Tag: banjir

  • Banjir dan Tanah Longsor di Sukabumi Terparah dalam 10 Tahun Terakhir

    Banjir dan Tanah Longsor di Sukabumi Terparah dalam 10 Tahun Terakhir

    7cloud.asia – Data BPBD Sukabumi menunjukkan, setidaknya 38 kecamatan di Sukabumi terdampak bencana tanah bergerak ini.

    “Jumlah desa yang terdampak juga meningkat menjadi 101, dengan rincian 100 desa dan 1 kelurahan,” kata Sekretaris Daerah Kabupaten Sukabumi, Ade Suryaman,

    Ade merinci, tanah longsor terjadi di 90 titik, banjir di 52 titik, angin kencang melanda 18 lokasi, dan pergerakan tanah tercatat di 35 titik. Data ini diperkirakan terus bertambah karena hujan masih mengguyur deras.

    Beberapa laporan terbaru dari Kecamatan Palabuhanratu dan Warungkiara menyebutkan pergerakan tanah yang belum masuk ke dalam data resmi.

    “Kabandungan yang sebelumnya tidak terdampak kini mulai dilaporkan,” tambahnya.

    Sementara itu, korban terdampak bencana mencapai 744 KK atau 1.749 jiwa, dengan 99 KK atau 258 jiwa mengungsi. Sebanyak 182 KK atau 365 jiwa berada dalam kondisi terancam.

     

    Baca: Cuaca Ekstrem picu banjir dan tanah longsor di Sukabumi dan Cianjur

    Data korban meninggal dunia bertambah menjadi empat, sedangkan enam orang lainnya masih dinyatakan hilang.

    Ade menegaskan bahwa bencana ini merupakan salah satu yang terparah dalam satu dekade terakhir.

    “Kita menghadapi tantangan berat, terutama dalam distribusi logistik dan bahan bakar. Jalur menuju beberapa wilayah seperti Sagaranten masih terputus,” ungkapnya.

    “Kalau lihat gambaran tadi yang Pak Deputi sampaikan memang 10 tahun terakhir ini kita yang paling parah Kabupaten Sukabumi. Awalnya tidak separah ini,” sambungnya.

    Saat ini para korban membutuhkan kebutuhan mendesak meliputi selimut, bahan makanan, pakaian layak, dan tenda. Namun, penggunaan tenda dinilai kurang optimal di tengah curah hujan tinggi.

    Baca: BMKG ingatkan potensi cuaca ekstrem beberapa pekan ke depan

    “Kami menyarankan pengungsian di masjid atau sekolah, tetapi saat ini sekolah masih digunakan untuk ujian,” ujar Ade.

    Untuk masyarakat yang ingin memberikan bantuan, posko utama telah disiapkan. Posko lapangan juga tersedia di tingkat kecamatan untuk memudahkan penyaluran bantuan langsung.

    Pascakejadian bencana tanah bergerak di sejumlah wilayah di Sukabumi, Wakil Ketua DPR Cucun Ahmad Syamsurijal menyerukan penataan geospasial untuk meminimalkan risiko bencana serupa di masa depan.

    “Pemda Sukabumi harus segera berkoordinasi dengan Kementerian PUPR untuk menata ulang kawasan ini. Relokasi (warga) juga menjadi opsi, tentunya disesuaikan dengan anggaran pemerintah daerah dan dukungan pusat,” kata Cucun saat mengunjungi lokasi pengungsian bencana tanah bergerak di Desa Mekarsari, Sukabumi, Jumat (06/12/2024).

    Bencana yang terjadi memaksa 260 jiwa dari 72 KK mengungsi. Menurut Cucun, warga masih diliputi trauma, namun bantuan darurat dari BNPB, Kemensos, TNI, dan Polri sudah berjalan.

    “Trauma healing akan dilakukan, terutama untuk anak-anak. Saat ini kebutuhan utama adalah makanan, pakaian, tenda, dan selimut,” ujar Politisi PKB ini.

    Ia juga menegaskan pentingnya kehadiran pemerintah untuk memberikan dukungan moral kepada warga terdampak.

    “Kami ingin memastikan pengawasan terhadap penanganan bencana berjalan optimal dan sesuai dengan tugas masing-masing,” pungkasnya.

     

  • Curah Hujan Meningkat, BMKG Perpanjang Peringatan Cuaca Ekstrem di Jabodetabek Hingga 15 Desember

    Curah Hujan Meningkat, BMKG Perpanjang Peringatan Cuaca Ekstrem di Jabodetabek Hingga 15 Desember

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperpanjang peringatan cuaca ekstrem di wilayah Jabodetabek hingga 15 Desember mendatang. Masyarakat diimbau waspada.

    Hal ini diungkapkan oleh Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati di Jakarta beberapa hari yang lalu. Menurutnya curah hujan menjelang 15 Desember justru akan meningkat.

    “Ini akan berlanjut tanggal 15 (Desember). Terutama yang perlu diwaspadai menjelang tanggal 15 itu akan meningkat secara bertahap. Nah kemudian puncaknya itu sekitar 15  bisa mencapai 100 milimeter per hari hujannya. Sehingga perlu diwaspadai,” jelasnya.

    Baca: Waspada, cuaca ekstrem saat libur Nataru

    Selanjutnya Dwikorita menerangkan, ada beberapa hal yang menyebabkan peningkatan curah hujan di wilayah Jabodetabek pada pertengahan Desember nanti.

    Salah satu penyebabnya adalah adanya adanya siklon tropis atau bibit siklon tropis. Selain itu juga adanya Madden Julian Osciliation (MJO) atau gerombolan awan-awan hujan dari Samudera Hindia Barat.

    Apalagi wilayah Jabodetabek saat ini tengah dalam kondisi cuaca menjelang puncak musim hujan, pada Januari 2025.

    Baca: BMKG sebut La Nina hingga April 2025 berpotensi bencana hidrometeorologi

    Saat ini, lanjut Dwikorita, pihaknya bersama Bada Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga terus melakukan modifikasi cuaca untuk meminimalisir intensitas hujan.

    Meski demikian pihaknya mengajak masyarakat untuk mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi yang akan terjadi sebagai dampak curah hujan yang tinggi.

    Selain itu, pihaknya mengajak pemerintah daerah untuk melakukan mitigasi bencana hidrometeorologi.

    Salah satunya mengintensifkan pengecekan pada kawasan aliran sungai, perbukitan, tebing curam, mempersiapkan peralatan, anggaran dan termasuk menetapkan status tanggap darurat bencana.

     

     

  • Antisipasi Cuaca Ekstrem: Pemprov Daerah Khusus Jakarta Keluarkan Surat Edaran WFH

    Antisipasi Cuaca Ekstrem: Pemprov Daerah Khusus Jakarta Keluarkan Surat Edaran WFH

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan mengeluarkan surat edaran berisi imbauan agar pegawai dapat bekerja dari rumah (work from home/WFH) bila memang terjadi banjir di hari kerja.

    Surat Edaran berisi imbauan WFH ini untuk mengantisipasi cuaca ekstrem yang berpotensi terjadi di Jakarta dan sekitarnya pada bulan Desember 2024 ini.

    “Kalau memang banjir, nanti dari kami akan keluarkan surat edaran seperti waktu pandemi Covid-19. Kami buat surat edaran ke kantor-kantor supaya nanti dari sisi pengusaha dan pekerja clear,” kata Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Energi (Nakertransgi) DKI Jakarta, Hari Nugroho di Jakarta, Rabu (11/12/2024)

    Pernyataan ini guna menanggapi keputusan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memperpanjang status peringatan dini cuaca ekstrem hingga 15 Desember 2024.

    Baca: BMKG perpanjang peringatan cuaca ekstrem di Jabodetabek

    Dalam pernyataannya BMKG menyebutkan bahwa curah hujan di wilayah Jabodetabek terus meningkat dan akan berlangsung hingga beberapa hari ke depan.

    Menurut BMKG, pada puncak cuaca ekstrem yakni 15 Desember mendatang, curah hujan bisa mencapai 100 milimeter sehingga ini perlu diwaspadai.

    Sebelumnya, BMKG mengeluarkan peringatan dini potensi cuaca ekstrem pada 7-8 Desember 2024. Peringatan ini diperpanjang hingga 15 Desember mengingat curah hujan di Jabodetabek masih tinggi.

    Guna mengantisipasi banjir, Pemerintah Provinsi DKI melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melakukan operasi modifikasi cuaca hingga akhir Desember nanti.

    Baca: Modifikasi cuaca sukses kurangi potensi bencana hidrometeorologi

    Operasi modifikasi cuaca ini kemudian dinyatakan mampu mengurangi curah hujan khususnya di Jakarta secara signifikan.

    Pemprov DKI lalu kembali akan melakukan operasi modifikasi cuaca pada 12-14 Desember 2024 untuk mengurangi intensitas hujan dan memitigasi banjir di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).

    Dalam kesempatan berbeda, Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Teguh Setyabudi mengatakan kemungkinan memberlakukan kebijakan WFH untuk mengurangi dampak cuaca ekstrem yang berpotensi menyebabkan banjir, terutama jika banjir terjadi pada hari kerja.

    Adapun pertimbangan WFH akan diberlakukan bagi siswa sekolah hingga aparatur sipil negara (ASN). Namun tidak menutup kemungkinan bagi kementerian atau lembaga lainnya.

  • Cuaca Ekstrem Picu Banjir di Trenggalek dan Ponorogo

    Cuaca Ekstrem Picu Banjir di Trenggalek dan Ponorogo

    7cloud.asia – Ribuan warga Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur terdampak banjir bandang setelah hujan deras yang mengguyur daerah itu sejak Minggu (15/12/2024) sore hingga malam.

    Melansir antaranew.com, banjir dilaporkan melanda di sejumlah wilayah, termasuk Kelurahan Kelutan dan Tamanan, Kecamatan Trenggalek.

    Banjir ini tidak hanya merendam permukiman warga, tetapi juga memutus jalur utama Jalan Nasional Soekarno-Hatta yang menuju pusat kota.

    Banjir juga terjadi di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, sejak Minggu (15/12) hingga Senin dini hari memutus akses utama jalur provinsi menuju Kabupaten Trenggalek dan Pacitan.

    Air dilaporkan menggenangi jalan provinsi hingga mencapai ketinggian sekitar 150 sentimeter, sehingga kendaraan tidak dapat melintas. Banjir yang terjadi juga merendam sejumlah fasilitas umum, termasuk sekolah, serta memaksa warga di beberapa wilayah mengungsi.

    “Kondisi ini dipicu meluapnya sejumlah sungai utama di Ponorogo yang tidak mampu menampung debit air akibat curah hujan tinggi,” kata Hadi Sunyoto, anggota Tim Reaksi Cepat BPBD Ponorogo di Ponorogo, Senin.

    Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ponorogo, banjir menggenangi wilayah Kecamatan Jetis, Kecamatan Siman, dan Kecamatan Ponorogo.

    Di permukiman di Kelurahan Kelutan, Trenggalek ketinggian air mencapai 1 hingga 1,5 meter.

    Di jalan utama, banjir setinggi 80–90 cm menggenangi area sepanjang 200 meter, sehingga kendaraan tidak dapat melintas. Jalur tersebut terpaksa dialihkan melalui Kecamatan Karangan.

    “Banjir ini karena tanggul Sungai Ngasinan di Dusun Dukuh jebol akibat tidak mampu menahan debit air,” ujar Lurah Kelutan, Pamuji Rokhmat, Senin.

    Ia menambahkan genangan meliputi RT 1, 2, 9, 10, 12, 13, dan 14, dengan total 2.200 warga dari 700 kepala keluarga terdampak.

    Selain itu, banjir juga melumpuhkan pelayanan publik, termasuk kantor kelurahan, satu puskesmas pembantu, dua sekolah dasar, dan dua pondok pesantren.

    “Air belum bisa surut karena elevasi dataran lebih rendah dibandingkan Sungai Ngasinan, sehingga butuh pompa untuk mempercepat aliran,” jelas Pamuji.

    Warga yang terdampak berupaya menyelamatkan barang berharga ke tempat lebih tinggi. Namun, perabotan rumah terpaksa dibiarkan terendam.

    “Kami hanya bisa memantau situasi, sebab surutnya air cenderung lambat,” kata Feri Budi Santoso, warga Kelutan.

    Warga berharap pemerintah segera memperbaiki tanggul yang jebol dan menyediakan bantuan, terutama bahan makanan.

    “Kami tidak bisa memasak karena rumah terendam. Kondisi ini benar-benar menghambat aktivitas sehari-hari,” ujar Sudin, warga lainnya.

    Sementara itu, beberapa pengendara motor yang nekat menerobos genangan air di Jalan Soekarno-Hatta banyak mengalami mati mesin.

    Hingga saat ini, jalur tersebut masih belum sepenuhnya bisa dilalui kendaraan roda empat.

    Banjir di wilayah ini kerap terjadi saat hujan deras, meski kehadiran Bendungan Tugu telah mengurangi intensitasnya.

    “Semoga pembangunan Bendungan Bagong segera rampung agar risiko banjir bisa lebih terkendali,” harap Feri.

  • Masa Tanggap Darurat Bencana di Sukabumi Diperpanjang

    Masa Tanggap Darurat Bencana di Sukabumi Diperpanjang

    7cloud.asia – Pemerintah Kabupaten Sukabumi kembali memperpanjang status masa tanggap darurat bencana di daerah itu selama tujuh hari ke depan, namun tidak untuk seluruh kecamatan terdampak bencana.

    Dari 39 kecamatan terdampak bencana banjir bandang dan longsor, hanya tiga kecamatan saja yang kondisinya masih perlu penanganan khusus yakni Kecamatan Tegalbuleud, Kalibunder dan Pabuaran.

    “Sehingga tiga kecamatan itu status tanggap darurat bencana diperpanjang hingga Senin (23/12/2024),” kata Bupati Sukabumi Marwan Hamami di Sukabumi, Selasa (17/12/2024)

    Menurut Marwan, untuk kecamatan lain berstatus masa transisi darurat ke pemulihan. Untuk masa transisi ditetapkan selama tiga bulan ke depan.

    Lanjut dia, masa tanggap darurat yang berlaku selama tujuh hari itu digunakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan dasar terutama infrastruktur.

    Baca: Banjir Bandang di Sukabumi Diduga Dipicu Aktivitas Tambang

    Sebab tak sedikit infrastruktur yang terdampak bencana sehingga masih sulit untuk diakses kemudian banyaknya warga yang mengungsi.

    Sedangkan bagi kecamatan yang kini berstatus transisi, warga terdampak dapat kembali ke rumah masing-masing untuk kondisi rumahnya yang tidak rusak atau masih layak.

    Sebagian warga yang mengungsi yang berada di zona transisi sudah mandiri. Mandiri itu kembali ke keluarga atau ke mana dulu seperti numpang tinggal ke rumah kerabatnya.

    “Tetapi untuk warga yang rumahnya berada di pinggir atau bantaran sungai, kita harapkan mereka untuk pindah mandiri,” tambahnya.

    Terkait tenda-tenda pengungsian di kecamatan transisi, Marwan menyatakan tidak harus dibongkar apabila masih dibutuhkan.

    Baca: Banjir Bandang di Sukabumi Terparah dalam 10 Tahun Terakhir

    Kemudian hal lainnya misalnya kehadiran petugas penanggulangan bencana seperti dari unsur TNI atau Polri apakah masih dibutuhkan atau tidak di wilayah transisi, pihaknya mempertimbangkan untuk digeser ke tiga kecamatan yang masih berstatus tanggap darurat bencana.

    Selanjutnya, keberadaan dapur umum di lokasi-lokasi pengungsian yang berada di kecamatan berstatus transisi apakah masih mau dilanjutkan atau tidak. Jika tidak maka bisa pakai dapur mandiri.

    Marwan mengingatkan penyintas bencana di kecamatan transisi tidak perlu khawatir terkait bantuan, sebab Pemkab Sukabumi masih akan terus memperhatikan meskipun sudah kembali ke rumah masing-masing atau menumpang ke rumah kerabatnya.

    Karena bantuan tetap akan disalurkan sesuai data yang ada.

  • Pembangunan Embung Pemuda I Hampir Rampung, Diharapkan Mampu Kurangi Intensitas Banjir di Jakarta Selatan

    Pembangunan Embung Pemuda I Hampir Rampung, Diharapkan Mampu Kurangi Intensitas Banjir di Jakarta Selatan

    7cloud.asia – Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Selatan menilai Embung Pemuda I di Kelurahan Srengseng Sawah, Jagakarsa efektif mengurangi intensitas banjir di kawasan Jakarta Selatan.

    Adapun pengurangan intensitas banjir oleh Embung Pemuda 1 yang memiliki volume efektif tampungan sebesar 13.440,52 meter kubik (m3) ini mencapai 8 persen.

    “Embung yang kita buat itu di Srengseng Sawah, itu akan bisa mereduksi banjir sekitar delapan persen,” kata Kepala Suku Dinas (Kasudin) Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Selatan Santo saat dihubungi di Jakarta, Jumat (3/1/2024).

    Santo mengatakan Embung Pemuda diapit oleh dua saluran penghubung (PHB) yakni Babakan atas dan Babakan bawah.

    Karena itu, ketika curah hujan cukup tinggi, aliran air di Embung Pemuda akan berhenti ke bawah.

    “Alhamdulillah, ini sudah terbangun, mudah-mudahan akan mengurangi permasalahan banjir di sekitarnya,” ujarnya.

    Dengan selesainya pembangunan Embung Pemuda diharapkan mampu menekan volume banjir di Jakarta Selatan saat musim hujan tiba.

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membangun sejumlah embung untuk menangani banjir, seperti Embung Pemuda 1 Srengseng Sawah, Embung SDN 01 Petukangan Selatan, dan Pusat Kendali Bukit Duri.

    Pembangunan embung ini untuk membantu saluran utama (makro) yang dimiliki Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang hanya mampu mendukung apabila curah hujan dengan 150 milimeter (mm), sedangkan saluran pendukung mampu menampung sekitar 100 mm per hari.

    Kemudian, embung kedua yang terbangun adalah embung SD Negeri 01 Petukangan Selatan Seluas 2.062 M2 dengan kedalaman 2,6 meter dengan dilengkapi kolam olakan dan akan ditambahkan pompa kapasitas 2×500 liter per detik (lps).

    Embung ini untuk difungsikan sebagai pengendali genangan di Jalan Sakti, Komplek Sangrila.

    Selain itu, dengan terbangunnya ruang pusat kendali di Kelurahan Bukit Duri diharapkan juga mampu mengatasi banjir di kawasan itu.

  • Hujan Guyur Jakarta dan Sekitarnya Sejak Rabu Malam, Tiga Ruas Jalan Masih Tergenang

    Hujan Guyur Jakarta dan Sekitarnya Sejak Rabu Malam, Tiga Ruas Jalan Masih Tergenang

    7cloud.asia – Curah hujan tinggi yang terjadi sejak Rabu (8/1/2025) malam mengakibatkan banjir di sejumlah wilayah di Jakarta.

    Hingga Kamis (9/1/2025) pukul 05.00 WIB, setidaknya tiga ruas jalan di Jakarta Barat masih terendam banjir.

    “Informasi genangan air hingga pukul 05.00 WIB banjir Jakarta masih terjadi di tiga ruas jalan,” kata Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Mohamad Yohan di Jakarta.

    Hujan yang mengguyur wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya terjadi sejak Rabu (8/1/2025) hingga Kamis pagi.

    Akibatnya, Pintu Air Pulo Gadung naik menjadi Waspada atau Siaga tiga yang mengakibatkan terjadinya banjir di wilayah DKI Jakarta.

    Baca: BNPB Mencatat Ada 2.107 Bencana Sepanjang 2024

    Adapun wilayah yang terdampak adalah Jalan Strategi raya, Joglo Kembangan, Jakarta barat dengan ketinggian air 40 sentimeter (cm).

    Kemudian Jalan Basoka Raya, Joglo Kembangan, Jakarta Barat juga terendam air setinggi 40 cm dan Jalan Patra Raya Kelurahan Duri Kepa Kebon jeruk Jakarta Barat terendam air setinggi 10 cm.

    Yohan mengatakan, BPBD DKI Jakarta mengerahkan personel untuk memonitor kondisi genangan di setiap wilayah dan mengkoordinasikan unsur Dinas SDA, Dinas Bina Marga, Dinas Gulkarmat untuk melakukan penyedotan genangan.

    Para personel ini sekaligus memastikan tali-tali air berfungsi dengan baik bersama dengan para lurah dan camat setempat.

    “Genangan ditargetkan untuk surut dalam waktu cepat,” kata dia

    Baca: Cuaca ekstrem picu bencana hidrometeorologi di sejumlah daerah

    BPBD DKI mengimbau kepada masyarakat agar tetap berhati-hati dan waspada terhadap potensi genangan. Dalam keadaan darurat, segera hubungi nomor telepon 112.

    “Layanan ini gratis dan beroperasi selama 24 jam non-stop,” tandasnya.

    Banjir juga dilaporkan terjadi di sejumlah titik di Jalan Margonda Raya, Depok, Jawa Barat. Namun, pada Kamis pagi sudah surut.

    “Alhamdulillah, pagi ini sudah tidak ada genangan (di Jalan Margonda),” kata Kanit Turjagwali Polres Metro Depok AKP Elni Fitri saat dikutip Kompas.com, Kamis.

    Menurut Fitri, banjir yang merendam Jalan Margonda Raya semalam diakibatkan karena curah hujan.

    “Banjir hanya sedikit, tidak mengganggu lalu lintas,” ungkap Fitri.

  • Berita Terpopuler Pekan Ini: Mulai Antisipasi Banjir Lahar Dingin hingga Tipe Korupsi yang Diduga Dilakukan Jokowi

    Berita Terpopuler Pekan Ini: Mulai Antisipasi Banjir Lahar Dingin hingga Tipe Korupsi yang Diduga Dilakukan Jokowi

    7cloud.asia – Artikel mengenai upaya BNPB menangani banjir lahar dingin dan banjir bandang menjadi berita yang paing banyak dibaca atau berita terpopuler pekan ini di 7cloud.asia.

    Selain berita ini, masuk dalam daftar berita terpopuler lainnya adalah polemik penerapan PPN 12 persen pada kebutuhan sehari-hari serta dugaan korupsi yang dilakukan mantan presiden Jokowi.

    penipuan dengan modus menyelesaikan misi di aplikasi Telegram dan kota pilihan untuk menghabiskan masa pensiun juga masuk dalam daftar berita terpopuler pekan ini.

    Berikut lima berita terpopuler pekan ini di 7cloud.asia:

    1. BNPB beri perhatian khusus pada banjir lahar dingin
    Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, jenis bencana yang paling signifikan dan fatal atau banyak memakan korban jiwa adalah banjir lahar dingin dan banjir bandang yang terjadi di sejumlah daerah.

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan banjir lahar dingin ini antara lain terjadi di Gunung Marapi, Sumatra Barat dan Gunung Ibu di Halmahera, Maluku Utara.

    Upaya meminimalisir potensi dampak kerusakan infrastruktur dan korban jiwa akibat bencana banjir bandang yang bercampur material lahar dingin gunung berapi menjadi perhatian khusus BNPB pada 2025.

    Baca berita selengkapnya di sini.

    2. Penipuan di aplikasi Telegram
    Korban Restina menceritakan, penipuan itu bermula pada saat dirinya menerima undangan dari grup aplikasi Telegram bernama Somethinc Sosial pada Minggu 12 Mei 2024.

    Kemudian dalam grup tersebut dirinya diminta oleh admin grup mengisi data pribadi untuk mendaftar akun, lalu diminta untuk menyelesaikan misi dengan dijanjikan mendapat komisi.

    Adapun tugas yang diberikan adalah menscreenshot produk yang ada di dalam toko di link yang diberikan oleh admin.

    Baca berita selengkapnya di sini.

    3. Kontroversi penerapan PPN 12 persen pada air mineral
    Sejumlah warganet mengaku dipungut pajak pertambahan nilai atau PPN 12 persen saat berbelanja di sejumlah toko ritel per 1 Januari 2025.

    Padahal barang yang mereka beli tidak bisa digolongkan sebagai barang mewah, seperti air mineral, roti dan makanan di restoran.

    Mereka lantas mengunggah struk pembelian di media sosial, sambil mempertanyakan penerapan PPN 12 persen ini.

    Baca berita selengkapnya di sini.

    4. Kota pilihan untuk menghabiskan masa pensiun
    Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam memilih kota untuk menghabiskan masa pensiun.

    Faktor-faktor tersebut antara lain kedekatan lokasi, kelengkapan infrastruktur, biaya hidup, serta kondisi lingkungan yang tenang.

    Jika sebuah kota memenuhi kriteria di atas, maka bisa dipastikan kota tersebut menjadi tempat yang nyaman menghabiskan masa pensiun.

    Baca berita selengkapnya di sini.

    5. Tipe korupsi yang diduga dilakukan mantan presiden Jokowi
    YLBHI dalam keterangan tertulisnya memandang bahwa label tokoh paling koruptif sepanjang tahun 2024 yang dirilis oleh OCCRP memiliki dasar kuat.

    kelompok masyarakat sipil dan para ahli menilai pemerintahan Jokowi secara signifikan melemahkan komisi antikorupsi di Indonesia.

    Jokowi juga banyak dikritik karena meremehkan lembaga pemilu dan peradilan di Indonesia demi menguntungkan ambisi politik putranya, yang kini menjadi wakil presiden.

    YLBHI melihat adanya beberapa indikasi tipe korupsi yang dilakukan oleh Jokowi selama masa kepemimpinanya.

    Baca berita selengkapnya di sini.

     

  • Belasan Warga Meninggal Akibat Bencana Hidrometeorologi yang Dipicu Cuaca Ekstrem di Jawa Tengah

    Belasan Warga Meninggal Akibat Bencana Hidrometeorologi yang Dipicu Cuaca Ekstrem di Jawa Tengah

    7cloud.asia – Memasuki minggu ke-4 bulan Januari 2025, banjir dan tanah longsor akibat cuaca ekstrem masih mendominasi kejadian bencana di Indonesia, khususnya di Provinsi Jawa Tengah.

    Merujuk prakiraan cuaca BMKG, hingga Kamis (23/1/2025) sebagian besar wilayah Provinsi Jawa Tengah masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga tinggi di antaranya Kabupaten Grobogan, Kendal, Semarang, Tegal.

    Hujan tersebut dapat memicu terjadinya banjir, banjar bandang, dan tanah longsor. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau warga untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan.

    Bagi warga yang tinggal di dekat lereng dan tebing, pantau secara berkala kondisi tanah yang ada di sekitar rumah. Warga juga diminta melakukan evakuasi mandiri jika terjadi hujan terus menerus selama dua jam atau lebih.

    Sebelumnya diberitakan, banjir melanda sejumlah wilayah di Jawa Tengah. Di Kabupaten Pekalongan curah hujan tinggi memicu banjir dan tanah ongsor pada Senin (20/1/2025). Akibatnya 13 korban luka-luka, 17 meninggal dunia, dan 9 dalam pencarian.

    Di Kabupaten Kendal, banjir melanda 6 kecamatan di wilayahnya pada Senin (20/1/2025) yang menyebabkan 3.366 jiwa terdampak.

    Baca: Dunia keluar jalur dari pembatasan pemanasan global 1,5°C

    Sebanyak 450 warga terpaksa harus mengungsi. Banjir juga merendam 1.065 unit rumah, 10 fasilitas ibadah, 3 unit fasilitas kesehatan, 6 unit fasilitas pendidikan, dan 7 unit perkantoran.

    BPBD Kabupaten Kendal bersama unit terkait segera melakukan penanganan darurat dengan mengirimkan bantuan logistik dan mendirikan dapur umum di Gedung PKK dan PMI Kabupaten Kendal.

    Hingga Selasa (21/1/2025), ketinggian air masih setinggi antara 1 hingga 2 meter. Kebutuh mendesak penanganan darurat berupa sembako, air bersih, dan peralatan kebersihan.

    Selain banjir, Kabupaten Kendal juga dilanda longsor yang menelan 1 korban jiwa. Longsor juga menyebabkan 4 orang mengalami luka ringan dan 16 unit rumah rusak.

    Banjir besar juga melanda Kabupaten Grobogan pada Selasa (21/1/2025). Banjir dipicu oleh hujan intensitas sangat tinggi dan luapan Sungai Lusi, Sungai Serang, dan Sungai Tuntang sehingga sungai tidak mampu menampung debit air dan menyebabkan tanggul jebol di jalur Semarang-Purwodadi.

    Peristiwa itu juga menyebabkan jalur kereta api di Gubuk lumpuh.

    Baca: Dampak lingkungan akibat pemanasan global

    Sebanyak 6.168 KK terdampak, 139 jiwa di antaranya harus mengungsi. 139,16 hektar sawah terendam.

    Pasca kejadian, BPBD Kabupaten Grobogan mengevakuasi warga terdampak. Selain itu, BPBD juga mendirikan tempat pengungsian di Gedung Serbaguna Desa Ngraji.

    BPBD Kabupaten Grobogan melaksanakan kerja bakti penambalan tanggul di Desa Papanrejo Kecamatan Gubug. Bersama tim gabungan, BPBD Kabupaten Grobogan melaksanakan kerja bakti penambalan tanggul di Desa Papanrejo Kecamatan Gubug.

    Hujan intensitas tinggi juga memicu terjadinya banjir di Kabupaten Batang, Jawa Tengah pada Senin (20/1/2025). Banjir melanda 10 Kecamatan diantaranya Kecamatan Bawang, Kecamatan Reban, Subah, Tersono, Warungasem, Gringsing, Bandar, Wonotunggal, Blado, dan Kecamatan Batang.

    Total warga yang terdampak mencapai 7.531 jiwa. Dua diantaranya sempat hanyut namun sudah berhasil diselamatkan dan saat ini sedang dalam perawatan.

    Di Kabupaten Demak hujan intensitas tinggi mengakibatkan meluapnya air di Sungai Cabean dan Sungai Tuntang. Luapan tersebut menyebabkan tanggul jebol dan banjir di 2 kecamatan.

    Sebanyak 3.480 jiwa terdampak dan 2.400 diantaranya harus mengungsi. 400 pengungsi berada di Gedung BLK belakang kantor Desa Bogosari dan sisanya mengungai ke rumah kerabat.

    Hingga Selasa (21/1/2025) debit air semakin bertambah dan wilayah terdampak mulai meluas.

  • Alih Fungsi Hutan Picu Banjir dan Tanah Longsor di Jawa Tengah

    Alih Fungsi Hutan Picu Banjir dan Tanah Longsor di Jawa Tengah

    7cloud.asia – Alih fungsi lahan di beberapa tempat terutama di pegunungan dan perbukitan menjadi salah satu penyebab terjadinya bencana alam seperti banjir dan tanah longsor di Jawa Tengah

    Seperti diberitakan sebelumnya, cuaca akstrem telah mengakibatkan banjir dan tanah longsor di sejumlah daerah di Jawa Tengah, seperti Pemalang, Pekalongan, Kendal dan Banjarnegara.

    Bencana paling parah terjadi di Pekalongan. Tanah longsor yang terjadi di daerah ini menewaskan setidaknya 17 meninggal dan 9 orang lainnya hilang.

    “Beberapa tempat iya. Ada beberapa lokasi yang memang penyebabnya memang alih fungsi lahan,” kata Penjabat Gubernur Jawa Tengah Nana Sudjana di Semarang, Kamis (23/1/2025).

    Ia mencontohkan bencana tanah longsor di Desa Kasimpar, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan yang disebabkan alih fungsi lahan.

    Baca: Cuaca ekstrem picu bencana hidrometeorologi di Jawa Tengah

    Kemudian, kata dia, peristiwa banjir di Kabupaten Brebes juga disebabkan adanya alih fungsi lahan di wilayah hulu atau perbukitan yang semula lahan hutan menjadi kebun.

    Berkaitan dengan alih fungsi lahan itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus berupaya untuk melakukan antisipasi, salah Satunya dengan penanaman pohon yang mampu menyerap dan menahan air.

    Selain itu, ia juga mendorong untuk adanya edukasi kepada masyarakat agar sadar dengan lingkungan dan menjauhi wilayah rawan bencana alam.

    Seandainya masih ada masyarakat yang memilih tinggal di lereng-lereng perbukitan serta tempat rawan bencana lainnya maka bisa diedukasi mengenai faktor risiko yang dihadapi.

    Baca: Pemanasan global lampaui 1,5C, kelestarian lingkungan makin terancam

    Nana sebelumnya menyampaikan duka cita kepada korban tanah longsor di Petungkriyono, Kabupaten Pemalang, yang menelan banyak korban jiwa dan ada belum ditemukan.

    Ia memastikan penanganan dan pencarian orang hilang korban bencana tanah longsor di Petungkriyono masih terus dilakukan oleh tim gabungan yang berjumlah sekitar 500-an petugas, termasuk sukarelawan.

    Ratusan petugas tersebut ada yang ditugaskan untuk mencari orang hilang, dan ada yang membuka akses jalan yang tertutup tanah dan pepohonan.

    Atas kejadian bencana tersebut, berbagai bantuan untuk korban juga sudah berdatangan, mulai dari kementerian Sosial, Pemprov Jateng, Pemkab Pekalongan, Bulog, dan lainnya.

    Beberapa bantuan yang dibutuhkan masyarakat seperti kasur lipat, pakaian, selimut, alat mandi, dan sembako sudah berada di posko penanganan bencana Kecamatan Petungkriyono.