Untuk Pertama Kalinya Perubahan Iklim Akan Disidangkan di Mahkamah Tertinggi PBB

Written by

in

7cloud.asia – Mahkamah tertinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Senin (2/12/2024), membuka sidang mengenai apa yang secara hukum harus dilakukan negara-negara di seluruh dunia untuk memerangi perubahan iklim dan membantu negara-negara yang rentan melawan dampak buruknya.

Sidang yang akan berlangsung selama dua minggu ini merupakan kali pertama dan kasus lingkungan terbesar dalam sejarah yang ditangani Mahkamah PBB

Setelah lobi bertahun-tahun oleh negara-negara kepulauan yang khawatir akan lenyap begitu saja akibat naiknya permukaan air laut, Majelis Umum PBB tahun lalu meminta pendapat Mahkamah Pidana Internasional (ICJ) tentang “kewajiban Negara-negara terkait perubahan iklim.”

“Kami ingin pengadilan mengonfirmasi bahwa tindakan yang telah merusak iklim adalah melanggar hukum,” kata Margaretha Wewerinke-Singh, yang memimpin tim hukum untuk Vanuatu, negara kepulauan di Pasifik, kepada kantor berita Associated Press.

Dalam satu dekade hingga 2023, permukaan laut telah naik dengan rata-rata global sekitar 4,3 centimeter, dan beberapa bagian di Pasifik naik lebih tinggi lagi.

Baca: Perubahan iklim ancam keberadaan negara-negara pulau atol pasifik

Suhu rata-rata global juga telah menghangat 1,3 derajat Celsius sejak masa pra-industri karena pembakaran bahan bakar fosil.

Vanuatu adalah salah satu dari sekelompok negara kecil yang mendorong intervensi hukum internasional dalam krisis iklim.

“Kami hidup di garis depan dari dampak perubahan iklim. Kami adalah saksi dari kehancuran tanah kami, mata pencaharian kami, budaya kami, dan hak asasi kami,” kata utusan perubahan iklim Vanuatu Ralph Regenvanu kepada wartawan sebelum sidang.

Setiap keputusan mahkamah akan menjadi nasihat yang tidak mengikat dan tidak dapat secara langsung memaksa negara-negara kaya untuk bertindak membantu negara-negara yang sedang berjuang.

Namun, keputusan itu akan menjadi lebih dari sekadar simbol yang kuat karena dapat berfungsi sebagai dasar untuk tindakan hukum lainnya, termasuk gugatan hukum domestik.

Baca: Negara miskin butuh bantuan untuk hadapi perubahan iklim

Pada hari Minggu (1/12/2024), menjelang sidang, kelompok advokasi menyatukan organisasi lingkungan dari seluruh dunia.

Kelompok Mahasiswa Kepulauan Pasifik Melawan Perubahan Iklim — yang pertama kali mengembangkan gagasan untuk meminta opini penasihat — bersama dengan Pemuda Dunia untuk Keadilan Iklim merencanakan aksi sore hari dengan pidato, musik, dan diskusi.

Mulai hari Senin, mahkamah yang berpusat di Den Haag itu akan mendengarkan keterangan dari 99 negara dan belasan organisasi antarpemerintah selama dua minggu.

Ini merupakan sidang terbesar dalam sejarah lembaga yang hampir berusia 80 tahun tersebut.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *