Tag: perubahan iklim

  • Penjelasan Bagaimana Perubahan Iklim Mempengaruhi Kebakaran Hebat di Los Angeles

    Penjelasan Bagaimana Perubahan Iklim Mempengaruhi Kebakaran Hebat di Los Angeles

    7cloud.asia – Kebakaran hebat di California Selatan AS yang berlangsung sejak 7 Januari 2025 hingga hari ini belum sepenuhnya diatasi.

    Data terakhir menyebutkan setidaknya 24 orang tewas dan sekitar 40.000 hektare di wilayah Los Angeles hangus terbakar.

    Selain fenomena angin Santa Ana, kebakaran hebat di Los Angeles ini juga dikaitkan dengan perubahan iklim.

    Berikut ulasan Martina Igini dari Earth.Org tentang kebakaran di Los Angeles ini.

    California sedang mengalami kekeringan.
    Saat kebakaran mulai terjadi pada 7 Januari, wilayah Los Angeles agak kering setelah mengalami musim panas terpanas dalam setidaknya 130 tahun dan hanya menerima hujan 0,16 inci (4,1 mm) sejak Mei lalu.

    Secara keseluruhan, California Selatan saat ini mengalami kondisi “sangat kering” setelah dua musim dingin dengan curah hujan lebat pada tahun 2022 dan 2023, dengan hampir 2,2 juta orang tinggal di wilayah yang terkena dampak kekeringan.

    Wilayah ini biasanya diguyur curah hujan antara bulan Oktober dan April.
    “Anda harus kembali ke akhir tahun 1800-an untuk melihat awal musim hujan yang kering ini,” kata MacDonald kepada The Atlantic minggu lalu.

    Sebagian besar wilayah Los Angeles County saat ini mengalami “kekeringan parah”, dengan tingkat kelembapan tanah di wilayah tersebut mencapai 2 persen, atau terendah sepanjang sejarah untuk saat ini, menurut NASA.

    Baca: Kebakaran di Los Angeles jadi yang terburuk sepanjang sejarah AS

    Saat musim kemarau panjang terjadi, tumbuhan menjadi kering dan sangat mudah terbakar, mengubah hutan dan padang rumput menjadi kotak-kotak korek api yang menunggu untuk menyala.

    Kelembaban yang sangat rendah, tak hanya mengeringkan tanaman tetapi juga meningkatkan kemungkinan aktivitas manusia, sambaran petir, atau sumber penyulutan lain yang memicu kebakaran.

    Begitu kebakaran terjadi pada kondisi kering seperti ini, kebakaran dapat menyebar dengan cepat dan tak terkendali karena melimpahnya bahan bakar kering dan rendahnya tingkat kelembapan yang umum terjadi di daerah yang dilanda kekeringan.

    Perubahan iklim turut berpengaruh
    Perubahan iklim memperparah peristiwa cuaca ekstrem, termasuk kebakaran hutan.

    Frekuensi dan intensitas kebakaran hutan telah meningkat dua kali lipat dalam dua dekade terakhir, karena kondisi panas, kering, dan berangin yang lebih sering terjadi menciptakan bahan bakar yang sempurna.

    Dan ketika konsekuensi ekologis, sosial, dan ekonomi dari kebakaran hutan diperhitungkan, enam tahun dari tujuh tahun terakhir merupakan tahun-tahun yang paling “intensif secara energik.”

    Meningkatnya suhu global, yang utamanya disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil dan aktivitas manusia lainnya, telah menyebabkan peningkatan jumlah hari “cuaca kebakaran” karena mengeringkan vegetasi dan tanah serta menurunkan tingkat kelembapan.

    Secara global, musim kebakaran hutan sekarang sekitar dua minggu lebih lama, rata-rata, sebagian besarnya karena peningkatan ketersediaan bahan bakar melalui kondisi panas dan kering.

    Baca: Fenomena angin Santa Ana yang turut memicu kebakaran hebat di Los Angeles

    Menurut data lembaga nirlaba Climate Central, musim kebakaran hutan rata-rata di AS Bagian Barat sekarang 105 hari lebih lama, menghanguskan enam kali lebih luas.

    Climate Central juga mencatat tiga kali lebih banyak kebakaran besar (kebakaran yang menghanguskan lebih dari 1.000 hektar) dibandingkan dengan tahun 1970-an.

    Di California, para peneliti telah menghubungkan keadaan darurat iklim dengan peningkatan 172 persen di area yang terbakar sejak tahun 1970-an, dengan proyeksi yang menunjukkan penyebaran kebakaran hutan yang berkelanjutan di tahun-tahun mendatang.

    Sebuah penelitian tahun 2023 menunjukkan, perubahan iklim juga telah meningkatkan risiko kebakaran hutan ekstrem setiap hari di negara bagian tersebut sebesar rata-rata 25 persen,

    Menurut Departemen Kehutanan dan Perlindungan Kebakaran California, 19 dari 20 kebakaran hutan terbesar dalam sejarah negara bagian tersebut terjadi sejak tahun 2003. Sementara setengahnya terjadi dalam lima tahun terakhir.

    Kebakaran yang dahsyat ini tidak hanya terjadi dengan intensitas yang lebih besar, tetapi juga terjadi lebih awal dari musim kebakaran yang biasa terjadi di California Selatan.

    ”Hal ini menyoroti bagaimana perubahan iklim mengubah pola kebakaran – pola khas kebakaran hutan di suatu wilayah,” kata Kimberley Simpson, seorang peneliti di bidang alam dan solusi iklim berbasis di Sekolah Biosains Universitas Sheffield.

    Baca: Dampak kebakaran di Los Angeles akan dirasakan hingga bertahun-tahun

  • Cara Sederhana Pendidikan Lingkungan untuk Berikan Pemahaman Soal Perubahan Iklim

    Cara Sederhana Pendidikan Lingkungan untuk Berikan Pemahaman Soal Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Pendidikan lingkungan adalah kunci untuk memahami, mengantisipasi dan bahkan mencegah perubahan iklim

    Pendidikan lingkungan yang kuat dapat memberdayakan siswa dan membantu mereka terlibat dengan kelompok advokasi dan aktivisme melawan perubahan iklim

    Bahkan pengalaman pendidikan kecil-kecilan, seperti ikut serta dalam kegiatan bersih-bersih lingkungan, dapat membantu siswa atau anak-anak memahami pentingnya pengelolaan lingkungan.

    Hal ini sekaligus membangun keterampilan interdisipliner yang mereka perlukan untuk mengadvokasi perlindungan lingkungan.

    Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mempraktikkan pendidikan lingkungan baik di tingkat keluarga, sekolah, maupun di tengah masyarakat sebagaimana dikutip dari Earth.org:

    Hubungkan siswa dengan sumber daya yang andal
    Pendidikan lingkungan dapat memberdayakan para pengambil keputusan masa depan dan meningkatkan pemahaman publik tentang perubahan iklim.

    Namun, menghubungkan siswa dengan sumber daya yang mereka butuhkan untuk memahami pemanasan global bisa jadi sulit, terutama jika siswa tinggal di negara seperti AS, di mana perubahan iklim dipandang sebagai isu “politik” yang partisan.

    Orang tua yang peduli terhadap lingkungan dapat memperkenalkan perubahan iklim kepada anak-anak mereka melalui permainan luar ruangan di lingkungan alam.

    Taman bermain alami, seperti yang dibangun dari bahan-bahan berkelanjutan dan benda-benda temuan, adalah tempat yang tepat untuk membahas perlindungan lingkungan dan pentingnya pengelolaan sumber daya bumi.

    Menjalani gaya hidup berkelanjutan di rumah dapat menjadi bagian penting dari pendidikan lingkungan hidup pada anak-anak.

    Orang tua dapat membantu anak-anak mereka memahami pentingnya keberlanjutan dengan mengurangi jejak karbon rumah mereka bersama-sama, dengan menerapkan dan mempraktikkan kebiasaan ramah lingkungan di rumah.

    Aktivitas berkelanjutan yang sederhana, seperti mendaur ulang furnitur dan membuat kompos dari sisa makanan serta mengajarkan anak-anak cara mendaur ulang, membantu mengurangi emisi kita sendiri dan meningkatkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan.

    Aktivisme Mahasiswa
    Rasa tanggung jawab sangat penting bagi pelestarian sumber daya alam bumi dalam jangka panjang.

    Namun, siswa yang peduli terhadap perubahan iklim seharusnya diberi wewenang untuk terlibat dalam aktivisme juga.

    Aktivisme kaum muda memiliki dampak yang berarti terhadap kebijakan dan menunjukkan kepada politisi bahwa perubahan iklim merupakan isu hangat bagi pemilih di masa mendatang.

    Aktivisme yang sukses dimulai dengan mendidik siswa tentang isu-isu lingkungan. Guru dapat memperkuat pemahaman siswa tentang perubahan iklim dan perlindungan ekologi dengan menyelenggarakan proyek siswa yang mendorong pembelajaran di luar ruangan.

    Dengan membangun ekosistem di lingkungan sekolah atau mendaftar dalam kegiatan bersih-bersih masyarakat, siswa akan belajar untuk merasa bangga terhadap dunia di sekitar mereka dan menjadi lebih siap untuk berbagi pengetahuan dengan orang lain.

    Sebagian besar sekolah menengah atas dan universitas memiliki kelompok advokasi iklim yang dapat diikuti kaum muda untuk memperkuat suara mereka dan membuat perbedaan.

    Siswa dapat memajukan advokasi iklim mereka dengan bergabung dengan kelompok yang bermitra dengan Jaringan Aksi Iklim (CAN).

    CAN membantu 1900+ organisasi mendapatkan dukungan dan pendanaan yang mereka butuhkan untuk mencegah degradasi lingkungan dan melawan perubahan iklim.

    Siswa yang peduli terhadap iklim juga dapat bermitra dengan organisasi non-pemerintah (LSM) seperti WWF, African Conservation Foundation, Born Free USA, Break Free From Plastic

    LSM ini menangani masalah lingkungan terbesar saat ini dan dapat menempatkan mahasiswa dalam posisi untuk memaksimalkan dampaknya dan memperoleh keterampilan pengembangan profesional yang penting.

    Pengembangan Profesional
    Mencegah perubahan iklim membutuhkan lebih dari sekadar niat baik dan pemahaman publik.

    Para pembuat keputusan masa depan perlu dilengkapi dengan keterampilan interdisipliner untuk mengatasi tantangan akibat perubahan iklim.

    Akan tetapi, banyak guru tidak siap untuk mengajarkan pendidikan lingkungan di kelas mereka.

    Lebih banyak yang harus dilakukan untuk memberdayakan guru yang peduli terhadap iklim. Para profesor harus merasa nyaman mendiskusikan fakta-fakta perubahan iklim di kelas mereka.

    Mereka harus mampu mengidentifikasi keterampilan yang dapat dipindahtangankan yang dapat diberikan kelas mereka kepada siswa yang peduli terhadap iklim.

    Untungnya, guru saat ini dapat menemukan banyak sumber daya gratis dari situs-situs seperti situs berita lingkungan yang didedikasikan untuk audiens muda Kids.Earth.Org, NASA’s Vital Signs of the Planet, WWF’s Science that Affects Our World, British Council’s Climate Resources for School Teachers

    Sumber daya ini sepenuhnya gratis dan dapat digunakan di kelas mana pun. Proyek yang terinspirasi oleh iklim akan membantu siswa memahami pentingnya pendidikan lingkungan.

    Hal ini sekaligus memberi mereka keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi orang-orang skeptis di masa mendatang.

  • Peran Pendidikan Lingkungan dalam Menahan Laju Perubahan Iklim

    Peran Pendidikan Lingkungan dalam Menahan Laju Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Dampak kerusakan lingkungan dan perubahan iklim kini makin terasa nyata. Dan, dalam kondisi seperti ini pendidikan lingkungan memegang peran penting.

    Pendidikan lingkungan dapat membuat perbedaan dalam perjuangan melawan kerusakan lingkungan dan perubahan iklim.

    Survei terkini menunjukkan bahwa orang dengan pendidikan lebih tinggi cenderung memandang perubahan iklim sebagai ancaman.

    Dan, saat ini, kebanyakan orang melihat perubahan iklim sebagai ancaman besar bagi planet Bumi.

    Namun, mempromosikan pendidikan lingkungan hidup di sekolah dapat menjadi hal yang rumit. Perubahan iklim sering dipandang sebagai isu “politik” bipartisan di beberapa negara, dan banyak lembaga pendidikan yang menentang pendidikan iklim secara keseluruhan.

     

    Greenpeace: Perdagangan karbon tak akan selamatkan bumi

    Banyak hal yang harus dilakukan untuk memastikan bahwa kaum muda memiliki akses terhadap pendidikan lingkungan.

    Pendidikan iklim yang kuat akan memberikan para pengambil keputusan masa depan keterampilan yang mereka butuhkan untuk mengadvokasi alam, melindungi lingkungan yang rentan, dan mengurangi dampak pemanasan global.

    Pentingnya Pendidikan Lingkungan Hidup
    Pendidikan sering diabaikan dalam perjuangan melawan perubahan iklim. Meskipun perubahan kebijakan dan komitmen global diperlukan untuk mencegah pemanasan global semakin parah, pendidikan lingkungan merupakan langkah pertama untuk mencapai tujuan itu.

    Pendidikan lingkungan juga dapat membantu meredakan kecemasan akan iklim. Hal ini secara luas didefinisikan sebagai “ketakutan kronis terhadap kehancuran lingkungan” dan mungkin diperburuk oleh kurangnya pemahaman.

    Sumber daya pendidikan yang menjelaskan secara jelas mekanisme di balik pemanasan global akan membekali siswa dengan pengetahuan yang mereka butuhkan untuk melakukan sesuatu tentang perubahan iklim.

    Baca: Pajak kekayaan untuk membiayai inisiatif lingkungan

    Hal ini dapat membantu mereka merasa berdaya dan menumbuhkan apresiasi yang lebih besar terhadap sumber daya di sekitarnya

    Pendidikan lingkungan juga dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan pemecahan masalah. Hal ini sangat penting saat ini, karena siswa perlu mampu mengevaluasi dampak jangka panjang dari kebijakan sosial, ekonomi, dan ekologi.

    Memerangi perubahan iklim secara efektif memerlukan upaya dan aktivisme global yang sering kali sangat bergantung pada pemahaman menyeluruh tentang masalah tersebut dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain bahwa sesuatu harus dilakukan.

    Peningkatan dalam pendidikan publik juga dapat meningkatkan rasa pengelolaan dan membantu upaya konservasi. Secara khusus, program pendidikan lingkungan dapat membuat perbedaan nyata bagi para peneliti yang mengadvokasi perubahan kebijakan.

    Misalnya, program publik terkini seperti Planet Earth II dan Wild Isles milik BBC tampaknya telah memberikan dampak yang signifikan terhadap para peneliti di Universitas Exeter di Inggris.

    Merefleksikan program publik tersebut, Profesor Callum Roberts menyatakan bahwa “Inggris kini harus memberikan perlindungan sejati bagi satwa liar,”

    Dia menambahkan pendidikan lingkungan harus fokus pada pembangunan ketahanan terhadap perubahan iklim.

  • Riset Terbaru Lancet Soroti Dampak Nyata Perubahan Iklim terhadap Kesehatan Manusia

    Riset Terbaru Lancet Soroti Dampak Nyata Perubahan Iklim terhadap Kesehatan Manusia

    7cloud.asia – Laporan Lancet Countdown on Health and Climate Change tahun 2024 mengungkap temuan paling mengkhawatirkan selama 8 tahun pemantauan.

    Lancet Countdown on Health and Climate Change telah diproduksi setiap tahun sejak 2015 oleh kolaborasi 300 peneliti dan profesional kesehatan dari badan PBB dan lembaga akademis global.

    Tujuan utama laporan Lancet Countdown on Health and Climate Change adalah untuk mengevaluasi hubungan antara perubahan iklim dan kesehatan di tingkat global, regional, dan nasional.

    Laporan Lancet Countdown on Health and Climate Change terbaru yang diterbitkan pada Oktober 2024 menganalisis hubungan antara perubahan iklim dan kesehatan di 56 indikator.

    Menurut laporan Lancet Countdown on Health and Climate Change tersebut, 10 dari 15 indikator yang memantau bahaya, paparan, dan dampak kesehatan telah mencapai rekor tertinggi.

    Dampak-dampak ini secara tidak proporsional menimpa 745 juta orang yang tidak memiliki akses terhadap listrik dan berkontribusi paling sedikit terhadap perubahan iklim.

    Baca: Bahaya resistensi terhadap antibiotik

    Subsidi bahan bakar fosil yang mencapai rekor, produksi, dan meningkatnya permintaan energi global mendorong emisi ke tingkat yang akan semakin membahayakan lingkungan dan kesehatan manusia.

    Laporan itu menyebut, cuaca panas dan kekeringan yang ekstrem menyebabkan jutaan orang mengalami kerawanan pangan.

    Hampir 50 persen dari luas daratan global terdampak oleh satu bulan atau lebih kekeringan ekstrem pada tahun 2023.

    Laporan itu juga menyebut, perubahan iklim mengakibatkan turunnya hasil panen, mengeringnya sumber air, serta terganggunya rantai pasokan pangan dan energi.

    Kondisi ini menyebabkan lebih dari 151 juta orang mengalami kerawanan pangan pada tahun 2022.

    Perubahan iklim juga memicu penyebaran penyakit menular. Hal ini karena
    meningkatnya suhu, curah hujan ekstrem, dan banjir menciptakan kondisi yang lebih menguntungkan bagi serangga pembawa penyakit di seluruh dunia.

    Baca: Hepatitis A dapat menular dari makanan mentah dan lingkungan yang kotor

    Penyakit yang ditularkan nyamuk menyebabkan lebih dari satu juta kematian dan 700 juta infeksi per tahun.

    Suhu yang lebih hangat mempercepat perkembangan nyamuk dan memperpanjang musim penularan penyakit hingga satu bulan atau lebih.

    Kesesuaian iklim untuk penularan demam berdarah oleh dua spesies nyamuk, Aedes albopictus dan Aedes aegypti – juga dikenal sebagai nyamuk harimau Asia dan nyamuk demam kuning – meningkat masing-masing sebesar 46,3 persen dan 10,7 persen, antara tahun 1951-60 dan 2014-23.

    Laporan ini juga menyoroti paradoks perawatan kesehatan modern, di mana pengobatan penyakit, yang banyak di antaranya diperburuk oleh perubahan iklim, menghasilkan emisi gas rumah kaca yang signifikan dan berkontribusi terhadap perubahan iklim.

    Menurut laporan tersebut, sektor perawatan kesehatan global menyumbang 4,6 persen dari total emisi gas rumah kaca. Emisi meningkat 36 persen antara tahun 2016 dan 2021.

    Baca: Polusi udara berkepanjangan picu masalah pernapasan

    Polusi udara dari emisi perawatan kesehatan berkontribusi terhadap hilangnya 4,6 juta tahun kehidupan yang disesuaikan dengan disabilitas pada tahun 2021.

    Laporan Lancet menemukan bahwa ada hubungan antara emisi perawatan kesehatan dan harapan hidup yang lebih tinggi hingga 400 kilogram setara karbon dioksida (CO2e) per kapita.

    Emisi tambahan di luar tingkat ini tidak terkait dengan hasil kesehatan yang lebih baik. Beberapa negara dengan HDI yang sangat tinggi mencatat emisi lebih dari 1.000 kg CO2e.

    Amerika Serikat sebagai negara industri terdepan dengan emisi lebih dari 1.600 kg setara CO2.

    Temuan ini menyoroti bahwa perawatan kesehatan di negara-negara dengan emisi tinggi dapat didekarbonisasi dan tetap mencapai perawatan dan hasil berkualitas tinggi.

  • Cara Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS) Menekan Emisi Gas Rumah Kaca

    Cara Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS) Menekan Emisi Gas Rumah Kaca

    7cloud.asia – Laporan terbaru, Lancet Countdown on Health and Climate Change tahun 2024 menyoroti paradoks perawatan kesehatan modern terkait emisi karbon yang memicu perubahan iklim

    Laporan Lancet menyebut, pengobatan penyakit yang banyak di antaranya diperburuk oleh perubahan iklim, justru menghasilkan emisi gas rumah kaca yang signifikan dan berkontribusi terhadap perubahan iklim.

    Menurut laporan tersebut, sektor perawatan kesehatan global menyumbang 4,6 persen dari total emisi gas rumah kaca. Emisi ini meningkat 36 persen antara tahun 2016 dan 2021.

    Dalam kondisi ini, Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS) memberi kabar baik. NHS menjadi perintis pendekatan nasional paling komprehensif terhadap dekarbonisasi layanan kesehatan di dunia.

    Pada tahun 2022, sistem kesehatan nasional pertama di dunia ini menjadi sistem kesehatan nasional pertama yang menanamkan komitmen nol bersih dalam undang-undang.

    Baca: Paradoks pengobatan penyakit akibat perubahan iklim

    Dilansir Earth.org, Pemerintah Inggris juga telah membuat peta jalan untuk mencapai tujuan ini di seluruh jejak karbonnya pada tahun 2045.

    Alasan utama untuk target nol bersih adalah potensi manfaat kesehatan yang beragam, perbaikan polusi udara di masyarakat yang rentan dan terpinggirkan.

    Berkurangnya ketidakadilan kesehatan lingkungan yang secara tidak proporsional berdampak pada kelompok etnis minoritas juga menjadi tujuan program ini

    Strategi pengurangan emisi sedang diterapkan pemerintah Inggris di seluruh tiga cakupan emisi.

    Beberapa langkah yang dilakukan meliputi peningkatan efisiensi energi fasilitas NHS, pemasangan infrastruktur energi terbarukan, memfasilitasi pengurangan perjalanan staf dan pasien,

    Baca: Hepatitis A menular dari makanan mentah dan lingkungan yang kotor

    Selain itu juga didorong upaya mengurangi plastik sekali pakai, perangkat dan produk sekali pakai, memberikan insentif dekarbonisasi pemasok dan beralih ke gas anestesi dan inhaler intensitas karbon rendah.

    Dekarbonisasi transportasi merupakan fokus utama lainnya. NHS sedang dalam proses mentransisikan armada 20.000 kendaraannya ke model emisi nol.

    Ini berlaku untuk semua kendaraan baru mulai tahun 2027, ambulans pada tahun 2030 dengan transisi armada penuh pada tahun 2040.

    NHS memperkirakan bahwa strategi ini akan menghasilkan manfaat kesehatan yang substansial: 5.770 jiwa diselamatkan per tahun dari pengurangan polusi udara.

    Selain itu juga ada 38.400 jiwa diselamatkan per tahun dari peningkatan tingkat aktivitas fisik pada tahun 2040.

    Baca: Dampak polusi udara pada kesehatan

  • Jika Dunia Tak Mengerem Penggunaan Bahan Bakar Fosil Pemanasan Global Bisa Capai 3,1°C pada 2100

    Jika Dunia Tak Mengerem Penggunaan Bahan Bakar Fosil Pemanasan Global Bisa Capai 3,1°C pada 2100

    7cloud.asia – Laporan Lancet Countdown on Health and Climate Change yang dirilis Oktober 2024 lalu menyebut dunia memiliki kemungkinan besar melampaui batas pemanasan global 1,5°C sebagaimana termaktub di Perjanjian Paris

    Laporan Lancet yang ditujukan untuk mengevaluasi hubungan antara perubahan iklim dan kesehatan di tingkat global juga memprediksi pemanasan global dapat akan mencapai 3,1°C pada tahun 2100.

    Hal ini disebabkan oleh komitmen dekarbonisasi yang tidak memadai dari hampir semua negara dengan emisi tinggi.

    Kondisi ini diperburuk dengan terus meningkatnya permintaan energi, dan subsidi bahan bakar fosil juga mencetak rekor tertinggi.

    Mundurnya Amerika Serikat dari Perjanjian Iklim di bawah Pemerintahan Trump akan dapat semakin memperlambat momentum global dalam mengatasi perubahan iklim.

    Baca: Lancet soroti paradoks upaya mengatasi penyakit akibat perubahan iklim

    Keterlibatan global seputar perubahan iklim dan kesehatan mungkin juga menurun secara keseluruhan.

    Laporan Lancet menyoroti bahwa jumlah pemerintah yang menyebutkan iklim dan kesehatan dalam Debat Umum PBB tahunan mereka turun dari 50 persen pada tahun 2022 menjadi 35 persen pada tahun 2023.

    Selain itu, hanya 47 persen dari 58 Kontribusi Secara Nasional (National Determined Contribution/NDC) yang diajukan pada tahun 2023 yang dirujuk untuk kesehatan.

    NDC adalah rencana aksi iklim nasional yang harus diserahkan setiap negara penandatangan Perjanjian Paris secara berkala.

    Baca: Layanan Kesehatan Nasional Inggris tekan emisi gas rumah kaca

    Dengan kondisi seperti ini, Lancet memprediksi dampak kesehatan dan kematian akibat perubahan iklim kemungkinan akan terus meningkat jika dunia tidak serius memotong emisi gas rumah kaca.

    Sementara, sebuah studi November 2024 juga memproyeksikan bahwa perubahan iklim dan polusi udara dapat menyebabkan 30 juta kematian setiap tahunnya pada tahun 2100.

    Dampak kesehatan akibat perubahan iklim diproyeksikan akan berdampak secara tidak proporsional pada negara-negara miskin dengan jejak karbon terkecil.

    Mengomentari kondisi ini, Hannah Ritchie dari Our World in Data mengatakan, “inilah ketimpangan yang parah akibat perubahan iklim”

  • Di Bawah Donald Trump, Amerika Serikat Tak Lagi Fokus Pada Penanganan Perubahan Iklim

    Di Bawah Donald Trump, Amerika Serikat Tak Lagi Fokus Pada Penanganan Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Menanggulangi perubahan iklim menjadi fokus mantan Presiden Joe Biden, tetapi di bawah Donald Trump, Amerika Serikat bergerak ke arah yang berbeda.

    “Hari ini saya juga akan mengumumkan keadaan darurat energi nasional. Kami akan (terus) mengebor, sayang, mengebor (minyak),” kata Donald rump.

    Ketika seorang presiden mengumumkan keadaan darurat nasional, ia memiliki lebih banyak kewenangan eksekutif untuk menyelesaikan berbagai hal, termasuk mencabut regulasi industri untuk mengebor minyak dan gas.

    Pada hari Jumat (24/1/2025) Trump menambahkan faktor geopolitik, dengan mengatakan bahwa menurunkan harga minyak adalah kunci untuk mengakhiri perang di Ukraina.

    “OPEC harus segera bertindak dan menurunkan harga minyak sehingga perang itu akan segera berakhir,” imbuh Trump.

    Para analis merasa skeptis bahwa tuntutan dan kebijakan Trump tersebut akan berdampak signifikan pada harga minyak.

    Baca: Perubahan Iklim Mempengaruhi Kebakaran Hebat di Los Angeles

    Guru besar di Universitas Cornell, Sheila Olmstead, yang berbicara dengan VOA melalui Skype. “Anda harus memikirkan hal-hal seperti pasokan minyak yang didorong oleh permintaan internasional dan hal-hal lain yang akan sangat berbeda dari berbagai jenis kebijakan yang mungkin dipikirkan oleh Presiden Trump,”

    Menurutnya, hal ini di antaranya dapat memengaruhi eksplorasi dan ekstraksi minyak dan gas.

    Analis mengatakan harga minyak yang rendah juga akan merugikan para donor Trump, yaitu industri bahan bakar fosil Amerika.

    Para pendukung energi terbarukan menunjukkan bahwa produksi minyak dan gas AS sudah mencapai puncaknya.

    Heather O’Neill adalah presiden dan CEO Advanced Energy United, sebuah lembaga nirlaba di Washington, DC. Ia berbicara dengan VOA melalui Zoom. “Jadi, jika ini adalah keadaan darurat, mengapa kita tidak mencari semua sumber daya yang tersedia, khususnya yang menunjukkan nilai riil pada jaringan listrik? Mengapa kita tidak memanfaatkan semua sumberdaya yang kita miliki?,” tanyanya.

    Donald Trump, telah berulang kali menyebut perubahan iklim sebagai “tipuan belaka” dan ingin menghentikan upaya untuk meningkatkan kendaraan listrik di AS.

    Baca: Tanpa Pengurangan Bahan Bakar Fosil Pemanasan Global Bisa Capai 3,1°C pada 2100

    Donald Trump antaralain akan mencabut keringanan pajak untuk pembelian dan manufaktur kendaraan listrik yang disahkan oleh Kongres selama masa jabatan Biden.

    “Kami akan mencabut mandat kendaraan listrik, menyelamatkan industri otomotif kami dan menepati janji suci saya kepada para pekerja otomotif Amerika yang hebat,” tandas Trump.

    Namun, ia akan membutuhkan persetujuan Kongres untuk langkah tersebut.

    Analis mengatakan hal itu kontraproduktif dengan tujuan yang dinyatakan oleh Trump sendiri untuk bersaing dengan China, yang sudah menjadi produsen kendaraan listrik terbesar di dunia.

    Berbicara dengan VOA, Jun Chen, profesor di Universitas Oakland, mengatakan, “Ada konsensus di kalangan akademisi bahwa kendaraan listrik adalah jalan keluar. Kendaraan listrik adalah jalan keluar untuk mengatasi masalah lingkungan kita. Tidak ada jalan mundur dalam pengembangan kendaraan listrik.”

    Tindakan Trump pada hari pelantikan juga mencakup perintah untuk menarik AS dari komitmen iklim internasional.

    “Hal berikutnya, Bapak Presiden, adalah surat yang akan dikirimkan ke Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang menjelaskan bahwa kami menarik diri dari Perjanjian Iklim Paris.”

    AS saat ini memproduksi lebih banyak minyak dan gas daripada negara mana pun dalam sejarah.

    Sementara itu, meskipun mempertahankan sebagian besar produksi bahan bakar fosilnya, China adalah produsen panel surya dan turbin angin terkemuka di dunia. Negara itu juga merupakan pencemar iklim terbesar di planet Bumi.

  • Dampak Perubahan Iklim pada Produksi Pangan Kian Nyata: BMKG Berperan Penting untuk Mengatasinya

    Dampak Perubahan Iklim pada Produksi Pangan Kian Nyata: BMKG Berperan Penting untuk Mengatasinya

    7cloud.asia – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Stella Christie mengatakan bahwa dampak perubahan iklim yang semakin nyata memengaruhi produktivitas pangan nasional.

    Karena itu dia menyoroti peran penting Sekolah Tinggi Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau STMG dan BMKG dalam mendukung ketahanan pangan Indonesia mengantisipasi perubahan iklim.

    Dalam 10 tahun terakhir, data Bank Dunia menunjukkan produktivitas hasil pangan dunia menurun akibat kerentanan terhadap perubahan iklim, baik karena kekeringan maupun banjir.

    “Di sinilah peran BMKG dan STMKG menjadi krusial, karena kemampuan memprediksi dan menganalisis data iklim dapat membantu mengantisipasi masalah ini,” kata Stella dilansir dari laman resmi BMKG, bmkg.go.id

    Berbicara dalam Workshop Transformasi STMKG Menuju Indonesia Emas di Tangerang, Kamis (16/1/2024), Stella menggarisbawahi pentingnya riset dan analisis data dalam transformasi STMKG.

    “STMKG harus memperkuat riset berbasis isu lokal maupun nasional. Data BMKG yang kaya akan potensi bisa dimanfaatkan untuk pembelajaran berbasis masalah. Ini akan membuat lulusan STMKG lebih siap menghadapi tantangan nyata di lapangan,” jelasnya.

    Baca: Walhi sebut rencana pemerintah buka 20 Juta hektare lahan Bisa picu bencana ekologis

    Ia juga mendorong kolaborasi antar instansi/lembaga untuk mendukung visi Presiden Prabowo Subianto terkait ketahanan pangan, air, dan energi.

    “Kita membutuhkan generasi yang mampu menyelesaikan masalah bangsa dengan pendekatan saintifik dan inovatif. STMKG harus menjadi bagian penting dari ekosistem ini,” tegas Stella.

    Dalam kesempatan yang sama, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menegaskan bahwa inovasi, kolaborasi dan disiplin adalah tiga pilar utama dalam transformasi STMKG).

    Upaya ini menjadi langkah strategis untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045, sekaligus menjawab tantangan global seperti perubahan iklim, bencana geo-hidrometeorologi, dan tuntutan percepatan inovasi teknologi.

    “Kita membutuhkan generasi yang mampu mengelola data, mengubahnya menjadi informasi untuk kepentingan keselamatan dan kesejahteraan umat manusia, lalu melanjutkannya ke tingkat pengembangan pengetahuan dan kearifan. Dari sinilah solusi yang relevan dan bermakna dapat lahir,” ujar Dwikorita

    Baca: Perubahan iklim mengancam produksi pangan dunia

    Menurutnya, kemampuan mengamati (observasi), memahami, menganalisis, dan mengolah/memanfaatkan data secara efektif adalah keterampilan mendasar yang harus dimiliki di era kemajuan informasi dan teknologi seperti saat ini.

    Data yang diolah dengan cepat, tepat dan akurat menjadi suatu informasi dan pengetahuan yang bermakna dapat menjadi pijakan untuk pengambilan keputusan yang strategis dan berdampak luas.

    Tanpa pemahaman mendalam terhadap data, potensi besar yang terkandung di dalamnya hanya akan terabaikan.

    Dwikorita menekankan bahwa kolaborasi lintas disiplin di dalam STMKG ataupun dengan berbagai pihak eksternal merupakan kunci untuk menciptakan solusi yang lebih inovatif dan jitu.

    “Kolaborasi bukan hanya soal kerja sama, tetapi juga soal bagaimana mengelola perbedaan menjadi suatu solusi yg komprehensif dan jitu. Buatlah research umbrella yang melibatkan dosen dan mahasiswa lintas program studi dan lintas lembaga,” jelasnya.

  • Laporan PBB Peringatkan 44 Persen Daratan di Bumi Terancam Kekeringan Permanen

    Laporan PBB Peringatkan 44 Persen Daratan di Bumi Terancam Kekeringan Permanen

    7cloud.asia – Wilayah yang luasnya hampir sepertiga dari luas India telah berubah dari kondisi lembap menjadi benar-benar kering atau gersang – dalam tiga dekade terakhir.

    Demikian laporan PBB baru yang diterbitkan pada saat konferensi global tentang degradasi lahan atau KTT Gurun di Arab Saudi pada Desember 2024 lalu.

    Tidak termasuk Antartika, dataran kering saat ini membentuk 40,6 persen dari seluruh daratan di Bumi, angka meningkat 3 persen dibandingkan periode 30 tahun sebelumnya.

    Laporan itu juga menyebut, sekitar 77,6 persen daratan di planet Bumi mengalami iklim yang lebih kering dalam jangka waktu yang sama.

    Jumlah orang yang tinggal di dataran kering juga meningkat, dari 1,2 miliar tiga dekade lalu menjadi 2,3 miliar pada tahun 2020, setara dengan 30,9 persen dari seluruh penduduk Bumi.

    Pada tahun 2100, sebanyak 5 juta orang – dua dari setiap lima orang di planet ini – dapat hidup di dataran kering.

    Baca: Dampak serius perubahan iklim terhadap curah hujan di Indonesia

    Kegagalan dalam memotong emisi gas rumah kaca, pendorong utama pemanasan global, akan mengakibatkan hilangnya 3 persen lahan kering pada akhir abad ini, laporan tersebut memperingatkan.

    Hal ini selanjutnya akan berdampak buruk pada ketahanan pangan dan air dunia.

    Seperti yang disampaikan Praveena Sridhar, kepala petugas teknis kelompok kampanye Save Soil, dalam sebuah artikel di Earth.Org,

    “Sebagai fondasi sistem pertanian kita, [tanah] memiliki peran yang sangat penting dalam memberi makan dunia. Tanah yang sehat merupakan kebutuhan langsung bagi 95 persen produksi pangan bagi lebih dari 8 miliar orang.”

    Pemerintah di ibu kota Riyadh sepakat untuk merundingkan perjanjian global guna menghentikan degradasi dan mendorong pemulihan lahan di dunia.

    Science-Policy Interface, sekelompok ilmuwan yang bekerja untuk Konvensi PBB dalam Memerangi Penggurunan (UNCCD) yang menyusun laporan tersebut, mengatakan bahwa perubahan tersebut dapat dikaitkan dengan perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia.

    Baca: Lebih separuh daratan terancam kekeringan permanen dalam beberapa dekade mendatang

    Meningkatnya suhu Bumi telah mengubah siklus air di banyak wilayah di dunia, sehingga meningkatkan risiko kekeringan.

    Kelangkaan air akibat kekeringan, degradasi lahan, dan penggurunan meningkatkan kekeringan tanah, yang mengakibatkan tanah menjadi kurang subur, hilangnya produktivitas tanaman dan tanaman, menurunnya keanekaragaman hayati, dan degradasi ekosistem.

    Studi tersebut memperingatkan bahwa sekitar 40 persen lahan pertanian di Bumi terkena dampak kekeringan, yang dianggap sebagai pendorong degradasi sistem pertanian terbesar di dunia.

    Afrika diperkirakan kehilangan 12 persen PDB-nya akibat meningkatnya kekeringan antara tahun 1990 dan 2015 dan diperkirakan akan kehilangan 16 persen lagi dalam setengah dekade berikutnya.

    Sedangkan negara-negara di Asia berisiko kehilangan 7 persen PDB-nya dalam periode yang sama. Bersama-sama, kedua benua ini menjadi rumah bagi hampir separuh dari seluruh penduduk yang tinggal di daerah kering.

    Baca: Kekeringan dan krisis air global sudah di depan mata

    Lahan kering juga lebih rentan terhadap badai pasir dan debu, kebakaran hutan, dan kesehatan yang buruk, sehingga semakin tidak ramah bagi manusia dan sebagian besar spesies hewan dan tumbuhan dan dengan demikian mendorong migrasi skala besar.

    Daerah kering yang berpenduduk padat seperti California, Mesir, Pakistan timur dan utara, wilayah yang luas di India, dan Cina timur laut sangat berisiko.

    Sekretaris eksekutif UNCCD,Ibrahim Thiaw mengatakan, kekeringan merupakan “transformasi yang permanen dan tak henti-hentinya.”

    “Kekeringan berakhir. Namun, ketika iklim suatu wilayah menjadi lebih kering, kemampuan untuk kembali ke kondisi sebelumnya akan hilang.

    “Iklim kering yang kini memengaruhi wilayah-wilayah luas di seluruh dunia tidak akan kembali seperti semula, dan perubahan ini mendefinisikan ulang kehidupan di Bumi,” ungkapnya, menurut Guardian.

  • Megawati Undang Al Gore Berdiskusi dengan BRIN terkait Perubahan Iklim

    Megawati Undang Al Gore Berdiskusi dengan BRIN terkait Perubahan Iklim

    7cloud.asia –  Presiden Ke-5 RI yang juga Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional, Megawati Soekarnoputri mengundang mantan Wakil Presiden Amerika Serikat Al Gore berkunjung ke Indonesia untuk mendiskusikan perubahan iklim.

    Undangan tersebut disampaikan Megawati saat berbincang dengan Al Gore di sela gelaran World Leaders Summit on Children’s Rights di Vatikan, awal Februari lalu.

    “Saya saat ini menjabat sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional. Saya mengundang Bapak untuk hadir dan berdialog dengan kami di Jakarta,” kata Megawati dikutip dari keterangan tertulis yang diterima beberapa waktu lalu.

    Al Gore yang merupakan penerima Nobel Perdamaian tahun 2007 atas upayanya untuk menyebarluaskan informasi tentang perubahan iklim dan tantangannya, mengatakan dia menantikan momen tersebut bisa terwujud.

    Dalam pertemuan ini, Megawati dan Al Gore membahas kebakaran besar yang baru saja melanda Los Angeles, negara bagian California Selatan.

    Baca: Paus Fransiskus dan Megawati diskusikan isu pemanasan global

    Megawati didampingi delegasi Indonesia termasuk puterinya Puan Maharani, putranya Mohamad Rizki Pratama, serta Duta Besar Indonesia untuk Tunisia, Zuhairi Miswari.

    Megawati mengawali perbincangan soal musibah kebakaran besar yang terjadi di Los Angeles yang menurut banyak pihak dipengaruhi perubahan iklim.

    “Bisa Bapak ceritakan bagaimana kejadian kebakaran di Los Angeles itu terjadi,” tanya Megawati kepada Al Gore. 

    Al Gore lantas menjelaskan soal cuaca yang tidak baik termasuk hujan yang lama tidak turun di negara bagian California Selatan tersebut.

    Ditambahkannya, kebakaran merupakan masalah yang sangat besar dan mengerikan, akibat kekeringan dan ada masalah dalam sistem air untuk pemadaman kebakaran, sehingga kebakaran dan dampaknya meluas

    Al-Gore pun mengapresiasi pidato Megawati di pertemuan tersebut khususnya soal perubahan iklim sebagai persoalan global dalam menyelamatkan anak-anak.

    Baca: Megawati jadi pembicara di World Leaders Summit Roma

    Keduanya juga sempat membahas soal keluarnya Amerika Serikat dari Perjanjian Paris yang mengatur soal iklim dan kaitannya dengan sikap Indonesia ke depan.

    “Saya langsung bilang, saya kenal Presiden Megawati, itu yang tidak akan terjadi,” ujar Al Gore soal kemungkinan Indonesia mempertimbangkan keluar dari Perjanjian Paris tersebut.

    Perjanjian Paris adalah perjanjian internasional tentang perubahan iklim yang mengikat secara hukum.

    Perjanjian Paris diadopsi oleh 196 pihak pada COP21 di Paris pada 12 Desember 2015 dan mulai berlaku pada 4 November 2016.

    Indonesia sebagai salah satu pihak yang menandatangani Perjanjian Paris telah meratifikasi dalam hukum nasional melalui UU Nomor 16 Tahun 2016.

    Namun beberapa waktu lalu, Menteri ESDM Bahlil Lahadaia melempar wacana kemungkinan keluar dari Perjanjian Paris ini.