Tag: bmkg

  • Panas Terik Kemudian Tiba-tiba Hujan? Ini Penyebabnya

    Panas Terik Kemudian Tiba-tiba Hujan? Ini Penyebabnya

    7cloud.asia – Belakangan ini, cuaca di berbagai wilayah Indonesia terasa panas terik tetapi masih diselingi hujan. Fenomena ini merupakan ciri khas peralihan musim kemarau ke musim hujan.

    Dalam akun instagram resmi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), cuaca panas biasanya terjadi pada pagi hingga siang hari.

    “Potensi hujan biasanya terjadi pada sore atau malam hari dan tidak merata di semua wilayah. Hujan yang terjadi biasanya dengan intensitas sedang hingga lebat dalam waktu singkat” demikian penjelasan BMKG.

    Baca: BMKG prediksi puncak musim hujan bulan November

    Hal ini akibat kondisi atmosfer yang labil di masa peralihan sehingga meningkatkan potensi terbentuknya awan cumulonimbus (CB).

    Jika awan CB ini telah terbentuk, maka akan memicu terjadinya cuaca ekstrem seperti petir, angin kencang bahkan hujan es.

    Kondisi ini diperkirakan berpotensi terjadi di wilayah Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah hingga Timur. Wilayah-wilayah ini diprediksi memang telah memasuki awal musim hujan.

    Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat agar mewaspadai cuaca terik dan potensi hujan lebat yang dapat terjadi tiba-tiba.

    Baca: Suhu udara di Pakistan hampir capai 50 derajat celsius

    Demikian juga hujan disertai petir atau angin kencang yang dapat terjadi kapan pun. Sehingga masyarakat diminta mewaspadai bencana yang berpotensi terjadi akibat fenomena ini. 

    Sebelumnya Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menjelaskan musim hujan yang terjadi kali ini tidak terjadi secara bersamaan.

    “Musim hujan 2024-2025 telah terjadi di sebagian kecil wilayah pada Agustus 2024. Kemudian diprediksi akan terjadi di sebagian besar wilayah lainnya pada bulan September hingga November 2024,” jelas Dwikorita.

    Dia memaparkan sebanyak 10,7 persen dari 669 zona musim di Indonesia sudah mulai mengalami musim hujan pada bulan September.

    Baca: Gelombang panas di Thailand, 61 orang tewas

    Diantaranya pesisir timur perairan Sumatera Utara, Riau bagian selatan, Jambi, sebagian Bengkulu, Sumatera Selatan bagian barat, sebagian Kalimantan Barat, sebagian Kalimantan Tengah, sebagian Kalimantan Timur dan sebagian Papua.

    Kemudian memasuki bulan Oktober 2024, sebanyak 30,04 persen dari 669 zona yang akan mengalami musim hujan.

    Yaitu sebagian besar Sumatera Selatan, sebagian besar pulau Jawa, dan sebagian besar pulau Kalimantan.

    Selain itu, pesisir barat Sulawesi Selatan, pesisir utara Sulawesi Utara, Maluku Utara, sebagian kecil Maluku dan Papua Barat juga diprediksi mengalami musim hujan di bulan Oktober 2024.

  • La Nina Berpotensi Terjadi Hingga Maret 2025, Begini Dampaknya di Indonesia

    La Nina Berpotensi Terjadi Hingga Maret 2025, Begini Dampaknya di Indonesia

    7cloud.asia – Fenomena La Nina berpotensi muncul hingga Maret 2025 dan berdampak pada curah hujan yang tinggi. Hal ini diungkapkan oleh Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) dalam laman resminya.

    “La Nina diperkirakan akan muncul pada bulan September-November (peluang 60%) dan diperkirakan akan bertahan hingga Januari-Maret 2025,” demikian NOAA dalam laman resminya.

    La Nina sendiri  merupakan kebalikan dari fenomena El Nino yaitu kondisi naiknya suhu permukaan laut yang dapat berakibat pada kekeringan ekstrem seperti yang terjadi di Indonesia pada tahun lalu.

    Baca: BMKG ajak masyarakat waspada potensi banjir

    Berdasarkan laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), La Nina merupakan keadaan suhu permukaan laut (SPL) atau sea surface temperature (SST) di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur yang lebih dingin dibandingkan suhu normalnya.

    Kondisi ini biasanya diikuti dengan berubahnya pola sirkulasi Walker (sirkulasi atmosfer arah timur barat yang terjadi di sekitar ekuator) di atmosfer yang berada di atasnya dan dapat mempengaruhi pola iklim dan cuaca global.

    Kondisi La Nina ini dapat berulang dalam beberapa tahun sekali dan setiap kejadian dapat bertahan sekitar beberapa bulan hingga dua tahun.

    Baca: Akibat pemanasan global, El Nino dan La Nina sulit diprediksi

    Sementara itu Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan dari data BMKG suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah cenderung mendingin dan hampir menyentuh batas La Nina.

    Kondisi ini terjadi selama Agustus hingga awal Oktober 2024. Ardhasena mengungkapkan suhu permukaan laut akan terus mendingin dan diperkirakan akan berlanjut hingga Maret 2025.

    “Fenomena La Nina terjadi di Samudra Pasifik, tapi akan berdampak secara global, termasuk di Indonesia,” kata Ardhasena seperti yang dilansir Kompas.com.

    Baca: Transisi cepat El Nino ke La Nina memicu musim badai

    La Nina memberikan dampak yang beragam di wilayah Indonesia, terutama dampak terhadap curah hujan bulanan dan musiman. 

    Jika terjadi pada bulan Juni-Juli-Agustus (JJA), La Niña menyebabkan peningkatan curah hujan di hampir di sebagian besar wilayah Indonesia.

    Kemudian jika terjadi pada bulan September-Oktober-November (SON), La Niña berpengaruh pada meningkatnya curah hujan di wilayah tengah hingga timur Indonesia.

    Sedangkan pada Desember-Januari-Februari (DJF), dan Maret-April-Mei (MAM), La Niña berpengaruh pada meningkatnya curah hujan di wilayah Indonesia bagian timur.

    Baca: Indonesia harus bersiap dengan fenomena La Nina

    Peningkatan curah hujan saat La Niña umumnya berkisar 20-40% lebih tinggi dibandingkan curah hujan saat tahun Netral. Namun, terdapat juga beberapa wilayah yang mengalami peningkatan curah hujan lebih dari 40%.

    Pada periode puncak musim hujan (DJF), La Nina tidak memberikan dampak peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia bagian tengah dan barat sebagai akibat interaksinya dengan sistem monsun.

    Dengan adanya fenomena La Nina ini, peningkatan curah hujan berpotensi menimbulkan banyak bencana hidrometeorologi, air dan atmosfer. Misalnya banjir, longsor, angin putting beliung, dan lain-lain.

  • Musim Hujan Telah Tiba, BMKG Ajak Masyarakat Waspada Bencana Hingga Desember 2025

    Musim Hujan Telah Tiba, BMKG Ajak Masyarakat Waspada Bencana Hingga Desember 2025

    7cloud.asia – Sejumlah wilayah kini telah memasuki musim hujan. Kondisi ini akan terus berlangsung hingga Desember 2025. Masyarakat diimbau waspada.

    Hal ini diungkapkan oleh kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers secara daring pada Senin (04/11/2024).

    Dia menjelaskan sepanjang tahun 2025 hujan diperkirakan melanda sebagian besar wilayah Indonesia dengan intensitas curah hujan berkisar antara 1.000 – 5.000 mm per tahun.

    “Namun periode ini tidak akan terjadi anomali iklim. Hal ini dikarenakan ENSO (El Nino-Southern Oscillation) dan IOD (Indian Ocean Dipole) berada dalam kondisi netral dan kondisi La Nina lemah diprediksi akan terus terjadi hingga awal tahun 2025,” terangnya.

    Baca: Musim hujan, BMKG ajak masyarakat waspada banjir

    Selanjutnya Dwikorita menjelaskan sebanyak 67 persen wilayah Indonesia yang berpotensi mendapatkan curah hujan tahunan lebih dari 2.500 mm/tahun pada tahun depan.

    Wilayah tersebut meliputi sebagian Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau bagian barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung bagian utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah bagian barat.

    Selain itu sebagian kecil Jawa Timur, Kalimantan, Sulawesi bagian tengah dan selatan, sebagian Bali, sebagian kecil NTT, Kepulauan Maluku, dan Papua juga mendapatkan curah hujan tahunan lebih dari 2500 mm/tahun.

    Baca: Gorontalo alami bencana ekologis terparah

    Kemudian sekitar 15 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami curah hujan tahunan di atas normal, antara lain sebagian kecil Aceh, Riau, Sulawesi bagian tengah dan utara.

    Sebagian kecil Sulawesi Selatan bagian selatan, sebagian kecil Sulawesi tenggara, sebagian kecil NTT, sebagian kecil kepulauan Maluku, dan sebagian Papua bagian tengah juga berpotensi mengalami curah hujan tahunan diatas normal.

    Dengan perkiraan kondisi cuaca seperti ini, Dwikorita mengajak semua pihak dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, kota, dan seterusnya, termasuk masyarakat melakukan mitigasi bencana hidrometeorologi yang berpotensi terjadi.

    Baca: BMKG ajak pihak swasta ikut serta mitigasi bencana

    Mitigasi atau upaya pencegahan dampak bencana dapat dilakukan seperti membersihkan saluran pembuangan air atau drainase, membersihkan aliran sungai dari sampah, menghindari daerah rawan bencana.

    Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pada tahun 2023 Indonesia mengalami lebih dari 5.400 kejadian bencana, 95 persen diantaranya adalah bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, hingga badai atau angin kencang.

     

  • BMKG: Awas! Cuaca Ekstrem dan Bencana Hidrometeorologi Mengintai di Musim Hujan

    BMKG: Awas! Cuaca Ekstrem dan Bencana Hidrometeorologi Mengintai di Musim Hujan

    7cloud.asia – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati meminta masyarakat dan seluruh pihak mewaspadai serta siaga menghadapi cuaca ekstrem dan potensi bencana hidrometeorologi.

    “Pemerintah Daerah dan masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan. Saat ini sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki musim penghujan. Adanya fenomena La Nina mengakibatkan potensi penambahan curah hujan hingga 20 persen sampai awal 2025. Situasi ini juga berpotensi meningkatkan frekuensi bencana hidrometeorologi,” jelas Dwikorita dalam siaran persnya.

    Baca: BMKG ajak masyarakat waspada banjir

    Untuk itu, lanjut Dwikorita, pemerintah harus mengoptimalkan fungsi infrastruktur sumber daya air pada wilayah urban atau yang rentan terhadap banjir, seperti penyiapan kapasitas pada sistem drainase, sistem peresapan dan tampungan air.

    Hal ini dilakukan agar pemerintah dapat mencegah terjadinya banjir secara optimal. Tak hanya itu, Dwikorita mengatakan pemerintah perlu memastikan keandalan operasional waduk, embung, kolam retensi, dan penyimpanan air buatan lainnya.

    Dengan demikian curah hujan yang tinggi dapat dikelola dengan baik dan penggunaannya dapat maksimal di saat musim kemarau.

    Baca: 14 orang meninggal akibat banjir bandang di Ternate

    Sementara itu, Deputi Meteorologi BMKG, Guswanto mengungkapkan saat ini sejumlah wilayah Indonesia khususnya di Sumatera, sebagian Kalimantan dan sebagian Jawa bagian tengah hingga barat telah memasuki musim hujan.

    Sedangkan wilayah Pulau Jawa lainnya diprediksi akan memasuki musim hujan pada dasarian II November 2024.

    “Baru saja masuk musim penghujan, tapi beberapa kejadian bencana hidrometeorologi sudah terjadi seperti banjir dan tanah longsor yang terjadi di Bogor dan Sukabumi Jawa Barat. Karenanya, kami menghimbau kepada seluruh masyarakat dan stakeholder terkait untuk waspada, jangan lengah,” terang Guswanto.

    Baca: BNPB kembangkan sistem peringatan dini bencana longsor

    Berdasarkan hasil analisa mingguan BMKG, terdapat potensi terjadinya cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir atau angin kencang selama sepekan ke depan (7 – 12 November 2024).

    Kondisi ini, kata dia, terjadi karena beberapa faktor yang mempengaruhi dinamika atmosfer di Indonesia yang berdampak pada potensi peningkatan intensitas hujan di sejumlah wilayah.

    Dampak peningkatan hujan ini tidak hanya dirasakan oleh masyarakat dalam menjalani aktivitas sehari-hari, namun juga berpengaruh pada aktivitas penerbangan dan pelayaran.

    Baca: Ini penyebab banjir dan longsor kerap melanda Pulau Jawa

    Dengan kondisi cuaca seperti ini, pihaknya mengimbau kepada pengguna, penyedia jasa transportasi, dan operator transportasi, terutama laut dan udara untuk juga mewaspadai kemungkinan terjadinya cuaca ekstrem ini.

    “Maka dari itu, dalam sepekan ke depan, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan antisipasi dini terhadap potensi cuaca ekstrem dan dampak ikutannya berupa bencana hidrometeorologi yang berpotensi terjadi di seluruh wilayah Indonesia,” katanya.

    “Juga kepada nelayan untuk tidak memaksakan diri melaut jika cuaca sedang buruk. Pantau terus kondisi cuaca, angin dan tinggi gelombang melalui aplikasi InfoBMKG,” tambahnya.

     

  • Cuaca Hari Ini: BMKG Keluarkan Peringatan Dini, Waspada Banjir di Sejumlah Wilayah

    Cuaca Hari Ini: BMKG Keluarkan Peringatan Dini, Waspada Banjir di Sejumlah Wilayah

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini potensi banjir dengan kategori tinggi di sejumlah wilayah pada Kamis (14/11/2024) hingga 20 November mendatang.

    Dalam akun instagram resmi BMKG, banjir dengan kategori tinggi berpotensi melanda Propinsi Banten yang meliputi kabupaten Lebak.

    Potensi banjir berkategori tinggi akan terjadi di Propinsi Jawa Barat yang meliputi Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Bogor, Cianjur, Garut, Kota Bogor, Kota Depok, Kota Sukabumi, Kabupaten Purwakarta, Subang, Sukabumi dan Tasikmalaya.

    Sementara di wilayah Jawa Tengah meliputi Kabupaten Banjarnegara, Kebumen dan Pemalang. Di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) meliputi Kabupaten Kupang dan Timor Tengah Selatan.

    Baca: BMKG ajak masyarakat waspada dengan cuaca ekstrem

    Di Propinsi Sulawesi Selatan, banjir dengan kategori tinggi berpotensi melanda Kabupaten Maros dan Pinrang.

    BMKG juga memperkirakan hujan dengan kategori lebat dan sangat lebat akan melanda wilayah Aceh, Riau, Sumatera Utara, Sumatera Barat bagian barat, Sumatera Selatan bagian tengah, sebagian Bengkulu, sebagian Jawa Barat dan Jawa Tengah.

    Kondisi cuaca seperti ini berpotensi terjadi di wilayah Banten bagian selatan, sebagian kecil Jawa Timur, sebagian NTB, NTT, sebagian Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan bagian selatan, Sulawesi Barat bagian selatan, sebagian Maluku dan Papua.

    Kemudian hujan dengan intensitas sedang berpeluang mengguyur sebagian besar wilayah Sumatera, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, sebagian kecil Jawa Barat, sebagian besar Bali dan NTB, sebagian NTT.

    Sebagian besar wilayah Kalimantan, sebagian besar Sulawesi, sebagian besar Maluku Utara dan Maluku, sebagian besar Papua Barat dan Papua juga berpeluang diguyur hujan dengan intensitas sedang.

    Baca: Musim hujan, masyarakat harus waspada banjir

    Sedangkan untuk wilayah DKI Jakarta, BMKG memperkirakan hujan dengan intensitas ringan terjadi pada pagi hari di wilayah Jakarta Timur, Jakarta Selatan, dan Jakarta Utara. Wilayah lainnya diperkirakan cerah berawan.

    Malam harinya hanya wilayah Kepulauan Seribu yang diperkirakan cerah berawan. Peluang hujan dengan intensitas ringan terjadi di wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Utara, Jakarta Barat. Sementara hujan disertai petir berpotensi melanda wilayah Jakarta Timur.

    Suhu udara di Indonesia berkisar antara 16 hingga 35 derajat celsius dengan tingkat kelembaban udara berkisar antara 46 hingga 100 persen. Suhu terendah diperkirakan akan terjadi di Kota Jayawijaya dan suhu tertinggi di Kota Kupang.

  • BMKG Peringatkan Potensi Cuaca Ekstrem dan Ancaman Banjir Lahar Hujan di Lereng Gunung Lewotobi Laki-Laki

    BMKG Peringatkan Potensi Cuaca Ekstrem dan Ancaman Banjir Lahar Hujan di Lereng Gunung Lewotobi Laki-Laki

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi terjadinya banjir lahar hujan dari Gunung Lewotobi Laki-Laki di Nusa Tenggara Timur (NTT) seiring datangnya musim hujan dan cuaca ekstrem akibat fenomena La Nina.

    Dalam pernyataannya, pada Senin (18/11/2024), BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat di sekitar lereng dan jalur aliran sungai, untuk meningkatkan kewaspadaan dan menghindari bantaran sungai yang berhulu di Puncak Gunung Lewotobi Laki-laki.

    “Belajar dari Gunung Marapi di Sumatra Barat, kami meminta seluruh pihak dan masyarakat untuk mewaspadai banjir lahar hujan yang bisa sewaktu-waktu terjadi karena sangat berbahaya,” ungkap Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati di Jakarta,

    Dwikorita menerangkan bahwa banjir lahar hujan adalah banjir besar dan cepat yang terjadi ketika air hujan bercampur dengan material vulkanik dari erupsi gunung berapi.

    Material vulkanik tersebut bisa berupa pasir, abu, dan bebatuan yang juga bercampur dengan kayu atau pohon. Banjir lahar hujan, seperti yang terjadi di Sumatra Barat, bisa mengancam nyawa, menutup pemukiman, dan mengangkut batu-batu besar di sungai.

    “Saat erupsi, tidak semua material ikut meluncur ke bawah, melainkan tertumpuk di atas. Apabila hujan lebat terjadi, maka potensi banjir lahar hujan pun semakin meningkat,” imbuhnya.

    Menurut Dwikorita, ancaman tersebut semakin meningkat karena di musim hujan saat ini Indonesia juga dilanda fenomena La Nina. Fenomena ini, kata dia, akan berlangsung mulai akhir tahun 2024 hingga setidaknya Maret atau April 2025.
    Sebagai informasi, La Nina adalah fenomena iklim global yang akibat anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang menjadi lebih dingin dibandingkan biasanya.

    Di Indonesia, fenomena ini menyebabkan peningkatan curah hujan di hampir sebagian besar wilayah hingga 20 – 40 persen.

    Sementara itu, Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto mengungkapkan berdasarkan pantauan BMKG, selama sepekan terakhir kondisi cuaca di NTT cukup bervariasi. Wilayah NTT terpantau cerah berawan hingga hujan ringan, dengan hujan disertai petir terjadi di beberapa wilayah seperti Pulau Timor, Manggarai, Manggarai Barat, Ngada, Sikka, dan Flores Timur.

    Sedangkan, berdasarkan hasil pengamatan terkini pada 16 November 2024, curah hujan tercatat sebesar 45,2 mm/hari di Stasiun Meteorologi Eltari Kupang, 31,4 mm/hari di Stasiun Meteorologi Gewayantana Flores Timur, dan 2,6 mm/hari di Stasiun Meteorologi Frans Seda Maumere.

