Tag: Gen Z

  • Kampanye lingkungan: Gen Z Butuh Contoh Nyata, Bukan Perintah Apalagi Ceramah

    Kampanye lingkungan: Gen Z Butuh Contoh Nyata, Bukan Perintah Apalagi Ceramah

    7cloud.asia – Karakter generasi Z (Gen Z) memang unik. Selain terkenal kritis dan senang kebebasan, Gen Z juga tidak suka diperintah, dijejali ceramah, tapi punya rasa ingin tahu yang besar.

    Kesadaran Gen Z terhadap berbagai isu termasuk lingkungan sangat tinggi. Mereka memiliki literasi yang baik soal perubahan iklim.

    Sekarang, pekerjaan rumahnya adalah bagaimana mendorong Gen Z agar mau terlibat aktif dalam aksi nyata.

    Penelitian penuli bersama rekan peneliti menunjukkan bahwa perilaku Gen Z cenderung lebih dipengaruhi oleh tindakan atau apa yang mereka lihat, ketimbang perintah atau ceramah.

    Paparan media sosial, terutama Instagram, juga besar pengaruhnya terhadap perilaku pro-lingkungan Gen Z.

    Tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata
    Sensus Penduduk 2020 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah penduduk Indonesia pada 2020 mencapai 270,2 juta orang. Dari jumlah tersebut, 52,2 persen merupakan kaum muda yang berasal dari gen Z dan milenial.

    Proporsi gen Z yang lahir tahun 1997-2012 mencapai 26,4 persen atau 71,5 juta jiwa dari total populasi nasional, lebih besar dibandingkan generasi milenial (lahir 1981-1996).

    Artinya, Gen Z yang berusia produktif akan segera mendominasi populasi. Karena itu, penting untuk memahami faktor-faktor yang membentuk perilaku mereka, terutama dalam hal kepedulian terhadap lingkungan.

    Baca: Gen Z dan baby boomers sama-sama terdampak perubahan iklim

    Kami melakukan riset untuk menganalisis faktor yang memengaruhi niat Gen Z untuk berperilaku pro-lingkungan (pro-environmental behavior/PEB) serta efek paparan informasi di media sosial terhadap sikap mereka.

    Kami memakai metode survei cross-sectional dengan 670 responden Gen Z (18–25 tahun) di Indonesia. Data dikumpulkan melalui kuesioner online, yang disebarkan lewat media sosial.

    Hasilnya, studi kami menemukan bahwa norma deskriptif—kebiasaan yang dicontohkan orang lain—lebih berpengaruh terhadap perilaku pro-lingkungan Gen Z dibandingkan norma injungtif seperti perintah atau ceramah.

    Kaum Z mengadopsi perilaku pro-lingkungan berdasarkan kebiasaan yang diterapkan oleh lingkungan terdekat mereka, terutama keluarga. Jika orang tua dan anggota keluarga aktif dalam kegiatan ramah lingkungan, anak-anak mereka lebih cenderung mengikuti jejak tersebut.

    Temuan ini mendukung prinsip “Tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata,” yang ditemukan dalam sebuah riset lebih dari satu dekade silam.

    Kampanye lingkungan di era medsos
    Gen Z merupakan generasi pertama yang dibesarkan sepenuhnya dalam era digital. Mereka sering disebut sebagai iGeneration karena sangat bergantung pada teknologi dan informasi.

    Pengaruh media sosial terhadap Gen Z juga terlihat, misalnya, dari perilaku ramah lingkungan dan lebih peduli pada pengelolaan polusi plastik. dari paparan konten-konten positif.

     

    Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sejumlah platform medsos seperti Twitter, Instagram, Youtube, dan Facebook berpotensi besar memengaruhi perilaku Gen Z dalam hal keberlanjutan.

    Baca: Gen Z juga mendorong transisi ke ekonomi hijau

    Namun, penelitian kami mengungkapkan, dari sekian banyak platform, hanya Instagram yang terbukti mampu membentuk perilaku pro-lingkungan Gen Z. Alasannya, desain visual Instagram yang lebih estetik membuatnya lebih menarik dan cocok dengan preferensi visual Gen Z.

    Instagram juga memungkinkan penggunanya untuk berbagi konten yang—tidak hanya menghibur—tetapi juga informatif dan berbasis pengalaman. Ini bisa mendorong pengguna untuk terlibat lebih mendalam.

    Instagram terbukti mampu meningkatkan kesadaran dan respons positif terhadap kelestarian lingkungan dan efektif sebagai sarana pemasaran produk ramah lingkungan.

    Riset kami memang belum TikTok yang muncul belakangan, jadi sepertinya perlu studi lebih lanjut untuk menelusuri apakah platform ini juga memengaruhi perilaku anak muda.

    Implikasi bagi kampanye lingkungan
    Perubahan perilaku adalah tujuan utama kampanye lingkungan hidup. Medsos adalah salah satu sarana yang bisa dimanfaatkan untuk berkampanye.

    Namun, penelitian kami menunjukkan bahwa tidak semua media sosial efektif mendorong perilaku pro-lingkungan menjadi aksi nyata.

    Karena itu, para aktivis, organisasi, dan pemangku kepentingan di bidang lingkungan perlu memilih platform media yang tepat dalam setiap inisiatif kampanye, terutama untuk menjangkau Gen Z sebagai audiens utama.

    Selain medsos, orang tua dan komunitas harus lebih aktif memberikan contoh nyata dalam menerapkan gaya hidup ramah lingkungan kepada anak-anak, bukan hanya sekadar ceramah.

    Dengan memahami cara Gen Z berperilaku, kita bisa merancang kampanye yang lebih efektif dan menginspirasi generasi muda untuk mengambil tindakan nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: FX Ari Agung Prastowo (Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran)

  • Gen Z Skena dan Harapan Baru di Balik Redupnya Media Cetak

    Gen Z Skena dan Harapan Baru di Balik Redupnya Media Cetak

    7cloud.asia – Surat kabar atau koran cetak masih ada di Indonesia, tapi kondisi mereka di era digital ini seperti “hidup segan, mati pun tak mau”.

    Bila dibandingkan angka populasi melek huruf yang mencapai 95 persen untuk kategori orang 15 tahun ke atas, jumlah oplah koran sebesar 2,4 juta per tahun 2024 sangatlah kecil.

