Blog

  • Hutan Mangrove Surabaya Dikembangkan Jadi Kebun Raya Demi Manfaat Ekologis dan Ekonominya

    Hutan Mangrove Surabaya Dikembangkan Jadi Kebun Raya Demi Manfaat Ekologis dan Ekonominya

    7cloud.asia – Salah satu kekayaan laut Indonesia, khususnya yang berada di wilayah-wilayah pesisir adalah hutan mangrove  atau hutan bakau.

    Tipe hutan mangrove ini biasanya berada di daerah pasang surut air laut. Saat air pasang, hutan mangrove digenangi oleh air laut, sedangkan pada saat air surut, hutan mangrove bebas dari genangan air laut.

    Umumnya, hutan mangrove berkembang dengan baik di pantai yang terlindung, muara sungai, atau laguna.

    Ada dua fungsi hutan mangrove sebagai potensi sumber daya laut di Indonesia, yaitu fungsi ekologis dan ekonomis.

    Baca: Mengenal habitat lamun yang efektif jernihkan kawasan pesisir

    Fungsi ekologis hutan mangrove adalah sebagai habitat binatang laut untuk berlindung, mencari makan, dan berkembang biak, serta melindungi pantai dari abrasi air laut.

    Hutan mangrove juga berguna untuk meminimalkan dampak tsunami, mengurangi polusi dengan menyerap karbondioksida (CO2) dan memproduksi oksigen (O2).

    Hutan mangrove juga bisa menjadi menjadi barier atau penahan abrasi dan mencegah turunnya muka air tanah.

    Sementara itu fungsi ekonomis hutan mangrove adalah kayu pepohonan yang bisa digunakan sebagai bahan kayu bakar atau bahan pembuat arang serta dapat dijadikan bahan pembuat kertas.

    Buah yang dihasilkan dari hutan mangrove juga bisa dimanfaatkan menjadi makanan ataupun sirup. Selain itu, hutan mangrove juga menjadi habitat beragam jenis fauna yang memiliki nilai ekonomi, misalnya udang dan jenis ikan lainnya.

    Baca: Abrasi akibat perubahan iklim picu ‘bedol desa’ di Pantura

    Salah satu kekayaan hutan mangrove di Indonesia berada di kawasan pesisir atau kawasan lindung Pantai Timur, Kecamatan Gunung Anyar, Kota Surabaya, Jawa Timur.

    Pada 2017, hutan mangrove itu diusulkan oleh pemerintah daerah setempat agar menjadi Kebun Raya Mangrove pertama di Indonesia. Usulan ini disetujui oleh Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya saat itu.

    Usulan mengembangkan hutan mangrove di Surabaya tersebut kemudian disampaikan ke Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI, yang sekarang bertransformasi menjadi BRIN.

    Pembangunan hutan mangrove Surabaya menjadi kebun raya mangrove pertama di Indonesia dimulai setahun setelahnya, tepatnya pada 29 April 2018.

    Baca: Ribuan desa pesisir terancam hilang akibat perubahan iklim

    Program pembangunan Kebun Raya Mangrove melibatkan sejumlah pihak, seperti Pemkot Surabaya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), LIPI, dan Yayasan Kebun Raya Indonesia (YKRI).

    Kebun Raya Mangrove Surabaya sendiri melingkupi tiga kawasan hutan mangrove, yaitu Mangrove Wonorejo, Mangrove Medokan Sawah, serta Mangrove Gunung Anyar.

    Luas total hutan mangrove yang kini berubah menjaid Kebun raya Mangrove Surabaya ini sekitar 27 hektare.

    Hutan mangrove di Pantai Timur Surabaya ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk pelestarian keragaman hayati, perlindungan lingkungan, pemberdayaan ekonomi, pendidikan, dan pariwisata atau hiburan.

    Baca: Kebijakan ekspor pasir laut mengancam kelestarian ekosistem pesisir

    Setelah melalui proses yang panjang, bertepatan dengan peringatan Hari Mangrove Sedunia pada Rabu, 26 Juli 2023 lalu, Kebun Raya Mangrove Surabaya diresmikan.

    Peresmian dilakukan Megawati Soekarnoputri selaku Ketua Yayasan Kebun Raya Indonesia, sekaligus mantan Presiden ke-5 RI dan Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

    Hutan mangrove Surabaya yang kini berubah menjadi Kebun Raya ini menjadi yang pertama di Indonesia. Pasalnya, dari keseluruhan kebun raya yang ada di Indonesia selama ini, belum ada yang secara khusus untuk mangrove. 

    Dalam kesempatan itu, Megawati menekankan pentingnya negara menjaga keanekaragaman hayati atau biodiversitas dan kelestarian plasma nutfah termasuk pelestarian hutan mangrove.

    Baca: DPR usulkan insentif untuk daerah penghasil oksigen

    Untuk keperluan Kebun Raya Mangrove Surabaya, Megawati sudah mengumpulkan dana sekitar Rp2 miliar, yang diharapkan bisa digunakan untuk menambah koleksi spesies-spesies yang baru.

    “Operasional pemeliharaan kebun raya juga sangat tinggi. Hal itu yang selama ini harus dipikirkan dan diupayakan oleh para pengelola kebun raya, termasuk pengelola hutan mangrove Surabaya ini,” ujar Mega.

    Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan Kota Surabaya mencatat, Kebun Raya Mangrove Surabaya memiliki koleksi 57 dari 157 jenis mangrove yang ada di dunia. Saat ini juga tengah dilakukan eksplorasi tiga jenis baru yang akan menambah koleksi.

    Penulis: Esti Utami dari berbagai sumber

    Baca: Daftar kebun raya untuk wisata sekaligus belajar mengenal alam

     

  • Cara Sederhana Memulai Slow Living, Jangan Salah Mengartikan dengan Bermalas-malasan

    Cara Sederhana Memulai Slow Living, Jangan Salah Mengartikan dengan Bermalas-malasan

    7cloud.asia – Beberapa waktu lalu 7cloud.asia menulis tentang upaya sebagian orang untuk mulai menjalani hidup dengan lebih perlahan atau yang dikenal dengan slow living.

    Mungkin di antara pembaca ada yang bertanya-tanya, apakah gaya hidup slow living ini bisa diterapkan di tengah hidup yang sudah telanjur sibuk? Jawabannya adalah ya, gaya hidup slow living bisa diterapkan di hidup yang sibuk.

    Dilansir di prettyslow.life, kita dapat mulai menerapkan gaya hidup slow living dengan melakukan perubahan kecil ke dalam rutinitas harian kita, seperti meluangkan waktu untuk jeda sejenak.

    Manfaatkan saat jeda untuk memulai gaya hidup slow living itu, benar-benar untuk diri sendiri. Ambil napas dalam-dalam, renungkan semua yang patut disyukuri dan apa yang telah kita kerjakan dan capai.

    Lalu secara bertahap mulailah membangun perubahan yang lebih signifikan menuju slow living yang sebenarnya, seperti mengurangi waktu di dunia maya, melakukan hobi kreatif atau meluangkan lebih banyak waktu dengan keluarga dan kolega kita.

    Baca: Mungkinkah menerapkan hidup perlahan di kota yang hectic?

