Tag: Gen Z

  • Survei Ipsos: Ganjar Pranowo Populer di Kalangan Milenial dan Gen Z, Ini Sebabnya

    Survei Ipsos: Ganjar Pranowo Populer di Kalangan Milenial dan Gen Z, Ini Sebabnya

    7cloud.asia – Hasil survei Ipsos Public Affairs menyebutkan bahwa elektabilitas bakal calon presiden (capres) PDI Perjuangan Ganjar Pranowo unggul di kalangan milenial (usia 25-39 tahun) dan Gen Z (usia 17-24 tahun).

    Survei Ipsos menyebutkan bahwa elektabilitas Ganjar Pranowo unggul di kalangan Gen Z (17-24 tahun), yaitu sebesar 42,40 persen. Sementara itu, Prabowo Subianto sebesar 41,6 persen, Anies Baswedan 16 persen.

    Dalam survei Ipsos itu, kalangan milenial (25-39 tahun), Ganjar Pranowo masih unggul di angka 39,90 persen, lalu Prabowo 35,71 persen, dan Anies Baswedan 24,38 persen.

    Baca: Survei SMRC ungkap Ganjar Pranowo – Ridwan Kamil Unggul

    Survei Ipsos tersebut digelar pada 22 sampai 27 Agustus 2023 di 24 provinsi, pada daerah perkotaan dan perdesaan.

    Survei ini menggunakan metode wawancara tatap muka dengan 1.200 responden dengan menggunakan aplikasi Ipsos Ifield yang merupakan sistem Computer-Assisted Personal Interviews (CAPI).

    Survei Ipsos tersebut memiliki margin of error sekitar 2,83 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

    Baca: Jumlah pemilih disabilitas di Pemilu 2024 capai 1,1 juta orang

    Ketua Umum Angkatan Muda Ka’bah (AMK) Rhendika Harsono menilai bakal calon presiden (bacapres) Ganjar Pranowo sangat paham komunikasi dengan kalangan milenial dan Gen Z.

    Oleh karena itu, menurut dia, dengan sosok Ganjar yang komunikatif dan tidak kaku, sehingga wajar jika mantan Gubernur Jawa Tengah itu memiliki elektabilitas yang tinggi di kalangan milenial dan Gen Z.

    “Ganjar sangat low profile, tidak kaku, dekat dengan semua masyarakat, mahasiswa dan pelajar,” kata Rhendika di Jakarta, Sabtu (16/9/2023) 

    Baca: Aplikasi belanja yang paling banyak diunduh

    Menurut dia, Ganjar sangat paham bagaimana berkomunikasi dengan kalangan milenial dan GenZ. Itu bisa dilihat dari akun media sosial Gubernur Jawa Tengah dua periode itu memiliki follower di atas enam juta.

    “Kalangan milenial dan Gen Z yang bisa dilihat misal di akun Instagram Ganjar memiliki follower 6,2 Juta, akun tiktok Ganjar dengan follower 7,1 juta dan like mencapai 174,5 juta,” ujarnya.

    Menurut dia, dari banyak penelitian yang menyebutkan bahwa Ganjar Pranowo sangat diminati kalangan milenial dan Gen Z.

    Bisa diambil beberapa kesimpulan, seperti Ganjar sangat berpengalaman sebagai seorang anggota DPR RI yang vokal, handal, dan ramah media.

    Baca: Cara beda PSI dan PDIP memandang pemilih Gen Z

    Selain itu, dia menilai Ganjar sukses memimpin Jawa Tengah sebagai gubernur selama dua periode, yang menempati urutan ke-5 sebagai provinsi terpadat di Indonesia dan disebut juga sebagai provinsi pusat pendidikan.

    Rhendika menegaskan bahwa AMK sebagai badan otonom dari PPP, akan bersinergi dengan program PPP, khususnya untuk lebih memperkenalkan Ganjar di kalangan anak muda.

    Menurut dia, para kader AMK yang menjadi calon anggota legislatif di PPP mengacu kepada keputusan dan langkah pemenangan yang diputuskan Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPP PPP.

     

  • Alam Ganjar, Sosok yang Sedang Digandrungi Gen Z dan Warganet

    Alam Ganjar, Sosok yang Sedang Digandrungi Gen Z dan Warganet

    7cloud.asia – Penampilannya yang cool di acara bincang Rosi pada Kamis (21/9/2023) membuat Alam Ganjar (putra tunggal dari bakal capres PDIP Ganjar Pranowo) jadi perbincangan warganet.

    Jawaban Alam Ganjar yang berbobot saat menjawab pertanyaan Rosiana Silalahi dan sosoknya yang kharismatik sukses mencuri perhatian warganet terutama di kalangan generasi Z.

    “Keren banget untuk anak seusia dia,” ujar Anastasia Putri, soal Alam Ganjar yang saat ini masih menimba ilmu di Teknik Industri Universitas Gadjah Mada ini. 

    Tapi sebelum tampil di acara Rosi, Alam Ganjar juga telah jadi sorotan warganet, apalagi setelah dirinya kerap diajak sang ayah untuk menghadiri sejumlah acara.

    Tak heran jika sosok kepribadian dan profilnya kini tengah dicari-cari warganet, terutama Gen Z. 

    Baca: Ganjar Pranowo di mata anak tunggalnya

    Bagi kamu yang penasaran seperti apa dia, berikut ini profil Alam Ganjar yang kami rangkumkan dari berbagai sumber.

    Alam Ganjar terlahir dengan nama Muhammad Zinedine Alam Ganjar di Semarang, Jawa Tengah pada 14 Desember 2001, atau bakal berusia 22 tahun pada Desember nanti.

    Nama Alam Ganjar yang cukup panjang ini merupakan gabungan ide dari Ganjar Pranowo dan Siti Atikoh. Alam adalah cerminan hobi Ganjar Pranowo yang pencinta alam, sedangkan Zinedine adalah pemain bola idola Siti Atikoh.

    Alam Ganjar sendiri yang saat ini berusia 22 tahun tersebut menghabiskan masa kecilnya di Cibubur Jakarta Timur. Lalu melanjutkan  SMP 2 Semarang. Kemudian, ia melanjutkan pendidikannya di SMA 3 Semarang pada tahun 2020.

    Baca: Cerita Nicholas Saputra, antara film dan lingkungan

    Sejak Juli 2022, Alam Ganjar dipercaya untuk menduduki jabatan strategis yakni Head of Strategy di Global Shapers Semarang di bawah World Economic Forum. dia juga merupakan Ketua Harian di Indonesia E-Sports Association (IESPA) Jawa Tengah

    Dikenal Punya Banyak Prestasi
    Alam Ganjar merupakan sosok yang berprestasi. Pada tahun 2015 saat dia masih duduk di bangku SMP, Alam Ganjar pernah menjuarai lomba internasional dalam kompetisi sains yang diadakan di Korea, dia berhasil membawa pulang medali emas.

    Dilansir detik.com, pada 2018-2019, Alam Ganjar mendapat kepercayaan untuk menjadi Presiden Direktur (Presdir) Sagasco Student Company yang merupakan perusahaan siswa dari SMAN 3 Semarang.

    Dan pada tahun yang sama, Alam Ganjar kembali menorehkan prestasi di ajang internasional. Bersama rekan setimnya dia berhasil meraih juara tiga dalam ajang Junior Achievement (JA) Asia Pacific Company of The Year Competition yang diselenggarakan oleh JA Asia Pacific di Manila, Filipina.

    Baca: Kans Gibran di panggung politik

    Pada ajang tersebut, Alam bersama rekannya di Sagasco SMAN 3 Semarang, menampilkan produk andalan usaha mereka berupa echoes dan whynotes.

    Perangkat ini alas kaki dan binder multifungsi buatan tangan yang berbahan dasar eceng gondok dan dipadukan dengan batik. Kreasi tersebut berhasil menarik perhatian para juri sehingga Alam dan teman-temannya jadi juara.

    Alam dan rekan-rekannya berhasil melampaui 17 perusahaan siswa lain yang berasal dari 12 negara di wilayah Asia-Pasifik, termasuk Australia, Brunei Darussalam, Guam, Hong Kong, India, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Tiongkok.

    Bukan hanya itu, dia juga meraih penghargaan Terbaik dalam Manajemen Keuangan.

    Baca: Gibran terpilih jadi cagub dalam rembug rakyat PSI

    Dilihat melalui unggahan dalam akun Instagramnya @alamganjar, Alam Ganjar punya hobi traveling ke sejumlah negara.

    Selain gemar membaca, Alam Ganjar juga gemar olahraga yakni bermain sepak bola, dia kerap membagikan postingan ketika sedang bermain sepak bola.

    Selain itu, Alam Ganjar  juga mahir memainkan gitar. Seperti halnya anak muda zaman sekarang ternyata Alam Ganjar menyukai musik K-Pop.

    Dia pernah beberapa kali menghadiri konser sejumlah girlband K-Pop, seperti Blackpink, TWICE, dan IU.

    Ia sempat menonton konser Blackpink bertajuk ‘Love Poem’ bersama sang ibu, Siti Atikoh.

     

  • Agar Gen Z Lebih Antusias Ikuti Gerakan Pro Lingkungan

    Agar Gen Z Lebih Antusias Ikuti Gerakan Pro Lingkungan

    7cloud.asia – Penelitian yang dilakukan Ina Ratriyana, kandidat PhD  School of Film, Media, and Journalism, Monash University, Melbourne, Australia, Monash University menemukan antusiasme Gen Z dalam kegiatan pro lingkungan masih rendah.

    Penelitian Ina dilakukan pada 2021 dengan partisipan di Yogyakarta, Jakarta, Bogor, Bandung, Cirebon, dan Denpasar menunjukkan masih rendahnya antusiasme Gen Z di Jawa dan Bali pada gerakan pro lingkungan, 

    Lantas apa solusinya agar anak muda terutama Gen Z mau terlibat dalam aksi nyata dan gerakan pro lingkungan? 

    Baca: Antusiasme Gen Z di indonesia dalam gerakan pro lingkungan masih rendah

    Ina Ratriyana dalam tulisannya di The Conversation berjudul “Riset: antusiasme Gen Z di Jawa dan Bali pada isu lingkungan masih rendah” mengusulkan beberapa langkah berikut ini:  

    1. Pendidikan kesadaran lingkungan secara formal maupun nonformal

    Dalam konteks formal, pemerintah melalui beberapa kementerian terkait sudah melakukan inisiasi penting.

    Misalnya dengan membuat kesepakatan bersama antara Menteri Negara Lingkungan Hidup dengan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 03/MENLH/02/2010 dan Nomor 01/II/KB/2010 tentang Pendidikan Lingkungan Hidup.

    Di tahun 2013, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan juga sudah menerbitkan Peraturan Menteri Nomor 81A/2013 untuk mendorong program sekolah berbasis lingkungan di Indonesia.

    Baca: Anak muda sadar akan bahaya perubahan iklim tapi enggan beraksi

    Sayangnya, program ini masih belum menemukan titik terang di mana praktik pro lingkungan terbatas pada hafalan limbah dan polusi. Salah seorang partisipan dari Cirebon, Jawa Barat, mengaku:

    “Saya hanya menghafal jenis-jenis polusi dari pelajaran biologi, namun pengalaman tentang polusi baru saya dapat saat mulai kos di Yogyakarta.”

    Hal ini diamini oleh teman-temannya yang lain.

    Selain pendekatan formal, penelitian ini juga menunjukkan nilai-nilai baik yang bisa dibangun melalui pendidikan nonformal.

    Beberapa partisipan, misalnya, mengaku mendapatkan ilmu dan praktik pro lingkungan, seperti kegiatan menanam pohon dan pentingnya merawat alam, dari kegiatan gereja dan masjid.

    Baca: Seperti ini media memotret gerakan lingkungan Gen Z

    2. Menggunakan pendekatan budaya populer

    Gen Z merupakan generasi yang lebih familiar dengan isu lingkungan saat membacanya di majalah, website, media sosial, ataupun film.

    Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh salah satu partisipan yang menyebutkan bahwa:

    “Saya paham tentang banjir dari film Leonardo di Caprio.”

    Mendekati Gen Z memang tidak bisa menggunakan cara-cara lama dalam menggugah keedulian mereka pada gerakan pro lingkungan.

    Perlu cara baru yang lebih inovatif untuk menggerakkan Gen Z agar mau terlibat dalam gerakan pro lingkungan.

    Baca: Bumi butuh aksi nyatamu, yuk segera bergabung dengan gerakan lingkungan

    Program yang bersifat mekanistik, yaitu ditentukan oleh pemerintah atau pihak sekolah tanpa melibatkan kebutuhan dan keinginan siswa, tidak akan sukses untuk kelompok ini.

    Bentuk Kegiatan pro lingkungan harus didesain oleh dan untuk anak muda itu sendiri. Pihak lain, seperti guru, pemerintah, atau pemilik dana, bisa mengarahkan dan mengawasi prosesnya.

    Selain itu, kegiatan pro lingkungan juga bisa menggunakan media populer sebagai sarana edukasi.

    Bagaimanapun, bagi Gen Z, fotografi, musik, atau cerita menjadikan informasi pro lingkungan lebih ringan dan lebih mudah diingat daripada tumpukan buku pelajaran.

    Sumber: The Conversation

  • Milenial dan Gen Z Bisa Jadi Kekuatan Penekan Produsen Lebih Peduli Lingkungan

    Milenial dan Gen Z Bisa Jadi Kekuatan Penekan Produsen Lebih Peduli Lingkungan

    7cloud.asia – Milenial dan Gen Z yang menjadi penduduk mayoritas Indonesia dinilai telah mempunyai kesadaran tinggi terhadap upaya pengurangan sampah plastik.

    Sebagai konsumen dengan populasi terbanyak, kesadaran untuk mengurangi sampah plastik itu maka milenial dan Gen Z  mempunyai kekuatan untuk menekan produsen agar peduli terhadap kondisi lingkungan.

    Peran milenial dan Gen Z dalam mengurangi sampah plastik ini diungkapkan Direktur Pengelolaan Sampah KLHK Novrizal Tahar  dalam acara Green Press Community di Jakarta, Rabu (8/11/2023).

    “Milenial dan Gen Z harus membangun revolusi terhadap perubahan perilaku dalam mengelola sampah, karena itu yang bisa menyelesaikan persoalan sampah di Indonesia secara signifikan,” ujarnya

    Baca: Antusiasme gen z pada aksi pro lingkungan dinilai masih rendah

    Novrizal mengungkapkan, milenial dan gen Z sekarang sudah seperti “sufi” dengan sampah.

    Ia melihat, sejumlah anak muda pernah datang ke gerai Chatime membawa tumbler untuk kurangi sampah plastik. 

    “Tapi petugas tidak mau melayani karena beli minuman harus dengan kemasan botol plastik lengkap dengan sedotan yang sudah disediakan oleh perusahaan,” ujarnya.

    Setelah kejadian penolakan pakai tumbler tersebut, mereka kemudian menulis di media sosial masing-masing.

    Baca: Menggunakan tumbler, langkah kecil yang berdampak besar bagi lingkungan

    Protes itu lantas memberikan tekanan terhadap Chatime dan akhirnya mengizinkan para pembeli membawa botol minum sendiri.

    “Kekuatan generasi muda adalah kekuatan besar untuk melakukan tekanan kepada para produsen. Tekanan yang dilakukan oleh generasi muda adalah tekanan dengan kekuatan atau perilaku yang ramah lingkungan,” kata Novrizal.

    KLHK mengajak generasi muda untuk melakukan revolusi perubahan perilaku dalam upaya pengurangan sampah plastik agar tidak mencemari lingkungan.

    Novrizal menuturkan ada lima langkah yang perlu dilakukan yaitu gerakan hidup minim sampah dengan membatasi dan mencegah penggunaan barang-barang sekali pakai.

    Baca: Infrastruktur guna ulang semakin banyak dibangun

    Gerakan hidup minim sampah harus menjadi karakter generasi muda, katanya.

    Langkah kedua, belanja tanpa kemasan dengan mulai membiasakan diri membawa tempat penyimpan sendiri agar tidak ada sampah yang dihasilkan dari kegiatan belanja.

    Kemudian menghabiskan makanan, karena sampah makanan yang dibuang ke tempat pembuangan akhir akan terdekomposisi dan menghasilkan gas metana yang menjadi salah satu gas rumah kaca penyebab perubahan iklim.

    Padahal, ujarnya, gas metana 28 kali lebih berbahaya jika dibanding dengan karbondioksida.

    Baca: Sistem guna ulang lebih efektif kurangi sampah plastik, tapi diabaikan

    “Jadi persoalan serius ini, makanan yang tidak habis dibawa ke TPA, kemudian gas metana keluar. Itu penyebab yang lebih berbahaya ketimbang karbondioksida untuk penyebab perubahan iklim,” ucapnya.

    Langkah selanjutnya wajib memilah sampah di rumah dan harus menjadi kesadaran kolektif anak muda di Indonesia.

    Jika sampah sudah dipilah berikan kepada bank sampah atau social ecopreneur yang menggunakan sampah pilah itu untuk didaur ulang.

    Langkah terakhir adalah mengolah sampah organik di rumah menjadi kompos agar sampah organik tidak berakhir di tempat pembuangan akhir.

    Baca: Cara mudah memilah sampah dari rumah

    Novrizal mengungkap beberapa daerah sedang kewalahan dalam menangani sampah akibat tempat pembuangan akhir penuh ataupun kebakaran.

    “Kalau lima hal itu bisa dilakukan, maka 90 persen urusan sampah bisa selesai di rumah,” ucapnya.

     

     

  • Penjelasan Menaker Mengapa Banyak Gen Z Menganggur: Penyumbang Terbanyak Lulusan SMK

    Penjelasan Menaker Mengapa Banyak Gen Z Menganggur: Penyumbang Terbanyak Lulusan SMK

    7cloud.asia – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa pada 2023 ada sebanyak 9,9 juta anak muda usia 15–24 tahun atau yang biasa disebut Gen Z Indonesia yang tidak produktif alias menganggur.

    Dalam laporannya, BPS menyebut total 44,47 juta orang dalam kelompok usia 15-24 tahun di Indonesia, terdapat sekitar 9,9 juta pemuda usia yang tidak terlibat dalam aktivitas produktif.

    Sebagian besar dari mereka adalah bagian dari Generasi Z, yang lahir antara tahun 1997 dan 2012 dan kini berusia 12-27 tahun, yang seharusnya berada dalam masa produktif.

    Menurut BPS, dari 9,9 juta pemuda tersebut, sebanyak 5,73 juta orang merupakan perempuan muda. Sedangkan 4,17 juta orang merupakan laki-laki muda.

    Baca Juga: Angka Pengangguran Naik, Apa yang Bisa DilakukanPerguruan Tinggi

    Para anak muda berusia 15–24 tahun tersebut masuk ke dalam kategori Not in Employment, Education and Training (NEET) atau tidak bersekolah, tidak bekerja, dan tidak sedang mengikuti pelatihan.

    Adapun pemuda yang masuk kategori NEET itu mencapai 22,25 persen dari total populasi usia tersebut secara nasional.

    Merespon data ini, Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah mengungkapkan ada beberapa faktor yang menjadi penyebab tingginya angka pengangguran di kalangan Gen Z.

    Menurut Ida, salah satu penyebab tingginya angka pengangguran di kalangan Gen Z adalah karena ketidakcocokan antara keterampilan yang dimiliki lulusan dengan kebutuhan industri pasar tenaga kerja.

     

    Baca Juga: Milenial dan Gen Z Bisa Jadi Kekuatan Penekan Produsen Lebih Peduli Lingkungan

    Penyebab lain banyak gen Z menjadi pengangguran karena masih dalam proses mencari pekerjaan.

    “Didapati miss-match (ketidakcocokan), jadi output dari pendidikan vokasi belum mampu berkesesuaian dengan kebutuhan pasar kerja,” kata Ida dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (20/5/2024).

    Lebih lanjut, Ida menyoroti penyumbang angka pengangguran terbanyak di kalangan gen Z berasal dari lulusan SMK. Angka pengangguran tersebut bahkan mencapai sekitar 8,9 persen.

    “Pengangguran kita ini terbanyak disumbangkan dari lulusan SMK, anak-anak lulusan SMA, ini terjadi karena adanya miss-match,” ungkapnya.

     

    Baca Juga: Kenali Gen Alfa yang Akan Membentuk Dunia Kerja di Masa Depan

    Untuk mengatasi masalah ini, Ida menyatakan bahwa pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun 2022 mengenai Revitalisasi Pendidikan Vokasi dan Pelatihan Vokasi.

    Menurut Ida, peraturan ini mengharuskan pendidikan dan pelatihan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.

    Peraturan tersebut juga mendorong adanya kerjasama antara pemangku kepentingan terkait, untuk menghadirkan tenaga kerja yang kompeten sesuai dengan kebutuhan pasar kerja yang terus berubah.

    Pemangku kepentingan itu antara lain Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Kementerian Ketenagakerjaan, serta Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN Indonesia)

     

    Sumber: Tempo.co

  • Soroti 10 Juta Gen Z Menganggur: Iringi Bonus Demografi dengan Kesempatan Kerja

    Soroti 10 Juta Gen Z Menganggur: Iringi Bonus Demografi dengan Kesempatan Kerja

     

    7cloud.asia – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data bahwa hampir 10 juta penduduk usia muda yang berusia 15-24 tahun (Gen Z) berstatus menganggur.

    Dalam data yang dirilis BPS ini, sebanyak 10 juta Gen Z dalam status tanpa kegiatan (not in employment, education, and training/NEET).

    Jika dirinci lebih dalam, anak muda atau Gen Z yang paling banyak menganggur ini justru ada di daerah perkotaan, yakni sebanyak 5,2 juta orang dan 4,6 juta di pedesaan.

    Merespons hal itu, Wakil Ketua Komisi IX DPR Kurniasih Mufidayati mengungkapkan fenomena maraknya pengangguran di kalangan Gen Z menjadi ancaman serius bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045.

    Kurniasih menyebut, bonus demografi jika tidak diiringi dengan hadirnya kesempatan kerja yang besar bagi generasi muda akan menciptakan bom waktu.

    Baca Juga: Penjelasan Menaker Mengapa Banyak Gen Z Menganggur: Penyumbang Terbanyak Lulusan SMK

    Angka 10 juta pengangguran Gen Z ini, ujarnya, sudah jadi tanda-tanda jika bonus demografis kita tidak terkelola dengan baik.

    “Kita sudah menyadari hadirnya bonus demografi, maka di hulu pentingnya pendidikan skill dan di hilir pentingnya terbukanya luas kesempatan kerja,” kata Kurniasih dalam keterangannya kepada Parlementaria, di Jakarta, Rabu (22/5/2024).

    Anggota Fraksi PKS DPR ini mengungkapkan, Gen Z semakin terhimpit karena dari sisi pendidikan tinggi kini semakin mahal dengan adanya kenaikan UKT.

    Sementara dari kesempatan kerja yang ada mensyaratkan sudah berpengalaman dan adanya batas usia.

    Kurniasih mngatakan, generasi muda atau Gen Z hari ini tidak bisa disamakan dengan generasi sebelumnya. Ada treatment khusus, terutama dari sisi pendidikan maupun dunia kerja.

    Baca Juga: Kayn Label, Produk Fesyen Ramah Lingkungan Pilihan Gen Z

    “Harus dipermudah hadirnya lembaga pendidikan dengan skill yang saat ini sedang dibutuhkan, plus berikanlah kesempatan seluas-luasnya dari pemberi kerja,” kata Anggota DPR Dapil DKI Jakarta II ini.

    Kurniasih juga menyoroti hari ini tren angkatan kerja justru didominasi oleh pekerja informal.

    Hal ini juga membuktikan jika adanya angkatan pencari kerja yang membludak namun kesempatan kerja di sektor formal tidak memadai.

    Baru saja viral, ujarnya, pencari kerja untuk sebuah warung makan biasa antreannya membludak seperti halnya antrean kerja di pabrik.

    “Ini memprihatinkan karena banyak anak kerja ini tak dapat kesempatan kerja formal sehingga lowongan apapun akan dijalani termasuk sektor informal. Padahal perlindungan pekerja di sektor informal masih sangat lemah,” ucap Kurniasih.

    Baca Juga: Kenali Gen Alfa yang Akan Membentuk Dunia Kerja di Masa Depan

  • Apa Prioritas dan yang Dicari Gen Z di Dunia Kerja?

    Apa Prioritas dan yang Dicari Gen Z di Dunia Kerja?

    7cloud.asia – Generasi Z atau Gen Z atau mereka yang lahir di periode 1997-2012 menjadi generasi yang paling disorot dalam banyak diskusi di berbagai tempat.

    Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), proporsi Gen Z mencapai 34,74 persen dari seluruh usia produktif di Indonesia.

    Banyaknya Gen Z yang mulai masuk menjadi tenaga kerja juga menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dan pemberi kerja.

    Meskipun sebuah penelitian mengatakan Gen Z memiliki karakter yang sama dengan generasi Milenial, mereka memiliki tetap memiliki karakteristik uniknya sendiri dan prioritas yang berbeda dalam mencari pekerjaan.

    Lantas, apa yang gen Z cari dalam bekerja dan mencari pekerjaan? 

    Baca: 10 juta Gen Z di Indonesia menganggur

    Dalam episode SuarAkademia terbarunya, The Conversation berdiskusi dengan Adhi Cahya Fahadayna, Dosen dari Universitas Brawijaya, Malang.

    Adhi mengatakan prioritas yang dicari gen Z dalam dunia kerja sangat berbeda bila dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya.

    Jika generasi X dan Milenial mencari stabilitas dan keamanan dalam bekerja, generasi Z melihat fleksibilitas dalam bekerja dan work-life balance sebagai dua hal yang paling penting bagi mereka.

    Berdasarkan penelitian yang dilakukan Adhi Cahya, pemberian jam kerja yang fleksibel dan keseimbangan antara kehidupan personal dan pekerjaan terhadap gen Z ternyata terbukti bisa menaikkan produktivitas generasi ini.

    Baca: Penyebab 10 juta Gen Z di Indonesia menganggur

    Adhi juga menambahkan generasi ini mencari mentor yang bisa meningkatkan kapabilitas mereka dalam bekerja di dunia kerja.

    Menurutnya, Gen Z adalah generasi yang suka mempelajari hal baru dan akan merasa nyaman untuk bekerja di sebuah tempat yang memberikan arahan yang jelas dalam melakukan pekerjaan dan membangun masa depan mereka sebagai pekerja.

    Namun, Gen Z juga perlu memperhatikan kemampuan yang mereka butuhkan untuk memasuki dunia kerja.

    Adhi beranggapan Gen Z perlu memiliki pemahaman tentang aspek adaptasi di lingkungan kerja, profesionalisme, dan nilai pengalaman dalam dunia kerja.

    Penulis: Muammar Syarif, Podcast Producer The Conversation

  • Gen Z dan Baby Boomers, Mana yang Paling Menderita Akibat Perubahan Iklim?

    Gen Z dan Baby Boomers, Mana yang Paling Menderita Akibat Perubahan Iklim?

    7cloud.asia – Kajian di tingkat global maupun nasional banyak kaum muda dari Generasi Z (Gen Z) dan Milenial sangat risau terhadap isu lingkungan dan perubahan iklim.

    Gen Z merupakan kelompok penduduk global yang lahir dalam periode 1998-2012, sedangkan Milenial lahir di antara 1981-1995.

    Level keresahan mereka pada kondisi bumi saat ini, khususnya perubahan iklim, lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya, seperti Generasi X (1965-1989) dan Baby Boomers (1946-1964).

    Kondisi tersebut melahirkan aksi iklim yang sangat kencang dari kaum muda Gen Z maupun Milenial dibandingkan orang-orang tua.

    Bahkan, aksi tersebut juga memicu lahirnya meme “Ok Boomer”, sebagai sindiran sejumlah anak muda terhadap generasi tua yang dianggap kolot terhadap langkah maju, termasuk aksi iklim.

    Sayang, sindiran ini justru menimbulkan sentimen antargenerasi dan tindakan saling menyalahkan. Generasi muda menganggap generasi tua telah merusak lingkungan dan memperparah perubahan iklim. Generasi tua juga dicap lamban untuk mengatasinya.

    Baca: Perubahan iklim membuat fenomena gelombang panas ekstrem

    Sementara itu, generasi tua mengeluhkan anak muda yang mereka anggap “mental lembek” dan hanya doyan main gadget. Mereka juga acap “menyuruh” yang muda untuk bertindak mengurus persoalan lingkungan.

    Membawa sentimen generasi dalam isu perubahan iklim justru tidak menyederhanakan persoalan. Banyak faktor yang akhirnya luput dari pertimbangan saat melihat akar masalah krisis iklim serta dampak-dampaknya.

    Meskipun meme-meme bernada sindiran menambah paparan publik terhadap isu lingkungan, percakapan semacam ini justru bisa menggeser fokus publik terhadap cara penanganan perubahan iklim.

    Setiap generasi membutuhkan lebih banyak perbincangan seputar dampak perubahan iklim. Dengan bercakap-cakap lebih banyak, antargenerasi seharusnya saling berempati dan berdialog untuk merumuskan aksi bersama, sesegera mungkin.

    Generasi mana yang paling menderita?
    Kejadian tak menyenangkan akibat perubahan iklim baik panas ekstrem, kebakaran hutan, puting beliung, banjir, maupun ombak dahsyat mengakibatkan kerugian banyak orang di berbagai negara dan juga daerah di Indonesia.

    Namun, pengalaman terhadap kejadian maupun bencana antargenerasi jelas berbeda

    Baca: Waspadai suhu panas di masa depan

    Gen Z yang lahir dalam periode 1998-2012 bertumbuh di situasi suhu Bumi sudah lebih hangat setidaknya 0,5°C sejak era praindustri (1850-an), dibandingkan generasi Baby Boomers yang lahir di antara tahun 1948-1962.

    Perbedaan ini juga terasa apalagi oleh Generasi Alpha yang lahir dalam periode 2013-2022.

    Kedua generasi ini, termasuk Millenial yang lahir dalam periode 1981-1995, menjadi kelompok yang sangat merasakan dampak perubahan iklim di masa depan.

    Jikalau seluruh negara dunia serius dan ambisius meredam perubahan iklim (termasuk melenyapkan pembakaran batu bara), mereka akan menjalani sebagian besar hidupnya di tengah kenaikan suhu Bumi sebesar 1,5-2,4°C.

    Semakin panas suhu Bumi, kemalangan yang menimpa manusia akan terus parah. Ini dapat berdampak pada kesehatan fisik maupun mental.

    Sementara itu, dengan skenario yang sama, generasi Baby Boomers merasakan kenaikan suhu 1,9°C.

    Baca: Sekjen PBB serukan pengurangan bahan bakar fosil tuk hadang perubahan iklim

    Karena mayoritas sudah berusia lanjut, Boomers mereka lebih rentan mengalami dampak perubahan iklim dalam waktu dekat seperti panas menyengat, kebakaran hutan, longsor, dan hujan ekstrem.

    Di negara berkembang seperti Indonesia, situasi itu bisa berefek lebih memprihatinkan. Sebagai contoh, generasi tua yang menjadi petani, mulai dari Generasi X hingga Boomers, banyak terpapar panas ekstrem di ladang dan ketidakpastian cuaca.

    Ini berdampak pada kesehatan sekaligus sumber nafkah mereka.

    Nelayan generasi Baby Boomers di desa-desa pesisir Sumbawa, misalnya, tak bisa disalahkan atas dan perubahan iklim. Sebaliknya, mereka justru menjadi korban.

    Dalam kasus lain, ada pemuda yang terbukti menerima suap dari perusahaan perusak lingkungan yang membuat Bumi semakin celaka.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Diah Ayu Prawitasari, Dosen Tetap Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta

  • OJK: 37,17 Persen Kredit Macet Pinjol Disumbang Gen Z dan Millenial

    OJK: 37,17 Persen Kredit Macet Pinjol Disumbang Gen Z dan Millenial

    7cloud.asia – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut, generasi Z dan milenial berkontribusi sebesar 37,17 persen pada kredit macet atau tingkat wanprestasi pada pinjaman online atau Pinjol

    Kredit macet ini masuk kategori tingkat wanprestasi (TWP) 90 Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI) atau fintech peer-to-peer (P2P) lending atau pinjaman online untuk Juli 2024.

    Ikhwal kredit macet pinjol itu diungkapkan Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK, Agusman di Jakarta, Jumat (6/9/2024)

    “Dari data yang ada pada kami, pada Juli 2024 porsi wanprestasi 90 hari atau TPW 90 untuk gen Z dan milenial ini yang kami kategorikan di usia 19 sampai 34 tahun itu adalah 37,17 persen,” kata nya

    Baca: OJK blokir 5000 entitas yang dicurigai pinjol

    Dari Rapat Dewan Komisioner OJK Bulanan Agustus 2024, Agusman menuturkan tingkat risiko kredit macet secara agregat atau TWP 90 pada P2P lending, dalam kondisi terjaga di posisi 2,53 persen pada Juli 2024.

    Angka kredit macet ini menurun dibandingkan pada Juni 2024 yang sebesar 2,79 persen.

    Sementara, outstanding pembiayaan di ​industri fintech peer to peer lending pada Juli 2024 terus meningkat menjadi 23,97 persen yoy, dengan nominal sebesar Rp69,39 triliun.

    Untuk memitigasi risiko kredit macet oleh masyarakat termasuk generasi Z dan milenial, penyelenggara peer to peer lending telah diminta oleh OJK untuk membuat pernyataan peringatan kepada konsumen pada laman utama website maupun aplikasinya.

    Kalimat peringatan tersebut berbunyi: Hati-hati, transaksi ini berisiko tinggi. Anda dapat saja mengalami kerugian atau kehilangan uang. Jangan berutang jika tidak memiliki kemampuan membayar. Pertimbangkan secara bijak sebelum bertransaksi.

    Baca: Banyak anak muda terjerat pinjol

    “Mudah-mudahan pendekatan ini akan membantu untuk menyeleksi gen Z dan milenial dan siapapun juga yang ingin bertransaksi di peer to peer lending untuk lebih sadar dari awal risiko yang akan dihadapi,” ujar Agusman.

    Selain itu, OJK telah menerbitkan aturan mengenai fintech P2P lending yaitu Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 10/POJK.05/2022 tentang Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (POJK 10/22) dan Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Nomor 19/SEOJK.06/2023 tentang Penyelenggaraan Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (SEOJK 19/2023).

    Dalam aturan tersebut, OJK mengatur beberapa hal antara lain analisis pendanaan atau proses uji kelayakan pengajuan pinjaman dengan memperhatikan kemampuan keuangan yang dimiliki oleh penerima dana.

    Penyelenggara wajib memenuhi ketentuan batas maksimum manfaat ekonomi pendanaan dalam memfasilitasi pendanaan.

    Manfaat ekonomi yang dikenakan oleh penyelenggara adalah tingkat imbal hasil, termasuk bunga/margin/bagi hasil; biaya administrasi/biaya komisi/fee platform/ujrah yang setara dengan biaya dimaksud; dan biaya lainnya, selain denda keterlambatan, bea meterai dan pajak.

  • Dear Gen Z, OJK Ingatkan Pentingnya Perencanaan Keuangan

    Dear Gen Z, OJK Ingatkan Pentingnya Perencanaan Keuangan

    7cloud.asia – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan generasi atau Gen Z terkait perencanaan keuangan dengan tujuan utama memberikan edukasi mengenai literasi keuangan, perencanaan investasi.

    Edukasi perencanaan keuangan ini juga untuk menumbuhkan pemahaman di kalangan Gen Z terhadap aktivitas keuangan ilegal.

    Financial Advisor Community OJK Viko Hadian, di Jakarta, Selasa (22/10/2024) mengatakan edukasi literasi keuangan ini dilakukan agar kalangan Gen Z memiliki pemahaman yang baik mengenai produk dan layanan jasa keuangan.

    “Selain itu dapat membentengi diri dari maraknya berbagai penipuan berkedok investasi dan aktivitas keuangan ilegal di era digital,” katanya pula.

    Ia mengatakan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mengatur perencanaan keuangan, di antaranya yakni harus menurunkan utang, melestarikan kekayaan.

    Selain itu juga mengembangkan kekayaan dengan berinvestasi, menjaga keamanan kekayaan dan mengatur keuangan dengan baik.

    “Untuk menjaga hal tersebut maka Gen Z ini perlu mengetahui terkait literasi keuangan, agar mampu untuk memahami dan mengelola keuangan pribadi secara efektif. Seperti kebiasaan menabung, investasi, mengelola keuangan dan utang, serta merencanakan keuangan untuk masa mendatang,” katanya.

    Baca: Cara investasi dengan modal cekak

    Ia juga menyinggung tiga fenomena di kalangan Gen Z yang berdampak negatif saat menggunakan layanan keuangan digital. Ketiganya yakni you only live once (Yolo), fear of missing out (Fomo), dan fear of other peoples opinion (Fopo).

    “Selain pemahaman terkait risiko, teman-teman juga harus memahami kebutuhan keuangannya sendiri. Jangan ikut gaya dan tren yang dapat uang sedikit langsung digunakan untuk belanja agar mengikuti tren,” katanya pula.

    Selain itu, fenomena Fomo juga jamak dijumpai di kalangan Gen Z. Takut ketinggalan suatu hal, seperti keputusan anak muda menggunakan layanan keuangan digital hanya untuk ikut tren tanpa memahami dan mengelola keuangan pribadi secara efektif.

    “Dan menyinggung fenomena Fopo yang merujuk kepada keputusan anak muda dengan mencoba layanan keuangan digital, karena takut dikritik orang lain tanpa tahu layanan itu memiliki izin resmi atau tidak,” katanya.

    Pihaknya juga mengingatkan generasi Z untuk terus memahami modus penawaran layanan keuangan digital.

    Ia berpesan agar selalu berhati-hati dan tidak mudah percaya dengan beragam tawaran yang beredar dengan cara memastikan layanan itu memiliki izin resmi dari pihak berwenang seperti OJK.

    Baca: Alasan perusahaan tolak fresh graduate yang terjebak utang

    Sebelumnya, perusahaan konsultan audit dan pajak Grant Thornton Indonesia menyebut perencanaan keuangan yang matang dapat membantu menghadapi tekanan ekonomi saat ini terutama bagi kalangan kelas menengah.

    Konsultan tersebut menyarankan langkah-langkah seperti diversifikasi pendapatan, pengelolaan utang yang bijak, dan peningkatan literasi keuangan agar tetap mampu bertahan bahkan tetap tumbuh di tengah tekanan ekonomi.

    Penurunan jumlah kelas menengah, ujarnya, menjadi tantangan besar yang membutuhkan solusi terpadu.

    “Kami tetap percaya bahwa dengan perencanaan keuangan yang matang dan strategi yang tepat, kelas menengah tidak hanya bertahan namun juga bertumbuh.” kata CEO Grant Thornton Johanna Gani dikutip Antaranews.com, September lalu.

    Johanna mengungkapkan tekanan dan perubahan ekonomi yang cepat saat ini dapat memberatkan kelas menengah.

    Hal itu juga sejalan dengan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat jumlah kelas menengah telah menurun dari 57,4 juta pada 2019 menjadi 47,9 juta di 2024.

    Penurunan sebesar 9,5 juta orang atau sekitar 16,5 persen ini tidak hanya dipengaruhi oleh tekanan harga, tetapi juga oleh perubahan gaya hidup yang berdampak pada penurunan daya beli dan tabungan masyarakat kelas menengah.