Tag: bnpb

  • Korban Runtuhnya Musala Ponpes Al Khoziny Terus Bertambah, Kini Mencapai 13 Orang

    Korban Runtuhnya Musala Ponpes Al Khoziny Terus Bertambah, Kini Mencapai 13 Orang

    7cloud.asia – Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) hingga Jumat (3/10/2025) petang telah mengevakuasi 116 korban runtuhnya musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur .

    Sebanyak 13 orang di antaranya meninggal dunia, 103 lainnya luka-luka.

    Kepala Kantor Basarnas Surabaya, Nanang Sigit menjelaskan pada Jumat sore kemarin tiga korban ditemukan dalam keadaan meninggal secara beruntun pada sore hari, yakni pukul 17.15 WIB, 17.20 WIB, dan 17.30 WIB.

    Melansir Antaranews, ketiga korban yang terakhir ditemukan tersebut berada di sektor A3, dekat sektor A2 atau tidak jauh dari titik sebelumnya.

    Menurut Nanang, kondisi tubuh para korban yang ditemukan masih utuh meskipun terdapat pembengkakan.

    Baca: Sulitnya evakuasi korban runtuhnya musala Al Khoziny

    “Dengan demikian total korban yang berhasil dievakuasi hari ini sebanyak delapan orang. Sehingga total yang sudah berhasil dievakuasi mencapai 116 orang,” ungkap Nanang.

    Lebih jauh, Nanang menjelaskan penggunaan alat berat akan dihentikan sementara ketika korban terlihat, kemudian dilanjutkan kembali setelah evakuasi selesai.

    “Alat berat tidak digunakan untuk membongkar seluruh puing sekaligus, melainkan membuka akses menuju titik korban,” jelasnya.

    Pihaknya hingga kini masih tetap melakukan proses pencarian secara kombinasi antara penggunaan alat berat dan metode manual, menyesuaikan dengan kondisi di lapangan.

    Nanang juga menjelaskan pihak keluarga dapat menyaksikan langsung proses evakuasi ini secara terbatas melalui perwakilan.

    “Korban mulai terlihat setelah sebagian beton berhasil dipotong, sehingga akses cahaya masuk ke dalam runtuhan,” katanya. 

    Baca: 91 orang masih terjebak dalam reruntuhan musala Ponpes Al Khoziny

    Saat ini proses pembersihan material reruntuhan telah mencapai sekitar 50 persen.

    Rencananya operasi pembongkaran material reruntuhan bangunan dan pencarian korban akan terus dilakukan hingga 24 jam ke depan dan diperkirakan selesai Sabtu (4/10/2025) sore.

    Tim lapangan menggunakan berbagai peralatan khusus, mulai dari search cam flexible Olympus, Xaver 400 wall scanner, hingga multi search leader.

    Tim Basarnas juga dibantu oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam pengadaan logistik dan peralatan terdiri 200 kantong jenazah, 250 set alat pelindung diri, serta alat berat berupa crane, excavator breaker, truk jungkit hingga mobil ambulans.

     

     

     

  • Operasi SAR Resmi Ditutup, Total 63 Jenazah Korban Ambruknya Musala Ponpes Al Khoziny

    Operasi SAR Resmi Ditutup, Total 63 Jenazah Korban Ambruknya Musala Ponpes Al Khoziny

    7cloud.asia – Tim SAR gabungan telah menemukan seluruh jenazah korban ambruknya musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Total 63 jenazah termasuk 7 potongan bagian tubuh.

    Dengan demikian, seluruh rangkaian operasi SAR resmi ditutup pada Selasa (07/10/2025). Total korban mencapai 165 jiwa, dengan rincian 104 selamat dengan rincian 4 orang masih dirawat, 99 orang telah kembali ke rumah, dan 1 orang tidak memerlukan perawatan.

    Hal ini diungkapkan oleh Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Mayjen TNI Budi Irawan dalam rilis resmi BNPB.

    Baca: Sulitnya evakuasi korban runtuhnya musala Al Khoziny

    Selanjutnya Budi menjelaskan tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Timur saat ini masih melakukan proses identifikasi terhadap jenazah tersebut.

    Termasuk tujuh potongan tubuh yang sampai saat ini belum dapat dipastikan apakah berasal dari dua korban yang menurut data posko darurat masih dalam pencarian.

    “Jawaban itu akan segera diketahui setelah seluruh proses identifikasi selesai dilakukan,” kata Budi.

    Dengan selesainya pembersihan puing dan berakhirnya operasi SAR, tahap penanganan bencana kini memasuki fase transisi menuju pemulihan, rehabilitasi, dan rekonstruksi.

    Baca: 91 orang terjebak dalam musala yang ambruk

    Tanggung jawab selanjutnya diserahkan dari BNPB kepada BPBD Provinsi Jawa Timur dengan pendampingan dari BNPB.

    Dalam masa transisi ini, proses identifikasi korban terus berjalan. Dari total 63 korban meninggal dunia, baru 17 jenazah yang berhasil diidentifikasi.

    Sementara itu, Polda Jatim saat ini tengah melakukan penyelidikan untuk mengungkap penyebab runtuhnya musala empat lantai tersebut. Beberapa barang bukti telah diamankan dari lokasi kejadian, dan sejumlah saksi dimintai keterangan.

  • Banjir dan Longsor di Tiga Provinsi, Korban Meninggal Terbanyak di Sumatera Utara

    Banjir dan Longsor di Tiga Provinsi, Korban Meninggal Terbanyak di Sumatera Utara

    7cloud.asia – Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi, yaitu Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat sejak 25 November lalu, telah menelan lebih dari 100 korban jiwa. 

    Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto dalam konferensi pers update penanganan bencana pada Jumat (28/11/2025) sore mengungkapkan korban meninggal Terbanyak ada di wilayah Sumatera Utara.

    Korban meninggal akibat banjir bandang yang melanda sejumlah daerah di Sumatera Utara mencapai 116 orang dan 42 orang lainnya masih dalam pencarian.

    “Jumlah ini masih berkembang, karena ada titik-titik yang sampai sekarang belum bisa ditembus,” kata Suharyanto.

    Akibat bencana banjir bandang ini, lebih dari 1000 kepala keluarga (KK) yang mengungsi di sejumlah titik pengungsian.

    Baca: 12 Orang Meninggal Akibat Banjir dan Longsor di Sumatera Barat

    Selanjutnya Suharyanto menjelaskan jalur transportasi dan komunikasi yang sempat terputus akibat bencana, kini sudah lebih baik kondisinya. Meski masih ada beberapa jalur yang putus seperti jalur Sibolga ke Tarutung.

    Karena itu, pihaknya bekerjasama dengan Kementerian Pekerjaan Umum, Polri, TNI dan pemerintah daerah untuk memperbaiki jalur transportasi yang terputus.

    Selain itu, BNPB juga menyediakan fasilitas starlink untuk berkomunikasi dengan korban.

    BNPB dan Presiden Prabowo Subianto juga telah mengirimkan bantuan untuk masyarakat yang terdampak bencana.

    Bantuan tersebut berupa perlengkapan pengungsi, sembako, pakaian, makanan siap saji, mie instan, tenda, selimut, dan lain-lain.

    Baca: Banjir di Sumatera Utara Telan Korban Jiwa 13 Orang dan Ribuan Orang Mengungsi

    Sementara untuk wilayah Aceh, korban meninggal hingga Jumat sore mencapai 35 orang, 25 orang hilang dan 8 orang luka-luka.

    Suharyanto memaparkan kondisi di Aceh tidak separah di Sumatera Utara. Meski demikian, masih ada sejumlah jalur transportasi yang putus seperti jalan nasional dari Aceh menuju Sumatera Utara.

    Sama seperti wilayah Sumatera Utara, BNPB bekerjasama dengan sejumlah pihak akan memperbaiki jalur transportasi yang putus akibat diterjang banjir dan longsor.

    Bantuan logistik juga telah dikirim dengan menggunakan pesawat cesna serta helikopter ke titik-titik pengungsian.

    Baca: Walhi Sebut Banjir di Sumut Cermin Kegagalan Negara Tangani Kerusakan Lingkungan

    Sedangkan untuk wilayah Sumatera Barat, hingga Jumat sore tercatat 23 orang meninggal dunia, 12 hilang dan 4 orang luka.

    “Ini ketiga provinsi ini relatif bencananya besar, meskipun kalau dibandingkan ya dengan Sumatera Utara, Aceh, ya Sumatera Barat ini relatif lebih ringan. Tapi bukan berarti ini ringan. Kalau dibandingkan dengan Sumatera Barat sendirian ya ini sangat besar dan sangat masif,” jelas Suharyanto.

    Berdasarkan data yang diperoleh BNPB hingga Jumat sore, jumlah pengungsi mencapai 3900 kepala keluarga.

    “Paling parah ada di Tanah Datar, Padang Pariaman. Ada 3000-an lebih pengungsi. Kemudian Solok dan Kota Padang,” urainya.  

    Baca: DPR Dorong Pemerintah Tetapkan Banjir Sumatera Sebagai Bencana Nasional

    Penanganan di wilayah Sumatera Barat sama dengan wilayah Sumatera Utara dan Aceh. Dia menjelaskan pada masa tanggap darurat ini, BNPB bekerjasama dengan berbagai pihak melakukan langkah-langkah awal.

    Langkah-langkah tersebut adalah mengevakuasi korban, mendistribusikan logistik buat masyarakat yang terdampak bencana serta membuka atau memperbaiki jalur transportasi dan komunikasi yang putus.

    “Setelah ketiga langkah tersebut dilakukan, langkah selanjutnya adalah penanganan para pengungsi kedepannya,perbaikan fasilitas umum dan sebagainya” katanya.   

    Mulai hari ini, lanjut Suharyanto, pihaknya juga telah melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk memaksimalkan proses evakuasi serta pendistribusian bantuan kepada para korban. 

  • Kepala BNPB Pimpin Langsung Penanganan Bencana Banjir di Sumatera

    Kepala BNPB Pimpin Langsung Penanganan Bencana Banjir di Sumatera

    7cloud.asia – Merespons peningkatan risiko bencana hidrometeorologi yang kini tengah dihadapi tiga provinsi di Pulau Sumatera yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, BNPB memulai Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) secara serentak.

    Operasi lintas kementerian dan lembaga ini sebagai dukungan mitigasi dan penanganan darurat bencana dengan tujuan utama mengurangi potensi curah hujan di kawasan rawan bencana melalui rekayasa pengalihan awan hujan ke wilayah yang lebih aman.

    Intervensi Modifikasi Cuaca ini menjadi sangat krusial mengingat kondisi darurat terkini, di mana intensitas hujan ekstrem telah memicu banjir meluas, meningkatkan ancaman longsor dan banjir bandang di sebagian besar Sumatera Utara, serta menimbulkan dampak serius pada infrastruktur dan pemukiman di Sumatera Barat.

    “Kami melaksanakan OMC di masing-masing provinsi,” jelas Kepala BNPB, Suharyanto saat menyampaikan perkembangan penanganan bencana hidrometeorologi yang melanda Provinsi Sumatera Utara, Aceh dan Sumatera Barat dari Bandara Silangit, Tapanuli Utara, Sumatra Utara, Jumat (28/11/2025).

    Dalam keterangannya, Suharyanto menyebutkan banjir dan tanah longsor yang dipicu badai tropis Senyar ini telah mengakibatkan 174 orang meninggal dunia, 79 hilang dan 12 luka-luka.

    Di Aceh, OMC baru resmi dimulai hari Jumat (28/11/2025), dengan menggunakan pesawat PK-SNP dari Posko Bandara Sultan Iskandar Muda.

    Sementara itu, di Sumatera Utara, operasi telah dimulai lebih awal, yakni pada Kamis (27/11/2025) dari Posko Bandara Kualanamu. Di mana hingga saat ini telah diselesaikan empat sortie penerbangan dengan total 3.200 kilogram bahan semai Natrium Klorida (NaCl) dan Kalsium Oksida (CaO).

    Adapun operasi di Sumatera Barat dijadwalkan akan mulai beroperasi Sabtu (29/11/2025), dengan mengerahkan pesawat PK-DPI dan PK-SNK dari Posko Bandara Internasional Minangkabau.

    Kepala BNPB hingga saat ini memimpin seluruh penanganan darurat bencana tiga provinsi dari Silangit-Tapanuli Utara bersama Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB, Mayjen TNI Budi Irawan.

    Dalam waktu dekat, Suharyanto juga akan mendatangi lokasi terdampak di Aceh, yang saat ini dipimpin oleh Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB, Jarwansyah.

    Sementara untuk penanganan darurat akibat banjir di wilayah Sumatra Barat, telah ditugaskan Sekretaris Utama BNPB, Rustian untuk memimpin.

    Infrastruktur
    Banjir dan tanah longsor telah menyebabkan akses jalan dari Sumatera Utara (Sumut) menuju Aceh terganggu. Material longsor dan limpasan banjir menutup beberapa ruas jalan.

    Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB Jarwansah mengatakan, dirinya telah melakukan koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum untuk mengerahkan alat berat untuk membuka akses jalan.

    Selain pembukaan akses jalan yang terputus, tim BNPB juga berupaya membangun jalur komunikasi. Salah-satunya dengan membawa penyedia internet satelit yang memungkinkan internet broadband di lokasi terdampak.

    Berdasarkan data yang berhasil dihimpun, info sementara akses jalan terputus yakni:
    – Batas Sumut – Aceh masih terputus sampai Jumat (28/11/2025), akibat longsor di beberapa titik jalan nasional. Saat ini dalam proses tindaklanjut pendataan oleh pihak BPJN Wilayah Aceh Kementerian PU.

    – Banda Aceh – Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Timur, Langsa, Aceh Tamiang terputus. Terputus akibat runtuhnya jembatan di Meuredu yaitu perbatasan Kab. Bireuen dan Pidie Jaya. Upaya pemda saat ini untuk ruas jalan Bireuen – Pidie Jaya menggunakan jalan Alternatif dari Samalangan – tringgadeng Pidie Jaya.

    – Kab. Gayo Lues sampai saat ini belum bisa terakses jalur darat dikarenakan ruas jalan Nasional (Gayo lues-Aceh Tenggara putus total di 4 titik) terputus, yaitu jalan Nasional (Gayo Lues-Aceh Tengah), jalan Provinsi (Gayo Lues – Aceh Barat Daya putus), jalan Provinsi (Gayo Lues-Aceh Timur).
    Salah satu alternatif jalur udara tersedia melalui Bandara Perintis di Gayo lues. Saat ini dalam proses tindaklanjut pendataan oleh tim BPJN Aceh Kementerian PU.

    – Kab. Aceh Tengah untuk saat ini belum bisa diakses via Darat dikarenakan Ruas jalan Nasional Bireuen – Takengon putus total dan jembatan tepin mane Bireuen putus, akses jalan Nasional (Aceh Tengah – Nagan Raya jembatan putus total). Akses jalan Nasional (Takengon-Ise ise-Gayo Lues putus total).

    – Kab. Bener Meriah akses jalan putus total akses ruas jalan Nasional putus (Bener Meriah-Aceh tengah dan Bener Meriah – bireuen) sementara Akses Jalan Provinsi Bener meriah – lhokseumawe Eks jalan KKA putus total.
    Salah satu alternatif via udara melalui Bandara Rembele Bener meriah yg bisa mengcover kabupaten Bener meriah dan Aceh tengah.

  • BNPB: Korban Meninggal Akibat Banjir dan Longsor di Sumatera Barat Capai 90 Orang

    BNPB: Korban Meninggal Akibat Banjir dan Longsor di Sumatera Barat Capai 90 Orang

    7cloud.asia – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan korban meninggal akibat banjir dan longsor terus bertambah. Di Sumatera Barat, korban meninggal mencapai 90 orang.

    “Untuk jumlah korban di Padang, ini meningkat (dari 23 orang pada Jumat). Justru sekarang nomor dua (terbanyak) setelah Sumatera Utara. Korban jiwanya ada 90 yang meninggal dunia,” jelas Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto dalam konferensi pers update penanganan bencana pada Sabtu (29/11/2025) sore.

