Bekasi Dilanda Banjir Terburuk dalam 9 Tahun Terakhir, Apa Penyebabnya?

Written by

in

7cloud.asia – Hujan deras yang mengguyur kawasan Puncak dan wilayah Jabodetabek telah mengakibatkan meluapnya Sungai Cileungsi dan Kali Bekasi dan memicu banjir yang meluas serta melumpuhkan sejumlah wilayah di Kabupaten dan Kota Bekasi, Jawa Barat.

Di Kabupaten Bekasi, perumahan Vila Nusa Indah 1 dan Vila Nusa Indah 2 terdampak banjir akibat luapan dua sungai yang berhulu di Kawasan Puncak ini.

Di Kota Bekasi, beberapa perumahan mengalami banjir dengan ketinggian air bervariasi antara 1,1 hingga 3 meter lebih.

Banjir terparah terjadi di Gang Mawar RT8 RW3 di Kecamatan Bekasi Timur mengalami banjir setinggi 3 meter. Perumahan Pondok Gede Permai (PGP) dan Villa Jatirasa juga mengalami banjir parah dengan ketinggian air mencapai lebih dari 3 meter.

Dilansir Antaranews.com, Pusat perniagaan hingga akses Jalan Utama Ahmad Yani, Bekasi Selatan – yang menjadi nadi ekonomi dan pusat perbelanjaan di Kota Bekasi dilaporkan lumpuh setelah turut direndam banjir.

Banjir tidak hanya melumpuhkan pemukiman warga, tetapi juga fasilitas penting seperti rumah sakit, stasiun kereta api. Di beberapa tempat juga dilakukan pemadaman listrik total.

“Dari 12 kecamatan, yang terdampak di Kota Bekasi itu delapan kecamatan. Dan hari ini, Kota Bekasi lumpuh, sampai di jalan utama, termasuk kantor pemerintahan, itu sudah mulai masuk air, karena kemudian juga limpasannya sungguh luar biasa,” kata Wali Kota Bekasi Tri Adhianto dalam pernyataannya di Bekasi, Selasa (4/3/2025).

Banjir yang melanda Kota Bekasi saat ini dinilai sebagai yang terburuk sejak 2016 dan 2020, dengan ketinggian air mencapai 8 meter akibat kenaikan permukaan air di Kali Bekasi.

Baca: Sodetan Ciliwung belum efektif cegah banjir

Pengaruh bendung
Bendung Bekasi di Jalan M. Hasibuan, Bekasi Selatan, menghadapi situasi kritis akibat debit air yang melebihi kapasitas tampungnya.

Dikabarkan, bahwa kapasitas maksimal bendungan peninggalan Belanda ini adalah 1.000 meter kubik per detik, namun saat itu debit air mencapai 1.100 meter kubik per detik.

Kondisi ini memaksa pihak pengelola dari Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane (BBWSCC) untuk membuka pintu air guna mengurangi tekanan, yang dapat menyebabkan kenaikan permukaan air di wilayah hilir.

Selain itu, pompa air yang biasanya berfungsi untuk mengendalikan volume air, untuk sementara tidak dioperasikan. Akibatnya, kemampuan sistem pengendalian banjir menurun, meningkatkan risiko banjir di area sekitar.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi melaporkan bahwa TMA Kali Bekasi telah mencapai puncaknya pada pukul 06.30 WIB, dengan ketinggian 875 cm, jauh melebihi batas maksimal 350 cm.

Sebagai perbandingan, banjir kali ini boleh jadi sebagai yang terparah jika dibandingkan situasi yang sama di awal 2020. Saat itu, TMA yang meluap berada di kisaran 750 cm.

Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, telah memantau kondisi bendungan dan memastikan pengaturan pintu bendungan untuk mengantisipasi kenaikan debit air.

Diprediksi beberapa wilayah di Kota Bekasi, terutama yang berdekatan dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Bekasi, mengalami banjir akibat hujan deras dan kiriman air dari Bogor.

Baca: Jabodetabek dikepung banjir, ribuan rumah terdampak

Hingga hari ini, Pemerintah Kota Bekasi bekerja sama dengan otoritas terkait telah mengerahkan tim evakuasi dan menyiapkan posko-posko pengungsian bagi warga terdampak.

Dilansir Tirto.id, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi, Priadi Santoso menyebut hujan dengan intensitas tinggi dalam beberapa hari terakhir diduga kuat menjadi penyebab banjir Bekasi.

Selain itu, banjir kian meluap usai adanya limpahan air dari wilayah hulu Kali Bekasi, khususnya dari Bogor yang membuat debit air sungai semakin tinggi dan meluap.

Sementara warga Bekasi menilai banjir besar ini tak lepas dari buruknya tata ruang di wilayah itu.

“Emang pemkab dan pemkotnya gak guna, auto pilot, bikin tata kota acak-acakanan, gak ada serapan, perumahan pada tinggi-tinggian mau menang sendiri. buang-buangan air sembarangan,” tulis warga di akun chat Whatsapp.

Banjir besar yang melanda Kota Bekasi kali ini menjadi pengingat betapa rentannya wilayah bantaran sungai terhadap ancaman luapan air.

Meski peringatan dini telah diberikan, derasnya aliran air dari hulu, buruknya sistem pengendalian banjir, serta kapasitas bendungan yang terbatas membuat bencana ini sulit dihindari.

Warga yang terdampak kini menghadapi kenyataan pahit, rumah dan harta benda mereka hancur, sementara kebutuhan dasar di pengungsian harus segera terpenuhi.

Upaya evakuasi masih terus dilakukan, dan posko-posko bantuan mulai didirikan untuk menampung korban banjir. Namun, lebih dari sekadar bantuan darurat, kejadian ini seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah dan masyarakat untuk mengevaluasi sistem mitigasi bencana secara menyeluruh.

Jika tidak ada langkah nyata untuk memperbaiki infrastruktur dan memperketat pengawasan tata ruang, banjir serupa, atau bahkan yang lebih buruk, hanya tinggal menunggu waktu untuk kembali terulang.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *