7cloud.asia – Dua CEO perusahaan teknologi terkemuka memicu perdebatan tentang dampak kecerdasan buatan (Artificial Inteligence/AI) dalam dunia kerja.
CEO Klarna, Sebastian Siemiatkowski, mengumumkan perusahaan layanan buy-now, pay-later-nya telah berhenti merekrut karyawan setahun terakhir, dengan klaim bahwa AI dapat melakukan sebagian besar pekerjaan manusia.
Sementara itu, CEO Nvidia, Jensen Huang, berpendapat bahwa pekerja tidak akan kehilangan pekerjaan mereka karena AI, tetapi mereka mungkin akan kehilangan pekerjaan kepada orang lain yang menggunakan AI.
Peneliti yang mempelajari adopsi ChatGPT di Denmark menemukan bahwa separuh pekerja yang disurvei telah menggunakan alat AI generatif tersebut. Pekerja muda yang kurang berpengalaman, berpencapaian tinggi, dan mayoritas laki-laki mendominasi pengadopsian ChatGPT.
Studi ini menunjukkan bahwa meskipun pekerja melihat potensi produktivitas yang substansial dalam ChatGPT, pembatasan dari pemberi kerja dan kebutuhan pelatihan menghambat adopsi penuh.
Pekerja pun tampaknya tidak takut pada ancaman kehilangan pekerjaan sebagai alasan untuk menghindari teknologi ini.
Baca: Pekerjaan yang tak akan tergantikan oleh AI
Bukti menunjukkan beberapa strategi bagi pekerja dan organisasi untuk menghadapi transisi ini:
1. Pentingnya pembelajaran seumur hidup
Pekerja perlu terus memperbarui keterampilan mereka, terutama untuk bisa memaksimalkan AI, seperti pemikiran kritis dan pemecahan masalah kompleks.
2. Nilai literasi AI
Memahami cara menggunakan alat AI secara efektif menjadi sama pentingnya dengan keterampilan kerja tradisional.
3. Kebutuhan organisasi untuk beradaptasi
Perusahaan harus berinvestasi dalam pelatihan dan pengembangan karyawan sambil menerapkan pedoman yang jelas untuk penggunaan AI.
Adopsi AI generatif yang cepat berarti perubahan ini terjadi lebih cepat dibandingkan transformasi teknologi sebelumnya.
Pekerja dan organisasi yang beradaptasi dengan cepat kemungkinan akan memiliki keuntungan signifikan dibandingkan mereka yang tertinggal.
Baca: Pahami etika saat menggunakan AI
AI tak menggantikan manusia,
Pandangan Siemiatkowski dan Huang menggambarkan kemungkinan yang berbeda di masa depan tentang dukungan AI.
Bukti menunjukkan bahwa baik penggantian total pekerja manusia maupun kondisi bisnis seperti biasa tidak mungkin terjadi. Sebaliknya, kita memasuki periode ketika kemampuan untuk bekerja bersama AI akan semakin menentukan kesuksesan karier.
Bukti awal bahwa AI dapat membantu mengurangi kesenjangan bagi pekerja kurang berpengalaman sangat menggembirakan.
Tetapi, pelajaran terpenting dari prediksi kedua CEO ini adalah: meskipun kita tidak dapat mengontrol bagaimana AI akan mengubah industri, kita dapat mengontrol seberapa baik kita beradaptasi dengannya.
Dalam lanskap baru ini, kunci keamanan pekerjaan bukanlah melawan AI atau menerimanya secara pasif, melainkan secara aktif memilih untuk menjadi orang yang menggunakan AI daripada orang yang digantikan oleh seseorang yang melakukannya.
Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Marcel Lukas (Senior Lecturer in Banking and Finance and Director of Executive Education, University of St Andrews)

Leave a Reply