Category: Uncategorized

  • Memahami Fenomena Parasosial: Ketika Penggemar Sangat Larut dalam Kehidupan Idolanya

    Memahami Fenomena Parasosial: Ketika Penggemar Sangat Larut dalam Kehidupan Idolanya

    7cloud.asia – Menggunakan pendekatan psikologi sosial untuk menyelidiki hubungan orang biasa dengan selebriti dan karakter fiksi, Bradley Bond seorang peliti psikologi media dari Universitas San Diego (AS), menyebut bahwa respons penggemar pada pernikahan Taylor Swift sebagai bagian dari parasosial.

    Parasosial adalah ikatan emosional satu arah di mana seseorang (seperti penggemar) merasa sangat dekat dan mengenal tokoh publik, influencer, atau karakter fiksi layaknya teman dekat, padahal figur tersebut tidak menyadari keberadaan mereka.

    Fenomena ini sering kali didorong oleh konsumsi media yang intens, terutama di era digital seperti saat ini

    Dilansir ScienceAlert.com, Bond menilai fenomena parasosial ini sangat normal. Bahkan mungkin bermanfaat. 

    Ia mengatakan, penelitian menunjukkan bahwa manusia memiliki respons emosional yang serupa terhadap tokoh media seperti halnya terhadap orang yang kita kenal secara pribadi, meskipun biasanya kurang intens.

    “Pada dasarnya, pikiran kita memproses kepribadian secara serupa terlepas dari apakah kita memproses orang yang berdiri di depan kita atau di layar,” jelas Bond.

    Baca: Mengapa Perkawinan Taylor Swift Terasa Begitu “Personal” Bagi Penggemarnya

    Lindsey Conlin Maxwell, seorang psikolog di Universitas Southern Mississippi (dan mengaku sebagai Swiftie), mengungkapkan hal yang sama dengan Bond.

    Ia mengatakan kepada ScienceAlert bahwa hubungan parasosial yang kuat “pasti dapat menjelaskan” mengapa Swifties secara emosional terlibat dalam pernikahan yang akan datang.

    “Kami telah menghabiskan 20 tahun terakhir mendengarkan musiknya dan membangun hubungan ini dengannya, jadi meskipun itu adalah hubungan satu arah di mana dia tidak mengenal kami secara individual, kami sebagai Swifties merasa seperti mengenalnya dan seperti telah melalui pasang surut emosional bersamanya,” kata Maxwell.

    “Jadi, pernikahan itu tidak berbeda; kami merasa terlibat.”

    Maxwell berpikir bahwa sebagian alasan mengapa penggemar merasa begitu dekat dengan Swift adalah kekuatan musik, yang dapat membangkitkan emosi yang kuat dan membantu orang merasa terhubung dengan orang lain.

    “Meskipun sebagian besar penggemarnya belum pernah bertemu dengannya secara pribadi, ikatan parasosial yang kami miliki melalui musik membuatnya terasa nyata,” katanya.

    Baca: Fandom Memegang Peran Penting untuk Ketenaran Taylor Swift

    Namun, perlu ditegaskan bahwa ini tidak berarti kecintaan seorang Swiftie pada Taylor sama dengan perasaan mereka pada teman atau anggota keluarga sungguhan.

    “Penggemar rata-rata, bahkan mereka yang memiliki hubungan parasosial yang kuat dan banyak berinvestasi dalam musik Taylor Swift, dapat menyadari bahwa itu adalah hidupnya dan pencapaiannya, bukan milik kita,” kata Maxwell.

    “Konotasi negatifnya adalah bahwa orang-orang dengan hubungan parasosial dianggap terobsesi atau terlalu sibuk secara tidak sehat, padahal kenyataannya kebanyakan orang dapat dengan mudah menyadari bahwa hubungan itu sepihak, dan itu tidak apa-apa.”

    Studi pemindaian otak mendukung gagasan itu. Studi tersebut menunjukkan bahwa otak manusia tidak memperlakukan selebriti seperti Taylor Swift sebagai orang yang benar-benar Anda kenal – tetapi orang-orang ini juga bukan orang asing bagi sistem saraf Anda.

    Selebriti dan influencer tampaknya telah mengukir sudut kecil mereka sendiri dalam jaringan neurologis kita.

    Alasan ilmiah
    Jess Cockerill memaparkan alasan ilmiah mengapa pernikahan Taylor Swift terasa Sangat pribadi bagi para penggemarnya.

    Baca: Dampak Lingkungan di Balik Gemerlap Eras Tour yang Digelar Taylor Swift

    Pemindaian seluruh otak mengungkapkan wilayah otak yang menyala ketika orang memikirkan teman dekat, diri mereka sendiri, atau selebriti. (Courtney & Meyer., J. Neurosci., 2020)

    Dalam sebuah studi tahun 2020 yang diterbitkan di The Journal of Neuroscience misalnya, para ilmuwan melakukan pemindaian otak pada 43 peserta saat mereka memikirkan diri mereka sendiri, orang yang mereka cintai, atau selebriti.

    Mereka menemukan bahwa otak manusia memetakan orang berdasarkan apakah mereka berada dalam jaringan sosial kita dan seberapa dekat kita dengan mereka.

    Selebriti diproses sedikit lebih jauh dari ‘diri’ daripada keluarga atau teman.

    Studi pemindaian otak lain, yang diterbitkan di Brain Sciences pada tahun 2023, mengungkapkan bahwa otak manusia “dengan jelas membedakan antara influencer atau selebriti lain dan orang-orang terdekat di luar kehidupan nyata meskipun perasaan subjektif tentang kedekatan dan kepercayaan bisa serupa.”

    Jadi, kapan hubungan parasosial dapat memiliki hasil negatif? Seiring kita (sebagai penonton) diberi lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi secara episodik dengan orang-orang yang sebelumnya hanya kita kenal melalui layar.

    Baca: Tur Taylor Swift Mampu Mendongkrak PDB Singapura

    “Perasaan kita akan keterhubungan dengan orang lain ini semakin intensif,” kata Bond kepada ScienceAlert,

    Bond percaya bahwa jika hubungan parasosial menggantikan teman-teman di kehidupan nyata atau mengganggu kehidupan dan rutinitas kita sehari-hari, saat itulah hubungan tersebut dapat memiliki efek negatif.

    “Jika kita beralih dari merasa bahwa tokoh media adalah teman menjadi menganggap tokoh media sebagai dewa, ini bisa menjadi masalah,” katanya.

    Tetapi jika Anda mendapati diri Anda akhir pekan ini membayangkan apa yang akan Anda kenakan ke pernikahan, atau bahkan apa yang mungkin Anda beli untuk Tay Tay dan Travis sebagai hadiah, Bond berpikir itu normal.

    Itu adalah otak Anda yang melakukan apa yang telah berevolusi untuk dilakukan: terhubung dengan orang lain. Hanya saja, dia menyarankan untuk tidak membakar patung tiruan.

  • Iran Tutup Ruang Udaranya untuk Prosesi Pemakaman Ali Khamenei

    Iran Tutup Ruang Udaranya untuk Prosesi Pemakaman Ali Khamenei

    7cloud.asia – Iran menutup sepenuhnya ruang udara Teheran pada Senin (6/7/2026) sebagai bagian dari pengaturan prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, demikian dilaporkan kantor berita ISNA.

    Penerbangan di seluruh wilayah Iran tetap beroperasi tanpa pembatasan pada Minggu. Namun, ruang udara Teheran akan ditutup sepenuhnya pada Senin saat berlangsungnya prosesi utama pemakaman.

    Berdasarkan jadwal yang diumumkan Organisasi Penerbangan Sipil Iran, seluruh penerbangan reguler di Bandara Internasional Mehrabad dan Bandara Internasional Imam Khomeini di Teheran akan dihentikan sementara pada Senin seiring penyelenggaraan upacara penghormatan terakhir di ibu kota.

    Pada Selasa (7/7/2026), Bandara Mehrabad akan kembali beroperasi secara normal, sementara Bandara Internasional Imam Khomeini masih akan tetap ditutup.

    Pemerintah Iran juga menyatakan bahwa pada 9 Juli, ruang udara di atas Kota Mashhad di timur laut Iran beserta operasional Bandara Internasional Shahid Hasheminejad akan dihentikan sepenuhnya selama berlangsungnya upacara puncak pemakaman.

    Baca: Transisi Kepemimpinan Iran Pasca Meninggalnya Ayatullah Ali Khamenei

    Penerbangan di wilayah lain di Iran akan tetap berjalan normal pada 7- 8 Juli, kecuali di Mashhad pada hari terakhir rangkaian prosesi.

    Khamenei gugur dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut memicu perang yang berlangsung selama beberapa pekan dan meningkatkan ketegangan di kawasan. ReferensiGeografis

    Rangkaian upacara pemakaman secara resmi dimulai pada Jumat, dengan dihadiri para pemimpin negara dan delegasi resmi dari berbagai negara di kawasan maupun luar kawasan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada pemimpin tertinggi Iran tersebut.

    Sesuai jadwal resmi, prosesi penghormatan masyarakat akan dilanjutkan dengan prosesi pemakaman utama di Teheran pada Senin. Selanjutnya, rangkaian prosesi akan berlanjut ke Kota Qom pada 7 Juli.

    Pada 8 Juli, upacara dijadwalkan berlangsung di Baghdad, Najaf, dan Karbala, Irak. Jenazah akan disambut para tokoh agama dan pejabat politik sebelum dibawa ke sejumlah tempat suci utama umat Syiah.

    Upacara persemayaman dan pemakaman terakhir dijadwalkan berlangsung pada 9 Juli di Kompleks Makam Imam Reza di Mashhad, yang merupakan salah satu situs suci utama umat Syiah di Iran.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Sebagian Gugatan Praperadilannya Dikabulkan, Roy Suryo Layangkan Gugatan Praperadilan ke-2

    Sebagian Gugatan Praperadilannya Dikabulkan, Roy Suryo Layangkan Gugatan Praperadilan ke-2

    7cloud.asia – Usai sebagian gugatan praperadilannya dikabulkan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, tersangka kasus tudingan ijazah palsu Jokowi (mantan presiden Joko Widodo), Roy Suryo mengajukan praperadilan kedua di tempat yang sama.

    Seperti diberitakan, Hakim Tunggal Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan mengabulkan sebagian gugatan praperadilan yang diajukan Roy Suryo terkait kasus tudingan ijazah palsu Jokowi, Selasa (7/7/2026).

    “Mengabulkan gugatan Pemohon untuk sebagian,” kata Hakim I Ketut Darpawan saat membacakan putusan di PN Jakarta Selatan, Selasa.

    Hakim mengabulkan permohonan Roy Suryo terkait keabsahan upaya paksa yang dilakukan penyidik dalam melakukan penangkapan, penggeledahan, dan penahanan terhadap Roy.

    Dalam pertimbangannya, hakim menilai Roy Suryo tidak menunjukkan indikasi akan melarikan diri, menghilangkan barang bukti, maupun menghambat proses penyidikan.

    Baca: Roy Suryo dan Dokter Tifa Siap Hadapi Persidangan

    Dengan keputusan ini maka penangkapan Roy Suryo terkait kasus tudingan ijazah palsu Jokowi dinyatakan tidak sah.

    Menurut kuasa hukum Roy Suryo, Refly Harun, dalam persidangan hari ini hakim juga memastikan Roy Suryo adalah orang yang patuh, kooperatif, dan melakukan wajib lapor sesuai perjanjian dengan penyidik Polda Metro Jaya.

    “Sehingga yang mencederai janji itu bukan Mas Roy, tetapi penyidik sendiri yang menangkap tiba-tiba, yang menahan tiba-tiba tanpa alasan yang bisa dibenarkan,” ucapnya.

    Dia mengatakan sidang perdana perkara praperadilan kedua itu akan digelar pada Jumat, 10 Juli 2026. Dalam sidang perdana nanti, beragendakan pembacaan permohonan.