    “Hingga awal November 2024, sebagian wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) telah mulai memasuki awal musim hujan. Namun, wilayah di sekitar Gunung Lewotobi Laki-Laki diprediksi baru akan memasuki musim hujan pada awal Desember. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko banjir lahar hujan di sekitar lereng gunung tersebut,” imbuhnya.

    Selama sepuluh hari kedepan, cuaca di wilayah NTT secara umum diprakirakan cerah berawan hingga hujan ringan.

    Namun, terdapat potensi hujan sedang hingga lebat di beberapa wilayah seperti Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, sebagian Sikka, sebagian Alor, Kabupaten Kupang, Timor Tengah Utara (TTU), Timor Tengah Selatan (TTS), Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat, dan Sumba Barat Daya.

    “Potensi hujan yang masih tinggi di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) berpotensi meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi basah, termasuk banjir lahar hujan di sekitar wilayah terdampak bencana, khususnya di sekitar Gunung Lewotobi Laki-Laki,” terangnya, dengan cara terus memonitor informasi perkembangan cuaca oleh BMKG, melalui berbagai kanal yang ada.

    BMKG mengimbau masyarakat di kawasan tersebut untuk tetap tenang, tetapi terus meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan bencana susulan yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

    Direktur Meteorologi Publik, Andri Ramdhani menambahkan dari pantauan dinamika atmosfer terkini menunjukkan potensi peningkatan intensitas cuaca ekstrem di berbagai wilayah Indonesia.

    Suhu muka laut yang hangat di perairan sekitar Indonesia, termasuk di utara Nusa Tenggara, memberikan suplai kelembapan yang cukup tinggi ke atmosfer, mendukung pembentukan awan hujan yang lebih intens.

    Selain itu, faktor labilitas atmosfer lokal, meningkatkan peluang terjadinya hujan lebat, petir, dan angin kencang dalam beberapa hari ke depan.

    Potensi pertumbuhan awan hujan kategori tinggi (>70%) juga terdeteksi di sebagian besar wilayah Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.

    Dengan kondisi ini, intensitas hujan diperkirakan lebih dominan di wilayah-wilayah yang sudah memasuki musim hujan.

  • Begini Tips dari BMKG untuk Menghindari Petir

    Begini Tips dari BMKG untuk Menghindari Petir

    7cloud.asia – Musim hujan telah tiba. Hujan hampir merata di seluruh wilayah di Indonesia. Kategorinya bermacam-macam. Mulai hujan dengan intensitas ringan hingga hujan disertai petir. Lalu jika terjadi petir, apa yang harus dilakukan?

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam akun youtube resminya menyebut ada beberapa tips untuk menghindari petir seperti yang diuraikan di bawah ini:

    1. Masuk ke dalam ruangan atau masuk ke dalam mobil ketika kalian sedang berada di luar ruangan dan mendengar suara guntur
    2. Ketika berada di kolam renang, segeralah naik dan menjauh dari kolam. Karena petir dapat menghantarkan energinya melalui air.
    3. Jangan berlindung di bawah pohon. Karena ketika pohon tersambar petir, maka energinya dapat melompat ke tubuh kita.
    4. Jauhi tiang listrik, menara atau sesuatu yang tinggi dan mudah tersambar petir.
    5. Ketika berada di sawah, lapangan atau taman segeralah menjauh karena petir cenderung memilih tempat yang tinggi untuk melepaskan energinya.
    6. Ketika sedang mengendarai motor, segeralah berhenti lalu segeralah mencari tempat untuk berlindung.
    7. Ketika kalian sedang berteduh di luar ruangan, segera atur jarak dengan orang lain, agar kalian tidak terkena lonjakan energi saat ada petir.
    8. Ketika berada di luar ruangan, berdirilah dengan merapatkan kaki atau mengangkat satu kaki untuk mengurangi potensi listrik melewati tubuh kita saat terjadi petir.
    9. Sebaiknya matikan alat komunikasi kalian karena sinyal yang dipancarkan dapat memancing petir untuk menyambar.

    Demikian tipsnya, selamat mencoba!

  • BMKG: Waspada, La Nina Hingga April 2025 Bisa Picu Bencana Hidrometeorologi

    BMKG: Waspada, La Nina Hingga April 2025 Bisa Picu Bencana Hidrometeorologi

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan fenomena La Nina akan terus berlangsung hingga April 2025. Masyarakat diimbau mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi.

    Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati di Jakarta, Jumat (22/11/2024) menjelaskan fenomena La Nina ini mengakibatkan potensi penambahan curah hujan antara 20 hingga 40 persen.

    “Kami mengimbau masyarakat untuk mempersiapkan diri menghadapinya karena fenomena ini dapat berdampak signifikan pada kondisi cuaca. Utamanya bagi masyarakat yang bermukim di wilayah perbukitan, lereng-lereng gunung, dataran tinggi, juga sepanjang bantaran sungai,” ungkap Dwikorita.

    Baca: BMKG ajak masyarakat waspada bencana hingga Desember 2025

    Selanjutnya Dwikorita menjelaskan fenomena La Nina ini berpotensi mengakibatkan berbagai bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, dan puting beliung.

    Termasuk, lanjut dia, bencana banjir lahar hujan yang berpotensi terjadi ketika air hujan bercampur dengan material vulkanik dari gunung berapi.

    Lahar hujan ini berupa pasir, abu, dan bebatuan serta kayu atau pohon yang terjadi terutama untuk gunung api yang saat ini sedang atau baru saja mengalami erupsi.

    Karena itu, Dwikorita mengajak seluruh komponen baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun masyarakat agar mewaspadai dan melakukan mitigasi bencana hidrometeorologi yang berpotensi terjadi.

    Baca: Awas bencana hidrometeorologi di musim hujan

    Fenomena La Nina merupakan fenomena anomali iklim global yang diakibatkan oleh suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang mendingin, lebih dingin dibandingkan biasanya.

    Fenomena ini berlangsung mulai November atau akhir tahun 2024 hingga setidaknya Maret atau April 2025. Dwikorita menjelaskan ada dua faktor utama yang mempengaruhi cuaca dan iklim di Indonesia pada tahun 2025.

    Pertama, adanya penyimpangan suhu muka laut di Samudra Pasifik, Samudra Hindia, dan perairan Indonesia.

    Penyimpangan suhu di wilayah ini berhubungan erat dengan fenomena La Nina Lemah, yang berpotensi menyebabkan peningkatan curah hujan di Indonesia.

    Kedua, adanya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) juga mempengaruhi distribusi hujan di wilayah Indonesia.

    Baca: BMKG keluarkan peringatan dini banjir di sejumlah wilayah

     

    Berdasarkan analisis dinamika atmosfer dan lautan, BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia pada 2025 akan mengalami curah hujan tahunan dalam kategori normal, dengan jumlah berkisar antara 1.000 hingga 5.000 mm per tahun.

    Sebanyak 67% wilayah Indonesia diprediksi akan menerima curah hujan lebih dari 2.500 mm per tahun (kategori tinggi), meliputi sebagian besar Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau bagian barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan.

    Selain itu wilayah Bangka Belitung, Lampung bagian utara, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi bagian tengah dan selatan, serta sebagian besar wilayah Papua juga akan menerima curah hujan yang tinggi.

    Sementara itu, 15% wilayah diprediksi mengalami curah hujan di atas normal, termasuk sebagian kecil Sumatera, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Timur, Kepulauan Maluku, dan Papua bagian tengah.

    Di sisi lain, 1% wilayah Indonesia diprediksi akan mengalami curah hujan di bawah normal, seperti di Sumatera Selatan bagian barat, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku Utara.

     

  • Fenomena La Nina Landa Indonesia, Ini Dampak Positifnya

    Fenomena La Nina Landa Indonesia, Ini Dampak Positifnya

    7cloud.asia – Fenomena La Nina yang sedang terjadi berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi. Namun, sebenarnya fenomena ini dapat berdampak positif untuk masyarakat.

    Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati menjelaskan peluang positif akibat La Nina dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat.

    Menurutnya, melimpahnya air hujan akibat La Nina dapat dimanfaatkan secara optimal guna mendukung ketahanan pangan dan air serta energi.

    Di sektor pertanian, papar Dwikorita, petani memiliki peluang percepatan tanam, perluasan area tanam padi baik di lahan sawah irigasi, tadah hujan, maupun ladang.

    Baca: Waspada La Nina yang picu bencana hidrometeorologi hingga April 2025

    Selain itu, Dwikorita mengatakan dengan langkah mitigasi yang tepat, tingginya curah hujan akibat La Nina juga bermanfaat dalam meningkatkan kapasitas tampungan air di bendungan dan waduk.

    Hal ini akan mendukung operasional pembangkit listrik tenaga air secara maksimum sehingga menjamin pasokan energi listrik.

    Masyarakat, tambah dia, dapat memanen air hujan atau rainwater harvesting dan digunakan saat musim kemarau tiba guna mengantisipasi kekeringan.

    “Untuk itu, penting untuk terus menjaga kualitas infrastruktur seperti bendungan dan waduk agar siap digunakan sepanjang tahun. Selain itu, optimalisasi drainase dan tampungan air harus disiapkan guna menghadapi musim kemarau berikutnya,” jelas Dwikorita.

    Baca: Kapan La Nina melanda Indonesia

    La Nina merupakan fenomena anomali iklim global yang diakibatkan oleh suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang mendingin, lebih dingin dibandingkan biasanya.

    Fenomena ini berlangsung mulai November atau akhir tahun 2024 hingga setidaknya Maret atau April 2025. 

    Sebelumnya BMKG telah menjelaskan meski lemah, fenomena La Nina ini mengakibatkan potensi penambahan curah hujan antara 20 hingga 40 persen.

    Dampaknya adalah bencana hidrometeorologi berupa banjir, banjir bandang, tanah longsor, pohon tumbang dan lain-lain. 

  • BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem Saat Libur Nataru

    BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem Saat Libur Nataru

    7cloud.asia – Cuaca ekstrem kini tengah melanda sejumlah kota di Indonesia. Kondisi seperti ini diperkirakan akan terus berlanjut selama periode Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 (Nataru). Masyarakat diimbau waspada.

    Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan cuaca ekstrem ini dipicu oleh sejumlah faktor.

    Diantaranya, fenomena La Nina yang mengakibatkan potensi penambahan curah hujan hingga 20-40 persen. Fenomena ini akan berlangsung mulai akhir tahun 2024 hingga setidaknya April 2025.

    Baca: Dampak positif fenomena La Nina di Indonesia

    Selain itu, tambah Dwikorita, terdapat pula dinamika atmosfer lain yang diprediksikan pada periode Nataru aktif bersamaan.

    Dia mencontohkan adanya Madden-Julian Oscillation (MJO) dan Cold Surge yang bergerak dari daratan Asia (Siberia) menuju wilayah barat Indonesia yang juga berpotensi menambah intensitas dan volume curah hujan di berbagai wilayah Indonesia.

    “Untuk itu, kami mewanti-wanti masyarakat untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang dapat berdampak pada bencana hidrometeorologi di wilayah Indonesia seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor, khususnya pada periode Nataru 2024/2025,” jelas Dwikorita dalam rilisnya.

    Baca: Waspada bencana hidrometeorologi saat cuaca ekstrem

    Imbauan ini, lanjut Dwikorita, juga ditujukan kepada perusahaan pelayaran, angkutan penyeberangan, dan nelayan mengingat fenomena cold surge juga dapat memicu gelombang tinggi di laut sehingga membahayakan keselamatan saat aktivitas pelayaran/penyeberangan serta penangkapan ikan.

    “Peringatan dini ini disampaikan untuk mencegah terjadinya kecelakaan laut. Masyarakat bisa mengakses informasi cuaca 24 jam penuh melalui aplikasi @infobmkg. Silahkan akses informasi dari platform tersebut sebagai acuan dalam beraktivitas selama pekan Nataru. Disana juga terdapat informasi gempabumi dan lain sebagainya,” terangnya.