    Berdasarkan data yang diterima BNPB, selain korban meninggal, di wilayah Sumatera Barat masih ada 10 orang korban luka-luka. Sementara sebanyak 85 orang lainnya hilang dan masih dalam pencarian.

    Baca: Korban Meninggal Akibat Banjr dan Longsor Bertambah, Paling Banyak di Sumatera Utara

    Lebih lanjut Suharyanto menjelaskan jumlah pengungsi di wilayah Sumatera Barat diprekirakan mencapai lebih dari 11 ribu jiwa yang tersebar di rumah-rumah penduduk di sejumlah wilayah.

    Kemudian untuk wilayah Sumatera Utara, korban meninggal mencapai 166 orang. “Artinya dalam satu hari ini bertambah 60 jiwa meninggal dunia. Ini berkat operasi pencarian pertolongan oleh satgas gabungan yang dipimpin oleh Basarnas,” ungkapnya.

    Selain itu sebanyak 143 orang lainnya masih hilang. Suharyanto juga menjelaskan jumlah pengungsi di Sumatera Utara sebanyak 6361 Kepala Keluarga (KK).

    Sedangkan di Kabupaten Humbang Hasundutan jumlah pengungsi mencapai 1712 jiwa dan Kabupaten Mandailing Natal 1378 jiwa.

    Baca: 12 Orang Meninggal Akibat Banjir dan Longsor di Sumatera Barat

    Selanjutnya untuk wilayah Aceh, jumlah korban meninggal sebanyak 47 orang, 51 orang masih hilang dan 8 orang luka-luka.  Jumlah pengungsi hingga Sabtu sore mencapai 4887 KK.

    BNPB bekerjasama dengan TNI dan Polri saat ini tengah melakukan perbaikan jalur transportasi dan komunikasi di wilayah bencana.

    Mereka juga mendistribusikan bantuan makanan, minuman, pakaian, selimut, tenda, alat komunikasi starlink dan lain-lain ke sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat baik melalui jalur darat maupun udara.  

  • Pasca Bencana di Sumatera, Ini Rencana BNPB

    Pasca Bencana di Sumatera, Ini Rencana BNPB

    7cloud.asia – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memaparkan sejumlah rencana untuk para pengungsi pasca bencana yang melanda Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Salah satunya memberikan bantuan dalam bentuk uang.

    Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto dalam konferensi pers update penanganan bencana pada Sabtu (29/11/2025) sore menjelaskan pemerintah menyiapkan sejumlah skema untuk masyarakat yang kini berada di pengungsian.

    Menurutnya, masyarakat yang kini masih berada di tempat pengungsian tidak akan lama bisa bertahan, maksimal mereka akan bertahan 1 minggu. Meski semua kebutuhan makan, minum, fasilitas kesehatan terpenuhi di tempat pengungsian. Karena itu pemerintah telah menyiapkan sejumlah rencana.

    Baca: Banjir dan Longsor Landa Sumatera, Korban Meninggal Terbanyak di Sumatera Utara

    “Saat berdialog dengan mereka juga kita sampaikan bahwa tidak perlu khawatir. Kita fokus sekarang itu ke akses dasar dulu ya. Masyarakat itu bingung, nanti setelah ini terbuka, aku mau kemana. Ini langkah ini kan akses dulu, komunikasi dulu, bajunya dulu, baru nanti mikir rumahnya gimana?” urai Suharyanto.

    Sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subiyanto, bagi warga korban bencana yang rumahnya mengalami kerusakan ringan pemerintah akan mengganti dalam bentuk uang sebesar Rp 15 juta per rumah.

    Rumah yang mengalami kerusakan sedang akan diganti pemerintah sebesar Rp 30 juta per rumah. “Bagaimana rusak berat? Tertutup lumpur semua? Diganti pemerintah rumah baru. Itu nanti ada beberapa skema,” katanya.

    Baca: Korban Meninggal Akibat Banjir dan Longsor di Sumatera Barat Capai 90 Orang

    Para pengungsi juga dapat keluar dari tempat pengungsian dan dapat mengontrak rumah sementara. Pemerintah akan memfasilitasi dengan memberikan dana tunggu hunian sebesar Rp 600.000 per Kepala Keluarga (KK) per bulan.   

    “Kemudian kalau dia nggak punya sanak saudara, tidak punya tempat ngontrak, udah menyerahkan badannya, dirinya ke pemerintah, tapi juga nggak mungkin tinggal di pengungsian berbulan-bulan, maka akan kita bangunkan namanya hunian sementara,” jelas Suharyanto.

    Selanjutnya dia menjelaskan bentuk hunian sementara nantinya berupa rumah yang layak dan masyarakat bisa tinggal bertahun-tahun. Tetapi namanya tetap hunian sementara bukan hunian tetap.

    Baca: Sisa Siklon Senyar Menjauhi Indonesia, tapi Masih Ada Dampaknya

    Nantinya, lanjut Suharyanto, masyarakat dapat menempati hunian sementara ini sampai kehidupan mereka kembali normal, makan minumnya sudah terjamin dan pemerintah daerah sudah normal kembali.

    Kemudian pemerintah daerah akan mendata masyarakat yang ingin direlokasi. “Apakah relokasi mandiri atau terpusat? Kalau mandiri, dia mau pindah dekat kampung halamannya, dekat orangtuanya, dia punya tanah, dibangun pemerintah rumahnya yang rusak dan hancur itu,” terangnya.

    Pemerintah, melalui BNPB akan mendampingi masyarakat yang menjadi korban maupun yang terdampak sampai bencana itu selesai dan kehidupan kedepannya bisa kembali normal.

     

  • Banjir dan Longsor Sumatera, Korban Meninggal Capai 442 Orang

    Banjir dan Longsor Sumatera, Korban Meninggal Capai 442 Orang

    7cloud.asia – Jumlah korban jiwa akibat bencana banjir dan longsor di Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat terus bertambah. Hingga Minggu (30/11/2025) malam, jumlah korban meninggal di tiga provinsi mencapai 442 orang.

    Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto dalam konferensi pers update penanganan bencana pada Minggu (30/11/2025) malam menjelaskan jumlah tersebut dapat bertambah, seiring dengan proses pencarian korban yang masih dilakukan.

    Dari jumlah tersebut, Provinsi Sumatera Utara paling banyak ditemukan korban jiwa yang mencapai 217 orang. “Korban jiwa untuk Sumatera Utara 217 jiwa yang meninggal dunia, kemudian 209 yang masih hilang,” kata Suharyanto.

    Baca: Korban Meninggal akibat Banjir dan Longsor di Sumatera Barat Capai 90 Orang

    Dia mengungkapkan jumlah korban terbanyak ditemukan di wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan.

    Sementara untuk wilayah Sumatera Barat, jumlah korban meninggal kini mencapai 129 orang, sebanyak 118 orang lainnya masih hilang dan 16 orang luka-luka. Penemuan korban meninggal terbanyak di wilayah Kabupaten Agam.

    Sedangkan di wilayah Aceh, jumlah korban meninggal yang tersebar di 11 kabupaten/kota mencapai 96 orang dan 75 lainya masih hilang.

    Baca: Ini Rencana BNPB Pasca Banjir dan Longsor di Sumatera

    BNPB, lanjut Suharyanto, akan terus melakukan pencarian korban bekerjasama dengan Basarnas, TNI, Polri dan para relawan. Namun, sejumlah faktor di lapangan mempersulit proses pencarian.

    Salah satunya akses jalan yang masih putus. Seperti yang kini terjadi di wilayah Aceh Tengah. “Aceh Tengah adalah satu-satunya wilayah di Aceh yang belum bisa ditembus hingga kini,” ungkapnya.

    Pihaknya juga terus mendistribusikan bantuan untuk sejumlah wilayah yang terdampak bencana. Bantuan tersebut berupa makanan siap saji, minuman, mie instan, pakaian, selimut, terpal, dan lain-lain.  

     

  • Korban Meninggal Akibat Banjir dan Longsor di Sumatera Tembus 604 Orang

    Korban Meninggal Akibat Banjir dan Longsor di Sumatera Tembus 604 Orang

    7cloud.asia – Jumlah korban meninggal akibat banjir dan longsor yang melanda Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat terus bertambah. Data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 604 orang meninggal.

    Berdasarkan data dari Pusat Data Informasi dan Komunikasi Bencana (Pusdatin) BNPB pada Senin (01/12/2025) malam, selain korban meninggal jumlah korban hilang mencapai 464 orang. Korban luka-luka mencapai 2600 orang.

    Sementara warga terdampak sebanyak 1,5 juta orang dan  570 ribu orang mengungsi.

    Baca: Korban Meninggal Akibat Banjir dan Longsor di Sumatera Capai 442 Orang

    Korban-korban tersebut paling banyak ditemukan di Provinsi Sumatera Utara yang mencapai 283 orang meninggal, 169 orang lainnya masih hilang dan 613 orang terluka.

    Dari 17 kabupaten/kota di Sumatera Utara, sebanyak 298.700 orang terdampak bencana ini dan 49.600 orang mengungsi.

    Pusdatin BNPB juga mencatat di wilayah Sumatera Utara sebanyak 124 unit rumah rusak berat, rusak sedang 28 unit dan rusak ringan 1000 unit.

    “Fasilitas pendidikan yang rusak mencapai 31 unit dan jembatan yang rusak 19 unit,” tulis Pusdatin BNPB.

    Baca: Waspada! Cuaca Ekstrem Masih Berpotensi Landa Sumatera Barat

    Selanjutnya Provinsi Sumatera Barat, korban meninggal mencapai 164 orang, 144 orang lainnya masih dalam pencarian dan 112 orang terluka.

    Dari 15 kabupaten/kota di Sumatera Barat, sebanyak 219.200 orang terdampak bencana ini dan 41.800  orang mengungsi.

    Sementara rumah rusak berat di wilayah Sumatera Barat sebanyak 877 unit rumah, rusak sedang 434 unit dan rusak ringan 1300 unit rumah.

    Tak hanya rumah, fasilitas pendidikan yang rusak mencapai 86 unit dan 55 jembatan juga mengalami kerusakan.

    Baca: 8 Hari Sebelum Bencana, BMKG Berkali-kali Keluarkan Peringatan Dini

    Kemudian untuk Provinsi Aceh, dari 18 wilayah yang terdampak, korban meninggal mencapai 156 orang, 181 orang hilang dan 81 orang terluka.

    Jumlah masyarakat yang terdampak di Aceh mencapai 955.400 orang dan sebanyak 479.300 orang mengungsi.

    Dibandingkan dengan Sumatera Utara dan Sumatera Barat, jumlah rumah rusak di Aceh paling banyak, yaitu mencapai 2500 unit rumah rusak berat, 3600 unit rumah rusak sedang dan sebanyak 18.200 unit rumah rusak ringan.  

    Fasilitas pendidikan yang rusak pun juga paling banyak yaitu mencapai 165 bangunan dan 197 jembatan rusak.

      

  • Hampir Sepekan Bencana di Sumatera, Korban Meninggal Capai 744 Orang

    Hampir Sepekan Bencana di Sumatera, Korban Meninggal Capai 744 Orang

    7cloud.asia – Hampir sepekan bencana banjir dan longsor melanda Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Jumlah korban kian bertambah. Hingga Selasa (02/12/2025) malam, total korban meninggal mencapai 744 orang.

    Berdasarkan data Pusat Data Informasi dan Komunikasi Bencana (Pusdatin) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), korban meninggal terbanyak ditemukan di wilayah Sumatera Utara, 301 orang.

    Baca: YLBHI Dorong Presiden Prabowo Tetapkan Bencana di Sumatera Sebagai Bencana Nasional

    Di wilayah ini sebanyak 163 orang masih dalam pencarian dan 614 orang lainnya mengalami luka-luka. Dari 17 kabupaten/kota yang terdampak, sebanyak 527.300 orang mengungsi. Dan masyarakat yang terdampak sebanyak 1,7 juta orang.

    BNPB juga mencatat lebih dari 1000 unit rumah rusak. Dengan rincian 215 unit rumah rusak berat, 45 unit rusak sedang dan 900 unit rusak ringan.

    Sementara fasilitas pendidikan yang rusak mencapai 32 unit dan jembatan yang rusak mencapai 29 unit.

    Baca: Sebelum Bencana di Sumatera, BMKG Berkali-kali Keluarkan Peringatan Dini

    Selanjutnya wilayah Sumatera Barat. Dari 15 kabupaten/kota yang terdampak, korban meninggal mencapai 225 orang, 161 orang lainnya masih hilang dan sebanyak 112 orang lainnya mengalami luka-luka.

    Jumlah warga yang terdampak sebanyak 141.800 orang dengan jumlah pengungsi sebanyak 137.600 orang.   

    Di Sumatera Barat, rumah rusak berat mencapai 911 unit, rusak sedang 454 unit dan rusak ringan sebanyak 1400 ribu unit. Fasilitas pendidikan yang rusak sebanyak 86 unit dan fasilitas kesehatan yang rusak sebanyak 66 unit.

    Baca: Pasca Bencana di Sumatera, Ini Rencana BNPB

    Kemudian di wilayah Aceh. Dari 18 kabupaten/kota yang terdampak, korban meninggal mencapai 218 orang, 227 orang lainnya masih hilang dan sebanyak 1838 orang lainnya mengalami luka-luka.

    Jumlah warga yang terdampak di Aceh merupakan yang terbanyak, dibandingkan dengan Sumatera Utara dan Sumatera Barat yaitu 1,5 juta orang. Sementara jumlah pengungsi juga terbanyak mencapai 449.600 orang.

    Jumlah rumah rusak di Aceh juga terbanyak jika dibandingkan dengan Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Di wilayah yang dijuluki Serambi Mekkah ini sebanya 2.500 unit rumah rusak berat, 1600 unit rusak sedang dan 1300 unit rusak ringan.

    Sementara fasilitas pendidikan yang rusak mencapai 205 unit dan jembatan yang rusak mencapai 204 unit.

     

     

  • Korban Banjir Sumatera Tembus 810 Jiwa, Pemerintah Putuskan Bukan Bencana Nasional

    Korban Banjir Sumatera Tembus 810 Jiwa, Pemerintah Putuskan Bukan Bencana Nasional

    7cloud.asia – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga Rabu (3/12/2025) sore korban tewas akibat bencana  longsor dan banjir di  Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat (banjir Sumatera) mencapai 810 jiwa.

    Dipantau dari data yang ditampilkan dalam situs resmi BNPB, jumlah korban hilang akibat banjir Sumatera tercatat sebanyak 612 orang yang tersebar di tiga provinsi terdampak tersebut.

    Rinciannya korban meninggal di Aceh sebanyak 272 orang dan 193 korban hilang orang. Kemudian di Sumatera Utara korban meninggal 297 orang dan korban hilang 159 orang.

    Sedangkan di wilayah Sumatera Barat, tercatat korban meninggal sebanyak 236 orang dan 260 orang lainnya masih dinyatakan hilang.

    Baca Juga: Kemenkeu Siapkan Rp 2,03 Triliun untuk Tangani Banjir Sumatera

    Sementara itu korban luka-luka dalam bencana banjir Sumatera ini mencapai 2.600 orang di tiga provinsi tersebut.

    Sedangkan, jumlah total warga terdampak banjir besar di Aceh, Sumut, dan Sumbar tembus 3,2 juta jiwa.

    Pemerintah masih belum menetapkan bencana banjir Sumatera sebagai bencana nasional, meski sudah banyak desakan dari berbagai pihak.

    Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Pratikno mengatakan meski belum ditetapkan sebagai bencana nasional, penanganan bencana sudah dilakukan secara nasional.

    Baca Juga: Greenpeace Indonesia: Banjir Sumatera Harus Jadi Pengingat Terakhir

    Pratikno menjelaskan seluruh kementerian/lembaga telah diperintahkan Presiden Prabowo untuk mengerahkan sumber daya maksimal.

    Dia mengatakan, seluruh kementerian/lembaga diperintahkan oleh Presiden termasuk TNI-Polri, BNPB dan semua komponen untuk mengerahkan sumber dayanya semaksimal mungkin menangani bencana banjir Sumatera.

    “Jadi sekali lagi penanganannya benar-benar penanganan full kekuatan secara nasional,” kata Pratikno di Lanud Halim Perdanakusuma, Rabu (3/12/2025).