Tag: perempuan

  • Ketahanan Ekologis Dimulai dari Rumah, Peran Perempuan Disorot

    Ketahanan Ekologis Dimulai dari Rumah, Peran Perempuan Disorot

    7cloud.asia – Perempuan memegang peranan penting dalam menjaga lingkungan. Salah satu contohnya adalah seorang ibu mendidik anaknya bagaimana menjaga lingkungan agar tetap lestari.

    Hal ini diungkapkan oleh Direktur Teknik Konservasi Tanah dan Reklamasi Hutan Kementerian Kehutanan RI, Sri Handayaningsih dalam Forum Nasional Perempuan Indonesia beberapa hari yang lalu.

    Dia menjelaskan peran ibu sebagai ‘madrasah’ pertama bagi anak-anaknya sebelum si anak duduk di bangku sekolah.

    Baca: Ketimpangan Geder Disebut Akar Krisis Iklim

    “Ketahanan ekologis menjadi fondasi penting masa depan bangsa. Perempuan memiliki posisi strategis karena terlibat langsung dalam pengelolaan pangan keluarga, air, energi rumah tangga, hingga ekonomi berbasis masyarakat,” jelas Sri dalam forum yang digelar di kantornya tersebut.

    Perempuan, lanjut Sri,  memiliki kontribusi nyata dalam pengelolaan daerah aliran sungai (DAS), rehabilitasi hutan dan lahan.

    Perempuan juga berperan dalam pengembangan hasil hutan bukan kayu (HHBK) seperti kopi, madu, minyak atsiri, rotan, dan serat alam yang mampu meningkatkan ekonomi masyarakat tanpa merusak kelestarian hutan.

    Baca: Koalisi Perempuan Indonesia Sebut Perempuan Masih Tersisih

    Sri juga mengajak masyarakat menjaga DAS sebagai penopang utama kehidupan dan keberlanjutan lingkungan.

    “Semua daratan terbagi dalam DAS. Karena itu menjaga DAS berarti menjaga keberlangsungan seluruh sektor kehidupan,” tegasnya.

    Pada kesempatan itu, Sri menjelaskan isu kehutanan dan lingkungan hidup memiliki hubungan erat dengan agenda pembangunan nasional dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

    Khususnya dalam mewujudkan swasembada pangan, energi, air, ekonomi hijau, dan ekonomi biru.

     

  • Proyek Film Perempuan ”Desember Jani” Memotret Kehidupan Tiga Generasi Perempuan

    Proyek Film Perempuan ”Desember Jani” Memotret Kehidupan Tiga Generasi Perempuan

    7cloud.asia – Memperingati Hari Ibu, Palari Films mempersiapkan All Women Project, yakni film yang ditulis, diproduseri, disutradarai, dan diperankan oleh semuanya perempuan.

    Lewat film Desember Jani disutradarai oleh sutradara dan seniman visual Ariani Darmawan, sekaligus menjadikan film ini sebagai debut feature-nya.

    Naskah film ini ditulis oleh Cyntha Hariadi, novelis dan penyair pemenang penghargaan yang juga untuk pertama kalinya menulis naskah film.

    Sementara itu, Meiske Taurisia, menjadi produser di film ini, makin memperkuat jajaran suara perempuan dalam ceritanya. Meiske memproduseri film ini bersama Muhammad Zaidy.

    Film Desember Jani mengisahkan tentang tiga generasi perempuan dalam satu rumah
    yang hampir kehilangan cara untuk saling bicara, hingga yang paling muda, Jani (13 tahun), memilih menjadi jembatan yang menyambungkan kembali.

    Film ini mengangkat tema yang dekat dengan keseharian keluarga Indonesia: jarak
    emosional antargenerasi, cinta yang hadir dalam diam, dan keberanian untuk memulai kembali.

    Baca: Palari Films Bakal Bikin Projek Film Perempuan Lewat ”Desember Jani”

    Ariani Darmawan, sang sutradara mengungkapkan, Desember Jani adalah proyek yang luar biasa, bersama Palari Films, saya mengeksplorasi gagasan kreatif dengan lebih leluasa.

    ”Memanfaatkan Bandung sebagai sepenuhnya latar di film ini, yang juga punya nilai sentimental tersendiri untuk saya. Bersama jajaran pemeran perempuan di film ini kami meramu kisah yang akan menghangatkan menjelang akhir tahun nanti,” ujarnya.

    Film Desember Jani juga menggabungkan jajaran ansambel aktris yang unik dan kuat, berasal dari pemeran perempuan lintas generasi. Film ini dibintangi oleh Chempa Puteri, Sigi Wimala, Tutie Kirana, dan debut layar lebar Hyori Mika.

    “Ini adalah film pertama Palari Films yang sangat perempuan. Seluruh pembuatnya hingga pemerannya adalah perempuan, dengan cerita yang juga sangat dekat dengan perempuan, terutama untuk seorang ibu dan anak perempuan,” ujar produser Meiske Taurisia.

    Empat pemeran perempuan di film ini masing-masing membawa lapisan emosi yang berbeda. Tutie Kirana memerankan Oma, perempuan berusia 75 tahun yang mengungkapkan cinta lewat tindakan, bukan kata-kata.

    Sigi Wimala memerankan Winnie, seorang ibu yang menyimpan rasa bersalah yang tak pernah terucapkan. Hyori Mika memerankan Julia, anak yang pergi dan belum tahu cara pulang.

    Baca: Film ”Keluarga Suami Adalah Hama” Ungkap Hubungan yang Tidak Sehat Korbankan Perempuan

    Chempa Puteri memerankan Jani, anak 13 tahun yang melihat retaknya keluarga lebih jelas dari siapapun, dan memilih untuk menjadi yang pertama bergerak.

    Bagi aktris Sigi Wimala, yang cukup lama menepi dari layar lebar, bergabung dengan film Desember Jani seperti menemukan keluarga baru.

    “Kami diberi waktu untuk berkumpul bersama sebagai keluarga itu cukup lama. Jadi semuanya dibangun secara organik. Tanpa diburu-buru dan dipaksakan. Jadi pas kami syuting sudah sangat nyaman,” ujar Sigi Wimala.

    Desember Jani adalah film kesekian bagi Chempa Puteri, namun untuk pertama kalinya Chempa dipercaya sebagai pemeran utama.

    “Untuk persiapannya, aku latihan chemistry dengan Mama Sigi, Oma Tutie, Ibu Rani sebagai sutradara, dan Bu Dede sebagai produser. Aku belajar banyak dari orang-orang hebat di film ini dan mendapatkan ilmu yang berharga,” ujar Chempa Puteri.

    Sementara Hyori Mika yang memerankan Julia sebagai film panjang debutnya, mengaku senang dipercaya untuk memerankan karakter Julia di film ini. Julia adalah anak sulung yang memutuskan pergi dari rumah karena tidak didengar.

    Baca: Mengikis Pandangan Seksis dari Industri Film Nasional

    “Film ini jadi perjalanan awalku di dunia film, dan semoga karakterku juga bisa mewakili penonton yang merasakan keresahan sama tentang boundaries dan mereka yang lagi mencari jati diri,” ujar Hyori Mika.

    Tutie Kirana, legenda perfilman Indonesia yang telah mewarnai perfilman sejak era ‘70-an dan telah meraih 5 nominasi Piala Citra FFI, bergabung menjadi karakter yang menguatkan dinamika keluarga di film ini.

    Bagi Tutie, film ini adalah gambaran tentang perempuan-perempuan yang berdaya. Dia memerankan Oma Peggy, sosok yang sudah lanjut usia tapi masih bikin usaha lumpia. Sebagai perempuan memang harus berdaya, bahkan di saat sudah lanjut usia.

    ”Di film ini, bersama perempuan-perempuan yang sangat berdaya, menjadikan semuanya satu kesatuan di dalam ceritanya,” ujar Tutie Kirana.

    Desember Jani akan hadir di bioskop tepat menjelang Hari Ibu, 22 Desember 2026, sebuah momen yang terasa pas untuk sebuah film tentang perempuan, keluarga, dan cinta yang butuh waktu untuk menemukan suaranya.

  • Perempuan Lebih Berisiko Alami Demensia, Simak Cara Mencegahnya

    Perempuan Lebih Berisiko Alami Demensia, Simak Cara Mencegahnya

    7cloud.asia – Sejak lama para pakar menyebut, perempuan memiliki risiko lebih tinggi mengalami demensia dibandingkan dengan laki-laki. Namun apa penyebabnya belum terungkap dengan jelas

    Hasil riset yang dipublikasikan dalam jurnal Biology of Sex Differences mengungkap faktor-faktor yang menyebabkan perempuan lebih berisiko mengalami demensia.

    Menurut siaran Eating Well yang dilansir Rabu (27/5/2026), dalam penelitian itu para periset menganalisis data Health and Retirement Study dari 17.182 peserta berusia 40 tahun atau lebih di Amerika Serikat

    Peneliti fokus pada informasi yang dikumpulkan tahun 2008 dan hampir 60 persen di antaranya adalah perempuan.

    Tim peneliti menelaah 13 faktor kesehatan dan gaya hidup yang dapat diubah atau dikelola seperti depresi, kurang aktivitas fisik, diabetes, hipertensi, obesitas, gangguan tidur, kehilangan pendengaran, dan isolasi sosial.

    Peneliti kemudian membandingkan faktor-faktor tersebut dengan hasil tes kognitif peserta yang mengukur kemampuan mengingat dan berhitung sederhana.

    Baca: Cegah Demensia dengan Jalani Gaya Hidup Ini

    Hasil penelitian menunjukkan perempuan memiliki lebih banyak faktor risiko dibanding laki-laki, termasuk tingkat depresi, kurang aktivitas fisik, dan masalah tidur yang lebih tinggi.

    Meskipun laki-laki lebih mungkin mengalami gangguan pendengaran dan diabetes, keberadaan kondisi-kondisi ini mengakibatkan penurunan fungsi otak yang jauh lebih kuat pada perempuan yang mengalaminya.

    Masalah terkait kesehatan jantung dan metabolisme seperti tekanan darah tinggi serta indeks massa tubuh tinggi juga menunjukkan dampak negatif yang lebih tajam terhadap kemampuan berpikir perempuan.

    Para peneliti menyampaikan, hasil penelitian menunjukkan bahwa risiko demensia tidak dapat ditangani dengan pendekatan yang sama pada semua orang.

    Hasil penelitian itu dinilai memiliki keterbatasan, dan para peneliti menekankan bahwa studi hanya menunjukkan hubungan keterkaitan, bukan sebab akibat langsung.

    Baca: Risiko Demensia Dapat Muncul Sejak Masa Kanak-kanak

    Kendati demikian, hasil penelitian menunjukkan pentingnya pendekatan kesehatan yang lebih personal berdasarkan jenis kelamin dan kondisi individu untuk menjaga kesehatan otak saat menua.

    Berdasarkan hasil penelitian itu, ada tiga langkah yang dinilai penting dilakukan oleh perempuan untuk menurunkan risiko penurunan fungsi kognitif.

    Pertama, menangani gangguan pendengaran sejak dini dengan menjalani pemeriksaan dan menggunakan alat bantu dengar bila direkomendasikan oleh tenaga kesehatan.

    Kedua, mengelola risiko diabetes dengan menjaga kadar gula darah. Ini bisa dilakukan dengan menerapkan pola makan tinggi serat, rutin berolahraga, dan tidur cukup.

    Ketiga, mengontrol tekanan darah dengan bantuan tenaga medis, rutin melakukan aktivitas fisik, serta menerapkan pola makan yang dapat membantu menjaga tekanan darah tetap stabil.

  • Revisi UU Pemilu Harus Akomodir Putusan MK Soal Kuota 30 Persen Caleg Perempuan

    Revisi UU Pemilu Harus Akomodir Putusan MK Soal Kuota 30 Persen Caleg Perempuan

    7cloud.asia – Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mewajibkan partai politik memenuhi kuota 30 persen keterwakilan perempuan dalam pencalonan legislatif akan menjadi poin penting dalam pembahasan revisi Undang-Undang Pemilu mendatang.

    Anggota Komisi II DPR Eka Widodo menilai putusan MK tersebut merupakan langkah penting untuk memperkuat partisipasi politik perempuan dalam demokrasi Indonesia. Politisi Fraksi PKB ini juga menegaskan bahwa putusan MK tersebut

    “Putusan MK tentu akan menjadi bagian dalam revisi UU Pemilu nantinya. Fraksi PKB siap membahas revisi UU Pemilu,” katanya dalam keterangan tertulis yang dikutip Parlementaria, di Jakarta, Jumat (29/5/2026).

    Ia menambahkan, revisi UU Pemilu sebaiknya tetap menjadi RUU inisiatif DPR agar pembahasannya dapat dilakukan secara komprehensif dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

    “Revisi UU harus tetap menjadi RUU inisiatif DPR sehingga proses pembahasannya dapat berjalan optimal demi memperkuat kualitas demokrasi dan sistem pemilu kita,” tutup Edo.

    Diketahui, MK melalui putusan Nomor 128/PUU-XXIV/2026 yang dibacakan dalam sidang pada Senin (25/5/2026), menyatakan partai politik dapat digugurkan atau tidak diikutsertakan dalam pemilu di daerah pemilihan tertentu apabila tidak memenuhi kuota caleg perempuan sebesar 30 persen.

    Baca: DPR Diminta Segera Laksanakan Keputusan MK Terkait Keterwakilan Perempuan di AKD

    Permohonan uji materi tersebut diajukan oleh Maya Novita Sari, Imas Dion Febriani, Cahya Camila Evanglin, dan Fatati Nailul Munadia.

    Para pemohon meminta MK menegaskan sanksi terhadap partai politik yang melanggar ketentuan keterwakilan perempuan sebagaimana diatur dalam Pasal 245 UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum.

    Amanah tersebut pun sekaligus membuka ruang lebih besar bagi perempuan untuk tampil sebagai pengambil keputusan di parlemen.

    Anggota DPR, Cindy Monica, memandang positif akan putusan MK tersebut. Ia menyebut bahwa keterlibatan perempuan dalam politik bukan hanya soal memenuhi angka kuota, tetapi tentang menghadirkan perspektif yang lebih inklusif dalam merumuskan kebijakan bagi masyarakat.

    Perempuan, ujarnya, memiliki kemampuan, pengalaman, dan sensitivitas sosial yang sangat dibutuhkan dalam proses pengambilan kebijakan.

    “Karena itu, ruang politik harus semakin terbuka dan adil bagi perempuan Indonesia,” ujar Cindy Monica dalam keterangannya kepada Parlementaria, Kamis (28/5/2026).

    Baca: Koalisi Perempuan Indonesia Desak Negara Benahi Ketimpangan Struktural

    Cindy mengatakan, keputusan MK tersebut menjadi bentuk keberpihakan terhadap penguatan demokrasi yang lebih representatif.

    Kehadiran perempuan di parlemen diyakini mampu memperjuangkan isu-isu yang dekat dengan masyarakat, mulai dari pendidikan, kesehatan, perlindungan anak dan perempuan, hingga kesejahteraan keluarga.

    “Ini membuktikan bahwa perempuan bukan sekadar pelengkap dalam politik. Ketika diberikan kesempatan, perempuan mampu hadir sebagai pemimpin dan representasi rakyat yang bekerja nyata,” ujar legislator dari Fraksi NasDem tersebut.

    Sebagai perempuan anggota DPR, Cindy Monica pun mendorong perempuan untuk berani terjun ke dunia politik dan membawa aspirasi masyarakat secara langsung ke tingkat nasional.

    Dia berharap semakin banyak perempuan, khususnya generasi muda, yang percaya diri untuk mengambil peran dalam kepemimpinan dan pembangunan bangsa.

    “Politik tidak boleh lagi dipandang sebagai ruang yang terbatas bagi perempuan. Hari ini perempuan harus hadir, bersuara, dan ikut menentukan arah masa depan Indonesia,” pungkas Cindy.

    Baca: Mengenang 33 Tahun Dibunuhnya Marsinah

  • ‘Tradwife’ dan ‘Feminine Energy’: Tren yang Membatasi dan Mengontrol Perempuan

    ‘Tradwife’ dan ‘Feminine Energy’: Tren yang Membatasi dan Mengontrol Perempuan

     

    7cloud.asia – Beberapa waktu belakangan, di media sosial sedang banyak muncul konten perempuan yang bangun pukul lima pagi untuk menyiapkan sarapan estetik lengkap dengan jus segar, bunga tulip di meja makan, dan anak-anaknya berpakaian seragam bersih tanpa noda.

    Mereka memakai gaun linen, membuat kopi manual brew, menata rumah serupa vila Airbnb. Lalu, menyambut suami pulang kerja dengan senyum tenang. 

    Di akhir video, biasanya muncul narasi lembut seperti: “perempuan tidak diciptakan untuk stres bekerja”, “berhenti menjadi perempuan maskulin”, atau “perempuan akan lebih bahagia ketika kembali ke feminine energy.”

    Maraknya gambaran visual tren tradwife (traditional wife), soft girl, dan estetika feminine energy di media sosial tampak menjadi hal yang menenangkan bagi perempuan di tengah dunia yang semakin kompetitif ini.

    Namun tanpa disadari, tren yang menggunakan nostalgia tahun 1950an ini justru diam-diam meromantisasi domestifikasi (pembatasan peran perempuan hanya dalam lingkup rumah tangga) sebagai reaksi atas burnout (kelelahan mental) modern dan tuntutan budaya “girlboss”.

    ‘Tradwife’ membatasi ambisi perempuan

    Ironisnya, banyak konten semacam ini justru dibuat oleh influencer yang sukses memonetisasi media sosial, kontrak merek, personal branding, hingga kerja digital yang sangat kompetitif.

    Mereka bekerja penuh waktu di depan kamera, memahami algoritma, mengelola audiens, dan mengubah kehidupan domestik menjadi komoditas visual.

    Namun, pada saat yang sama, perempuan lain yang terang-terangan ambisius dalam karier sering dianggap terlalu agresif, ambis, atau “kurang feminin”.

    Persoalan utama tren tradwife, soft girl, dan feminine energy bukan terletak pada pilihan perempuan untuk menjalani kehidupan domestik. Menjadi ibu rumah tangga adalah pilihan yang valid.

    Masalah muncul ketika algoritma digital mulai memberi penghargaan pada femininitas tertentu sambil secara halus tidak mengakui perempuan yang terlalu ambisius, asertif, atau berorientasi karier.

    Dalam konteks ini, estetika tradwife tidak lagi sekadar gaya hidup. Ia seakan menjadi arahan sosial baru untuk membatasi ambisi perempuan. 

    Ambisi perempuan dan standar ganda yang belum selesai

    Dalam banyak percakapan sehari-hari, kata “ambis” (ambisi) sering digunakan sebagai kata negatif, terutama kepada perempuan. Padahal, definisi ambisi menurut KBBI adalah dorongan untuk mencapai prestasi atau mengembangkan potensi diri.

    Ambisi berbeda dari keserakahan atau obsesi kekuasaan. Namun, pada perempuan, ambisi sering diasosiasikan dengan egoisme, agresivitas, atau sifat “terlalu maskulin”.

    Fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep double bind. Dalam dunia kerja, perempuan dituntut menunjukkan karakter yang diasosiasikan dengan kepemimpinan seperti tegas, kompeten, dan ambisius.

    Namun secara bersamaan, mereka juga dituntut tetap feminin, hangat, tenang, dan tidak intimidatif. Ketika perempuan terlalu memenuhi ekspektasi pertama, ia dianggap kehilangan kualitas kedua.

    Standar sosial terhadap ambisi menjadi berbeda berdasarkan gender. Laki-laki ambisius cenderung dianggap visioner atau berjiwa pemimpin. Sementara perempuan ambisius lebih mudah dicap egois, agresif, atau tidak peduli keluarga.

    Standar ganda ini terlihat jelas pada pemimpin perempuan. Ketika seorang pemimpin laki-laki tampil tegas dan ambisius, publik cenderung menilainya sebagai asertif. Sebaliknya, perempuan dengan karakter serupa sering dianggap terlalu keras atau tidak menyenangkan.

    Bahkan ketika perempuan berhasil menjadi pemimpin populer, contohnya Susi Pudjiastuti, perhatian publik sering tetap diarahkan pada tubuh, gaya hidup, kebiasaan pribadi, hingga kehidupan rumah tangganya. Ini jauh lebih jarang dialami pemimpin laki-laki.

    Akibatnya, perempuan sering berada dalam posisi serba salah: mereka dituntut sukses dan kompeten, tetapi di saat yang sama juga tidak boleh terlihat terlalu ambisius, terlalu tegas, atau terlalu menonjol agar tetap dianggap feminin dan “menyenangkan” oleh masyarakat. 

    Dari ibuisme negara ke algoritma digital

    Konten tren tradwife dan feminine energy sering tampil sebagai kritik terhadap budaya kerja modern yang melelahkan perempuan. Sebagian kritik tersebut memang valid. Sistem kerja kapitalistik memang kerap tidak ramah terhadap perempuan, terutama terkait beban ganda domestik dan publik.

    Masalahnya, banyak konten tradwife justru mengalihkan fokus: dari menyalahkan sistem, jadi menyalahkan perempuan berambisi (guilt-tripping).

    Alih-alih mengkritik budaya kerja yang eksploitatif atau minim dukungan sosial, narasinya kini menjadi: perempuan akan lebih bahagia jika mundur dari ruang publik dan kembali ke peran domestik.

    Di titik ini, konsep feminine energy justru jadi problematis. Konsep yang awalnya berakar pada gagasan keseimbangan dalam tradisi timur, kini dibajak industri wellness dan media sosial sebagai standar femininitas baru yang sempit. Standar ini melabeli perempuan ideal sebagai sosok lembut, tenang, pasif, tidak terlalu ambisius, dan mampu membuat laki-laki merasa dominan.

    Secara halus, tren ini mendorong perempuan untuk lean back dari posisi publik demi menjadi “lebih feminin” atau “lebih bahagia”. Padahal tidak semua perempuan memiliki kondisi ekonomi yang memungkinkan mereka menjalani gaya hidup tersebut.

    Dalam konteks Indonesia, tren ini berkaitan erat dengan ideologi “ibuisme negara”. Pada masa Orde Baru, negara mendefinisikan perempuan terutama sebagai pendamping suami dan pengurus rumah tangga.

    Setelah Reformasi dan era digital, kontrol tersebut datang bukan lagi dari negara, melainkan melalui algoritma, influencer, dan estetika media sosial.

    Ini merupakan bentuk neo-ibuisme digital, yakni ketika perempuan tetap boleh bekerja dan tampil di ruang publik, tetapi nilai mereka tetap diukur dari kemampuan memenuhi standar femininitas domestik tertentu. 

    Ambisi perempuan dianggap ancaman

    Meski dampaknya tidak terlihat langsung, romantisasi tren ini bisa mengganggu kondisi psikologis dan sosial perempuan. Banyak perempuan akhirnya merasa takut terlihat “terlalu ambisius” karena khawatir dianggap tidak feminin dan tidak bahagia.

    Perempuan lajang menjadi ragu mengejar posisi strategis karena takut mengintimidasi orang lain. Sementara perempuan menikah sering merasa bersalah ketika mengejar karier karena terus dibandingkan dengan ideal domestik yang romantis di media sosial.

    Ambisi bukan ancaman bagi keluarga maupun masyarakat, melainkan kapasitas manusia untuk berkembang, berkontribusi, dan mencapai versi terbaik dirinya.

    Akar masalahnya bukan pada perempuan yang memilih kehidupan domestik ataupun karier, melainkan pada sistem sosial yang terus memaksa perempuan membuktikan bahwa ambisi mereka tidak membuat mereka kehilangan nilai sebagai perempuan.

    Karena itu, kita perlu narasi yang menormalisasi hak perempuan untuk memiliki ambisi tanpa rasa bersalah.


    Fitri Hariana Oktaviani, Assistant professor in Organisational Communication, Universitas Brawijaya

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

  • Tayang Bulan Ini, Film “Jangan Buang Ibu“ Memotret Perjuangan Ibu Tunggal

    Tayang Bulan Ini, Film “Jangan Buang Ibu“ Memotret Perjuangan Ibu Tunggal

    7cloud.asia – Perempuan lebih setia dan bisa bertahan membesarkan anak-anaknya saat perkawinan kandas di tengah jalan. Itulah kisah yang diangkat dalam film Jangan Buang Ibu yang bakal tayang pekan ini di bioskop.

    Film Jangan Buang Ibu mengisahkan Ristiana (Nirina Zubir), seorang ibu tunggal dengan ketiga anaknya Tama (Refal Hady), Dewi (Amanda Manopo), dan Tria (Saputra Kori) setelah ditinggal suaminya (Dwi Sasono).

    Dia hidup dalam kesederhanaan dan kerja keras namun mampu membesarkan buah hatinya dengan baik dihadapkan pada kenyataan bahwa suaminya meninggalkan utang yang cukup besar.

    Terusik dengan keputusan sepihak dari ibunya, Tama, Dewi, dan Tria dilema dengan
    keadaan dan kondisi yang ada. Mereka yang dulunya dekat, hangat, utuh sebagal keluarga harus merasakan kesenjangan jarak yang memunculkan kerinduan yang dalam dari Ristiana.

    Tak putus harapan untuk berbakti pada ibunda, Tama, Dewi, dan Tria berusaha mewujudkan harapan ibunya tersebut.

    Baca: Proyek Film Perempuan ”Desember Jani”

    Dalam film Jangan Buang Ibu ini, aktor Dwi Sasono tampil berbeda saat ia menjadi sosok ayah yang problematik. Ia banyak mengeluarkan kata kasar hingga membentak, bahkan melakukan kekerasan fisik.

    Di trailer Jangan Buang Ibu yang dirilis baru-baru ini, juga menampilkan kisah tiga anak yang tumbuh dewasa tanpa kasih sayang seorang ayah. Sebuah perasaan dan pengalaman yang banyak dialami anak di Indonesia.

    Memerankan seorang bapak yang problematik dan sosoknya tak hadir untuk keluarga menjadi tantangan tersendiri bagi Dwi Sasono yang dikenal sebagai seorang family man.

    Namun, ia menyadari bahwa kondisi yang dihadapi oleh karakter Bapak di film Jangan Buang Ibu adalah karena orangtua ingin anaknya berhasil.

    “Dia punya harapan yang terbaik untuk anaknya. Dia tidak mau anaknya gagal seperti dia,” kata Dwi Sasono kepada media beberapa waktu lalu

    Baca: Film ”Keluarga Suami Adalah Hama”: Dalam Hubungan yang Tidak Sehat, Perempuan yang Harus Menanggung Beban

    Sementara itu, Saputra Kori yang memerankan Tria, anak bungsu Ristiana, digambarkan sebagai anak yang tak memiliki kasih sayang dari bapaknya bahkan sejak ia dalam kandungan.

    Tria tak mengenal siapa sosok ayahnya, hingga ia tumbuh sebagai remaja. Dan karena situasi itu, Tria tumbuh menjadi anak yang ‘cukup’ nakal di sekolah. Namun, karena didikan dan kasih sayang ibunya, ia pun berusaha memperbaiki semuanya.

    Di film Jangan Buang Ibu yang akan tayang bulan Juni ini, Dwi Sasono beradu peran dengan Nirina Zubir sebagai suami istri. Keduanya akan menampilkan dinamika orangtua yang penuh emosi dan membawa pengalaman banyak orang dari rumah.

    Selain Dwi Sasono, Nirina Zubir, dan Saputra Kori, Jangan Buang Ibu juga dibintangi oleh Refal Hady, Amanda Manopo, Basmalah Gralind, Erika Carlina, Saskia Chadwick, Fadly Faisal, Farrell Rafisqy, Jared Ali, dan Humaira Jahra.

    Jangan Buang Ibu diharapkan akan melanjutkan sukses Leo Pictures lewat drama keluarga Bila Esok Ibu Tiada yang meraih 3,9 juta lebih penonton di bioskop.

  • Aliansi Ibu Indonesia: Program MBG Menghina Nalar Para Ibu dan Perempuan

    Aliansi Ibu Indonesia: Program MBG Menghina Nalar Para Ibu dan Perempuan

    7cloud.asia – Pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG) menuai kritik tajam dari perwakilan organisasi kemasyarakatan yang tergabung dalam MBG Watch.

    Pernyataan keras disampaikan Perwakilan dari Aliansi Ibu Indonesia, Annette Mau, saat menghadiri rapat dengar pendapat bersama jajaran Komisi IX DPR pada Kamis (16/7/2026).

    Dia melayangkan kritik keras dengan menyebut program Makan Bergizi Gratis atau MBG sebagai proyek yang menghina ilmu pengetahuan serta kaum perempuan.

    Dalam forum tersebut, Annette menyoroti proses pengambilan keputusan serta formulasi program MBG yang dinilai sama sekali tidak melibatkan sumbangsih suara dari para ibu.

    “Ini adalah proyek yang paling menghinakan ilmu pengetahuan dan perempuan,” kata Annette dalam forum tersebut, seperti dipantau dari Kompas TV.

    Menurutnya, perempuan yang paling paham ketika kondisi krisis, sebagaimanapun ibu menahan lapar supaya anaknya makan.

    “Betapa hinanya anak-anak kita di mata negara diberikan makan sampai keracunan. Dan apa tindakan negara? Adakah kompensasi? Adakah permintaan maaf? Adakah ganti rugi secara sosial?”

    “Bapak, Ibu yang tidak punya BPJS ke rumah sakit merawat anaknya berhari-hari tanpa kompensasi dan kita berkata kita sedang membela orang miskin. How dare you?” ujarnya.

    Di samping itu, Aliansi Ibu Indonesia juga menyatakan kekecewaan mendalam karena pemerintah terkesan menutup telinga dari berbagai kritik serta masukan konstruktif para pakar yang kompeten.

    “Bahwa urusan makan, urusan gizi, perempuan dan ibu jangan dilawan Bapak dan Ibu. 10.000 di tangan kami itu jadinya bernilai Rp100.000. Bapak-bapak di sebelah sini sudah ngangguk-ngangguk. Saya yakin istri-istri mereka luar biasa hebat di rumah. Jadi jangan tanya di tangan kami 15.000 bisa jadi berapa?” urainya.

    Aliansi Ibu Indonesia menyayangkan sebuah program yang memiliki narasi besar untuk menolong kaum perempuan, namun pada kenyataannya justru dinilai paling tidak mau mendengarkan aspirasi dari perempuan itu sendiri.

    Anette menegaskan, sebagai perempuan dirinya tidak merasa bangga Nanik S Deyang yang menggantikan menjadi kepala BGN sekarang. Menurutnya, dia tidak ada di pihak kami walau dia berjenis kelamin perempuan.

    “Karena kalau dia perempuan yang sungguh-sungguh ibu, dia akan paham this is not the way you feed the children,” tegasnya.

    Dalam kesempatan yang sama, peneliti CELIOS yang juga anggota MBG Watch, Media Wahyudi Askar, membongkar nama yayasan yang mengelola dapur MBG di Indonesia.

    Media Wahyudi Askar mengatakan daftar lima terbesarnya ternyata dikelola TNI dan Polri.

    Ia mengungkapkan pengelolaan program melalui vendor-vendor besar yang terafiliasi dengan institusi seperti TNI dan Polri telah menciptakan praktik rente yang menguntungkan kelompok elit, sementara pelaku akar rumput justru dirugikan.

    “Saya hanya ingin perjelas satu hal, kalau kita mau bicara the winner-nya dan the loser-nya, the winner-nya dari MBG yang punya dapur milik orang super kaya itu. Siapa the loser-nya itu? Relawan SPPG-nya,” ujar Media Wahyudi Askar.