Tag: banjir

  • Cegah Banjir, Kementerian Lingkungan Hidup Akan Perbaiki Tata Kelola Vegetasi Hulu Sungai Ciliwung

    Cegah Banjir, Kementerian Lingkungan Hidup Akan Perbaiki Tata Kelola Vegetasi Hulu Sungai Ciliwung

    7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) akan meninjau kawasan hulu Sungai Ciliwung menyusul banjir yang melanda sejumlah wilayah Puncak dan Jakarta.

    Langkah ini selanjutnya akan ditindaklanjuti dengan memperbaiki tata kelola vegetasi di wilayah hulu Sungai Ciliwung tersebut.

    Ditemui ketika meninjau tempat penampung batu bara di Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Marunda di Jakarta Utara, Senin, Menteri Lingkungan Hidup (LH)/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Hanif Faisol Nurofiq menyampaikan pihaknya siap mendukung penyelesaian sejumlah isu lingkungan di Jakarta, termasuk penyebab banjir.

    “Ciliwung ini di ujungnya itu ada kebun teh. Ini rencana kami mungkin hari Kamis kami akan lakukan pengawasan, kalau perlu kami juga akan lakukan pembinaan,” jelas Menteri LH Hanif.

    Terutama, lanjut dia, di wilayah hulu yang sudah mengalami perubahan vegetasi. Ia mengatakan perlunya wilayah tersebut ditanami vegetasi yang mampu menyerap dan menahan air.

    “Untuk diubah dari teh menjadi pohon-pohon yang mampu menahan, memperbaiki hidrologi kita. Ini sudah cukup peringatan alam ke kita, banjir setiap hari. Kita akan baiki step-step ini ujungnya dari Ciliwung ini sampai ke kita,” ujarnya.

    Baca: Daerah Aliran Sungai Ciliwung dalam kondisi kritis

    Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaporkan banjir akibat luapan Kali Ciliwung telah meluas dan kini telah berdampak ke 47 Rukun Tetangga (RT) di daerah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur pada pagi hari ini.

    Menurut BPBD, banjir yang melanda kedua wilayah administratif tersebut terjadi karena luapan Kali Ciliwung setelah terjadi hujan lebat di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

    Hujan lebat yang terjadi sejak Minggu (2/3/2025) menyebabkan kenaikan Bendung Katulampa yang berada di Bogor, Jawa Barat, menjadi siaga tiga atau waspada pada pukul 20.20 WIB.

    Sementara BPBD Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mencatat sebanyak 28 desa di 16 kecamatan terdampak bencana alam hidrometeorologi akibat hujan deras disertai angin kencang pada Minggu (2/3/2025) petang hingga malam.

    “Bencana alam hidrometeorologi berupa tanah longsor, banjir, orang hanyut, dan angin kencang,” ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bogor M Adam Hamdani di Cibinong, Senin.

    Ia menjelaskan, hujan deras yang berlangsung cukup lama menyebabkan kadar air dalam tanah dan debit air di hulu sungai meningkat sehingga terjadi bencana di beberapa titik lokasi.

    Baca: Peringatan Hari Sungai Ciliwung

    Tanah longsor terjadi di delapan kecamatan, yaitu Kecamatan Cijeruk, Desa Cijeruk dan Desa Tanjungsari; Kecamatan Sukaraja, Desa Cimandala dan Desa Nagrak; Kecamatan Megamendung, Desa Kuta, Desa Sukagalih, Desa Gadog, dan Desa Sukakarya.

    Kemudian, Kecamatan Sukamakmur, Desa Sirnajaya; Kecamatan Ciawi, Desa Bojong Murni; Kecamatan Sukajaya, Desa Harkatjaya; Kecamatan Leuwisadeng, Desa Sadengkolot; dan Kecamatan Babakan Madang, Desa Bojongkoneng.

    Banjir terjadi di tujuh kecamatan, yaitu Kecamatan Parungpanjang, Desa Kabaosiran dan Desa Cibunar; Kecamatan Cisarua, Desa Tugu Utara, Desa Tugu Selatan, Desa Batu Layang, Desa Kopo, Desa Jogjogan, dan Desa Cibeureum.

    Lalu, Kecamatan Bojonggede, Desa Rawa Panjang; Kecamatan Cigudeg, Desa Rengasjajar; Kecamatan Tenjo, Desa Cilaku; Kecamatan Dramaga, Desa Babakan; dan Kecamatan Rumpin, Desa Sukasari.

    Kejadian orang hanyut terjadi di Kecamatan Cisarua, Desa Citeko. Sementara itu, angin kencang terjadi di Kecamatan Jasinga, Desa Setu.

    BPBD Kabupaten Bogor telah mengambil langkah-langkah sementara untuk menangani bencana alam tersebut.

    “Antara lain melakukan assessment lokasi bencana, pengamanan lokasi bencana, mempersiapkan peralatan dan logistik, membersihkan pohon tumbang, evakuasi warga terdampak banjir, dan koordinasi dengan aparat setempat,” papar Adam.

    Ia mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti instruksi dari pihak berwenang untuk menghindari bencana alam.

  • Ditawari Pindah ke Rumah Susun, Korban Banjir Akibat Luapan Sungai Ciliwung Menolak

    Ditawari Pindah ke Rumah Susun, Korban Banjir Akibat Luapan Sungai Ciliwung Menolak

    7cloud.asia – Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta Rano Karno saat mengunjungi korban banjir akibat luapan Sungai Ciliwung, Senin (3/3/2025) sempat menawarkan kepada masyarakat untuk pindah ke rusun (rumah susun).

    Namun sayangnya, warga yang mengungsi di lokasi pengungsian SDN Kampung Melayu 01/02 dan Kantor Kelurahan Bidara Cina, Jakarta Timur menolak pindah ke rumah susun.

    Warga mengaku lebih nyaman tinggal di tempat tinggalnya saat ini dengan alasan lebih dekat dengan tempat kerja.

    Dalam kunjungan ini Rano Karno hanya memberikan langsung bantuan berupa makanan, peralatan untuk bayi dan anak-anak, hingga selimut serta tikar untuk tidur kepada para pengungsi di dua lokasi langganan banjir tersebut.

    Rano Karno tiba di lokasi SDN Kampung Melayu 01/02 sekitar pukul 08.55 WIB. Para pengungsi pun menyambut kedatangan Wagub baru Jakarta tersebut dengan bahagia.

    “Puasa semuanya? Sahur nggak tadi?” sapa Rano kepada para pengungsi.

    Baca: Greenpeace Indonesia desak kepala daerah di Jabodetabek seriusi isu lingkungan

    Sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menyatakan, banjir yang terjadi akibat luapan Sungai Ciliwung dirasakan 47 rukun tetangga (RT) di daerah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.

    Manurut Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) BPBD DKI Jakarta Mohamad Yohan di Jakarta, Senin (3/3/2025), banjir disebabkan meluapnya Sungai Ciliwung setelah terjadi hujan di DKI Jakarta dan Bogor, Jawa Barat.

    Hujan deras yang mengguyur kawasan Puncak pada Minggu (2/3/2025) menyebabkan permukaan Bendung Katulampa melonjak dan dinyatakan siaga tiga atau waspada pada pukul 20.20 WIB.

    Kemudian, lanjut Yohan, di hari yang sama pada pukul 20.40 siaga dua, dan pada pukul 20.40 WIB Bendung Katulampa menjadi siaga satu atau Awas sekitar pukul 21.30 WIB.

    Adapun wilayah yang terdampak banjir tercatat di 20 RT dari lima kelurahan yang terendam banjir. Di Jakarta Selatan, yaitu Kelurahan Tanjung Barat sebanyak empat RT, ketinggian air mulai dari 80 centimeter hingga tiga meter.

    Baca: Perubahan iklim membuat cuaca ekstrem makin sering terjadi, ini dampaknya pada warga Jakarta

    Selanjutnya Kelurahan Pengadegan terdapat satu RT dengan tinggi air 1,3 meter. Kelurahan Rawajati ada di tujuh RT ketinggian mulai dari satu meter hingga 2,2 meter.

    Kelurahan Pejaten Timur tersebar di enam RT dengan ketinggian 3,5 sampai 3,7 meter dan Kelurahan Kebon Baru dua RT ketinggian air 60 sentimeter hingga satu meter.

    Sementara di Jakarta Timur terdapat 27 RT dari enam kelurahan yang terendam banjir yaitu Kelurahan Bidara Cina, tiga RT ketinggian mulai dari 1,6 hingga 1,7 meter.

    Kelurahan Kampung Melayu berjumlah 11 RT ketinggian air dari 30 sentimeter sampai 1,6 meter. Kelurahan Balekambang tiga RT ketinggian 1,8 meter hingga 2,4 meter.

    Sedangkan di Kelurahan Cawang terdapat di lima RT dan rerata ketinggian air mencapai 2,7 meter.

    Kelurahan Cililitan dua RT ketinggian mulai dari satu meter hingga dua meter
    Dan Kelurahan Gedung terdapat di tiga RT dengan ketinggian rata-rata 80 sentimeter hingga dua meter.

  • Banjir di Jabodetabek Meluas, Ribuan Rumah Terdampak

    Banjir di Jabodetabek Meluas, Ribuan Rumah Terdampak

    7cloud.asia – Bencana hidrometeorologi basah masih mendominasi laporan bencana yang dicatat oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga hari keempat pekan pertama bulan Maret 2025.

    Berikut adalah rangkuman perkembangan informasi dan penanganan darurat pada hari ini, Selasa (4/3/2025).

    Hujan intensitas tinggi yang melanda sejumlah wilayah pada Minggu dan Senin (2-3 Maret 2025) menyebabkan banjir di Kota Jakarta, Kabupaten Bogor, Kabupaten dan Kota Bekasi dan Kabupaten Tangerang.

    BPBD DKI Jakarta melaporkan banjir melanda dua area kota administrasi yakni Jakarta Selatan dan Jakarta Timur dengan tinggi muka air mencapai 300 centimeter atau 3 meter.

    BPBD DKI Jakarta mencatat sebanyak 323 unit rumah dan 1.027 jiwa terdampak kejadian ini. Berdasarkan pemantauan visual di lapangan, banjir belum surut di beberapa kelurahan terdampak.

    BPBD Kota Bekasi mencatat sebanyak tujuh kecamatan terdampak banjir, antara lain Kecamatan Bekasi Timur, Bekasi Utara, Bekasi Selatan, Medan Satria, Jatiasih, Pondok Gede dan Rawalumbu.

    Ratusan rumah terendam dengan ketinggian air mencapai 300 sentimeter. BPBD Kota Bekasi mendistribusikan bantuan logistik dan mengerahkan sejumlah perahu karet untuk evakuasi warga terdampak.

    Selain itu, PLN Kota Bekasi memadamkan listrik di beberapa wilayah terdampak untuk mencegah adanya korban yang terkena aliran listrik ketika banjir.

    Baca: Korban banjir akibat luapan Sungai Ciliwung menolak pindah ke rumah susun

    Sedangkan di Kabupaten Bekasi, hujan disertai kiriman air dari sungai di bagian hulu menyebabkan banjir di enam kecamatan, yaitu Kecamatan Cibarusah, Serang Baru, Setu, Cikarang Utara, Cibitung dan Tambun Utara.

    BPBD Kabupaten Bekasi melaporkan ketinggian air mencapai 150 sentimeter merendam 15 unit rumah. Berdasarkan pemantauan visual di lapangan, hingga Selasa (4/3/2025) pagi banjir masih menggenangi sejumlah wilayah. BPBD dan tim gabungan melakukan evakuasi warga terdampak menggunakan perahu karet.

    Banjir juga dilaporkan melanda Tangerang Selatan, Banten, Senin (3/3) pukul 23.20 waktu setempat menyebabkan banjir di lima kecamatan.

    Kecamatan tersebut antara lain Kecamatan Ciputat Timur, Pondok Aren, Pamulang, Ciputat dan Serpong Utara. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang Selatan mencatat sebanyak 1.870 unit rumah terdampak kejadian ini.

    BPBD Kabupaten Tangerang Selatan mengerahkan perahu karet untuk mobilisasi dan evakuasi warga terdampak. Hasil pantauan visual hingga pagi ini (4/3), banjir masih belum surut.

    BPBD Kabupaten Bogor melaporkan bahwa hari ini (4/3/2025), pihaknya dan masyarakat setempat membersihkan material lumpur pascabanjir.

    Sebanyak 346 warga masih bertahan di lokasi pengungsian di Majlis Talim Miftahul Ghina Al Idris dan rumah RT 03/01.

    Tercatat sebanyak 204 unit rumah terdampak, 24 unit rumah rusak ringan, satu unit rumah rusak sedang, 16 unit rumah rusak berat, satu unit jembatan putus dan satu unit fasilitas pendidikan terdampak.

    BPBD Kabupaten Tangerang melaporkan ratusan rumah terdampak banjir di Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Banjir terjadi karena meluapnya Sungai Cimanceuri yang dipicu oleh hujan lebat pada Minggu (2/3/2025).

    Baca: Kepala Daerah di Jabodetabek diminta serius tangani isu lingkungan

    BPBD Kabupaten Tangerang melakukan pendataan dan evakuasi warga terdampak. Berdasarkan laporan per Selasa (4/3/2025), banjir berangsur surut.

    Sebelumnya pada Senin (3/3/2025), Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto telah meninjau langsung ke Kecamatan Cisarua dan memberikan bantuan logistik kepada warga terdampak.

    Suharyanto menegaskan bahwa pemerintah pusat melalui BNPB memastikan keselamatan masyarakat menjadi hal yang utama dan mempersiapkan rencana relokasi tempat tinggal yang lebih aman.

    Kepala BNPB menegaskan bahwa kebutuhan dasar korban terdampak akan dipenuhi.

    “Khususnya pada masa puasa saat ini, kami fokus untuk memenuhi kebutuhan pangan pada waktu sahur dan berbuka,” ujar Suharyanto pada Konferensi Pers Penanganan Banjir di Wilayah Jabodetabek, Selasa (4/3/2025).

    Dirinya menyatakan bahwa BNPB akan terus mendampingi pemerintah daerah dalam situasi tanggap darurat hingga pemulihan dan memastikan segala kebutuhan di lapangan terpenuhi dengan baik.

    BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk selalu waspada terhadap potensi banjir susulan dan peningkatan debit air yang sewaktu-waktu dapat terjadi.

    Hal ini mengingat prakiraan cuaca pada Selasa (4/3/2025) hingga Kamis (6/3/2025) terpantau sebagian besar wilayah Indonesia khususnya Jabodetabek masih berpotensi dilanda hujan ringan hingga sedang.

    Seiring dengan perkembangan bencana di berbagai daerah, BNPB mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan. Informasi terkini dan peringatan dini akan terus disampaikan melalui saluran resmi untuk memastikan keselamatan warga yang terdampak.

    Pemulihan dan upaya tanggap darurat akan terus dilakukan untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan dan mempercepat proses pemulihan.

  • Sodetan Ciliwung Belum Efektif Cegah Banjir Akibat Luapan Sungai Ciliwung

    Sodetan Ciliwung Belum Efektif Cegah Banjir Akibat Luapan Sungai Ciliwung

    7cloud.asia – Sejumlah warga di Jakarta Timur mempertanyakan fungsi Sodetan Ciliwung di Jalan Otista menyusul banjir yang kembali melanda Jalan Kebon Pala II, Kampung Melayu, Jatinegara, sejak Selasa (4/3/2025) pagi.

    “Puncak tingginya (banjir, red) hari ini. Makanya, saya bingung, sodetan Ciliwung di Otista ini tak ada fungsinya atau gimana, katanya udah jadi,” kata warga RT 12/RW 04, Kebon Pala II, Jakarta Timur, Wahyu (45) dikutip Antaranews.com.

    Banjir di Jalan Kebon Pala II sejak pagi hingga Selasa siang ketinggiannya mencapai dua meter. Banjir ini akibat luapan Sungai Ciliwung.

    Menurut Wahyu, seharusnya dengan adanya sodetan Ciliwung, air banjir kiriman bisa dialirkan ke Banjir Kanal Timur (BKT).

    “Sodetan itu dibuangnya (air) harusnya ke BKT, kalau BKT lebih besar areanya. Mengapa harus banjir lagi di sini jika sudah dibuat sodetan? Kalau udah berfungsi, mengapa di sini masih tinggi terus, airnya,” ujar Wahyu.

    Apalagi, kata Wahyu pemerintah juga sudah melakukan normalisasi Sungai Ciliwung sehingga beberapa rumah warga terkena dampaknya.

    Baca: Ribuan rumah di Jabodetabek terdampak banjir

    “Malah yang kena normalisasi, mengeluh. Jika tahu masih kena banjir, tak usah dinormalisasi, malah jadi sebelah kanannya yang kena, di sini udah surut, di sana belum, karena pembuangan airnya di bawah kali,” ujar Wahyu.

    Wahyu berharap, Sodetan Ciliwung dapat lebih ditekankan fungsinya agar banjir di Jakarta tidak terlalu besar, bahkan kalau bisa Jakarta bebas dari banjir.

    Hal serupa dikatakan Ketua RT 10/RW 04, Jalan Kebon Pala II, Jakarta Timur, Rukimah mengatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bisa lebih membenahi dan membuktikan bahwa Sodetan Ciliwung merupakan upaya yang efektif dalam mengantisipasi banjir di wilayah Jakarta.

    “Harapan kami sebagai warga yang terdampak banjir mohon ditindaklanjuti upaya banjir ini, dinormalisasi lagi. Lanjutin lagi sampai Manggarai, karena normalisasi yang belum maksimal ini, kalau dari atas intensitas hujan di Bogor tinggi, jadi dampak ke sini,” kata Rukimah.

    Banjir yang melanda Jalan Kebon Pala II sejak Senin (3/3/2025) dini hari itu tak kunjung surut hingga menyebabkan aktivitas warga terganggu.

    Komitmen Pemprov
    Sejak pagi hingga sore ini warga bolak balik menyelamatkan pakaian dan dokumen pentingnya dari rumah ke permukiman atas. Untuk menuju ke rumahnya pun ada yang harus menggunakan perahu karet atau baju pelampung.

    Baca: Sodetan Ciliwung diresmikan Juli 2023

    Terlihat juga beberapa warga masih bertahan di rumahnya. Sebagian ada yang bertahan di ruang lantai atas miliknya.

    Petugas terus berusaha mengevakuasi warga yang hendak pindah ke pengungsian ataupun yang mau ke rumahnya untuk mengambil barang bawaannya.

    Pemprov DKI Jakarta juga mengupayakan sejumlah hal guna mengatasi banjir untuk jangka pendek, termasuk membuka Pintu Air Manggarai, dan mengatur aliran air di sejumlah pintu air.

    Gubernur Jakarta Pramono Anung telah menginstruksikan Dinas Sumber Daya Air (SDA) untuk membuka Pintu Air Manggarai, Menteng, Jakarta Pusat demi mengurangi beban air sehingga banjir di sejumlah daerah ini dapat diatasi.

    “Jadi, yang kita buka yang ke arah (Sungai) Ciliwung Lama, dioperasikan satu pintu dibuka penuh setinggi 175 cm,” ujar dia saat meninjau Pintu Air Manggarai, Jakarta, Selasa.

    Adapun, pada Selasa sore, tinggi permukaan air di Pintu Air Manggarai mencapai 850 sentimeter (cm) atau masuk kategori siaga dua.

    Baca: Kepala daerah di Jabodetabek diminta serius tangani masalah lingkungan

    Karena itu, Pramono Anung meminta Pintu Air Manggarai dibuka, agar air yang masuk tidak lebih banyak ke wilayah Ciliwung bagian timur karena saat ini beban air di sana cukup tinggi.

    Selain itu, Pramono juga menginstruksikan pintu air yang mengarah ke Kanal Banjir Barat (KBB) dibuka setinggi 800 centimeter, serta pintu ke arah Masjid Istiqlal.

    Selain Pintu Air Manggarai, Pramono juga meminta Dinas SDA DKI mengaktifkan sebanyak 500 pompa pada sekitar 200 titik agar air bisa segera dibuang ke laut.

    Pramono Anung mengatakan pihaknya juga fokus menangani banjir dalam jangka panjang. Upaya yang dilakukan yakni pengerukan sedimen atau lumpur di sungai, waduk, dan kali serta membangun sumur resapan.

    “Sodetan dilanjutkan kembali, sumur resapan tidak lagi dibuat di jalan tetapi dibuat di saluran-saluran air,” kata dia.

    Pemprov DKI Jakarta, sambung dia, juga membuka diri untuk berkomunikasi dan berkoordinasi dengan pemimpin daerah terdampak banjir guna mengatasi masalah tersebut.

    Baca: Korban banjir akibat luapan Sungai Ciliwung menolak pindah ke rumah susun

    “Karena penyelesaian tidak bisa parsial hanya Jakarta. Bahkan saya mendapatkan laporan yang sekarang ini dampaknya besar ada di Bekasi,” ujar Pramono.

    Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sebelumnya, berkomitmen untuk lebih fokus membenahi Kali Ciliwung sebagai upaya mengantisipasi banjir di wilayah Jakarta.

    “Sekarang, dengan PSN (Program Strategis Nasional) pengendalian banjir, kami akan lebih fokus untuk membenahi Ciliwung,” ujar Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno.

    Dia mengatakan pengerukan waduk dan sungai-sungai masuk dalam program 100 hari kerja pasangan Pramono Anung dan Rano Karno.

  • Bekasi Dilanda Banjir Terburuk dalam 9 Tahun Terakhir, Apa Penyebabnya?

    Bekasi Dilanda Banjir Terburuk dalam 9 Tahun Terakhir, Apa Penyebabnya?

    7cloud.asia – Hujan deras yang mengguyur kawasan Puncak dan wilayah Jabodetabek telah mengakibatkan meluapnya Sungai Cileungsi dan Kali Bekasi dan memicu banjir yang meluas serta melumpuhkan sejumlah wilayah di Kabupaten dan Kota Bekasi, Jawa Barat.

    Di Kabupaten Bekasi, perumahan Vila Nusa Indah 1 dan Vila Nusa Indah 2 terdampak banjir akibat luapan dua sungai yang berhulu di Kawasan Puncak ini.

    Di Kota Bekasi, beberapa perumahan mengalami banjir dengan ketinggian air bervariasi antara 1,1 hingga 3 meter lebih.

    Banjir terparah terjadi di Gang Mawar RT8 RW3 di Kecamatan Bekasi Timur mengalami banjir setinggi 3 meter. Perumahan Pondok Gede Permai (PGP) dan Villa Jatirasa juga mengalami banjir parah dengan ketinggian air mencapai lebih dari 3 meter.

    Dilansir Antaranews.com, Pusat perniagaan hingga akses Jalan Utama Ahmad Yani, Bekasi Selatan – yang menjadi nadi ekonomi dan pusat perbelanjaan di Kota Bekasi dilaporkan lumpuh setelah turut direndam banjir.

    Banjir tidak hanya melumpuhkan pemukiman warga, tetapi juga fasilitas penting seperti rumah sakit, stasiun kereta api. Di beberapa tempat juga dilakukan pemadaman listrik total.

    “Dari 12 kecamatan, yang terdampak di Kota Bekasi itu delapan kecamatan. Dan hari ini, Kota Bekasi lumpuh, sampai di jalan utama, termasuk kantor pemerintahan, itu sudah mulai masuk air, karena kemudian juga limpasannya sungguh luar biasa,” kata Wali Kota Bekasi Tri Adhianto dalam pernyataannya di Bekasi, Selasa (4/3/2025).

    Banjir yang melanda Kota Bekasi saat ini dinilai sebagai yang terburuk sejak 2016 dan 2020, dengan ketinggian air mencapai 8 meter akibat kenaikan permukaan air di Kali Bekasi.

    Baca: Sodetan Ciliwung belum efektif cegah banjir

    Pengaruh bendung
    Bendung Bekasi di Jalan M. Hasibuan, Bekasi Selatan, menghadapi situasi kritis akibat debit air yang melebihi kapasitas tampungnya.

    Dikabarkan, bahwa kapasitas maksimal bendungan peninggalan Belanda ini adalah 1.000 meter kubik per detik, namun saat itu debit air mencapai 1.100 meter kubik per detik.

    Kondisi ini memaksa pihak pengelola dari Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane (BBWSCC) untuk membuka pintu air guna mengurangi tekanan, yang dapat menyebabkan kenaikan permukaan air di wilayah hilir.

    Selain itu, pompa air yang biasanya berfungsi untuk mengendalikan volume air, untuk sementara tidak dioperasikan. Akibatnya, kemampuan sistem pengendalian banjir menurun, meningkatkan risiko banjir di area sekitar.

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi melaporkan bahwa TMA Kali Bekasi telah mencapai puncaknya pada pukul 06.30 WIB, dengan ketinggian 875 cm, jauh melebihi batas maksimal 350 cm.

    Sebagai perbandingan, banjir kali ini boleh jadi sebagai yang terparah jika dibandingkan situasi yang sama di awal 2020. Saat itu, TMA yang meluap berada di kisaran 750 cm.

    Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, telah memantau kondisi bendungan dan memastikan pengaturan pintu bendungan untuk mengantisipasi kenaikan debit air.

    Diprediksi beberapa wilayah di Kota Bekasi, terutama yang berdekatan dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Bekasi, mengalami banjir akibat hujan deras dan kiriman air dari Bogor.

    Baca: Jabodetabek dikepung banjir, ribuan rumah terdampak

    Hingga hari ini, Pemerintah Kota Bekasi bekerja sama dengan otoritas terkait telah mengerahkan tim evakuasi dan menyiapkan posko-posko pengungsian bagi warga terdampak.

    Dilansir Tirto.id, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi, Priadi Santoso menyebut hujan dengan intensitas tinggi dalam beberapa hari terakhir diduga kuat menjadi penyebab banjir Bekasi.

    Selain itu, banjir kian meluap usai adanya limpahan air dari wilayah hulu Kali Bekasi, khususnya dari Bogor yang membuat debit air sungai semakin tinggi dan meluap.

    Sementara warga Bekasi menilai banjir besar ini tak lepas dari buruknya tata ruang di wilayah itu.

    “Emang pemkab dan pemkotnya gak guna, auto pilot, bikin tata kota acak-acakanan, gak ada serapan, perumahan pada tinggi-tinggian mau menang sendiri. buang-buangan air sembarangan,” tulis warga di akun chat Whatsapp.

    Banjir besar yang melanda Kota Bekasi kali ini menjadi pengingat betapa rentannya wilayah bantaran sungai terhadap ancaman luapan air.

    Meski peringatan dini telah diberikan, derasnya aliran air dari hulu, buruknya sistem pengendalian banjir, serta kapasitas bendungan yang terbatas membuat bencana ini sulit dihindari.

    Warga yang terdampak kini menghadapi kenyataan pahit, rumah dan harta benda mereka hancur, sementara kebutuhan dasar di pengungsian harus segera terpenuhi.

    Upaya evakuasi masih terus dilakukan, dan posko-posko bantuan mulai didirikan untuk menampung korban banjir. Namun, lebih dari sekadar bantuan darurat, kejadian ini seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah dan masyarakat untuk mengevaluasi sistem mitigasi bencana secara menyeluruh.

    Jika tidak ada langkah nyata untuk memperbaiki infrastruktur dan memperketat pengawasan tata ruang, banjir serupa, atau bahkan yang lebih buruk, hanya tinggal menunggu waktu untuk kembali terulang.

  • Urus KTP yang Rusak akibat Banjir Selesai Dalam Satu Hari

    Urus KTP yang Rusak akibat Banjir Selesai Dalam Satu Hari

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menjanjikan pengurusan dokumen kependudukan seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang rusak atau hilang karena banjir dapat rampung dalam satu hari.

    Adapun syarat utama pengurusan KTP ini adalah warga harus ingat Nomor Induk Kependudukannya (NIK).

    “Yang penting ada NIK-nya, itu bisa langsung dicetak hari itu juga. Aman,” kata Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Provinsi DKI Jakarta Budi Awaluddin di Jakarta, Rabu.

    Hal itu menjadi prosedur tetap (protap) saat terjadi bencana di wilayah Jakarta.

    Baca: Penyebab banjir di Bekasi

    Warga bisa langsung mendatangi posko banjir yang menyediakan layanan urus dokumen kependudukan di wilayah tempat tinggalnya masing-masing.

    Mereka bisa juga membawa foto KTP atau dokumen kependudukan lainnya di ponsel atau salinan fisiknya.

    “Sudah ada petugas yang di sana yang berada di sekitar (lokasi terdampak banjir) yang memang aman untuk dilakukan pelayanan,” kata dia.

    Sementara itu, banjir akibat curah hujan tinggi dan luapan sejumlah sungai di Jakarta masih merendam 36 rukun tetangga (RT) di tiga wilayah Jakarta pada Rabu siang.

    Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menunjukkan hingga pukul 12.00 WIB jumlah RT yang terdampak banjir terus berkurang.

    Baca: Sodetan Ciliwung belum efektif cegah banjir

    Pada Rabu (5/3/2025) siang, tinggal 36 RT di tiga wilayah Jakarta yang masih tergenang dari puncaknya pada Selasa (4/3/2025) yang mencapai 122 RT di empat kota administrasi.

    “Kami masih mengerahkan personel untuk memonitor kondisi genangan (banjir) di setiap wilayah,” kata Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Mohamad Yohan saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.

    Yohan mengatakan bahwa ketinggian air pun terus menyusut dan kini paling tinggi berada di Kelurahan Bintaro dan Kebon Baru, Jakarta Selatan, dengan kedalaman tertinggi dua meter.

    “Kami mencatat saat ini genangan terjadi di 36 RT yang terdiri dari Jakarta Barat 9 RT, Jakarta Selatan 13 RT dan Jakarta Timur 14 RT,” ujarnya.

    Baca: Ribuan rumah di Jabodetabek terdampak banjir

  • Ribuan Warga Karawang Mengungsi Karena Rumah Mereka Kebanjiran

    Ribuan Warga Karawang Mengungsi Karena Rumah Mereka Kebanjiran

    7cloud.asia – Ribuan warga Kabupaten Karawang, Jawa Barat (Jabar), mengungsi akibat rumah mereka terendam banjir menyusul meluapnya Sungai Cibeet dan Citarum di wilayah Karawang.

    Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karawang pada Rabu (5/3/2025) banjir di Karawang melanda sejumlah desa/kelurahan di empat kecamatan dengan ketinggian air bervariasi hingga ada yang mencapai dua meter.

    Di antara titik yang dilanda banjir di Karawang ialah Desa Karangligar, Mekarmulya, Mulyajaya, dan Desa Wanakerta, yang berada di Kecamatan Telukjambe Barat.

    Kemudian dua kelurahan di Kecamatan Karawang Barat yang meliputi Kelurahan Tanjungmekar dan Kelurahan Karawangkulon. Lalu di Desa Sukamakmur dan Purwadana Keuangan Telukjambe Timur.

    Baca: Penyebab banjir besar di Bekasi

    Selain itu banjir juga melanda Desa Mulangsar, Ciptasari, Tamanmekar, dan Desa Tamansari yang berada di Kecamatan Pangkalan.

    Bencana banjir di Karawang yang terjadi sejak beberapa hari terakhir ini akibat tingginya curah hujan, memicu meluapnya air Sungai Cibeet dan Citarum di wilayah Karawang.

    Empat desa di wilayah Karawang Selatan, Kabupaten Karawang, Jawa Barat sempat terisolir karena banjir setinggi sekitar 1,5 meter akibat meluapnya air Sungai Cibeet.

    Tim Reaksi Cepat mencatat sebanyak 3.659 Kepala Keluarga (KK) atau 10.180 jiwa terdampak banjir di wilayah Karawang. Ribuan warga Karawang yang terdampak banjir mengungsi ke tempat yang lebih aman.

    Bupati Karawang Aep Syaepuloh menyampaikan saat ini petugas masih terus melakukan evakuasi terhadap warga terdampak banjir ke sejumlah titik pengungsian.

    Baca: Jabodetabek dikepung banjir ribuan rumah terdampak

    Seperti yang terjadi di Desa Sukamakmur dan Purwadana, petugas mengevakuasi warga ke titik pengungsian kawasan Resinda yang dilengkapi dengan dapur umum dan posko kesehatan.

    Selain itu Pemkab Karawang bersama pihak terkait dibantu Kodim dan Polres Karawang juga telah menyediakan tenda pengungsian dan dapur umum di Desa Karangligar, Kecamatan Telukjambe Barat.

    Dari pantauan di lapangan, warga terdampak banjir tidak hanya mengungsi ke tenda yang disediakan pemerintah.

    Mereka juga ada yang mengungsi ke masjid, mushala, bahkan ada yang sampai membangun tenda sendiri dengan terpal di pinggir jalan.

  • KLH Temukan Luas Agrowisata di Puncak Tak Sesuai Dokumen Lingkungan

    KLH Temukan Luas Agrowisata di Puncak Tak Sesuai Dokumen Lingkungan

    7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menemukan bahwa luas agrowisata di kawasan Puncak, tidak sesuai dengan dokumen lingkungan yang berdampak kepada lingkungan sekitar termasuk Daerah Aliran Sungai Ciliwung.

    Hal ini diungkapkan Deputi Bidang Penegakan Hukum (Gakkum) KLH Rizal Irawan ditemui usai inspeksi di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada Kamis (6/3/2025).

    Dia menyampaikan mendapatkan arahan dari Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq untuk melakukan verifikasi lapangan di wilayah hulu DAS Ciliwung beberapa hari sebelum terjadi banjir besar di Jakarta dan Bekasi.

    Rizal mengatakan dalam verifikasi lapangan KLH menemukan bahwa terdapat ketidaksesuaian luasan agrowisata di lahan yang dikelola salah satu perusahaan di wilayah tersebut.

    Baca Juga: Sodetan Ciliwung Belum Efektif Cegah Banjir Akibat Luapan Sungai Ciliwung

    “Yang tadinya luasan agrowisatanya hanya 16 ribu (hektare), faktanya sekarang yang ditemukan sampai saat ini adalah 35 ribu hektare,” jelas Rizal.

    “Tentunya kalau ada perbedaan ini, dokumen lingkungan sudah tidak sesuai. Ketika ada ketidaksesuaian dokumen lingkungan, dampaknya adalah pasti akan signifikan terhadap alam,” tambahnya.

    Terkait bentuk penegakan hukum kepada pengelola dia menyebut terdapat potensi sanksi administratif, perdata dan pidana.

    Jika terbukti melanggar, pihak pengelola juga berpotensi harus mengganti kerugian kepada negara dan mengeluarkan biaya pemulihan lingkungan.

    Baca Juga: Cegah Banjir, Kementerian Lingkungan Hidup Akan Perbaiki Tata Kelola Vegetasi Hulu Sungai Ciliwung

    Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq bersama Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melakukan inspeksi ke empat lokasi di Kawasan Puncak.

    Kawasan agrowisata ini dikelola PT Perusahaan Perkebunan Sumber Sari Bumi, PTPN I Regional 2 Gunung Mas, PT Jaswita Jabar serta Eiger Adventure Land pada Kamis(6/3/2025).

    Dalam inspeksi tersebut, KLH memasang papan pengawasan lingkungan sebagai bagian dari upaya pendalaman dugaan pelanggaran hukum lingkungan hidup dengan pembangunan di wilayah hulu DAS Ciliwung.

    Hal ini berdampak kepada peningkatan potensi banjir di hilir termasuk di wilayah Jakarta dan Bekasi seperti yang terjadi beberapa hari ini.

  • Banjir dan Longsor Sukabumi Akibatkan Satu Warga Tewas dan Tujuh Lainnya Hilang

    Banjir dan Longsor Sukabumi Akibatkan Satu Warga Tewas dan Tujuh Lainnya Hilang

    7cloud.asia – Cuaca ekstrem yang ditandai hujan deras memicu bencana banjir dan tanah longsor kembali melanda Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pada Kamis dan Jumat (6-7 Februari 2025).

    Bencana banjir dan tanah longsor ini mengakibatkan seorang warga tewas dan tujuh lainnya hingga kini masih dinyatakan hilang.

    “Para korban tersebut berasal dari Kecamatan Simpenan, Lengkong, dan Palabuhanratu,” kata Manajer Pusat Pengendalian Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Pusdalops BPBD) Kabupaten Sukabumi Daeng Sutisna di Sukabumi, Jumat (7/3/2025).

    Adapun rincian korban hilang dan meninggal, yakni di Kecamatan Simpenan satu warga meninggal dunia dan satu lainnya hilang. Kecamatan Lengkong tiga korban hilang, dan Kecamatan Palabuhanratu dua korban hilang.

    Baca: BMKG kembali lakukan modifikasi cuaca

    Menurut Daeng, hingga saat ini tim SAR gabungan masih melakukan pencarian terhadap tujuh korban hilang pada peristiwa bencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah selatan Kabupaten Sukabumi.

    Untuk jumlah warga yang terdampak bencana masih dalam pendataan, karena data masih terus berkembang. Namun demikian, seluruh daerah yang terdampak banjir dan longsor sudah tertangani.

    Dari pendataan sementara, jumlah kecamatan yang yang terdampak bencana banjir dan longsor yang dipicu oleh cuaca ekstrem, yakni Kecamatan Kadudampit, Curugkembar, Simpenan, Palabuhanratu, Waluran.

    Banjir dan longsor juga dilaporkan terjadi di Bantargadung, Cisaat, Cikembar, Warungkiara, Sagaranten, Lengkong, Jampangtengah, Ciemas, Cimanggu, Pabuaran, Gunungguruh, Cikakak, dan Cisaat.

    Baca: Cuaca ekstrem berpotensi terjadi hingga 10 Maret 2025

    BPBD Kota Sukabumi, Jawa Barat, menyebutkan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah itu pada 6-7 Maret semakin meluas, yang awalnya sembilan titik menjadi 18 titik.

    “Hingga saat ini dari hasil pendataan petugas di lapangan, jumlah lokasi yang terdampak bencana tersebar di 18 titik,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kota Sukabumi Novian Rahmat di Sukabumi, Jumat.

    Novian memaparkan untuk banjir terjadi di 14 titik, Tembok Penahan Tanah (TPT) ambruk di tiga titik, dan longsor di satu titik. Tidak ada korban jiwa pada bencana yang melanda Kamis (6/3/2025) malam hingga Jumat (7/3/2025) dini hari.

    Kemudian untuk data sementara jumlah warga yang terdampak bencana sebanyak 91 jiwa, kata dia, kemungkinan jumlah ini masih akan terus bertambah karena petugas penanggulangan bencana masih melakukan asesmen di lokasi bencana.

  • Tidak Hanya Leptospirosis, Berikut Sejumlah Penyakit yang Sering Muncul Pasca Banjir

    Tidak Hanya Leptospirosis, Berikut Sejumlah Penyakit yang Sering Muncul Pasca Banjir

    7cloud.asia – Banjir yang melanda sejumlah wilayah Jakarta pada Senin (3/3/2025) dini hari telah surut pada Rabu (5/3/2025) malam.

    Namun, warga Jakarta yang terdampak banjir diminta untuk mewaspadai sederet penyakit baik kesehatan fisik maupun trauma mental setelah menghadapi bencana banjir yang cukup besar ini.

    Dokter Puskesmas Kramat Jati dr. Rachmat Aminullah mengatakan sejumlah penyakit yang paling sering muncul pascabanjir adalah gatal-gatal, trauma fisik, dan infeksi.

    “Yang paling banyak itu memang keluhan gatal-gatal, atau kita sering menyebutnya leptospirosis yang ditularkan oleh tikus atau hewan lain bisa terjadi. Gejalanya meliputi demam, dan nyeri di betis atau mata,” katanya dikutip Antaranews.com Jumat (8/3/2025)

    Tidak hanya leptospirosis, kondisi trauma karena terkena pecahan dan luka yang disebabkan dalam air, diare serta infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) juga jadi sejumlah penyakit yang timbul di saat bencana.

    “Kalau korban mengalami gejala-gejala, harus segera memeriksakan ke posko tanggap darurat terdekat untuk ditangani. Kita tidak boleh menganggap enteng penyakit yang kita rasakan,” tegasnya.

    Baca: Leptospirosis, penyakit yang sering menjangkiti korban banjir

    Lebih lanjut, psikolog klinis di Puskesmas Kramat Jati Marina Nurrahmani menjelaskan bahwa tidak semua orang yang mengalami bencana banjir akan terkena trauma.

    “Kebanyakan orang hanya mengalami stres, karena situasi yang tidak nyaman dan penuh ketidakpastian. dan itu wajar,” kata Marina.

    Namun, ia menekankan pentingnya mengelola stres dengan memenuhi kebutuhan fisik dan emosional, seperti makan dengan baik, cukup tidur, dan melakukan aktivitas fisik secara teratur.

    “Jika stres berlanjut bahkan setelah situasi membaik, bisa jadi itu trauma,” tambahnya.

    Marina juga menyarankan agar korban banjir mencari dukungan dari keluarga, teman, atau profesional jika merasa sangat tertekan.

    Baca: 11 Penyakit ini sering menjangkiti korban banjir

    Dengan ketinggian air lebih dari tiga meter, tenaga sanitasi Puskesmas Kramat Jati Ressa Chintiastuty mengatakan kualitas air bersih menjadi masalah utama pascabanjir.

    “Kalau sumber air juga ikut terendam banjir maka air kemasan pabrik jadi solusi paling aman. Air isi ulang juga bisa digunakan, tetapi pastikan tidak terdampak banjir dan sebaiknya dimasak dulu,” ujarnya.

    Untuk langkah pasca terjadinya banjir, Ressa menyarankan barang-barang yang sulit kering untuk diganti secara permanen.

    “Barang-barang yang sulit kering total itu saya sarankan memang harus diganti total, karena kita enggak bisa memastikan setelah dibersihkan dia itu sudah bebas dari kuman dan bakteri,” ungkapnya.

    Ressa juga menyarankan penggunaan hidrogen peroksida atau cairan disinfektan untuk membersihkan rumah, agar seluruh sisi ruangan benar-benar tersanitasi.