Gen Z Skena dan Harapan Baru di Balik Redupnya Media Cetak

Written by

in

7cloud.asia – Surat kabar atau koran cetak masih ada di Indonesia, tapi kondisi mereka di era digital ini seperti “hidup segan, mati pun tak mau”.

Bila dibandingkan angka populasi melek huruf yang mencapai 95 persen untuk kategori orang 15 tahun ke atas, jumlah oplah koran sebesar 2,4 juta per tahun 2024 sangatlah kecil.

Melansir Serikat Perusahaan Pers (SPS), lebih dari 190 media cetak berhenti produksi sejak pandemi Covid-19 pada tahun 2020. Media cetak yang tutup termasuk tabloid, majalah, dan terbitan lokal.

Industri koran sedang berada di ujung tanduk
Bisnis media cetak terpukul akibat menurunnya jumlah pembaca, anjloknya perolehan iklan, dan melambungnya harga kertas. Surat kabar terakhir yang menghentikan cetaknya adalah Koran SINDO per April 2023.

Padahal keberadaan surat kabar di Indonesia sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Di Nusantara (sebelum bernama Indonesia), surat kabar pertama terbit pada tahun 1744 bernama Bataviasche Nouvelles.

Surat kabar bermunculan pesat ketika Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP)—izin penerbitan yang rumit era Orde Baru—dihapus pada 1999.

 

Baca: Media cetak mati di era digital, tapi banyak majalah yang tetap bertahan

Kini, mayoritas pelanggan koran cetak adalah institusi pemerintah dan institusi formal lain, perusahaan swasta, lembaga laba maupun nirlaba, organisasi kemasyarakatan dan komunitas.

Sebagian lagi adalah pembaca milenial yang masih menjaga tradisi koran dan romantisme membaca halaman kertas.

Bagaimana masa depan industri surat kabar nasional yang berada di ujung tanduk usai berdarah-darah lebih dari 2 dekade terakhir. Akankah generasi penerus bisa menghidupi kembali industri ini?

Menaruh harapan pada generasi ‘tech savvy’
Banyak survei menunjukkkan Gen Z mengakses informasi melalui media sosial, sebagai paparan berita secara tak sengaja.

Salah satunya adalah survei IDN Media pada 2022. Survei tersebut mengungkap konsumsi koran cetak para kawula muda hanya 4 persen. Pun kalangan pembacanya terkonsentrasi di antara kelompok Gen Z yang lebih tua (usia 21 hingga 24 tahun).

Jika dilihat dari demografi ekonomi, Gen Z dari kelompok sosial ekonomi menengah ke bawah mengakses media digital (51 persen), dibandingkan dengan kalangan Gen Z menengah ke atas dan menengah (masing-masing 35 persen dan 41 persen).

Baca: Surat kabar tertua di dunia berhentik naik cetak

Kelompok Gen Z menengah ke atas dan menengah juga masih membaca majalah, meski persentasenya lebih rendah dibandingkan dengan penggunaan media digital dan koran. Ada kemungkinan majalah merupakan simbol status dan koneksi dibandingkan sumber informasi.

Meski demikian, ada secercah peluang dari generasi yang berjumlah 75 juta orang Gen Z. Yakni mereka di antaranya yang bergelar “skena”.

Skena adalah salah satu subkultur di kalangan anak muda yang terus berkembang. Kita bisa mengenali kekhasan mereka, yaitu kaum muda yang menyenangi musik indie dan hal-hal yang antimainstream alias di luar arustama.

Ciri yang tampak dari skena adalah gaya berpakaian yang tidak mengikuti fast fashion (sebagian justru terlihat vintage),

Skena lebih suka nongkrong di ruang-ruang komunitas atau tempat independen berupa kafe yang unik, datang ke acara gigs, berkreasi secara mandiri (do it yourself/DIY), serta menghargai orisinalitas.

Lingkungan komunitas kreatif membuat kalangan skena umumnya kritis. Mereka peduli pada isu-isu lingkungan hidup, keberagaman gender, inklusivitas, kesehatan mental, dan isu penting seperti kapitalisme dan demokrasi.

Baca: Pentingnya dana jurnalisme publik

Zine (publikasi independen dan tidak resmi) sebagai bagian budaya penerbitan DIY bersinggungan dengan skena. Zine menjadi alternatif untuk mengekspresikan identitas, seni, aktivisme, dan perlawanan.

Kini bermunculan workshop zine dan komunitasnya yang digerakkan kalangan skena.

Skena yang mencerminkan semangat ekspresi kaum muda. Pencarian identitas Gen Z pun bisa menemukan rumahnya dengan membaca surat kabar.

Meski begitu, skena sebagai bagian dari budaya kontemporer ini terhitung “niche”, sehingga keputusan untuk terus menerbitkan koran cetak kembali kepada perusahaan pers.

Selain terus memelihara indepedensi, koran bisa memperbanyak porsi liputan constructive journalism atau jurnalisme konstruktif yang pemberitaannya berfokus pada solusi. Solusi yang dimaksud tidak melulu pendapat pakar, tetapi juga pendapat orang-orang yang berada di dalam cerita.

Sajian semacam itu bisa menjembatani gaya liputan langsung ala koran dan slow journalism yang biasa dilakukan awak majalah.

Harapannya, hal tersebut makin mendekatkan media pada selera Gen Z skena, sehingga mereka melirik koran cetak dan merangkulnya sebagai bagian dari identitas antimainstream.

Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Taufan Wijaya (Dosen Jurnalistik, Universitas Multimedia Nusantara/UMN)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *