Makin Banyak Orang yang Curhat dengan AI: Mengapa AI Bisa Membuat Nyaman?

Written by

in

7cloud.asia – Seiring berkembangnya era digital, sejumlah riset menunjukkan munculnya fenomena baru: chatbot AI mulai digunakan sebagai teman curhat, terutama di kalangan kaum muda.

Bagi mereka, AI seperti ChatGPT, Replika, atau asisten virtual lainnya bisa menjadi konsultan profesional hingga teman diskusi untuk menemukan solusi persoalan sehari-hari.

Dua penelitian tentang teknologi dan perilaku manusia menemukan bahwa sebagian orang mulai menjalin hubungan sosial, bahkan emosional, dengan AI.

Ikatan yang terbentuk dengan AI bukan hanya interaksi teknis biasa, melainkan berkembang menjadi ikatan psikologis.

Dalam beberapa kasus, AI bahkan sudah dianggap sebagai sahabat hingga pasangan virtual. Rasa aman dan perasaan dimengerti menjadi alasan utama orang memilih berkomunikasi dengan AI.

Baca: Sepertiga anak muda rentan alami masalah kesehatan mental

Namun, hubungan semu semacam ini menyimpan risiko. Ketergantungan berlebih pada AI bisa menjauhkan seseorang dari realitas sosial, menurunkan motivasi untuk berinteraksi dengan sesama, bahkan memicu gangguan mental.

Oleh karena itu, pendekatan etis dalam pengembangan AI perlu segera dilakukan.

Mengapa AI bisa mengerti kita?
Tanpa kita sadari, komunikasi yang intens dengan chatbot akan memberi ruang bagi AI untuk mengenal penggunanya. Teknologi ini belajar dari data dan membentuk pola interaksi.

Riset terbaru mengungkap bagaimana desain AI yang menyerupai manusia—disebut antropomorfisme—dapat memunculkan empati pengguna. Sifat-sifat seperti suara ramah, respons emosional, atau kepribadian dalam chatbot membuat AI terasa lebih “hidup”.

Saat seseorang mencurahkan perasaan, respons AI bisa membuat pengguna nyaman, merasa didengar dan dipahami, meskipun chatbot sebenarnya tidak memiliki emosi.

Baca: Gangguan kesehatan mental di Indonesia terus meningkat

Riset menunjukkan chatbot mampu memberikan saran dan masukan yang membantu pengguna memahami masalah mereka sendiri.

Secara teknis, AI memang dirancang untuk memahami kebutuhan manusia melalui analisis data dan algoritma dalam setiap pola interaksi, preferensi, hingga emosi pengguna.

Dengan teknologi Natural Language Processing (NLP), AI bisa memahami konteks percakapan dan merespons seolah ia benar-benar memahami lawan bicaranya.

Rasa aman dan dimengerti ini membuat banyak orang merasa nyaman membuka diri kepada AI. Mereka AI tidak akan menghakimi dan selalu “hadir” saat dibutuhkan.

Namun, penting diingat bahwa hubungan antarmanusia tetap tidak tergantikan dalam memenuhi kebutuhan emosional dan sosial secara utuh.

Meskipun bisa memberi rasa nyaman, keterikatan emosional dengan AI menyimpan sejumlah risiko serius. Apa saja risikonya, akan kami ulas dalam tulisan selanjutnya.

Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Dyana Chusnulitta Jatnika (Dosen Kesejahteraan Sosial, Universitas Padjadjaran)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *