Tag: cuaca ekstrem

  • Musim Kemarau Belum Merata, Ini Penyebabnya

    Musim Kemarau Belum Merata, Ini Penyebabnya

    7cloud.asia – Musim kemarau kini melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Namun, musim kemarau masih belum merata bahkan masih ada wilayah yang mengalami cuaca ekstrem. Ada beberapa faktor yang mempengaruhinya.

    Melalui akun resmi instagram Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ada beberapa faktor yang menyebabkan musim kemarau belum merata.

    Diantaranya keadaan angin monsun Australia yang masih lemah. “Lemahnya angin monsun Australia terutama di wilayah Selatan Indonesia, memberikan pengaruh terhadap musim kemarau yang belum merata di wilayah Indonesia,” tulis BMKG.

    Hasil pemantauan BMKG pada akhir Mei 2025, indeks monsun Australia masih berada di bawah nilai klimatologisnya.

    Baca: Dampak fenomena kemarau basah

    Melemahnya angin musim kemarau tersebut membuat massa udara kering tertahan di wilayah Samudra Hindia selatan Jawa hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).

    Kondisi ini memicu pembentukan daerah-daerah perlambatan angin (konvergensi) dan pertemuan angin (konfluensi) di sekitar ekuator. Akibatnya, pertumbuhan awan konvektif di wilayah-wilayah tersebut muncul.

    Adanya awan konvektif inilah yang sering membawa curah hujan sedang hingga lebat. Bahkan awan ini pula bisa membawa angin kencang, petir, hingga hujan es.

    Kehadiran awan konvektif semakin menyeramkan ditambah dengan kombinasi beberapa fenomena atmosfer di akhir bulan Mei 2025 lalu.

    Baca: Mengenal fenomena kemarau basah

    Kombinasi fenomena atmosfer yang dimaksud, yaitu Madden-Julian Oscillation (MJO) dan gelombang-gelombang atmosfer (Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan Low Frequency).

    Seluruh faktor ini bersama-sama menciptakan intensitas hujan yang cukup tinggi. Akibatnya hujan ekstrem terjadi di berbagai wilayah, seperti di Raja Haji Fisabilillah Kepulauan Riau dengan intensitas 155,4 mm/hari.

    Hingga 9 Juni 2025, indeks monsun Australia akan mulai menguat. Saat menguat, aliran udara kering akan mulai memasuki wilayah Indonesia bagian selatan.

    Aliran udara ini juga dapat memicu potensi penurunan curah hujan di wilayah Indonesia bagian selatan.

    Hal ini mengindikasikan musim kemarau mulai meluas di wilayah RI. BMKG memprediksikan hal ini terjadi pada pekan kedua bulan Juni.

    Baca: BMKG prediksi kemarau 2025 lebih pendek

    Sementara pada awal Juni aktivitas gelombang ekuator seperti MJO, Low Frequency, Gelombang Kelvin, dan Rossby Ekuatorial masih cukup konsisten dan meningkatkan peluang terbentuknya awan-awan konvektif.

    Peluang ini semakin diperkuat dengan interaksi angin darat/laut maupun faktor geografis lainnya. Berbagai faktor inilah yang menimbulkan terjadinya hujan lokal dengan intensitas sedang hingga lebat pada siang-sore hari.

    Pada beberapa daerah, hujan bisa disertai kilat/petir dan angin kencang. Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada dengan kondisi cuaca yang dapat berubah cepat.

  • Cuaca Hari Ini: Waspadai Potensi Cuaca Ekstrem di Sebagian Wilayah Indonesia

    Cuaca Hari Ini: Waspadai Potensi Cuaca Ekstrem di Sebagian Wilayah Indonesia

    7cloud.asia – BMKG dalam prakiraan cuaca yang dirilis di laman resminya memperingatkan potensi cuaca ekstrem di beberapa wilayah Indonesia pada Senin (9/6/2025).

    BMKG juga menyebut potensi hujan ringan hingga lebat, disertai petir, serta gangguan atmosfer yang berpotensi memicu gelombang tinggi dan banjir pesisir.

    Adapun wilayah yang berpotensi mengalami cuaca ekstrem adalah sebagian Sumatera
    Banten dan wilayah Jawa lainnya, sebagian Kalimantan, sebagian Sulawesi, Maluku dan Maluku Utara, dan sebagian Papua

    Berikut prakiraan cuaca di Wilayah Indonesia

    Sumatera:
    Hujan Ringan: Tanjung Pinang, Padang, Pekanbaru, Bengkulu, Palembang, Jambi, Bandar Lampung
    Hujan Sedang: Medan
    Petir: Banda Aceh
    Hujan Petir: Pangkal Pinang

    Jawa & Bali:
    Hujan Ringan: Jakarta, Serang, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar
    Nusa Tenggara:
    Hujan Ringan: Denpasar, Kupang
    Berawan: Mataram

    Kalimantan:
    Berawan: Banjarmasin
    Berawan Tebal: Pontianak
    Hujan Ringan: Palangkaraya, Samarinda
    Hujan Petir: Pontianak, Banjarmasin, Tanjung Selor

    Sulawesi:
    Berawan: Makassar
    Hujan Ringan: Palu
    Hujan Sedang: Mamuju
    Berawan Tebal: Gorontalo, Kendari, Manado

    Indonesia Timur:
    Hujan Ringan: Sorong, Jayawijaya, Manokwari, Ambon, Nabire, Jayapura, Merauke
    Berawan Tebal: Ternate

    Fenomena Atmosfer yang Perlu Diwaspadai
    Sirkulasi Siklonik: Terpantau di barat daya Bengkulu, menyebabkan perlambatan angin (konvergensi) di barat daya Lampung.

    Zona Perlambatan & Konfluensi: Terlihat di Samudra Hindia, Aceh, Jawa Barat, Sarawak, Laut Sulawesi Selatan, dan wilayah Papua. Hal ini meningkatkan pembentukan awan hujan dan potensi gelombang tinggi.

    Peringatan Gelombang Tinggi
    Perlambatan angin lebih dari 25 knot berpotensi meningkatkan tinggi gelombang di:
    Samudra Hindia Barat, Laut Aceh, Nusa Tenggara Timur, Laut Cina Selatan, Laut Sulu

    Pantauan risiko banjir pasang terjadi di:
    Pesisir utara Tangerang, Pesisir Jakarta, Pesisir Jawa Barat, Pesisir Nusa Tenggara Barat, Pesisir Kalimantan Timur, Pesisir Maluku

  • Cuaca Hari Ini: Waspadai Hujan Deras dan Angin Kencang di Sejumlah Daerah

    Cuaca Hari Ini: Waspadai Hujan Deras dan Angin Kencang di Sejumlah Daerah

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis peringatan dini potensi terjadinya cuaca ekstrem yang ditandai dengan hujan deras dan angin kencang di sejumlah daerah di Indonesia pada Rabu, (11/6/2025)

    Dalam peringatan itu BMKG menyebutkan, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat diprediksi mengguyur sejumlah wilayah, termasuk Aceh, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara.

    Hujan juga berpotensi terjadi di beberapa provinsi di Pulau Sulawesi, serta Papua dan Papua Barat.

    BMKG juga mengingatkan potensi angin kencang di sejumlah daerah seperti Aceh, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Timur (NTT)

    Baca: Fenomena kemarau basah landa Indonesia hingga Agustus 2025

    BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi dampak yang dapat ditimbulkan oleh cuaca ekstrem ini.

    Dampak yang mungkin terjadi meliputi genangan air, banjir, serta gangguan terhadap aktivitas sehari-hari, terutama di wilayah-wilayah yang diprediksi terdampak.

    BMKG juga mengingatkan masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak agar selalu memantau pembaruan informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG.

    Baca: Musim kemarau 2025 akan lebih pendek

    Peningkatan kesiapsiagaan sangat diperlukan untuk menghadapi potensi bencana hidrometeorologi yang dapat terjadi akibat kondisi cuaca ekstrem ini.

    Waspada (Hujan sedang – lebat):
    Aceh, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Papua Barat, dan Papua

    Peringatan Dini Angin Kencang:
    Aceh, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Timur

  • Liburan Panjang Sekolah, BMKG Imbau Masyarakat Waspada Cuaca Ekstrem

    Liburan Panjang Sekolah, BMKG Imbau Masyarakat Waspada Cuaca Ekstrem

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat waspada potensi cuaca ekstrem yang masih dapat terjadi di sejumlah daerah tujuan wisata selama liburan panjang sekolah.

    Hal ini dipengaruhi oleh kondisi atmosfer yang masih labil. Bahkan sejumlah daerah juga masih mengalami hujan lebat disertai angin kencang dan petir.

    Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan musim kemarau tahun ini belum merata karena angin Monsun Australia, yang menjadi pendorong utama kemarau, masih relatif lemah.

    Selain itu, suhu muka laut yang lebih hangat dari normal di selatan Indonesia turut memperkuat potensi pertumbuhan awan konvektif yang dapat menghasilkan hujan deras meskipun secara klimatologis sudah memasuki musim kemarau.

    Baca: Cuaca panas kemudian hujan lebat, mengapa?

    Seharusnya, pada periode Maret hingga Mei angin Monsun Australia sudah dominan membawa massa udara kering dari selatan.

    “Namun tahun ini, kekuatannya tertahan, sehingga sistem atmosfer skala mingguan seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby, dan gelombang Kelvin masih aktif dan turut mendorong pembentukan awan-awan hujan,” jelas Dwikorita di Jakarta, Sabtu (28/6/2025).

    BMKG memprediksi dalam sepekan ke depan, wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk beberapa destinasi wisata utama akan terjadi peningkatan tutupan awan dan curah hujan.

    Aktivitas MJO yang saat ini berada di wilayah Indonesia, terutama meliputi Jawa bagian tengah dan timur, Bali, Nusa Tenggara, serta sebagian Kalimantan, menjadi pemicu utama kondisi ini.

    Baca: Cuaca panas lalu tiba-tiba hujan, ini yang harus dilakukan

    Lebih lanjut Dwikorita memaparkan faktor lainnya yaitu adanya kelembapan atmosfer yang masih tinggi serta angin timuran yang belum stabil menciptakan lingkungan yang mendukung terjadinya hujan, bahkan di kawasan yang biasanya sudah kering di musim kemarau.

    Di wilayah pegunungan, hujan berpotensi memicu longsor atau tumbangnya pohon, sementara di wilayah laut, angin kencang dan gelombang tinggi dapat mengancam keselamatan aktivitas wisata air.

    Karena itu, Dwikorita mengajak masyarakat mewaspadai berbagai hal yang dapat terjadi akibat cuaca ekstrem, dalam merencanakan perjalanan liburan.

    Terutama menuju destinasi seperti kawasan Puncak, Bandung Utara, Yogyakarta, Malang, dan Batu, yang berpotensi mengalami hujan pada siang hingga malam hari.

    Untuk kawasan wisata pesisir seperti Bali dan Lombok, BMKG mengimbau masyarakat mewaspadai potensi gelombang tinggi dan angin kencang dari arah timur yang dapat membahayakan aktivitas di laut.

    Baca: BMKG pastikan musim kemarau 2025 mundur

    Di wilayah Labuan Bajo dan Nusa Tenggara Timur, hujan lebat dan angin kencang juga diperkirakan dapat terjadi, terutama pada sore hingga malam hari.

    Masyarakat yang hendak bepergian ke tempat wisata agar selalu memperhatikan informasi cuaca terkini dari BMKG dan tidak hanya mengandalkan prediksi berdasarkan musim, karena dinamika atmosfer saat ini sangat aktif dan cepat berubah.

    “Kami terus memutakhirkan prakiraan cuaca harian dan peringatan dini untuk memastikan masyarakat dapat berwisata dengan aman dan nyaman,” katanya.

    Dengan kondisi cuaca yang dinamis seperti ini, Dwikorita mengingatkan agar masyarakat dapat menyesuaikan aktivitas wisata dengan perkembangan cuaca terkini.

    Termasuk membawa perlengkapan seperti jas hujan dan pakaian hangat, serta menghindari aktivitas luar ruang jika terdapat peringatan cuaca buruk.

     

  • BMKG: Waspada Cuaca Ekstrem di Jabodetabek dan Sejumlah Wilayah Lainnya Hingga Sepekan ke Depan

    BMKG: Waspada Cuaca Ekstrem di Jabodetabek dan Sejumlah Wilayah Lainnya Hingga Sepekan ke Depan

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi cuaca ekstrem masih berpotensi melanda wilayah Jabodetabek dan wilayah lainnya hingga sepekan ke depan. Masyarakat diimbau waspada.

    Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers secara daring menjelaskan intensitas hujan yang terjadi dalam sepekan mendatang diperkirakan lebih dari 100 milimeter (mm) per hari, bahkan mencapai 150 mm per hari di daerah Puncak, Jawa Barat.

    “Pada sepekan ke depan, BMKG mewaspadai cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi di berbagai wilayah, terutama di Pulau Jawa bagian barat dan tengah, termasuk Jabodetabek”, jelas Dwikorita.

    Baca: Liburan panjang sekolah, waspada cuaca ekstrem

    Selain wilayah Jabodetabek, cuaca ekstrem juga berpotensi melanda wilayah Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, termasuk Mataram; Maluku bagian tengah, serta Papua bagian tengah dan utara.

    Selanjutnya Dwikorita memaparkan kondisi cuaca seperti ini dipengaruhi oleh beberapa faktor atmosfer. Seperti lemahnya monsun Australia dan hangatnya suhu muka laut menyebabkan kelembaban udara tinggi, terutama di wilayah selatan Indonesia.

    Selain itu BMKG juga memantau adanya Gelombang Atmosfer Kelvin yang aktif melintas di pesisir utara Jawa dan Laut Jawa disertai perlambatan dan belokan angin di Jawa bagian barat dan selatan yang memicu penumpukkan massa udara.

    Baca: BMKG pastikan musim kemarau 2025 mundur

    “Labilitas atmosfer lokal juga terpantau kuat dan mempercepat pertumbuhan awan-awan hujan,” katanya.

    Kemudian periode tanggal 10 hingga 12 Juli, potensi hujan akan bergeser ke wilayah bagian tengah dan timur.

    Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi seperti longsor, banjir, banjir bandang, pohon tumbang yang dapat muncul sewaktu-waktu akibat cuaca ekstrem tersebut.

     

  • Cuaca Hari Ini: Waspadai Hujan Lebat dan Angin Kencang di Sejumlah Wilayah

    Cuaca Hari Ini: Waspadai Hujan Lebat dan Angin Kencang di Sejumlah Wilayah

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis peringatan dini potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah di Indonesia pada Sabtu (12/7/2025)

    BMKG juga mencatat potensi angin kencang di sejumlah provinsi yang dapat memicu gangguan aktivitas masyarakat, khususnya transportasi darat, laut, dan udara.

    BMKG menyebut cuaca ekstrem yang ditandai hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat ini merupakan bagian dari dinamika atmosfer tropis yang masih cukup aktif di sekitar wilayah Indonesia.

    Berikut selengkapnya peringatan dini BMKG terkait kondisi cuaca hari ini, Sabtu (12/7/2025) di Indonesia:

    Baca: Musim kemarau 2025 dipastikan mundur

    Dikutip dari Instagram BMKG, disebutkan kondisi cuaca di sebagian besar wilayah Jakarta akan berawan dari pagi hingga sore hari. Sementara, untuk Kepualauan Seribu berpotensi berawan tebal di pagi hari.

    BMKG juga menyebut dua provinsi di Pulau Sumatera, yakni Aceh dan Sumatera Utara, berada dalam status Siaga karena berpotensi diguyur hujan lebat hingga sangat lebat.

    Diingatkan agar warga di kedua wilayah tersebut mewaspadai curah hujan tinggi yang bisa memicu banjir atau genangan di beberapa titik.

    Sedangkan sejumlah wilayah lain di Pulau Sumtera masuk kategori waspada (hujan sedang hingga lebat) mencakup Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu

    Baca: Dampak kemarau basah yang saat ini melanda Indonesia

    Hujan sedang hingga lebat juga berpotensi terjadi di Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku.

    Wilayah Papua seperti Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua Selatan juga berpotensi diguyur hujan dengan intesitas sedang hingga lebat.

    BMKG juga mencatat adanya potensi angin kencang yang dapat terjadi di wilayah Aceh, Maluku, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan.

    Baca: Benarkah fenomena aphelion memicu udara dingin

  • BMKG Ingatkan Masyarakat untuk Mewaspadai Cuaca Ekstrem di Musim Kemarau Hingga 18 Juli Mendatang

    BMKG Ingatkan Masyarakat untuk Mewaspadai Cuaca Ekstrem di Musim Kemarau Hingga 18 Juli Mendatang

    7cloud.asia – Sebagian wilayah di Indonesia saat ini tengah memasuki musim kemarau. Namun, cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di sebagian besar wilayah hingga 18 Juli mendatang. Masyarakat diimbau waspada.

    Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati memprakirakan bahwa potensi cuaca ekstrem masih tinggi dalam periode 12–18 Juli 2025.

    “Hujan lebat berisiko terjadi di berbagai wilayah, termasuk Aceh, Sumatera Utara, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan, dengan status siaga yang telah dikeluarkan,” kata Dwikorita dalam siaran pers pada Sabtu (12/07/2025).

    Selain itu, angin kencang berpotensi melanda wilayah barat hingga timur Indonesia termasuk Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku.

    Baca: Cuaca ekstrem picu banjir dan longsor di Sinjai

    Di lautan, kecepatan angin lebih dari 25 knot diprediksi akan memicu gelombang tinggi di beberapa perairan seperti Perairan Utara Aceh, Laut Cina Selatan, Laut Natuna Utara, Laut Jawa bagian timur, Laut Flores, Laut Arafuru, Laut Timor.

    Kondisi seperti ini juga berpotensi terjadi di Laut Banda, Laut Seram, Samudera Pasifik sebelah utara Maluku Utara, dan serta Samudera Hindia sebelah barat daya Banten, sebelah selatan Jawa, dan sebelah selatan NTT.

    Data BMKG mengungkapkan hingga akhir Juni 2025, baru sekitar 30 persen zona musim di Indonesia yang benar-benar memasuki musim kemarau.

    Sebaliknya, sebagian besar wilayah seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua masih berisiko tinggi mengalami hujan sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang dalam sepekan ke depan.

    Baca: Musim kemarau 2025 belum merata, ini penyebabnya

    Menurut Dwikorita, hal ini disebabkan adanya dinamika atmosfer yang kompleks masih memicu terbentuknya awan-awan konvektif penyebab hujan deras.

    Selain itu, fenomena seperti gelombang ekuatorial Rossby dan Kelvin, zona konvergensi dan pertemuan angin, serta potensi sirkulasi siklonik di sekitar Samudra Hindia dan Pasifik, terus mendorong pembentukan awan hujan dalam skala luas.

    “Meskipun kita sudah memasuki pertengahan musim kemarau, berbagai faktor atmosfer global dan regional masih mendukung terjadinya hujan lebat dan cuaca ekstrem di banyak wilayah,” jelasnya.

    Berdasarkan pantauan BMKG dalam beberapa hari terakhir, intensitas hujan yang signifikan telah tercatat di sejumlah wilayah. Pada 9 Juli, hujan harian di atas 50 mm terjadi di Nabire dan Kalimantan Barat.

    Baca: BMKG pastikan musim kemarau 2025 mundur

    Sementara pada 8 Juli, hujan sangat lebat melanda di Papua Barat, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Maluku, dan Papua.

    Akibatnya bencana hidrometeorologis seperti banjir, tanah longsor, genangan air, pohon tumbang, hingga kerusakan infrastruktur tak terelakkan.

    Karena itu, Dwikorita mengimbau masyarakat untuk tidak menganggap enteng potensi cuaca ekstrem yang bisa datang tiba-tiba.

    Ia juga meminta masyarakat menjauhi area terbuka saat terjadi petir, menghindari pohon atau bangunan tua saat angin kencang, serta tetap menjaga kesehatan karena cuaca terik masih mungkin terjadi di tengah pola hujan yang aktif.

    “Masyarakat harus tetap waspada, meskipun secara kalender kita berada di musim kemarau. Jangan lengah. Cuaca bisa berubah cepat dan membawa dampak besar,” tegasnya.

     

  • Perubahan Iklim Memicu Cuaca Ekstrem: Sudah Saatnya Merombak Tata Kelola air

    Perubahan Iklim Memicu Cuaca Ekstrem: Sudah Saatnya Merombak Tata Kelola air

    7cloud.asia – Perubahan iklim membuat cuaca ekstrem makin sering terjadi. Sayangnya, sistem tata kelola air kita belum siap menghadapinya.

    Mayoritas infrastruktur dan sistem pengelolaan air di Indonesia masih dibangun berdasarkan asumsi lama saat iklim relatif stabil, belum mempertimbangkan skenario perubahan iklim.

    Hal ini terlihat dari bagaimana infrastruktur seperti bendungan, tanggul, dan sistem irigasi dirancang dengan mengacu pada pola curah hujan dan suhu yang stabil. Padahal, cuaca kini tak menentu.

    Akibatnya, sistem yang kita miliki mudah kolaps saat menghadapi cuaca ekstrem. Ketika hujan lebat mengguyur, jalan-jalan utama bisa tergenang hanya dalam hitungan jam. Sebaliknya, ketika kemarau datang, banyak wilayah mengalami kekeringan dan kekurangan air bersih.

    Butuh pendekatan baru
    Untuk menghadapi cuaca ekstrem dan krisis iklim, kita perlu merombak sistem tata kelola air menjadi lebih luwes, tersebar, dan terpadu, dengan melibatkan partisipasi masyarakat.

    Sistem yang luwes
    Sistem air masa depan harus mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang terus berubah.

    Salah satu contohnya ada di Bali. Beberapa kelompok subak—sistem irigasi tradisional berbasis komunitas—mulai menyesuaikan jadwal tanam berdasarkan curah hujan terkini.

    Dengan sistem ini, air irigasi tidak perlu membanjiri sawah secara terus-menerus. Kelompok subak membasahi lahan secara bergilir sesuai kebutuhan tanaman dan kondisi iklim.

    Baca: Air sebagai elemen penting kehidupan belum banyak dipelajari

    Metode ini dikenal sebagai intermittent flooding atau nyorog, meninggalkan kalender musiman konvensional.

    Data lapangan menunjukkan penerapan sistem pengairan selang-seling ini menghasilkan rata-rata panen padi 10,9 ton per hektare. Hasil panen tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan sistem pengairan terus-menerus atau FLD yang hanya menghasilkan 6,35 ton per hektare.

    Studi di Subak Guama mencatat peningkatan efisiensi penggunaan air irigasi dari 69,05 persen menjadi 86,52 persen melalui strategi nyorog—membagi jadwal tanam dalam empat kelompok bergilir per setengah bulan.

    Teknik ini juga mampu menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 85 persen dan meningkatkan hasil panen hingga 72 persen

    Artinya, penyesuaian jadwal tanam berbasis kondisi nyata bukan hanya menghemat air, tetapi juga meningkatkan hasil panen secara signifikan.

    Desentralisasi
    Saat ini, sebagian besar sistem air Indonesia sangat bergantung pada satu sumber besar seperti sungai atau bendungan utama. Hal ini membuat seluruh jaringan menjadi sangat rentan ketika sumber besar tersebut tergangggu.

    Kita perlu mendorong pendekatan desentralistik, yakni pengelolaan air secara mandiri di tingkat lokal atau individu. Caranya bisa melalui penampungan air hujan, sistem penyimpanan lokal (rain tank), dan sumur resapan di rumah, sekolah, kantor, serta fasilitas publik lainnya.

    Selain mengurangi tekanan pada sistem pasokan air terpusat dan memperkecil risiko gangguan layanan saat terjadi bencana atau kerusakan infrastruktur utama, pengelolaan air hujan seperti ini penting untuk ketahanan air jangka panjang.

    Baca: Separuh populasi dunia terancam kekurangan air

    Selain itu, sistem ini juga bisa membantu mengelola limpasan air hujan secara lebih efektif, sehingga banjir lebih mudah dicegah.

    Pemerintah DI Yogyakarta sudah mulai melakukan pendekatan ini dengan membangun lebih dari 2.700 sumur resapan di kawasan pemukiman.

    Dampaknya sudah terasa. Contohnya di kawasan Pogung Baru, Sleman, pembangunan sumur resapan mampu mengurangi limpasan air hingga sekitar 70 persen. Sementara di area kampus UGM, debit air permukaan menurun antara 5–11 persen.

    Di Lampung, tim Institut Teknologi Sumatra (ITERA) bekerja sama dengan sekolah-sekolah dasar membangun sistem pemanenan air hujan. Hasilnya, air hasil tangkapan cukup untuk keperluan domestik sekolah dan mengurangi ketergantungan pada air tanah.

    Terintegrasi lintas sektor dan wilayah
    Air tak mengenal batas administrasi. Namun pengelolaan air di Indonesia masih terkotak-kotak antara pusat dan daerah, antarkementerian, bahkan antar instansi di satu wilayah.

    Solusi jangka panjang pengelolaan air membutuhkan integrasi lintas sektor dan tata ruang, pertanian, lingkungan, dan masyarakat.

    Dalam hal ini, pemerintah pusat harus menjadi koordinator utama, menetapkan standar nasional. Pemerintah juga perlu membangun sistem pemantauan berbasis data.

    Indonesia memang mempunyai Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2019 yang mengatur tata kelola air. Namun, pelaksanaannya masih lemah.

    Baca: Mengenal Subak, tata kelola air berkelanjutan di Bali

    Indonesia tertinggal jauh dengan Singapura yang sudah menerapkan Four Taps Strategy. Melalui strategi ini, Singapura mnerapkan diversifikasi sumber air nasional mencakup daerah tangkapan lokal, air impor, air daur ulang, dan desalinasi, untuk memastikan ketahanan air jangka panjang.

    Pendekatan ini pun tak hanya fungsi sebagai drainase dan penyimpanan air, tetapi juga rekreasi, estetika, dan pelestarian lingkungan lewat ABC Waters Programme.

    Air sebagai hak dan tanggung jawab bersama
    Tata kelola air tak bisa lagi dianggap sebagai urusan teknis belaka. Ini menyangkut hak dasar warga, keadilan ekologis, serta ketahanan sosial-ekonomi dalam menghadapi perubahan iklim.

    Kita perlu menggeser paradigma dari “mengatasi krisis” menjadi “membangun ketahanan”. Oleh karena itu, kita perlu berinvestasi pada sistem yang lentur, kolaboratif, dan berbasis masyarakat.

    Sistem pengairan seharusnya tidak runtuh saat kondisi ekstrem melanda, tapi justru mampu beradaptasi dan bangkit lebih kuat.

    Air adalah milik bersama. Mengelolanya dengan bijak di tengah krisis iklim adalah tanggung jawab kita semua. Kita harus bertindak sekarang, jangan menunggu krisis air benar-benar terjadi.

    Krisis air adalah ancaman nyata dan sedang berlangsung yang memengaruhi banyak negara, termasuk yang kaya sumber daya alam jika pengelolaannya tidak optimal.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Muhammad Hakiem Sedo Putra (Dosen Rekayasa Tata Kelola Air Terpadu, Institut Teknologi Sumatera)

     

  • BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem di Akhir Bulan Juli

    BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem di Akhir Bulan Juli

    7cloud.asia – Senior Forecaster Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika/BMKG Agita Vivi Wijayanti mengingatkan potensi cuaca ekstrem dan imbauan waspada untuk warga di akhir bulan Juli ini

    Dalam tulisannya di The Conversation, Agita menyebut perubahan cuaca dari basah ke dingin dan relatif kering tahun ini memang berlangsung dalam waktu singkat.

    “Tak heran jika banyak yang menyebutnya ‘cuaca ekstrem’,” demikian Agita dalam tulisannya.

    Analisis BMKG memperkirakan kondisi curah hujan pada Juli 2025 secara umum berada dalam kategori rendah (<50 mm/dasarian)

    Baca: Perubahan iklim memicu cuaca ekstrem

    Kondisi ini tak terkecuali juga terjadi di sebagian wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi, Maluku, dan Papua.

    Namun, meskipun tergolong rendah, beberapa daerah di Sumatra, Jawa, NTT, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua masih berpotensi mengalami hujan lebih tinggi dari biasanya.

    Memasuki Agustus, curah hujan akan semakin bervariasi, dengan potensi curah hujan rendah di sebagian Sumatra, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

    Baca: Cuaca ekstrem sulitkan petani kopi

    Adapun curah hujan tinggi terjadi di sebagian Sumatra Barat, Bengkulu, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan bagian Utara, Sulawesi bagian Tengah, Maluku, dan Papua bagian Barat serta Selatan.

    Karena itu, masyarakat perlu selalu waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, longsor, pohon tumbang, dan gangguan aktivitas lainnya.

    “Kenali kondisi lingkungan sekitar, siapkan tas siaga, dan terus memantau informasi cuaca dari sumber resmi,” demikian Agita menutup tulisannya.

     

  • Cuaca Hari Ini: BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem untuk Wilayah Ini

    Cuaca Hari Ini: BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem untuk Wilayah Ini

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem yang berpotensi terjadi pada Rabu (13/08/2025). Masyarakat diimbau waspada dengan bencana hidrometeorologi.

    Dalam laman resmi BMKG, peringatan dini cuaca ekstrem berpotensi melanda wilayah Bengkulu. Sementara wilayah lainnya mayoritas berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

    Seperti wilayah Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung,  Lampung, Banten, Jakarta berpotensi terjadi hujan berintensitas sedang hingga lebat.

    Kondisi cuaca serupa berpotensi pula terjadi di wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Papua Barat, Papua Pegunungan, Papua dan Papua Selatan.

    Sedangkan hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat berpeluang mengguyur wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya dan Papua Tengah.

    Hujan dengan intensitas lebat juga berpotensi terjadi di sejumlah perairan seperti Selat Malaka bagian tengah, Samudra Hindia barat Kepulauan Nias, Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai, Samudra Hindia barat Bengkulu, Laut Natuna Utara.

    Selain itu Selat Makassar bagian utara dan tengah, Laut Seram, Laut Arafuru bagian Utara, Laut Sulawesi bagian barat, Laut Sulawesi bagian barat, Laut Sulawesi bagian tengah, Laut Sulawesi bagian timur, Laut Maluku juga berpotensi hujan lebat.

    Hujan lebat juga berpeluang terjadi di Samudra Pasifik utara Maluku Utara, Samudra Pasifik Utara Maluku, Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya dan Samudra Pasifik utara Papua Barat.