WHO: Polusi Udara Sebabkan 7 Juta Kematian Dini di Seluruh Dunia

Written by

in

7cloud.asia – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sedikitnya 7 juta orang mengalami kematian dini per tahun, termasuk sekitar 600.000 anak di bawah usia 15 tahun akibat dari polusi udara.

Jumlah ini tanpa memperhitungkan jutaan yang menderita penyakit kronis terkait polusi udara.

Polusi udara perlu mendapat perhatian serius. WHO menyebut, saat ini hanya kurang dari satu persen manusia di planet Bumi menghirup udara yang memenuhi pedoman kualitas udara yang ditetapkannya.

Polusi udara sangat besar pengaruhnya pada kesehatan masyarakat global, ekonomi, pertanian, keanekaragaman hayati, lingkungan dan krisis iklim yang mempengaruhi dan membutuhkan perhatian mendesak dari semua sektor masyarakat.

Buktinya sangat banyak dari paparan polusi udara yang berdampak buruk pada kesehatan semua orang, terutama kelompok rentan yaitu perempuan hamil, orang tua dan anak-anak.

Kemudian, yang memiliki masalah kesehatan mendasar dan terutama anak-anak prenatal (sebelum lahir), hingga neonatus (bayi yang baru lahir) dan bayi selama tahap perkembangan.

Karena itu, sejumlah ilmuwan WHO, Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN), Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) dan Program Lingkungan PBB (UNEP) telah berkumpul untuk menyoroti masalah kritis yang mempengaruhi polusi udara di dunia.

Polusi udara juga sangat besar pengaruhnya bagi ekosistem. Deposisi belerang dan nitrogen dapat mengakibatkan pengasaman dan eutrofikasi (diperkaya secara berlebihan dengan nutrisi) sistem udara.

Selanjutnya kerusakan Ozon troposfer dapat berdampak negatif pada ekosistem yang menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati dan berdampak negatif pada pertumbuhan dan vitalitas tanaman.

Baca: Ini alasan untuk segera beralih ke kendaraan listrik

Polusi udara yang mengakibatkan kerusakan ozon juga berdampak negative bagi kemampuan tanaman melakukan fotosintesis, menjaga keseimbangan udara, proses pembungaan, serta kemampuan vegetasi untuk menyerap karbon.

Daftar Merah Spesies Terancam

IUCN memasukkan klasifikasi ancaman terhadap keanekaragaman hayati termasuk sub-kelas untuk polutan yang terbawa udara.

Untuk vertebrata darat saja, ada 7.427 spesies yang terancam kehidupannya akibat polusi udara. Dari angka tersebut, 1.181 di antaranya diklasifikasikan sebagai terancam oleh polusi udara dan 64 secara khusus diklasifikasikan sebagai terancam oleh polutan yang terbawa udara.

Paparan ozon juga dapat menyebabkan penurunan hasil tanaman utama antara 1 – 15 persen dan mempengaruhi kandungan nilai gizinya.

Studi terbaru menunjukkan bahwa peningkatan karbon di atmosfer akibat polusi udara berdampak negatif pada kualitas nutrisi makanan yang dihasilkan alam.

Sebuah penelitian yang dilakukan pada 2006, memperkirakan bahwa kerugian ekonomi tahunan akibat dampak ozon pada 23 tanaman mencapai 26 miliar dolar AS.

Polusi udara bahkan dapat berdampak pada sistem udara ketika konsentrasi polutan yang berbahaya menumpuk atau dengan mengurangi kemampuan vegetasi untuk menyaring sistem udara.

Polusi udara juga berdampak pada biaya ekonomi tinggi bagi manusia. Saperti misalnya, karena kehilangan pekerjaan atau hari sekolah karena penyakit kronis seperti asma, meningkatnya biaya perawatan kesehatan, berkurangnya hasil panen, dan berkurangnya daya saing kota-kota yang terhubung secara global.

Sebuah studi Bank Dunia pada tahun 2021, menemukan bahwa biaya ekonomi dari dampak kesehatan dari polusi udara saja mencapai 8,1 triliun dolar AS. Angka ini setara dengan 6,1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) global pada tahun 2019.

Dampak terbesar dari polusi udara terutama dirasakan di daerah terdekat dengan sumber emisi. Namun demikian, banyak polutan udara dapat menyebar atau terbentuk di atmosfer ratusan hingga ribuan kilometer dari sumber emisi. Kondisi ini menyebabkan dampak regional dan kontinental.

Misalnya, debu mineral tanah dan pasir, yang membentuk sekitar 40% dari total aerosol di atmosfer yang lebih rendah, dapat tetap berada di atmosfer selama seminggu sehingga memungkinkannya untuk terbawa angin melintasi benua dan memiliki dampak global pada kesehatan, pertanian, transportasi, ekonomi, dan iklim dunia.

Akhirnya, polusi udara sangat terkait dengan perubahan iklim, dengan banyak gas rumah kaca dan polutan udara yang dipancarkan oleh sumber yang sama.

Ini berarti bahwa penerapan kebijakan dan tindakan yang koheren yang bertujuan untuk mengurangi emisi polutan juga dapat memberikan dampak yang menguntungkan pada kualitas udara.

Sebaliknya, kebijakan ini juga dapat memperburuk satu sama lain dalam berbagai cara.

Naiknya suhu Bumi akibat polusi udara dapat mengakibatkan peningkatan frekuensi kebakaran hutan, yang pada gilirannya mengakibatkan peningkatan kadar partikulat udara yang mengandung beberapa polutan udara lainnya,

Hal ini terutama ozon dan karbon hitam (komponen PM 2.5) yang dapat mengubah pola cuaca dan berkontribusi terhadap pemanasan global, terutama di daerah yang tertutup es dan salju.

Kabar baiknya, meskipun kompleks dan membutuhkan respons pemerintah yang terkoordinasi, polusi udara merupakan ancaman yang dapat dicegah dan dikelola. Sementara ini polusi udara memang belum terpecahkan di wilayah mana pun, dengan masalah yang terburuk ditemukan di kawasan perkotaan dan kawasan industri di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Banyak kota dan negara di seluruh dunia telah menunjukkan penurunan emisi dan konsentrasi polutan yang luar biasa di mana kebijakan, peraturan yang kuat dan sistem pemantauan telah diterapkan.

Tapi polusi udara tidak mengenal batas kota atau nasional. Udara yang kita hirup benar-benar menghubungkan kita semua mengatasi ancaman ini secara berkelanjutan, Untuk mengatasi polusi udara ini dibutuhkan tindakan dan kerja sama di semua skala di seluruh dunia.

Selain itu, negara-negara di seluruh dunia perlu saling berbagi informasi, guna mengidentifikasi kesenjangan dalam pengetahuan dan bertindak bersama mendorong lembaga yang mereka wakili untuk mengoordinasikan upaya pencegahan di skala nasional agar lebih cepat mengurangi ancaman polusi udara.

Untuk itu, kepala ilmuwan di UNEP, WHO, IUCN, dan WMO akan berkontribusi pada pendekatan yang lebih terintegrasi dan berbasis sistem untuk mengatasi polusi udara dengan bekerja sama lebih erat di tingkat internasional untuk memahami skala masalah.

Sebelumnya, dalam peringatan Hari Udara Bersih Internasional untuk langit biru (International Day of Clean Air for blue skies) pada 7 September 2022,Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres mengatakan polusi udara tidak mengenal batas. Untuk itu negara-negara di dunia harus bekerja sama dalam mengatasi polusi udara.

Udara kotor telah mempengaruhi 99 persen orang di planet Bumi. Di mana, orang miskin paling menderita dan merasakan dampaknya. Dari kelompok miskin ini, perempuan dan anak perempuan yang paling menderita karena harus memasak dan memanaskan dengan bahan bakar kotor.

Sehubungan dengan Hari Udara Bersih Internasional untuk langit biru Giterres menjelaskan bahwa pada bulan Juli 2022, negara-negara dunia telah mengakui hak universal untuk lingkungan yang bersih, sehat dan berkelanjutan.

Udara bersih kini menjadi hak asasi manusia. Iklim yang stabil adalah hak asasi manusia. Begitupula dengan alam yang sehat bebas dari polusi udara adalah hak asasi manusia.

Sumber: Unep.org

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *