Jika Dunia Tak Mengerem Penggunaan Bahan Bakar Fosil Pemanasan Global Bisa Capai 3,1°C pada 2100

Written by

in

7cloud.asia – Laporan Lancet Countdown on Health and Climate Change yang dirilis Oktober 2024 lalu menyebut dunia memiliki kemungkinan besar melampaui batas pemanasan global 1,5°C sebagaimana termaktub di Perjanjian Paris

Laporan Lancet yang ditujukan untuk mengevaluasi hubungan antara perubahan iklim dan kesehatan di tingkat global juga memprediksi pemanasan global dapat akan mencapai 3,1°C pada tahun 2100.

Hal ini disebabkan oleh komitmen dekarbonisasi yang tidak memadai dari hampir semua negara dengan emisi tinggi.

Kondisi ini diperburuk dengan terus meningkatnya permintaan energi, dan subsidi bahan bakar fosil juga mencetak rekor tertinggi.

Mundurnya Amerika Serikat dari Perjanjian Iklim di bawah Pemerintahan Trump akan dapat semakin memperlambat momentum global dalam mengatasi perubahan iklim.

Baca: Lancet soroti paradoks upaya mengatasi penyakit akibat perubahan iklim

Keterlibatan global seputar perubahan iklim dan kesehatan mungkin juga menurun secara keseluruhan.

Laporan Lancet menyoroti bahwa jumlah pemerintah yang menyebutkan iklim dan kesehatan dalam Debat Umum PBB tahunan mereka turun dari 50 persen pada tahun 2022 menjadi 35 persen pada tahun 2023.

Selain itu, hanya 47 persen dari 58 Kontribusi Secara Nasional (National Determined Contribution/NDC) yang diajukan pada tahun 2023 yang dirujuk untuk kesehatan.

NDC adalah rencana aksi iklim nasional yang harus diserahkan setiap negara penandatangan Perjanjian Paris secara berkala.

Baca: Layanan Kesehatan Nasional Inggris tekan emisi gas rumah kaca

Dengan kondisi seperti ini, Lancet memprediksi dampak kesehatan dan kematian akibat perubahan iklim kemungkinan akan terus meningkat jika dunia tidak serius memotong emisi gas rumah kaca.

Sementara, sebuah studi November 2024 juga memproyeksikan bahwa perubahan iklim dan polusi udara dapat menyebabkan 30 juta kematian setiap tahunnya pada tahun 2100.

Dampak kesehatan akibat perubahan iklim diproyeksikan akan berdampak secara tidak proporsional pada negara-negara miskin dengan jejak karbon terkecil.

Mengomentari kondisi ini, Hannah Ritchie dari Our World in Data mengatakan, “inilah ketimpangan yang parah akibat perubahan iklim”

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *