Tag: palestina

  • Gencatan Senjata Berlaku, Israel dan Hamas Bertukar Tahanan

    Gencatan Senjata Berlaku, Israel dan Hamas Bertukar Tahanan

    7cloud.asia – Pada Minggu (19/1/2025) atau hari pertama gencatan senjata di Gaza, Israel dan kelompok Hamas bertukar sandera.

    Hamas membebaskan tiga orang Israel yang disanderanya dan Israel membebaskan 90 orang Palestina yang dipenjarakan.

    Gencatan senjata ini menghentikan perang selama 15 bulan yang telah menghancurkan Jalur Gaza dan mengobarkan amarah di Timur Tengah.

    Gencatan tersebut memungkinkan warga Palestina untuk kembali ke permukiman-permukiman yang dibom untuk mulai membangun kembali kehidupan mereka.

    Sementara truk-truk bantuan mengirimkan bantuan yang sangat diperlukan. Di tempat lain di Gaza, massa menyambut para anggota Hamas yang muncul dari tempat persembunyian mereka.

    Kembang api diluncurkan sebagai bentuk perayaan sewaktu bus-bus yang membawa orang-orang Palestina yang dipenjarakan tiba di Ramallah, Tepi Barat, di mana ribuan orang menunggu untuk menyambut mereka.

    Baca: Pakar pesimis kesepakatan gencatan senjata terwujud penuh di Gaza

    Warga Palestina yang dibebaskan dari penjara Israel mencakup 69 perempuan dan 21 remaja lelaki dari Tepi Barat dan Yerusalem, menurut Hamas.

    Di Tel Aviv, ratusan orang Israel bersorak sorai dan menangis di sebuah lapangan di luar markas pertahanan.

    Sementara siaran langsung dari Gaza memperlihatkan tiga sandera perempuan memasuki kendaraan Palang Merah dengan dikelilingi para anggota Hamas.

    Militer Israel mengatakan Romi Gonen, Doron Steinbrecher dan Emily Damari telah bertemu kembali dengan ibu mereka dan melansir sebuah video yang memperlihatkan mereka tampak dalam keadaan sehat.

    Damar, yang kehilangan dua jari ketika ia ditembak pada hari ia diculik, tersenyum dan memeluk ibunya sambil mengangkat tangannya yang dibalut perban.

    “Saya ingin memberitahu mereka: Romi, Doron, dan Emily – seluruh bangsa memeluk kalian. Selamat datang,” kata PM Benjamin Netanyahu kepada seorang komandan melalui telepon.

    Baca: RI tekankan pentingnya pemulihan situasi di Gaza

    Di Pusat Kesehatan Sheba, mereka bertemu dengan kerabat mereka dalam pelukan panjang yang berlangsung dengan diiringi tangis hingga tawa. Damari yang tersenyum tampak berselimut bendera Israel.

    Mereka termasuk di antara lebih dari 250 orang yang diculik dan 1.200 orang yang tewas dalam serangan Hamas di Israel pada 7 Oktober 2023, kata Israel.

    Perang Gaza menewaskan lebih dari 47 ribu orang Palestina. Hampir seluruh dari 2,3 juta orang populasi Gaza kehilangan tempat tinggal. Sekitar 400 tentara Israel juga tewas.

    Gencatan senjata itu menyerukan agar pertempuran dihentikan, bantuan dikirimkan ke Gaza dan 33 dari hampir 100 orang Israel dan warga asing yang masih disandera agar dibebaskan dalam tahap pertama selama enam pekan.

    Sebaliknya Israel membebaskan hampir 2.000 orang Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel. Banyak di antara para sandera itu diyakini telah tewas.

  • Bantah Relokasi Warga Gaza ke Indonesia, Kemenlu: Pemindahan Warga Gaza Tidak Dapat Diterima

    Bantah Relokasi Warga Gaza ke Indonesia, Kemenlu: Pemindahan Warga Gaza Tidak Dapat Diterima

    7cloud.asia – Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI hingga saat ini tidak pernah memperoleh informasi apapun, terkait relokasi sebagian dari 2 juta penduduk Gaza ke Indonesia.

    Sebelumnya informasi relokasi 2 juta warga Gaza ke Indonesia beredar luas di media sosial. Relokasi ini disebut sebagai salah satu bagian dari upaya rekonstruksi Gaza pasca tercapainya gencatan senjata.

    “Pemerintah menghindari berspekulasi tentang isu (relokasi warga Gaza, red) tersebut tanpa adanya informasi yang lebih jelas,” demikian disebutkan dalam keterangan tertulis Kemenlu yang diterima Selasa (21/1/2025)

    Kemenlu menegaskan, sikap Indonesia tetap tegas dengan posisi segala upaya untuk memindahkan warga Gaza tidak dapat diterima.

    Baca: Indonesia tekankan pentingnya pemulihan segera di Gaza

    Upaya untuk mengurangi penduduk Gaza hanya akan mempertahankan pendudukan ilegal Israel atas wilayah Palestina dan sejalan dengan strategi yang lebih besar yang bertujuan untuk mengusir orang Palestina dari Gaza.

    Ditegaskan, gencatan senjata di Gaza harus menjadi momentum untuk memulai dialog dan negosiasi guna mewujudkan solusi dua negara Israel dan Plaestina.

    “Hal ini sesuai hukum internasional dan parameter internasional yang telah disepakati,” demikian Kemenlu mengakhiri pernyataannya

    Seperti diketahui, gencatan senjata mulai diberlakukan di Gaza pada Minggu (19/1/2025) waktu setempat.

    Baca: Gencatan senjata mulai diberlakukan

    Kemenlu menyatakan, implementasi kesepakatan gencatan senjata tersebut harus dilaksanakan segera dan secara menyeluruh demi terhentinya korban jiwa di Gaza.

    Indonesia menekankan pentingnya pemulihan kehidupan masyarakat di Gaza melalui akses penuh penyaluran bantuan kemanusiaan, termasuk pemulihan peran UNRWA, serta rekonstruksi Gaza.

    Perdamaian di Palestina tidak dapat dicapai tanpa penghentian penjajahan Israel, serta berdirinya Negara Palestina yang merdeka dan berdaulat, sesuai solusi dua negara.

    Selain pertukaran sandera dan tahanan, gencatan senjata juga memungkinkan masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza.

    Gencatan senjata ini juga mengakhiri perang yang telah berlangsung 15 bulan dan menewaskan lebih dari 47.000 warga Palestina.

  • Gencatan Senjata Berlaku di Gaza, Israel Halangi Truk Pembawa Bantuan Kemanusiaan

    Gencatan Senjata Berlaku di Gaza, Israel Halangi Truk Pembawa Bantuan Kemanusiaan

    7cloud.asia – Jumlah truk bantuan yang memasuki Jalur Gaza bagian utara sejak kesepakatan gencatan senjata baru mencapai 861 dari total 1.200 truk yang awalnya direncanakan.

    Dilansir Anadolu pada Kamis (23/1/2025), otoritas Gaza menyatakan, perbatasan Beit Hanoun (Erez) di Gaza Utara tetap ditutup dengan alasan jalanan rusak akibat pengeboman Israel.

    Sumber tersebut menyatakan, kondisi ini memerlukan intervensi untuk membuka kembali jalur tersebut sehingga semua truk pembawa bantuan bisa masuk Gaza.

    Sumber tersebut menekankan bahwa situasi kemanusiaan di Gaza Utara masih membutuhkan dukungan yang segera dan menyeluruh, termasuk pasokan bahan bakar dan kebutuhan dasar untuk membantu warga yang terdampak serangan Israel.

    Baca: Trump ragu gencatan senjata di Gaza berlaku sepenuhnya

    Ia juga menyoroti pentingnya percepatan pengiriman sisa truk bantuan guna memenuhi kebutuhan mendesak penduduk Gaza.

    Kesepakatan gencatan senjata antara Hamas dan Israel menetapkan masuknya 300 truk bantuan setiap hari ke wilayah utara.

    Namun, hambatan dari pihak Israel telah menghalangi implementasi penuh dari kesepakatan tersebut, sehingga menyebabkan kekurangan pasokan bantuan.

    Kantor Media Pemerintah di Gaza sebelumnya mengumumkan langkah-langkah untuk mengantisipasi kembalinya warga Palestina yang mengungsi dari wilayah selatan dan tengah ke Gaza City serta wilayah utara mulai Minggu mendatang.

    Baca: Tukar menukar tawanan saat gencatan senjata di Gaza

    Fase pertama gencatan senjata selama enam pekan mulai berlaku pada 19 Januari, menghentikan genosida Israel di Gaza yang telah menewaskan hampir 47.200 warga Palestina, yang sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.

    Serangan Israel juga telah melukai lebih dari 111.160 orang dan menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza sejak 7 Oktober 2023.

    Kesepakatan gencatan senjata tiga tahap ini mencakup pertukaran tahanan dan stabililtas berkelanjutan, dengan tujuan mencapai gencatan senjata permanen serta penarikan pasukan Israel dari Gaza.

    Serangan Israel juga menyebabkan lebih dari 11.000 orang hilang, dengan kehancuran luas dan krisis kemanusiaan yang merenggut nyawa banyak orang tua dan anak-anak, menjadikannya salah satu bencana kemanusiaan terburuk di dunia.

    Baca: Indonesia tolak relokasi warga dari Gaza

    Mahkamah Pidana Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan pada November tahun lalu untuk pemimpin otoritas Israel Benjamin Netanyahu dan mantan otoritas pertahanan Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

    Israel juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional atas perang yang dilancarkan di wilayah tersebut.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Donald Trump Kembali Lempar Wacana Pemindahan Warga Gaza

    Donald Trump Kembali Lempar Wacana Pemindahan Warga Gaza

    7cloud.asia – Presiden AS Donald Trump mengulangi usulan kontroversialnya untuk memindahkan dengan paksa, sejumlah besar warga Palestina di Gaza.

    Wacana pemindahan warga Gaza ke negara-negara tetangga, Yordania dan Mesir ini diungkapkan Donald Trump saat berbicara kepada wartawan di atas pesawat “Air Force One”.

    “Anda bisa mendapatkan tempat tinggal di daerah yang jauh lebih aman, lebih baik, dan mungkin lebih nyaman bagi mereka,” imbuhnya.

    Trump pertama kali melontarkan gagasan relokasi warga Gaza pada hari Sabtu (25/1/2025), dan mengatakan bahwa dia ingin Yordania dan Mesir menerima lebih banyak pengungsi Palestina.

    Baca: Indonesia tentang pemindahan warga Gaza

    Relokasi warga Gaza ini oleh Trump disebut sebagai bagian dari upaya untuk “membersihkan” Gaza.

    Di saat yang sama, sejumlah besar warga Palestina terus melakukan perjalanan dari bagian selatan Jalur Gaza menuju rumah mereka di Kota Gaza dan wilayah utara.

    Sejak Senin (27/1/2025) Israel membuka pos pemeriksaan dan mengizinkan orang lewat.

    Kebanyakan para pengungsi Palestina itu berjalan kaki, melalui daerah-daerah yang sebagian besar berupa reruntuhan, setelah perang selama 15 bulan antara Israel dan Hamas.

    Pada Senin (27/1/2025) malam, otoritas Hamas di Gaza mengatakan lebih dari 300.000 orang telah melintas.

    Baca: Ribuan warga Palestina kembali ke Gaza

    Sekitar satu juta orang diperintahkan keluar dari Gaza utara ketika Israel memulai ofensif pada Oktober 2023, setelah serangan teroris Hamas terhadap Israel.

    Kembalinya warga Palestina ke Kota Gaza berlangsung pada tahap awal gencatan senjata enam minggu, yang pertama dari kesepakatan tiga tahap antara Israel dan Hamas.

    Sejauh ini, tahap pertama berhasil membebaskan tujuh sandera Israel yang ditahan di Gaza, pembebasan 300 tahanan Palestina yang ditahan oleh Israel dan lonjakan bantuan kemanusiaan ke Gaza.

    Pembebasan sandera putaran berikutnya akan dilakukan kemudian pekan ini.

  • PBB: Lebih dari 430.000 Warga Palestina Kembali ke Gaza Utara

    PBB: Lebih dari 430.000 Warga Palestina Kembali ke Gaza Utara

    7cloud.asia – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu (29/1/2025) melaporkan lebih dari 430.000 warga Palestina telah berpindah dari Gaza bagian selatan ke Gaza utara.

    “Mitra kemanusiaan kami memperkirakan bahwa lebih dari 423.000 orang telah melintasi wilayah dari selatan ke utara sejak dibukanya Jalan Salah ad-Din dan Al Rashid pada Senin,” kata juru bicara PBB, Stephane Dujarric, dalam konferensi pers.

    Ia menambahkan bahwa para pekerja kemanusiaan di lapangan menyediakan makanan, air, dan perlengkapan kebersihan bagi mereka yang sedang dalam perjalanan.

    Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) juga membagikan gelang identifikasi bagi anak-anak untuk membantu keluarga tetap aman dan terhubung selama perjalanan.

    “Mereka yang berpindah termasuk anak-anak tanpa pendamping, perempuan hamil, lansia, orang dengan penyakit kronis, penyandang disabilitas, dan mereka yang membutuhkan perawatan medis berkelanjutan,” tambah Dujarric.

    Baca: Donald Trump kembali lempar wacana relokasi warga Palestina dari Gaza

    Dujarric juga menyoroti “situasi kemanusiaan dan perlindungan yang memburuk secara drastis” di Tepi Barat.

    “Pasukan Israel terus melakukan operasi di wilayah Jenin dan Tulkarm di Tepi Barat bagian utara. Kami telah berulang kali menyatakan keprihatinan atas penggunaan taktik militer mematikan dalam operasi ini,” katanya.

    Mengutip Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), Dujarric melaporkan bahwa “infrastruktur sipil telah dihancurkan dan layanan penting terganggu” di Tepi Barat yang diduduki Israel.

    Kondisi ini mengakibatkan hampir 1.000 warga Palestina terpaksa mengungsi.

    Ketika ditanya tentang larangan Israel terhadap Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) yang mulai berlaku pada Kamis, Dujarric mengatakan bahwa PBB telah “mengambil beberapa langkah”.

    Baca: Israel sempat menghambat warga Palestina kembali ke Gaza

    Dia menegaskan bahwa UNRWA “akan terus menjalankan mandatnya hingga tidak memungkinkan secara fisik.”

    Terkait ancaman tindakan hukum Israel terhadap UNRWA dan stafnya, Dujarric menegaskan bahwa “staf, baik nasional maupun internasional, harus dilindungi sesuai hukum internasional dan kewajiban Israel berdasarkan hukum internasional.”

    Namun, ia juga mencatat bahwa Israel tidak memberikan jaminan perlindungan terhadap staf PBB.

    Parlemen Israel (Knesset) pada Oktober lalu memutuskan untuk melarang operasi UNRWA di wilayah yang didudukinya, dengan tuduhan bahwa pegawai badan tersebut terlibat dalam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, klaim yang dibantah oleh UNRWA.

    Baca: Israel halangi truk pembawa bantuan kemanusiaan untuk Gaza

    Larangan tersebut, yang diberlakukan di tengah konflik yang terus berlanjut di Gaza, memicu kekhawatiran akan terhentinya bantuan krusial bagi jutaan pengungsi Palestina.

    Pejabat PBB telah berulang kali memperingatkan bahwa tindakan ini dapat memperparah krisis kemanusiaan yang sudah sangat parah.

    UNRWA, yang telah beroperasi sejak 1949, menyediakan layanan esensial seperti pendidikan dan kesehatan bagi pengungsi Palestina di Tepi Barat, Gaza, Lebanon, Yordania, dan Suriah.

    Meskipun menghadapi tantangan politik dan keuangan, badan ini tetap menjadi penyelamat bagi komunitas yang rentan.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Di Tengah Gencatan Senjata, Israel Justru Intensifkan Operasi Militer ke Tepi Barat

    Di Tengah Gencatan Senjata, Israel Justru Intensifkan Operasi Militer ke Tepi Barat

    7cloud.asia – Di tengah pelaksanaan gencatan senjata di Gaza, Israel justru meningkatkan operasi militernya di Tepi Barat yang diduduki.

    Menteri Pertahanan Israel Katz mengatakan dalam sebuah kunjungan ke kota Jenin pada hari Rabu (29/1/2025) mengatakan Israel telah “menyatakan perang terhadap terorisme Palestina di Yudea dan Samaria,”

    Pernyataan Katz ini mengacu pada kondisi di Tepi Barat. Dia mengatakan, kamp pengungsi Jenin tidak akan kembali seperti semula.

    “Setelah operasi selesai, [Pasukan Pertahanan Israel] IDF akan tetap berada di kamp tersebut untuk memastikan bahwa terorisme tidak akan kembali.” ujarnya

    Baca: Lebih dari 430.000 warga Palestina kembali ke Gaza Utara

    Warga Palestina di Gaza telah diizinkan kembali ke beberapa daerah yang telah lama dikepung oleh pasukan Israel, termasuk ke bagian utara Gaza.

    PBB pada hari Rabu mengatakan lebih dari 423.000 orang telah kembali ke Gaza Utara pada minggu ini.

    Sesuai perintah Israel, sekitar satu juta orang meninggalkan Gaza dan mengungsi ke tempat yang lebih aman pada hari-hari pertama perang yang berkecamuk sejak 7 Oktober 2023.

    Warga Palestina yang kembali ke rumah mereka akan dihadapkan pada wilayah yang telah hancur akibat operasi militer Israel terhadap Hamas.

    Baca: Israel halangi truk pembawa bantuan kemanusiaan masuk Gaza

    PBB pada awal pekan ini mengatakan hampir tidak ada tempat yang layak ditempati lagi di Gaza.

    Perang Israel-Hamas berawal dari serangan Hamas ke selatan Israel pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1.200 orang.

    Hamas juga menculik sekitar 250 orang lainnya, yang sebagian besar telah dibebaskan dalam perjanjian gencatan senjata pertama pada November 2023, dan lainnya dibebaskan secara bertahap dalam perjanjian gencatan senjata saat ini.

    Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mengatakan serangan balasan Israel lewat darat dan udara telah menewaskan sedikitnya 47.400 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak.

    Serangan Israel juga menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza.

  • Rencana Donald Trump Mengambil Alih Gaza Menuai Penolakan

    Rencana Donald Trump Mengambil Alih Gaza Menuai Penolakan

    7cloud.asia – Proposal Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk “mengambil alih” Gaza dan memindahkan secara paksa warga Palestina dari Jalur Gaza menuai reaksi keras dari sejumlah negara.

    China yang selama ini mendukung dua negara Palestina dan Israel yang merdeka menentang “pemindahan paksa” warga Palestina dari Jalur Gaza.

    “China selalu menyatakan bahwa pemerintahan Palestina atas warga Palestina adalah prinsip dasar pemerintahan Gaza pascaperang,” tegas pemerintah Presiden Xi Jinping, melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri Lin Jian, Rabu (5/2/2025).

    “Kami menentang pemindahan paksa penduduk Gaza,” tambahnya.

    Kelompok Hamas juga menolak tegas usulan Donald Trump untuk ‘mengambil alih’ Gaza, dan menggambarkan pernyataannya itu “tidak bertanggung jawab.”

    Dalam pernyataannya, Hamas mengatakan ucapan Trump “menyerang rakyat dan tujuan kami, dan tidak akan memberikan manfaat bagi stabilitas di kawasan tersebut.”

    Dilansir Anadolu, Hamas menekankan bahwa mereka tidak akan mengizinkan negara manapun untuk menduduki tanah mereka atau memaksakan perwalian pada rakyat Palestina.

    Untuk itu Hamas mendesak Liga Arab dan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) untuk segera bertemu membahas “pernyataan berbahaya” Trump, dan mengambil posisi tegas dan bersejarah yang melindungi hak-hak nasional rakyat Palestina.

    Sebelumnya, Izzat Al-Rishq, anggota biro politik gerakan Hamas, mengatakan pernyataan Trump tersebut mencerminkan “kebingungan dan ketidaktahuan yang mendalam tentang perjuangan Palestina dan kawasan secara keseluruhan.”

    “Gaza bukan hanya wilayah biasa bagi suatu negara untuk menentukan nasibnya, Gaza adalah bagian yang tidak terpisahkan dari tanah Palestina,” ujar Al-Rishq.

    Ia menegaskan bahwa “resolusi apa pun harus didasarkan pada penghentian pendudukan dan pemenuhan hak-hak nasional yang sah dari rakyat kita, bukan pada logika kekuasaan, dominasi, atau pola pikir pedagang real estat.”

    Pemimpin Hamas itu menambahkan bahwa pernyataan Trump menunjukkan keberpihakan penuh AS terhadap pendudukan Israel dan agresi yang terus dilakukannya terhadap rakyat kami dan hak-hak mereka.”

    Donald Trump menegaskan rencananya untuk memaksa warga Palestina keluar dari Gaza, saat ia menjamu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih pada hari Selasa (4/2/2025).

    “Saya kira mereka [warga Palestina di Gaza.red] harus mendapatkan sebidang tanah yang bagus, baru, indah, dan kita mendapatkan orang-orang yang dapat mengumpulkan dan untuk membangun Gaza, menjadikannya indah, dapat dihuni dan dapat dinikmati, menjadikannya sebagai rumah,” ujar Trump saat berbicara dengan wartawan menjelang pertemuannya dengan Netanyahu.

    Dengan menyebut Gaza sebagai “wilayah yang hancur,” Trump menggambarkan rencananya ini sebagai “alternatif” yang lebih disukai oleh penduduk di wilayah yang dilanda perang itu.

    “Saat ini mereka tidak punya pilihan. Apa yang akan mereka lakukan? Mereka ingin kembali ke Gaza. Tapi apa itu Gaza? Tidak ada satu bangunan pun yang masih berdiri di sana,” ujar Trump dilansir VOA Indonesia.

    Beberapa hari terakhir ini ratusan ribu warga Palestina di bagian selatan Gaza sudah bergerak ke utara menuju rumah-rumah mereka setelah Israel mengizinkan mereka kembali sebagai bagian dari perjanjian gencatan senjata dengan Hamas.

  • Israel Tarik Mundur Tentaranya dari Koridor Nektarim: Warga Palestina Leluasa Kembali ke Gaza Utara

    Israel Tarik Mundur Tentaranya dari Koridor Nektarim: Warga Palestina Leluasa Kembali ke Gaza Utara

    7cloud.asia – Pasukan Israel, Minggu (9/2/2025) menarik diri dari koridor Netzarim, sebidang tanah sempit yang memisahkan wilayah Gaza Utara dan Gaza Selatan.

    Penarikan pasukan Israel dari Netzarim ini dinilai sebagai sebuah terobosan baru dalam gencatan senjata Israel-Hamas yang rapuh di Gaza, dan memungkinkan lebih banyak warga Palestina untuk kembali ke Gaza utara tempat mereka pernah tinggal.

    Meski demikian, sebagian besar wilayah di Gaza utara telah hancur oleh pertempuran selama 15 bulan agresi Israel.

    Mobil-mobil yang penuh dengan barang-barang, termasuk tangki air dan koper, terlihat menuju ke utara melalui jalan yang melintasi jalur Netzarim sepanjang enam kilometer.

    Di bawah gencatan senjata itu, Israel diharuskan membiarkan mobil-mobil itu melintas tanpa pemeriksaan, dan tidak ada pasukan di sekitar jalan tersebut.

    Baca: Butuh lebih banyak jalur evakuasi dari daerah kantong Gaza

    Juru bicara Hamas Abdel Latif Al-Qanoua mengatakan bahwa penarikan tersebut menunjukkan bahwa Hamas telah “memaksa musuh untuk tunduk pada tuntutan” dan bahwa hal tersebut menggagalkan ilusi Perdana Menteri Israel Benjamin “Netanyahu untuk mencapai kemenangan total.”

    Para pejabat Israel tidak mengungkapkan berapa banyak tentara yang mundur atau ke mana.

    Tentara saat ini masih berada di sepanjang perbatasan Gaza dengan Israel dan Mesir dan penarikan penuh diperkirakan akan dirundingkan pada tahap selanjutnya dari gencatan senjata semula selama 42 hari yang akan diperpanjang hingga awal Maret 2025

    Namun hampir tidak ada kemajuan yang dicapai dalam menegosiasikan perpanjangan gencatan senjata, yang seharusnya mengarah pada pembebasan lebih banyak sandera yang ditahan oleh Hamas dan para tahanan Palestina yang dipenjara di Israel.

    Baca: Konsekuensi pelarangan operasional UNRWA di Gaza

    Netanyahu mengirimkan sebuah delegasi ke Qatar, mediator utama dalam pembicaraan antara kedua belah pihak, namun misi tersebut juga mencakup para pejabat tingkat rendah.

    Pemimpin Israel tersebut juga diperkirakan akan mengadakan pertemuan dengan para menteri utama Kabinet minggu ini untuk membahas gencatan senjata tahap kedua, yang perpanjangannya tidak dijamin.

    Secara terpisah pada hari Minggu, kementerian kesehatan Palestina mengatakan bahwa dua perempuan berusia 20-an, termasuk seorang wanita yang sedang hamil delapan bulan, tewas oleh tembakan Israel di Tepi Barat yang diduduki Israel.

    Dalam beberapa waktu terakhir, saat dijalankan gencatan senjata di Gaza, pasukan Israel telah melakukan operasi besar-besaran di Tepi Barat.

  • Israel Langgar Kesepakatan Gencatan Senjata, Hamas Tunda Pembebasan Sandera

    Israel Langgar Kesepakatan Gencatan Senjata, Hamas Tunda Pembebasan Sandera

    7cloud.asia – Kelompok Hamas, Senin (10/2/2025) mengumumkan pihaknya akan menangguhkan pertukaran sandera dan tahanan berikutnya hingga waktu yang belum ditentukan.

    Langkah Hamas ini dilakukan setelah Israel dinilai melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan kelompok tersebut.

    Pembebasan para sandera Israel oleh Hamas dijadwalkan akan dilakukan pada Sabtu mendatang, 15 Februari 2025 pekan ini

    “Akan ditunda hingga pemberitahuan lebih lanjut, sambil menunggu kepatuhan (otoritas) pendudukan dan pemenuhan kewajiban minggu-minggu sebelumnya secara retroaktif,” ungkap Abu Ubaida, juru bicara Brigade Ezzedine al-Qassam, melalui pernyataan tertulis.

    “Kami menegaskan kembali komitmen kami terhadap ketentuan perjanjian selama (otoritas) pendudukan mematuhinya,” tambahnya, merujuk pada Israel.

    Baca: Menakar kemungkinan perpanjangan gencatan senjata di Gaza

    Menteri pertahanan Israel, Israel Katz, Senin (10/2/2025) menyebut pengumuman Hamas sebagai “pelanggaran penuh” kesepakatan gencatan senjata.

    Pengumuman Hamas untuk menghentikan pembebasan sandera Israel merupakan pelanggaran penuh kesepakatan gencatan senjata dan kesepakatan pembebasan sandera.

    “Saya telah memerintahkan (militer) IDF untuk bersiap pada tingkat kewaspadaan tertinggi untuk segala kemungkinan skenario di Gaza,” urai Katz melalui pernyataan tertulis.

    Berdasarkan ketentuan kesepakatan gencatan senjata antara Hamas dan Israel, di mana fase pertama dimulai sejak 19 Januari 2025, sebanyak 33 sandera Israel akan dibebaskan.

    Sebagai gantinya Israel akan membebaskan sekitar 1.900 tahanan, yang sebagian besarnya merupakan warga Palestina, yang ditahan di penjara-penjara Israel.

     

    Baca: Di tengah gencatan senjata, Israel justru intensifkan serangan ke Tepi Barat

    Pada Sabtu (8/2/2025), mereka menyelesaikan pertukaran sandera-tahanan kelima, yang mempertukarkan tiga sandera Israel dengan 183 tahanan Palestina.

    Dengan kembalinya mereka, 73 dari 251 sandera yang ditawan Hamas dalam serangan 7 Oktober 2023 kini masih berada di Gaza, termasuk 34 orang yang menurut militer Israel telah tewas.

    Melalui pernyataannya, Hamas mengatakan bahwa mereka telah “memantau dengan saksama pelanggaran dan kegagalan Israel untuk mematuhi ketentuan kesepakatan selama tiga minggu terakhir.”

    (Pelanggaran) ini termasuk menunda kembalinya para pengungsi ke Gaza utara, menyasar mereka dengan serangan artileri dan tembakan di berbagai daerah di Jalur Gaza.

    ”Israel juga tidak mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan dalam segala bentuk seperti yang telah disepakati,” tambahnya, sambil menegaskan bahwa Hamas telah “memenuhi kewajibannya”.

    Baca: Ratusan ribu warga Palestina kembali ke Gaza Utara

    Pro dan Kontra Relokasi Warga Gaza
    Di Washington pada Senin (10/2/2025) Presiden AS Donald Trump mengatakan ia akan mengusulkan pembatalan perjanjian gencatan senjata jika semua sandera yang tersisa yang ditahan di Gaza tidak dibebaskan sampai Sabtu siang.

    Dan ia mungkin menahan bantuan ke Yordania dan Mesir jika mereka tidak menerima pengungsi Palestina yang dipindahkan dari Gaza.

    Sejak gencatan senjata berlaku bulan lalu, Hamas telah membebaskan 21 sandera sedangkan Israel telah membebaskan lebih dari 730 tahanan.

    Trump telah mengusulkan untuk memindahkan warga Palestina di Gaza ke lokasi yang tidak ditentukan di luar wilayah itu. Berdasarkan rencananya untuk daerah kantong itu, mereka tidak akan memiliki hak untuk kembali.

    Dalam wawancara dengan Fox News yang dirilis Senin, ia menyebut rencananya untuk wilayah sempit di pesisir Laut Tengah itu sebagai “pembangunan real estat untuk masa depan.”

  • Negara-negara Arab Tolak Usulan Trump Agar Amerika Ambil Alih Gaza

    Negara-negara Arab Tolak Usulan Trump Agar Amerika Ambil Alih Gaza

    7cloud.asia – Para duta besar PBB dari 22 negara Arab pada Jumat (14/2/2025) menolak usulan Trump agar Amerika mengambil alih kendali di Jalur Gaza dan merelokasi warga Palestina ke tempat lain.

    Negara-negara Arab menegaskan keinginan mereka agar Gaza dibangun kembali untuk rakyat Palestina.

    Ketua kelompok negara-negara Arab, Duta Besar Kuwait untuk PBB Tareq Albanai, di markas besar PBB di New York, menyatakan bahwa usulan pemindahan warga Palestina dari Gaza merupakan “pelanggaran yang jelas terhadap Pasal 49 Konvensi Jenewa Keempat 1949.

    Aturan, ini melarang pemindahan paksa penduduk yang dilindungi dari wilayah yang diduduki, apa pun alasannya.”

    Duta Besar Palestina untuk PBB, Riyad Mansour, mengatakan bahwa warga Palestina ingin melihat Gaza dibangun kembali seperti yang dibayangkan Trump, tetapi hanya untuk rakyat Palestina.

    Baca: Rencana Donald Trump ambil alih Gaza tuai penolakan

    “Kami tidak memiliki tanah air selain Palestina,” katanya. “Kami mencintai Palestina. Kami akan membangun kembali Jalur Gaza. Kami akan membangun kembali Palestina.”

    Mansour menegaskan bahwa para duta besar PBB dari 22 negara Arab bersatu dalam mendukung perjanjian gencatan senjata saat ini dan mendorong agar perjanjian tersebut menjadi permanen.

    Ia juga mendorong gencatan senjata diperluas mencakup Gaza dan Tepi Barat yang diduduki. Mereka juga mengundang Dewan Keamanan PBB untuk mengunjungi Gaza.

    Sementara, Sekjen PBB, Antonio Guterres di markas besar di New York pada Jumat mendesak Dewan Keamanan dan seluruh negara anggota PBB untuk mendukung upaya penerapan gencatan senjata serta penghentian permusuhan secara permanen.

    Guterres juga meminta agar media internasional diberi akses masuk ke Gaza untuk melaporkan kondisi di lapangan.

    Baca: Indonesia tolak relokasi warga Palestina dari Gaza

    Dia mengatakan kepada Dewan Keamanan bahwa lebih dari 630 truk bantuan kemanusiaan masuk ke wilayah Gaza pada Kamis, setidaknya 300 di antaranya menuju Gaza utara.

    Pada Sabtu (15/2/2025) Kelompok Hamas kembali membebaskan tiga sandera dalam pertukaran dengan tahanan Palestina.

    Hamas menyerahkan ketiga sandera itu kepada Komite Palang Merah Internasional di Khan Younis, Gaza, sebelum diantarkan ke pasukan Israel.

    Pembebasan sandera ini merupakan pertukaran keenam antara sandera Israel dan tahanan Palestina sebagai bagian dari perjanjian gencatan senjata yang disepakati pada 19 Januari antara kedua belah pihak.

    Hamas menyatakan para sandera itu akan ditukar dengan 369 tahanan Palestina. Gencatan senjata tetap berlangsung di Gaza meskipun ketegangan terasa meningkat.