    “Ini tidak bermaksud untuk menghambat pokok perkara, karena praperadilan ini adalah hak yang diberikan oleh undang-undang kepada tersangka,” kata Refly di PN Jaksel, Selasa (7/7/2026) seperti dipantau dari KompasTV.

    Baca: Polda Metro Jaya Limpahkan Kasus Tudingan Ijazah Palsu Jokowi ke Kejaksaan

    Refly menjelaskan pengajuan praperadilan yang kedua untuk menguji Pasal 32 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang dikenakan terhadap kliennya.

    Refly menilai pasal tersebut merupakan pasal selundupan untuk menjadi daya tawar penyidik Polda Metro Jaya agar bisa menahan kliennya sewaktu-waktu.

    Menurutnya, penggunaan Pasal 32 UU ITE tidak disertai fakta dan peristiwa yang sesungguhnya, juga tidak disertai dua alat bukti yang cukup.

    Ditilik dari Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) PN Jaksel, permohonan praperadilan kedua yang diajukan Roy Suryo itu teregistrasi dengan nomor 108/Pid.Pra/2026/PN JKT.SEL.

    Klasifikasi perkaranya adalah sah atau tidaknya pelaksanaan upaya paksa penetapan tersangka.

    Termohon dalam perkara tersebut: 1) Kapolda Metro Jaya cq Dirreskrimum Polda Metro Jaya cq Kasubdit Kamneg cq Tim Penyidik; 2) Kejati DKI Jakarta cq Aspidum Kejati DKI Jakarta cq Kejari Jakarta Selatan cq Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU).

  • BAM DPR Dorong Perkuatan Intervesi Negara untuk Realisasikan Swasembada Garam

    BAM DPR Dorong Perkuatan Intervesi Negara untuk Realisasikan Swasembada Garam

    7cloud.asia – Melalui kegiatan Festival Aspirasi, Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR melakukan kunjungan kerja ke Pulau Madura dalam rangka menyerap aspirasi masyarakat terkait isu peningkatan kesejahteraan petani garam serta penguatan kemandirian garam nasional.

    Komoditas garam memiliki peran strategis bagi perekonomian nasional, khususnya dalam mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat pesisir seperti di Madura.

    Ketua BAM DPR, Ahmad Heryawan menjelaskan bahwa Indonesia sebagai negara maritim dengan sekitar 70 persen wilayah berupa lautan memiliki potensi besar dalam produksi garam.

    Madura memiliki kontribusi signifikan terhadap produksi garam nasional. Dengan kapasitas mencapai sekitar 600 ribu ton per tahun atau sekitar 35 persen dari total produksi, potensi tersebut seharusnya menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan kemandirian garam nasional.

    Kebutuhan garam nasional yang mencapai sekitar 4,8 juta ton per tahun masih belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri, sehingga sebagian masih bergantung pada impor.

    “Diperlukan upaya peningkatan produktivitas dan penguatan kebijakan agar potensi yang dimiliki dapat dimanfaatkan secara optimal,” ujar Ahmad Heryawan dilansir Parlementaria di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, Senin (6/7/2026).

    Aher menilai, adanya keberpihakan terhadap petani garam dalam negeri sebagai bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat.

    Menurutnya, pengembangan produksi garam nasional akan memberikan dampak ekonomi yang luas, termasuk penyerapan tenaga kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.

    Baca: Indonesia Negara Bahari, Tetapi Tergantung pada Impor Garam

    Aher menyebut ada dua hal utama yang menjadi perhatian. Pertama, peningkatan produktivitas melalui pemanfaatan teknologi dan modernisasi sarana produksi bagi petani garam. Ditambah, penguatan regulasi untuk memberikan kepastian harga yang adil.

    Yang kedua, perlunya peningkatan perhatian pemerintah terhadap sektor pergaraman agar sejalan dengan dukungan yang telah diberikan kepada sektor pertanian lainnya.

    Aspirasi yang kami himpun ini akan menjadi bahan pendalaman lebih lanjut di BAM dan akan diteruskan kepada komisi terkait sesuai dengan ruang lingkup kewenangannya.

    “BAM berkomitmen untuk terus mengawal berbagai aspirasi masyarakat guna mendorong kebijakan yang berpihak pada peningkatan kesejahteraan rakyat serta penguatan kemandirian ekonomi nasional,” pungkasnya.

    Sementara anggota Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR, Slamet Ariyadi menegaskan potensi besar itu belum diimbangi dengan kebijakan yang berpihak kepada petani.

    Dia mendesak pemerintah pusat hingga daerah untuk segera melakukan sinkronisasi regulasi dan menghadirkan intervensi nyata.

    “Pemerintah harus mampu menghadirkan kebijakan yang pro-rakyat. Aspirasi ini bukan sekadar aspirasi, tetapi menjadi tanggung jawab moral bangsa dan negara. Kesejahteraan petani garam tidak bisa ditawar lagi,” tegasnya.

    Dalam kunjungan kerja spesifik ini, banyak aspirasi yang telah disampaikan oleh para petani garam, termasuk terkait kondisi kesehatan mereka.

    Baca: Target Swasembada Garam Saat Produksi Garam Masih Defisit

    Slamet juga menyoroti persoalan kualitas garam rakyat yang masih belum memenuhi standar industri, terutama terkait kadar NaCl (Natrium Klorida).

    Oleh karena itu, ia meminta pemerintah hadir melalui kebijakan yang jelas, termasuk penetapan harga pembelian pemerintah serta memberikan edukasi dan bantuan teknis kepada petani.

    “Negara harus hadir, baik dalam bentuk regulasi yang pasti, penentuan harga, maupun bantuan langsung agar kualitas garam rakyat bisa meningkat menjadi standar industri,” ujarnya.

    Legislator Dapil Jatim XI ini mengingatkan pentingnya peran industri, baik BUMN seperti PT Garam maupun pihak swasta, untuk membuka akses pasar yang lebih luas bagi petani.

    Apalagi saat panen raya harus ada pengawasan ketat untuk mencegah praktik permainan harga yang merugikan petani.

    “Kami meminta tidak ada oknum yang bermain dalam fluktuasi harga. Petani harus mendapatkan harga yang adil,” katanya.

    Terkait upaya mengurangi ketergantungan impor, Slamet optimistis Indonesia mampu mencapai swasembada garam jika ada keberpihakan nyata dari pemerintah. Dimana pemerintah mencanangkan target swasembada itu pada 2027.

    “Kita tunggu komitmen pemerintah. Jika swasembada garam benar-benar terwujud pada 2027, itu akan menjadi puncak kejayaan bagi petani garam Indonesia,” pungkasnya.

    Baca: Ironi, Mayoritas Wilayahnya Berupa Laut Tapi Masih Impor Garam

  • Alasan ARUKI Mendorong RUU Keadilan Iklim Dibahas Terpisah dari UU Pengelolaan Lingkungan

    Alasan ARUKI Mendorong RUU Keadilan Iklim Dibahas Terpisah dari UU Pengelolaan Lingkungan

    7cloud.asia – Aliansi Rakyat untuk Keadilan Iklim (ARUKI) menolak tegas pembahasan Rancangan Undang-undang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim (RUU PPLH-PI) sebagai agenda penggabungan revisi UU Perlindungan Lingkungan Hidup dan RUU Iklim versi parlemen.

    Sebagai gantinya, ARUKI yang beranggotakan 43 organisasi lingkungan mendesak DPR untuk mempercepat pembahasan dan pengesahan Undang-Undang Keadilan Iklim yang selama ini disuarakan dan didorong masyarakat sipil.

    Dalam konferensi pers yang dgelar di Jakarta, Senin (6/7/2026) ARUKI menyebut keselamatan rakyat, keadilan ekologis, keadilan gender, serta keadilan antar-generasi sebagai inti pengaturan RUU Keadilan Iklim.

    Torry Kuswardono, Direktur Eksekutif Yayasan PIKUL yang juga Koordinator ARUKI mengatakan, RUU Keadilan Iklim yang diprakarsai dan didorong ARUKI menjadi kerangka solusi terhadap akar permasalahan krisis iklim.

    Dia menegaskan, draft ini disusun setelah ARUKI telah melakukan konsolidasi bersama-sama subjek rentan dan kelompok warga terdampak di 13 region/wilayah di dalam pendokumentasian realitas dampak krisis iklim, pembangunan dan ekonomi.

    Baca: ARUKI Tolak Penggabungan RUU Pengelolaan Lingkungan Hidup dan RUU Iklim

    Hasilnya, seluruh cerita mengenai narasi keadilan iklim menjadi komponen utama di dalam kerangka empiris draft RUU Keadilan iklim.

    Melalui Konsultasi Rakyat di 13 wilayah/region yang diikuti oleh sekitar 300 orang pada Maret-November 2024.

    ARUKI juga menggelar Temu Rakyat untuk Keadilan Iklim/Indonesia Climate Justice Summit (ICJS) bersama 1400-an orang dari ragam subjek rentan: orang muda, perempuan, masyarakat adat, nelayan, disabilitas, buruh, urban dan masyarakat miskin kota, lansia dan anak-anak yang menghasilkan Deklarasi Rakyat untuk Keadilan Iklim.

    ”Ini menjadi mandat rakyat untuk RUU Keadilan Iklim yang seharusnya didengar oleh DPR dan Pemerintah,” ujar Torry.

    Aruki menyampaikan 6 alasan strategis mengapa Indonesia membutuhkan Undang-Undang Keadilan Iklim yang diatur dalam aturan tersendiri.

    Baca: RUU Pengelolaan Perubahan Iklim Dinilai Masih Jauh dari Prinsip Keadilan Iklim

    Pertama, krisis iklim merupakan krisis keadilan yang bersifat struktural, sehingga penanganannya harus dilakukan secara komprehensif.

    Kedua, Indonesia belum memiliki dasar hukum mengenai kerusakan dan kehilangan (loss and damage) akibat perubahan iklim. Sementara untuk bisa menatap ke depan, dibutuhkan pemulihan kerusakan yang terjadi di masa lalu

    Ketiga, Indonesia membutuhkan transisi yang berkeadilan. Sementara kebijakan transisi energi yang dinarasikan pemerintah saat ini, mengabaikan warga di daerah penghasil energi dan sumber daya mineral.

    Keempat, Indonesia membutuhkan perlindungan hukum bagi kelompok rentan terdampak krisis iklim,

    Kelima, Indonesia membutuhkan tata kelola perubahan iklim yang demokratis, dan terakhir atau keenam, Indonesia membutuhkan akuntabilitas dalam kebijakan iklimnya.

  • Ribuan Sekolah Nyaris Roboh, Tapi Pemerintah Lebih Prioritaskan MBG

    Ribuan Sekolah Nyaris Roboh, Tapi Pemerintah Lebih Prioritaskan MBG

     

    7cloud.asia – Belakangan ini, ruang publik dipenuhi gambar dan video yang kontras. Di satu sisi, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) berdiri megah dengan bangunan baru dan fasilitas yang memadai.

    Di sisi lain, tidak jauh dari lokasi yang sama, masih banyak sekolah dengan dinding retak, atap bocor, lantai rusak, bahkan ruang kelas yang nyaris roboh. 

    Kontras ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang arah prioritas pembangunan. Negara tampak begitu serius mengejar realisasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), meskipun tata kelolanya masih menuai berbagai kritik dan efektivitasnya masih terus diperdebatkan.

    Pada saat yang sama, jutaan anak masih belajar di ruang kelas yang tidak aman.

    Situasi ini terlihat jelas di banyak daerah, bukan hanya di wilayah terpencil, tetapi juga di berbagai provinsi yang selama ini menjadi pusat perhatian pembangunan nasional.

    Studi dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menunjukkan bahwa sekitar 49,5 persen ruang kelas SD di Indonesia masih mengalami kerusakan ringan hingga sedang, dan 10,8 persen lainnya berada dalam kondisi rusak berat.

    Di tingkat SMP, angka kerusakan mencapai 42,7 persen (lihat Gambar 1), sementara sekitar sepertiga ruang kelas SMA dan SMK juga masih mengalami kerusakan.

    Kondisi ini seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah. Banyaknya ruang kelas yang rusak adalah indikator bagaimana pendidikan Indonesia membutuhkan perhatian dan alokasi anggaran yang serius.

    Sulit membayangkan anak-anak dapat belajar secara optimal ketika mereka harus duduk di bawah atap yang bocor atau di dalam bangunan yang sewaktu-waktu berisiko runtuh.

    Terlebih, permasalahan di sektor pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kondisi infrastruktur sekolah, tetapi juga mencakup kesejahteraan guru, kualitas kurikulum, serta keterbatasan sarana dan prasarana pembelajaran. 

    Salah prioritas

    Untuk tahun 2026, pemerintah mengalokasikan sekitar Rp228 triliun untuk program MBG. Bahkan, usulan anggaran tahun 2027 meningkat menjadi Rp270 triliun.

    Pada saat yang sama, estimasi kebutuhan biaya untuk memperbaiki seluruh ruang kelas rusak di Indonesia hanya berkisar antara Rp40,7 triliun hingga Rp96,5 triliun. Dengan kata lain, bahkan dalam skenario tertinggi, kebutuhan renovasi sekolah hanya sekitar 42 persen dari anggaran MBG tahun 2026.

    Berangkat dari fakta ini, publik pantas mempertanyakan apakah negara sedang berusaha menyelesaikan akar persoalan pendidikan, atau justru lebih fokus pada program yang terlihat secara politik tapi belum terbukti efektif secara menyeluruh. 

    Masalahnya bukan semata-mata soal besar kecilnya anggaran MBG. Yang menjadi persoalan adalah belum adanya evaluasi independen dan transparan mengenai efektivitas program tersebut.

    Hingga kini, publik belum memperoleh gambaran yang memadai mengenai dampak MBG terhadap status gizi, kualitas pendidikan, maupun kesejahteraan keluarga penerima manfaat. Dalam situasi fiskal yang semakin terbatas, setiap rupiah uang negara seharusnya dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka. 

    Desain program MBG saat ini juga masih menyisakan berbagai persoalan. Studi CELIOS tahun 2025 menunjukkan adanya indikasi inclusion error, yakni kekeliruan data yang menyebabkan kelompok nonprioritas—seperti keluarga mampu yang tidak berasal dari wilayah 3T atau daerah dengan angka stunting tinggi—justru terdaftar sebagai penerima, sebesar 34,2 persen dalam program MBG.

    Jika program ini benar-benar menargetkan kelompok rentan seperti keluarga miskin, balita, ibu hamil dan menyusui, wilayah terpencil maupun tertinggal, serta daerah dengan prevalensi stunting tinggi, kebutuhan anggarannya akan jauh lebih rendah dan lebih efisien.

    Dengan pendekatan yang lebih terarah, negara tetap dapat memenuhi tujuan perbaikan gizi tanpa harus mengorbankan kebutuhan mendesak sektor pendidikan.

    Terlebih, menurut Badan Gizi Nasional (2026), sebagian pendanaan program tersebut berasal dari realokasi anggaran sektor pendidikan dan kesehatan. Per 15 Juni 2026, realisasi anggaran MBG sudah mencapai 44 persen .

    Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai keseimbangan prioritas belanja negara, terutama ketika kedua sektor tersebut masih menghadapi berbagai persoalan mendasar yang membutuhkan dukungan anggaran yang memadai. 

    Pendidikan harus diprioritaskan

    Sulit menjelaskan kepada publik mengapa negara bersedia mengalokasikan hingga Rp270 triliun untuk memperluas MBG, tetapi belum mampu memastikan seluruh anak Indonesia belajar di ruang kelas yang layak.

    Lebih sulit lagi ketika sebagian anggaran tersebut berpotensi berasal dari pos pendidikan dan kesehatan yang justru menjadi fondasi utama pembangunan manusia.

    Karena itu, pemerintah perlu meredam ekspansi MBG sebelum dilakukan audit dan evaluasi independen yang komprehensif. Program ini harus ditata ulang agar lebih tepat sasaran, transparan, dan efisien.

    Selain itu, pada saat yang sama, perbaikan infrastruktur pendidikan harus menjadi prioritas nasional yang tidak bisa terus ditunda.

    Sebab, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh apa yang dimakan anak-anak kita hari ini, tetapi juga oleh tempat mereka belajar dan tumbuh setiap hari.

     


    Isnawati Hidayah, Senior Researcher in rural development, sustainability, and food security, Center of Economic and Law Studies (CELIOS)

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

  • Minimalisme: Ketika Benar-benar Memiliki Lebih Sedikit Barang Kita Menyadari Apa yang Sudah Kita Buang Sia-sia

    Minimalisme: Ketika Benar-benar Memiliki Lebih Sedikit Barang Kita Menyadari Apa yang Sudah Kita Buang Sia-sia

    7cloud.asia – Salah satu artikel yang sering diposting ulang praktisi minimalisme dari AS, Joshua Becket adalah: 7 Alasan Saya Memakai Pakaian yang Sama Setiap Hari

    Menariknya, dia menulis artikel itu pada Agustus 2019 dan masih mengenakan pakaian yang sama hingga hari ini.

    Setiap kali dia memposting artikel itu ke media sosial, Joshua yang sudah mempraktekkan gaya hidup minimalis itu mengaku mendengar banyak kritik yang sama:

    “Itu tidak akan pernah cocok untuk saya, saya harus bekerja setiap hari.”

    “Saya tidak akan pernah bisa melakukan itu, saya terlalu kreatif.”

    “Tapi Anda seorang laki-laki, ini tidak mungkin bagi saya sebagai seorang perempuan.”

    “Oh, saya tidak akan pernah bisa hidup seperti ini. Pakaian saya adalah bentuk ekspresi diri yang penting.”

    Setiap kali dia melihat komentar seperti itu, Joshua ingin (dan terkadang memang) membalas dengan jawaban yang sama, “Ya, saya tahu. Tapi pernahkah Anda mencobanya?”

    Baca: Minimalisme Tunjukkan Memiliki Hanya yang Dibutuhkan Akan Membuat Hidup Lebih Baik

    Seperti, “Ya, aku tahu. Kebanyakan orang tidak berpikir itu akan berhasil. Kebanyakan orang berpikir gaya busana mereka adalah bagian dari identitas mereka.

    Banyak perempuan berpikir itu akan terlalu sulit (begitu juga laki-laki)…. Tapi pernahkah kamu mencoba mengenakan pakaian yang sama atau menerapkan konsep lemari pakaian kapsul? Karena jika kamu belum mencoba, kamu tidak akan tahu pasti.”

    Joshua mengakui, sebelumnya dia berpikir banyak hal yang sama seperti yang dia lihat di komentar.

    Dulu, ujarnya, saya berpikir pakaianku perlu banyak variasi, dulu saya berpikir perlunya mengikuti tren mode, dulu dia juga berpikir pakaian baru memberinya kepercayaan diri, dulu dia berpikir pakaian keren akan membuatnya populer…

    Sampai dia mencoba sesuatu yang berbeda. Awalnya, hanya selama tiga bulan sebagai percobaan.

    “Tetapi begitu saya mulai membatasi variasi pakaian yang kukenakan, aku menemukan hidup lebih baik dengan mengenakan pakaian yang sama setiap hari,“ ujarnya.

    Joshua mengaku, pilihan ini membuatnya memiliki lebih sedikit keputusan yang harus dibuat, lebih sedikit membuang waktu, mengalami lebih sedikit stres, lebih banyak menabung, merasa lebih rapi setiap hari, dan menghasilkan lebih sedikit sampah.

    Semua manfaat hidup itu terjadi karena satu alasan: dia memutuskan untuk mencoba sesuatu yang baru. Jadi ketimbang menganggap ide itu mustahil, Joshua memutuskan untuk mencobanya.

    Itulah salah satu hal tentang minimalisme. Joshua menegaskan, kita bisa mendengarkan manfaat memiliki lebih sedikit barang sepanjang hari dan tetap tidak merasakannya.

    Baca: Minimalisme Membantu Kita Menemukan Makna Hidup

    Hanya ketika kita benar-benar memiliki lebih sedikit barang, ujarnya, barulah kita menyadari apa yang telah kita lewatkan selama ini.

    Tetapi tentu saja, artikel ini lebih dari sekadar minimalisme. Karena kita sering melihat sikap yang membatasi muncul di tempat lain:

    “Saya tidak akan pernah bisa keluar dari utang karena __________.” Saya tahu, tetapi pernahkah Anda mencoba?

    “Saya tidak akan pernah bisa berolahraga setiap hari karena __________.” Saya tahu, tetapi pernahkah Anda mencoba?

    “Meditasi/kesendirian tidak akan pernah menjadi sesuatu yang saya lakukan karena __________.” Saya tahu, tetapi pernahkah Anda mencoba?

    “Saya tidak akan pernah bisa berhenti minum.” Saya tahu, tetapi pernahkah Anda mencoba?

    “Saya tidak akan pernah bisa merapikan __________ saya.” Saya tahu, tetapi pernahkah Anda mencoba?

    Memang benar, tentu saja, terkadang kita telah mencoba dan tidak menemukan kemenangan di suatu bidang. Dan jika itu terjadi pada Anda, Joshua mendorong Anda untuk menemukan ketahanan dan ketekunan untuk mencoba lagi.

    Tetapi bagi kita yang belum pernah mencoba dan langsung menolak peluang untuk perubahan hidup karena kita tidak berpikir itu mungkin, jangan pernah berkata tidak mungkin. Banyak hal tampak mustahil. Sampai kita mencoba.

  • Cuaca Hari Ini: Mayoritas Wilayah Cerah Berawan, Potensi Hujan Masih Terjadi

    Cuaca Hari Ini: Mayoritas Wilayah Cerah Berawan, Potensi Hujan Masih Terjadi

    7cloud.asia – Kondisi cuaca mayoritas wilayah di Indonesia diprediksi cerah hingga berawan. Namun masih ada potensi hujan di beberapa wilayah pada Rabu (08/07/2026).

    Dikutip dari laman resmi BMKG, pada pagi hari, cuaca cerah akan menaungi seluruh wilayah Jakarta, termasuk Kepulauan Seribu.

    Suhu udara hari ini berkisar 24 sampai 33 derajat celsius,
    Memasuki siang hari, cuaca cerah masih akan menaungi Kepulauan Seribu, Jakarta Pusat, Utara, Barat, Selatan dan Jakarta Timur.

    Kondisi ini masih akan bertahan hingga menjelang sore hari. Cuaca cerah masih akan menaungi seluruh wilayah Jakarta, termasuk Kepulauan Seribu.

    Begitu juga saat malam hari, BMKG memprakirakan langit di seluruh wilayah Jakarta akan cerah.

    Untuk suhu udara hari ini berkisar 24 sampai 33 derajat celsius, dengan kelembapan udara antara 44 hingga 87 persen.

    Laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi mengguyur wilayah Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatra Selatan.

    Kondisi cuaca serupa berpotensi pula terjadi di wilayah Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan Maluku. Sementara wilayah Sulawesi Utara berpotensi terjadi hujan berintensitas lebat hingga sangat lebat.

    Tak hanya hujan, BMKG memprediksi angin kencang di wilayah Aceh, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Kepulauan Bangka Belitung, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Utara.

  • Gerakan Rakyat Menolak Lokasi Pembangunan PLTSa Makassar Mengadu ke DPR, Minta Lokasi Dipindah

    Gerakan Rakyat Menolak Lokasi Pembangunan PLTSa Makassar Mengadu ke DPR, Minta Lokasi Dipindah

    7cloud.asia – Warga Makassar yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Menolak Lokasi Pembangunan PLTSa Makassar melakukan audiensi dengan Komisi XII DPR di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Selasa (7/7/2026).

    Dalam kesempatan itu warga menyampaikan keberatan mereka atas rencana pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi tersebut karena dinilai terlalu dekat dengan pemukiman warga.

    Seperti diketahui Komisi B DPRD Provinsi Sulawesi Selatan resmi menginstruksikan penangguhan total atas seluruh aktivitas pembangunan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di wilayah Tamalanrea, Kota Makassar.

    Keputusan ini diambil dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP), pada Kamis (25/06/26) di gedung sementara DPRD Sulsel yang dipimpin langsung oleh Ketua Komisi B DPRD Sulsel, A. Azizah Irma Wahyudiyati.

    Wakil Ketua Komisi XII DPR, Sugeng Suparwoto yang menerima warga mengatakan, aspirasi yang disampaikan masyarakat bukan merupakan penolakan terhadap pembangunan PLTSa, melainkan keberatan atas lokasi proyek yang dinilai terlalu dekat dengan kawasan permukiman.

    Dia menegaskan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) tetap diperlukan sebagai bagian dari solusi pengelolaan sampah nasional. Namun, pelaksanaannya harus mengutamakan keselamatan dan kenyamanan masyarakat, termasuk melalui penentuan lokasi yang tepat.

    Baca: Komisi B DPRD Sulawesi Selatan Perintahkan Pembangunan PLTSa Tamalanrea Dihentikan

    Sugeng mengapresiasi sikap warga yang tidak menolak pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa). Tapi adalah tentang pemilihan lokasi. Dia berjanji akan kunjungan kerja ke Sulawesi Selatan, dan memanggil semua pihak terkait termasuk pelaksana proyeknya.

    “Kita akan mencari jalan terbaik. Salah satunya yang harus kita sampaikan adalah pindah tempat,” ujar Sugeng dilansir Parlementaria.

    Politisi Fraksi Partai NasDem itu menilai kebutuhan pembangunan PLTSa tidak dapat dihindari mengingat persoalan sampah di Indonesia semakin kompleks. Terlebih, pemerintah telah menargetkan penghentian praktik open dumping sebagai bagian dari upaya memperbaiki sistem pengelolaan sampah nasional.

    Bagi Sugeng, teknologi waste to energy merupakan salah satu solusi yang perlu dikembangkan untuk mengatasi meningkatnya volume sampah.

    Meski demikian, pembangunan fasilitas tersebut harus tetap memperhatikan aspek tata ruang, dampak lingkungan, dan perlindungan terhadap masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi proyek.

    Ia menambahkan, polemik seperti yang terjadi di Makassar seharusnya dapat dihindari apabila perencanaan tata ruang dijalankan secara konsisten sejak awal.

    Baca: Rencana Pembangunan PLTSa di Tamalanrea, Makassar Tuai Penolakan

    “Tadi betul sekali, semua sebetulnya berdasarkan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah). Hal-hal seperti ini sebetulnya tidak perlu terjadi kalau tata ruangnya itu konsisten,” tegasnya.

    Sugeng memastikan Komisi XII DPR akan mengawal penyelesaian persoalan tersebut melalui koordinasi dengan pemerintah daerah, pelaksana proyek, dan seluruh pihak terkait.

    Menurutnya, solusi yang dihasilkan harus mampu melindungi kepentingan masyarakat tanpa menghambat program nasional pengelolaan sampah.

    “Tetapi tetap kita tidak boleh lantas menghentikan proyeknya. Kita akan mencari jalan terbaik,” pungkasnya.

    Dalam kesempatan yang sama, Anggota Komisi XII DPR Rokhmat Ardiyan menegaskan bahwa rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Kelurahan Bira-Parangloe, Kota Makassar, tidak boleh mengorbankan kepentingan masyarakat.

    Menurutnya, setiap proyek strategis pemerintah harus memberikan manfaat nyata tanpa menurunkan kualitas hidup warga di sekitar lokasi pembangunan.

    Baca: Pemerintah Targetkan Bangun 33 PLTSa di Sejumlah Daerah

    Rokhmat menilai persoalan utama dalam proyek tersebut terletak pada pemilihan lokasi yang berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat.

    “Apapun proyek ini tidak boleh merugikan masyarakat. Jangan sampai proyek ini justru menurunkan kualitas kesehatan, menurunkan harga tanah,” ujarnya.

    Dia meminta pemerintah perlu mempertimbangkan kembali lokasi pembangunan mengingat masih tersedia lahan lain yang dinilai lebih layak. Ia menegaskan, pembangunan seharusnya tidak memicu penolakan masyarakat apabila masih terdapat alternatif lokasi yang memungkinkan.

    “Proyek ini kan belum dibangun, kita ada potensi untuk geser-geser, masih banyak lokasi di daerah sana, kenapa harus cari yang susah-susah dekat dengan penduduk?,” kata Rokhmat

    Lebih lanjut, dirinya menyampaikan Komisi XII DPR akan menindaklanjuti aspirasi masyarakat dengan memanggil pihak-pihak terkait, termasuk Kementerian Lingkungan Hidup, guna mencari solusi terbaik atas polemik tersebut.

    “Komisi XII hari ini berpihak kepada rakyat. Kami akan memperjuangkan semuanya. Semoga secepat – cepatnya ada solusi terbaik. Apapun pembangunannya tidak boleh merugikan masyarakat,” tegasnya.

    Baca: Pembangunan PLTSa Dinilai Bukan Solusi Tepat dalam Pengelolaan Sampah

  • Peringatan 100 Tahun Ali Sadikin: Membangun Jakarta Menjadi Kota Metropolitan yang Berbudaya

    Peringatan 100 Tahun Ali Sadikin: Membangun Jakarta Menjadi Kota Metropolitan yang Berbudaya

    7cloud.asia – Selasa, 7 Juli 2026, tepat satu 100 tahun Ali Sadikin, gubernur yang sangat berjasa dalam mengembangkan Jakarta menjadi sebuah kota metropolitan yang modern.

    Di bawah kepemimpinan Ali Sadikin yang memimpin Jakarta periode 1966–1977, Jakarta meletakkan fondasi penting pembangunannya, khususnya di sektor pengembangan seni, budaya, dan ruang publik.

    Berkat pemikiran dan gagasan Ali Sadikin, Jakarta mengalami banyak perubahan karena proyek-proyek pembangunan yang mengutamakan kebudayaan.

    Beberapa di antaranya adalah Taman Ismail Marzuki, Kebun Binatang Ragunan, Proyek Senen, Taman Impian Jaya Ancol, Taman Ria Monas, Taman Ria Remaja, kota satelit Pluit di Jakarta Utara, serta pelestarian budaya Betawi di kawasan Condet.

    Dalam Peringatan 100 Tahun Ali Sadikin di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (7/7/2026), Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, peringatan satu abad Ali Sadikin menjadi momentum untuk mengenang kembali jejak kepemimpinannya yang menempatkan kebudayaan sebagai bagian penting pembangunan kota.

    Peringatan ini menjadi penghormatan atas jasa Gubernur DKI Jakarta periode 1966–1977 yang meletakkan fondasi penting pembangunan Jakarta, khususnya dalam pengembangan seni, budaya, dan ruang publik.

    Peringatan 100 Tahun Ali Sadikin diselenggarakan oleh Pemprov DKI Jakarta bekerja sama dengan Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), dan Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB).

    Acara ini turut dihadiri Gubernur DKI Jakarta periode 2007–2012, Fauzi Bowo, keluarga besar Ali Sadikin, seniman, budayawan, akademisi, serta berbagai komunitas kebudayaan.

    Baca: Menyambut Lima Abad Kota Jakarta

    Salah satu warisan yang terus dirasakan hingga kini adalah Taman Ismail Marzuki yang tetap menjadi ruang tumbuh seni, budaya, dan kreativitas di ibu kota.

    “Bagi saya pribadi, bukan hanya pembangunan fisik yang menjadi warisan terbesar Bang Ali, tetapi juga keberanian beliau membangun ekosistem seni dan budaya. Siapa pun gubernur Jakarta tidak mungkin tidak melanjutkan apa yang telah diwariskan Bang Ali,” ujarnya dikutip dari pernyataan tertulis Pemprov DKI Jakarta.

    Menurut Pramono, kemajuan Jakarta harus tetap berpijak pada sejarah dan budaya. Karena itu, semangat yang diwariskan Ali Sadikin perlu terus dihidupkan melalui penguatan ekosistem seni dan budaya, sekaligus dikenalkan kepada generasi muda agar memahami perjalanan pembangunan Jakarta dan memiliki rasa memiliki terhadap kotanya.

    Semangat tersebut juga menjadi landasan Pemprov DKI Jakarta dalam melanjutkan pembangunan kota. Pramono menegaskan, Pemprov DKI terus memperkuat transportasi publik terintegrasi, mengembangkan kawasan berorientasi transit (TOD), serta menata Pasar Baru dan Kota Tua.

    Upaya tersebut berjalan seiring dengan pelestarian budaya Betawi, antara lain melalui revitalisasi Setu Babakan dan penguatan unsur budaya Betawi dalam berbagai kegiatan pemerintah.

    “Menjelang Jakarta memasuki usia lima abad pada 2027, kita ingin membangun Jakarta sebagai kota global yang modern, tetapi tetap berkarakter, menghargai sejarah, dan menjadikan kebudayaan sebagai identitas sekaligus kekuatan kota,” jelasnya.

    Pramono juga mengajak masyarakat terus menjaga dan mewariskan nilai-nilai yang ditinggalkan Ali Sadikin kepada generasi muda.

    Menurutnya, keberanian berinovasi, berpikir jangka panjang, dan membangun demi kepentingan masyarakat merupakan teladan kepemimpinan yang tetap relevan bagi pembangunan Jakarta.

    “Semangat Bang Ali bukan hanya tentang apa yang telah dibangun, tetapi juga keberanian mengambil keputusan demi kemajuan kota. Nilai kepemimpinan seperti keberanian berinovasi, berpikir jangka panjang, dan membangun untuk kepentingan masyarakat harus terus menjadi inspirasi bagi kita semua,” tuturnya.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta Gandeng IKJ untuk Menjadikan Jakarta Sebagai Kota Global yang Berbudaya

    Ali Sadikin dan pembangunan budaya
    Lahir di Sumedang, 7 Juli 1927, Ali Sadikin memulai karir sebagai prajurit TNI AL. Dia dikenal merakyat dan disapa akrab oleh penduduk kota Jakarta dengan panggilan Bang Ali.

    Dilansir ikj.ac.id, Ali Sadikin berjasa besar dalam menghidupkan kembali aspek budaya Betawi, seperti topeng Betawi dan lenong, kerak telor, ondel-ondel dan sebagainya.

    Di bawah kepemimpinannya diselenggarakan pemilihan Abang dan None Jakarta. Selain itu, Ali Sadikin juga menyelenggarakan Pekan Raya Jakarta yang saat ini lebih dikenal dengan nama Jakarta Fair, sebagai sarana hiburan dan promosi dagang industri barang dan jasa dari seluruh tanah air, bahkan juga dari luar negeri.

    Ia juga sempat memberikan perhatian pada kehidupan para artis lanjut usia di kota Jakarta yang saat itu banyak bermukim di daerah Tangki, sehingga daerah tersebut dinamai Tangkiwood.

    Fasilitas transportasi di Jakarta berhasil diperbaiki dengan mendatangkan banyak bus kota dan menata trayeknya, serta membangun halte (tempat menunggu) bus yang nyaman.

    Di bawah pimpinan Ali Sadikin dibangun gelanggang remaja untuk berbagai aktivitas positif para remaja (ekstrakurikuler).

    Ali Sadikin melontarkan gagasannya untuk membangun pusat kesenian di Jakarta pada awal tahun 1968, saat meresmikan pemakaian kembali Balai Budaya yang merupakan tempat berkumpulnya seniman-seniman Jakarta di Jl Gereja Theresia.

    Dia melihat Balai Budaya sebagai satu-satunya wadah para seniman Indonesia di DKI Jakarta saat itu, tak lagi cukup untuk menampung para seniman untuk berkreativitas dan menuangkan gagasan seninya.

    Dari gagasan inilah lahir Taman Ismail Marzuki atau yang dikenal sebagai TIM yang bertahan hingga kini. Bagaimana proses pembangunan TIM akan kami ulas dalam tulisan selanjutnya.

    Baca: Jakarta Jadi Kota Global Apa Manfaat yang Dirasakan Warga?