    Melansir Serikat Perusahaan Pers (SPS), lebih dari 190 media cetak berhenti produksi sejak pandemi Covid-19 pada tahun 2020. Media cetak yang tutup termasuk tabloid, majalah, dan terbitan lokal.

    Industri koran sedang berada di ujung tanduk
    Bisnis media cetak terpukul akibat menurunnya jumlah pembaca, anjloknya perolehan iklan, dan melambungnya harga kertas. Surat kabar terakhir yang menghentikan cetaknya adalah Koran SINDO per April 2023.

    Padahal keberadaan surat kabar di Indonesia sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Di Nusantara (sebelum bernama Indonesia), surat kabar pertama terbit pada tahun 1744 bernama Bataviasche Nouvelles.

    Surat kabar bermunculan pesat ketika Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP)—izin penerbitan yang rumit era Orde Baru—dihapus pada 1999.

     

    Baca: Media cetak mati di era digital, tapi banyak majalah yang tetap bertahan

    Kini, mayoritas pelanggan koran cetak adalah institusi pemerintah dan institusi formal lain, perusahaan swasta, lembaga laba maupun nirlaba, organisasi kemasyarakatan dan komunitas.

    Sebagian lagi adalah pembaca milenial yang masih menjaga tradisi koran dan romantisme membaca halaman kertas.

    Bagaimana masa depan industri surat kabar nasional yang berada di ujung tanduk usai berdarah-darah lebih dari 2 dekade terakhir. Akankah generasi penerus bisa menghidupi kembali industri ini?

    Menaruh harapan pada generasi ‘tech savvy’
    Banyak survei menunjukkkan Gen Z mengakses informasi melalui media sosial, sebagai paparan berita secara tak sengaja.

    Salah satunya adalah survei IDN Media pada 2022. Survei tersebut mengungkap konsumsi koran cetak para kawula muda hanya 4 persen. Pun kalangan pembacanya terkonsentrasi di antara kelompok Gen Z yang lebih tua (usia 21 hingga 24 tahun).

    Jika dilihat dari demografi ekonomi, Gen Z dari kelompok sosial ekonomi menengah ke bawah mengakses media digital (51 persen), dibandingkan dengan kalangan Gen Z menengah ke atas dan menengah (masing-masing 35 persen dan 41 persen).

    Baca: Surat kabar tertua di dunia berhentik naik cetak

    Kelompok Gen Z menengah ke atas dan menengah juga masih membaca majalah, meski persentasenya lebih rendah dibandingkan dengan penggunaan media digital dan koran. Ada kemungkinan majalah merupakan simbol status dan koneksi dibandingkan sumber informasi.

    Meski demikian, ada secercah peluang dari generasi yang berjumlah 75 juta orang Gen Z. Yakni mereka di antaranya yang bergelar “skena”.

    Skena adalah salah satu subkultur di kalangan anak muda yang terus berkembang. Kita bisa mengenali kekhasan mereka, yaitu kaum muda yang menyenangi musik indie dan hal-hal yang antimainstream alias di luar arustama.

    Ciri yang tampak dari skena adalah gaya berpakaian yang tidak mengikuti fast fashion (sebagian justru terlihat vintage),

    Skena lebih suka nongkrong di ruang-ruang komunitas atau tempat independen berupa kafe yang unik, datang ke acara gigs, berkreasi secara mandiri (do it yourself/DIY), serta menghargai orisinalitas.

    Lingkungan komunitas kreatif membuat kalangan skena umumnya kritis. Mereka peduli pada isu-isu lingkungan hidup, keberagaman gender, inklusivitas, kesehatan mental, dan isu penting seperti kapitalisme dan demokrasi.

    Baca: Pentingnya dana jurnalisme publik

    Zine (publikasi independen dan tidak resmi) sebagai bagian budaya penerbitan DIY bersinggungan dengan skena. Zine menjadi alternatif untuk mengekspresikan identitas, seni, aktivisme, dan perlawanan.

    Kini bermunculan workshop zine dan komunitasnya yang digerakkan kalangan skena.

    Skena yang mencerminkan semangat ekspresi kaum muda. Pencarian identitas Gen Z pun bisa menemukan rumahnya dengan membaca surat kabar.

    Meski begitu, skena sebagai bagian dari budaya kontemporer ini terhitung “niche”, sehingga keputusan untuk terus menerbitkan koran cetak kembali kepada perusahaan pers.

    Selain terus memelihara indepedensi, koran bisa memperbanyak porsi liputan constructive journalism atau jurnalisme konstruktif yang pemberitaannya berfokus pada solusi. Solusi yang dimaksud tidak melulu pendapat pakar, tetapi juga pendapat orang-orang yang berada di dalam cerita.

    Sajian semacam itu bisa menjembatani gaya liputan langsung ala koran dan slow journalism yang biasa dilakukan awak majalah.

    Harapannya, hal tersebut makin mendekatkan media pada selera Gen Z skena, sehingga mereka melirik koran cetak dan merangkulnya sebagai bagian dari identitas antimainstream.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Taufan Wijaya (Dosen Jurnalistik, Universitas Multimedia Nusantara/UMN)

  • Peluang Zine, Media Cetak Independen yang Sedang Digandrungi Gen Z Skena

    Peluang Zine, Media Cetak Independen yang Sedang Digandrungi Gen Z Skena

    7cloud.asia – Saat media cetak “hidup segan, mati pun tak mau” di era digital ini seperti sekarang, tetap ada secercah peluang dari generasi yang berjumlah 75 juta orang Gen Z. Yakni mereka di antaranya yang bergelar “skena”.

    Skena adalah salah satu subkultur di kalangan anak muda yang terus berkembang. Kita bisa mengenali kekhasan mereka, yaitu kaum muda yang menyenangi musik indie dan hal-hal yang antimainstream alias di luar arustama.

    Ciri yang tampak dari Gen Z skena adalah gaya berpakaian yang tidak mengikuti fast fashion (sebagian justru terlihat vintage).

    Gen Z skena juga suka nongkrong di ruang-ruang komunitas atau tempat independen berupa kafe yang unik, datang ke acara gigs, berkreasi secara mandiri (do it yourself/DIY), serta menghargai originalitas.

    Lingkungan komunitas kreatif membuat kalangan skena umumnya kritis. Mereka peduli pada isu-isu lingkungan hidup, keberagaman gender, inklusivitas, kesehatan mental, dan isu penting seperti kapitalisme dan demokrasi.

    Zine (publikasi independen dan tidak resmi) sebagai bagian budaya penerbitan DIY bersinggungan dengan skena. Zine menjadi alternatif untuk mengekspresikan identitas, seni, aktivisme, dan perlawanan.

    Kini bermunculan workshop zine dan komunitasnya yang digerakkan kalangan Gen Z skena.

    Skena yang mencerminkan semangat ekspresi kaum muda. Pencarian identitas Gen Z pun bisa menemukan rumahnya dengan membaca surat kabar.

    Meski begitu, skena sebagai bagian dari budaya kontemporer ini terhitung “niche”, sehingga keputusan untuk terus menerbitkan koran cetak kembali kepada perusahaan pers.

    Selain terus memelihara indepedensi, koran bisa memperbanyak porsi liputan constructive journalism atau jurnalisme konstruktif yang pemberitaannya berfokus pada solusi. Solusi yang dimaksud tidak melulu pendapat pakar, tetapi juga pendapat orang-orang yang berada di dalam cerita.

    Sajian semacam itu bisa menjembatani gaya liputan langsung ala koran dan slow journalism yang biasa dilakukan awak majalah.

    Harapannya, hal tersebut makin mendekatkan media pada selera Gen Z skena, sehingga mereka melirik koran cetak dan merangkulnya sebagai bagian dari identitas antimainstream.

    Berkaca dari geliat ulang kamera analog
    Skena cenderung menentang nilai-nilai konvensional, dan sering kali memosisikan diri sebagai kultur tandingan yang menawarkan alternatif dari budaya arus utama yang dianggap terlalu komersial.

    Penentangan tadi membuat mereka mengeksplorasi hal-hal baru yang tidak mereka alami ketika lahir hingga tumbuh besar. Di antaranya adalah fotografi analog yang menggeliat lagi karena munculnya jenis film seluloid baru—medium rekam untuk kamera analog.

    Produsen Leica, Yashica, Pentax, dan Rollei, misalnya, memproduksi lagi kamera analog. Pun produsen Fujifilm: selain memproduksi instax (mirip Polaroid), mereka juga merilis kamera dengan gimik memiliki tombol layaknya kamera analog meski digital.

    Dengan melihat fenomena yang ternyata telah bertahan lebih dari satu dekade terakhir ini, maka keyakinan konsumsi bacaan kertas di kalangan anak muda akan selalu ada.

    Kuncinya: konten berita berkualitas
    Surat kabar sering dianggap sebagai “kasta tertinggi” dalam pemberitaan. Jumlah tiras, distribusi yang luas, serta bukti fisik membuat surat kabar kerap dianggap menjadi sajian berita yang paling kredibel. Saking bisa dipercaya, banyak pembuktian administrasi menggunakan arsip cetakan koran.

    Keberadaan bukti fisik tadi membuat berita ditulis secara hati-hati. Informasi diperiksa secara cermat sebelum sebuah kabar memutuskan penempatan berita dalam suatu edisi.
    Sementara ralat adalah keteledoran yang tercela, meski wajib dituliskan bila ditemukan kesalahan kemudian.

    Surat kabar tidak mengejar kecepatan seperti media online, melainkan kedalaman dan (bila perlu) reportase yang eksklusif. Berita di surat kabar sering menjadi acuan pengambilan keputusan oleh pemangku kepentingan termasuk pemerintah.

    Masalah dalam jurnalisme kita bukan hanya ‘relevansi dengan teknologi’ ataupun selera pasar. Melainkan kehilangan fungsi pembebasannya baik di dalam pengembangan pengetahuan maupun praktiknya.

    Oleh karena itu, koran harus terus memegang teguh idealisme jurnalisme dengan harus berani mengedepankan kepentingan publik, alih-alih yang berkuasa, berkata ‘tidak’ pada kepentingan siapapun.

    Jika ramuan konten koran sudah relevan dan dipercaya pembaca, koran bisa melihat ulang cara pengemasannya.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Taufan Wijaya (Dosen Jurnalistik, Universitas Multimedia Nusantara/UMN)

  • Bakal Merasakan Dampak Jangka Panjang Krisis Iklim, Gen Z Tuntut Dilibatkan dalam Perumusan Kebijakan

    Bakal Merasakan Dampak Jangka Panjang Krisis Iklim, Gen Z Tuntut Dilibatkan dalam Perumusan Kebijakan

    7cloud.asia – Generasi muda, khususnya gen Z mendesak pelibatan bermakna dan strategis dalam ruang-ruang diskusi dan pengambilan kebijakan terkait krisis iklim.

    Pelibatan generasi muda yang melampaui simbolisme dan formalitas yang selama ini berlangsung, mutlak dibutuhkan karena merekalah yang akan menanggung konsekuensi jangka panjang dari krisis iklim.

    Selain desakan atas pelibatan yang mendalam, gen Z juga menuntut redistribusi kekuasaan dan akses serta pengakuan pemerintah terhadap kapasitas kolektif anak muda yang selama ini kerap dianggap sebelah mata.

    Desakan itu disampaikan dalam diskusi Ruang Publik KBR: “Generasi Z Menagih Tanggung Jawab Iklim” pada 5 November 2025.

    Diskusi yang disiarkan secara daring itu merupakan bagian dari Diskusi Dua-Mingguan Nexus Tiga Krisis Planet yang diinisiasi Justice Coalition for Our Planet (JustCOP).

    Diskusi menghadirkan Dinah Rida dari KATA Indonesia yang mewakili gen Z di wilayah perkotaan dan Elsy Grazia dari Yayasan Pikul berbasis Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

    Baca: Kesadaran gen Z terhadap isu lingkungan terus meningkat

    Elsy mewakili suara dari wilayah timur Indonesia yang sebagian besar wilayahnya masih terhambat akses terhadap informasi.

    “Anak muda punya otoritas untuk menentukan arah kebijakan terkait krisis iklim,” kata Dinah yang menyoal redistribusi kekuasaan dan akses yang selama ini akuntabilitasnya belum maksimal.

    Menurutnya, akuntabilitas yang minim menyebabkan anak muda kurang terinformasikan secara inklusif soal serangkaian pendanaan mengatasi krisis iklim.

    Selain itu, Dinah menilai pemerintah acapkali menyamaratakan dampak krisis iklim bagi semua orang muda yang akhirnya melahirkan solusi tak konkret di tempat-tempat paling terdampak.

    “Apa yang dihadapi anak muda di perkotaan itu berbeda dengan teman-teman yang tinggal di pelosok,” katanya mendesak pemerintah supaya hadir juga bagi anak-anak muda di kampung.

    Baca: Gen Z menagih tanggung jawab iklim pemerintah

    Suara dari Timur Indonesia
    Mewakili anak muda dari Timur, Elsy menambahkan, anak muda di daerah pelosok acapkali terpinggirkan dari proses pengambilan keputusan terkait krisis iklim.

    Menurutnya, peminggiran itu membuat suara generasi muda di wilayah dengan keterbatasan informasi kian tak terdengar.

    Elsy bercerita soal dampak Siklon Seroja yang dirasakan hingga sekarang. Badai itu menghantam sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada April 2021.

    Siklon yang kecepatannya mencapai 100 kilometer per jam telah memicu banjir bandang di sejumlah pulau kecil NTT, termasuk Rote, Sabu dan Lembata.

    Sejumlah tanaman lokal yang menjadi sumber pangan, budaya dan kearifan lokal turut terimbas. Di Kodi, Pulau Sumba, sejumlah tanaman lokal yang kerap dipakai membangun rumah adat dinamai dengan bahasa setempat berkurang signifikan.

    “Bila terus terjadi, penyusutan bisa jadi membuat generasi muda melupakan bahasa dan kearifan lokal,” kata Elsy.

    Baca: Perilaku boros gen Z memicu produksi sampah makanan

    Sementara di Pulau Timor yang menjadi rumah bagi Kupang, ibu kota Provinsi NTT, petani dan nelayan muda kehilangan penghidupan yang memaksa mereka beralih ke pekerjaan lain tanpa skill memadai.

    Elsy menilai kondisi tersebut turut memperlebar ketimpangan serta memperparah kemiskinan struktural di NTT. Kondisi ini kemudian diperparah dengan kebijakan pemerintah yang terus meloloskan proyek yang merampas ruang hidup warga.

    Ia mencontohkan beberapa kasus perampasan ruang hidup warga NTT, termasuk perluasan proyek geotermal di Poco Leok, Pulau Flores.

    Warga menolak proyek yang dikerjakan PT Perusahaan Listrik Negara itu karena dinilai tak transparan serta mengancam sumber kehidupan mereka.

    “Pemerintah perlu mengkaji ulang proyek-proyek besar seperti di Poco Leok dan sudah selayaknya mengajak bicara anak muda dan kelompok rentan setempat,” kata Elsy.

    Menurutnya, mengajak bicara tak sebatas mengundang anak muda ke ruang diskusi. Elsy mendesak pemerintah secara tulus mendengar dan melibatkan kelompok rentan hingga pelosok kampung.

  • Gen Z Masih Berminat Baca Berita, Ini Isu yang Mereka Sukai

    Gen Z Masih Berminat Baca Berita, Ini Isu yang Mereka Sukai

    7cloud.asia – Banyak kalangan mengira, Generasi Z atau yang lebih dikenal dengan en Z tak lagi tertarik membaca berita. Namun survei yang dilakukan Universitas Multimedia Nusantara (UMN) menemukan hal yang sebaliknya.

    Survei yang dilakukan UMN pada 20 Agustus hingga 5 September 2025 di Jabodetabek, Bali, dan daerah lain menemukan bahwa minat gen Z terhadap informasi masih sangat besar.

    Di sela Local Media Summit 2025 yang digelar beberapa waktu lalu, Head of Magister Program and Researcher UMN, Ignatius Haryanto memaparkan pada dasarnya Gen Z sangat siap menerima pemberitaan tanpa membeda-bedakan karena media digital semakin berkembang cukup cepat.

    Temuan ini menunjukkan bahwa generasi muda adalah audiens yang adaptif dan terbuka terhadap berbagai bentuk penyampaian berita digital.

    Baca: Media cetak independen yang sedang digandrungi gen Z skena

    Kepada 7cloud.asia, Ignatius Haryanto mengungkapkan, dari penelitian ini terungkap Gen Z menyukai berita-berita lokal yang relate dengan mereka, juga berita terkait isu politik dan hukum.

    ”Itu sebabnya pada aksi akhir Agustus lalu, banyak Gen Z yang ikut berunjuk rasa, karena mereka mengikuti berita yang mencerminkan ketidakpuasan mereka,” terangnya.

    Riset ini melibatkan sekitar 1000an responden dari berbagai kota sehingga bisa menjadi gambaran yang agak menyeluruh meski tidak bisa dikatakan menggambarkan kondisi yang 100 persen.

    Karena itu, Ignatius menegaskan, riset ini menumbuhkan optimisme bahwa generasi muda bukan kelompok yang sama sekali abai pada berita.

    Gen Z, ujarnya, juga adalah mereka yang haus berita dan hal-hal serius terkait masalah bangsa, tak hanya mengonsumsi informasi hiburan saja.

    Baca: Gen Z skena memberi harapan baru pada media cetak

    Ignatius menambahkan, dari riset ada tiga hal yang menjadi perhatian Gen Z yaitu terkait sustainable environment (lingkungan), kedua soal financial freedom, dan ketiga soal mental health.

    ”Tiga hal itu yang menjadi concern para Gen Z, sehingga kemudian berita lingkungan sangat cocok dengan Gen Z karena mereka memiliki kepedulian yang besar pada lingkungan,” tandasnya.

    Penelitian lain juga menyebut minat Gen Z terhadap berita online sangat tinggi, namun mereka cenderung mencari informasi melalui media sosial seperti TikTok, YouTube, dan Instagram,

    Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z mengutamakan konten yang ringkas, visual, dan mudah diakses di mana saja.

    Mereka menyukai berita yang disajikan dalam format video pendek, infografis, atau artikel dengan highlight yang menarik, karena dinilai lebih praktis dan instan daripada format konvensional.

  • Soroti Tantangan Keseimbangan Kerja Anak Muda, Prof. Gugup Kismono Dikukuhkan sebagai Guru Besar FEB UGM

    Soroti Tantangan Keseimbangan Kerja Anak Muda, Prof. Gugup Kismono Dikukuhkan sebagai Guru Besar FEB UGM

    7cloud.asia – Generasi Z atau yang lebih dikenal dengan gen Z menjadi kelompok yang paling terdampak oleh perubahan sistem kerja di era digital saat ini.

    Fleksibilitas kerja yang seolah menjanjikan kebebasan justru bergeser menjadi tekanan sosial bagi gen Z, karena organisasi berlomba mengadopsi tren tanpa menimbang kebutuhan nyata.

    Demikian disampaikan dosen Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Prof. Drs. Gugup Kismono, M.B.A., Ph.D., dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar dalam bidang Psikologi dan Perilaku Organisasional, pada Kamis (13/11/2025) di Balai Senat UGM.

    Prof. Gugup kini menjadi satu dari 542 Guru Besar aktif di UGM. Di lingkungan FEB UGM, dia merupakan salah satu dari 31 Guru Besar aktif dari total 48 Guru Besar yang dimiliki fakultas tersebut.

    Dalam pidato pengukuhan berjudul ‘Menemukan Solusi Menuju Keseimbangan Dunia Kerja dan Kehidupan di Tengah Perubahan Orientasi Hidup Anak Muda’, Prof. Gugup menyoroti perubahan besar dalam pola kerja generasi muda.

    Diungkapkannya, ketidakseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin terasa pada kalangan anak muda. Hampir separuh pekerja muda mengalami kelelahan akibat tuntutan digital yang tinggi serta batas waktu kerja yang makin kabur.

    Baca: Korban TPPO online scam didominasi Gen Z dan berpendidikan tinggi

    “Fenomena ini menggugah bidang keilmuan saya untuk meninjau kembali bagaimana motivasi, kesejahteraan psikologis, dan perilaku kerja adaptif dapat menjadi dasar kebijakan dan budaya organisasi yang lebih manusiawi,” jelasnya.

    Dia menambahkan, kebiasaan bekerja dari mana saja sejak pandemi Covid-19 membuat banyak pihak menjalani pola kerja baru tanpa kesiapan psikologis maupun sosial.

    Kondisi ini memunculkan konsekuensi yang berdampak pada kehidupan rumah tangga, seperti kelelahan berkepanjangan, kebingungan peran, dan konflik domestik.

    “Konsep awalnya mempererat, tetapi work from home bisa berubah menjadi work from heartburn,” ujarnya.

    Ia juga menyoroti perkembangan gig economy yang tampak merdeka, namun menimbulkan beban mental bagi generasi muda yang bergantung pada sistem kerja nonformal tersebut.

    Prof. Gugup menilai pentingnya kemampuan perusahaan menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kesejahteraan psikologis karyawan, terutama generasi muda yang rentan terhadap tekanan di era ketidakpastian.

    Baca: Gen Z masih berminat baca berita, ini isu yang mereka sukai

    Menurutnya, gen Z semakin sadar akan pentingnya menjaga batasan kerja demi kesehatan mental.

    “Produktivitas memang penting, tetapi hidup tidak boleh habis untuk kerja semata. Work–life balance adalah kebutuhan yang perlu diperjuangkan dengan sadar,” tuturnya.

    Ia juga mengingatkan bahwa generasi muda dan pekerja gig perlu memperkuat acceptance mindset serta keterampilan dalam menetapkan batasan kerja agar tetap sehat dalam sistem kerja digital yang serbadinamis.

    Perusahaan pun perlu membangun lingkungan kerja yang manusiawi melalui kepemimpinan berbasis empati dan kepercayaan.

    Lebih jauh, ia menekankan perlunya dukungan pemerintah dalam menjamin perlindungan sosial, layanan kesehatan, dan skema pensiun yang dapat diakses lintas jenis pekerjaan.

    “Individu yang berdaya, organisasi yang adaptif, dan sistem yang mendukung menjadi tiga pilar keseimbangan kerja demi masa depan kerja yang sehat dan manusiawi,” pungkasnya.

    Baca: Prioritas dan yang dicari gen Z di dunia kerja

  • Indonesia di Persimpangan Bonus Demografi: Ekonomi Hijau dan Ekonomi Digital Beri Harapan

    Indonesia di Persimpangan Bonus Demografi: Ekonomi Hijau dan Ekonomi Digital Beri Harapan

    7cloud.asia – Indonesia berada di persimpangan jalan dalam memanfaatkan bonus demografi di tengah ketimpangan pendapatan, deindustrialisasi dini, dan tingginya pekerjaan informal.

    Saat ini, sekitar 70 persen penduduk berada pada usia produktif, dan lebih dari 144 juta di antaranya merupakan Milenial dan Gen Z yang mayoritas telah menyelesaikan pendidikan SMA atau SMK.

    Meski demikian, tingkat pengangguran muda masih sekitar 14 persen, dua kali lipat dibanding Thailand dan Vietnam yang berada di kisaran 6 hingga 7 persen).

    “Ada peluang di sektor ekonomi hijau, digital, dan hilirisasi yang membuka lapangan kerja baru,” kata Strategic Research Manager CORE Indonesia, Yusuf R. Manilet, saat memaparkan proyeksi ekonomi 2026 dalam Youth Economics Summit (YES) 2025 di Jakarta, akhir pekan lalu.

    Ia menyebut sektor hijau berpotensi menyumbang Rp500–600 triliun pada 2030 dan membuka sekitar 1,7 juta green jobs. Ekonomi digital juga memunculkan jenis pekerjaan baru seperti host live-streaming, layanan daring, hingga posisi pendukung di startup.

    Baca: Iringi Bonus Demografi dengan Kesempatan Kerja

    “Dengan penetrasi internet 80 persen, ekonomi digital dapat menjadi instrumen penting untuk menekan pengangguran,” kata Yusuf.

    Di sektor hilirisasi, terdapat 28 komoditas prioritas dengan cadangan signifikan. Proyeksi pendapatan industri hilirisasi bisa mencapai 917 miliar dollar AS pada 2045.

    Dalam pembukaan acara, Direktur CORE Indonesia Mohammad Faisal menekankan pentingnya pelibatan generasi muda dalam perumusan kebijakan ekonomi.

    Data BPS menunjukkan Gen Z (27 persen atau 74 juta jiwa) dan Milenial (25 persen) jika digabungkan mencapai hampir 60 persen penduduk Indonesia.

    “Setiap kebijakan ekonomi paling banyak berdampak ke anak muda. Karena itu mereka harus dilibatkan sejak awal, agar isu ekonomi tidak menjadi isu elitis,” ujar Faisal.

    Baca: Bonus Demografi dan Layanan Kesehatan Mental

    Youth Economics Summit (YES) 2025, digelar oleh Suara.com dan CORE Indonesia, mengusung tema “The New Economy Generation: Sustain, Scale, Succeed.”

    Forum ini memperkuat partisipasi generasi muda dalam ekonomi berkelanjutan dan membuka ruang dialog lintas sektor.

    YES 2025 juga meluncurkan dokumen “Suara-suara Generasi Muda untuk Bangsa” dan memberikan apresiasi kepada peserta Youth Voice Challenge yang mengangkat isu keberlanjutan melalui konten kreatif.

    Pemimpin Redaksi Suara.com, Suwarjono, menegaskan bahwa Gen Z dan Milenial merupakan agen transformasi alami.

    “Sejak awal mereka lahir di era digital. Karena itu isu ekonomi harus dibahasakan dengan cara yang dekat dengan anak muda,” ujarnya.

    Melalui YES 2025, Suara.com dan CORE Indonesia menegaskan bahwa suara generasi muda adalah elemen strategis dalam merumuskan arah baru ekonomi Indonesia.

  • Pola Belanja Gen Z 2025 dan 2026: ‘Self-reward’ Tetap Jadi Prioritas Utama

    Pola Belanja Gen Z 2025 dan 2026: ‘Self-reward’ Tetap Jadi Prioritas Utama

    7cloud.asia – Logikanya, jika kondisi ekonomi sedang suram dan harga-harga naik, masyarakat akan mengurangi belanja untuk fokus bertahan hidup dan menunda kesenangan.
    Namun, temuan terbaru justru menunjukkan pola yang lebih kompleks—bahkan paradoksal.

    Alokasi belanja para Gen Z untuk pengalaman (experiential spending) seperti leisure (wisata), gaya hidup, dan barang mewah tertentu tidak kenal kondisi dan justru cenderung terus meningkat.

    Padahal, sejumlah parameter ekonomi makro penting tahun ini seperti konsumsi rumah tangga, impor bahan baku, dan konsumsi listrik industri kompak melemah.

    Pun dengan target penjualan mobil tahun ini yang dipangkas menjadi 780 ribu unit dari target awal 900 ribu unit.

    Fenomena ini menarik untuk dibahas bersama. Normalkah fenomena peningkatan belanja pengalaman di tengah tekanan ekonomi saat ini?

    ‘Self-reward’ nomor satu
    Melansir ASEAN Consumer Sentiment Study (ACSS) 2025 dari UOB, para Gen Z menjadi katalisator utama konsumsi ekonomi pengalaman, lebih dari 50 persen dari total yang ada.

    Padahal, jumlah Gen Z di survei tersebut hanya 31 persen. Milenial menjadi generasi terbanyak dengan 42 persen. Sebanyak 27 persen sisanya diwakili oleh gen X dan baby boomers.

    Tren ini menegaskan bagaimana Gen Z amat mengamini teori experience economy atau ekonomi pengalaman. Dorongan transaksinya bukan lagi pada kepemilikan barang, melainkan pada emosi dan ingatan yang dihasilkan dari konsumsi.

    Baca: 7 Cara sederhana membangun self esteem

    Sebagai generasi yang tumbuh dalam lingkungan digital, serba cepat, dan penuh ketidakpastian mereka sangat menghargai momen, interaksi sosial, dan pengalaman yang bisa dibagikan.

    Tak heran, kafe-kafe dan tempat wisata yang viral selalu ramai. Begitu juga dengan tiket konser artis dunia seperti Blackpink yang selalu ludes terjual meski berharga jutaan rupiah.

    Hal ini juga sejalan dengan teori lipstick effect, yaitu satu fenomena yang menjelaskan mengapa konsumen tetap membeli produk kecil yang bersifat affordable luxury (seperti lipstik, kosmetik, atau kopi premium) di saat kondisi ekonomi memburuk.

    Boros tapi hemat
    Memasuki 2026, pola konsumsi ini kemungkinan akan terus belanjut. Gen Z akan terus berperan penting dalam tren ini.

    Secara demografi, Gen Z dan sebagian generasi sesudahnya yakni Generasi Alpha masih dalam usia produktif. Secara proporsi pun, baik di tingkat global dan nasional, kaum muda ini merupakan yang paling banyak jumlahnya dibandingkan para seniornya.

    Sebagai pasar masa depan, beragam riset menunjukkan bahwa generasi muda paling kuat mengasosiasikan pengeluaran pengalaman sebagai kebutuhan, bukan sekadar gaya hidup tambahan.

    Namun, bukan berarti muda-mudi Tanah Air berbelanja pengalaman secara sporadis. Gen Z juga menyadari tekanan ekonomi yang ada dan lebih selektif meski tetap rela membayar untuk pengalaman yang relevan secara emosional, personal, dan autentik.

    Sekitar enam dari sepuluh konsumen merasa biaya hidup meningkat dan daya beli tertekan. Mayoritas dari mereka menunda pembelian besar, mengurangi belanja non-esensial, serta lebih aktif mencari promosi dan diskon.

    Baca: Membangun self esteem bisa menciptakan kebahagiaan

    Banyak di antara mereka justru disiplin dalam menabung, berinvestasi, dan mengelola keuangan. Makna belanja pengalaman yang dianut para Gen Z adalah cara konsumen mempertahankan rasa kontrol, kebahagiaan, dan kualitas hidup.

    Namun di sisi lain, optimisme terhadap kondisi ekonomi pribadi dan masa depan tidak sepenuhnya hilang. Banyak konsumen masih percaya bahwa situasi finansial mereka akan membaik.

    Artinya, meski secara rasional menahan pengeluaran tertentu, mereka tidak sepenuhnya kehilangan kepercayaan diri sebagai konsumen. Dengan kata lain, konsumen bukan berhenti membelanjakan uang, tetapi mengubah prioritasnya.

    Peluang pasar yang tercipta
    Geliat belanja para Gen Z dan juga Gen Alpha masih kuat. Namun, tantangannya bukan sekadar memprediksi daya beli, tetapi mengantisipasi pergeseran makna nilai dari “murah” menjadi “pantas dan bermakna”.

    Perubahan perilaku ini berimplikasi besar bagi pelaku bisnis dan pemilik merek di Indonesia. Pertama, menjual produk saja tidak lagi cukup.

    Konsumen kini membeli cerita, emosi, dan makna di balik produk. Brand yang hanya mengandalkan harga murah atau diskon agresif berisiko kehilangan relevansi.

    Kedua, value proposition atau nilai utama yang ditawarkan menjadi kunci. Di tengah konsumen yang semakin rasional, harga harus dikomunikasikan bersama nilai—apakah itu kualitas pengalaman, kenyamanan, identitas, atau emosi yang ditawarkan.

    Baca: Menikmati hidup ala slow living dengan menghargai apa yang kita miliki

    Ketiga, segmentasi generasi tidak bisa lagi digeneralisasi. Strategi yang efektif bagi Gen X atau bahkan Baby Boomers tidak selalu relevan bagi Gen Z. Brand perlu memahami bahwa konsumen muda memandang konsumsi sebagai bagian dari gaya hidup dan ekspresi diri.

    Keempat, pengalaman omnichannel menjadi semakin penting. Kombinasi pengalaman online dan offline—dari digital engagement hingga interaksi fisik—mampu memperkuat hubungan emosional dengan konsumen.

    Karena itu para pelaku bisnis perlu menekankan konsep affordable premiumisation (produk premium tapi terjangkau), personalisasi berbasis data, serta pengalaman yang mampu memberikan timbal balik yang menyentuh aspek emosional.

    Brand yang mampu menggabungkan efisiensi biaya dengan storytelling, komunitas, dan pengalaman yang bisa menjawab kebutuhan gen Z dan gen Alfa, akan lebih tahan banting terhadap gejolak ekonomi.

    Sebaliknya, merek yang gagal membaca sinyal ini berisiko tertinggal. Bukan karena produknya tidak dibutuhkan, tetapi karena tidak lagi memberi alasan emosional dan relevan bagi konsumen terbesar yakni gen Z dan gen Alfa.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Patria Laksamana (Associate Professor of Marketing, Director of Research and Community Service, Perbanas Institute)

  • Soft Skills yang Dibutuhkan Gen Z di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0

    Soft Skills yang Dibutuhkan Gen Z di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0

    7cloud.asia – Keseimbangan antara kemampuan teknologi dan kompetensi manusia menjadi tuntutan utama era industri 4.0 dan Society 5.0.

    Demikian terungkap dalam bedah buku “10 Soft Skills untuk Gen Z di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0“ di Jakarta, akhir November lalu.

    Bedah buku ini menghadirkan dua penulisnya, Dingot Hamonangan Ismail dan Joko Nugroho.

    Keduanya mengulas sepuluh soft skills yang dibutuhkan Gen Z, mulai dari komunikasi efektif, kreativitas, kemampuan bekerja sama, manajemen emosi, pengambilan keputusan, hingga pemecahan masalah kompleks.

    Untuk mengetahui soft skills yang dibutuhkan gen Z harus terlebih dahulu diawali dengan mengenali karakter dari generasi tersebut dan jenis tantangan yang akan dihadapi Generasi Z.

    Selain memiliki banyak keunikan dan kelebihan dibandingkan generasi sebelumnya, khususnya terkait kompetensi hard skill di bidang teknologi, Gen Z juga diidentifikasi memiliki sejumlah kelemahan terutama di bidang penguasaan soft skills

    Baca: Prioritas gen Z di dunia kerja

    Hal itulah yang membuat buku ini perlu, yaitu untuk memperkuat soft skills mereka agar Indonesia memiliki Gen Z yang menjadi generasi yang mampu menjawab tantangan era Industri 4 0 dan Society 5 0

    Menurut para penulis, buku itu disusun agar dunia pendidikan dan industri memahami kebutuhan kompetensi sumber daya manusia muda dalam menghadapi lanskap kerja masa depan.

    “Kalau kalian semua sudah cakap, nanti datang ke perusahaan bukan untuk melamar pekerjaan, tapi untuk kerja sama proyek,” kata Dingot.

    Industri 4.0 adalah era revolusi industri yang mengintegrasikan teknologi digital canggih seperti Kecerdasan Buatan (AI), Internet of Things (IoT), Big Data, dan robotika untuk menciptakan sistem produksi yang cerdas, otomatis, dan terhubung.

    Industri 4.0 mengaburkan batas antara dunia fisik, digital, dan biologis untuk meningkatkan efisiensi dan adaptabilitas manufaktur.

    Sedangkan Society 5.0 adalah konsep masyarakat masa depan yang berpusat pada manusia dan berbasis teknologi.

    Baca: Membangun self esteem dapat menciptakan kebahagiaan

    Dalam konsep ini, kemajuan ekonomi dan penyelesaian masalah sosial dicapai dengan mengintegrasikan dunia maya dan ruang fisik menggunakan teknologi seperti AI, IoT, dan big data untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan individu secara berkelanjutan.

    Bedah buku 10 Soft Skills untuk Gen Z di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 ini merupakan hasil kolaborasi POLITEKNIK Tempo bersama Ikatan Doktor Ilmu Manajemen (IKADIM)

    Kegiatan tersebut menjadi upaya kedua lembaga dalam memperkuat kapasitas generasi muda, terutama mahasiswa dan lulusan vokasi, agar mampu memenuhi tuntutan kompetensi abad 21.

    Ketua IKADIM Jazuli Juwaini menekankan pentingnya kecakapan non-teknis di tengah percepatan perubahan teknologi.

    “Generasi Z memiliki potensi besar, tetapi mereka membutuhkan kecakapan non-teknis seperti komunikasi, kreativitas, negosiasi, hingga kemampuan berpikir kritis agar dapat menjadi penggerak utama bonus demografi,” ujar Jazuli dalam keterangan resmi, Rabu, 19 November 2025.

    Direktur Politeknik Tempo, Shalfi Andri, menyatakan bahwa kolaborasi dengan IKADIM akan memperkuat kurikulum vokasi agar semakin relevan dengan kebutuhan industri.

    Baca: ‘Self-reward’ tetap jadi prioritas utama gen Z

  • Film Dokumenter “Pesta Babi“, Tujuan SDGs dan Previlege Gen Z di Perkotaan

    Film Dokumenter “Pesta Babi“, Tujuan SDGs dan Previlege Gen Z di Perkotaan

    7cloud.asia – Michella Gitanova, mahasiswa Fakultas Hukum UGM yang mewakili DEMA Justicia, organisasi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada tak mampu menyembunyikan kegelisahannya.

    Sebagai generasi z, Gita memberikan catatan kepada peserta kegiatan “Nonton Bersama dan Diskusi Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” untuk lebih melek akan isu kemanusiaan.

    ”Walaupun isu kekerasan berkelindan dari hari ke hari, hal tersebut tidak dapat dinormalisasi,” ujarnya di sela nonton bareng di Kampus Fakultas Hukum UGM, awal Mei lalu.

    Acara ini diselenggarakan Pusat Kajian Hukum Adat Djojodigoeno yang berkolaborasi dengan Center for Restoration and Regeneration Studies (CERRES), Pusat Kajian Hukum dan Keadilan Sosial (LSJ), dan Dema Justicia,

    Antusiasme peserta terhadap kegiatan ini terlihat dari kehadiran lebih dari 250 penonton, baik dari kalangan mahasiswa, akademisi, maupun masyarakat umum, yang memadati ruang auditorium.

    Pemutaran film berlangsung selama kurang lebih 90 menit dan ditutup dengan tepuk tangan meriah dari para peserta. Setelah sesi pemutaran selesai, acara dilanjutkan dengan diskusi bersama yang dipandu oleh Laksmi A. Savitri sebagai moderator.

    Diskusi menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang untuk memberikan perspektif yang beragam terkait isu yang diangkat dalam film.

    Gita menekankan pentingnya memanfaatkan privilese generasi muda berupa akses internet dan media digital sebagai sarana advokasi, penyebaran informasi, serta penguatan solidaritas terhadap isu-isu kemanusiaan.

    Narasumber kedua, Igam Wardana Dosen Hukum Lingkungan Fakultas Hukum UGM. Ia menekankan bahwa film tersebut menunjukkan fenomena legalisasi deforestasi. Hal itu kontradiktif dengan target Net Zero Emission (NZE) yang digagas oleh pemerintah.

    Kondisi ini dilatarbelakangi fakta bahwa program swasembada pangan dan energi yang digagas pemerintah lebih ditujukan untuk menguntungkan golongan tertentu, bukan untuk menjawab krisis pangan dan lingkungan.

    Selain itu, hukum tidak dapat semata-mata dilihat sebagai solusi atas kelindan permasalahan lingkungan dan penindasan masyarakat ketika sistem hukum masih condong pada keuntungan ekonomi semata.

    Lebih lanjut, narasumber ketiga, yaitu Sartika I. Pardani selaku Dosen Hukum Adat Fakultas Hukum UGM, menekankan bahwa film Pesta Babi membuktikan kondisi faktual bahwa terdapat kesenjangan antara norma dengan implementasinya di masyarakat.

    Hukum bukan hanya sebuah aturan tertulis, tetapi juga pengalaman yang hidup di masyarakat. Film ini menunjukkan pengalaman masyarakat, yang juga merupakan hukum, memiliki kuasa untuk menuntut penerapan kewajiban pemerintah untuk memberikan keadilan seluas-luasnya bagi masyarakat.

    Narasumber terakhir, yaitu Ferinando S. Yokit sebagai Pegiat Literasi Simpul Papua yang juga merupakan masyarakat adat Papua, memberikan pesan agar peserta berpedoman pada keadilan dalam berpikir dan bertindak.

    Masyarakat Papua membutuhkan solidaritas dari masyarakat Indonesia untuk melawan tindakan penjajahan ekologis dan budaya terhadap masyarakat Papua.

    Selain itu, ia memberikan catatan terhadap frasa “pesta babi” yang digunakan dalam film tersebut, yang mana frasa tersebut pada dasarnya kurang tepat untuk mendefinisikan ritual masyarakat adat Papua yang diangkat dalam film ini.

    Terdapat berbagai peserta yang turut terlibat dalam sesi diskusi, termasuk memberikan pandangannya terhadap Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita.

    Dori, misalnya, sebagai seorang generasi z yang menceritakan pengalaman temannya yang merasa tidak punya pilihan selain menerima fakta pelanggaran hak asasi manusia terhadap masyarakat Papua.

    Kondisi tersebut dilatarbelakangi karena perasaan putus asa atas perubahan kondisi di negeri ini.

    Melalui nonton bersama dan diskusi ini, Fakultas Hukum UGM berharap dapat memberikan kontribusi akademik sekaligus memperkuat dialog antara norma dan realitas hukum di masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan program swasembada pangan dan energi.

    Nonton bersama dan diskusi ini turut mendukung pencapaian beberapa tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 10 (Reduce Inequality) terkait perlindungan masyarakat adat terhadap program pemerintah yang bertentangan dengan hak masyarakat adat.

    Selanjutnya, SDG 15 (Life on Land) terkait perlindungan hak ruang hidup masyarakat adat di tanah ulayat dan SDG 16 (Peace, Justice, and Strong Institutions) berkaitan dengan pembukaan pintu keadilan melalui advokasi hak masyarakat adat berdasarkan kenyataan empiris.

    Diskusi yang melibatkan akademisi, peneliti, dan masyarakat umum juga mencerminkan semangat kolaborasi lintas sektor yang mendukung SDG 17 (Partnerships for the Goals).