Tag: perubahan iklim

  • Jelang COP 29, Masyarakat Sipil Desak Pemerintah Kunci Target Emisi dan Pendanaan Iklim

    Jelang COP 29, Masyarakat Sipil Desak Pemerintah Kunci Target Emisi dan Pendanaan Iklim

    7cloud.asia – Konferensi Iklim ke-29 atau COP 29 di Baku, Azerbaijan yang akan dimulai Senin 11 November 2024 besok akan fokus membahas peningkatan kontribusi penurunan emisi yang ditentukan secara nasional (NDC)

    COP 29 juga diharapkan mengamankan pembiayaan iklim dunia dan membangun ketahanan di area yang rentan terhadap perubahan iklim.

    Indonesia saat ini tengah dalam proses mengirimkan kembali dokumen komitmen penurunan emisi tingkat negara, atau NDC kedua.

    Dalam NDC terakhir (2022), Indonesia berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon sebesar 915 juta ton setara CO2 atau 31,89 persen dari total proyeksi emisi karbon pada 2030.

    Jika mendapatkan dukungan dan kerja sama internasional, komitmen Indonesia akan ditingkatkan menjadi 1.240 juta ton setara CO2 atau 43,2 persen dari total proyeksi emisi pada 2030.

    Baca: COP 29 diharapkan hasilkan pengembangan skema baru Pendanaan Iklim.

    Dokumen Second NDC tersebut telah disiapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di pemerintahan sebelumnya, dan perlu diserahkan dengan tenggat akhir tahun 2024.

    Direktur Esksekutif MADANI Berkelanjutan. Nadia Hadad mengatakan belum mengetahui persis isi dokumen tersebut. Namun, dia berharap NDC kedua punya pemihakan yang tegas terhadap masyarakat rentan.

    “Sebanyak 64 organisasi telah mengirimkan masukan kepada pemerintah untuk mendefinisikan masyarakat rentan dalam NDC kedua,” kata Nadia Hadad dalam diskusi Lapor Iklim jelang COP 29 bersama beberapa perwakilan masyarakat sipil di Jakarta, 8 November 2024.

    Definisi masyarakat rentan yang di dalamnya termasuk masyarakat adat, perempuan, anak-anak, petani, nelayan dan kelompok disabilitas perlu disebutkan secara eksplisit.

    Baca: Tahun 2024 dipastikan menjadi tahun terpanas sepanjang sejarah

    “Ini penting agar implikasinya jelas pada kebijakan-kebijakan turunannya,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima 7cloud.asia pada Jumat (8/11/2024)

    Menurut Tory Kuswardono, Direktur Eksekutif Yayasan Pikul, COP 29 juga akan menjadi patokan baru kontribusi NDC nasional yang akan ditingkatkan targetnya.

    Berdasarkan perhitungan saat ini, ujarnya, target Perjanjian Paris untuk membatasi kenaikan suhu bumi di 1,5 derajat celcius tidak akan tercapai,

    “Sehingga negara-negara yang meratifikasinya perlu memastikan NDC masing-masing sesuai dengan target atau memperbaharui dengan target baru yang lebih agresif,” kata Tory.

  • Kisah Pulau Mensemut: Pulau Kecil di Kepulauan Riau yang Terancam Tenggelam Akibat Perubahan Iklim

    Kisah Pulau Mensemut: Pulau Kecil di Kepulauan Riau yang Terancam Tenggelam Akibat Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Bayangkan masyarakat yang hidup selaras dengan alam selama ratusan tahun, hidup lebih lama hanya untuk melihat tanah leluhur lenyap tergerus abrasi yang saban tahun semakin parah.

    Pepohonan di pulau tempat tinggalnya terus berkurang. Binatang-binatang seperti tupai dan burung-burung pun tidak ada lagi yang hinggap.

    Ini adalah situasi Pulau Mensemut yang terancam tenggelam karena perubahan iklim. Saya bersama lima mahasiswa meneliti kehidupan kaum adat Orang Suku Laut di Mensemut yang bertahan di tengah perubahan iklim sejak Juli 2024.

    Orang Suku Laut adalah nomad laut yang kini sudah banyak bermukim di daratan. Pulau Mensemut (bernama Selentang di platform Google Maps) merupakan pulau kecil seluas tiga hektare di Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau.

    Di pulau ini, hidup sekelompok Orang Suku Laut yang menjadikan laut sebagai ruang hidup dan sumber nafkah utama. Mereka menjaring rezeki dari mencari ikan, cumi, dan sebagainya.

    Namun, perubahan iklim kini mengancam keberlangsungan hidup mereka. Cuaca ekstrem terjadi tanpa prediksi serta permukaan laut yang semakin naik mengancam kehidupan 15 kepala keluarga Orang Suku Laut yang bermukim sejak lama di Pulau Mensemut.

    Sejak 2012, warga Mensemut mulai diminta pemerintah untuk berpindah ke pulau lain yang lebih aman. Pemerintah menganggap Pulau Mensemut sudah tidak lagi layak huni.

    Namun, masyarakat Suku Laut di Pulau Mensemut berbeda pandangan. Mereka menganggap pulau itu adalah tempat paling indah, nyaman dan aman dari tempat manapun.

    Baca: Ribuan desa pesisir di Indonesia Timur terancam hilang akibat perubahan iklim

    Pada umumnya, masyarakat adat memandang bahwa alam semesta adalah ibu yang merawat dan menyediakan segala kebutuhan manusia. Hubungan psikologis antara masyarakat adat dengan alam tidak terpisahkan, terutama terkait dengan ruang hidup mereka.

    Pun bagi Orang Suku Laut di Mensemut. Menurut mereka, menghadapi perubahan iklim bukan hanya tentang bertahan hidup, tetapi juga tentang menjaga memori dan identitas leluhur di pulau ini.

    “Di Mensemut ini sudah sangat nyaman. Lahir di sini, banyak hal yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja di sini. Sudah sering kali pemerintah nyuruh kami warga Mensemut ni pindah. Mereka suruh Bapak cari pulau lain untuk bikin rumah.” –Iskandar.

    Situasi ini tidak hanya dihadapi oleh masyarakat Suku Laut di Pulau Mensemut, tetapi juga oleh banyak kaum adat di seluruh dunia. Mereka kehilangan tanah, mata pencaharian, bahkan terpaksa berpindah tempat.

    Hidup selingkar pulau
    Perubahan iklim menimbulkan cuaca dan gelombang ekstrem yang menghantam daratan Pulau Mensemut. Walhasil, abrasi yang terjadi sejak 20 tahun silam mengikis daratan secara perlahan.

    Saat ini, hampir sepertiga Mensemut telah tenggelam. Menurut cerita penduduk, dahulu ada lapangan bola dan terdapat bangunan sekolah dasar di pulau ini.

    Namun, abrasi merobohkan keduanya menjadi tebing. Bangunan Masjid yang ada saat ini pun sudah tiga kali roboh diterjang badai.

    Mayoritas anak-anak Mensemut saat ini tidak bersekolah. Mereka menghabiskan hari untuk bermain ataupun menemani orang tua melaut. Kendatipun ada yang bersekolah, mereka harus pergi ke pulau lain untuk menimba ilmu.

    Baca: Menata kampung pesisir yang adaptif terhadap perubahan iklim 

    Abrasi juga mengancam rumah-rumah penduduk, membuat jarak antara rumah dengan tepi pantai semakin dekat. Menurut cerita penduduk, abrasi dan badai memaksa mereka berpindah rumah dari pinggir ke tengah pulau.

    “Dulu rumah Abang ni di sana (sambil menunjuk tepi Pantai), dua kali roboh karena tanah jadi longsor. Jadi tepi laut tu dulu, bekas rumah Abang. Dulu laut nya masih agak jauh dari rumah. Sekarang Abang pindah rumah agak masuk ke dalam pulau ni pun, air laut semakin dekat.” -Sadri, 38 tahun, warga Pulau Mensemut.

    Saat musim angin utara (mulai November hingga Maret), badai datang lebih kencang. Selama musim tersebut, mereka bermigrasi pindah ke pulau lain untuk menghindari risiko apabila angin kencang merobohkan rumah atau pohon-pohon.

    Di antara mereka ada yang mengungsi ke Pulau Hantu. Ada juga yang berpindah ke Pulau Nona. Dengan perahu pompong (perahu motor), perjalanan ke dua pulau tersebut kurang lebih satu jam dari Pulau Mensemut.

    Pulau Mensemut pun tak lagi memiliki air bersih. Pasokan air mereka peroleh dari menampung air hujan. Apabila musim panas tiba, mereka harus melakukan barter dengan hasil tangkapan mereka dengan kapal sucheng—kapal keliling penjaja kebutuhan sehari-hari di Perairan Lingga.

    Sementara itu, jika penghasilan tidak mencukupi, mereka terpaksa mengangkut air dari Tanjung Niang (daratan Pulau Lingga) yang berjarak sekitar 3 jam perjalanan laut dari Mensemut.

    Masalah kesehatan pun menjadi catatan karena tak ada tenaga kesehatan apalagi fasilitas yang lengkap. Untuk berobat, warga terbiasa mengandalkan obat-obatan herbal yang tersedia di pepohonan (mereka menyebutnya hutan).

    Sementara itu, fasilitas kesehatan terdekat—dengan peralatan seadanya—berlokasi di Pulau Pena’ah yang berjarak satu jam menggunakan pompong.

    Baca: Masyarakat pesisir rentan terdampak perubahan iklim, tapi sering diabaikan

    Menolak pindah
    Warga Mensemut memang mengkhawatirkan tempat tinggal mereka akan lenyap dalam puluhan tahun ke depan. Pulau ini pun tak lagi menyediakan semua kebutuhan dasar mereka.

    Namun, hal itu bukan menjadi alasan mereka mau berpindah dari pulau ini.

    “Ibu tidak pindah karena tidak betah mengemas semua perabotan. Banyak perabotan yang sayang kalau di tinggal, di sini ndak ada orang. Memang sering juga pindah ke Pulau Hantu dulunya, tapi ndak betah juga bolak balik bawa perabot banyak” Milah, 36 tahun, perempuan warga Mensemut.

    Mereka justru khawatir, apabila berpindah di pulau lain, mereka tidak dapat mencari nafkah seperti di Mensemut.

    “Ikan dan cumi di sini masih mudah dapat. Tak jauh-jauh dari pulau ni, dapat lah. Masih mudah lah, banyak orang dari pulau lain mencari ikan mencari cumi di dekat sini juga” Ju, 30 tahun, Ketua RT Pulau Mensemut.

    Selain kekhawatiran dalam penghidupan sehari-hari, ada juga stigma warga desa dari pulau lain yang menganggap bahwa orang Suku Laut masih mistik dan memiliki ilmu hitam.

    Misalnya, sebelum berlayar ke Pulau Mensemut pun, saya diingatkan warga Pena’ah (orang Melayu kepulauan) agar tidak meludah ataupun kencing sembarangan.

    Stigma ini menjadikan warga Mensemut ragu untuk berpindah karena harus hidup berdampingan dengan masyarakat lainnya.

    Baca: Kebijakan ekspor pasir laut ancam ekosistem pesisir

    Kebijakan pemindahan yang tidak tepat
    Salah satu kekuatan utama masyarakat Suku Laut di Pulau Mensemut adalah pengetahuan lokal mereka tentang alam. Mereka memahami pola cuaca, arus laut, dan tanda-tanda alam lainnya, yang menjadi panduan dalam kehidupan sehari-hari.

    Di tengah ancaman perubahan iklim, mereka terus menjaga pengetahuan ini, memanfaatkannya untuk mencari cara bertahan yang sesuai dengan kondisi alam yang berubah.

    Memindahkan orang Suku Laut ke pulau-pulau lain bukanlah solusi yang mudah untuk mereka terima. Mereka secara terang-terangan tidak bersedia meninggalkan pulau yang menjadi rumah bagi mereka dan nenek moyang sejak ratusan tahun lalu.

    Alih-alih memaksa relokasi, pemerintah dapat meredam dampak perubahan iklim yang sesuai dengan kondisi Mensemut. Misalnya melalui penanaman mangrove ataupun pembuatan tanggul serta pemecah ombak.

    Pemerintah juga dapat meringankan upaya adaptasi warga dengan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar seperti pasokan air bersih, fasilitas dan tenaga kesehatan, listrik, dan pendidikan.

    Perumusan program ini wajib melibatkan masyarakat Mensemut untuk menghindari program-program adaptasi yang tidak tepat, ataupun membahayakan kehidupan warga (maladaptasi).

    Pelibatan masyarakat juga bertujuan untuk merangsang pembuatan kebijakan adaptasi iklim yang berbasis kearifan-kearifan adat, sekaligus menghargai kebudayaan Orang Suku Laut.

    Upaya lainnya adalah menindak segala macam pencurian ikan, pencurian pasir laut, dan sumber daya lainnya oleh kapal asing. Semuanya mengancam kehidupan warga Mensemut.

    Iskandar, melalui perbincangannya dengan saya, menceritakan bahwa pencurian ikan di sekitar Pulau Mensemut kerap membuat tangkapannya merosot, sekitar 5 kilogram (kg) per malam.

    Ini terjadi karena banyak karang yang hancur lantaran aktivitas kapal ilegal. Padahal, dahulu dia pernah meraup lebih dari 100 kg ikan dan cumi dalam satu malam.

    Terakhir, pemerintah Indonesia harus mengerahkan segala daya upaya untuk memangkas emisi yang membuat perubahan iklim semakin parah.

    Tanpa langkah agresif mengurangi pemakaian energi kotor serta memulihkan hutan dan laut, kebijakan adaptasi yang terbaik pun akan nampak seperti upaya tambal sulam.

    Warga Mensemut adalah masyarakat yang berkontribusi sangat sedikit (atau mungkin tidak sama sekali) terhadap kerusakan alam. Jangan sampai kita membiarkan mereka menjadi korban terparah perubahan iklim.

    Artikel ini telah terbit di The Convrsation Indonesia, Penulis: Nikodemus Niko (Assistant Professor, Universitas Maritim Raja Ali Haji)

  • Pemanfaatan AI dalam Adaptasi Perubahan Iklim

    Pemanfaatan AI dalam Adaptasi Perubahan Iklim


    7cloud.asia – Diskusi mengenai kecerdasan buatan (AI) dalam konteks lingkungan lebih banyak terfokus pada potensi dampak ekologisnya, terutama akibat konsumsi energi yang tinggi dalam pelatihan model AI berskala besar.

    Namun, penting juga untuk melihat AI sebagai alat yang bisa mendukung upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. AI pun dapat berperan membuka peluang baru untuk penerapan teknologi yang lebih berkelanjutan.

    Peran AI dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim semakin relevan, terlebih dengan pengangkatan topik ini dalam Conference of the Parties 28 (COP 28)—pertemuan tahunan peserta Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim atau UNFCCC di Dubai tahun lalu.

    Untuk pertama kalinya, AI diusulkan sebagai salah satu solusi untuk memerangi pemanasan global yang memicu perubahan iklim

    Dalam tulisan sebelumnya telah diulas peran AI dalam mitigasi perubahan iklim. Dalam tulisan ini, kita akan mengulik bagaimana AI dimanfaatkan dalam adaptasi perubahan iklim

    Perubahan iklim semakin parah dan bisa dengan jelas kita rasakan melalui cuaca ekstrem dan intensitas bencana alam yang meningkat. Dalam menghadapi kenyataan ini, adaptasi menjadi langkah penting.

    AI dapat berkontribusi di sini, terutama dalam sistem prediksi dan peringatan dini bencana.

    Misalnya, beberapa model AI seperti convolutional neural networks (CNN) mampu menganalisis data meteorologis untuk memprediksi banjir, memberikan informasi berharga kepada masyarakat dan pemerintah untuk mempersiapkan diri lebih baik.

    Selain memprediksi bencana, AI juga bisa dipadukan ke dalam sistem peringatan dini. Dengan kemampuan analisis data real-time secara cepat, AI mampu mendeteksi anomali kondisi di lapangan dalam hitungan detik.

    Setelah mendeteksi kejanggalan, sistem AI akan menilai apakah ada situasi tanda awal bencana, yang kemudian diterjemahkan menjadi peringatan dini.

    Taiwan, salah satu wilayah yang menghadapi intensifikasi siklon tropis akibat perubahan iklim telah memanfaatkan AI untuk lebih siap menghadapi fenomena ini.

    Pada Juli lalu, teknologi AI berhasil memprediksi dengan akurat pola dan dampak dari Topan Gaemi, delapan hari sebelum topan tersebut mencapai daratan.

    Dengan prediksi ini, masyarakat dan pemerintah Taiwan dapat mempersiapkan diri lebih baik, mengurangi risiko bencana secara signifikan.

    Inisiatif global memanfaatkan AI untuk aksi iklim
    Potensi besar pemanfaatan AI dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim kini semakin mendapat perhatian dari kelompok kerja global untuk perubahan iklim.

    Dalam COP 28, para peserta menyepakati keputusan untuk meningkatkan pengembangan dan transfer teknologi yang diperlukan dalam menghadapi perubahan iklim melalui suatu sistem yang disebut Mekanisme Teknologi.

    Mekanisme ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas negara-negara, terutama negara berkembang, dalam mengadopsi teknologi yang ramah lingkungan dan efisien untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

    Salah satu hal penting yang dibahas dalam keputusan ini adalah dorongan untuk menerapkan solusi perubahan iklim berbasis AI.

    Dalam COP-28, para pihak juga mendukung pelaksanaan Initiative on Artificial Intelligence for Climate Action (AI4ClimateAction), sebuah inisiatif dari Technology Executive Committee dan Climate Technology Centre and Network—dua badan yang bertanggung jawab dalam Mekanisme Teknologi UNFCCC.

    Inisiatif ini dirilis pada Juni 2023 sebagai upaya untuk mempercepat pemanfaatan AI dalam aksi iklim global.

    Saat ini, langkah konkret dari inisiatif tersebut telah dituangkan dalam Workplan for the Technology Mechanism Initiative on AI for Climate Action (2024–2027).

    Beberapa poin utama dalam rencana kerja ini meliputi peningkatan kapasitas negara-negara dalam menggunakan AI untuk aksi iklim, pemberian bantuan teknis kepada negara berkembang, dan pembentukan kerangka kemitraan sektor publik dan privat.

    Rencana kerja ini diharapkan menjadi panduan bagi pemanfaatan AI dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim secara global di masa mendatang.

    AI untuk aksi iklim Indonesia
    Sebagai anggota UNFCCC sekaligus salah satu penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia, Indonesia perlu memanfaatkan teknologi ini untuk mendukung aksi-aksi iklim.

    AI berpotensi besar dalam menekan emisi di sektor energi, melindungi hutan Kalimantan sebagai salah satu penyerap karbon terbesar di dunia, serta mendorong praktik pertanian pintar dan presisi. Teknologi ini dapat berperan penting dalam membantu Indonesia mencapai target Net Zero Emissions pada 2060 atau lebih cepat.

    Namun, ada sejumlah tantangan yang perlu kita perhatikan. Pertama, Indonesia perlu memiliki regulasi AI yang jelas agar penggunaannya berlangsung secara etis, berkelanjutan, dan bertanggung jawab.

    Kedua, penting bagi Indonesia memiliki basis data yang berkualitas guna menghasilkan hasil analisis yang akurat.

    Ketiga, Indonesia juga memerlukan talenta-talenta digital yang mumpuni untuk mengoperasikan teknologi ini.

    Di tengah dampak perubahan iklim yang semakin nyata, AI menawarkan solusi inovatif untuk menyelamatkan masa depan bumi dan manusia.

    Berbekal kemampuannya dalam menganalisis data, AI dapat membantu menurunkan emisi secara signifikan dan memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi dampak perubahan iklim.

    Namun, keberhasilan pemanfaatan AI untuk iklim bergantung pada tata kelola yang baik. Memastikan teknologi ini berkelanjutan, ramah lingkungan, dan etis adalah kunci untuk memaksimalkan dampak positif AI.

    Dengan pendekatan yang tepat, AI bisa menjadi alat penting dalam upaya kolektif untuk mempertahankan masa depan Bumi dan seluruh penghuninya.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: M. Irfan Dwi Putra (Junior Researcher at Center for Digital Society (CfDS), Universitas Gadjah Mada)

  • Pemanfaatan AI dalam Mitigasi Perubahan Iklim: Praktik Baik di Sejumlah Negara

    Pemanfaatan AI dalam Mitigasi Perubahan Iklim: Praktik Baik di Sejumlah Negara

    7cloud.asia – Diskusi mengenai kecerdasan buatan (AI) dalam konteks lingkungan lebih banyak terfokus pada potensi dampak ekologisnya, terutama akibat konsumsi energi yang tinggi dalam pelatihan model AI berskala besar.

    Namun, penting juga untuk melihat AI sebagai alat yang bisa mendukung upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. AI pun dapat berperan membuka peluang baru untuk penerapan teknologi yang lebih berkelanjutan.

    Peran AI dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim semakin relevan, terlebih dengan pengangkatan topik ini dalam Conference of the Parties 28 (COP 28)—pertemuan tahunan peserta Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim atau UNFCCC di Dubai tahun lalu.

    Untuk pertama kalinya, AI diusulkan sebagai salah satu solusi untuk memerangi pemanasan global.

    AI dalam mitigasi perubahan iklim
    Mitigasi perubahan iklim mencakup berbagai upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca serta meningkatkan kapasitas penyerapannya dari atmosfer.

    Tujuan utama dari upaya ini adalah mencapai net zero emissions, yaitu kondisi di mana jumlah emisi gas rumah kaca yang dilepaskan ke atmosfer seimbang dengan jumlah yang diserap kembali, sehingga mencapai titik impas emisi (net zero).

    Baca: Kemenangan Donald Trump dinilai berdampak buruk pada aksi iklim dunia

    AI memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam mencapai tujuan ini.

    Di sektor energi—sumber emisi gas rumah kaca terbesar—AI dapat kita gunakan untuk mengoptimalkan konsumsi energi. Misalnya, melalui pengintegrasian AI ke dalam smart grid atau jaringan listrik pintar.

    Ini memungkinkan AI untuk menganalisis kebutuhan energi secara real-time, menyesuaikan pasokan, dan mengatur distribusi secara efisien.

    Pemerintah Kota Shenzhen di Cina adalah salah satu wilayah yang telah memanfaatkan AI untuk mengatur distribusi listrik sekaligus mengelola penyimpanan energi.

    Alhasil, konsumsi energi per unit GDP (Produk Domestik Bruto) kota tersebut turun menjadi hanya sepertiga dari rata-rata nasional, menjadikannya kota dengan konsumsi energi per unit GDP terendah di Cina.

    Di sektor kehutanan, AI dapat membantu pemantauan laju deforestasi melalui analisis citra satelit, pemrosesan data dengan cepat dan akurat untuk mendeteksi perubahan tutupan hutan.

    Baca: Inggris tunjuk aktivis lingkungan menjadi Duta Besar Khusus untuk Alam

    AI juga dapat mendeteksi kebakaran hutan berdasarkan analisis sensorik terhadap titik panas di wilayah hutan.

    Proyek Guacamaya di Kolombia adalah salah satu contoh nyata. Dalam proyek ini, AI memproses data citra satelit, rekaman bioakustik, dan data kamera tersembunyi untuk memberikan gambaran real-time kondisi hutan Amazon Kolombia.

    Teknologi ini sangat membantu para pengambil keputusan negara tersebut dalam mengatasi deforestasi.

    Sementara itu, di sektor pertanian, sebagai sektor penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar kedua, AI dapat membantu petani menggunakan pupuk, herbisida, dan pestisida dengan lebih bijak.

    Misalnya, melalui analisis data jenis tanaman, tanah, dan cuaca, AI dapat mengurangi pemakaian pupuk dan pestisida yang berlebihan.

    Ini memungkinkan sektor pertanian untuk menekan emisi dinitrogen oksida—bahan kimia dalam pupuk—gas rumah kaca yang berkali-kali lipat lebih kuat dari karbon dioksida.

    Program Saagu Baagu di Telangana, India, menunjukkan dampak positif dari AI ini, dengan penurunan pestisida sebesar 9 persen dan penurunan penggunaan pupuk sekitar 5 persen.

    Tidak hanya itu, hasil panen petani juga terbukti ikut meningkat hingga 21 persenper hektare. Lantas, bagaimana AI dimanfaatkan dalam adaptasi perubahan iklim? Jawabannya akan diulas dalam tulisan selanjutnya.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: M. Irfan Dwi Putra (Junior Researcher at Center for Digital Society (CfDS), Universitas Gadjah Mada)

  • Surat Terbuka Seorang Vegan untuk Dibawa Presiden Prabowo ke COP 29

    Surat Terbuka Seorang Vegan untuk Dibawa Presiden Prabowo ke COP 29

    7cloud.asia – Saat membacakan surat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto di Jakarta, Minggu (10/11/2024), peneliti di Institute for Ecosoc Right sekaligus anggota Vegan Squad Indonesia, Sri Palupi, menggarisbawahi sumbangan signifikan sektor peternakan pada pemanasan global.

    Surat ini dikirimnya kepada presiden menjelang Konferensi Para Pihak tentang Perubahan Iklim ke-29 atau COP 29 yang akan diselenggarakan di Baku, Azerbaijan pada 11-12 November.

    Dalam surat tersebut, Sri menyatakan industri peternakan telah berkontribusi secara signifikan terhadap perubahan iklim melalui emisi gas rumah kaca (karbondioksida/CO2, Metana/CH4, Nitrous Oksida/NO2) dalam jumlah besar, perusakan lingkungan akibat polusi udara-tanah-air dan deforestasi secara luas.

    Oleh karena itu, dampak industri peternakan terhadap pemanasan global tidak dapat diabaikan.

    “Tanpa pengurangan signifikan dalam konsumsi daging global maka kita akan kehilangan peluang strategis dalam mengatasi perubahan iklim, menyelamatkan Bumi dan segenap penghuninya,” ungkap Sri.

    Lebih jauh Sri memaparkan saat ini dunia tengah menghadapi ancaman yang sangat serius terkait dengan perubahan iklim yang diakibatkan oleh pemanasan global.

    Apalagi, katanya, The EU’s Copernicus Climate Change Service mencatat pada Februari 2024, ambang batas pemanasan global 1,5 derajat Celcius yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris (2015) telah terlampaui.

    “Jika pemanasan global tidak terkendali, diperkirakan populasi manusia akan berkurang hingga 75 persen akibat bencana, penyakit, kelaparan, dan kemiskinan,” tuturnya.

    Potensi Terjadinya Bencana di Indonesia Meningkat
    Indonesia, berdasarkan laporan World Risk Report (WRI) tahun 2022 sebelumnya, tercatat sebagai negara nomor tiga di dunia yang paling berisiko terkena bencana setelah Filipina dan India.

    Namun, kondisi ini memburuk setelah laporan WRI pada tahun 2023 menempatkan Indonesia sebagai negara kedua yang paling berisiko terkena bencana setelah Filipina.

    “Padahal pada 2018 Indonesia tidak termasuk dalam 10 besar negara yang paling berisiko terhadap bencana. Bergesernya posisi Indonesia menjadi negara yang berisiko sangat tinggi terhadap bencana ini menunjukkan, Indonesia memiliki tingkat paparan, kerentanan dan kerawanan tinggi terhadap bencana, sementara kapasitas penanganan bencana kurang dan minimnya adaptasi terhadap bencana,” jelasnya.

    Sepanjang 2014-2024 ada 35.925 kejadian bencana di Indonesia, di mana sedikitnya 11.350 orang meregang nyawa. Intensitas bencana di Indonesia juga menunjukkan tren peningkatan.

    Mempertimbangkan berbagai fakta itu, komunitas Vegan Squad Indonesia, ujar Sri, mengajukan usulan dan mendorong pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk membuat kebijakan mengurangi konsumsi daging sebagai salah satu langkah strategis dan ekonomis dalam mengatasi perubahan iklim.

    Selain itu, pihaknya juga mengusulkan untuk menjalankan komitmen mengurangi deforestasi secara signifikan dan menghindari proyek-proyek pembangunan yang memperburuk deforestasi.

    “Melakukan dan memperluas edukasi pada masyarakat tentang pola hidup vegan/vegetarian sebagai langkah efektif mengatasi perubahan iklim, dengan melibatkan berbagai pihak, seperti media, lembaga pendidikan, kelompok agamawan, korporasi, komunitas-komunitas vegan, dan lainnya,” katanya.

    Mendorong dan memfasilitasi produksi pangan lokal nabati untuk mendukung dan memperluas penerapan pola hidup vegan/vegetarian, serta mendukung dan memfasilitasi perluasan pertanian selaras alam dengan melibatkan organisasi dan komunitas petani.

  • Pegiat Lingkungan: Peran Pemuda Sangat Penting dalam Menghadang Laju Perubahan Iklim

    Pegiat Lingkungan: Peran Pemuda Sangat Penting dalam Menghadang Laju Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Peran pemuda sangat penting dalam penanganan perubahan iklim, terutama dalam menciptakan inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat

    Hal ini diungkapkan pendiri organisasi nirlaba Desa Bumi, Gamma A. Thohir dalam diskusi mengenai peran pemuda dalam mendorong transisi energi di sela Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-29 atau COP 29 di Baku, Azerbaijan yang dipantau daring di Jakarta, Kamis (14/11/2024)

    Dalam diskusi yang dihelat di Paviliun Indonesia itu, Gamma memaparkan peran pemuda tidak hanya terbatas dalam perumusan kebijakan di atas kertas, tapi juga lewat aksi nyata di lapangan.

    “Cara terbaik untuk kita sebagai pemuda untuk berkontribusi adalah dengan membuat proyek yang berdampak kepada banyak orang,” jelas pegiat iklim ini.

    Baca: Delegasi Indonesia dinilai tak bawa pesan kuat di COP 29

    Dengan demikian, katanya, maka generasi muda dapat menunjukkan peran dan efeknya kepada komunitas dan lingkungan hidup sekitar.

    Dia memberikan contoh bagaimana organisasinya telah bekerja di empat desa di Pulau Jawa dan Kalimantan untuk menyediakan energi yang berasal dari sumber berkelanjutan termasuk penggunaan panel surya.

    Dalam diskusi yang sama, Leyla Hasanova sebagai Youth Climate Champion untuk COP 29 mengatakan suara generasi muda kini semakin didorong dalam beberapa tahun terakhir.

    Secara khusus dia menyoroti peran penting para pendidik dari generasi muda dalam sektor pendidikan untuk memberikan pemahaman terkait perubahan iklim dan beragam langkah mitigasi dan adaptasinya di berbagai belahan bumi.

    Baca: Kontroversi penggunaan bahan bakar fosil di COP 29

    Untuk itu penyelenggara COP 29 telah mengajak 75 guru dari berbagai belahan dunia untuk peningkatan kapasitas dan menutup kesenjangan guna memberikan edukasi mengenai perubahan iklim.

    Youth Climate Champion juga mengenalkan teknologi untuk mengatasi perubahan iklim di berbagai tingkatan pendidikan.

    “Ketika mereka kembali ke komunitasnya, meski hanya 75 guru, tapi mereka memberikan dampak ke ribuan murid dan anak-anak di seluruh dunia,” Layla.

    COP 29 yang diselenggarakan di Baku, Azerbaijan pada 11 hingga 22 November 2024 diharapkan menghasilkan solusi nyata dalam penurunan emisi dan pendanaan iklim.

  • Riset: Perubahan Iklim Memicu Penyebaran Demam Berdarah atau DBD

    Riset: Perubahan Iklim Memicu Penyebaran Demam Berdarah atau DBD

    7cloud.asia – Para peneliti Amerika mengatakan, perubahan iklim bertanggung jawab atas hampir seperlima dari rekor jumlah kasus demam berdarah atau dengue (DBD) di seluruh dunia pada tahun ini.

    Dalam sebuah pernyataan pada Sabtu (16/11/2024) para peneliti ini terus berupaya menjelaskan bagaimana kenaikan suhu membantu menyebarkan DBD.

    Para peneliti telah berupaya untuk menunjukkan bagaimana perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia berkontribusi langsung terhadap peristiwa cuaca ekstrem seperti angin topan, kebakaran, kekeringan, dan banjir.

    Namun menghubungkan bagaimana pemanasan global dan perubahan iklim mempengaruhi kesehatan –seperti memicu wabah atau menyebarkan penyakit– masih merupakan bidang baru.

    “Demam berdarah (DBD) adalah penyakit pertama yang baik untuk dijadikan fokus karena sangat sensitif terhadap iklim,” kata Erin Mordecai, ahli ekologi penyakit menular di Universitas Stanford, kepada AFP.

     

    Baca: Ini yang terjadi pada kehidupan jika pemanasan global mencapai 2°C 

    Demam berdarah dipicu virus, dan ditularkan melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi, menyebabkan demam dan nyeri tubuh serta, dalam beberapa kasus, dapat mematikan.

    Demam berdarah biasanya hanya terjadi di daerah tropis dan subtropis, tetapi peningkatan suhu global telah menyebabkan nyamuk merambah daerah baru dan membawa serta demam dengue.

    Untuk studi baru itu, yang belum ditelaah oleh rekan sejawat, tim peneliti Amerika mengamati bagaimana suhu yang lebih panas dikaitkan dengan infeksi demam berdarah di 21 negara di Asia dan Amerika.

    Rata-rata, sekitar 19 persen kasus demam berdarah saat ini di seluruh dunia “disebabkan oleh pemanasan iklim yang telah terjadi,” kata Mordecai, penulis senior untuk studi pra-cetak tersebut.

    Mordecai mengatakan suhu antara 20-29 derajat Celcius (68-84 derajat Fahrenheit) ideal untuk penyebaran demam berdarah.

    Baca: Perubahan iklim membahayakan masyarakat rentan

    Para peneliti menemukan bahwa daerah dataran tinggi di Peru, Meksiko, Bolivia, dan Brasil yang akan menghangat hingga kisaran suhu ini dapat mengalami peningkatan kasus demam dengue sebanyak 200 persen dalam 25 tahun ke depan.

    Analisis tersebut memperkirakan setidaknya 257 juta orang saat ini tinggal di wilayah di mana pemanasan global dapat melipatgandakan angka demam dengue selama periode tersebut.

    Bahaya ini hanyalah “alasan lain mengapa Anda harus peduli terhadap perubahan iklim,” kata Mordecai.

    Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), lebih dari 12,7 juta kasus demam berdarah dengue tercatat di seluruh dunia hingga September 2024, hampir dua kali lipat rekor total pada 2023.

    Namun Mordecai mengatakan, banyaknya laporan yang tidak dilaporkan berarti jumlah sebenarnya kemungkinan mendekati 100 juta.

    Penelitian ini dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Society of Tropical Medicine and Hygiene di Kota New Orleans, negara bagian Louisiana, Amerika Serikat.

  • COP 29 Sepakati Pendanaan Iklim Sebesar 300 Miliar Dolar Setahun, Negara Berkembang Sebut Tidak Cukup

    COP 29 Sepakati Pendanaan Iklim Sebesar 300 Miliar Dolar Setahun, Negara Berkembang Sebut Tidak Cukup

    7cloud.asia – Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-29 atau COP 29 di Baku, Azerbaijan, resmi ditutup pada Minggu (24/11/2024) dengan kesepakatan mengalokasikan pendanaan iklim sebesar 300 miliar dolar per tahun.

    Pendanaan iklim senilai lebih dari Rp4500 triliun setahun yang disepakati di COP 29 ini akan dialokasikan untuk membantu negara-negara miskin mengatasi dampak perubahan iklim.

    Kesepakatan itu dicapai selama COP 29 yang berlangsung dua pekan, diharapkan jadi momentum bagi upaya global dalam menahan pemanasan global di tahun yang diperkirakan akan menjadi yang terpanas sepanjang sejarah.

    Beberapa delegasi dari negara-negara yang hadir di COP 29 memberikan tepuk tangan meriah, sementara yang lain mengecam negara-negara kaya yang dinilai tidak berbuat lebih banyak.

    Sejumlah negara penerima donor yang paling terdampak perubahan iklim mengkritik kesepakatan di COP 29 tersebut, karena angka tersebut dinilai terlalu kecil dan tidak akan mencukupi kebutuhan.

    Negara-negara penerima bantuan juga mengkritik tuan rumah Azerbaijan, yang dianggap tergesa-gesa meloloskan skema pendanaan iklim yang kontroversial tersebut.

    Baca: Penutupan COP 29 mundur karena beda pendapat soal pendanaan iklim

    “Dengan sangat menyesal saya sampaikan bahwa dokumen ini tidak lebih dari sekadar ilusi optik,” kata perwakilan delegasi India, Chandni Raina, pada sesi penutupan pertemuan puncak, beberapa menit setelah kesepakatan itu disahkan.

    “Menurut kami, ini tidak akan menjawab besarnya tantangan yang kita semua hadapi. Oleh karena itu, kami menentang penerapan dokumen ini,” katanya.

    Kepala iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Simon Stiell, mengakui alotnya negosiasi untuk dapat mencapai kesepakatan tersebut.

    Namun, ia memuji hasilnya dan menyebutnya sebagai polis asuransi bagi umat manusia terhadap pemanasan global.

    “Ini merupakan perjalanan yang sulit, tetapi kami berhasil mencapai kesepakatan,” kata Stiell. “Kesepakatan ini akan terus menumbuhkan ledakan energi bersih dan melindungi miliaran jiwa.”

    “Namun seperti polis asuransi lainnya, hal ini hanya akan berhasil jika premi dibayarkan penuh dan tepat waktu.”

    Baca: Negara maju dan negara berkembang beda pendapat soal pendanaan iklim

    Berdasarkan perjanjian tersebut, negara-negara kaya akan menggelontorkan 300 miliar dolar per tahun hingga 2035, meningkat dari komitmen sebelumnya sebesar 100 miliar per tahun untuk pendanaan iklim pada 2020.

    Kesepakatan pendanaan iklim sebesar 100 miliar setahun ini tercapai pada 2022, dan akan berakhir pada tahun 2025.

    Kesepakatan tersebut juga menjadi dasar bagi pertemuan puncak iklim tahun depan, yang akan diadakan di hutan hujan Amazon, Brazil, di mana negara-negara akan memetakan aksi iklim untuk dekade mendatang.

    Pertemuan puncak tersebut langsung menyentuh inti perdebatan mengenai tanggung jawab finansial negara-negara industri.

    Negara-negara ini, yang penggunaan bahan bakar fosilnya secara historis telah menyebabkan sebagian besar emisi gas rumah kaca, diharapkan memberikan kompensasi kepada negara lain atas kerusakan yang semakin parah akibat perubahan iklim.

    Pertemuan tersebut juga mengungkap perpecahan antara negara-negara kaya, yang terbatas oleh anggaran domestik yang ketat, dan negara-negara berkembang yang berjibaku dalam membiayai bencana alam seperti badai, banjir, dan kekeringan.

    Baca: Dunia butuh sumber pendanaan iklim yang lebih adil

    Sejumlah negara mencari bantuan pendanaan untuk memenuhi tujuan Perjanjian Paris, yaitu membatasi kenaikan suhu global hingga 1,5°C di atas tingkat pra-industri, yang jika terlampaui dapat menimbulkan dampak iklim yang dahsyat.

    Dunia saat ini berada di jalur cepat untuk pemanasan hingga 3,1°C pada akhir abad ini, menurut laporan Kesenjangan Emisi PBB 2024, seiring dengan meningkatnya emisi gas rumah kaca global dan penggunaan bahan bakar fosil.

    Kesepakatan tersebut gagal menetapkan langkah-langkah terperinci tentang bagaimana negara-negara akan memenuhi janji KTT iklim PBB tahun lalu.

    Janji tersebut mencakup peralihan dari bahan bakar fosil dan melipatgandakan kapasitas energi terbarukan dalam dekade ini. Beberapa negosiator mengungkapkan bahwa Arab Saudi berupaya menghalangi rencana tersebut selama perundingan.

    “Jelas ada tantangan dalam mendapatkan ambisi yang lebih besar saat Anda bernegosiasi dengan Saudi,” kata penasihat iklim Amerika Serikat John Podesta.

  • Perubahan Iklim Mendorong Warga Desa Ini Kembangkan Pertanian Regeneratif

    Perubahan Iklim Mendorong Warga Desa Ini Kembangkan Pertanian Regeneratif

    7cloud.asia – Di tengah pesona pedesaan Mértola, sebuah desa yang terletak di wilayah Alentejo di Portugal, sebuah gerakan transformatif menuju pertanian regeneratif mulai mengakar.

    Pertanian regeneratif adalah pendekatan pertanian yang bertujuan untuk memperbaiki kondisi tanah, keanekaragaman hayati, dan ekosistem pertanian.

    Pertanian regeneratif ini berprinsip pada keberlanjutan jangka panjang dan menciptakan sistem pertanian yang tahan terhadap perubahan iklim.

    Inti dari tranformasi ke pertanian regeneratif ini adalah Proceso Regenerativo em Curso (PREC), sebuah perusahaan multifaset yang berfungsi sebagai surga vegan, pasar organik, sekaligus pusat komunal bagi anggota dan sekutu Terra Sintrópica.

    Dipimpin oleh Nuno Roxo yang visioner, PREC berdiri sebagai bukti ketahanan dan inovasi, menantang norma-norma tradisional di wilayah di mana perubahan disambut dengan optimisme yang hati-hati.

    Bahkan tukang daging dari seberang jalan meminum kopinya di sini setiap hari – di tempat para vegan. Proceso Regenerativo em Curso (PREC), yang diterjemahkan menjadi “Proses Regeneratif yang Berkelanjutan,” adalah tempat yang memiliki banyak aspek.

     

    Baca: Penerapan pertanian regeneratif di Indonesia

    PREC bisa dikatakan kantin vegan, kafe, toko organik, pusat makanan dan tempat pertemuan bagi anggota dan pembantu Terra Sintrópica.

    Terletak di Mértola, sebuah desa indah di wilayah Alentejo Portugal dengan populasi kurang dari 5.000 jiwa, Nuno Roxo, 48, telah menjalankan PREC selama empat tahun. Dua belas tahun yang lalu, dia berhenti dari pekerjaan tetapnya.

    “Keluarga dan teman-teman saya menganggapnya gila. Di wilayah ini, pekerjaan ibarat asuransi jiwa. Tapi saya mengambil risiko – untungnya!” ujarnya.

    Dilansir Earth.org, Nuno adalah pemandu wisata yang berspesialisasi dalam ekologi, sekretaris asosiasi Terra Sintrópica, dan manajer PREC. Dan yang paling penting, dia adalah warga lokal, dan dia ingin tetap seperti itu.

    Di salah satu wilayah yang paling jarang penduduknya dan paling kering di Eropa, ia adalah bagian dari keajaiban kecil.

    Di PREC, mereka menyajikan apa yang dipanen segar oleh masyarakat Terra Sintrópica di pagi hari dari kebun Malhadinha, sekitar 20 menit di luar Mértola.

    Baca: Mengenal apa itu ekonomi restoratif 

    Sebuah Taman Eden kecil tumbuh subur di sana – bukan dengan mengambil apa pun dari lanskap yang gersang dan mirip gurun, namun melalui kerja sama. Fokusnya adalah pada pertanian regeneratif yang didasarkan pada prinsip sintropi.

    Marta Cortegano mendirikan Terra Sintrópica pada tahun 2018. Dia mengatakan, saat itu daerah itu dalam situasi yang sangat kritis.

    Praktis tidak ada hujan selama bertahun-tahun, dan orang-orang dari wilayah tersebut pindah ke kota-kota besar – pada dasarnya sebagai pengungsi perubahan iklim.

    ”Jadi kami perlu segera melakukan sesuatu. Itu sebabnya saya mendirikan Terra Sintrópica bersama Antonio Coelho, petani kami.” ujarnya kepada Earth.org

    Saat Anda berjalan melewati taman Malhadinha, sulit dipercaya bahwa tanah di sini biasanya tidak subur. Daun bawang yang subur, kentang matang, salad renyah, rempah-rempah yang harum.

    Selain buah persik, aprikot, dan delima yang berair – semuanya dalam kualitas organik terbaik. Bagaimana ini mungkin?

    Baca: Mengapa pupuk kandang lebih bagus untuk lingkungan

    Transformasi Lengkap
    Coelho telah bekerja sebagai petani selama 14 tahun. Kehidupan sebelumnya ia menanam secara monokultur dan menggunakan terpal plastik. Namun kemudian terjadi perubahan iklim, penggurunan, dan hujan hampir berhenti sama sekali.

    Ia pernah mendengar tentang pertanian regeneratif sebelumnya namun tidak pernah menyangka bisa menerapkannya di daerah asalnya.

    Dia terinspirasi oleh Felipe Pasini, salah satu pendiri asosiasi “Living in Syntropy”. Pasini adalah salah satu mentor terpentingnya. Coelho belajar darinya untuk menerapkan prinsip dasar pertanian sintropis: Selalu memberi lebih banyak kepada bumi daripada yang Anda terima.

    Tanam pohon sebanyak mungkin – pohon menyimpan air, menyediakan biomassa, kayu, dan gula. Gula yang terbentuk melalui fotosintesis merupakan dasar bagi tanah yang subur dan hidup.

    Gunakan pohon dan tanaman yang berbeda – semakin banyak keanekaragaman dan fotosintesis, semakin baik.

    Pendekatan yang sangat berhasil: “Jika Anda tidak bekerja dengan sistem tanaman tunggal, Anda akan mendapatkan hasil per hektar yang lebih tinggi karena Anda selalu memanen sesuatu yang termasuk dalam sistem sejak awal,” kata Coelho kepada Earth.Org.

    Artikel ini diterjemahkan dari Earth.Org, Penulis: Regina Schwald adalah jurnalis media cetak dan televisi berpengalaman, serta manajer proyek multibahasa dengan keahlian di bidang komunikasi dan hubungan masyarakat untuk proyek penelitian Eropa.

  • Pasca Hasil COP 29 yang Mengecewakan, Saatnya Mencari Format Konferensi Perubahan Iklim yang Lebih Efektif

    Pasca Hasil COP 29 yang Mengecewakan, Saatnya Mencari Format Konferensi Perubahan Iklim yang Lebih Efektif

    7cloud.asia – Banyak orang yang telah lama terlibat dalam negosiasi iklim global melihat Konferensi Perubahan Iklim tahunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai upaya yang cacat secara fundamental. Penulis termasuk di antaranya.

    Pada 24 November lalu, COP 29 selesai dihelat di Baku, Azerbaijan. Ini mungkin COP ke-25 yang penulis ikuti.

    Selama bertahun-tahun, penulis menghadiri konferensi perubahan iklim atau COP ini dalam berbagai peran, sering kali sebagai negosiator iklim untuk pemerintah Australia. Saat ini, saya hadir sebagai akademisi.

    COP 29, sayangnya, tidak membuahkan terobosan. Pertemuan ini hanya menyepakati peningkatan yang cukup lumayan dalam pembiayaan iklim untuk negara berkembang, serta kesepakatan tentang aturan pasar karbon.

    Namun, banyak isu yang ditunda pembahasannya hingga COP 30 tahun depan. Konferensi pun berlangsung lambat.

    COP atau pertemuan membahas langkah mengatasi perubahan iklim tahunan ini sering dipandang hanya sebagai ajang “menang atau kalah,” sehingga dinamika diskusinya menjadi rumit.

    Negara-negara produsen minyak bumi dan para pelobi bekerja keras menghindari pembahasan tentang penghentian penggunaan bahan bakar fosil.

    Di lain pihak, tuan rumah sering kali hanya membutuhkan “kemenangan” yang acap hanya berupa “komitmen” tanpa perubahan nyata. Sebelum pembicaraan tahun ini dimulai, tokoh-tokoh besar dalam iklim sudah menyerukan reformasi proses COP.

    Namun, terlepas dari kelemahannya, pertemuan COP adalah satu-satunya cara untuk mengumpulkan seluruh negara-negara di dunia dalam satu ruangan untuk merundingkan langkah-langkah menghadapi perubahan iklim.

    Dalam beberapa tahun terakhir, fokus para pemimpin global terganggu oleh pandemi Covid, perang Ukraina-Rusia, dan kini konflik di Timur Tengah.

    Namun, apa mau dikata, perubahan iklim terus memburuk. Tidak lama lagi, kejadian di dunia nyata akan mengarahkan perhatian kita kembali ke ancaman terbesar yang akan kita hadapi.

    Sejak 1995, pembicaraan COP telah menjadi pendorong utama aksi global terhadap perubahan iklim. Forum ini akan terus penting hingga transisi menuju energi bersih selesai dan pembakaran bahan bakar fosil tidak lagi menjadi rutinitas kita.

    Perubahan iklim hanya memiliki satu kata solusi: investasi. Setiap hari, perusahaan dan pemerintah menginvestasikan uang. Mereka bisa memilih untuk berinvestasi pada teknologi lama yang memperburuk polusi karbon, atau beralih ke alternatif yang lebih bersih.

    Konferensi iklim sejauh ini berperan mengubah arah investasi. Contohnya terlihat jelas dengan banyaknya investasi untuk energi hijau, pembaruan jaringan listrik, dan efisiensi energi.

    Nilainya dua kali lipat lebih besar dari investasi untuk bahan bakar fosil baru. (Sayangnya, jika kita memasukkan subsidi bahan bakar fosil, gambaran ini akan sangat berbeda.)

    Tahun lalu, negara-negara peserta COP akhirnya memasukkan teks tentang kebutuhan transisi dari bahan bakar fosil. Itu adalah kemenangan yang sulit. Namun malang tak dapat ditolak.

    Tahun ini, para diplomat dari Arab Saudi dan sekutunya berhasil menghapus segala penyebutan tentang isu bahan bakar fosil tersebut.

    Meskipun teks terkait bahan bakar fosil tidak mengikat, dampaknya akan cukup besar dalam ruang-ruang rapat tempat keputusan investasi disepakati.

    Proses atau kemajuan?
    Perencanaan konferensi iklim saat ini masih jauh dari ideal. Setiap tahun, para peserta memilih negara baru sebagai presidensi sekaligus tuan rumah pertemuan. Pembicaraan berlangsung selama dua pekan dengan segudang agenda.

    Tahun ini, tuan rumah Azerbaijan tampak kelimpungan mengendalikan agenda. Akibatnya, isu seperti Global Stocktake—yang memuat seruan penghentian bahan bakar fosil—justru ditunda hingga COP 30 tahun depan di Brasil.

    Karena konferensi iklim hanya berlangsung sekali setahun, banyak agenda yang menumpuk. Ini membuat pembahasan sangat berantakan.

    Setiap Juni, para negosiator iklim bertemu dalam pertemuan antar-sesi sebelum pembicaraan COP berikutnya di Bonn, Jerman—lokasi kantor pusat Sekretariat PBB untuk Perubahan Iklim.

    Dalam pertemuan ini, sering kali ada upaya untuk membatalkan pengumuman yang dibuat di pembicaraan COP resmi. Kadang-kadang, upaya tersebut berhasil.

    Setiap delegasi dalam COP hadir karena dua alasan. Pertama, karena pemerintah mereka berkomitmen untuk menyelesaikan masalah besar perubahan iklim. Lima atau enam negara mungkin tidak, tetapi lebih dari 190 lainnya berkomitmen.

    Alasan kedua adalah melindungi kepentingan nasional masing-masing. Tentu saja, keduanya bisa dilakukan bersamaan.

    Namun, ini membawa masalah tersembunyi. Banyak orang yang menghadiri acara ini, menurut saya, terlalu berfokus pada proses ketimbang hasil.

    Dua kali setahun, mereka menghadiri konferensi iklim dan pertemuan antar-sesi di Bonn, beranjangsana dengan teman dan kolega.

    Sayangnya, silaturahmi ini justru menjadi rutinitas. Bagi beberapa orang, bahkan, prosesnya telah menjadi tujuan.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Howard Bamsey (Honorary Professor, School of Regulation and Global Governance, Australian National University)