7cloud.asia – Banyak orang yang telah lama terlibat dalam negosiasi iklim global melihat Konferensi Perubahan Iklim tahunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai upaya yang cacat secara fundamental.
Penulis yang sudah 25 kali mengikuti Konferensi Perubahan Iklim tahunan ini termasuk yang memiliki pendapat seperti di atas.
Sejak 1995, pembicaraan COP telah menjadi pendorong utama aksi global terhadap perubahan iklim.
Forum ini akan terus penting hingga transisi menuju energi bersih selesai dan pembakaran bahan bakar fosil tidak lagi menjadi rutinitas kita.
Konferensi perubahan iklim sejauh ini berperan mengubah arah investasi. Contohnya terlihat jelas dengan banyaknya investasi untuk energi hijau, pembaruan jaringan listrik, dan efisiensi energi.
Perencanaan konferensi iklim saat ini masih jauh dari ideal. Setiap tahun, para peserta memilih negara baru sebagai presidensi sekaligus tuan rumah pertemuan. Pembicaraan berlangsung selama dua pekan dengan segudang agenda.
Tahun ini, tuan rumah Azerbaijan tampak kelimpungan mengendalikan agenda. Akibatnya, isu seperti Global Stocktake—yang memuat seruan penghentian bahan bakar fosil—justru ditunda hingga COP 30 tahun depan di Brasil.
Karena konferensi iklim hanya berlangsung sekali setahun, banyak agenda yang menumpuk. Ini membuat pembahasan sangat berantakan.
Setiap Juni, para negosiator iklim bertemu dalam pertemuan antar-sesi sebelum pembicaraan COP berikutnya di Bonn, Jerman—lokasi kantor pusat Sekretariat PBB untuk Perubahan Iklim.
Dalam pertemuan ini, sering kali ada upaya untuk membatalkan pengumuman yang dibuat di pembicaraan COP resmi. Kadang-kadang, upaya tersebut berhasil.
Setiap delegasi dalam COP hadir karena dua alasan. Pertama, karena pemerintah mereka berkomitmen untuk menyelesaikan masalah besar perubahan iklim. Lima atau enam negara mungkin tidak, tetapi lebih dari 190 lainnya berkomitmen.
Alasan kedua adalah melindungi kepentingan nasional masing-masing. Tentu saja, keduanya bisa dilakukan bersamaan.
Namun, ini membawa masalah tersembunyi. Banyak orang yang menghadiri acara ini, menurut saya, terlalu berfokus pada proses ketimbang hasil.
Dua kali setahun, mereka menghadiri konferensi iklim dan pertemuan antar-sesi di Bonn, beranjangsana dengan teman dan kolega.
Sayangnya, silaturahmi ini justru menjadi rutinitas. Bagi beberapa orang, bahkan, prosesnya telah menjadi tujuan.
Pembicaraan di Konferensi Perubahan Iklim PBB atau COP memang memiliki kekurangan, tetapi dunia tetap memerlukannya.
Lantas, bisakah kita memperbaikinya? Berikut lima usulan dari penulis untuk memperbaiki pelaksanaan Konferensi Perubahan Iklim PBB
1. Pecahkan proses negosiasi
Pertemuan lembaga-lembaga di bawah COP, seperti Subsidiary Body for Scientific and Technological Advice (SBSTA) yang salah satunya bertugas mengembangkan metodologi pengukuran emisi gas rumah kaca, memiliki misi diplomatik di kota-kota tempat sebagian besar negara.
Badan ini semestinya dapat bertemu lebih sering, menciptakan tekanan dan momentum mempercepat proses dan membuahkan hasil lebih baik.
2. Rombak pengaturan kepresidenan COP
Negara tuan rumah sering mencoba mengontrol hasil. Pilihan yang lebih baik adalah negosiator dari setiap negara, yang sejatinya melakukan sebagian besar pekerjaan—dan memastikan mereka bertanggung jawab atas hasilnya.
3. Perkuat pertemuan regional
COP adalah perhelatan yang terlalu besar. Akan lebih efektif jika pembicaraan COP didelegasikan ke pertemuan regional yang lebih kecil dan rutin.
4. Kumpulkan negara-negara yang lebih ambisius
Beberapa koalisi, seperti High Ambition Coalition, bisa mendorong aksi lebih cepat. Namun, koalisi ini memerlukan kepemimpinan yang konsisten.
5. Tindakan langsung oleh negara penghasil emisi terbesar
Tahun 2015, Amerika Serikat dan Cina menemukan titik temu yang membantu suksesnya Perjanjian Paris. Pendekatan serupa dapat mengulangi keberhasilan itu.
Kebutuhan: Kemauan politik baru
Sepuluh tahun lalu, dunia tampak bersatu dalam isu iklim. Namun, meskipun Perjanjian Paris membantu mencegah skenario emisi terburuk, emisi global belum menurun.
Perubahan iklim kini masuk dalam daftar prioritas isu global yang lebih rendah. Namun, dampak yang semakin parah akan memaksa dunia untuk kembali memberikan perhatian.
Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Howard Bamsey (Honorary Professor, School of Regulation and Global Governance, Australian National University)