    Menjalani slow living, kita akan menemukan keseimbangan dalam hidup kita yang mendukung kesejahteraan dan kebahagiaan. Mempraktikkan gaya hidup slow living juga memberikan sejumlah manfaat bagi kesejahteraan fisik, mental, dan emosional kita. 

    Oleh beberapa orang, gaya hidup slow living ini disalahpahami sebagai hidup dengan bersantai-santai dan tidak produktif.

    Padahal sejatinya slow living tidak seperti itu. Slow living menawarkan pendekatan hidup yang lebih seimbang dan disengaja atau terencana.

    Slow living berfokus pada perawatan diri sendiri, lebih penuh perhatian dan terhubung dengan sekitar kita dan tidak hanya mengejar produktivitas dan konsumsi.

    Baca: Gaya hidup minimalis dianggap solusi drai dunia yang materialistik

    Ada kesalahpahaman umum, bahwa slow living berarti malas-malasan. Ini juga keliru, karena sejatinya slow living adalah membangun kesadaran dalam menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya.

    Slow living adalah menjalani hidup dengan memprioritaskan perawatan diri, keterhubungan dengan lingkungan sekitar dan pekerjaan yang bermakna.

    “Individu yang mempraktikkan gaya hidup perlahan atau slow living bisa sama produktif dan suksesnya dengan gaya hidup serba cepat,” tulis prettyslow.life.

    Ada juga yang beranggapan slow living hanya cocok untuk mereka yang tinggal di daerah pedesaan atau kota kecil.

    Baca: Ini yang mendorong orang berpaling ke gaya hidup frugal living

    Anggapan tersebut juga tidak benar, meski memang slow living akan lebih mudah dipraktikkan di lingkungan pedesaan atau kota kecil.

    Slow living tidak eksklusif untuk lingkungan ini. Slow living bisa dipraktekkan di lingkungan manapun, baik itu di kota besar, kota, pinggiran kota, atau pedesaan.

    Salah kaprah lain soal slow living adalah menyerah teknologi: Meskipun benar bahwa hidup lambat menekankan penggunaan teknologi lebih disengaja dan hati-hati, itu tidak berarti menyerah sepenuhnya.

    “Slow living mendorong individu untuk menggunakan teknologi dengan cara yang mendukung kesejahteraan mereka, daripada membiarkannya mengendalikan hidup mereka,” tulis prettyslow.life

    Baca: Slow city, konsep baru tata kelola kota yang lebih memanusiakan

    Ada juga yang beranggapan slow living hanya cocok untuk orang kaya yang secara materi tidka lagi menghadapi masalah.

    Padahal slow living dapat dilakukan oleh siapa saja, miskin ataupun kaya tanpa memandang tingkat pendapatan. Semua tergantung pada pikiran dan konsep kita menjalani hidup.

    Aspek-aspek tertentu dari hidup perlahan atau slow living, seperti makanan organik atau mode berkelanjutan memang lebih mahal tetapi karena bermanfaat dalam jangka panjang maka secara ekonomi juga lebih menguntungkan.

    Slow living pada akhirnya adalah tentang memprioritaskan apa yang paling penting bagi kita dan menjalani kehidupan yang lebih sederhana dan lebih memuaskan.

    Baca: Seperti ini kriteria kota yang ramah lansia

     

     

     

     

  • Polusi Udara Berpotensi Memicu Timbulnya Hipertensi, Seperti Ini Penjelasannya

    Polusi Udara Berpotensi Memicu Timbulnya Hipertensi, Seperti Ini Penjelasannya

    7cloud.asia – Beberapa waktu lalu Index Quality Air atau IQAir menyebut Jakarta sebagai kota terpolusi di dunia. Dalam catata IQAir, polusi udara di Jakarta sudah mengkhawatirkan dengan nilai indeks 168 atau masuk kategori tidak sehat.

    Polusi udara memiliki dampak bagi kesehatan diantaranya adalah gangguan saluran pernafasan, penyakit jantung, kanker berbagai organ tubuh, gangguan reproduksi dan tekanan darah tinggi atau hipertensi.

    Beberapa jenis gas yang sering memicu polusi udara adalah Karbon Monoksida (CO), Nitrogen Oksida (NO2), Sulfur Oksida (SOx), Photochemical Oksida dan Partikel.

    Sejumlah penelitian mengungkap, polusi udara dapat memicu tekanan darah tinggi atau hipertensi. 

    Baca: IQAir peringatkan tingginya polusi udara di Jakarta

    Dilansir https://p2ptm.kemkes.go.id/, penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal European Heart Journalini menemukan bahwa orang dewasa yang tinggal di area dengan tingkat polusi udara tinggi lebih rentan alami hipertensi dibandingkan mereka yang tinggal di daerah minim polusi.

    Risiko yang dipicu polusi udara ini setara dengan efek obesitas dengan indeks massa tubuh antara 25-30 terhadap risiko munculnya hipertensi

    “Penemuan kami menunjukkan bahwa paparan partikel polusi udara dalam jangka panjang terkait dengan tingginya kasus hipertensi dan asupan obat anti hipertensi,” ujar Barbara Hoffman, Profesor Epidemiologi Lingkungan Centre for Health and Society di Heinrich-Heine-University of Dusseldorf, Jerman.

    Baca: 8 Tanaman ini efektif kurangi polusi udara

    Dilansir di Hypertension Jurnal, hipertensi adalah kondisi yang erat kaitannya dengan penyakit katastropik seperti penyakit kardiovaskuler, stroke, gagal ginjal, diabetes, dan gangguan penglihatan.

    Pemicu hipertensi sebagian besar disebut karena gaya hidup yang tak sehat terutama dari makanan dan bisa juga polusi udara.

    Dari paparan di atas, dr. Sri Aryanti, MM., M.Kes, mahasiswa S3 Doktoral Ilmu Lingkungan Universitas Lampung /Kepala Seksi Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan Provinsi Lampung menyimpulkan terpapar polusi udara dalam jangka panjang terkait dengan peningkatan risiko hipertensi.

    “Orang dewasa  yang tinggal di area dengan tingkat polusi tinggi lebih rentan terkena tekanan darah tinggi dibandingkan mereka yang tinggal di daerah dengan polusi minim,” papar Sri Aryati.

    Baca: WHO sebut polusi udara picu 7 juta kematian dini per tahun

    Ia menambahkan, tiap penambahan lima mikrogram per meter kubik (5 μg/m3) PM 2,5 risiko hipertensi meningkat hingga 22 persen pada orang yang tinggal di area tinggi polusi dibandingkan dengan yang tinggal di area minim polusi.

    Paparan jangka pendek terhadap gas buang sulfur dioksida dan partikulat seperti debu berhubungan pada risiko tekanan darah tinggi.

    Sementara untuk jangka panjang, polutan nitrogen dioksida dari kendaraan yang dikaitkan dengan risiko tekanan darah tinggi.

    Perempuan yang sering terpapar tingkat polusi udara tinggi, lebih berisiko menderita hipertensi ketimbang laki-laki.

    Baca: Polusi dan perubahan iklim picu infertilitas pada laki-laki

    Prevalensi hipertensi meningkat di seluruh dunia, demikian juga di Indonesia yang merupakan negara berkembang.

    Hipertensi masih merupakan tantangan besar dan masalah utama kesehatan yang sering ditemukan pada pelayanan Primer Kesehatan.

    Hasil Riset Kesehatan (Riskesdas 2013) menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi sekitar 26,5%. Berarti sekitar 3 dari 10 orang Indonesia menderita hipertensi.

    Gejala hipertensi sendiri sering tidak jelas dan tidak diketahui pasiennya, sehingga sering ditemukan dan terdiagnosa pada stadium lanjut.

    Baca: Sukses terapkan konsep TOD, warga Bogota dilaporkan makin sehat

    Padahal hipertensi yang tidak tertangani dengan baik merupakan faktor risiko utama terjadinya kerusakan organ ginjal, jantung dan otak bila tidak terdeteksi lebih dini dan mendapat obat yang memadai.

    Keberhasilan pengendalian hipertensi akan menurunkan risiko terjadinya stroke, penyakit jantung dan gagal ginjal.

    Hipertensi yang dikendalikan akan mengurangi beban ekonomi dan sosial bagi keluarga, masyarakat dan pemerintah.

    Jadi bisa dikatakan mengurangi polusi udara akan menurunkan beban ekonomi dan sosial sebuah kota.

    Baca: Kondisi lingkungan besar pengaruhnya untuk penyembuhan pasien asma

     

  • AMSI, AJI dan IDA Desak Presiden Jokowi Kaji Ulang Perpres Publisher Rights

    AMSI, AJI dan IDA Desak Presiden Jokowi Kaji Ulang Perpres Publisher Rights

    7cloud.asia –  Tiga organisasi jurnalis meminta Presiden Joko Widodo mengkaji kembali naskah Rancangan Perpres tentang Tanggung Jawab Platform Digital untuk Jurnalisme yang Berkualitas atau yang lebih dikenal dengan Perpres Publisher Rights.

    Tiga organisasi yang meminta peninjauan kembali naskah Perpres Publisher Rights adalah Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), dan Indonesian Digital Association (IDA).

    Draft Perpres Publisher Rights tersebut telah disetorkan ke Sekretariat Negara untuk ditandatangani Presiden pada Senin 24 Juli 2023, atau sepekan setelah Budi Arie Setiadi dilantik menjadi Menteri Komunikasi dan Informatika. 

    Dilansir di laman resmi amsi.or.id Jumat (28/7/2023), beberapa poin dalam naskah rancangan Perpres Publisher Rights tersebut belum disepakati seluruh pemangku kepentingan di industri media.

    Baca: Koran tertua di dunia memutuskan berhenti cetak

    Ketua Umum AMSI Wenseslaus Manggut menegaskan bahwa substansi Perpres Publisher Rights tersebut seharusnya tidak lepas dari upaya memperbaiki ekosistem jurnalisme di Indonesia.

    “Tujuan kita semua adalah menciptakan bisnis media yang sehat dengan konten jurnalisme yang berkualitas,” katanya.

    Namun, Wens mengingatkan, platform digital juga perlu dilibatkan sebagai pemangku kepentingan ekosistem informasi di Indonesia.

    “Kebuntuan dalam pembahasan rancangan Perpres Publisher Rights harus dipecahkan dengan mencari win win solution,” katanya.

    Solusi yang sudah diterapkan di negara lain, misalnya “designation clause” yang ada dalam Media Bargaining Code di Australia, bisa diterapkan di Indonesia.

    Baca: National Geographic akan hentikan edisi cetak tahun depan

    Dengan pasal itu, terang Wens, hanya platform yang menolak berkontribusi secara signifikan pada upaya memperbaiki ekosistem media yang diwajibkan memenuhi ketentuan dalam peraturan.

    Sampai saat ini, draft terakhir Perpres Publisher Rights yang beredar, tidak memasukkan klausul tersebut.

    Ketua Umum AJI Indonesia Sasmito Madrim menegaskan pentingnya memastikan semua kompensasi dari platform untuk penerbit media benar-benar digunakan untuk membiayai produksi jurnalisme yang berkualitas.

    “Harus ada jaminan bahwa peraturan ini berdampak pada kesejahteraan jurnalis. Karena itu penting draft terakhir rancangan Perpres Publisher Rights dibuka ke publik untuk mendapat masukan dan hasil terbaik,” katanya.

    Sasmito juga menekankan, agar peraturan ini dapat diawasi dan ditegakkan oleh badan pelaksana atau komite yang independen dari kepentingan platform, industri media, maupun pemerintah.

    Baca: Kerja jurnalis penuh risiko tapi minim perlindungan

    Namun demikian, kewenangan badan pelaksana atau komite tersebut harus tunduk kepada Undang-Undang Pers dan tidak mengambil kewenangan dari Dewan Pers.

    Sementara Ketua Umum IDA Dian Gemiano mengungkapkan aspirasi organisasinya agar Perpres Publisher Rights ini tidak menjadi langkah mundur untuk industri media digital di Indonesia.

    IDA, ujar Dian, sangat mendukung regulasi untuk memastikan keberlanjutan jurnalisme berkualitas di Indonesia.

    “Namun dengan pertimbangan dinamika industri saat ini harus dilihat pula dengan bijak risiko-risiko yang dapat mendisrupsi keberlangsungan bisnis media jika seluruh pemangku kepentingan belum sepakat dengan rancangan regulasi yang ada,”  katanya.

    Baca: Tiga jenis pekerjaan ini belum akan tergusur oleh AI

    Ketua Umum IJTI Herik Kurniawan meminta agar Perpres Publisher Rights semata-mata untuk menciptakan rasa keadilan bagi seluruh penerbit media termasuk yang berskala menengah maupun kecil.

    Hal ini demi terciptanya ekosistem media digital yang sehat, berkualitas, profesional dan mensejahterakan para jurnalisnya.

    “Regulasi ini dibuat untuk memastikan media yang memproduksi dan melaksanakan kerja kerja jurnalistik yang berkualitas dapat terus tumbuh. Jangan sampai regulasi ini hanya menguntungkan pihak tertentu saja. Sementara banyak penerbit kecil, lokal, dan independen, yang juga harus terlindungi oleh adanya aturan semacam ini,” katanya.

    Google Indonesia merespon rencana penandatanganan Perpres Publisher Rights ini dengan sebuah siaran pers pada 25 Juli 2023 yang menegaskan rencana mereka untuk tak lagi menayangkan konten berita di platformnya.

    Aksi serupa pernah dilakukan Google di Australia dan Kanada. Di Australia, perusahaan teknologi itu akhirnya melunak setelah pemerintah setempat melakukan renegosiasi dengan tawaran win-win solution.

    Baca: Cara menangkal potensi kejahatan lewat AI

    Jika ancaman Google benar-benar dilaksanakan, maka platform mesin pencari Google dan situs agregator video Youtube, tidak akan lagi menayangkan konten yang berasal dari penerbit media di Indonesia.

    Selain kehilangan traffic pembaca, penerbit media juga berpotensi kehilangan miliaran rupiah pendapatan yang selama ini disalurkan oleh perusahaan teknologi raksasa tersebut.

    Publik juga bakal kehilangan akses pada informasi penting dan kredibel yang diproduksi redaksi media massa, di periode krusial menjelang Pemilihan Umum 2024.

