Tag: gaza

  • PBB Kutuk Serangan Israel ke Zona Aman di Jalur Gaza

    PBB Kutuk Serangan Israel ke Zona Aman di Jalur Gaza

    7cloud.asia – Utusan perdamaian PBB untuk Timur Tengah, Tor Wennesland dengan tegas mengutuk serangan udara mematikan Israel pada Selasa pagi pada zona aman kemanusiaan di Jalur Gaza selatan.

    “Tindakan tersebut hanya menegaskan bahwa tidak ada tempat yang aman atau zona aman di Gaza,” kata Wennesland dalam sebuah pernyataan, Selasa (10/09/2024).

    Setidaknya 40 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka dalam serangan udara Israel di sebuah kamp tenda di Khan Younis di daerah al-Mawasi, Gaza Selatan.

    Wilayah ini sebelumnya telah ditetapkan Israel sebagai zona aman kemanusiaan bagi warga sipil yang terlantar di Gaza.

    Dinas pertahanan sipil Gaza mengatakan rudal Israel membakar tenda-tenda pengungsi dan menyebabkan lubang sedalam sembilan meter di daerah tersebut.

    Baca: Konflik Israel-Hamas hancurkan masa depan anak-anak Palestina

    “Saya menggarisbawahi bahwa hukum humaniter internasional, termasuk prinsip pembedaan, proporsionalitas, dan pencegahan dalam serangan, harus dijunjung tinggi setiap saat. Saya juga menekankan bahwa warga sipil tidak boleh digunakan sebagai perisai manusia,” ucap utusan PBB tersebut.

    Wennesland kembali menyerukan agar Israel dan Hamas segera mencapai kesepakatan yang akan menghasilkan pembebasan semua sandera dan gencatan senjata.

    Ia menekankan pembunuhan warga sipil harus dihentikan dan perang yang mengerikan harus diakhiri.

    “Pada akhirnya, hanya jalur politik yang menguraikan langkah-langkah konkret dan tidak dapat dibatalkan menuju akhir pendudukan dan pembentukan solusi dua negara yang dapat mengakhiri penderitaan rakyat Palestina dan Israel,” ujar dia.

    Israel telah secara sistematis menargetkan fasilitas sipil, termasuk sekolah, rumah sakit, dan tempat ibadah, di tengah serangan ofensifnya yang sedang berlangsung di Jalur Gaza. 

    Baca: Aktivis kebangsaan Amerika-Turki dibunuh

    Padahal, sebelumnya telah dirilis resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut gencatan senjata segera.

    Menurut aturan perang, serangan yang menargetkan fasilitas sipil semacam itu dapat dianggap sebagai kejahatan perang.

    Israel terus melancarkan ofensif brutal di Jalur Gaza sejak serangan Hamas pada 7 Oktober meskipun ada resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut gencatan senjata segera.

    Lebih dari 41.000 orang, sebagian besar wanita dan anak-anak, telah tewas dan hampir 95.000 lainnya terluka, menurut otoritas kesehatan setempat.

    Blokade yang sedang berlangsung di wilayah tersebut telah menyebabkan kekurangan parah pangan, air bersih, dan obat-obatan, meninggalkan sebagian besar wilayah dalam keadaan hancur.

    Israel menghadapi tuduhan genosida atas tindakannya di Gaza di Pengadilan Internasional.

    Sumber : Anadolu

  • WHO Evakuasi 100 Korban Luka dari Gaza ke Uni Emirat Arab

    WHO Evakuasi 100 Korban Luka dari Gaza ke Uni Emirat Arab

    7cloud.asia – Badan Kesehatan Dunia (WHO), Kamis (12/9/2024) mengatakan pihaknya mengevakuasi hampir 100 orang dari Jalur Gaza ke Uni Emirat Arab.

    Dalam pernyataannya, WHO juga menyerukan adanya sistem transfer medis yang teratur dan berkelanjutan untuk membantu ribuan orang yang membutuhkan perawatan.

    “Gaza membutuhkan koridor medis. Kami membutuhkan sistem yang lebih terorganisir dan berkelanjutan,” kata Richard Peeperkorn, perwakilan WHO untuk wilayah pendudukan Palestina kepada wartawan.

    Ditambahkannya, saat ini ada sekitar 10.000 orang di Gaza yang menunggu pemindahan medis.

    WHO juga merilis laporan yang mengatakan seperempat dari mereka yang luka-luka dalam perang Gaza pada akhir Juli lalu “diperkirakan mengalami cedera yang mengubah hidup mereka sehingga saat ini dan di tahun-tahun mendatang memerlukan layanan rehabilitasi.”

    Baca: Konflik Hamas-Israel hancurkan masa depan anak-anak Palestina

    Cedera anggota tubuh yang parah merupakan kebutuhan utama untuk rehabilitasi, sementara jumlah cedera tulang belakang, cedera otak traumatis, dan luka bakar parah juga meningkat secara signifikan, kata WHO.

    Di antara korban luka-luka itu terdapat “ribuan perempuan dan anak-anak.”

    WHO juga menyoroti meningkatnya tantangan dalam menyediakan perawatan yang diperlukan karena ketidakamanan, kurangnya pasokan, serangan dan perintah evakuasi yang membuat banyak fasilitas medis tidak dapat berfungsi.

    Sementara perundingan untuk gencatan senjata terus berlanjut. Pada Rabu (11/9/2024) utusan kelompok Hamas bertemu mediator untuk membahas gencatan senjata di Gaza dan kemungkinan pertukaran sandera dan tahanan.

    Hamas mengatakan kepala negosiatornya Khalil al-Hayya bertemu Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani dan kepala intelijen Mesir, Abbas Kamel.

    Baca: Israel hanya sisakan 9,5 persen zona aman di Gaza

    Hamas mengatakan mereka telah membahas “perkembangan mengenai perjuangan Palestina dan agresi di Jalur Gaza” tanpa mengindikasikan bahwa pembicaraan telah menghasilkan terobosan.

    Berbulan-bulan negosiasi di balik layar yang dimediasi oleh Qatar, Mesir, dan AS gagal untuk mencapai kesepakatan dihentikannya pertempuran antara Hamas dan Israel.

    Satu-satunya yang dicapai dalam perang yang kini telah berlangsung selama 11 bulan tersebut hanyalah gencatan senjata selama satu minggu pada akhir November tahun lalu.

    Ketika itu, 105 sandera dibebaskan ke Israel dengan imbalan 240 tahanan Palestina berdasarkan kesepakatan yang dicapai para mediator.

    Sumber: VOA Indonesia

  • AS dan PBB Desak Israel Lindungi Lokasi Bantuan Kemanusiaan di Gaza

    AS dan PBB Desak Israel Lindungi Lokasi Bantuan Kemanusiaan di Gaza

    7cloud.asia – Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dan Amerika Serikat (AS) terus menekan Israel untuk melindungi tempat-tempat bantuan kemanusiaan dan kamp pengungsian di Gaza.

    Sebelumnya, serangan udara Israel menghantam kompleks sekolah PBB yang menampung pengungsi Palestina, menewaskan 18 orang, termasuk enam pekerja PBB.

    “Kami perlu melihat tempat-tempat itu dilindungi, dan itu adalah sesuatu yang terus kami kemukakan kepada Israel,” kata Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken pada konferensi pers di Warsawa pada Kamis (12/9/2024) .

    Baca: WHO evakuasi ratusan korban luka keluar dari Gaza

    Pada saat yang sama, lanjut Blinken, dunia terus melihat Hamas bersembunyi, mengambil alih, dan menggunakan tempat-tempat itu untuk melakukan operasinya dan menimbulkan ancaman berkelanjutan.

    “Hal itu tentu saja, harus dihentikan, karena tindakan tersebut membahayakan warga sipil,” tambah Blinken.

    Ia mengatakan serangan itu “sekali lagi menekankan pentingnya mencapai gencatan senjata” untuk menghentikan perang Israel dengan militan Hamas, yang kini memasuki bulan ke-12.

    Baca: Konflik Israel-Hamas hancurkan masa depan anak-anak Palestina

    Terpisah, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga menyampaikan pemikiran yang sama dengan mengatakan melalui juru bicaranya,

    “Kurangnya perlindungan yang efektif terhadap warga sipil di Gaza adalah hal yang tidak masuk akal. Warga sipil dan prasarana yang mereka andalkan harus dilindungi dan kebutuhan dasar warga sipil harus dipenuhi,” ujarnya

    Ia meminta pihak-pihak yang berperang untuk berhenti menggunakan sekolah, tempat pengungsian, atau daerah di sekitarnya untuk tujuan militer.

    Baca: Wabah polio membayangi anak-anak di Gaza

    Ia menambahkan, Israel dan Hamas mempunyai kewajiban untuk mematuhi hukum kemanusiaan internasional.

    Pasukan Israel telah menyerang sejumlah sekolah dalam beberapa bulan terakhir. Mereka mengatakan bahwa militan Palestina beroperasi di fasilitas tersebut dan bersembunyi di tengah-tengah warga sipil yang mengungsi. Tuduhan yang disangkal oleh Hamas.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Pejabat PBB: Dunia Gagal Lindungi Warga Sipil Gaza yang Tidak Bersalah

    Pejabat PBB: Dunia Gagal Lindungi Warga Sipil Gaza yang Tidak Bersalah

    7cloud.asia – Pejabat senior PBB yang mengawasi bantuan dan rekonstruksi di Gaza, Sigrid Kaag mengatakan bahwa masyarakat internasional secara kolektif gagal melindungi warga sipil yang tidak bersalah di Gaza.

    Sigrid Kaag yang ditunjuk sembilan bulan lalu untuk meningkatkan pengiriman bantuan yang sangat dibutuhkan, mengatakan laporan yang akan ia sampaikan kepada Dewan Keamanan PBB pada Senin (16/9/2024) cukup suram.

    Ia menggambarkan situasi di wilayah tersebut sebagai “bencana besar”.

    “Kami tidak memenuhi kebutuhan, apalagi menciptakan prospek dan harapan bagi warga sipil di Gaza,” ungkapnya kepada BBC.

    Dalam wawancara yang jarang terjadi, Koordinator senior PBB untuk Aksi Kemanusiaan dan Rekonstruksi di Gaza itu mengatakan sistem untuk mengirimkan bantuan, termasuk melalui beberapa rute darat dan laut ke Gaza kini sudah tersedia.

    “PBB bekerja sepanjang waktu dan orang-orang mempertaruhkan nyawa mereka setiap hari,” terangnya.

    Namun, ia menyebut Gaza menjadi tempat paling tidak aman di dunia untuk bekerja. Sigrid mengatakan bahwa ia menyesalkan tidak banyak lagi yang dapat ditingkatkan hingga ada gencatan senjata dan pembebasan sandera Israel.

    Sigrid Kaag mengatakan bahwa untuk memastikan misi bantuan dapat berjalan dengan aman telah gagal.

    “Itu tidak berhasil, atau tidak cukup berhasil, untuk membuat operasi dapat dilaksanakan,” tutur dia.

    Minggu lalu PBB mengatakan konvoi bantuan lainnya yang menuju Gaza utara diblokir oleh pasukan Israel.

    Sedangkan badan Pertahanan Sipil yang dikelola Hamas di Gaza mengatakan bahwa sekolah PBB yang beroperasi sebagai tempat perlindungan menjadi sasaran serangan udara Israel, menewaskan 18 orang.

    PBB juga mengatakan bahwa enam stafnya telah tewas. Israel menuduh Hamas menggunakan fasilitas itu sebagai pusat komando dan kendali serta mengatakan Hamas termasuk di antara yang tewas.

    PBB mengatakan hampir 300 pekerja bantuan, lebih dari dua pertiga dari mereka staf PBB, telah tewas sejauh ini dalam perang di Gaza.

    Ternyata, Kaag, salah satu dari sedikit pejabat PBB yang bertemu dengan pejabat senior Israel termasuk PM Israel Benjamin Netanyahu dan menggambarkan diskusinya sebagai “konstruktif”.

    “Kami mengajukan permintaan di atas meja. Beberapa dipenuhi. Kami juga memperoleh komitmen. Namun, ternyata komitmennya terus berlalu,” ungkapnya.
    Pejabat Israel telah berulang kali menegaskan bahwa bantuan yang cukup telah mencapai Gaza, dan membantah laporan tentang kelaparan yang meluas dan parah.

    Tetapi Kaag mengatakan bahwa dari survei dan penelitiannya mayoritas penduduk tidak memiliki ketahanan pangan dan pusat kesehatan PBB mengetahui berapa banyak anak atau bayi yang kekurangan gizi akut.

    Tetapi di zona perang, dia mengatakan tidak semuanya berjalan dengan baik sepanjang waktu.

    “Saya dapat menjamin integritas operasi rekan-rekan kami,” tutur dia.

    Sumber:Kompas.com

  • Setahun Perang di Gaza: ini Dampak Ekonomi dan Politik yang Dirasakan Mesir

    Setahun Perang di Gaza: ini Dampak Ekonomi dan Politik yang Dirasakan Mesir

    7cloud.asia – Perang yang dilancarkan Israel setelah serangan yang dipimpin Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023, tidak hanya menghancurkan rakyat Gaza tetapi juga berdampak buruk pada negara tetangganya, Mesir.

    Perang di Gaza membuat pejabat pemerintah Mesir sibuk dan membebani ekonominya, meski juga membawa sejumlah manfaat ekonomi.

    Rakyat Mesir sudah terpuruk. Pemerintah telah menaikkan harga minyak bumi dan gas alam dua kali tahun ini, masing-masing sebanyak 15 persen.

    Tingkat inflasi Mesir secara keseluruhan telah mencapai 25 persen, dengan para analis menyalahkan lonjakan tersebut sebagian besar pada perang di Gaza.

    Pendapatan pariwisata juga turun karena konflik Gaza. Beberapa negara Barat telah memperingatkan warganya untuk tidak bepergian ke Mesir atau negara-negara Timur Tengah lainnya.

    Baca: Mesir tolak kehadiran militer Israel di perbatasannya dengan Gaza

    Konflik Gaza juga telah memicu aktivitas diplomatik selama berjam-jam dan daftar panjang kunjungan utusan dari beberapa negara.

    Upaya mediasi tidak berhasil, tetapi konflik tersebut telah membuat para diplomat sibuk, dengan pertemuan Liga Arab yang berpusat di Kairo dan konsultasi yang melibatkan di antaranya Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat.

    Said Sadek, profesor studi perdamaian dan hak asasi manusia di Universitas Mesir-Jepang di Alexandria, mengatakan kepada VOA bahwa Mesir telah menjadi salah satu pemain kunci dalam upaya mediasi antara Israel dan Hamas. Ia mengatakan upayanya terkadang berhasil dan terkadang tidak berhasil.

    “Secara politis (konflik) menyoroti peran Mesir sebagai kekuatan moderat di Timur Tengah,” katanya.

    “Dalam semua negosiasi yang terjadi kemudian antara Hamas dan Israel, mereka selalu membutuhkan mediator, dan itu adalah Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat. Dan mereka semua memainkan peran dalam hal itu dan terkadang mereka berhasil dan terkadang mereka gagal.”

    Baca: Perundingan gencatan senjata di Gaza berlangsung alot

    Kepala intelijen Mesir, Abbas Kamel, menghabiskan waktu berjam-jam untuk memediasi antara Israel dan Hamas, seperti yang dilakukan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken dan menteri luar negeri Qatar, Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim al Thani.

    Secara ekonomi, konflik Gaza telah menyebabkan kerusakan serius pada ekonomi Mesir, tetapi juga membawa manfaat, seperti yang ditunjukkan oleh analis Timur Tengah yang berkantor di Washington, Paul Sullivan.

    “Mesir sedang terhimpit di antara banyak batu dan banyak tempat yang sulit, dengan beberapa hal positif,” katanya.

    “Hal positif tersebut termasuk aliran uang dari GCC (Dewan Kerja Sama Teluk), IMF (Dana Moneter Internasional), Bank Dunia, dan lainnya, untuk memastikan bahwa Mesir menjadi sedikit lebih stabil secara ekonomi.”

    Baik Sadek maupun Sullivan setuju bahwa efek samping dari konflik Gaza mengakibatkan perekonomian Mesir mengalami kemunduran. Hal tersebut termasuk penurunan besar dalam pendapatan dari Terusan Suez, salah satu sumber pendapatan utama pemerintah Mesir.

    Baca: Israel hanya sisakan 9,5 persen zona aman di Gaza

    “(Houthi) di Yaman memblokir navigasi yang aman di Laut Merah dan itu memengaruhi Terusan Suez yang dulunya menghasilkan sekitar $10 miliar bagi Mesir,” kata Sadek.

    “Sekarang kita hanya mendapatkan $3 miliar, jadi ada kerugian besar sebesar 70 persen.”

    Mesir tidak hanya menderita kerugian akibat berkurangnya pendapatan dari Terusan Suez karena kapal-kapal berlayar di sekitar Tanduk Afrika untuk mencapai tujuan mereka.

    Sullivan mengatakan Mesir juga terancam kekurangan gas alam “jika Israel menghentikan ekspor gasnya ke Mesir.”

    Hal itu akan membuat pemerintah Mesir terpaksa mengimpor gas alam dengan harga yang jauh lebih tinggi.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Email Pentagon ke Gedung Putih Bocor: Washington Dinilai Lambat dalam Menangani Penderitaan Warga Gaza

    Email Pentagon ke Gedung Putih Bocor: Washington Dinilai Lambat dalam Menangani Penderitaan Warga Gaza

    7cloud.asia – Surat elektronik atau email seorang pejabat senior Pentagon (Departemen Pertahanan AS) ke Gedung Putih bocor.

    Dilansir VOA Indonesia, dalam email tersebut pejabat Pentagon memberikan peringatan serius kepada Gedung Putih saat Israel melancarkan serangan udara ke Gaza utara pada Oktober lalu dan memerintahkan evakuasi lebih dari satu juta warga Palestina dari daerah itu.

    Dana Stroul, yang saat itu menjabat sebagai wakil asisten menteri pertahanan untuk Timur Tengah, menulis dalam email kepada para pembantu senior Presiden Joe Biden pada 13 Oktober bahwa evakuasi massal dapat menjadi bencana kemanusiaan dan melanggar hukum internasional.

    Hal itu juga berpotensi menimbulkan tuduhan kejahatan perang terhadap Israel. Ia menyampaikan penilaian dari Komite Palang Merah Internasional yang membuatnya “merinding sampai ke tulang.”

    Saat perang Gaza mendekati peringatan satu tahun dan situasi di Timur Tengah semakin memanas, email Stroul dan komunikasi lainnya menunjukkan bahwa pemerintahan Biden sudah berjuang untuk menyeimbangkan kekhawatiran tentang kematian yang meningkat di Gaza dengan dukungan publiknya terhadap Yerusalem.

    Ini terjadi setelah serangan Hamas di Israel selatan pada 7 Oktober yang menewaskan 1.200 orang.

    Reuters membaca tiga korespondensi via email antara pejabat senior pemerintahan Amerika Serikat pada 11 hingga 14 Oktober, hanya beberapa hari setelah krisis di Gaza dimulai.

    Pertempuran di Gaza menyebabkan lebih dari 40.000 warga Gaza tewas, dan memicu demonstrasi di Amerika, yang dipimpin oleh warga Arab-Amerika dan aktivis Muslim.

    Baca: Mesir ikut merasakan dampak perang di Gaza

    Email tersebut, yang belum pernah dilaporkan sebelumnya, mengungkapkan kekhawatiran Departemen Luar Negeri dan Pentagon sejak awal bahwa meningkatnya jumlah korban tewas di Gaza dapat melanggar hukum internasional dan membahayakan hubungan Amerika di Timur Tengah.

    Pesan-pesan tersebut juga menunjukkan tekanan internal dalam pemerintahan Biden untuk mengubah pesannya dari menunjukkan solidaritas dengan Israel menjadi mencakup simpati untuk Palestina dan perlunya mengizinkan lebih banyak bantuan kemanusiaan ke Gaza.

    Kesepakatan gencatan senjata masih sulit dicapai, meskipun negosiasi yang ditengahi AS telah berlangsung selama berbulan-bulan. Sebagian besar Gaza kini menjadi gurun.

    Dan risiko perang regional dengan Iran bukan tak mungkin terjadi setelah Israel menyerang fasilitas militer di Lebanon, dan membunuh pemimpin milisi Hizbullah yang didukung Iran, Hassan Nasrallah, pada pekan lalu.

    Pejabat tinggi pemerintahan Biden menyatakan bahwa tekanan yang diberikan Gedung Putih terhadap pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari-hari awal krisis berhasil mencegah situasi yang lebih parah.

    Dalam pembicaraan tertutup, Gedung Putih meminta Israel untuk menunda serangan darat guna memberi waktu bagi kelompok bantuan menyiapkan bantuan untuk para pengungsi serta memberikan kesempatan bagi Israel untuk mencapai kesepakatan dengan Hamas, kata pejabat pemerintahan kepada wartawan dalam pengarahan latar belakang saat itu.

    Namun, Washington lambat dalam menangani penderitaan warga Palestina, kata tiga pejabat senior Amerika Serikat yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan.

    Dan meskipun invasi darat akhirnya tertunda sekitar 10 hari, ketiga pejabat tersebut mengaitkan jeda tersebut lebih pada persiapan operasional oleh militer Israel daripada tekanan Washington.

    Baca: Memasuki tahun kedua Perang di Gaza, anak-anak makin tak menentu nasibnya

    Setelah berita ini dirilis, Senator Demokrat Chris Van Hollen menyatakan bahwa email tersebut menunjukkan “bencana kemanusiaan di Gaza sudah terlihat jelas sejak hari-hari awal perang, dan peringatan para ahli utama bahwa standar internasional telah dilanggar.”

    Ia menambahkan bahwa “kekhawatiran yang valid” diabaikan oleh Gedung Putih.

    Menanggapi pertanyaan tentang email tersebut, Gedung Putih mengatakan, “AS telah memimpin upaya internasional untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Gaza” dan “ini adalah dan akan terus menjadi prioritas utama.”

    Gedung Putih menambahkan bahwa sebelum “keterlibatan Amerika Serikat, tidak ada makanan, air, atau obat-obatan yang masuk ke Gaza.”

    Komisi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tengah melakukan menyelidikan terhadap pemimpin Israel maupun Hamas atas dugaan kejahatan perang setelah serangan Hamas.

    Pada Juni, komisi itu menyimpulkan ada bukti kredibel bahwa Hamas dan kelompok bersenjata Palestina lainnya melakukan kejahatan perang, termasuk penyiksaan dan penyanderaan.

    Komisi tersebut juga menemukan bukti kejahatan perang Israel dari penggunaan bahan peledak besar-besaran oleh negara itu di Gaza pada bulan-bulan pertama perang.

    Sumber: VOA Indonesia

     

  • Satu Tahun Konflik Gaza: Paus Fransiskus Serukan Puasa dan Doa Bersama

    Satu Tahun Konflik Gaza: Paus Fransiskus Serukan Puasa dan Doa Bersama

    7cloud.asia – Paus Fransiskus menyerukan doa dan puasa pada Senin (7/10/2024), yang menjadi peringatan satu tahun serangan Hamas terhadap Israel yang memicu konflik hingga saat ini di Gaza.

    Di saat kematian dan kehancuran terus berlanjut, panggilan telepon harian dari Paus Fransiskus ke paroki Gereja Keluarga Kudus Katolik di Kota Gaza juga tidak berhenti.

    Gereja tersebut menjadi tempat yang menawarkan santapan rohani kepada para imam, biarawati, dan umat paroki yang mencari perlindungan di wilayah itu.

    Pada awal sinode khusus para pendeta, biarawati dan umat Katolik di Roma pada Selasa (2/10/2024), Paus Fransiskus menyampaikan seruan untuk berdoa dan berpuasa pada peringatan peristiwa yang memicu perang di Gaza, seiring meluasnya konflik di Timur Tengah.

    Paus Fransiskus mengatakan gereja selalu melayani umat manusia “terutama pada saat-saat dramatis dalam sejarah kita, ketika angin perang dan api kekerasan terus melanda seluruh masyarakat dan negara.”

    Baca: AS dinilai lambat mencegah korban sipil di Gaza

    Paus mengajak semua orang untuk berdoa dan berpuasa demi perdamaian dunia pada tanggal 7 Oktober.

    Perang di Gaza diawali dengan serangan kelompok militan Hamas pada 7 Oktober 2023 ke bagian selatan Israel, yang menewaskan 1.200 orang. Hamas juga menyandera sekitar 250 orang lainnya, yang sebagian besar telah dibebaskan dalam perjanjian gencatan senjata pertama bulan November.

    Serangkaian serangan pembalasan Israel lewat darat dan udara ke Jalur Gaza telah menewaskan lebih dari 41.400 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak.

    Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, wilayah yang dikelola Hamas, tidak membedakan identitas korban; tetapi militer Israel bersikeras bahwa korban tewas itu mencakup ribuan pejuang Hamas.

    Beri semangat
    Pastur Gabriel Romanelli, pastor paroki di gereja di Kota Gaza, mengatakan kepada Radio Vatikan bahwa Paus menyerukan setiap hari untuk memberikan “kata-kata penghiburan dan berkat” kepada umat di sana.

    Baca: Mesir ikut merasakan dampak perang di Gaza

    Sang Pastur mengatakan Paus “meminta kita untuk melindungi anak-anak dan selalu mendorong kita untuk terus maju.”

    Francis X. Rocca, pengamat dan wartawan yang telah meliput Vatikan sejak tahun 2007 –termasuk untuk surat kabar The Wall Street Journal– mengatakan kepada VOA bahwa panggilan telepon yang dilakukan Paus Fransiskus ke paroki Gaza setiap harinya merupakan hal yang unik.

    “Ini adalah hal yang luar biasa untuk dilakukan, terutama jika Anda melakukannya setiap hari,” katanya.

    Pada awal masa kepausannya, Paus Fransiskus sering menelepon berbagai orang secara pribadi, yang terkadang dilakukan secara spontan, secara tiba-tiba.

    ”Tetapi melakukan hal ini secara teratur, setiap hari, tentu saja menunjukkan kepedulian yang sangat besar. Selama perang di Ukraina, dia juga memberikan komentar dan mengirim pesan dan sebagainya.”

    Gereja di Gaza itu dinamakan “Gereja Keluarga Kudus” karena diyakini bahwa Maria, Yusuf dan bayi Yesus melewati wilayah pesisir itu ketika menuju Mesir untuk melarikan diri dari kekejaman Raja Herodes pada abad pertama Masehi.

    Gereja itu tidak luput dari kekerasan perang antara Israel dan Hamas. (Sumber: VOAIndonesia)

  • Ada Lebih dari 42 Juta Ton Puing Bangunan di Gaza, PBB: Butuh Waktu 14 Tahun untuk Menyingkirkannya

    Ada Lebih dari 42 Juta Ton Puing Bangunan di Gaza, PBB: Butuh Waktu 14 Tahun untuk Menyingkirkannya

    7cloud.asia – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan ada lebih dari 42 juta ton puing bangunan di Gaza dari reruntuhan bangunan yang rusak akibat serangan membabibuta Israel.

    Sebanyak 42 juta ton puing bangunan itu termasuk bangunan yang hancur, tetapi masih berdiri, dan bangunan yang telah rata dengan tanah.

    Menurut PBB, jumlah tersebut 14 kali lipat dari jumlah puing bangunan yang terkumpul di Gaza antara 2008 hingga dimulainya perang setahun lalu, dan lebih dari lima kali lipat jumlah yang ditinggalkan oleh Pertempuran Mosul di Irak 2016-2017.

    Jika ditumpuk, tumpukan itu mampu memenuhi Piramida Agung Giza yang merupakan piramida terbesar di Mesir – sebanyak 11 kali. Dan jumlahnya terus bertambah setiap hari.

    Dilansir VOA Indonesia, PBB berupaya membantu, sementara otoritas Gaza mempertimbangkan cara untuk menangani puing-puing itu, menurut penuturan tiga pejabat PBB.

    Baca: Israel hanyavsisakan 9,5 persen zona aman di Gaza

    Kelompok Kerja Pengelolaan Puing yang dipimpin PBB dengan otoritas Palestina berencana membuat proyek percontohan di Khan Younis dan Kota Deir El-Balah di Gaza tengah untuk mulai membersihkan puing-puing pinggir jalan pada bulan ini.

    “Tantangannya sangat besar,” kata Alessandro Mrakic, kepala Kantor Gaza untuk Program Pembangunan PBB (UNDP) yang menjadi salah satu ketua kelompok kerja tersebut.

    “Ini akan menjadi operasi besar-besaran, tetapi pada saat yang sama, penting bagi kita untuk memulainya sekarang.” imbuh Mrakic.

    Militer Israel mengatakan pasukan Hamas bersembunyi di antara warga sipil dan akan menyerang mereka di mana pun mereka muncul, dan di saat yang bersamaan juga berupaya menghindari melukai warga sipil.

    Ketika ditanya tentang puing-puing tersebut, unit militer Israel COGAT mengatakan bahwa mereka bermaksud untuk meningkatkan penanganan limbah dan akan bekerja sama dengan PBB untuk memperluas upaya tersebut.

    Baca: Jutaan warga Palestina mengungsi ke tempat minim fasilitas

    Mrakic mengatakan koordinasi dengan Israel sangat baikm tetapi diskusi terperinci tentang rencana masa depan belum dilakukan.

    Tenda-tenda di Tengah Reruntuhan
    Israel memulai serangannya setelah Hamas menyerang Israel pada 7 Oktober tahun lalu. Serangan itu menewaskan sekitar 1.200 warga Israel dan menyandera lebih dari 250 orang yang sebagian besar telah dibebaskan.

    Serangan balasan Israel yang berlangsung hingga hari ini, menewaskan hampir 42.000 warga Palestina, kata otoritas kesehatan Palestina.

    Di darat, puing-puing ditumpuk tinggi di atas trotoar pejalan kaki dan diangkut menggunakan kereta keledai di jalan sempit berdebu yang dulunya merupakan jalan yang ramai.

    “Siapa yang akan datang ke sini dan membersihkan puing-puing untuk kami? Tidak seorang pun. Jadi, kami melakukannya sendiri” kata sopir taksi Yusri Abu Shabab, setelah membersihkan cukup banyak puing dari rumahnya di Khan Younis untuk mendirikan tenda.

    Baca: Konflik Israel-Hamas hancurkan masa depan anak-anak Gaza

    Dua pertiga bangunan di Gaza sebelum perang, sebanyak lebih dari 163.000 bangunan saat ini telah rusak atau rata dengan tanah, menurut data satelit PBB. Sekitar sepertiganya merupakan bangunan bertingkat tinggi.

    Setelah perang tujuh minggu di Gaza pada 2014, UNDP dan mitranya membersihkan 3 juta ton puing atau sekitar 7 persen dari total puing yang ada pada saat ini.

    Mrakic mengutip perkiraan awal yang tidak dipublikasikan bahwa akan dibutuhkan biaya 280 juta dolar atau sekitar Rp4,3 triliun untuk membersihkan 10 juta ton.

    Hal ini berarti dibutuhkan sekitar 1,2 miliar dolar atau sekitar Rp18,7 triliun jika perang dihentikan sekarang.

    Perkiraan PBB pada April menunjukkan akan dibutuhkan waktu sekitar 14 tahun untuk membersihkan seluruh puing-puing tersebut.

    Sumber:VOAIndonesia

  • Hamas Sebut Israel Didukung Amerika Lakukan Pembantaian Massal di Gaza

    Hamas Sebut Israel Didukung Amerika Lakukan Pembantaian Massal di Gaza

    7cloud.asia – Kelompok pejuang Palestina, Hamas, menuding Israel dengan dukungan AS melakukan pembantaian di Jabalia, Gaza utara, sebagai “balasan terhadap warga sipil tak bersenjata” di bawah perlindungan Amerika.”

    Hamas mengutuk pembantaian oleh pendudukan Israel seperti gerakan Nazi, yang mengakibatkan banyak korban jiwa dan cedera di daerah permukiman Jabalia pada Jumat malam (11/10/2024).

    “Pembantaian ini merupakan kelanjutan dari genosida kriminal yang sedang berlangsung terhadap rakyat kami, yang juga dilindungi oleh Amerika,” kata Hamas dalam pernyataannya, Sabtu (12/10/2024).

    Baca: Pengungsi Gaza tak punya tempat berlindung

    Hamas lebih lanjut mengatakan bahwa serangan yang meningkat terhadap warga sipil di Jabalia ini merupakan upaya untuk menghukum penduduk atas kegigihan dan penolakan mereka terhadap pemindahan paksa.

    “Kejahatan teroris Nazi yang sedang berlangsung, yang kini memasuki tahun kedua, menunjukkan kepada dunia bahwa entitas fasis yang jahat ini haus darah dan ingin membalas dendam melalui genosida lebih lanjut terhadap rakyat kami di Gaza serta penduduk Lebanon,” ujar Hamas.

    Sumber medis di Gaza melaporkan bahwa 24 warga Palestina tewas dan sekitar 90 orang lainnya terluka dalam serangan udara Israel yang menargetkan perkumpulan warga sipil dan blok permukiman yang terdiri dari empat rumah di Jabalia pada Jumat malam.

    Baca: Dunia gagal lindungi warga sipil di Gaza

    Situasi di Jabalia sangat tegang sejak 6 Oktober, dengan tentara Israel memberlakukan pengepungan ketat di daerah tersebut, yang menyebabkan eskalasi kekerasan yang intens di Gaza utara dan beberapa bentrokan paling sengit sejak Mei.

    Serangan udara pada Jumat menandai operasi darat ketiga Israel di Jabalia sejak konflik yang sedang berlangsung meningkat pada 7 Oktober 2023, menyusul serangan sebelumnya pada November dan Desember tahun lalu.

    Israel terus melancarkan serangan brutal di Gaza menyusul serangan lintas batas oleh kelompok Hamas pada 7 Oktober tahun lalu, meskipun ada resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan gencatan senjata segera.
    Baca: AS dan PBB desak Israel lindungi lokasi bantuan sosial di Gaza

    Menurut otoritas kesehatan Gaza, konflik Israel-Hamas elah merenggut hampir 42.200 nyawa, terutama perempuan dan anak-anak, dan telah melukai lebih dari 98.300 orang.

    Pengeboman yang terus dilancarkan Israel juga telah memaksa penduduk Gaza untuk mengungsi, di tengah krisis pangan, air bersih, dan pasokan medis akibat blokade.

    Israel saat ini menghadapi tuduhan genosida di Mahkamah Internasional atas tindakannya di Gaza.

    Sumber: Anadolu

  • Para Jurnalis Bertaruh Nyawa Saat Meliput Perang Hamas-Israel di Gaza

    Para Jurnalis Bertaruh Nyawa Saat Meliput Perang Hamas-Israel di Gaza

    7cloud.asia – Di antara banyaknya korban sipil yang tewas dalam setahun perang Hamas-Israel divGaza, lebih seratus orang di antaranya adalah jurnalis.

    “Ada lebih banyak jurnalis yang terbunuh dalam 10 minggu pertama perang ini, dibandingkan dengan yang terbunuh di satu negara selama satu tahun,” kata Jodie Ginsberg, CEO dari Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ).

    Menurut CPJ, angka kematian jurnalis di Gaza hingga 1 Oktober 2024 mencapai 116 orang. Jumlah ini terdiri dari 11 jurnalis Palestina, dua orang Israel, dan tiga orang Lebanon.

    Selain itu, 35 orang jurnalis dilaporkan terluka, dua orang hilang, dan 54 orang jurnalis ditangkap.

    “Ada juga tantangan yang sangat besar dalam hal akses berita bagi para jurnalis. Dari pengalaman saya, ini adalah liputan yang paling terpolarisasi yang pernah kami hadapi sepanjang karir saya sebagai jurnalis,” terang John Daniszewski, wakil presiden kantor berita the Associated Press dan editor at-large untuk standar berita.

    Baca: Anugerah Guillermo Cano 2024 untuk jurnalis Palestina peliput perang Gaza

    Tareq Hajjaj, koresponden Gaza untuk media Mondoweiss, kanal berita online yang meliput wilayah Palestina, Israel, dan kebijakan Amerika Serikat. Hajjaj telah tinggal di Gaza sepanjang hidupnya.

    “Setiap kali saya berjalan di bawah drone dan pesawat tempur Israel, saya selalu merasa mereka akan mengebom saya kapan pun, mengelilingi saya, karena saya tahu mereka manyasar para jurnalis, dan saya tahu mereka tidak ingin apa pun dari Gaza diketahui orang,” jelas Hajjaj.

    Didirikan sebagai situs berita progresif, Mondoweiss telah menerima kritik yang dianggap sebagian orang sebagai pandangan anti-Israel.

    Pemerintah Israel berulang kali membantah bahwa mereka menyasar para jurnalis. Tetapi CPJ dan kelompok lainnya mengatakan bahwa Pasukan Pertahanan Israel (IDF) harus bertanggung jawab atas tingginya angka kematian pekerja media. Sebagian besar yang tewas adalah warga Palestina.

    “Hanya mereka orang-orang yang bisa melaporkan dari Gaza karena tidak ada wartawan asing yang diizinkan untuk masuk. Jadi, mereka memikul tanggung jawab penuh untuk melaporkan dampak perang di Gaza,” imbuh Ginsberg.

    Baca: Federasi Jurnalis Dunia tuntut Israel yang tak laksanakan rekomendasi Mahkamah Internasional

    Daniszewski menambahkan bahwa cedera dan kematian bukanlah satu-satunya risiko yang dihadapi para jurnalis.

    “Bahaya yang mengancam tidak hanya secara fisik, tetapi juga pengintaian siber dan pelecehan, serta intimidasi terhadap para jurnalis,” ujarnya.

    Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengutuk serangan terhadap para jurnalis; menandai adanya “laporan yang meresahkan” tentang serangan terhadap para pekerja media walaupun mereka sudah diidentifikasi dengan jelas.

    Menanggapi laporan PBB tersebut, IDF mengatakan bahwa mereka “tidak dengan sengaja menambaki warga sipil, termasuk para jurnalis.”

    Sementara itu, Hajjaj mengingat setiap berita yang diliputnya sejak 7 Oktober 2023. Baginya, beberapa di antaranya terasa sangat berat untuk ditulis.

    Namun, dia menyadari bahwa sudah menjadi tugasnya sebagai jurnalis untuk terus melaporkan apa yang terjadi di Gaza. (Sumber: VOA Indonesia)