Ilustrasi kenduri dengan menggunakan takir ponthang Foto: IslamIndonesia.id
7cloud.asia – Menyambut tahun baru 1 Muharram atau 1 Syuro warga di sejumlah wilayah di Pulau Jawa memiliki tradisi unik, yakni kenduri dengan menggunakan takir ponthang.
Dilansir jadesta.kemenparekraf.go.id, adat kenduri dengan menggunakan takir phontang ini memiliki makna yang dalam.
Sebagai budaya kreatif kenduri dengan menggunakan takir ponthang di bulan Suro harus dilestarikan.
Media wadah takir ponthang yang digunakan saat kenduri 1 Suro biasanya dibuat dengan cara memanfaatkan daun pisang yang dimodifikasi dan dibuat sedemikian rupa sehingga dapat difungsikan sebagai mangkok.
Baca: Negara akui masyarakat adat suku Punan Batu
Takir merupakan salah satu dari banyak bentuk atau kreasi wadah makanan yang dibuat dari daun pisang yang biasa digunakan saat kenduri.
Selain takir ada juga wadah atau bungkus makanan lain dari daun pisang seperti pincuk, sumpil, terpelang, tum, sudi, pasung, pinjung, dan lain sebagainya.
Dilansir IslamIndonesia.id, takir untuk kenduri bisa dibedakan menjadi 2 macam yaitu takir biasa dan takir ponthang yang diberi helai janur (daun kelapa yg masih muda).
Takir dibentuk dengan melipat kedua sisi daun pisang dengan menyeimbangkan dua sisinya kemudian dikunci atau ditusuk dengan lidi tajam agar takir bisa berdiri dan apabila dijadikan wadah maka isinya tidak tumpah.
Baca: Tradisi thudong, ketika para Bhante berjalan ribuan kilometer untuk ziarah
Takir dibuat dengan hati-hati dan jangan sampai tinggi sebelah atau robek daun pisangnya sehingga menyebabkan takir tidak sempurna dan bila diisi makanan bisa tumpah dan berceceran.
Kata “takir” sendiri berasal dari “nata” karo “mikir” (menata dan berpikir) yang bermakna bahwa dalam kehidupan senantiasa harus mempertimbangkan dan menata setiap langkah yang diambil dengan pemikiran tenang, saksama, mendalam, dan berhati-hati agar mendapatkan hasil yang terbaik.
Dalam membuat takir juga diperlukan keseimbangan serta keselarasan antara kedua sisi agar takir bisa berdiri kokoh dan berguna. Artinya dalam kehidupan diperlukan keseimbangan, harmonisasi dan keselarasan atau keserasian dalam segala hal agar tidak “njomplang” karena berat sebelah.
Baca: Mengenal tradisi seba masyarakat adat Baduy
Lidi yang tajam dan keras berfungsi mengunci takir agar tetap pada bentuknya dan kokoh. Lidi dalam takir merupakan lambang dari niat, tekad dan keteguhan hati agar tidak mudah jatuh, putus asa serta kegigihan menjalani kehidupan.
Penggunaan daun pisang untuk takir selain karena dahulu belum ada piring mangkok dan sejenisnya (ada, hanya saja masih yang terbuat dari tanah liat) dirasa lebih praktis.
Bila dibuang juga gampang terurai dan kembali ke alam (simbol hubungan manusia dengan alam yang selaras dan tidak terpisahkan).
Takir juga melambangkan banyak hal. Yakni kesederhanaan, kreativitas yang canggih, produk lokal masa lalu yang tak lekang oleh zaman,.
Baca: Ibadah haji sudah ada jauh sebelum Islam berkembang
Takir juga melambangkan kemandirian masyarakat masa lalu sebelum mengenal sendok dan piring yang merupakan budaya Eropa.
Takir termasuk takir ponthang juga sebagai wahana nostalgia dan melambangkan kedekatan manusia dengan alam.
Di sisi lain, di samping sebagai wadah jenang, takir atau wadah yang terbuat dari daun pisang ternyata juga sarat dengan makna relijius.
Disebutkan pula bahwa makna takir selain “nata” karo “mikir” adalah “takwa dan zikir”. Dua hal penting yang tidak lain merupakan “wadah” dari amalan-amalan kita sebagai makhluk Tuhan.
Baca: Menggali makna wukuf yang menjadi inti ibadah haji
Leave a Reply