    Desakan AMSI, AJI, IJTI dan IDA agar Presiden Joko Widodo mengkaji kembali isi Perpres Publishers Rights sesuai dengan prinsip global.

    Hal ini untuk membangun relasi yang lebih adil antara penerbit media dan korporasi teknologi yang dirumuskan di Johannesburg, Afrika Selatan, pada 14 Juli 2023 lalu.

    Baca: Ketika Sherina melakukan jurnalisme investigasi

    Didukung oleh 75 penerbit, jurnalis dan peneliti media dari 25 negara di dunia, prinsip ini menegaskan pentingnya setiap mekanisme yang mengatur hubungan platform digital dan perusahaan media tetap mengedepankan prinsip transparansi dan akuntabilitas.

    AMSI dan AJI merupakan dua organisasi dari Indonesia yang terlibat dalam perumusan prinsip global tersebut.

    Peraturan Publisher Rights diharapkan tidak hanya mengatur soal kompensasi untuk konten berita, tapi juga melindungi hak cipta dari penerbit media yang kini terancam oleh keberadaan mesin kecerdasan buatan (Generative AI).

    Keberadaan aturan yang bisa mengakomodasi kepentingan penerbit media dan platform digital di tengah berbagai perubahan teknologi saat ini adalah solusi ideal untuk memastikan ekosistem informasi digital lebih kredibel dan bermanfaat untuk publik.

  • Jokowi Tugaskan Tujuh Nama untuk Menangkan Ganjar Pranowo di Pilpres 2024

    Jokowi Tugaskan Tujuh Nama untuk Menangkan Ganjar Pranowo di Pilpres 2024

    7cloud.asia – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau PDIP menyebut ada tujuh nama yang ditugaskan Presiden Joko Widodo untuk memenangkan bakal calon presiden PDIP, Ganjar Pranowo, dalam Pemilihan Presiden atau Pilpres 2024.

    Ketujuh nama yang ditugaskan Jokowi untuk memenangkan Ganjar Pranowo yang diusung PDIP di Pilpres 2024  itu masih dirahasiakan.

    Yang jelas, PDIP terus menjalin komunikasi dengan ketujuh nama yang ditugaskan untuk memenangkan Ganjar Pranowo tersebut sebelum Pilpres 2024 digelar.

    Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto saat ditemui di sela-sela pelatihan juru kampanye pemenangan Ganjar Pranowo di iNews Tower, Kebon Sirih, Jakarta, Senin (17/7/2023), mengatakan bahwa strategi pemenangan Ganjar Pranowo sudah digodog sejak Juni lalu

    Baca: Panglima TNI sebut pencopotan baliho Ganjar Pranowo bukti sikap netral TNI

    Dilansir Kompas.com, Hasto mengatakan pada 22 Juni 2023 lalu dirinya menghadap Presiden Jokowi. Dalam pertemuan itu, dibahas mengenai strategi pemenangan Ganjar Pranowo

    ”Pak Presiden menyampaikan, harus ada grand strategy, baik di dalam komunikasi maupun di dalam membangun visi dari Ganjar Pranowo,” ujar Hasto.

    Hasto menyampaikan pesan Jokowi itu kepada 300 juru kampanye (jurkam) yang terdiri dari kader partai politik PDIP.

    Saat ditanya, apakah Andika dan Arsjad merupakan bagian dari ketujuh nama yang ditugaskan Jokowi untuk memenangkan Ganjar Pranowo, Hasto tidak menjawabnya dengan tegas.

    Baca: Enam nama dikaji untuk dampingi Ganjar Pranowo di Pilpres 2024

    Ia hanya menyiratkan bahwa PDIP memang terus berdiskusi dengan Andika dan Arsjad terkait upaya untuk memenangkan Ganjar Pranowo.

    PDIP, ujar Hasto, punya kekuatan di akar rumput, jika ditambah dengan pengalaman Andika di TNI, dan akar PPP yang punya basis Islam akan membuat Ganjar Pranowo semakin  bersinar di Pilpres 2024.

    “Jadi, dengan kolaborasi parpol pengusung Pak Ganjar Pranowo dan sukarelawan ini, diharapkan pergerakannya secara serentak, baik di udara maupun di darat untuk memenangkan Pak Ganjar,” tutur Hasto.

    Baca: Ganjar Pranowo ingin pendampingnya berjiwa muda

    Hasto yakin kekuatan politik yang terbangun antara PDIP – PPP dan mantan Panglima TNI ini  dapat menggenjot elektabilitas Ganjar Pranowo.

    Tak hanya itu, elektabilitas parpol pengusung dan pendukung Ganjar Pranowo di Pilpres 2024 juga diyakini dapat ikut terangkat.

    Sebelumnya, Ketua DPP PDIP Puan Maharani di sela-sela meninjau persiapan acara puncak Bulan Bung Karno di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, 22 Juni 2023, mengatakan, dirinya telah mendapatkan tugas untuk membentuk tim sukses pemenangan Ganjar Pranowo.

    Baca: Pilih pemimpin yang pro lingkungan di Pemilu 2024

    Puan Maharani mengaku, nama Andika masuk dalam kandidat ketua tim sukses pemenangan Ganjar Pranowo di Pilpres 2024. 

    ”Ya, saya yang ditugaskan untuk kemudian nantinya itu membentuk tim (tim sukses pemenangan Ganjar). Masuk (Andika) dalam list saya,” kata Puan.

    Sementara siapa yang akan mendampingi Ganjar Pranowo di Pilpres 2024 hingga kini juga masih tanda tanya. Hanya saja, Puan mengatakan enam nama masuk dalam radar PDIP untuk mendampingi Ganjar Pranowo, antara lain Mahfud MD, Sandiaga Uno, Erick Thohir, AHY  

    Baca: Ribuan pensiunan jenderal dukung Ganjar Pranowo di Pilpres 2024

  • Krisis Global Picu Resesi Seks, Banyak Perempuan Menunda Pernikahan

    Krisis Global Picu Resesi Seks, Banyak Perempuan Menunda Pernikahan

    7cloud.asia – Ketidakstabilan ekonomi global tidak hanya menciptakan ketakutan atas daya tahan negara dari krisis, tetapi juga berimplikasi pada mindset kolektif tentang seksualitas, makna pernikahan, dan memiliki keturunan. Termasuk resesi seks.

    Masalah bertumpuk-tumpuk terkait kesetaraan gender, ketimpangan ekonomi global dan pendidikan, dan masih kentalnya budaya patriarki telah menciptakan kekhawatiran bagi perempuan di banyak negara untuk membina rumah tangga dan memiliki anak. Kekhawatiran ini lalu mendorong makin meluasnya resesi seks.

    Resesi seks ini ditandai menurunnya aktivitas seks untuk tujuan reproduksi sebagai konsekuensi dari keputusan untuk tidak memiliki keturunan (childfree) dan menunda menikah (waithood).

    Gerakan waithood ini banyak dilakukan oleh generasi milenial, terutama kaum perempuan.

    Baca Juga: Dinilai Diskriminatif, Komnas Perempuan Desak MA Cabut SEMA tentang Perkawinan Beda Agama

    Di Indonesia, negara yang ditopang oleh kultur religius dan spirit kekeluargaan, tanda-tanda terjadinya fenomena reseksi seks mulai terlihat khususnya pada penurunan data pernikahan.

    Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), dalam 10 tahun terakhir, tren pernikahan di Indonesia terus menurun secara tajamAngka pernikahan nasional terendah tercatat pada 2022, yakni sebanyak 1,7 juta pernikahan, turun dari setahun sebelumnya yang 1,79 juta.

    Terakhir kali angka pernikahan ada di titik tertinggi adalah pada 2011, yaitu sebanyak 2,31 juta pernikahan.

    Data BPS juga menunjukkan bahwa persentase pemuda (baik laki-laki maupun perempuan) yang belum menikah di Indonesia, per 2022, mencapai 64,56% dari total 65,82 juta pemuda (atau 24% dari total populasi) secara nasional. Angka ini naik 3,47% dibandingkan setahun sebelumnya yang sebesar 61,09%.

    Baca Juga: Perang Gender: Mengapa Perempuan Korea Menolak Menikah?

    Hanya ada 34,33% pemuda yang sudah menikah di negeri ini pada 2022, menurun 3,36% dari tahun 2021 yang 37,69%. Mayoritas atau 76,68% pemuda yang belum menikah berasal dari Jakarta.

    Salah satu penyebab penurunan ini, menurut BPS, adalah adanya pergeseran persepsi para kaum muda tentang pernikahan dan korelasinya dengan kualitas hidup, terutama terkait pendidikan dan status ekonomi.

    Sementara itu, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengungkap bahwa usia perempuan menikah cenderung semakin delay alias mundur. Rata-rata usia perempuan menikah sekarang 22 tahun atau lebih.

    Padahal tahun-tahun sebelumnya, terutama sebelum tahun 2020, lebih banyak yang menikah sebelum usia 22 tahun.

    BKKBN juga mendata bahwa rata-rata perempuan hanya praktis melahirkan satu anak perempuan. Artinya, satu perempuan meninggal digantikan satu perempuan lahir. Ini nantinya membuat sustainability kualitas hidup akan lebih terjaga.

    Studi literatur saya menemukan bahwa perempuan Indonesia mulai menunda untuk menikah pada usia matang. Ini sebagian besar dapat dimaknai bahwa hasrat seks dan memproduksi keturunan dengan seorang laki-laki dalam rumah tangga bagi perempuan mulai bergeser.

    Baca Juga: Jumlah Penduduk Jepang Terus Turun dan Makin Tua, Peran Tenaga Kerja Asing Kian Penting

    Setidaknya ada empat alasan utama perempuan milenial memilih menunda menikah.

    1. Identitas digital masyarakat

    Pengaruh digitalisasi di Indonesia pada kehidupan masyarakat telah memberi ruang publik bagi perempuan untuk mengekspresikan diri.

    Wacana kebebasan perempuan untuk memilih antara peran domestik, kosmopolitan atau menjalani keduanya, sekaligus mendobrak stereotip perempuan yang kerap dicap ‘kaum terbungkam’.

    Pengetahuan yang dimiliki oleh perempuan membuat pola pikir mereka menjadi lebih luas dan terbuka dalam memaknai hidup dan membentuk ‘kuasa’ atas kontrol dirinya sendiri.

    Ini menjadikan mereka lebih mandiri dan terbuka berbagai dengan pilihan hidup, termasuk menunda menikah.

    Media digital juga berkontribusi memproduksi berbagai macam ideologi melalui gerakan aktivisme yang dapat memengaruhi cara pandang individu terhadap makna kebahagiaan, termasuk soal menikah.

    Di kanal-kanal media sosial, seperti Instagram misalnya, mudah ditemukan akun–akun aktivisme gerakan sosial yang lantang menyuarakan isu kesetaraan gender, seperti @indonesiafeminisme, @lawanpatriarki, dan @perempuanbergerak.

    Generasi digital ini sangat berkaitan erat dengan fenomena waithood. Mereka lebih lantang mengemukakan identitas diri, dianggap memiliki wawasan yang luas, menyukai kebebasan dan ingin memiliki kontrol atas dirinya.

    Baca Juga: Pemerintahan Taliban Tutup Ratusan Salon di Afghanistan

    2. Beban sebagai sandwich generation

    Suatu studi menyebutkan bahwa faktor ekonomi menjadi penyebab paling masuk akal berkembangnya fenomena waithood. Sebab, kondisi ekonomi global yang terus merosot telah memicu kekhawatiran terhadap kesenjangan kondisi keuangan seseorang ketika sudah menikah.

    Apalagi jika posisi perempuan dalam keluarga adalah sebagai tulang punggung finansial. Pada banyak kasus, perempuan memiliki beban tanggung jawab atas masa depan adik–adiknya, termasuk untuk membayar tagihan sekolah dan keperluan rumah tangga. Situasi ini disebut sandwich generation.

    Ini membuat tidak sedikit perempuan yang melupakan sejenak prioritas untuk menikah. Selain keinginan untuk membahagiakan keluarga dulu, status sebagai generasi sandwich membuat mereka khawatir akan kehidupan finansial mereka jika menikah.

    Hasil kajian demografis tentang generasi sandwich di Indonesia menemukan bahwa 6,42% dari 7.009 rumah tangga yang diteliti termasuk ke dalam generasi sandwich, sekitar 10,9-11,3% merupakan perempuan bekerja. 

    Beberapa studi mengungkapkan bahwa status sebagai generasi sandwich, terutama bagi perempuan, memberikan dampak negatif terhadap kondisi pernikahan.

    Baca Juga: Penurunan Kemiskinan Ekstrem Jadi Poin Evaluasi Kepala Daerah, Seperti Ini Hasilnya

    3. Berpendidikan dan bekerja: bentuk kontrol diri perempuan

    Indonesia dapat dikatakan berhasil dalam mencapai kesetaraan gender selama satu dekade terakhir meskipun tidak sepenuhnya membebaskan perempuan pada belenggu patriarki.

    Ini terlihat dari meningkatnya literasi, angka partisipasi sekolah, dan keterlibatan perempuan di dunia kerja.

    Bahkan dari bidang pendidikan, perempuan Indonesia telah mampu menyaingi laki–laki. Laporan BPS tahun 2021 menunjukkan persentase data pendidikan yang signifikan antara perempuan dan laki–laki: perempuan berusia 15 tahun ke atas yang memiliki ijazah perguruan tinggi lebih banyak ketimbang laki–laki.

    Ada sekitar 10,06% perempuan yang menamatkan perguruan tinggi, menyalip jumlah laki-laki yang sebanyak 9,28%.

    Terbukanya akses pendidikan bagi perempuan membuat mereka bisa meraih status sosial dan ekonomi yang mampu memberikan kuasa atas hidupnya.

    Orientasi perempuan pada pendidikan tak jarang membuat mereka menganggap pernikahan bukan prioritas hidup, sehingga mereka berani memutuskan untuk menunda atau tidak nikah.

    Studi menunjukkan bahwa melanjutkan karier merupakan salah satu alasan perempuan untuk menunda menikah. Ini karena perempuan merasa lebih leluasa dalam mengejar karier tanpa ada beban dan tanggung jawab dalam ikatan pernikahan.

    Selain itu, menunda menikah dan lebih memilih meniti karier bisa termasuk dalam upaya perempuan dalam menyiapkan kesiapan sosial ekonomi mereka sebelum memasuki pernikahan nantinya.

    Dunia pekerjaan dan pendidikan telah mendorong perempuan untuk menemukan identitas dirinya dan mengaktualisasi serta mengekspresikan diri mereka. Perempuan yang berpendidikan tinggi dan mapan secara ekonomi membuat mereka lebih mampu memutuskan pilihan hidupnya.

    Baca Juga: Mengenal Kota Salatiga, Salah Satu Kota Terindah dan Tertua di Indonesia

    4. Trauma masa lalu, KDRT dan perceraian

    Studi menunjukkan bahwa kekecewaan terhadap suatu hubungan pernikahan juga bisa menjadi alasan perempuan dewasa menunda menikah. Misalnya, mereka lahir dan besar dari keluarga yang tidak harmonis atau lingkungan sosial yang hanya memperlihatkan sisi buruk pernikahan.

    Situasi tersebut juga berkaitan erat dengan kekerasan berbasis gender, yang termasuk kekerasan verbal dan fisik, yang kerap terjadi dalam keluarga.

    Menurut teori feminisme, lembaga pernikahan seringkali menjadi tempat bersarangnya kasus–kasus kekerasan pada perempuan.

    Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan mencatat bahwa selama 2021, ada sebanyak 459.094 kasus kekerasan terhadap perempuan dan 73% (335.399 kasus) di antaranya adalah kekerasan ranah personal. Mayoritas kasus masuk kategori kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

    Selain KDRT, kasus perceraian juga mendorong kekhawatiran perempuan untuk menikah. BPS mencatat pada 2022 terjadi lonjakan angka perceraian, yakni mencapai 516.334 kasus. Ini merupakan angka tertinggi dalam lima tahun terakhir. Pada 2017, jumlah perceraian masih di angka 374.516.

    Waithood oleh kaum perempuan dapat dikatakan sebagai imbas dari banyaknya kasus KDRT dan perceraian tersebut. Posisi perempuan lebih rentan menjadi korban kekerasan dibandingkan laki-laki menambah sisi gelap dari sebuah pernikahan.

    Perempuan yang memilih menunda, bahkan tidak mau sama sekali menikah, biasanya memiliki krisis kepercayaan terhadap lembaga pernikahan.

    Banyak pakar feminisme yang memandang bahwa lembaga pernikahan cenderung melanggengkan budaya patriarki. Ini karena perempuan selalu disudutkan perihal standar usia ideal menikah dan kesehatan reproduksinya (terkait kemampuannya melahirkan keturunan).

    Semakin banyak juga perempuan yang menganggap bahwa menikah adalah menerjunkan diri ke dalam masalah karena mereka harus menyerahkan diri pada laki-laki. Hal itu akan menghambat mereka dalam mengembangkan diri.

    Baca Juga: Teknologi Pengelolaan Sampah Masaro, Mengubah 1 Kilogram Sampah Jadi Senilai 1 Gram Emas

    Pada akhirnya, maraknya fenomena waithood oleh perempuan saat ini tak hanya didorong dari tuntutan perempuan untuk mendapatkan hak yang setara dengan laki–laki.

    Ada juga dorongan sosial dan praktik–praktik budaya maskulin yang selalu menjadikan perempuan sebagai “korban”.

    Fenomena waithood tidak hanya menunjukkan terjadinya transformasi sosial yang kian berkembang pada masyarakat, tetapi juga sebagai bentuk perjuangan perempuan melawan kuatnya budaya patriarki.

    Dengan memilih untuk menunda menikah, banyak perempuan yang merasa dapat lebih mengembangkan kualitas dirinya dan menyiapkan kemandirian diri secara emosional dan finansial.

    Kesiapan emosional dan finansial perempuan akan dapat membantu mereka lebih mudah untuk melawan kekerasan berbasis gender di dalam lembaga pernikahan dan masyarakat.

    Artikel ini sudah tayang di The Conversation, Penulis: , Dosen Sosiologi Islam, Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon

  • Mengenal Abdoel Moeis Penulis Salah Asuhan yang Kelahirannya Dijadikan Hari Sastra Indonesia

    Mengenal Abdoel Moeis Penulis Salah Asuhan yang Kelahirannya Dijadikan Hari Sastra Indonesia

    Abdoel Moeis penulis Salah Asuhan

    7cloud.asia – Hari Sastra Indonesia yang diperingati setiap tanggal 3 Juli didasarkan pada hari kelahiran sastrawan Abdoel Moeis pada tahun 1883. 

    Salah satu karya sastra fenomenal Abdoel Moeis adalah novel  Salah Asuhan yang memotret gegar budaya di masa penjajahan Belanda.

    Abdoel Moeis dikenal sebagai sastrawan, wartawan dan tokoh pergerakan juga menjadi orang pertama yang dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional oleh Presiden Soekarno pada 30 Agustus 1959.

    Abdoel Moeis yang merupakan Pputra Minang ini menghembuskan napas terakhir di Bandung pada 17 Juni 1959, jauh dari tempat kelahirannya di Bukittinggi, Sumatra Barat.

    Baca Juga: Membaca Pemikiran Kartini Lewat Habis Gelap Terbitlah Terang

    Kiprah Abdoel Moeis sebagai tokoh pergerakan membuat pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan larangan keluar dari pulau Jawa.

    Dikutip dari buku “Pahlawan-Pahlawan Indonesia Sepanjang Masa” dari Didi Junaedi, Abdoel Moeis diasingkan oleh pemerintah Belanda ke Garut, Jawa Barat.

     

    Kota itu sekaligus jadi tempat Abdoel Moeis menyelesaikan novel “Salah Asuhan, salah satu karyanya yang ternama.

    Baca Juga: Selain Petualangan Sherina, Berikut Daftar Film Berkualitas Produksi Miles Films

    Salah Asuhan terbit dalam bahasa Melayu pada 1928 di bawah penerbit Balai Pustaka. “Salah Asuhan” juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul “Never the Twain” oleh Yayasan Lontar pada 2010.

    “Pemahaman Salah Asuhan” keluaran Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 1985 mendeskripsikan “Salah Asuhan” sebagai novel yang membahas pembauran serta benturan antara kebudayaan Timur dan Barat.

    “Salah Asuhan” bercerita tentang Hanafi, pemuda Minangkabau yang berada di tengah pendidikan dan lingkungan yang menganut nilai-nilai dan sikap hidup orientasi Barat.

    Baca Juga: Film dan Festival Film Jadi Media Kampanye Perubahan Iklim

    Pendidikan Barat yang salah membuat dia tak bisa membaur dengan bangsanya, tapi tidak pula diterima oleh kaum Barat.

    Hanafi dianggap salah asuhan karena kebarat-baratan. Hanafi dinikahkan dengan Rapiah, namun bercerai karena memilih untuk menjalin kasih dengan Corrie du Busse, seorang gadis Indo-Prancis.

    Kehidupan rumah tangga Hanafi dan Corrie tidak harmonis dan Hanafi hidup dalam penyesalan.

    Baca Juga: Cara Pemkab Boyolali Tingkatkan Literasi Jadi Best Practice Nasional

    Versi salah Asuhan yang diterbitkan berbeda dari naskah aslinya. Novelnya bisa terbit setelah ditulis ulang dengan karakter Eropa yang memberi kesan positif.

    Dalam “Di Balik Tirai Salah Asuhan” dari Syafi Radjo Batuah, karakter Corrie dalam novel yang diterbitkan dan dalam naskah aslinya sangat berbeda.

    Pada naskah asli, Corrie adalah gadis pesolek yang menyukai pergaulan bebas. Lewat bujukan Tante Lien, mak comblang, ia bergaul intim dengan pemain orkes keroncong, menjual diri kepada seorang Arab kaya raya, hingga kapten kapal. Ini jadi salah satu penyebabnya bercerai dengan Hanafi.

    Baca Juga: Mengenal Sosok Ulama Buya Hamka lewat Film

    Corrie terjerumus ke dalam dunia pelacur dan mati ditembak seorang langganannya.

    Naskah ini ditolak, karakter Corrie ditulis ulang sebagai perempuan yang tidak tergoda bujukan Tante Lien, meski dia tetap dituduh selingkuh oleh Hanafi. Corrie digambarkan sebagai korban fitnah, dia kemudian meninggal akibat kolera.

    “Salah Asuhan” kemudian diadaptasi menjadi film oleh sutradara Asrul Sani dengan bintang Dicky Zulkarnaen sebagai Hanafi, Rima Melati sebagai Rapiah dan Ruth Pelupessy –pemeran Darminah dalam film horor “Pengabdi Setan”- sebagai Corrie du Bussee.

    Baca Juga: Marsinah, Simbol Abadi Perjuangan Buruh Perempuan Indonesia

    Film yang dirilis pada 1972 ini diubah latar belakangnya menjadi 1970-an. Salah Asuhan juga hadir di layar kaca dalam sinetron berjudul sama arahan Azhar Kinoy Lubis. Sinetron “Salah Asuhan” yang dibintangi oleh Dimas Aditya ini tayang pada akhir 2017.

     

     

     

     

     

     

  • Pendatang dan WNA di Bali Ikut Nikmati LPG 3 Kilogram Bersubsidi

    Pendatang dan WNA di Bali Ikut Nikmati LPG 3 Kilogram Bersubsidi

    7cloud.asia – Sidak anggota DPR menemukan ada pendatang dari luar Bali dan Warga Negara Asing (WNA) ikut menikmati subsidi LPG 3 kilogram (Kg) bersubsidi.

    Padahal, seharusnya LPG 3 kilogram bersubsidi hanya untuk waega kurang mampu di masing-masing daerah.

    Sehingga sehingga pendatang, apalagi WNA tidak masuk dalam hitungan kuota yang berhak menggunakan LPG 3 kilogram bersubsidi di Bali.

    “Ternyata mereka juga memanfaatkan (LPG 3 Kilogram) dan saya lihat di lapangan mereka juga nenteng (membawa) gas,” ungkap Anggota Komisi VI DPR RI I Nyoman Parta mengungkapkan Parta saat peninjauan pangkalan bersama Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati di Denpasar, Minggu (30/7/2023).

    Baca: DPR ingatkan LPG 3 kilogram bersubsidi hanya untuk warga tidak mampu

    Parta meminta ketegasan Pertamina untuk menegakkan siapa yang berhak dan siapa yang tidak berhak atas LPG 3 kilogram bersubsidi,”

    Dalam keterangan yang dilansir Parlementaria, Parta menyebut banyak WNA yang memiliki rumah, vila, hingga pondok sendiri di Bali. Selain itu, banyak juga pendatang dari luar Bali yang mencari nafkah di Pulau Dewata dengan cara berjualan makanan hingga UMKM.

     “Mereka tidak ber-KTP Bali, tapi menggunakan LPG 3 kilogram di Bali. Itukan jumlahnya sangat banyak. Jadi, banyak yang tidak berhak terhadap LPG 3 kilogram bersubsidi, tapi menggunakan LPG subsidi,” terang Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini.

    Baca:  Pertamina luncurkan Pertamax 95 tetes tebu

    Namun, Parta tak merinci lokasi temuan pendatang dari luar Bali dan WNA yang memanfaatkan LPG 3 Kg tersebut.

    Di sisi lain, ia memastikan stok LPG 3 kilogram bersubsidi di tingkat agen dan pangkalan di sejumlah wilayah di Bali bisa dikatakan aman.

    “Sesungguhnya kuota ada, tapi pengambilannya yang tidak tertib karena ada persoalan kekhawatiran akan tidak adanya gas. Intinya (warga) jangan panik dan jangan mengambil lebih,” tegasnya.

    Baca: Dunia sedang kembangkan energi hidrogen ini plus minusnya

    Parta mengingatkan bagi masyarakat yang berpenghasilan cukup, misalnya PNS dan profesi lainnya agar dapat menggunakan LPG 12 Kg.

    “Restoran dan hotel di Bali juga gunakanlah (LPG) yang ukuran 12 Kg dan 50 Kg. Jangan membeli gas oplosan,” imbaunya.

    Untuk diketahui, hingga kini ada 108 ribuan masyarakat Bali mendaftar untuk berhak mendapatkan LPG 3 kilogram.

    Baca: Indonesia mulai serius jajaki pengembangan energi hidrogen

    Seperti diketahui saat ini terjadi kelangkaan LPG 3 kilogram bersubsidi di berbagai daerah, seperti  Balikpapan, Makasar, Bali, Banyuwangi, Sumbar, Jawa Timur, Kalimantan Tengah.

    Untuk mengatasi kelangkaan LPG 3 kilogram ini pemerintah meluncurkan produk LPG 3 kilogram non subsidi bermerek Bright dengan harga yang lebih mahal.

    Namun langkah pemerintah ini menuai kritisk dari DPR, apalagi harga LPG dunia sedang turun dalam dua tahun ini.

    Baca: Plus minus penggunaan biodiesel berbahan sawit

  • Susi Pudjiastuti dan Aurellie Moeremans Ikut Ramaikan Pawai Bebas Plastik 2023

    Susi Pudjiastuti dan Aurellie Moeremans Ikut Ramaikan Pawai Bebas Plastik 2023

    7cloud.asia – Mantan Menteri KKP Susi Pudjiastuti dan aktris Aurellie Moeremans mengikuti Pawai Bebas Plastik 2023 yang dihelat sejumlah organisasi lingkungan pada Minggu (30/7/2023) pagi.

    Pawai Bebas Plastik 2023 ini merupakan kali kelima diselenggarakan dan bertujuan untuk mengurangi sampah plastik dengan melarang penggunaan plastik sekali pakai.

    Di pawai bebas plastik 2023 ini, Susi Pudjiastuti membawa poster bertuliskan “tolak sekali pakai” yang dibuat dari kardus bekas.  

    Baca Juga: Digelar pada Minggu 30 Juli, Pawai Bebas Plastik 2023 Usung Tiga Tuntutan Tuk Atasi Polusi Plastik

    Pawai Bebas Plastik 2023 yang diikuti berbagai organisasi dan komunitas itu mengusung tiga tuntutan utama yakni:

    Pertama, Pawai Bebas Plastik menyerukan pemerintah untuk mengambil langkah-langkah tegas dalam melarang penggunaan plastik sekali pakai.

    Larangan ini bertujuan untuk mengurangi konsumsi plastik sekali pakai yang berkontribusi pada peningkatan volume sampah plastik.

    Dengan melarang penggunaan plastik sekali pakai, diharapkan masyarakat akan beralih ke alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

    Baca Juga: 5 Perusahaan Penghasil Sampah Plastik Terbesar Ini Mulai Memikirkan Daur Ulang

    Pawai Bebas Plastik juga menyerukan pemerintah untuk memperbaiki sistem tata kelola sampah yang ada.

    Ini mencakup langkah-langkah seperti peningkatan infrastruktur pengelolaan sampah plastik, pengembangan program daur ulang yang efektif, peningkatan ketersediaan tempat pembuangan sampah yang sesuai.

    Pawai Bebas Plastik 2023 juga meminta pemerintah untuk meningkatkan edukasi masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah yang baik, terutam auntuk sampah plastik yang sangat merusak lingkungan.

    Dengan sistem tata kelola sampah yang lebih baik, diharapkan sampah, termasuk sampah plastik, dapat ditangani secara lebih efisien dan berkelanjutan.

    Baca Juga: Menutup Bulan Juli, Koalisi Pawai Bebas Plastik Desak Transparansi Pengelolaan Sampah Plastik

    Terakhir, Pawai Bebas Plastik mendorong produsen dan pelaku usaha untuk bertanggung jawab atas sampah plastik pasca konsumsi.

    Salah satu aspek penting dalam penanganan sampah plastik adalah tanggung jawab produsen terhadap sampah yang dihasilkan oleh produk dan kemasannya.

    Pawai Bebas Plastik mendorong produsen dan pelaku usaha untuk bertanggung jawab secara penuh atas sampah pasca konsumsi.

    Ini melibatkan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, penggunaan kemasan yang ramah lingkungan, dan pelaksanaan program tanggung jawab produsen, seperti daur ulang atau pengelolaan sampah produk mereka.

    Baca Juga: Yuk! Kenali Jenis Sampah Plastik dan Nilai Ekonominya

    Dengan melibatkan produsen dalam tanggung jawab penuh atas sampah yang dihasilkan, diharapkan dapat tercipta siklus produksi yang lebih berkelanjutan dan mengurangi dampak negatif sampah plastik terhadap lingkungan.

    Dengan menyerukan tiga tuntutan ini, Pawai Bebas Plastik berharap dapat mendorong perubahan kebijakan, kesadaran masyarakat, dan tanggung jawab produsen dalam menghadapi masalah sampah plastik.

    “Semua pihak, termasuk pemerintah, produsen, dan masyarakat, harus bekerja sama untuk mencapai pengurangan dan penanganan sampah plastik,” demikian seruan koalisi pawai bebas plastik.

    Baca Juga: Perjalanan Pawai Bebas Plastik dari 2019-2023 dan Capaiannya

     

  • Kurangi Sampah Plastik, AZWI Rekomendasikan Larangan terhadap 5 Jenis Plastik Sekali Pakai

    Kurangi Sampah Plastik, AZWI Rekomendasikan Larangan terhadap 5 Jenis Plastik Sekali Pakai

    7cloud.asia – Sampah plastik telah menimbulkan masalah serius bagi lingkungan. Dan, sebuah penelitian mengungkap, Indonesia merupakan salah satu produsen sampah plastik terbesar di dunia.

    Indonesia berada di peringkat kedua sebagai produsen sampah plastik yang dibuang ke laut dengan menghasilkan 1,3 juta ton per tahun (Jambeck, 2015).

    Tingginya sampah plastik ini sebagian besar dihasilkan dari penggunaan plastik sekali pakai. Sampah plastik dari plastik sekali pakai sangat problematik bagi lingkungan, karena hanya sekali digunakan lantas menjaid sampah yang butuh ratusan tahun untuk dapat terurai.

    Baca: Pawai Bebas Plastik usung tiga tuntutan tuk kurangi sampah plastik

    Meski demikian plastik sekali pakai masih sering dan banyak digunakan oleh masyarakat dengan alasan murah dan praktis.

    Mengingat ancaman besar yang ditimbulkan sampah plastik yang dipicu plastik sekali pakai pada lingkungan, sejumlah organisasi lingkungan yang tergabung dalam Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) sejak beberapa waktu lalu gencar mengampanyekan “Ban the Big 5”

    AZWI menyerukan pelarangan penggunaan 5 produk plastik sekali pakai terbesar diantaranya styrofoam, plastik sekali pakai, sedotan plastik, kemasan sachet, dan microbeads.

    Kemasan plastik, dan plastik multi-bahan sekali pakai lainnya seperti popok, juga merupakan sumber utama sampah plastik.

     

    Baca: 5 Perusahaan penghasil sampah plastik terbesar di dunia

    Untuk itu AZWI yang antara lain beranggotakan GIDKP, Komunitas Nol Sampah, PPLH Bali, Greenpeace Indonesia, ECOTON, Nexus3, ICEL, dan YPBB menargetkan perusahaan Fast Moving Consumer Goods (FMCG) untuk mengatasi masalah sampah plastik ini.

    Perusahaan harus ikut bertanggung jawab yang lebih besar atas limbah mereka, mendesain ulang kemasan, dan memikirkan kembali metode alternatif untuk penjualan produk dalam kemasan bulk.

    Dilansir di aliansizerowaste.id, AZWI menyebut pada Tahun 2019 pihaknya memberikan dukungan pengarahan kepada Provinsi Bali di Mahkamah Agung Republik Indonesia dalam kasus judisial review antara Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) dengan Gubernur Bali.

    Baca: Kurangi sampah plastik dengan sistem isi ulang dari siklus

    Mahkamah Agung menegaskan bahwa pemerintah daerah memiliki kewenangan untuk melarang plastik sekali pakai melalui Putusan MK Nomor 29 P / HUM / 2019.

    Ini memberikan yurisprudensi penting sebagai amunisi hukum bagi advokasi kebijakan soal larangan plastik sekali pakai ke kota/kabupaten lainnya.

    Upaya menghindari plastik sekali pakai ini adalah langkah konkret pengurangan sampah plastik sesuai UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, yang dilakukan dengan cara melarang, dan/atau membatasi produksinya, distribusinya, penjualannya, dan/atau pemakaiannya.

    Baca: Kampanye guna ulang untuk kurangi sampah plastik

    Saat ini kantong plastik sekali pakai menjadi salah satu penyumbang terbanyak sampah di Indonesia. Pada tahun 2019 sekitar 9.52 juta ton sampah plastik telah dihasilkan.

    Sekitar 10.95 juta lembar sampah kantong plastik setiap tahun ‘hanya’ berasal dari 100 toko anggota APRINDO (Asosiasi Pedagang Ritel Indonesia). 

    Salah satu penanganan sampah plastik sekali pakai adalah melalui penerapan peraturan pemerintah daerah untuk membatasi penggunaan plastik sekali pakai.

    Saat ini sudah ada puluhan kota/kabupaten/provinsi yang menerapkan peraturan ini diantaranya yakni Provinsi DKI Jakarta, Kota Semarang, Kota Balikpapan, Kota Bekasi, Kota Bogor, Provinsi Bali, dan Kota Banjarmasin. 

    Baca: Yuk kenali jenis sampah plastik dan nilai ekonominya