Category: Uncategorized

  • Ribuan Desa Pesisir di Indonesia Timur Terancam Krisis Akibat Perubahan Iklim

    Ribuan Desa Pesisir di Indonesia Timur Terancam Krisis Akibat Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Sejumlah organisasi sipil yang tergabung dalam Jaring Nusa Kawasan Timur Indonesia (Jaring Nusa KTI) menyatakan ribuan desa yang ada di pesisir pantai khususnya di wilayah Indonesia timur terancam mengalami krisis atau bahkan hilang akibat dampak perubahan iklim.

    Pusat Data dan Informasi Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA 2017) sendiri  mencatat jumlah desa pesisir di Indonesia sebanyak 12.827 desa.

    Manajer Kampanye Pesisir dan Laut Eksekutif Nasional WALHI Parid Ridwanuddin dalam pertemuan Jaring Nusa Kawasan Timur Indonesia dengan tema Coastal and Small Island People Summit 2022 di Denpasar, Bali, pada September lalu menyatakan bahwa desa pesisir di Indonesia Timur yang terancam oleh dampak buruk krisis perubahan iklim terutama berada di Maluku. 

    Dampak buruk perubahan iklim tersebut, kata dia, salah satunya dipengaruhi oleh aktivitas industri ekstraktif yang telah dan sedang merusak ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil di kawasan Timur Indonesia.

    Akibatnya, masyarakat pesisir yang hidupnya tergantung pada sumber daya pesisir dan laut kehilangan ruang hidupnya akibat ekspansi tambang yang tidak ramah lingkungan.

    Baca: Dua alasan untuk segera beralih ke mobil listrik

    Berikut daftar desa yang akan mengalami dampak buruk perubahan iklim berdasarkan penelitian Jaring Nusa KTI yakni:

    175 desa pesisir di Bali,

    297 desa pesisir di NTB,

    1.018 desa pesisir di NTT,

    783 desa Pesisir di Sulawesi Utara,

    1.011 desa pesisir di Sulawesi Tengah,

    527 desa pesisir di Sulawesi Selatan,

    954 desa pesisir di Sulawesi Tenggara, dan

    201 desa pesisir di Gorontalo.

    152 desa pesisir di Sulawesi Barat,

    1.064 desa pesisir di Maluku,

    934 desa pesisir di Maluku Utara,

    lebih dari 570 desa pesisir di Papua Barat,

    662 desa pesisir di Papua.

    Baca: Polusi udara akibatkan 7 juta kematian dini setiap tahun

    Jaring Nusa KTI sendiri merupakan simpul jaringan belajar antar berbagai CSO (Civil Society Organizations) dan kelompok masyarakat di Kawasan Timur Indonesia yang memiliki fokus, perhatian khusus, serta komitmen pada kesejahteraan masyarakat pesisir, nelayan serta lestarinya kelautan.

    Mereka menilai perubahan iklim menjadi ancaman nyata bagi masyarakat pesisir. Sayangnya hal ini masih luput dari perhatian pemerintah pusat.

    Sementara itu, berdasarkan catatan Wahana Lingkungan Hidup (WALHI ) Maluku Utara, pertambangan nikel telah mengakibatkan hilangnya hutan alam di pulau kecil seluas 16.000 hektar dalam 15 tahun terakhir.

    Selain itu, Industri pertambangan nikel turut menyebabkan pencemaran laut dan menyebabkan penurunan jumlah nelayan. 

    Seluruh peserta yang tergabung dalam pertemuan Jaring Nusa Kawasan Timur Indonesia dengan tema Coastal and Small Island People Summit 2022 ini memberikan rekomendasi kepada pemerintah Indonesia untuk mengevaluasi seluruh proyek industri ekstraktif di wilayah pesisir dan pulau kecil di Kawasan Timur Indonesia.

    Tak hanya itu,  pemerintah juga diharapkan menjamin pengakuan dan perlindungan wilayah kelola rakyat di wilayah pesisir pulau kecil, serta segera menyusun skema penyelamatan desa-desa pesisir di kawasan tersebut dari ancaman dampak buruk perubahan iklim tersebut.

     

    Esti Utami, dari berbagai sumber

  • Sisa Perayaan Idul Fitri yang Tak Ramah Bagi Lingkungan

    Sisa Perayaan Idul Fitri yang Tak Ramah Bagi Lingkungan

    7cloud.asia – Hari raya Idul Fitri atau Lebaran tinggal menghitung hari. Dalam beberapa hari terakhir masyarakat disibukkan dengan tradisi mudik yang diperkirakan melibatkan jutaan orang. Sebuah aktifitas yang cukup masih dan punya dampak besar pada lingkungan.

    Masyarakat Indonesia merayakan Idul Fitri atau Lebaran dengan kegiatan saling berkunjung ke rumah kerabat maupun teman untuk saling memaafkan.

    Semarak Lebaran juga berlangsung sejak beberapa hari sebelum dan setelahnya, misalnya aktivitas pemudik yang memadati jalanan ataupun transportasi umum. Beberapa daerah turut mengadakan pesta kembang api pada semalam sebelum Idulfitri untuk menandai Ramadan yang berakhir.

    Sayangnya di balik kesemarakan ini, Idul Fitri yang seharusnya dirayakan dengan kegiatan baik justru bisa berdampak buruk terhadap lingkungan.

    Kita perlu mencegah dampak tersebut agar aktivitas menyambut Idul Fitri atau  Lebaran lebih ramah lingkungan sehingga tujuan hakikinya, yaitu kembali ke fitrah atau kesucian benar-benar terwujud.

    Baca: Tips Mudik Ramah Lingkungan

    Berikut beberapa cara perayaan Lebaran yang kurang memperhatikan dampak bagi lingkungan.

    1. Sisa makanan

    Laporan dari The Economist Intelligence Unit (EIU); divisi riset dan analisis dari perusahaan media asal Inggris, The Economist, pada 2017 menyatakan Indonesia menjadi negara peringkat kedua dalam hal membuang makanan. Arab Saudi menempati peringkat pertama. Amerika Serikat peringkat ketiga.

    Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengungkapkan, sampah makanan yang dihasilkan menyumbang 46,75% dari total sampah Indonesia. Limbah makanan ini menimbulkan kerugian ekonomi hingga Rp 213-531 triliun per tahun, atau 5% dari produk domestik bruto Indonesia.

    Limbah makanan yang tidak terkelola dengan baik juga dapat menimbulkan masalah kesehatan karena menjadi tempat berkembang biaknya kuman serta mengundang hewan liar yang mengkonsumsi limbah tersebut. Organisme ini dapat membawa penyakit bisa menular dari hewan ke manusia atau biasa disebut zoonosis.

    Sisa makanan yang membusuk juga mengeluarkan gas metana (CH4), salah satu gas rumah kaca. Emisi gas metana yang berlebihan amat berbahaya karena bisa memerangkap panas 25 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida atau CO2.

    Jumlah limbah makanan yang fantastis ini terjadi karena beberapa sebab, antara lain kurangnya pengetahuan untuk mengelola makanan dengan baik ataupun penyimpanannya. Ada juga karena perilaku belanja berlebihan, ataupun kebiasaan memasak makanan dalam jumlah banyak.

    Pemerintah seharusnya mengedukasi masyarakat untuk tidak membuang makanan dengan melakukan berbagai kampanye.

    Misalnya, kampanye untuk tidak boros saat berbelanja atau memproduksi makanan berlebih yang berisiko meningkatkan limbah dan gas rumah kaca.

    Pemerintah dapat bekerja sama dengan masyarakat untuk mengelola distribusi makanan bagi orang yang membutuhkan.

    Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang dermawan. Supaya lebih bermanfaat, sifat ini dapat dikelola dengan lebih profesional.

    2. Penggunaan kendaraan pribadi

    Ancaman kedua terhadap lingkungan akibat perayaan Lebaran yang tak ramah lingkungan adalah meningkatnya polusi udara akibat penggunaan kendaraan bermotor yang berlebihan.

    Saat lebaran, mobilitas masyarakat meningkat tajam. Kemacetan tidak hanya terjadi di kota, tapi di banyak tempat di desa-desa. Arus mudik juga memindahkan polusi dari kota besar ke daerah pinggiran kota.

    Penggunaan alat transportasi secara masif dan bersamaan akan meningkatkan polusi udara dari kendaraan bermotor berbahan bakar bensin dan solar. Meski tak berlangsung lama, tren ini tetap membahayakan kesehatan maupun lingkungan..

    Pembakaran mesin maupun gesekan ban dengan jalanan turut mengeluarkan karbon monoksida, partikel debu berukuran 10 (PM10) – atau lebih kecil lagi – 2,5 mikron (PM2,5).

    Keduanya berbahaya bagi kesehatan karena menyebabkan gangguan pernapasan, mengurangi angka harapan hidup, bahkan mengganggu kesehatan mental.

    Selain dampak kesehatan, asap kendaraan juga melepaskan CO2 dan metana yang bisa memperparah perubahan iklim.

    Sudah saatnya pemerintah memberikan perhatian yang lebih baik dengan menyediakan transportasi publik yang ramah lingkungan dan nyaman.

    Pemerintah seyogianya perlu mengurangi perhatian terhadap produsen kendaraan pribadi dengan alasan pertumbuhan ekonomi, tapi mengabaikan pelestarian lingkungan.

    Pemerintah pusat maupun daerah perlu merumuskan aturan jelas mengenai transportasi publik dan kenyamanan masyarakat. Harapannya, momen hari raya Idul Fitri menjadi momentum perubahan perilaku ke arah yang lebih ramah lingkungan.

    3. Limbah pakaian

    Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, Lebaran identik dengan baju baru. Tek heran jika kemudian dikenal istilah baju Lebaran.

    Survei oleh perusahaan riset dan polling global, YouGov, pada 2022 menyatakan 81% masyarakat Indonesia menggunakan uang tunjangan hari raya atu THR mereka untuk membeli baju baru.

    Pusat-pusat perbelanjaan, platform e-commerce, ataupun toko pakaian acap memanfaatkan momen ini dengan mengobral diskon. 

    Namun, di tengah kondisi iklim yang berubah dan situasi pencemaran di Indonesia saat ini, kita perlu berpikir ulang. Apakah kebiasaan ini layak diteruskan?

    Tradisi baju baru dapat mengarah pada penumpukan sampah. Survei dari Yougov pada 2017 menyatakan sekitar 66% responden Indonesia membuang satu baju setiap tahun. Ada juga 25% responden yang setiap tahunnya membuang 10 helai baju.

    Selain mubazir, kebiasaan membeli baju baru juga bisa memperparah dampak lingkungan dari industri tekstil. Sektor ini bertanggung jawab atas 6-8% emisi gas rumah kaca di bumi karena masifnya penggunaan energi untuk pemrosesan garmen dan tekstil.

    Di Indonesia, limbah tekstil mencapai jutaan ton setiap tahun. Aktivitas produksi juga masih mengotori sungai-sungai di tanah air, seperti Sungai Citarum di Jawa BaratSungai Bengawan Solo di Jawa Tengah, dan Sungai Brantas di Jawa Timur.

    4. Kembang api

    Perayaan dengan petasan dan kembang api sering kali membuat masyarakat takjub, tapi hal ini bersifat semu. Sebab, rasa ini hanya berlangsung sebentar dibandingkan kerusakan lingkungan jangka panjang yang ditimbulkan.

    Petasan dan kembang api mengandung zat kimia seperti logam berat, karbon, mesiu dan bahan bahan kimia lainnya. Asap yang ditimbulkan dari petasan dan kembang api menimbulkan polusi dan membahayakan saluran pernapasan jika terhirup dalam jumlah besar. Partikel-partikel petasan dan kembang api yang jatuh ke tanah dapat merusak tanaman dan mencemari air.

    Dampak lainnya dari kembang api adalah mengganggu kehidupan satwa liar terutama burung-burung dan satwa arboreal yaitu hewan yang tinggal di pohon-pohon.

    Gangguan suara yang ditimbulkan oleh petasan dan kembang api juga diderita oleh hewan domestik yang sensitif terhadap frekuensi suara, seperti anjing dan ayam.

    Idulfitri atau Lebaran adalah momentum kebersamaan, kasih sayang, dan saling memaafkan. Mari kita merayakan lebaran dengan berperilaku bijak, bukan hanya pada sesama manusia tapi juga pada lingkungan dan alam semesta.

     Selamat merayakan hari raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin.

    Sumber: The Conversation baca artikel asli di sini

  • Pembacaan Surat Kartini Jadi Atraksi Menarik di Hari Kartini

    Pembacaan Surat Kartini Jadi Atraksi Menarik di Hari Kartini

    7cloud.asia – Manneke Budiman, Guru Besar Ilmu Sastra dan Kajian Budaya Universitas Indonesia yang juga visitor researcher BRIN mengatakan, Kartini adalah sosok pahlawan nasional yang medan perjuangannya yang paling kompleks dengan memilih cara yang berbeda.

    Hal itu diungkapkan Manneke saat turut menafsir surat-surat Kartini, dalam kegiatan pembacaan surat-surat Raden Ajeng Kartini  yang dikemas dalam tema Cahaya di Langit Jepara, Senin (17/4/2023).

    Acara ini dilakukan Sivitas Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dari 70 Pusat Riset (PR) dan  digagas oleh Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra bertepatan dengan peringatan Hari Kartini yang diperingati 21 April. 

    Para sivitas arkelogi, bahasa, dan sastra dari berbagai wilayah di Indonesia yang bergabung dalam umat Arbastra, berkumpul secara daring menyemarakkan kegiatan ini.

    Dirilis di laman resmi BRIN, ada sejumlah 19 pembaca tampil dalam kegiatan ini. Kepala OR Arbastra, Herry Jogaswara sebagai pembuka membacakan Surat Stella Zeehandelaar tanggal 25 Mei 1899, sebuah surat yang sangat menarik terkait dengan tradisi.

    Dalam surat tersebut tergambar bagaimana tradisi timur yang kokoh dan kuat. Kartini menyinggung emansipasi sejak belum memiliki makna, yang kemudian terbayang dalam kerinduan akan kebebasan dan kemerdekaan. Herry berharap para peserta mendapatkan inspirasi dari kegiatan tersebut.

    “Kita dapat menafsir ulang, membaca, dan memaknai. Dalam hal ini, Arbastra mempunyai peneliti yang peduli secara mendalam terhadap aspek bahasa dan sastra, peradaban, serta rumpun ilmu lainnya,” ungkapnya. 

    Pembacaan surat Kartini dilanjutkan oleh sivitas lainnya, seperti Ade Mulyanah, Katubi, Fakhriati, Suryami, Yeni Mada, Eka Julia, Nofri F, Sonya Martha, Helmina K, Darmawati M, Erwin S, Nensia, Muhammad Isneni, Baso Marannu, Antin Ferdianto, Resti Nurfaidah, Katrynada J, Nurul Adliyah, dan Klementin. 

    Kegiatan ini juga melibatkan visitor researcher BRIN, Manneka yang turut menafsir surat-surat Kartini. 

    “Tidak seperti pejuang lainnya yang terjun di medan perang. Ia memilih mengekspresikan gagasan, aspirasi, dan impian dalam bentuk surat, di mana teknik yang dominan disebut dengan epistoler,” urai Manneke. 

    Dengan teknik tersebut, Kartini bercerita dengan sangat pribadi tentang hal-hal yang tidak mungkin diungkap di publik. Tapi pada saat yang sama, teknik ini memungkinkan penulis bicara jujur tanpa rasa ketakutan.

    Menurutnya, teknik epistolar yang dibawakan Kartini banyak membawa solusi. Contohnya, dengan fasih dia harus menggunakan bahasa penjajahnya, untuk mengukuhkan bahwa dia menguasai bahasa penguasanya, alias penjajahnya. 

    Dituturkan Manneke, dalam pandangan politisnya, Kartini melihat bahwa kaum perempuan belum terbebaskan, belum mempunyai kesetaraan, masih hidup dalam perbedaan.

    Jalan yang dipilih ini membuat perjuangan Kartini menjadi tidak mudah karena Kartini dituding memiliki perjuangan yang sempit. Ia dianggap hanya memikirkan perempuan di kala negara sedang berjuang melawan Belanda. 

    Disampaikan Manneke, berbagai lapisan dilema dihadapi Kartini. Kartini saat itu dipandang seolah ingin menghancurkan tradisi yang sudah dianggap sebagai  kemapanan yang seharusnya dilindungi oleh bangsanya sendiri yaitu bangsa ningrat.

    Sebagaimana diungkapkan dalam dialog antara dia dan ibunya, yang direkam dalam surat Abendanon. Tergambar bahwa Kartini mengungkapkan kepada ibunya, dia tidak berjuang untuk dirinya sendiri, tapi untuk para perempuan Jawa lainnya. 

    Dalam hal ini, Manneke mengulas, bahwa perempuan adalah penjaga, pengusung, bahkan pelestari penindasan. Penindasan dalam hal ini bukan fisik akan tetapi kebodohan. Perempuan sebagai pengawal peradaban menjadi pintu masuk bagi pembebasan seluruh bangsa dari penderitaan dan penindasan.

    “Sehingga tidak ada kontradiksi bagi emansipasi perempuan, karena ini suatu perjuangan untuk seluruh bangsa,” anggap Manneke.

    Sementara, Eva Tuckyta S. menyampaikan pandangan, Kartini sebagai sosok yang mengajarkan kita bermimpi, bersemangat dalam meraih cita-cita. Sebagaimana ia kutip dalam salah satu surat Kartini untuk Abendanon, berikut ini:

    Teruslah bermimpi, bermimpilah selama engkau dapat bermimpi…” demikian tulis Kartini dalam salah satu suratnya. 

    Eva mengatakan, Kartini seorang perempuan yang sangat mendambakan kemandirian, terutama kemandirian dalam dunia pendidikan.

    “Ia mengajarkan kita betapa pentingnya pendidikan, pendidikan bagi para perempaun di tanah air tercinta. Seperti dalam suratnya, saya pandang pendidikan itu sebagai kewajiban yang demikian mulia dan suci,” paparnya.

    Setelah 144 tahun sejak Kartini lahir, semangat Kartini telah menginspirasi para perempuan Indonesia. Perjuangan Kartini telah memberikan banyak manfaat bagi perempuan Indonesia.

    Dan, jejak emansipasi itu bisa diakses dalam surat-surat Kartini, yang kini mudah diakses dan telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa yang memungkinkan bisa dibaca lintas generasi. 

    Epilog dari kegiatan disampaikan Kepala Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas, Ade Mulyanah dengan menyampaikan informasi 106 surat kartini diterbitkan dalam Buku Habis Gelap Terbitlah Terang Digambarkan, Kartini sebagai figur intelektualitas perempuan ningrat jawa dengan pandangan dan pemikiran tentang kesetaraan wanita yang tetap punya ruang di antara kaum pria. Kartini adalah seorang penulis hebat yang memiliki adik cerita luar biasa. Kisah Kartini agar selalu menjadi inspirasi para perempuan Indonesia. Selamat Hari Kartini! 

    Kartini Gagas Perjuangan melalui Pesan Bahasa dan Seni

    Dikatakan oleh pewara, Darmawati Majid, Kartini dihormati bukan karena kebangsawanannya. Ia berhasil menarik perhatian masyarakat untuk mengusahakan pendidikan formal bagi perempuan Indonesia.

    Kartini dikenal sebagai tokoh perempuan yang penuh ide dengan daya juangnya di dunia pendidikan dan emansipasi. Kartini banyak mengingatkan dan mencatat konteks historis politik, sosial, budaya, dan bidang lainnya. Ia mengungkapkan gagasannya melalui kecintaannya dengan bahasa dan seni. 

    Mengutip,  pandangan sastrawan kenamaan Pramudya Ananta Tour atau Pram, Darmawati menyebutkan, Kartini adalah awal mula kebangkitan nasional di Indonesia, bahkan sebelum syarikat islam Budi Utomo. 

    Tampil dalam pembacaan surat-surat Kartini, Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko. Ia membacakan surat Kartini yang ditujukan kepada sahabat penanya, Rosa Abendanon tertanggal 28 Februari 1902.

    Surat yang dibacakannya menyuarakan agar untuk terus bermimpi menggapai sesuatu. Digambarkan, bagaimana orang berpikir, memberi ampun, dan harus punya mimpi. Surat ini menekankan manusia bukan benda mati, ia dapat berpikir dan merasakan, keduanya harus imbang.

    Pembacaan dilanjutkan oleh Plt. Sekretaris Utama, Nur Tri Aries S. Ia juga membacakan surat untuk Rosa Abendanon tertanggal 7 Oktober 1900 yang menginginkan kebebasan untuk mandiri.

    Selanjutnya, Kepala Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan, Sastri Sunarti membacakan satu prolog tentang mengapa Kartini itu penting. Dituturkan Sastri, Kartini merupakan perempuan pertama Indonesia yang memiliki akses terhadap kebersamaan.

    Ia memang tidak ikut mengangkat senjata di medan perang dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia melawan penjajahan hindia Belanda.  Ia juga bukan seseorang yang tampil di muka publik melalui pidato-pidatonya.

    “Namun pada masa itu, ia menggunakan retorika yang dikuasai bangsa Eropa melalui tulisan-tulisan hasil pemikirannya,” jelasnya.

    Selama tiga tahun, diceritakannya, Kartini menuliskan surat-surat untuk mengungkapkan kegelisahannya kepada para sahabat Belanda yang menjadi khalayak sasarannya sebagai orang-orang Eropa yang menjajah Indonesia.

    Meskipun ia seorang putri bangsawan Jawa, sebagai putri kraton yang selayaknya hidup nyaman, namun Kartini berjuang menjadi pencetus pergerakan indonesia, menyuarakan hak wanita. 

    Kemudian, pembacaan puisi juga dikemas dengan kompak oleh empat orang kamu pria yang merupakan para Kepala Pusat Riset (Pusris) di lingkungan OR Arbastra. Kekompakan itu ia ramu dalam sebuah gagasan cinta, empati, dan persahabatan. Para

    Kepala Pusris ini yaitu Sofyan Noerwidi, Wuri Handoko, Irfan Mahmud, dan Marlon Ririmasse. Pembacaan dilanjutkan oleh duo perempuan sivitas BRIN yang berasal dari Papua dan Aceh, sebagai suara Kartini Indonesia dari pelosok. Para perempuan pembawa peradaban ini membacakan cerita pendek yang dituliskan Kartini. Mereka yaitu Klementin Fairyo dan Fakhriati.

     

  • Ide Hampers Lebaran yang Ramah Lingkungan

    Ide Hampers Lebaran yang Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Perayaan Idul Fitri atau Lebaran 2023 sudah di depan mata, tapi kamu belum membeli hampers untuk orang-orang terkasih dan masih bingung untuk cari bingkisan lebaran yang tak biasa?

    Mungkin kini saatnya kamu coba pertimbangkan untuk membeli produk hampers lebaran dari produk lokal lagi ramah lingkungan

    Dilansir akun @cleanomic dengan membeli hampers lokal yang ramah lingkungan, kamu nggak hanya bisa memberi yang terbaik buat orang-orang yang  kamu sayangi, kamu juga sekaligus berbagi kebahagiaan dengan pemilik usaha kecil di daerahmu masing-masing. 

    Ingat, produk ramah lingkungan nggak hanya menggunakan bahan reuseable semata, tapi juga memiliki jejak karbon seminimal mungkin. Jadi mulailah menengok-nengok produk menarik di sekitar tempat tinggal kamu.

    Baca: Tips mudik ramah lingkungan

    Yuk, segera simak 6 ide bingkisan lebaran unik dan berkesan untuk kerabat, keluarga dan orang orang tersayang.

    1. Peralatan makan ramah lingkungan 

    Kamu bisa memberikan hampers berisi peralatan makanan yang terbuat dari kayu, serbet makan sebagai penggati tisue. Banyak sekali di online shop yang menjual produk ini. 

    Peralatan makanan yang terbuat dari kayu dapat membantu kita menghindari peralatan yang berbahan plastik. Dan pilihlah peralatan makanan yang sudah food grade dan bisa dipakai ulang.

    Selain aman saat digunakan, peralatan makan reuseable bisa ngurangi sampah yang dihasilkan.  Dengan begitu kamu dapat membantu melestarikan lingkungan.

    2. Sabun Organik

    Salah satu ide bingkisan lebaran yang out of the box yang bisa jadi pilihan kamu untuk hampers lebaran 2023 adalah sabun organik. Sabun ini unik karena terbuat dari bahan alami yang ramah lingkungan.

    Selain itu tampilan yang cantik dan tersedia dari berbagai warna. Atau jika ada waktu kamu bisa membuatnya sendiri. Masih ada waktu kok.

    3. Lilin Aroma Terapi

    Hampers Lebaran anti mainstream lagi ramah lingkungan selanjutnya adalah Lilin Aroma Terapi.

    Aroma dari lilin yang menenangkan dapat memberikan suasana kumpul keluarga yang menyenangkan dan memberikan kehangatan pada saat momen perayaan Idul Fitri. Akan lebih berkesan jika kamu membuat sendiri.

    Baca: Jejak perayaan lebaran yang tak ramah lingkungan 

    4. Makanan sehat 

    Yaps, untuk hampers yang satu ini pastinya saat berguna untuk kebutuhan sehari-hari. Kamu tidak perlu bingung apakah penerima suka atau tidak suka. Dibungkus dengan rapi, cantik dan estetik maka sembako akan terlihat menarik.

     

    5. Makanan khas Lebaran

    Menjelang Hari Raya Idul Fitri tentunya ada banyak pilihan makanan khas lebaran seperti Ketupat Sayur, Opor Ayam, Rendang, Sambal Goreng Ati, Lamang, Gulai Sayur dan masih banyak lagi. Jika kamu jago memasak bisa menghemat pengeluaran kamu. Dan jangan lupa untuk dibungkus ditempat yang unik agar semakin berkesan

    6. Tanaman hias

    Mungkin tanaman hias belum menjadi hal biasa untuk dijadikan hampers, tapi tak ada salahnya kamu coba. Selain unik, tanaman hias juga bagus untuk menjaga lingkungan.

    Nah, selain mengirim hampers Lebaran dalam bentuk makanan atau barang yang ramah lingkungan, kehadiranmu di samping orang-orang yang kamu sayangi adalah yang terpenting untuk memberikan kebahagiaan untuk mereka. Selamat merayakan Lebaran bersama keluarga.

  • Mengenal Sosok Ulama Buya Hamka lewat Film

    Mengenal Sosok Ulama Buya Hamka lewat Film

    7cloud.asia – Menyambut Lebaran 2023, kamu bisa menonton film biopik Buya Hamka yang mulai diputar di bioskop seluruh Indonesia pada Rabu 19 April 2023 kemarin. 

    Awalnya Buya Hamka yang diproduksi Falcon Pictures ini dijadwalkan tayang pada 20 April, tetapi kemudian dimajukan menjadi 19 April guna menyesuaikan jadwal cuti bersama yang berubah.

    “Semoga tanggal ini menjadi keberkahan,” kata Laudya Cynthia Bella, salah satu pemeran film tersebut, dalam pernyataan tertulisnya pekan lalu.

    Laudya Cynthia Bella berperan sebagai Sitti Raham, istri dari Buya Hamka, dalam film tersebut. Sedangkan, karakter Abdul Malik Karim Amrullah alias Buya Hamka diperankan oleh Vino G. Bastian.

    Film Buya Hamka yang diproduksi Falcon Pictures bersama Starvision ini diarahkan oleh Fajar Bustomi. Sedangkan naskahnya ditulis bersama oleh Alim Sudio dan Cassandra Massardi.

    Film biopik Buya Hamka berfokus pada tokoh dan ulama nasional yang bernama asli Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal sebagai Hamka. Film ini terdiri dari tiga bagian.

    Film Buya Hamka bagian pertama bercerita tentang fase kehidupan Buya Hamka setelah menikah. Film ini secara tajam menyoroti bagaimana Buya Hamka, sebagai Ulama Muhammadiyah, menyampaikan dakwah secara santun namun dengan karakter yang tegas dan kuat.

    Baca: Membaca pemikiran Kartini lewat surat-suratnya

    Dikisahkan pula, bahwa selain menjadi seorang ulama dan tokoh pemikir terkemuka, Buya Hamka juga aktif sebagai sastrawan yang produktif.

    Karya sastra Buya Hamka yang terkenal di antaranya Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk dan Di Bawah Naungan Ka’bah, sedangkan beberapa buku dakwah yang ditulisnya seperti tafsir Al Azhar, Tasawuf Modern, dan Falsafah Hidup.

    Selain itu, dalam film ini jelas tergambar bahwa Buya Hamka juga merupakan seorang pejuang kemerdekaan yang gigih melawan penjajah Belanda dan Jepang, khususnya melalui pidato pengobar semangat perjuangan dan tulisan-tulisannya.

    Produser Film Buya Hamka yakni Chand Parwez Servia dalam paparannya saat pemutaran perdana Film Buya Hamka, menyebutkan bahwa dirinya sangat mengagumi sosok Buya Hamka sebagai seorang kiai dan sastrawan nasionalis.

    Sehingga, ketika ditawari membuat film Buya Hamka, ia tidak berpikir panjang dan langsung menerimanya. 

    “Saya ingin cerita sedikit, jadi pada tahun 2014 Ketua MUI-nya masih Bang Din Syamsuddin, saya ditawari apakah berminat untuk membuat Film Buya Hamka. Singkat kata, tahun 2014 kami (langsung) memulai proses pembuatan filmnya,” terangnya.

    Menurut Parwez, proses pembuatan Film Buya Hamka sangat panjang, karena selain ingin menyajikan film yang sempurna juga terhalang pandemi Covid-19 yang merebak di seluruh dunia, termasuk Indonesia pada 2020. 

    “Kita menyadari bahwa kisah Buya Hamka ini harus disajikan dengan sempurna,” ujarnya.

    Parwez menyampaikan agar alur filnnya tuntas, maka Film Buya Hamka akan dibuat dalam 3 bagian dan di mana film yang pemutaran perdananya dihadiri Wapres merupakan bagian yang pertama.

    Ia berharap Film Buya Hamka, akan banyak bermanfaat dan memiliki pesan dakwah yang damai.

    Baca: Makna sumbu filosofi dalam tata kota Yogyakarta

    Sementara, Vino G. Sebastian yang memerankan sosok Buya Hamka sempat menceritakan tantangan dalam memerankan Buya Hamka. Salah satunya, ketika dirinya harus memerankan sosok tersebut ketika masih remaja.

    “(Tantangannya) bagaimana memerankan Buya Hamka saat berusia 16 tahun sementara saya usianya sudah 41 tahun,” kata Vino G. Bastian di Tanah Kusir, Jakarta Selatan, pada 30 Maret lalu.

    Terlebih, kata Vino, sikap Buya Hamka itu sangat dinamis. Vino pun akhirnya menemui langsung keluarga Buya Hamka agar tahu sosok sastrawan sekaligus pejuang kemerdekaan itu pada saat muda.

    Selain itu, Vino juga membaca catatan perjalanan hidup yang ditulis oleh Buya Hamka langsung untuk mempelajari perannya. Tidak hanya saat muda, melainkan juga saat Buya Hamka sudah tua.

    Vino juga merasa tantangan lain yang mesti membuatnya berbicara menggunakan bahasa Padang. Padahal, Vino merupakan keturunan Minang. Vino mengatakan dia juga harus belajar bahasa Arab karena Buya Hamka tidak hanya berbicara bahasa Minang semasa hidupnya.

    Selain Vino G. Bastian, film biopik Buya Hamka juga akan menampilkan Desy Ratnasari, Laudya Chintya Bella, Donny Damara, Ayu Laksmi, Rifnu Wikana, Reza Rahadian, Anjasmara, Marthino Lio, Mathias Muchus, dan Donny Kesuma.

    Bintang Indonesia lainnya yang ikut meramaikan film tersebut, seperti Ben Kasyafani, Mellya Baskarani, Ferry Salim, Mawar de Jongh, Wafda Lubis, hingga Cok Simbara.

  • Polusi dan Suhu Tinggi Picu Perkembangan Nyamuk Malaria

    Polusi dan Suhu Tinggi Picu Perkembangan Nyamuk Malaria

    7cloud.asia – Pada 2017, malaria membunuh 435 ribu orang di seluruh dunia. Sebagian besar kasus kematian – 403 ribu – terjadi di benua Afrika. Mayoritasnya di Afrika sub-Sahara.

    Saya dan kolega di Institut Nasional untuk Penyakit Menular melacak kasus malaria dan perilaku nyamuk di Afrika Selatan.

    Kami, dalam penelitian, mengamati tiga aspek utama. Salah satunya adalah pengaruh aktivitas manusia terhadap biologi nyamuk. Di sini kami melihat efek polusi logam berat pada berbagai ciri riwayat hidup serta ekspresi resistensi insektisida di Anopheles arabiensis, yang merupakan salah satu spesies nyamuk yang menularkan penyakit malaria.

     

    Kami juga melakukan penelitian mengenai dampak perubahan iklim terhadap kemanjuran insektisida yang ditujukan untuk vektor malaria.

    Kami kemudian melihat bagaimana efek suhu yang hangat pada vektor malaria utama, An. arabiensis.

    Nyamuk An. arabiensis sangat sulit dikendalikan. Selain resistensi insektisida yang sudah dilaporkan, mereka cenderung menghindari jaring dan dinding yang diberi insektisida. Nyamuk ini juga cenderung menggigit orang di luar ruangan, tempat ini hanya sedikit yang bisa dilakukan untuk perlindungan.

    Riset kami bertujuan untuk memahami aspek biologi nyamuk kompleks ini untuk melacak bagaimana perubahan lingkungan mempengaruhi perilaku hewan ini. Mudah-mudahan ini akan menginformasikan strategi pengendalian malaria dan membawa kita lebih dekat untuk menghilangkan penyakit ini.

    Racun-racun

    Tahap larva nyamuk adalah akuatik atau hidup dekat air. Tahap rentan ini sangat penting untuk kesejahteraan nyamuk dewasa. Ini mirip dengan kesehatan bayi manusia akan menentukan kesehatan masa depan orang dewasa.

    Banyak faktor lingkungan larva memiliki efek mendalam pada kesejahteraan nyamuk dewasa. Ini termasuk suhu lingkungan, tingkat kepadatan, dan akses nutrisi. Namun, aktivitas manusia telah mengakibatkan peningkatan tingkat polusi air, dan jentik nyamuk terpapar lebih banyak racun.

    Hal ini berdampak besar pada nyamuk penular malaria. Serangga ini biasanya berkembang biak di air bersih, tapi telah beradaptasi dengan berkembang biak di air yang tercemar. Ini berarti vektor malaria sekarang berpotensi meningkatkan jangkauan mereka ke daerah yang malaria biasanya tidak terjadi.

    Penelitian kami menunjukkan bahwa sumber air yang tercemar menjadi tempat berkembang biak nyamuk yang toleran atau tahan terhadap berbagai racun. Kami menemukan bahwa nyamuk dewasa yang terpapar logam sejak tahap larva menjadi resisten terhadap insektisida.

    Saat ini kami tidak tahu apakah nyamuk yang resisten terhadap insektisida atau rentan lebih baik dalam menularkan malaria. Tapi aktivitas pencemaran menghasilkan perluasan jangkauan dan perubahan prosedur seleksi pada nyamuk.

    Suhu pada insektisida dan nyamuk

    Penelitian lebih lanjut yang kami lakukan menunjukkan bahwa suhu tinggi juga mempengaruhi kemanjuran (efikasi) insektisida tertentu.

    Insektisida umumnya digunakan sebagai intervensi kesehatan masyarakat terhadap vektor malaria di beberapa negara Afrika seperti Afrika Selatan, Kamerun, dan Kenya. Mereka adalah bagian penting dari kebijakan dan strategi pengendalian malaria untuk menghilangkan penyakit tersebut.

    Temuan kami penting dalam upaya menentukan kemanjuran insektisida yang saat ini digunakan. Namun, penelitian kami berbasis di laboratorium dalam kondisi terkontrol sehingga masih harus diuji dalam kehidupan nyata. Pasalnya, suhu yang berbeda dapat memiliki efek yang berbeda. Kondisi lingkungan juga bervariasi dan dapat berdampak pada kemanjuran insektisida.

    Terkait nyamuk, penelitian kami menunjukkan bahwa suhu dapat berdampak signifikan pada siklus hidup serangga ini. Misalnya, perubahan iklim dapat mempengaruhi distribusi vektor malaria. Kami mempelajari bagaimana kenaikan suhu mempengaruhi vektor utama malaria. Kami berfokus secara khusus pada bagaimana vektor yang resisten terhadap insektisida terpengaruh vektor yang rentan terhadap insektisida.

    Nyamuk yang mengembangkan resistensi lebih toleran atau mampu bertahan terhadap  suhu tinggi dibandingkan nyamuk yang tidak resisten. Ini berarti bahwa ketika suhu naik, maka nyamuk bisa kebal terhadap insektisida. Ini akan mempersulit pengendalian malaria.

    Mengapa kita harus khawatir

    Aktivitas manusia mendorong evolusi nyamuk. Kegiatan pencemaran mengakibatkan nyamuk penular malaria meluas ke daerah yang sebelumnya tidak ada. Adaptasi terhadap polusi air menghasilkan peningkatan toleransi terhadap pestisida.

    Nyamuk yang tahan insektisida atau toleran lebih baik mengatasi polutan yang lebih beracun. Saat ini tidak diketahui apakah nyamuk ini lebih mungkin menularkan malaria daripada nyamuk yang rentan terhadap insektisida.

    Para ilmuwan baru mulai mengungkap apa artinya ini bagi pemberantasan malaria.

     Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris di The Conversation, untuk memperingati Hari Malaria Sedunia, 25 April.

  • Peran Besar Masyarakat Adat Hadapi Krisis Iklim

    Peran Besar Masyarakat Adat Hadapi Krisis Iklim

    Rumah Saphaw yang terbuat dari daun Mengkuang yang banyak tumbuh di pesisir pantai dan pulau-pulau kecil mampu kurangi dampak krisis iklim bagi Orang Suku Laut. Wengky AriandoAuthor provided (no reuse)

    Artikel ini telah terbit di The Conversation dan merupakan bagian dalam serial untuk merayakan Hari Kelautan Sedunia yang jatuh pada tanggal 8 Juni.


    7cloud.asia – Masyarakat adat yang jumlahnya sekitar 5% dari populasi dunia, merupakan salah satu kelompok paling rentan terhadap masalah sosial dan ekonomi, mulai dari kemiskinan, hak asasi manusia, hingga krisis iklim.

    Padahal, kelompok masyarakat adat ini memberikan kontribusi nyata bagi perlindungan keanekaragaman hayati serta menjaga keseimbangan ekosistem alam, baik daratan maupun lautan melalui pengetahuan tradisional yang mereka wariskan dari generasi ke generasi.

    Penelitian saya pada Oktober 2018 sampai dengan Januari 2019 menemukan bahwa kearifan ekologi lokal yang diterapkan oleh masyarakat adat, Orang Suku Laut, di Lingga, Kepulauan Riau, bisa menjadi cara yang efektif untuk bisa beradaptasi dengan krisis iklim yang kini terjadi.

     

    Orang Suku Laut dan perubahan iklim

    Orang Suku Laut adalah masyarakat asli Melayu yang sudah hidup berpindah-pindah mengarungi laut (sea nomadssejak abad ke-16.

    Suku ini tersebar di pesisir timur daratan Pulau Sumatra dan Kepulauan Riau.

    Populasi Orang Suku Laut tertinggi dapat ditemukan di Kabupaten Lingga, provinsi Kepulauan Riau. Mereka terdiri dari 30 kelompok, 806 kepala keluarga dan 3931 jiwa.

    Orang Suku Laut ini terdiri dari tiga kelompok yaitu kelompok yang masih hidup berpindah- pindah (nomadic groups), kelompok semi menetap (semi-nomadic groups) dan kelompok menetap (sedentary groups) sejak awal tahun 1990an.

     
    Peta lokasi Orang Suku Laut di Kabupaten Lingga.

    Penelitian saya berusaha melihat interaksi antara kebudayaan, kepercayaan adat, dan kemampuan adaptasi dari suatu entitas masyarakat atau kearifan ekologi lokal Suku Laut dalam mengatasi krisis iklim dengan menggunakan pendekatan sains ilmiah dan teknologi.

    Konsep kearifan ekologi lokal ini pertama kali dikenalkan oleh Firket Berkes, seorang ahli ekologi terapan Kanada dari University of Manitoba, pada tahun 1993.

    Dalam konteks perubahan iklim, kearifan ekologi lokal digunakan untuk mengetahui sistem pengetahuan kompleks dari masyarakat adat saat mereka harus beradaptasi terhadap dampak dari krisis iklim.

    Penelitian saya menemukan bahwa 80,18% Orang Suku Laut merasakan perubahan iklim membawa beberapa perubahan dalam kehidupan mereka.

    Perubahan itu termasuk berkurangnya ketersediaan sumber daya alam akibat peristiwa cuaca ekstrem, lalu peningkatan suhu yang berdampak pada pola musiman, semakin rentannya mereka terhadap penyakit, kelangkaan sumber air bersih, dan mata pencaharian mereka.

    Adaptasi perubahan iklim versi Orang Suku Laut

    Orang Suku Laut memiliki cara berpikir yang holistik yang mempertimbangkan kebudayaan leluhur dan keseimbangan alam sebagai sumber kehidupan.

    Penelitian saya membagi kemampuan beradaptasi Orang Suku Laut ke dalam tiga cara, yaitu praktik kebudayaan, kepercayaan adat, dan kemampuan adaptasi.

     
    KEL Orang Suku Laut dalam Perubahan Iklim.

    1) Praktik Kebudayaan

    Orang Suku Laut memiliki praktik kebudayaan membuat prakiraan cuaca dengan melihat tanda-tanda alam, dari arah angin, pergerakan ikan atau burung, observasi langsung ke langit, arus laut, dan suhu laut.

    Mereka juga memiliki praktik kebudayaan berpindah mengikuti perubahan musim tahunan untuk mengurangi ancaman hidrometeorologis (kemarau panjang dan badai laut).

    Praktik kebudayaan dari Orang Suku Laut merupakan pengetahuan tradisional yang saat ini masih dilakukan dan bisa direplikasi oleh kelompok bukan-masyarakat-adat.

    Kalender musiman Orang Suku Laut sangat dipengaruhi oleh pola curah hujan monsoon.

    Orang Suku Laut mengenal adanya Musim Utara yang memiliki bencana hidrometeorologi tertinggi, Musim Timur dengan produktivitas perikanan yang tinggi, Musim Selatan adalah musim kemarau, dan terakhir Musim Barat yang disebut sebagai musim hujan.

    Semua pola praktek kebudayaan Orang Suku Laut mengikuti perubahan musim ini.

    2) Kepercayaan Adat

    Dalam teori kearifan ekologi lokal, para ilmuwan memandang kepercayaan adat, yang menganut konsep tabu dan sistem ketuhanan seperti konsep agama lainnya, sebagai bagian dari praktik holistik masyarakat adat dalam manajemen lingkungan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

    Salah satu kepercayaan adat yang masih digunakan Orang Suku Laut adalah pantang larang, sebuah tata aturan turun temurun yang digunakan untuk menumbuhkan kesadaran hukum adat dari Orang Suku Laut yang dikaitkan dengan sisi spiritual, misalnya pantang larang melaut, menebang pohon, menangkap jenis spesies tertentu.

    Bagi nenek moyang Orang Suku Laut, pantang larang ini berkaitan dengan penggunaan ilmu dan pengasih yaitu berupa kemampuan magis seperti ilmu mengurangi intensitas hujan dan menghindari badai ketika di tengah laut.

    Penerapan kepercayaan adat ini merupakan bentuk kearifan ekologi lokal yang dinamis dan reflektif. Kepercayaan ini juga mudah dihubungkan dengan spiritualitas dan tabu yang bertujuan untuk melindungi alam.

     
     
    Kearifan ekologi lokal dari Orang Suku Laut merupakan tata aturan yang sudah ada turun temurun. Wengky AriandoAuthor provided (no reuse)

    3) Kemampuan Adaptasi

    Studi ini menemukan bahwa kemampuan adaptasi yang terlihat dari Orang Suku Laut adalah bentuk arsitektural bangunan mereka dan praktik migrasi lokal.

    Bangunan Orang Suku Laut memiliki gaya arsitektur vernakular, yaitu arsitektur yang menggunakan bahan-bahan lokal dan pengetahuan lokal yang terbentuk karena proses budaya dan adat yang lama.

    Hal ini bisa dilihat dari rumah panggung tancap (Saphaw) dan Sampan Kajang mereka yang terbuat dari kayu Mentango atau Bintangur, yaitu pohon bertekstur keras yang tersebar di daerah tropis dan dataran rendah seperti di Kepulauan Riau.

    Sedangkan, atap dan dinding rumah terbuat dari daun Mengkuang, sejenis pandan berduri yang dapat tumbuh di pesisir pantai dan pulau-pulau kecil daerah tropis.

    Kemampuan adaptasi masyarakat adat, seperti dalam menentukan bentuk arsitektural bangunan berbasis pengetahuan adat ini, telah teruji dapat mengurangi risiko keterpaparan Orang Suku Laut terhadap badai laut, kenaikan suhu udara, dan kondisi cuaca ekstrem karena mengadopsi prinsip ekologi dan berkelanjutan.

    Selain itu, migrasi lokal dari satu pulau ke pulau lain ketika musim utara datang seperti terjadinya badai laut, juga menjadi kemampuan adaptasi dari Orang Suku Laut.

    Pola migrasi musiman ini dapat ditemukan sebagai strategi adaptasi untuk iklim musim yang berbeda.

    Migrasi ini dilakukan Orang Suku Laut untuk melindungi diri dari ancaman kekeringan, pasang naik, kejadian iklim ekstrem serta wabah penyakit dan konflik kelompok.

    Rekomendasi dan Pengembangan

    Penelitian saya juga menunjukkan bahwa 55% Orang Suku Laut menyadari bahwa mereka harus mengintegrasikan sains dan teknologi terapan beserta kearifan lokal mereka untuk meningkatkan kapasitas beradaptasi mereka terhadap perubahan iklim.

    Namun, masih ada beberapa tantangan Orang Suku Laut dalam menggunakan kearifan ekologi lokal untuk adaptasi perubahan iklim. Tantangan itu antara lain degradasi kepercayaan adat atau penurunan praktik berkaitan dengan kepercayaan adat, seperti ritual dan mantra yang sudah tidak dipakai lagi karena mereka sudah menganut agama baru (Islam atau Kristen).

    Arah kebijakan pemerintah belum banyak memperhatikan kearifan ekologi lokal, serta situasi sosial, ekonomi dan politik baik tingkat lokal maupun nasional.

    Rencana Aksi Nasional tentang Adaptasi Perubahan Iklim sebaiknya memasukkan kearifan ekologi lokal sebagai bentuk upaya adaptasi yang berbasis masyarakat.

    Selain itu, harus ada riset lebih lanjut yang lintas disiplin ilmu tentang masyarakat adat dan perubahan iklim.

    Rekomendasi lainnya adalah menggunakan skema Free, Prior, and Informed Consent (FPIC) atau dikenal juga dengan Paditapa, persetujuan atas dasar informasi di awal tanpa paksaan bagi masyarakat adat terhadap agenda-agenda pembangunan yang dilaksanakan di atas wilayah adat.

    Ini untuk memastikan masyarakat adat dapat mendapatkan haknya untuk menentukan arah pembangunan yang bersinggungan dengan tatanan dan wilayah adat untuk mencapai pembangunan sumber daya alam berkelanjutan berbasis masyarakat.

    Penulis: Wengky Ariando, PhD Researcher, Research Unit on Indigenous Peoples and Development Alternatives, Social Research Institute, Chulalongkorn University

     
  • Hari Buruh Sedunia: Perjuangan Panjang Kelas Pekerja untuk Kerja Layak

    Hari Buruh Sedunia: Perjuangan Panjang Kelas Pekerja untuk Kerja Layak

    7cloud.asia – Hari ini, Senin (1/5/2023) jutaan buruh atau pekerja di seluruh dunia memperingati Hari Buruh yang juga dikenal dengan sebutan May Day.

    Di sejumlah negara, termasuk Indoesia Hari Buruh atau May Day ditetapkan sebagai hari libur. Penetapan Hari Buruh sebagai hari libur ini berawal dari usaha gerakan serikat buruh untuk merayakan keberhasilan ekonomi dan sosial para pekerja. 

    Dikutip dari laman resmi International Labour Organization (ILO), tema Hari Buruh atau May Day 2023 adalah World Day for Safety and Health at Work 2023 atau Hari Keselamatan dan Kesehatan Kerja Sedunia 2023.

    Disebutkan, lingkungan kerja yang aman dan sehat merupakan prinsip dasar dan hak seluruh pekerja di tempat kerja. 

    Memperingati Hari Buruh atau May Day tahun ini, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menargetkan 100 ribu pekerja berdemonstrasi di Istana Negara dan Gedung Mahkamah Konstitusi (MK).

    Aksi serupa juga akan digelar di kantor-kantor pemerintahan di daerah untuk memperingati Hari Buruh atau May Day ini. Penolakan terhadap Perppu Cipta Kerja yang dinilai lebih berpihak kepada investor menjadi salah satu isu yang diusung dalam aksi Hari Buruh hari ini. 

    Baca: Peran masyarakat adat hadapi perubahan iklim

    Mungkin kamu bertanya-tanya mengapa Hari Buruh disebut sebagai May Day dan diperingati setiap tanggal 1 Mei. Untuk membahasnya simak artikel ini sampai habis. 

    Dilansir di wikipedia, Hari Buruh lahir dari berbagai rentetan perjuangan kelas pekerja untuk meraih kendali ekonomi-politis hak-hak industrial. Lahirnya Hari Buruh tak bisa dilepaskan dari perkembangan kapitalisme industri di awal abad 19 yang memicu perubahan besar di negara-negara kapitalis di Eropa Barat dan Amerika Serikat. 

    Pengetatan disiplin dan pengintensifan jam kerja, minimnya upah, dan buruknya kondisi kerja di tingkatan pabrik, melahirkan perlawanan dari kalangan kelas pekerja. Kondisi ini memicu pemogokan yang pertama kali dilakukan kelas pekerja Amerika Serikat pada tahun 1806 oleh pekerja Cordwainers.

    Pemogokan ini membawa para pengorganisirnya ke meja pengadilan dan juga mengangkat fakta bahwa kelas pekerja pada era tersebut bekerja dari 19 sampai 20 jam seharinya. Sejak saat itu, perjuangan untuk menuntut pengurangan jam kerja menjadi agenda bersama kelas pekerja di Amerika Serikat.

    Ada dua orang yang dianggap telah berperan dalam lahirnya Hari Buruh untuk menghormati para pekerja, Peter McGuire dan Matthew Maguire, seorang pekerja mesin dari perusahaan Paterson, New Jersey AS. 

    Pada tahun 1872, McGuire dan 100.000 pekerja melakukan aksi mogok untuk menuntut mengurangan jam kerja. McGuire lalu melanjutkan dengan berbicara dengan para pekerja and para pengangguran, melobi pemerintah kota untuk menyediakan pekerjaan dan uang lembur.

    Karena aksinya ini McGuire kemudian terkenal dengan sebutan “pengganggu ketenangan masyarakat”. McGuire kemudian melakukan pengorganisasian pekerja menurut bidangnya masing-masing. Serikat Pekerja inilah yang kemudian mendorong lahirnya Hari Buruh.

    Baca: Ribuan desa pesisir terancam musnah akibat perubahan iklim

    Pada 5 September 1882, parade Hari Buruh pertama diadakan di kota New York dengan peserta 20.000 orang yang membawa spanduk bertulisan 8 jam kerja, 8 jam istirahat, 8 jam rekreasi. Maguire dan McGuire memainkan peran penting dalam menyelenggarakan parade ini. Dalam tahun-tahun berikutnya, gagasan ini menyebar dan semua negara bagian merayakannya.

    Kongres Internasional Pertama diselenggarakan pada September 1866 di JenewaSwiss, dihadiri berbagai elemen organisasi pekerja belahan dunia. Kongres ini menetapkan sebuah tuntutan mereduksi jam kerja menjadi delapan jam sehari, yang sebelumnya (masih pada tahun sama) telah dilakukan National Labour Union di AS:

    Sebagaimana batasan-batasan ini mewakili tuntutan umum kelas pekerja Amerika Serikat, maka kongres mengubah tuntutan ini menjadi landasan umum kelas pekerja seluruh dunia.

    Satu Mei ditetapkan sebagai hari perjuangan kelas pekerja dunia pada Kongres 1886 oleh Federation of Organized Trades and Labor Unions untuk, selain memberikan momen tuntutan delapan jam sehari, memberikan semangat baru perjuangan kelas pekerja yang mencapai titik masif pada era tersebut.

    Tanggal 1 Mei dipilih sebagai Hari Buruh karena pada 1884 Federation of Organized Trades and Labor Unions, yang terinspirasi oleh kesuksesan aksi buruh di Kanada 1872,[1] menuntut delapan jam kerja di Amerika Serikat dan diberlakukan mulai 1 Mei 1886.

    Pada tanggal 1 Mei tahun 1886, sekitar 400.000 buruh di Amerika Serikat mengadakan demonstrasi besar-besaran untuk menuntut pengurangan jam kerja mereka menjadi 8 jam sehari. Aksi ini berlangsung selama 4 hari sejak tanggal 1 Mei.

    Pada tanggal 4 Mei 1886. Para Demonstran melakukan pawai besar-besaran, Polisi Amerika kemudian menembaki para demonstran tersebut sehingga ratusan orang tewas dan para pemimpinnya ditangkap kemudian dihukum mati, para buruh yang meninggal dikenal sebagai martir. Sebelum peristiwa 1 Mei itu, di berbagai negara, juga terjadi pemogokan-pemogokan buruh untuk menuntut perlakukan yang lebih adil dari para pemilik modal.

    Kongres sosialis dunia kuatkan Hari Buruh

    Pada bulan Juli 1889, Kongres Sosialis Dunia yang diselenggarakan di Paris menetapkan peristiwa di AS tanggal 1 Mei itu sebagai hari buruh sedunia dan mengeluarkan resolusi berisi:

    Sebuah aksi internasional besar harus diorganisir pada satu hari tertentu dimana semua negara dan kota-kota pada waktu yang bersamaan, pada satu hari yang disepakati bersama, semua buruh menuntut agar pemerintah secara legal mengurangi jam kerja menjadi 8 jam per hari, dan melaksanakan semua hasil Kongres Buruh Internasional Prancis.

    Resolusi ini mendapat sambutan yang hangat dari berbagai negara dan sejak tahun 1890, tanggal 1 Mei, yang diistilahkan dengan May Day, diperingati oleh kaum buruh di berbagai negara, meskipun mendapat tekanan keras dari pemerintah mereka.

    Indonesia mulai memeringati Hari Buruh pada 1 Mei sejak tahun 1920. Tapi sejak masa pemerintahan Orde Baru hari Buruh tidak lagi diperingati di Indonesia, dan sejak itu, 1 Mei bukan lagi merupakan hari libur untuk memperingati peranan buruh dalam masyarakat dan ekonomi.

    Hal ini disebabkan karena rezim Orde Baru menghubungkan gerakan buruh atau pekerja dan Hari Buruh dengan gerakan dan paham komunis dan partai komunis Indonesia. Semasa Soeharto berkuasa, aksi untuk peringatan Hari Buruh atau May Day masuk tindakan subversif, karena May Day selalu dikonotasikan dengan ideologi komunis.

    Konotasi ini jelas tidak pas, karena mayoritas negara-negara di dunia ini (yang sebagian besar menganut ideologi nonkomunis, bahkan juga yang menganut prinsip antikomunis), menetapkan tanggal 1 Mei sebagai Labour Day dan menjadikannya sebagai hari libur nasional.

    Peringatan hari buruh sedunia pra reformasi, sebelum mundurnya Presiden Soeharto, diperingati pada tanggal 1 Mei 1998, bertempat di Kampus FKUI Salemba, Jakarta. Diinisiasi STOVIA (organisasi gerakan mahasiwa FKUI Salemba), KBUI (Keluarga Besar UI) dan KOBAR (Komite Buruh untuk Aksi Reformasi). Aksi pada 1 Mei 1998 ini hanya dihadiri oleh Mahasiswa sementara elemen gerakan buruh saat itu dihadang oleh aparat di depan LBH Jakarta.

    Peringatan pada 1 Mei tetap berlangsung tanpa kehadiran elemen gerakan buruh. Aksi gabungan peringatan Hari Buruh sedunia 1 Mei 1998 dilakukan lagi sehari sesudahnya pada tanggal 2 Mei 1998, tetap bertempat di Kampus FKUI Salemba, bersamaan dengan hari Pendidikan Nasional dan dihadiri oleh massa gerakan buruh dan gerakan mahasiswa.

    Setelah era Orde Baru berakhir, walaupun bukan hari libur, setiap tanggal 1 Mei kembali marak dirayakan sebagai Hari Buruh oleh para pekerja di Indonesia dengan demonstrasi di berbagai kota.

    Kekhawatiran bahwa gerakan massa buruh yang dimobilisasi setiap tanggal 1 Mei membuahkan kerusuhan, ternyata tidak pernah terbukti. Sejak peringatan May Day tahun 1999 hingga 2006 tidak pernah ada tindakan destruktif yang dilakukan oleh gerakan massa buruh yang masuk kategori “membahayakan ketertiban umum”.

    Yang terjadi malahan tindakan represif aparat keamanan terhadap kaum buruh, karena mereka masih memegang paradigma lama yang menganggap peringatan May Day adalah subversif dan didalangi gerakan komunis.

    Kini Hari Buruh dirayakan secara masif setiap tahun. Hari Buruh dirayakan jutaan pekerja untuk merayakan kerja mereka sekaligus menyuarakan tuntutan pekerja akan kondisi layak kerja. 

    Esti Utami, dari berbagai sumber

     

  • Mengenal Uniknya Tradisi Seba Masyarakat Badui, Tahun Ini Singgung Hak Politik

    Mengenal Uniknya Tradisi Seba Masyarakat Badui, Tahun Ini Singgung Hak Politik

    7cloud.asia – Ribuan masyarakat adat Badui yang tinggal di kawasan tanah hak ulayat adat di pedalaman Kabupaten Lebak, Jumat (28/4/2023) melakukan ritual Tradisi Seba di Pendopo Pemkab Lebak, Banten. 

    Acara tahunan Tradisi Seba masyarakat Badui ini akan berlangsung hingga Minggu (30/4/2023) mendatang. Tradisi Seba ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik lokal maupun wisatawan mancanegara. 

    Selama ini masyarakat Badui dikenal sebagai salah satu suku yang menutup diri dari dunia luar. Namun, saat upacara perayaan tradisi seba, ribuan orang Badui, baik Badui Luar maupun Badui Dalam akan melaksanakan perjalanan jauh dari Desa Kanekes ke Kota Serang, ibu kota Provinsi Banten.

    Tradisi Seba diwariskan secara turun-temurun dan kini menjadi acara yang dinanti-nanti masyarakat. Meski begitu masyarakat suku Badui tetap menjaga makna filosofi leluhur mereka.
     
    Dikutip dari laman kemdikbud.go.id, berikut 6 fakta menarik Tradisi Seba Badui yang tahun ini berlangsung sejak Jumat kemarin.
     

    1. Setahun sekali 

    Tradisi Seba Badui merupakan ritual adat yang telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Tradisi Seba diturunkan dari nenek moyang orang Badui ini digelar setahun sekali untuk menyatakan penghormatan kepada penguasa atau pembesar daerah setempat.

    Tradisi Seba Badui biasanya dilaksanakan setiap tahun setelah prosesi puasa selama tiga bulan (Ngawalu) dan berbagi pada saudara serta keluarga (Ngaraksa) selesai dilakukan.

    Dalam Tradisi Seba ini, seluruh masyarakat Badui, terutama para pria akan ikut serta turun gunung menuju kota dan menghadap penguasa daerah atau penggede.

    Penggede yang dimaksud adalah orang-orang yang menjabat di roda pemerintahan, seperti bupati dan juga gubernur. Sebab, suku Badui tinggal di kawasan Lebak, maka pemimpin daerah yang dituju adalah bupati Lebak dan gubernur Banten.

    2. Tidak ada jadwal pasti

    Keunikan Tradisi Seba selanjutnya adalah tidak memiliki jadwal atau waktu yang pasti setiap pelaksanaan setiap tahunnya.

    Jadwal pelaksanaan Seba baru akan diketahui setelah puun atau tokoh adat Badui menerima wangsit dan menyampaikannya pada pemerintah setempat. Setelah itu baru akan dilakukan persiapan pelaksnaan Tradisi Seba.

    3. Penyerahan hasil bumi 

    Dalam bahasa Badui, “Seba” berarti seserahan. Dalam acara tradisi ini, masyarakat Badui akan turun gunung membawa serta hasil pertanian atau hasil bumi mereka, mulai dari pisang, padi, durian, gula aren, dan palawija.

    Seluruh hasil pertanian itu akan dibawa ke kota untuk diberikan kepada penggede. Penyerahan seserahan ini juga menjadi cara mereka mewujudkan rasa hormat terhadap pimpinan-pimpinan di daerah sekaligus bersilaturahmi.

    Tradisi Seba juga memiliki arti bahwa urang kanekes mengaku sebagai bagian dari Republik Indonesia.

    4. Diskusi dan penyampaian wasiat

    Tidak hanya sebagai tradisi yang bermakna mendalam, Tradisi Seba Badui juga digunakan untuk menyampaikan wasiat dari para leluhur adat.

    Secara garis besar, wasiat yang disampaikan tidak akan jauh-jauh dari imbauan untuk menjaga lingkungan dan kelestarian alam.

    Namun, dalam beberapa kesempatan, ada pula makna-makna lain yang terselip di dalam Tradisi Seba ini. Hanya saja karena tak disampaikan secara gamblang, tak semua orang dapat memahami wasiat tersebut.

    Salah satu contoh adalah ketika terjadi Tsunami Selat Sunda pada akhir 2018 lalu. Kejadian itu rupanya telah ‘diramalkan’ masyarakat Badui sejak jauh-jauh hari.

    5. Moment bertemu dengan Suku Badui Dalam

    Secara gaya hidup, masyarakat Badui Luar dan Badui Dalam memiliki perbedaan yang cukup signifikan.

    Masyarakat Badui luar cukup terbuka terhadap informasi dan teknologi. Mereka sudah mau mengenakan pakaian berwarna dan bergaya seperti kaus dan celana panjang. Badui Luar juga sudah menggunakan teknologi, seperti ponsel atau listrik.

    Sementara Badui Dalam tetap patuh dengan leluhur untuk hidup tanpa teknologi modern. Namun, dalam tradisi seba Badui, kedua komunitas Badui ini akan berkumpul dan berjalan bersama dari Lebak menuju kediaman Gubernur untuk memberikan persembahan terbaik dari hasil bumi mereka.

    Saat pelaksanaan Tradisi Seba inilah, masyarakat luas dapat bertemu dengan mastarakat suku Badui Dalam.

    Baca: Cara masyarakat adat hadapi perubahan iklim

    6. Libatkan ribuan orang

    Setiap kali Tradisi Seba dilaksanakan, jumlah pesertanya dapat mencapai ribuan orang. Baik Badui Dalam maupun Badui Luar akan berjalan kaki bersama, sambil membawa seserahan mereka.

    Saat mengikuti Tradisi Seba, orang Badui Luar biasanya mengenakan pakaian hitam dengan ikat kepala berwarna biru. Sementara Badui Dalam akan mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna putih.

    Selain itu, Badui Luar juga diperbolehkan menggunakan kendaraan bermotor, baik itu motor maupun mobil. Sebaliknya, Badui Dalam tidak diperbolehkan menggunakan kendaraan bermotor sama sekali.

    Menjelang Pemilu 2024 ini tetua masyarakat adat Badui berharap dapat berpartisipasi untuk menggunakan hak politik kami.

    Pemuka adat Badui yang juga Kepala Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak Jaro Saija mengatakan masyarakat Badui bebas untuk menggunakan hak politik pada Pemilu 2024, karena tidak ada larangan dari lembaga adat.

    “Kita berharap Pemilu 2024 berjalan damai tanpa menimbulkan perpecahan,” katanya menjelaskan.

    Menurut dia, walaupun masyarakat Badui di kawasan pegunungan kendeng masih kuat terhadap aturan dari lembaga adat. Namun, masyarakat Badui memiliki kewajiban untuk menyukseskan pemilu dengan menggunakan hak politik mereka agar lancar dan terpilih pemimpin berdasarkan nurani hati masyarakat.

    Sebetulnya, pemuka adat melarang warga Badui mengikuti Pemilu karena khawatir menimbulkan perpecahan, salah satu alasannya, bila saja calon kandidat itu tidak terpilih, tentu menimbulkan sakit hati.

    Ia mengatakan pihaknya berharap KPU dan pemerintah Kabupaten Lebak lebih maksimal untuk menyosialisasikan pemilu 2024, karena waktunya kurang tinggal setahun lagi.

    Selama ini, masyarakat Badui mengikuti pemilu dengan syarat tidak ada kampanye juga atribut partai di kawasan hak tanah ulayat Badui.

    “Kami mendukung pemilu damai dan kondusif karena menjadikan kewajiban untuk memilih calon pemimpin bangsa ini,” katanya seperti dikutip Antaranews.com.

    Esti Utami, dari berbagai sumber

     
     
  • Kenali 5 Ciri Produk Ramah Lingkungan yang Aman Kamu Pakai

    Kenali 5 Ciri Produk Ramah Lingkungan yang Aman Kamu Pakai

    7cloud.asia – Masyarakat dunia saat ini berbondong-bondong mencari produk ramah lingkungan dan aman untuk konsumen untuk mewujudkan hidup yang lebih lestari dan berkelanjutan.

    Sebagai contoh, selain permintaan akan produk-produk organik maupun Produk Ramah Lingkungan ,  saat  ini,  juga  tengah  berkembang  isu  perdagangan  karbon  yang  dapat menjadi tantangan sekaligus peluang,

    Makin ke sini semakin banyak warga dunia yang membeli produk bukan sekadar dari harga dan manfaat semata. Ada hal lain yang menjadi pertimbangan yakni apakah barang tersebut masuk kategori sebagai Produk Ramah Lingkungan. 

    Bahkan, bagi sebagian orang, menggunakan produk ramah lingkungan adalah kewajiban sekaligus cara mereka untuk terlibat dalam kelestarian lingkungan hidup.

    Lantas, seperti apa sebenarnya produk ramah lingkungan itu? Dilansir cleanpedia.com, produk ramah lingkungan dapat didefinisikan sebagai barang yang diproduksi sesuai prinsip ramah lingkungan.

    Adapun prinsip ramah lingkungan bisa dijabarkan seperti berikut ini:

    • Tidak menggunakan bahan-bahan yang berbahaya bagi lingkungan.
    • Proses uji cobanya tidak melibatkan binatang.
    • Memanfaatkan bahan kemasan ramah lingkungan dari hasil daur ulang.
    • Produk atau kemasannya bisa didaur ulang setelah digunakan.
    • Penggunaan energi dan sumber daya lainnya selama proses produksi terbilang rendah.
    • Rendah jejak karbon dalam produksi dan rantai distribusinya

    Baca: Dua alasan untuk segera beralih ke mobil listrik

    Beberapa manfaat yang bisa didapatkan jika menggunakan produk ramah lingkungan antara lain adalah: 

    • Membantu mengurangi jumlah sampah, limbah jangka panjang, atau polusi yang mencemari lingkungan karena produk ramah lingkungan bisa diurai.
    • Mendukung gaya hidup hemat diri sendiri dan keluarga karena produk ramah lingkungan biasanya tahan lama dan bisa digunakan berulang kali selama bertahun-tahun.
    • Meminimalkan dampak berbahaya bagi diri sendiri maupun keluarga. Pada umumnya produk yang tidak ramah lingkungan masih menggunakan bahan berbahaya yang menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan dalam jangka panjang.
    • Mendukung perkembangan industri kreatif untuk memproduksi produk ramah lingkungan dalam jumlah banyak.
    • Menjadi teladan bagi orang lain untuk menjalani gaya hidup ramah lingkungan seperti yang sudah kamu lakukan.

    Di luar sana, ada banyak produsen yang mengeklaim bahwa barang produksinya sebagai produk ramah lingkungan, tetapi untuk menguji kebenarannya ada  lima hal yang patut kamu perhatikan saat memilih Produk Ramah Lingkungan demi mewujudkan Indonesia Lestari.

    Kelima syarat itu adalah:

    1. Penggunaan bahan ramah lingkungan (renewable),

    Jika kamu belum menggunakan Produk Ramah Lingkungan, tak pernah ada kata terlambat untuk mewujudkan kepedulian lingkungan melalui hal-hal kecil, salah satunya yaitu menggunakan Produk Ramah Lingkungan.

    Beberapa produk berikut ini biasanya dijual dengan kemasan ramah lingkungan, terbuat dari bahan alami, dan efektif mendukung pelestarian lingkungan:

    Botol minum:
    Produk Ramah Lingkungan yang satu ini sebenarnya sudah familiar sejak 2 dekade lalu. Kini, semakin banyak orang menggunakan botol minum pribadi dengan alasan kehigienisan dan ramah lingkungan.

    Kamu bisa memilih botol minum dengan bentuk dan fungsi sesuai kebutuhan, misalnya membeli tumbler berbentuk cup untuk menyimpan minuman panas atau botol minum berukuran besar untuk mendukung aktivitas olahraga.

    Tas belanja:
    Salah satu contoh konkret gerakan Bijak Plastik yang semakin gencar dilakukan adalah meniadakan kantong plastik untuk belanja.

    Itulah sebabnya Anda wajib menggunakan tas belanja agar tidak kerepotan membawa barang-barang setelah belanja di hypermarket, supermarket, minimarket, pasar tradisional, atau tempat lainnya.

    Alat makan kayu:
    Olahan kayu berupa peralatan makan kini sedang menjadi tren karena sangat estetik dan bersifat ramah lingkungan. Penggunaan alat makan kayu juga tak kalah dibandingkan peralatan plastik karena teksturnya ringan dan mudah bersih.

    Wadah non-plastik:
    Selain alat makan kayu, produk ramah lingkungan lainnya yang mesti Anda gunakan di rumah adalah wadah non-plastik yang terbuat dari stainless steel, keramik, atau kaca.

    Selain bersifat ramah lingkungan bila digunakan berkali-kali, wadah non-plastik juga tidak menimbulkan zat kimia berbahaya jika digunakan untuk makanan atau minuman panas.

    Pembalut kain atau menstrual cup:
    Satu produk ramah lingkungan lagi yang populer di kalangan wanita modern adalah pembalut kain atau menstrual cup.

    Kedua produk ini diformulasikan untuk penggunaan berulang kali sehingga membuat Anda lebih hemat dan tidak menimbulkan tumpukan sampah baru bagi lingkungan.

    Produk kebutuhan rumah tangga lainnya:
    Saat ini, Unilever berkomitmen menghadirkan berbagai produk ramah lingkungan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga Anda. Tak hanya terbuat dari bahan-bahan alami, produk tersebut juga dilengkapi kemasan ramah lingkungan yang bisa didaur ulang.

    Jadi mulai sekarang gunakan Produk Ramah Lingkungan demi kelestarian lingkungan dan kelangsungan kehidupan di planet Bumi.