Polusi Udara Berpotensi Memicu Timbulnya Hipertensi, Seperti Ini Penjelasannya

Written by

in

7cloud.asia – Beberapa waktu lalu Index Quality Air atau IQAir menyebut Jakarta sebagai kota terpolusi di dunia. Dalam catata IQAir, polusi udara di Jakarta sudah mengkhawatirkan dengan nilai indeks 168 atau masuk kategori tidak sehat.

Polusi udara memiliki dampak bagi kesehatan diantaranya adalah gangguan saluran pernafasan, penyakit jantung, kanker berbagai organ tubuh, gangguan reproduksi dan tekanan darah tinggi atau hipertensi.

Beberapa jenis gas yang sering memicu polusi udara adalah Karbon Monoksida (CO), Nitrogen Oksida (NO2), Sulfur Oksida (SOx), Photochemical Oksida dan Partikel.

Sejumlah penelitian mengungkap, polusi udara dapat memicu tekanan darah tinggi atau hipertensi. 

Baca: IQAir peringatkan tingginya polusi udara di Jakarta

Dilansir https://p2ptm.kemkes.go.id/, penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal European Heart Journalini menemukan bahwa orang dewasa yang tinggal di area dengan tingkat polusi udara tinggi lebih rentan alami hipertensi dibandingkan mereka yang tinggal di daerah minim polusi.

Risiko yang dipicu polusi udara ini setara dengan efek obesitas dengan indeks massa tubuh antara 25-30 terhadap risiko munculnya hipertensi

“Penemuan kami menunjukkan bahwa paparan partikel polusi udara dalam jangka panjang terkait dengan tingginya kasus hipertensi dan asupan obat anti hipertensi,” ujar Barbara Hoffman, Profesor Epidemiologi Lingkungan Centre for Health and Society di Heinrich-Heine-University of Dusseldorf, Jerman.

Baca: 8 Tanaman ini efektif kurangi polusi udara

Dilansir di Hypertension Jurnal, hipertensi adalah kondisi yang erat kaitannya dengan penyakit katastropik seperti penyakit kardiovaskuler, stroke, gagal ginjal, diabetes, dan gangguan penglihatan.

Pemicu hipertensi sebagian besar disebut karena gaya hidup yang tak sehat terutama dari makanan dan bisa juga polusi udara.

Dari paparan di atas, dr. Sri Aryanti, MM., M.Kes, mahasiswa S3 Doktoral Ilmu Lingkungan Universitas Lampung /Kepala Seksi Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan Provinsi Lampung menyimpulkan terpapar polusi udara dalam jangka panjang terkait dengan peningkatan risiko hipertensi.

“Orang dewasa  yang tinggal di area dengan tingkat polusi tinggi lebih rentan terkena tekanan darah tinggi dibandingkan mereka yang tinggal di daerah dengan polusi minim,” papar Sri Aryati.

Baca: WHO sebut polusi udara picu 7 juta kematian dini per tahun

Ia menambahkan, tiap penambahan lima mikrogram per meter kubik (5 μg/m3) PM 2,5 risiko hipertensi meningkat hingga 22 persen pada orang yang tinggal di area tinggi polusi dibandingkan dengan yang tinggal di area minim polusi.

Paparan jangka pendek terhadap gas buang sulfur dioksida dan partikulat seperti debu berhubungan pada risiko tekanan darah tinggi.

Sementara untuk jangka panjang, polutan nitrogen dioksida dari kendaraan yang dikaitkan dengan risiko tekanan darah tinggi.

Perempuan yang sering terpapar tingkat polusi udara tinggi, lebih berisiko menderita hipertensi ketimbang laki-laki.

Baca: Polusi dan perubahan iklim picu infertilitas pada laki-laki

Prevalensi hipertensi meningkat di seluruh dunia, demikian juga di Indonesia yang merupakan negara berkembang.

Hipertensi masih merupakan tantangan besar dan masalah utama kesehatan yang sering ditemukan pada pelayanan Primer Kesehatan.

Hasil Riset Kesehatan (Riskesdas 2013) menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi sekitar 26,5%. Berarti sekitar 3 dari 10 orang Indonesia menderita hipertensi.

Gejala hipertensi sendiri sering tidak jelas dan tidak diketahui pasiennya, sehingga sering ditemukan dan terdiagnosa pada stadium lanjut.

Baca: Sukses terapkan konsep TOD, warga Bogota dilaporkan makin sehat

Padahal hipertensi yang tidak tertangani dengan baik merupakan faktor risiko utama terjadinya kerusakan organ ginjal, jantung dan otak bila tidak terdeteksi lebih dini dan mendapat obat yang memadai.

Keberhasilan pengendalian hipertensi akan menurunkan risiko terjadinya stroke, penyakit jantung dan gagal ginjal.

Hipertensi yang dikendalikan akan mengurangi beban ekonomi dan sosial bagi keluarga, masyarakat dan pemerintah.

Jadi bisa dikatakan mengurangi polusi udara akan menurunkan beban ekonomi dan sosial sebuah kota.

Baca: Kondisi lingkungan besar pengaruhnya untuk penyembuhan pasien asma

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *