Peluang Zine, Media Cetak Independen yang Sedang Digandrungi Gen Z Skena

Written by

in

7cloud.asia – Saat media cetak “hidup segan, mati pun tak mau” di era digital ini seperti sekarang, tetap ada secercah peluang dari generasi yang berjumlah 75 juta orang Gen Z. Yakni mereka di antaranya yang bergelar “skena”.

Skena adalah salah satu subkultur di kalangan anak muda yang terus berkembang. Kita bisa mengenali kekhasan mereka, yaitu kaum muda yang menyenangi musik indie dan hal-hal yang antimainstream alias di luar arustama.

Ciri yang tampak dari Gen Z skena adalah gaya berpakaian yang tidak mengikuti fast fashion (sebagian justru terlihat vintage).

Gen Z skena juga suka nongkrong di ruang-ruang komunitas atau tempat independen berupa kafe yang unik, datang ke acara gigs, berkreasi secara mandiri (do it yourself/DIY), serta menghargai originalitas.

Lingkungan komunitas kreatif membuat kalangan skena umumnya kritis. Mereka peduli pada isu-isu lingkungan hidup, keberagaman gender, inklusivitas, kesehatan mental, dan isu penting seperti kapitalisme dan demokrasi.

Zine (publikasi independen dan tidak resmi) sebagai bagian budaya penerbitan DIY bersinggungan dengan skena. Zine menjadi alternatif untuk mengekspresikan identitas, seni, aktivisme, dan perlawanan.

Kini bermunculan workshop zine dan komunitasnya yang digerakkan kalangan Gen Z skena.

Skena yang mencerminkan semangat ekspresi kaum muda. Pencarian identitas Gen Z pun bisa menemukan rumahnya dengan membaca surat kabar.

Meski begitu, skena sebagai bagian dari budaya kontemporer ini terhitung “niche”, sehingga keputusan untuk terus menerbitkan koran cetak kembali kepada perusahaan pers.

Selain terus memelihara indepedensi, koran bisa memperbanyak porsi liputan constructive journalism atau jurnalisme konstruktif yang pemberitaannya berfokus pada solusi. Solusi yang dimaksud tidak melulu pendapat pakar, tetapi juga pendapat orang-orang yang berada di dalam cerita.

Sajian semacam itu bisa menjembatani gaya liputan langsung ala koran dan slow journalism yang biasa dilakukan awak majalah.

Harapannya, hal tersebut makin mendekatkan media pada selera Gen Z skena, sehingga mereka melirik koran cetak dan merangkulnya sebagai bagian dari identitas antimainstream.

Berkaca dari geliat ulang kamera analog
Skena cenderung menentang nilai-nilai konvensional, dan sering kali memosisikan diri sebagai kultur tandingan yang menawarkan alternatif dari budaya arus utama yang dianggap terlalu komersial.

Penentangan tadi membuat mereka mengeksplorasi hal-hal baru yang tidak mereka alami ketika lahir hingga tumbuh besar. Di antaranya adalah fotografi analog yang menggeliat lagi karena munculnya jenis film seluloid baru—medium rekam untuk kamera analog.

Produsen Leica, Yashica, Pentax, dan Rollei, misalnya, memproduksi lagi kamera analog. Pun produsen Fujifilm: selain memproduksi instax (mirip Polaroid), mereka juga merilis kamera dengan gimik memiliki tombol layaknya kamera analog meski digital.

Dengan melihat fenomena yang ternyata telah bertahan lebih dari satu dekade terakhir ini, maka keyakinan konsumsi bacaan kertas di kalangan anak muda akan selalu ada.

Kuncinya: konten berita berkualitas
Surat kabar sering dianggap sebagai “kasta tertinggi” dalam pemberitaan. Jumlah tiras, distribusi yang luas, serta bukti fisik membuat surat kabar kerap dianggap menjadi sajian berita yang paling kredibel. Saking bisa dipercaya, banyak pembuktian administrasi menggunakan arsip cetakan koran.

Keberadaan bukti fisik tadi membuat berita ditulis secara hati-hati. Informasi diperiksa secara cermat sebelum sebuah kabar memutuskan penempatan berita dalam suatu edisi.
Sementara ralat adalah keteledoran yang tercela, meski wajib dituliskan bila ditemukan kesalahan kemudian.

Surat kabar tidak mengejar kecepatan seperti media online, melainkan kedalaman dan (bila perlu) reportase yang eksklusif. Berita di surat kabar sering menjadi acuan pengambilan keputusan oleh pemangku kepentingan termasuk pemerintah.

Masalah dalam jurnalisme kita bukan hanya ‘relevansi dengan teknologi’ ataupun selera pasar. Melainkan kehilangan fungsi pembebasannya baik di dalam pengembangan pengetahuan maupun praktiknya.

Oleh karena itu, koran harus terus memegang teguh idealisme jurnalisme dengan harus berani mengedepankan kepentingan publik, alih-alih yang berkuasa, berkata ‘tidak’ pada kepentingan siapapun.

Jika ramuan konten koran sudah relevan dan dipercaya pembaca, koran bisa melihat ulang cara pengemasannya.

Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Taufan Wijaya (Dosen Jurnalistik, Universitas Multimedia Nusantara/UMN)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *