan provinsi kedua di Indonesia yang berhasil mencapai ODF, open defecation free, atau BABS, Stop Buang Air Besar Sembarangan,” kata dia.

    Baca Juga: Sebanyak 621 Orang Meninggal Akibat DBD, Terbanyak di Bandung

    Zainal mengatakan target layanan WASH tidak hanya sekedar sanitasi layak, melainkan juga mewujudkan sanitasi aman.

    Karena itu, upaya yang diusung program tersebut –selain soal penggunaan jamban– juga mencakup upaya bagaimana tinja dapat diolah dengan aman dan tidak mencemari lingkungan sebelum dibuang ke lingkungan.

    UNICEF melihat dampak pada anak-anak, yakni menurunnya angka stunting (tengkes) secara signifikan di Sumbawa Barat.

    Sumbawa Barat, kata dia, menjadi kabupaten yang angka tengkesnya paling rendah di NTB.

    Berdasarkan hasil survei status gizi Indonesia (SSGI), angka tengkes Sumbawa Barat menurun dari 2019 sebesar 33,40 persen menjadi 10,5 persen pada 2023.

    “Kami mengharapkan bahwa program sanitasi ini akan berkontribusi langsung terhadap penurunan angka penyakit yang berbasis lingkungan pada anak-anak,” kata dia.

    Selain itu, UNICEF bersama Baznas dan pemerintah daerah NTB meninjau perkembangan advokasi pembangunan jamban dan tangki septik untuk para mustahik di Desa Kotaraja, Kabupaten Lombok Timur.

     

     

  • World Water Forum: Badan Geologi ESDM Akan Dalami Regulasi Tata Kelola Air Tanah

    World Water Forum: Badan Geologi ESDM Akan Dalami Regulasi Tata Kelola Air Tanah

    7cloud.asia – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan mempelajari dan mendalami penerapan regulasi terkait tata kelola air tanah di negara-negara lain dalam forum World Water Forum ke-10 di Bali.

    “Badan Geologi ini, yang tadinya kami berkutat di ilmu saja, sekarang sudah mulai mengurusi regulasi. Sehingga, kami patut mendengarkan pengalaman negara-negara lain,” ujar Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid, dikutip Antaranews.com, Selasa (7/5/2024).

    Adapun salah satu regulasi tata kelola air tanah yang ingin Indonesia dalami adalah terkait dengan Nilai Perolehan Air Tanah atau NPA.

    NPA adalah nilai air tanah yang telah diambil dan dikenai pajak air tanah.

    “Kami sudah coba cek di negara-negara lain, ada NPA atau nggak. Ternyata ada, dan NPA di Indonesia cenderung lebih rendah dibanding negara-negara sekitar. Jadi, ya, kami memang betul-betul fokus ke situ,” ujar Wafid.

    Baca Juga: Sukses Turunkan Angka Stunting dengan Sanitasi Layak, Program WASH UNICEF Akan Dibahas di World Water Forum

    Wafid menjelaskan bahwa wawasan mengenai tata kelola air tanah memegang peranan yang sangat penting untuk masa depan.

    Menurut Wafid, air akan menjadi komoditas termahal, bahkan lebih mahal apabila dibandingkan dengan mineral lainnya.

    Selama ini, kata Wafid melanjutkan, Indonesia banyak belajar mengenai tata kelola air tanah dari Korea Selatan, Denmark, dan negara-negara lainnya.

    “Nanti, di World Water Forum, kan berbagi pengalaman dan sebagainya. Nanti bisa melihat, mana update (pembaruan) teknologi dari yang sudah ada, dan sebagainya,” kata Wafid.

    World Water Forum ke-10 fokus membahas empat hal, yakni konservasi air (water conservation), air bersih dan sanitasi (clean water and sanitation).

    Baca Juga: Manfaat yang Bisa Dipetik Indonesia dari Penyelenggaraan World Water Forum Ke-10 Bali

    Ketiga, ketahanan pangan dan energi (food and energy security), serta mitigasi bencana alam (mitigation of natural disasters).

    Sebanyak 244 sesi dalam forum tersebut diharapkan dapat memberikan hasil konkret mengenai pengarusutamaan pengelolaan air terpadu untuk pulau-pulau kecil atau Integrated Water Resources Management (IWRM) on Small Islands.

    Pembentukan pusat keunggulan atau praktik terbaik untuk ketahanan air dan iklim atau Centre of Excellence on Water and Climate Resilience (COE), serta penetapan Hari Danau Sedunia.

    Pemerintah Indonesia mengundang 43 duta besar dan 4 organisasi internasional untuk turut berpartisipasi dan menyukseskan World Water Forum ke-10 yang akan digelar di Bali pada 18-25 Mei 2024.

    Sumber: Antaranews.com

  • World Water Forum Ke-10 Resmi Dibuka, Ada Tiga Agenda Utama

    World Water Forum Ke-10 Resmi Dibuka, Ada Tiga Agenda Utama

    7cloud.asia – Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) World Water Forum Ke-10 Senin (20/5/2024) pagi di Bali Internasional Convention Center (BICC), Bali.

    Seremoni pembukaan World Water Forum Ke-10 mulai bergulir pukul 08.30 hingga 10.30 WITA bertempat di Mangunpura Hall BICC Bali.

    Usai pertunjukan seni, agenda World Water Forum Ke-10 berlanjut dengan penyampaian pidato dari pebisnis asal Amerika Serikat Elon Musk, dan dilanjutkan dengan penyampaian pidato dari President World Water Council, Loic Fauchon.

    Pembukaan WWF juga dirangkai dengan tayangan Video of King Hasan II Great World Water Prize sebagai visualisasi dukungan perlindungan dan pelestarian sumber daya air, peningkatan pengelolaan, penggunaan kembali air limbah, serta peningkatan kesadaran di kalangan masyarakat.

    Video King Hasan II Great World Water Prize dirangkai dengan penyampaian pidato Menteri Peralatan dan Air Maroko, Nizar Baraka sebagai bagian dari upacara khusus.

    Baca: Manfaat World Water Forum untuk Indonesia

    Terdapat juga prosesi pemberian penghargaan oleh President World Water Council kepada para pihak atas kontribusinya dalam penanggulangan masalah air.

    Presiden Jokowi menyampaikan pidato pembukaan KTT WWF pada pukul 09.30 WITA. Selain itu juga ada laporan dari Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dan Menlu Retno Marsudi.

    Usai pembukaan, dilanjutkan dengan interface meetings bersama penanggung jawab proses politik, tematik, dan regional, serta pertemuan bilateral.

    Sementara itu, Nusa Dua Hall, Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC) juga akan menjadi lokasi Opening Fair and Expo.

    Fair and Expo Kegiatan serupa juga akan diselenggarakan di beberapa lokasi lainnya seperti BICC, Bali Collection Nusa Dua dan Pantai Kuta pada 20- 25 Mei 2024.

    Baca: Ini yang akan dilakukan Indonesia di World Water Forum  

    Dalam World Water Forum di Bali ini, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menggalang dukungan untuk penetapan Hari Danau Sedunia.

    Hal ini juga disampaikan Basuki saat melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Dennis Francis.

    “Kami berharap Anda mendukung proposal kami untuk penetapan Hari Danau Sedunia dalam resolusi Majelis Umum PBB untuk menyoroti peran danau alami dan buatan sebagai sumber daya air yang signifikan,” kata Menteri Basuki di Badung, Bali, Minggu.

    Basuki mengatakan terdapat tiga tujuan utama dalam World Water Forum Ke-10 yang akan berlangsung sepekan ini.

    Baca: Cinta Laura jadi duta World Water Forum

    Yaitu penetapan Hari Danau Sedunia (World Lake Day), pembentukan Center of Excellence on Water and Climate Resilience, dan mengarusutamakan isu pengelolaan air untuk negara-negara berkembang di pulau-pulau kecil.

    Sebagai tuan rumah World Water Forum Ke-10, Indonesia menginisiasi Deklarasi Tingkat Menteri untuk disahkan. Deklarasi itu akan memuat kesepakatan internasional terkait penetapan Hari Danau Sedunia.

    “Selanjutnya, kami berharap untuk mengintegrasikan Deklarasi Menteri World Water Forum Ke-10 ke dalam resolusi PBB untuk tindakan yang lebih sah dan mendalam yang sejalan dengan tujuan kerja sama internasional tentang isu air,” kata Basuki.

    Presiden Majelis Umum PBB Dennis Francis menyatakan mendukung penuh usulan penetapan Hari Air Sedunia yang sejalan dengan komitmen PBB dalam kerja sama pengelolaan air tingkat internasional.

    “Saya yakin usulan ini dapat disepakati dalam resolusi PBB. Karena planet ini tidak akan bisa hidup tanpa air, sehingga kita harus bekerja sama hingga resolusi ini disahkan,” ujar Francis.

  • World Water Forum ke-10: UNDP Luncurkan Alat Pengolahan Air di Sungai Citarum

    World Water Forum ke-10: UNDP Luncurkan Alat Pengolahan Air di Sungai Citarum

    7cloud.asia – Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) memainkan peran penting dalam mempromosikan solusi air berkelanjutan di World Water Forum ke-10 di Bali.

    Di sela gelaran World Water Forum ke-10 di Bali, UNDP meluncurkan alat untuk pengolahan air di Sungai Citarum, Jawa Barat.

    “Kami telah menguji coba alat penilaian mandiri dengan perusahaan-perusahaan di sepanjang Citarum, termasuk perusahaan tekstil, di mana kami menerima umpan balik yang positif,” kata Kepala Perwakilan Tetap UNDP Indonesia, Norimasa Shimomura, sela gelaran World Water Forum ke-10 di Bali, Selasa (21/5/2024).

    Norimasa menjelaskan, di Indonesia upaya UNDP mencerminkan pendekatan terpadu dalam mengatasi tantangan akses terhadap air berkualitas.

    Melalui kemitraan dengan Uni Eropa dan Pemerintah Indonesia, UNDP mempromosikan Prinsip-Prinsip Panduan PBB tentang Bisnis dan Hak Asasi Manusia.

    Baca: Tiga agenda utama World Water Forum ke-10 di Bali

    Hal ini terutama difokuskan pada pengelolaan air yang bertanggung jawab dalam industri yang beroperasi di sepanjang Sungai Citarum yang merupakan sungai terpanjang dan terbesar di Jawa Barat, Indonesia.

    “Kami berharap alat ini akan diadopsi oleh lebih banyak bisnis untuk menstandarisasi dan memperkuat upaya mereka dalam mencegah dan mengurangi risiko pencemaran air, di Indonesia dan di luar negeri,” ucapnya.

    Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa komitmen UNDP terhadap keamanan air juga mencakup 170 negara lainnya.

    UNDP berupaya untuk mendorong kemajuan menuju akses yang adil terhadap air bersih dan pengelolaan air yang berkelanjutan untuk semua dengan melibatkan digitalisasi, inovasi, dan berbagai mekanisme pembiayaan.

    Portofolio air global UNDP yang luas juga mencerminkan dedikasinya dalam bekerja berdampingan dengan pemerintah dan mitra untuk mengatasi tantangan air di berbagai sektor.

    Baca: Selain World Water Forum juga ada People Water Forum

    Tantangan itu termasuk perubahan iklim, energi, dan pertumbuhan inklusif.

    Agensi tersebut bekerja secara kolaboratif dengan pemerintah, komunitas, dan mitra untuk menerapkan solusi berbasis data dan mendorong tata kelola inklusif untuk kesejahteraan bersama.

    Penasehat Teknis Senior Global Air UNDP, Mary M. Matthews menekankan bahwa air adalah kunci untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

    Air, mnurutnya, mencakup keseluruhan aspek masyarakat dan tidak ada manusia yang pernah hidup tanpanya.

    ”Kita harus mengakui air sebagai sumber daya alam yang vital dan bekerja sama untuk secara menyeluruh mengatasi isu-isu air di semua sektor,” katanya.

    Baca: World Water Forum tegaskan akses air bersih adalah hak asasi manusia

     

    Ia menambahkan, UNDP berkomitmen untuk berbagi praktik terbaik dan saling belajar untuk keamanan dan kesejahteraan air.

    ”Dan saya yakin Indonesia memiliki banyak pelajaran berharga untuk dibagikan,” imbuhnya.

    World Water Forum ke-10 menyediakan platform unik bagi UNDP untuk berbagi keahliannya, mendorong kolaborasi, dan mengadvokasi air sebagai pilar fundamental kesejahteraan bersama.

    Sebagai integrator global untuk tata kelola air, UNDP berdedikasi untuk membangun masa depan yang aman air bagi semua.

    Sumber: Antaranews,com

  • Solidaritas untuk People Water Forum, Navicula Batal Manggung di Acara World Water Forum

    Solidaritas untuk People Water Forum, Navicula Batal Manggung di Acara World Water Forum

    7cloud.asia – Grup band asal Bali, Navicula, memutuskan untuk batal tampil di acara Water Vaganza pada Jumat (24/5/2024).

    Pembatalan dilakukan Navicula merespon intimidasi dan pembubaran diskusi People Water Forum (PWF).

    Pagelaran musik Water Vaganza ini merupakan bagian dari event World Water Forum 2024 yang berlangsung 19-25 Mei di Bali.

    “Kami memutuskan untuk batal main di acara Water Vaganza sebagai rangkaian dari acara World Water Forum,” kata vokalis sekaligus gitaris Navicula, I Gede Robi Supriyanto, dalam video diunggah akun Instagram @naviculamusic, Rabu (22/5/2024) malam.

    Water Vaganza menggabungkan konser musik, talkshow, pameran UMKM, festival budaya, dan lokakarya yang semuanya difokuskan untuk merayakan dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya air.

    Baca: Konferensi tandingan World Water Forum dibubarkan Ormas

    Sementara, People Water Forum digelar sebagai ’tandingan’ World Water Forum yang dihadiri masyarakat sipil seperti pemerhati lingkungan, akademisi, dan aktivis.

    Dalam unggahan itu, Robi mengatakan, Navicula berharap ajang internasional sekelas World Water Forum semestinya melibatkan lebih banyak partisipasi.

    “(memberi ruang) Bagi aspirasi publik untuk memberi masukan pemanfaatan air yang berkeadilan bagi seluruh rakyat,” imbuh Robi.

    Navicula yang selama ini memang gigih mengadvokasi lingkungan menilai, diskusi-diskusi yang dilakukan oleh peserta People Water Forum dan Masyarakat sipil bersifat akademis dan intelektual.

    Jadi tidak alasan bagi siapapun untuk menghalangi apalagi membubarkan acara People Water Forum.

    Baca: Tiga agenda utama World Water Forum

    “Segala bentuk pelarangan yangterjadi ini menurut kami adalah pelanggaran atas asas demokrasi,” pungkas Robi.

    Di akhir unggahannya, awak Navicula menyatakan dukungan penuh mereka kepada pelestarian air, keadilan air, dan air untuk rakyat!

    Navicula adalah grup musik asal Bali, yang beranggotakan I Gede Robi Supriyanto (Gede Robi) di vokal dan gitar, Dadang Pranoto (Dankie) di gitar, Supriatmoko (Palel Atmoko) di drum dan Krishnanda Adipurba (Khrisna) di bass.

    Navicula terkenal dengan warna musik grunge yang dipengaruhi kebudayaan Bali. Navicula juga menggunakan ragam musik seperti folk rock, rock psikedelis, funk, blues dan punk.

    Baca: Cinta Laura didapuk menjadi duta World Water Forum 

    Karena sering berkecimpung di dunia aktivisme sosial dan lingkungan mereka dijuluki “the Green Grunge Gentlemen”.

    Diberitakan sebelumnya, massa dari organisasi masyarakat Patriot Garuda Nusantara (PGN) membubarkan diskusi People’s Water Forum (PWF) di Hotel Oranjje, Kota Denpasar, Bali.

    Puluhan anggota PGN melakukan kekerasan secara verbal maupun fisik kepada peserta diskusi itu.

    Salah seorang pentolan ormas PGN, Pariyadi, beralasan pembubaran acara Forum Air untuk Rakyat berdasarkan Peraturan Gubernur (Pergub) Bali.

    “Peraturan Gubernur melarang kegiatan seperti ini. Kami Patriot Garuda Nusantara menolak adanya kegiatan dan ini sudah tidak benar,” ujar Pariyadi.