Tag: ai

  • Strategi untuk Beradaptasi Dengan Perkembangan Teknologi AI

    Strategi untuk Beradaptasi Dengan Perkembangan Teknologi AI

    7cloud.asia – Dua CEO perusahaan teknologi terkemuka memicu perdebatan tentang dampak kecerdasan buatan (Artificial Inteligence/AI) dalam dunia kerja.

    CEO Klarna, Sebastian Siemiatkowski, mengumumkan perusahaan layanan buy-now, pay-later-nya telah berhenti merekrut karyawan setahun terakhir, dengan klaim bahwa AI dapat melakukan sebagian besar pekerjaan manusia.

    Sementara itu, CEO Nvidia, Jensen Huang, berpendapat bahwa pekerja tidak akan kehilangan pekerjaan mereka karena AI, tetapi mereka mungkin akan kehilangan pekerjaan kepada orang lain yang menggunakan AI.

    Peneliti yang mempelajari adopsi ChatGPT di Denmark menemukan bahwa separuh pekerja yang disurvei telah menggunakan alat AI generatif tersebut. Pekerja muda yang kurang berpengalaman, berpencapaian tinggi, dan mayoritas laki-laki mendominasi pengadopsian ChatGPT.

    Studi ini menunjukkan bahwa meskipun pekerja melihat potensi produktivitas yang substansial dalam ChatGPT, pembatasan dari pemberi kerja dan kebutuhan pelatihan menghambat adopsi penuh.

    Pekerja pun tampaknya tidak takut pada ancaman kehilangan pekerjaan sebagai alasan untuk menghindari teknologi ini.

    Baca: Pekerjaan yang tak akan tergantikan oleh AI

    Bukti menunjukkan beberapa strategi bagi pekerja dan organisasi untuk menghadapi transisi ini:

    1. Pentingnya pembelajaran seumur hidup
    Pekerja perlu terus memperbarui keterampilan mereka, terutama untuk bisa memaksimalkan AI, seperti pemikiran kritis dan pemecahan masalah kompleks.

    2. Nilai literasi AI
    Memahami cara menggunakan alat AI secara efektif menjadi sama pentingnya dengan keterampilan kerja tradisional.

    3. Kebutuhan organisasi untuk beradaptasi
    Perusahaan harus berinvestasi dalam pelatihan dan pengembangan karyawan sambil menerapkan pedoman yang jelas untuk penggunaan AI.

    Adopsi AI generatif yang cepat berarti perubahan ini terjadi lebih cepat dibandingkan transformasi teknologi sebelumnya.

    Pekerja dan organisasi yang beradaptasi dengan cepat kemungkinan akan memiliki keuntungan signifikan dibandingkan mereka yang tertinggal.

    Baca: Pahami etika saat menggunakan AI

    AI tak menggantikan manusia, 
    Pandangan Siemiatkowski dan Huang menggambarkan kemungkinan yang berbeda di masa depan tentang dukungan AI.

    Bukti menunjukkan bahwa baik penggantian total pekerja manusia maupun kondisi bisnis seperti biasa tidak mungkin terjadi. Sebaliknya, kita memasuki periode ketika kemampuan untuk bekerja bersama AI akan semakin menentukan kesuksesan karier.

    Bukti awal bahwa AI dapat membantu mengurangi kesenjangan bagi pekerja kurang berpengalaman sangat menggembirakan.

    Tetapi, pelajaran terpenting dari prediksi kedua CEO ini adalah: meskipun kita tidak dapat mengontrol bagaimana AI akan mengubah industri, kita dapat mengontrol seberapa baik kita beradaptasi dengannya.

    Dalam lanskap baru ini, kunci keamanan pekerjaan bukanlah melawan AI atau menerimanya secara pasif, melainkan secara aktif memilih untuk menjadi orang yang menggunakan AI daripada orang yang digantikan oleh seseorang yang melakukannya.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Marcel Lukas (Senior Lecturer in Banking and Finance and Director of Executive Education, University of St Andrews)

  • Marak Bencana Alam di Indonesia, BMKG Kembangkan Sistem Peringatan Dini Berbasis AI

    Marak Bencana Alam di Indonesia, BMKG Kembangkan Sistem Peringatan Dini Berbasis AI

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengembangkan inisiatif Climate Smart Indonesia yang kini tengah memproses sistem peringatan dini multi-bahaya.

    Inisiatif Climate Smart Indonesia ini berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

    Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menjelaskan sistem ini dirancang tidak hanya untuk memperingatkan potensi bencana alam seperti gempa dan tsunami, tetapi juga untuk mendeteksi dini lonjakan penyakit yang sensitif terhadap iklim.

    “Dengan teknologi saat ini, BMKG bisa memprediksi musim hingga enam bulan ke depan dengan akurasi 85 persen. Dengan bantuan AI, prediksi ini bisa lebih akurat dan presisi, hingga skala kota, kabupaten atau bahkan satu desa,” jelas Dwikorita dalam keterangan persnya.

    Baca: Tren bencana banjir di Indonesia mengkhawatirkan

    Dalam mengembangkan sistem ini, BMKG bekerjasama dengan Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial (KORIKA), Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

    Selain itu, pengembangan sistem peringatan dini multibahaya tersebut juga didukung oleh Institute for Health Modeling and Climate Solutions (IMACS) dan Mohamed bin Zayed University of Artificial Intelligence (MBZUAI).

    Tak hanya mengembangkan sistem peringatan dini multibahaya, Dwikorita menerangkan pihaknya juga mengembangkan platform layanan seperti DBDKlim, yang telah diterapkan di Jakarta dan Bali.

    Platform ini untuk memberikan peringatan dini terhadap potensi lonjakan kasus demam berdarah.

    Dengan demikian pemerintah daerah dapat mengantisipasi melakukan berbagai langkah seperti fogging, edukasi masyarakat, dan pemberantasan sarang nyamuk secara terarah dan tepat waktu.

    Baca: Baleg DPR dorong RUU Keadilan Iklim segera disahkan

  • Siswa SD Akan Diajari Coding dan AI, Pakar Ingatkan Dampak Negatifnya

    Siswa SD Akan Diajari Coding dan AI, Pakar Ingatkan Dampak Negatifnya

    7cloud.asia – Pemerintah berencana memasukkan pendidikan kecerdasan buatan (AI) dan coding pada tahun ajaran 2025/2026 sebagai mata pelajaran (mapel) pilihan untuk anak kelas 5 Sekolah Dasar.

    Menurut Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, pengajaran coding dan AI ini sebagai bagian dari upaya mempersiapkan generasi muda yang kompetitif dan mampu bersaing di kancah global.

    Menanggapi rencana pengajaran AI sejak dini ke siswa SD, Iradat Wirid, peneliti transformasi digital dari Center for Digital Society (CfDS) UGM, menyatakan pemerintah tidak perlu terburu-buru untuk memberikan pendidikan AI dan Coding bagi siswa SD.

    Dilansir ugm.ac.id, Iradat menilai, pemerintah terkesan latah dalam menanggapi tren teknologi AI dan kurang memperhatikan kondisi anak-anak Indonesia pada umumnya.

    Dia mengingatkan, pengajaran coding tanpa pertimbangan yang cermat dapat memberikan dampak negatif bagi anak jika tidak diperkuat dengan literasi digital yang cukup.

    “Dalam pelaksanaannya, kita perlu penyampaian materi yang berjenjang. Jangan sampai kita langsung mengajarkan aplikasi AI ke anak SD, itu akan jadi bencana. Kita harus membekali anak dengan logika, etika, dan literasi digital terlebih dahulu,” tegasnya, Senin (19/5/2025).

    Baca: Pendidikan gratis masih sebatas slogan

    Iradat menilai ada tiga fondasi penting yang harus melekat dalam kurikulum AI untuk pendidikan dasar dan menengah di Indonesia.

    Pertama adalah soal etika. Menurutnya, pengenalan AI kepada pelajar tidak boleh semata-mata menonjolkan kecanggihan aplikasi, tapi harus disertai pemahaman soal hak, dampak, dan batasan penggunaannya.

    “Jangan sampai hanya sebatas mengajarkan penggunaan aplikasinya saja. Apalagi mengajarkan cara pakai ChatGPT ke anak SD karena kita akan melahirkan generasi yang instan,” paparnya.

    Kedua, soal literasi. Ia menilai literasi digital pelajar perlu ditata ulang secara mendasar dengan mencakup kemampuan memilah informasi yang layak, memahami aturan, dan mengetahui mana yang etis serta legal dalam konteks penggunaan teknologi.

    “Teknologi harus dikendalikan manusia, bukan kita yang terombang-ambing. Pendekatan berbasis kemanusiaan salah satunya melalui literasi digital yang terus ditingkatkan harus menjadi dasar,” ungkapnya

    Baca: Revisi UU Sisdiknas akan mengatur wajib belajar 13 tahun

    Ketiga, kemampuan berpikir kritis. Iradat mengingatkan, kehadiran teknologi baru harus menumbuhkan nalar kritis pelajar, bukan malah membuat mereka pasif.

    “Kalau AI hanya jadi alat yang meninabobokan, itu akan sia-sia. Anak-anak harus diajak mempertanyakan, mengkritisi, dan memahami dampak teknologi,” ujarnya.

    Lebih lanjut, Iradat menyebut sejumlah negara yang dapat digunakan sebagai cerminan. Menurutnya, Indonesia harus belajar dari pengalaman baik di negara global, tetapi disesuaikan dengan konteks budaya dan kesiapan lokal.

    China misalnya, membangun pendidikan AI terintegrasi dari Bawah untuk mendukung industri teknologi mereka. Selain itu, India juga fokus membentuk sumber daya manusia digital sejak tingkat menengah.

    Sementara Brasil mendorong pendidikan AI terapan di level vokasi. Pun di Swedia, siswa kelas 1-3 sudah dikenalkan pada matematika dasar yang dikaitkan dengan teknologi, juga studi sosial agar mereka paham dampak sosial teknologi.

    Baca: Maju mundur penerapan penjurusan di SMA

    “Ini penting, supaya coder masa depan tetap punya kepekaan manusiawi, bukan cuma asal bisa pakai aplikasi,” jelasnya.

    Iradat juga menekankan bahwa pendidikan AI harus butuh kesinambungan lintas kurikulum.

    Menurutnya, Indonesia sudah termasuk tertinggal melaksanakan ini, tetapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, asal program ini selalu dikawal dengan konsisten dan kurikulumnya tidak bergonta-ganti.

    “Asal jangan sampai tidak diteruskan lagi setelah 5 tahun berlalu,” tambahnya.

    Dalam konteks implementasi, Iradat optimistis guru-guru Indonesia mampu mengajarkan logika penerapan dan pemahaman dasar tentang AI, asalkan didukung kebijakan yang serius dan fasilitasi pemerintah daerah.

    “Sebenarnya guru-guru kita mampu karena itu basic pengajaran. Dananya juga kita lihat ada. Tinggal mau atau tidak mencerdaskan bangsa ini sepenuh hati,” pungkasnya

    Baca: Mengapa perubahan kurikulum sering terjadi di Indonesia?

  • Hati-hati! Terlalu Bergantung pada AI Bisa Menurunkan Kemampuan Otak

    Hati-hati! Terlalu Bergantung pada AI Bisa Menurunkan Kemampuan Otak

    7cloud.asia – Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) bagi banyak orang sangat membantu menyelesaikan tugas-tugas mereka. Namun, terlalu bergantung pada AI bisa berdampak buruk pada kemampuan otak.

    Demikian hasil penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Massachusetts Institute of Technology di Amerika Serikat.

    Hasil studi yang dirilis di Psychology Today pada 19 Juni 2025 memperlihatkan adanya penurunan kemampuan otak pada mereka mengandalkan alat untuk menyelesaikan tugas-tugas kognitif seperti menulis esai.

    Dalam studi bertajuk Your Brain on ChatGPT: Accumulation of Cognitive Debt when Using an AI Assistant for Essay Writing Task itu, peneliti mendapati bahwa penggunaan ChatGPT dapat melemahkan konektivitas saraf, memori, dan rasa kepemilikan peserta atas tulisan mereka.

    Walaupun memudahkan penyelesaian tugas, kurangnya upaya yang diperlukan dalam mengerjakan tugas menggunakan alat AI seiring waktu dapat menumpulkan kognisi, pemikiran kritis, dan kreativitas.

    Baca: Sederet ekses negatif penggunaan AI

    Penelitian melibatkan 54 mahasiswa, dan peneliti membagi peserta menjadi tiga kelompok dan melakukan penilaian pada mereka selama empat bulan.

    Kelompok pertama secara eksklusif menggunakan ChatGPT untuk menulis esai, kelompok kedua menggunakan alat pencarian web tradisional seperti Google (tanpa AI), dan kelompok ketiga menulis esai menggunakan ingatan dan penalaran mereka.

    Setiap kelompok diminta menulis esai berdasarkan pertanyaan dalam Tes Penilaian Skolastik.Pada sesi keempat yang bersifat kejutan dan opsional, para peserta bertukar.

    Beberapa orang yang sebelumnya menggunakan ChatGPT diminta menulis tanpa bantuan AI dan beberapa anggota kelompok yang mengandalkan kemampuan otak untuk menulis esai dikenalkan pada ChatGPT.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas dan konektivitas saraf lebih rendah saat menggunakan AI.

    Baca: Sejumlah negara mulai rumuskan regulasi penggunaan AI

    Semakin banyak bantuan AI yang digunakan, semakin rendah keterlibatan jaringan otak utama, terutama yang berhubungan dengan memori, perhatian, dan fungsi eksekutif.

    Sebagian besar pengguna ChatGPT kesulitan mengutip secara akurat bagian dari esai mereka sendiri, berbeda dengan mereka yang hanya mengandalkan otak atau pencarian tradisional.

    Pengguna AI memiliki rasa kepemilikan terhadap tulisan yang lebih beragam, dengan beberapa peserta mengklaim kepemilikan tulisan sepenuhnya dan yang lainnya tidak merasa demikian.

    Kepuasan terhadap esai pada anggota kelompok pengguna AI beragam, tetapi konsisten lebih tinggi pada anggota kelompok pengguna mesin pencari.

    Para peneliti menyebut efek ini sebagai “utang kognitif”, mengacu pada bagaimana ketergantungan berulang terhadap sistem AI dapat merusak proses kognitif yang mendasari pemikiran mandiri.

    Utang kognitif ini menggambarkan bahwa manfaat jangka pendek dari produktivitas dan beban mental yang lebih rendah dalam jangka panjang dapat menurunkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, pembelajaran, dan daya ingat.

    Baca: Strategi beradaptasi dengan perkembangan AI

  • Riset: Penulisan Esai dengan Menggunakan AI Hasilkan Penyeragaman Tapi Ahli Bisa Bedakan Esai yang Dibuat Secara Manual

    Riset: Penulisan Esai dengan Menggunakan AI Hasilkan Penyeragaman Tapi Ahli Bisa Bedakan Esai yang Dibuat Secara Manual

    7cloud.asia – Hasil penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti Massachusetts Institute of Technology di Amerika Serikat mengungkap penggunaan dukungan kecerdasan buatan (Artificial Intelengence/AI) dalam menulis esai memunculkan efek penyeragaman.

    Penelitian bertajuk Your Brain on ChatGPT: Accumulation of Cognitive Debt when Using an AI Assistant for Essay Writing Task ini melibatkan 54 mahasiswa, dan peneliti membagi peserta menjadi tiga kelompok dan melakukan penilaian pada mereka selama empat bulan.

    Kelompok pertama secara eksklusif menggunakan ChatGPT untuk menulis esai, kelompok kedua menggunakan alat pencarian web tradisional seperti Google (tanpa AI), dan kelompok ketiga menulis esai menggunakan ingatan dan penalaran mereka.

    Hasilnya dirilis di Psychology Today pada 19 Juni 2025, di mana peneliti mendapati bahwa penggunaan ChatGPT dapat melemahkan konektivitas saraf, memori, dan rasa kepemilikan peserta atas tulisan mereka.

    Terkait penyeragaman, laporan itu menyebut esai yang dihasilkan oleh kelompok pengguna AI cenderung lebih homogen, sedangkan anggota kelompok yang hanya mengandalkan otak saja menunjukkan jawaban yang lebih beragam.

    Baca: Terlalu bergantung pada AI bisa menurunkan kemampuan otak

    Sementara itu, kelompok yang menggunakan mesin pencari esainya sangat dipengaruhi oleh konten yang dioptimalkan untuk mesin pencari.

    Menariknya, guru manusia mampu mendeteksi pola dalam konten yang dihasilkan menggunakan AI dan memberi skor yang lebih rendah dalam hal orisinalitas dan struktur.

    Namun, penilai yang didukung AI memberikan skor lebih tinggi pada esai yang dihasilkan AI.

    Upaya kognitif mendorong pertumbuhan aktif dan neuroplastisitas, proses yang melibatkan perubahan struktural dan fungsional adaptif pada otak.

    Tantangan kognitif dalam proses pembelajaran memperkuat jalur saraf, meningkatkan daya ingat, dan membangun kemampuan berpikir kritis.

    Baca: Sederet ekses negatif penggunaan AI

    Penggunaan AI membuat upaya kognitif menjadi terabaikan dan ini bisa menurunkan ketahanan kognitif (daya tahan mental yang dibangun dengan usaha), kesadaran metakognitif (berpikir tentang berpikir), serta konsolidasi memori.

    Namun, bukan berarti penggunaan AI harus sepenuhnya dihindari. Solusinya adalah menemukan cara menggunakan AI yang dapat meminimalkan utang kognitif.

    Mempertimbangkan proses pembelajaran kolaboratif dan aktif yang mengintegrasikan AI dapat lebih membantu meningkatkan neuroplastisitas.

    AI juga bisa dijadikan sebagai bantuan pada titik awal. Misalnya, menggunakan AI untuk menulis tetapi secara aktif merevisi, mengkritik, atau menulis ulang dengan kata-kata sendiri dapat membantu mengurangi utang kognitif jangka panjang.

    Perlu pula untuk memeriksa apakah penggunaan AI sudah berlebihan. Kalau tidak lagi merasa tertantang secara mental atau ingin tahu setelah menggunakan AI, mungkin itu sinyal bahwa penggunaannya sudah berlebihan.

    Baca: Etika dalam menggunakan AI

    Di samping itu, penting untuk menyeimbangkan kemudahan dengan usaha. Pilih dengan bijak tugas mana yang bisa dikerjakan dengan bantuan AI dan perlu dikerjakan sendiri.

    Seperti dalam melatih otot, prinsip “pakai atau hilang” juga relevan dalam penggunaan otak.

    Menstimulasi otak memang memerlukan usaha, tapi tantangan inilah yang dapat meningkatkan neuroplastisitas dan daya ingat.

    Hasil studi yang dirilis di Psychology Today pada 19 Juni 2025 memperlihatkan adanya penurunan kemampuan otak pada mereka mengandalkan alat untuk menyelesaikan tugas-tugas kognitif seperti menulis esai.

  • Makin Banyak Orang yang Curhat dengan AI: Mengapa AI Bisa Membuat Nyaman?

    Makin Banyak Orang yang Curhat dengan AI: Mengapa AI Bisa Membuat Nyaman?

    7cloud.asia – Seiring berkembangnya era digital, sejumlah riset menunjukkan munculnya fenomena baru: chatbot AI mulai digunakan sebagai teman curhat, terutama di kalangan kaum muda.

    Bagi mereka, AI seperti ChatGPT, Replika, atau asisten virtual lainnya bisa menjadi konsultan profesional hingga teman diskusi untuk menemukan solusi persoalan sehari-hari.

    Dua penelitian tentang teknologi dan perilaku manusia menemukan bahwa sebagian orang mulai menjalin hubungan sosial, bahkan emosional, dengan AI.

    Ikatan yang terbentuk dengan AI bukan hanya interaksi teknis biasa, melainkan berkembang menjadi ikatan psikologis.

    Dalam beberapa kasus, AI bahkan sudah dianggap sebagai sahabat hingga pasangan virtual. Rasa aman dan perasaan dimengerti menjadi alasan utama orang memilih berkomunikasi dengan AI.

    Baca: Sepertiga anak muda rentan alami masalah kesehatan mental

    Namun, hubungan semu semacam ini menyimpan risiko. Ketergantungan berlebih pada AI bisa menjauhkan seseorang dari realitas sosial, menurunkan motivasi untuk berinteraksi dengan sesama, bahkan memicu gangguan mental.

    Oleh karena itu, pendekatan etis dalam pengembangan AI perlu segera dilakukan.

    Mengapa AI bisa mengerti kita?
    Tanpa kita sadari, komunikasi yang intens dengan chatbot akan memberi ruang bagi AI untuk mengenal penggunanya. Teknologi ini belajar dari data dan membentuk pola interaksi.

    Riset terbaru mengungkap bagaimana desain AI yang menyerupai manusia—disebut antropomorfisme—dapat memunculkan empati pengguna. Sifat-sifat seperti suara ramah, respons emosional, atau kepribadian dalam chatbot membuat AI terasa lebih “hidup”.

    Saat seseorang mencurahkan perasaan, respons AI bisa membuat pengguna nyaman, merasa didengar dan dipahami, meskipun chatbot sebenarnya tidak memiliki emosi.

    Baca: Gangguan kesehatan mental di Indonesia terus meningkat

    Riset menunjukkan chatbot mampu memberikan saran dan masukan yang membantu pengguna memahami masalah mereka sendiri.

    Secara teknis, AI memang dirancang untuk memahami kebutuhan manusia melalui analisis data dan algoritma dalam setiap pola interaksi, preferensi, hingga emosi pengguna.

    Dengan teknologi Natural Language Processing (NLP), AI bisa memahami konteks percakapan dan merespons seolah ia benar-benar memahami lawan bicaranya.

    Rasa aman dan dimengerti ini membuat banyak orang merasa nyaman membuka diri kepada AI. Mereka AI tidak akan menghakimi dan selalu “hadir” saat dibutuhkan.

    Namun, penting diingat bahwa hubungan antarmanusia tetap tidak tergantikan dalam memenuhi kebutuhan emosional dan sosial secara utuh.

    Meskipun bisa memberi rasa nyaman, keterikatan emosional dengan AI menyimpan sejumlah risiko serius. Apa saja risikonya, akan kami ulas dalam tulisan selanjutnya.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Dyana Chusnulitta Jatnika (Dosen Kesejahteraan Sosial, Universitas Padjadjaran)

  • Hati-hati! Ketergantungan Emosional kepada AI BIsa Memicu Gangguan Kesehatan Mental

    Hati-hati! Ketergantungan Emosional kepada AI BIsa Memicu Gangguan Kesehatan Mental

    7cloud.asia – Seiring berkembangnya era digital, sejumlah riset menunjukkan munculnya fenomena baru: chatbot AI mulai digunakan sebagai teman curhat, terutama di kalangan kaum muda.

    Dua penelitian tentang teknologi dan perilaku manusia menemukan bahwa sebagian orang mulai menjalin hubungan sosial, bahkan emosional, dengan AI. Ikatan yang terbentuk dengan AI bukan hanya interaksi teknis biasa, melainkan berkembang menjadi ikatan psikologis.

    Meskipun bisa memberi rasa nyaman, keterikatan emosional dengan AI menyimpan sejumlah risiko serius. Apa saja risikonya, akan kami ulas dalam tulisan selanjutnya.

    Berikut sejumlah risiko yang membayangi akibat ketergantungan emosional kepada AI:

    1. Terputus dari relasi sosial nyata
    Ketergantungan emosional pada AI berpotensi menarik seseorang dari relasi sosial nyata antarmanusia.

    Hal ini berisiko melemahkan kemampuan dan motivasi untuk bersosialisasi, yang sebenarnya penting untuk kesehatan mental dan keseimbangan hidup.

    Hubungan yang terlalu dalam dengan AI bisa menciptakan ekspektasi tidak realistis dalam menjalin relasi dengan manusia lain, bahkan bisa memperdalam rasa kesepian.

    Baca: Kiat memilih buku self help yang berdampak pada kesehatan mental

    2. AI bisa manipulatif juga
    Belakangan muncul perdebatan bahwa AI bisa didesain untuk memengaruhi perilaku pengguna. Hubungan emosional yang terbangun bisa dimanfaatkan untuk mendorong konsumsi, loyalitas, atau perilaku lain yang menguntungkan pihak tertentu.

    Penelitian 2024 menunjukkan bagaimana penggunaan AI dalam pemasaran di media sosial mampu memperkuat keterikatan emosional antara pengguna dan merek.

    Ketika pengguna secara intens berkomunikasi dengan akun brand tertentu, AI merekam pola dan preferensi mereka. AI kemudian menyajikan rekomendasi produk yang disesuaikan, seolah-olah memahami kebutuhan pengguna secara personal.

    Ketika pengguna mulai merasa “nyaman” dan “dimengerti,” keterikatan ini berpotensi dimanfaatkan untuk meningkatkan loyalitas dan mendorong keputusan untuk membeli produk, tanpa disadari sepenuhnya oleh pengguna.

    3. Kesehatan mental
    Meskipun tidak secara langsung menimbulkan gangguan kesehatan mental, penelitian menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap AI berpotensi menimbulkan gejala kecemasan, memperkuat isolasi sosial, hingga mengurangi resiliensi emosional.

    Baca: Sepertiga anak muda rentan alami masalah kesehatan mental

    Bahkan, dalam jangka panjang mampu melemahkan kemampuan manusia untuk mengelola emosi tanpa bantuan teknologi. Relasi dengan AI yang tidak dikelola dengan baik dapat mengganggu keseimbangan psikologis.

    Pada akhirnya, AI yang mungkin awalnya diciptakan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia, justru bisa menciptakan kerentanan baru.

    Perlu penyeimbang
    Menghindari dampak negatif dari ketergantungan emosional pada AI bukan berarti harus melarang penggunaannya. Hal yang dibutuhkan adalah pendekatan yang bisa menyeimbangkan antara pemanfaatan teknologi dan perlindungan bagi penggunanya.

    Salah satu pendekatannya adalah prinsip ethics of care, yang menekankan pentingnya hubungan antar individu, empati, tanggung jawab, dan perhatian pada kesejahteraan pengguna dalam jangka panjang.

    Namun, implementasi dari ethics of care tidak akan optimal tanpa dukungan sistemik yang berkelanjutan.

    Diperlukan kebijakan publik dan regulasi teknis yang mengikat untuk menetapkan standar desain AI yang bertanggung jawab, terutama untuk melindungi kelompok masyarakat rentan (anak-anak, remaja, lansia, orang dengan disabilitas) dari desain AI yang manipulatif.

    AI berpotensi meningkatkan keterasingan sosial dan memperluas jarak emosional antar manusia. Namun, jika dirancang dengan etika relasional, AI akan mampu menjadi sarana untuk memperkuat empati, koneksi, dan solidaritas.

    Sebagai pengguna, kita perlu memahami bagaimana AI bekerja dan bagaimana ia memengaruhi emosi kita.

    Literasi emosional digital menjadi penting agar kita tidak hanya tahu cara menggunakan teknologi, tetapi juga menyadari dampaknya terhadap kehidupan kita.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Dyana Chusnulitta Jatnika (Dosen Kesejahteraan Sosial, Universitas Padjadjaran)

  • AI Bisa Salah Diagnosis: 3 Kesalahan yang Umum Ditemukan Saat Curhat dengan AI

    AI Bisa Salah Diagnosis: 3 Kesalahan yang Umum Ditemukan Saat Curhat dengan AI

    7cloud.asia – Fenomena curhat dengan chatbot kecerdasan buatan (AI) sedang marak, bukan hanya di kalangan Gen Z dan Milenial, tapi juga usia lanjut (lansia).

    Kehadiran AI seolah jadi obat mujarab untuk mengisi kesepian yang rentan kita alami di era serba digital ini.

    Di Indonesia, sebuah survei pada 2025 menunjukkan bahwa 58 persen (dari 3.611 responden) bahkan mempertimbangkan AI sebagai pengganti psikolog.

    Beberapa orang menilai bahwa AI lebih mudah diakses kapan pun dibutuhkan. Biayanya lebih terjangkau dibandingkan psikolog atau psikiater.

    Namun, di balik segala kemudahan yang ditawarkan, AI memiliki sejumlah kelemahan. Kita perlu berpikir ulang jika ingin menjadikan teknologi ini sebagai pengganti praktisi kesehatan mental sepenuhnya. Hal ini terutama terkait dengan keamanan dan keakuratan saran psikologis yang diberikan AI.

    Artikel ini akan menjelaskan mengapa kita sebaiknya tetap harus berkonsultasi dengan psikolog/psikiater, alih-alih mengandalkan AI dalam mengatasi kondisi mental.

    Baca: Makin banyak orang yang curhat dengan AI

    AI rentan membuat kesalahan
    Curhat dengan chatbot AI mungkin bisa membuat kita terbuai karena teknologi ini dirancang menyerupai sifat-sifat manusia (antropomorfisme).

    AI bisa bersikap hangat, memberikan respons emosional, berkomunikasi dengan ramah, dan menjawab nyaris semua pertanyaan tanpa membuat kita merasa dihakimi.

    Kemampuan tersebut tak lepas dari sistem pembelajaran bahasa AI yang menjadikan teknologi ini serba tahu dan seolah memahami kita.

    AI memiliki sistem pengolahan bahasa alami (NLP) untuk memahami dan berinteraksi layaknya manusia. Teknologi ini juga dikembangkan dengan sistem model bahasa besar (LLM) yang membuat pengetahuan AI sangat luas.

    Berkat rancangan tersebut, AI sanggup menganalisis dan menjelaskan nyaris semua hal yang kita tanyakan. Ditambah lagi, AI juga belajar menggunakan algoritme dari data dan pola interaksi dengan pengguna.

    Namun di sinilah masalahnya. Karena hanya dilatih berdasarkan pola dari preferensi pengguna, tanpa akal sehat maupun empati, AI rentan bias dan keliru dalam mengenali gejala maupun memberikan saran psikologis.

    Baca: Ketergantungan emosional kepada AI memicu gangguan kesehatan mental

    1. Salah diagnosis
    Peneliti dari Google DeepMind mengungkapkan bahwa kecerdasan buatan bisa memberikan informasi dan diagnosis yang keliru, meskipun AI telah dilatih menggunakan data yang beragam dan berukuran sangat besar.

    Kondisi ini terjadi karena sistem AI hanya bisa bekerja dengan baik menggunakan pola data yang terkontrol. Akibatnya, AI kesulitan mengenali keadaan mental pasien yang tidak biasa, terselubung, dan membutuhkan pengamatan jangka panjang.

    Contohnya, AI akan kesulitan mengenali pasien dengan smiling depression, yakni seseorang yang tindakan dan ucapannya terlihat bahagia, padahal depresi berat.

    Sementara itu, psikolog dan pskiater terlatih untuk membaca bahasa tubuh, ekspresi, dan gejala-gejala masalah mental yang tak terucapkan oleh pasien.

    Contohnya, ketika kamu bilang “enggak apa-apa”, AI mungkin akan percaya begitu saja. Namun, psikolog bisa mengenali sesuatu yang tidak beres di balik jawabanmu.

    Karena “enggak apa-apa”-nya kamu justru bisa jadi tanda kuat bahwa kamu membutuhkan pertolongan.

    Baca: Anak muda rentan alami masalah kesehatan mental

    2. Rentan halusinasi
    AI dirancang untuk selalu merespons, kendati dia tidak memiliki basis data yang cukup mengenai hal yang kita tanyakan.

    Selain itu, AI mengoleksi pengetahuan berdasarkan rekomendasi algoritme dari mesin pencarian berbasis engagement alias keterlibatan pengguna (seperti Google dan Youtube).

    Dampaknya, AI sering kali memaksakan jawaban yang sebenarnya tidak relevan ketika menjawab topik yang belum dia pahami atau informasinya masih minim di internet.

    Untuk konsultasi kesehatan mental, dampaknya bisa sangat buruk. Studi tahun 2025 dalam Journal of Medical Internet Research mengungkapkan bahwa AI rentan berhalusinasi, bahkan mendorong pengguna untuk bunuh diri.

    Pasalnya, AI tidak memiliki kemampuan untuk menilai risiko kondisi lawan bicaranya yang memiliki tendensi untuk menyakiti diri sendiri.

    Hal ini berbeda dengan psikolog dan psikiater yang menjalani pelatihan klinis untuk memahami diagnosis, menyusun tindakan yang sesuai, serta menilai risiko secara mendalam dengan pendekatan berbasis bukti.

    Baca: Terlalu bergantung pada AI menurunkan kemampuan otak

    3. Bisa diskriminatif
    AI rentan memberikan penilaian tidak adil terhadap ras atau etnis tertentu (bias rasial), terlebih ketika data mengenai kelompok minoritas masih sangat minim.

    Ditambah lagi, penelitian psikologi masih banyak berfokus pada orang-orang kulit putih, berpendidikan tinggi, di negara kaya, dan demokratis.

    Akibatnya, AI berisiko memberikan diagnosis yang keliru dan diskriminatif terhadap kelompok minoritas. AI juga tidak mampu membuat keputusan klinis yang adaptif.

    Bias rasial mungkin akan lebih minim didapati dari seorang psikolog atau psikiater yang memiliki kode etik berupa larangan melakukan tindakan diskriminatif terhadap pasien.

    Selain itu, psikolog atau psikiater terlatih untuk memberikan respons yang tepat seusai kondisi pasien.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Ali Akbar Septiandri (PhD Candidate in Statistical Science, UCL) dan Jessica Christina Widhigdo (Dosen School of Psychology, Universitas Ciputra)

  • AI Bisa Salah Diagnosis: Konsultasi Kesehatan Mental Sebaiknya ke Profesional

    AI Bisa Salah Diagnosis: Konsultasi Kesehatan Mental Sebaiknya ke Profesional

    7cloud.asia – Fenomena curhat dengan chatbot kecerdasan buatan (AI) sedang marak, bukan hanya di kalangan Gen Z dan Milenial, tapi juga mereka yang sudah lanjut usia (lansia).

    Namun, di balik segala kemudahan yang ditawarkan, AI memiliki sejumlah kelemahan. Kita perlu berpikir ulang jika ingin menjadikan teknologi ini sebagai pengganti praktisi kesehatan mental sepenuhnya.

    Hal ini terutama terkait dengan keamanan dan keakuratan saran psikologis yang diberikan AI.

    Curhat dengan chatbot AI mungkin bisa membuat kita terbuai karena teknologi ini dirancang menyerupai sifat-sifat manusia (antropomorfisme). Namun, AI juga rentan membuat kesalahan.

    Karena hanya dilatih berdasarkan pola dari preferensi pengguna, tanpa akal sehat maupun empati, AI rentan bias dan keliru dalam mengenali gejala maupun memberikan saran psikologis.

    Baca: Kesalahan yang umum ditemukan saat curhat dengan AI

    Beberapa kesalahan yang ditermukan terkait penggunaan AI antara lain adalah salah diagnosis, rentan halusinasi dan bisa diskriminatif

    Karena itu konsultasi kesehatan mental lebih disarankan ke profesional, baik psikolog maupun psikiater.

    AI memang pintar, tapi bukan manusia. Curhat mengenai masalah personal hingga krisis hidup ke sebuah sistem yang tidak mampu merasakan empati, justru berisiko memperburuk keadaan.

    Dampak negatif curhat dengan AI bisa memperkuat gangguan kecemasan, khususnya bagi orang dengan gangguan obsesif-kompulsif (OCD). Pasalnya, interaksi intens dan respons tanpa batas dari AI, memperkuat perilaku berulang (kompulsif).

    Meski begitu, AI mungkin bisa dimanfaatkan sekadar sebagai pelengkap, seperti membantu praktisi merangkum transkrip dari sesi konsultasi dengan pasien.

    Baca: Ketergantungan emosional kepada AI memicu gangguan kesehatan mental

    AI juga bisa dimanfaatkan untuk mengenalkan teknik terapi perilaku kognitif (CBT) dasar, memantau suasana hati, serta latihan pernapasan.

    Pada akhirnya, dalam menghadapi kasus seperti trauma, depresi berat, atau pikiran untuk bunuh diri, pendekatan yang penuh empati dan penanganan langsung dari profesional bukan hanya penting, tapi mutlak.

    Sebab, memahami manusia bukan hanya soal algoritme, tapi juga membutuhkan keahlian, empati, dan pengalaman klinis.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Ali Akbar Septiandri (PhD Candidate in Statistical Science, UCL) dan Jessica Christina Widhigdo (Dosen School of Psychology, Universitas Ciputra)

  • Mewujudkan Jurnalisme Inklusif dan Sensitif Gender di Era AI

    Mewujudkan Jurnalisme Inklusif dan Sensitif Gender di Era AI

    7cloud.asia – Di tengah derasnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), praktik jurnalisme ditantang untuk tetap berpihak pada kemanusiaan, kesetaraan gender dan inklusivitas.

    Teknologi AI memberikan peluang sekaligus tantangan besar kepada para jurnalis untuk menjalankan fungsinya sebagai salah satu pilar demokrasi sekaligus agen perubahan, khususnya dalam kesetaraan gender.

    CEO RNW Media, Wouter van Tongeren, mengatakan, kebebasan media adalah fondasi demokrasi, karena itu pihaknya berkomitmen memastikan teknologi digunakan untuk memperkuat suara-suara yang kerap terpinggirkan, bukan untuk membungkamnya.

    ”Dengan kampanye global ini, kami berharap jurnalis semakin percaya diri menggunakan AI secara etis sekaligus menempatkan nilai kemanusiaan di garis depan.” ujar Wouter dalam rekaman video yang diputar dalam pembukaan seminar “Jurnalisme Inklusif dan Sensitif Gender di Era AI untuk Isu HKSR” pada Kamis (21/8/2025) di Jakarta.

    Seminar hasil kerja bareng RNW Media bersama Campaign For Good, Yayasan Gemilang Sehat Indonesia ini adalah bagian kampanye global yang mendorong kebebasan pers dan kualitas jurnalisme yang etis, inklusif, serta berperspektif gender di tengah transformasi digital.

    Melalui diskusi panel, studi kasus, hingga praktik langsung, peserta diajak untuk mengidentifikasi bias gender dalam pemberitaan, menyusun ulang narasi yang lebih berimbang, sekaligus memanfaatkan AI sebagai alat bantu verifikasi data tanpa menghilangkan sentuhan humanis.

    Baca: Pemahaman kesetaraan gender penting untuk cegah kekerasan seksual

    Selain paparan tiga narasumber dari tiga perspektif yang berbeda, para jurnalis perempuan juga mengikuti workshop interaktif berupa praktik penulisan konten inklusif dan bedah kasus pemberitaan yang bias gender.

    Mereka dilatih untuk mengembangkan narasi yang lebih berperspektif gender sekaligus bagaimana caranya memanfaatkan teknologi digital secara bijak untuk menyuarakan isu HKSR.

    Purnama Ayu Rizky, Managing Editor Magdalene, menegaskan bahwa media masih kerap bias dalam memilih narasumber maupun menyajikan berita.

    Ia menekankan pentingnya empati para jurnalis agar pemberitaan tidak menimbulkan viktimisasi terhadap korban dan kelompok rentan, obyektifikasi ataupun diskriminasi terhadap kelompok tertentu.

    Menurutnya, etika jurnalistik harus menjadi benteng menghadapi algoritma AI yang rawan memperkuat stereotip gender.

    Dari sisi lapangan, Aisha Shaidra, jurnalis Tempo, membagikan pengalaman langsung dalam meliput isu sensitif gender dan HKSR.

    Baca: Aborsi pada korban perkosaan tak seharusnya dilarang

    Ia menyoroti peluang pemanfaatan kecerdasan buatan AI untuk mendukung verifikasi data dengan tetap menjaga nilai kemanusiaan. AI, ujarnya tidak akan bisa menggantikan manusia, tetapi hanya menjadi alat bantu yang memudahkan kerja-kerja jurnalistik.

    “Dengan kepekaan para jurnalis dapat menempatkan AI bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai mitra untuk memperkuat kualitas jurnalisme yang adil, etis, dan inklusif,“ ujarnya.

    Sementara, Communication & Campaign Manager Yayasan Gemilang Sehat Indonesia, Indira Susatio menekankan pentingnya komunikasi sensitif gender untuk isu hak kesehatan seksual dan reproduksi (HKSR).

    Ia menyoroti bagaimana narasi media dapat mempengaruhi pemahaman masyarakat tentang hak kesehatan seksual dan reproduksi yang hingga kini masih belum mendapat perhatian.

    Inisiatif ini juga terhubung dengan aplikasi Campaign for Good, yang membuka ruang bagi publik untuk ikut berpartisipasi dalam advokasi digital, mendukung kebebasan media, serta belajar langsung mengenai praktik jurnalisme inklusif.

    William Gondokusumo, CEO Campaign for Good, menegaskan pentingnya membangun ruang digital yang sehat dan adil bagi semua.

    “Teknologi seharusnya menjadi jembatan, bukan penghalang. Melalui #MediaFreedomInAIEra, kami ingin menghadirkan wadah kolaboratif agar jurnalis, aktivis, dan masyarakat dapat bergerak bersama memperjuangkan narasi yang inklusif, transparan, dan berdampak positif,” ujarnya.

    Baca: Banyak kasus kekerasan terhadap jurnalis tidak diselesaikan secara tuntas