Mengenal Lebih Dekat Ekonomi Sirkuler yang Lebih Ramah Lingkungan

Written by

in

7cloud.asia – Kita membuat, mengonsumsi, dan membuang barang tanpa menyadari bahwa ada lebih banyak hal tentang sampah daripada yang terlihat.

Beberapa material mungkin akan terdegradasi setiap kali didaur ulang, tetapi ada banyak bahan lain yang dapat diubah tanpa batas, tanpa kehilangan nilainya.

Memahami bahan mana yang dapat didaurulang mengubah cara kita membangun, membeli, dan berpikir tentang keberlanjutan. Dalam tulisan ini akan kita bahas bagaimana kita dapat berkontribusi pada lingkungan dengan mendorong guna ulang dan daur ulang.

Sekarang, coba lihat sekeliling Anda. Benda-benda yang Anda gunakan setiap hari, ponsel Anda, cangkir kopi Anda, kursi Anda, kemungkinan besar terbuat dari logam, kaca, bahan alami seperti kayu, atau plastik.

Tetapi pernahkah Anda berhenti sejenak untuk bertanya-tanya apa yang terjadi pada bahan-bahan ini setelah mencapai akhir masa pakainya?

Meskipun banyak dari kita familiar dengan gagasan daur ulang, lebih sedikit yang tahu bahwa beberapa material dapat didaur ulang tidak hanya sekali atau dua kali, tetapi hampir tanpa batas, mempertahankan nilai dan fungsinya di berbagai siklus hidup.

Konsep ini merupakan inti dari pergeseran besar dalam cara kita berpikir tentang konsumsi, sampah, dan keberlanjutan.

Baca: UNEP Dorong Ekonomi Sirkuler untuk Keberlanjutan Lingkungan

Ekonomi Sirkuler
Dalam upaya untuk mendekarbonisasi ekonomi dalam menghadapi krisis iklim, banyak perhatian tertuju pada energi terbarukan, kendaraan listrik, dan penangkapan karbon.

Namun, ada pengungkit lain yang sama kuatnya yang sering beroperasi di balik layar, yakni ekonomi sirkular, yang juga disebut sirkularitas.

Sirkularitas bukan hanya strategi pengelolaan limbah, tetapi juga pemikiran ulang sistemik tentang bagaimana kita merancang, memproduksi, dan mengonsumsi.

Sebuah pemikiran yang membayangkan kembali limbah sebagai sumber daya, merangkul penggunaan kembali daripada mengganti perabot dengan yang baru, dan melihat nilai dalam material jauh setelah masa pakainya yang pertama.

Dan, yang terpenting, ekonomi sirkular memiliki potensi besar untuk mengurangi emisi gas rumah kaca di setiap sektor industri.

Dalam ekonomi linier, kita diajarkan untuk memperlakukan produk dengan pola pikir “sekali pakai”; menggunakannya sekali, lantas membuangnya, untuk kemudian beralih ke yang lain.

Ekonomi daur ulang mendorong kita untuk mengambil material dan menggunakannya kembali apa adanya, atau mengubahnya menjadi sesuatu yang lain untuk digunakan.

Ekonomi sirkuler cenderung menghilangkan model “ambil, buang, buat” dan meminta kita untuk mencoba menggunakan material tanpa batas. Banyak hal yang menjadi dasar ekonomi sirkular bergantung pada material apa yang dimasukkan ke dalam siklus sirkular.

Baca: Penutupan TPA Open Dumping Bakal Mendorong Ekonomi Sirkular

Sistem Siklus Terbuka vs Sistem Siklus Tertutup
Sirkularitas dapat terjadi dalam dua cara utama; dapat terjadi dalam sistem siklus terbuka atau tertutup.

Dalam sistem siklus tertutup, material didaur ulang atau digunakan kembali ke dalam produk atau kategori produk yang sama, berulang kali, tanpa penurunan kualitas yang signifikan. Ini seringkali menjadi standar emas sirkularitas.

Misalnya, aluminium mempertahankan kualitasnya melalui proses daur ulang, dapat melalui siklus tak terbatas dengan sedikit atau tanpa kehilangan material, sehingga kaleng aluminium dilebur dan dibuat ulang menjadi kaleng baru.

Sebaliknya, sistem siklus terbuka melibatkan material yang didaur ulang menjadi produk atau aliran material yang berbeda, seringkali dengan nilai atau fungsi yang lebih rendah.

Contohnya adalah konversi botol plastik menjadi serat tekstil untuk pakaian atau karpet. Material ini biasanya tidak dapat didaur ulang berulang kali setelah digunakan dalam bentuk yang berbeda, sehingga siklus akhirnya berakhir pada pembuangan.

Mungkin, Anda bertanya-tanya apakah ada produsen yang sudah menerapkan sistem sirkular ini? Temukan jawabannya dalam tulisan selanjutnya.

Artikel ini diterjemahkan dari Earth.org, baca artikel aslinya di sini.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *