Tag: hamas

  • Gencatan Senjata Israel-Hamas Berakhir Hari Ini

    Gencatan Senjata Israel-Hamas Berakhir Hari Ini

    7cloud.asia – Gencatan senjata sementara antara Israel dan Hamas memasuki hari keenam, pada Rabu (29/11/2023).

    Kedua belah pihak, baik Israel maupun Hamas diperkirakan akan membebaskan lebih banyak lagi sandera dan tahanan.

    Sementara para perunding mendorong diperpanjangnya kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hama  tersebut.

    “Kami ingin jeda diperpanjang karena dampaknya, pertama-tama dan yang terpenting, adalah sandera dibebaskan, pulang dan berkumpul kembali dengan keluarga mereka,” kata Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken hari Rabu.

    “Ini juga memungkinkan kita meningkatkan bantuan kemanusiaan untuk masyarakat di Gaza yang sangat membutuhkannya.”

    Blinken dijadwalkan meninjau ke kawasan tersebut untuk bertemu dengan para pejabat Israel dan Palestina guna membicarakan tentang kampanye militer Israel.

    Baca: Gencatan senjata antara Israel dan Hamas diperpanjang  

    Blinken juga mengupayakan perlindungan warga sipil di Gaza dan upaya mempercepat pengiriman bantuan kemanusiaan.

    Hamas mengisyaratkan akan memperpanjang gencatan senjata. Sementara Perdana Menteri israel, Netanyahu mengatakan pihaknya akan kembali melanjutkan serangan, jika gencatan senjata tak diperpanjang.

    Gencatan senjata awal Israel-Hamas menyerukan empat hari bagi Israel untuk menghentikan serangannya untuk melenyapkan kelompok Hamas.

    Sementara Hamas membebaskan 50 sandera yang ditawannya dalam serangan terhadap Israel bulan lalu.

    Israel membebaskan 150 tahanan Palestina. Gencatan senjata tersebut juga memungkinkan ditingkatkannya bantuan kemanusiaan yang mencapai Jalur Gaza yang porak poranda.

    Perpanjangan dua hari ditambahkan dengan ketentuan Hamas membebaskan 10 sandera lagi per hari dan Israel membebaskan tambahan tahanannya.

    Baca: Gencatan senjata Israel-Hamas mulai diberlakukan

    Militer Israel mengatakan 12 sandera yang ditawan di Gaza, 10 warga Israel dan dua warga negara asing, dibawa ke Israel Selasa (28/11/2023) malam dalam putaran pembebasan terakhir.

    Sebagai imbalannya, Israel membebaskan 30 tahanan Palestina, 15 perempuan dan 15 remaja lelaki dari penjara di Tepi Barat dan pusat penahanan di Yerusalem, kata Palestinian Prisoners Club, sebuah organisasi semiresmi.

    Hamas menyandera sekitar 240 orang dalam serangannya terhadap Israel Selatan pada 7 Oktober lalu yang menewaskan sekitar 1.200 orang.

    Dalam serangan balasannya, Israel telah menewaskan lebih dari 15 ribu orang, menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang dikuasai Hamas.

    Gencatan senjata  ini memberi ketenangan pertama di Gaza setelah enam pekan bombardemen udara yang intensif dan serangan darat oleh Israel yang dipicu oleh serangan Hamas.

    Karena bombardemen Israel terhadap Jalur Gaza, PBB memperkirakan 1,8 juta dari 2,3 juta warga Gaza telah mengungsi dari rumah mereka, kebanyakan tinggal di tempat-tempat penampungan yang penuh sesak.

    Baca: Hampir 15.000 orang tewas selama 46 hari perang Israel-Hamas

    Shelter Network, sebuah konsorsium bantuan yang dipimpin PBB, mengemukakan dalam laporan hari Jumat bahwa lebih dari 60% perumahan Gaza telah rusak atau hancur.

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Selasa (28/11) memperingatkan tentang risiko tinggi “ledakan wabah penyakit menular” di tengah-tengah kondisi penuh sesak dan terganggunya sistem kesehatan, air dan sanitasi di Gaza.

    Di kubu diplomatik, Dewan Keamanan PBB dijadwalkan mengadakan pertemuan hari Rabu yang berfokus pada konflik Israel-Hamas.

    Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken akan mengunjungi kawasan itu Rabu malam, menurut seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri.

    Blinken telah beberapa kali mengunjungi Israel dalam dua lawatan sebelumnya ke kawasan sejak perang Israel-Hamas dimulai.

    Dalam pertemuannya di Timur Tengah, Blinken “akan menekankan perlunya mempertahankan arus bantuan kemanusiaan yang ditingkatkan ke Gaza. memastikan pembebasan seluruh sandera, dan meningkatkan perlindungan terhadap warga sipil di Gaza,” 

    Baca: UE Tegaskan pengakuan Palestina kunci keamanan Israel

  • Israel dan Hamas Perpanjang Gencatan Senjata Sehari Lagi

    Israel dan Hamas Perpanjang Gencatan Senjata Sehari Lagi

    7cloud.asia – Israel dan Hamas mencapai kesepakatan untuk memperpanjang jeda gencatan senjata enam hari mereka hingga satu hari lagi.

    Kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata antara Israel dan Hamas ini dicapai menit-menit terakhir sebelum gencatan senjata berakhir pada Kamis (30/11/2023) 

    Kesepakatan gencatan senjata itu untuk memungkinkan para perunding terus berupaya mencapai kesepakatan untuk menukar sandera yang ditahan di Gaza dengan tahanan Palestina.

    Jeda atau gencatan senjata selama tujuh hari ini telah memungkinkan bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan untuk masuk ke Gaza.

    Baca: Gencatan senjata Israel-Hamas akan berakhir, bagaimana nasib pengungsi?

    Sebagian besar wilayah Gaza, yakni pesisir berpenduduk 2,3 juta jiwa menjadi reruntuhan akibat pemboman Israel sebagai respons terhadap serangan mematikan yang dilakukan Hamas pada 7 Oktober lalu.

    “Mengingat upaya para mediator untuk melanjutkan proses pembebasan sandera dan tunduk pada ketentuan kerangka kerja, jeda operasional akan terus berlanjut,” kata militer Israel.

    Pernyataan itu dirilis beberapa menit sebelum gencatan senjata sementara berakhir pada Kamis pukul 05.00 GMT atau pukul 12.00 WIB.

    Hamas sudah membebaskan 16 sandera dengan imbalan 30 tahanan Palestina pada Rabu (29/11/2023), mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa gencatan senjata akan berlanjut hingga hari ketujuh.

    Baca: Israel dan Hamas sepakat untuk gencatan senjata

    Kondisi gencatan senjata, termasuk penghentian permusuhan dan masuknya bantuan kemanusiaan, akan tetap sama, menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar.

    Qatar telah menjadi mediator utama antara pihak-pihak yang bertikai, bersama dengan Mesir dan Amerika Serikat.

    Sementara itu, sekitar enam orang terluka dalam serangan penembakan di Yerusalem pada Kamis, kata petugas layanan ambulans Israel Magen David Adom.

    Pihak kepolisian mengatakan dua tersangka penyerang telah “dilumpuhkan di tempat”

    Baca: Hampir 15.000 warga Palestina tewas selama 46 hari konflik

    Sebelum tercapainya kesepakatan tersebut, baik Israel maupun Hamas mengatakan mereka bersiap untuk melanjutkan pertempuran karena negosiasi mengenai pembebasan sandera berikutnya menemui jalan buntu.

    “Beberapa waktu yang lalu, Israel diberikan daftar perempuan dan anak-anak sesuai dengan ketentuan perjanjian, dan oleh karena itu gencatan senjata akan terus berlanjut,” kata kantor perdana menteri Israel dalam sebuah pernyataan tepat ketika gencatan senjata akan berakhir.

    Hamas sebelumnya mengatakan Israel menolak menerima tujuh perempuan dan anak-anak lagi serta jenazah tiga sandera lainnya sebagai imbalan atas perpanjangan gencatan senjata tersebut.

    Hamas tidak menyebutkan nama anggotanya yang tewas namun mengatakan pada hari Rabu bahwa sebuah keluarga yang terdiri dari tiga sandera Israel, termasuk sandera termuda, Kfir Bibas yang berusia 10 bulan, tewas dalam pemboman Israel di daerah kantong tersebut.

    Baca: Uni Eropa tegaskan pengakuan terhadap Palestina jadi kunci keamanan Israel

  • Gencatan Senjata Israel-Hamas Berakhir, Israel kembali Serang Gaza dan Larang Bantuan Kemanusiaan Masuk Gaza

    Gencatan Senjata Israel-Hamas Berakhir, Israel kembali Serang Gaza dan Larang Bantuan Kemanusiaan Masuk Gaza

    7cloud.asia – Truk-truk bantuan kemanusiaan dan bahan bakar berhenti memasuki Jalur Gaza pada Jumat (1/12/2023) setelah berakhirnya gencatan senjata antara Israel-Hamas.

    Mengutip Anadolu, seorang sumber keamanan berkata bahwa Israel tidak mengizinkan ada truk yang memasuki Gaza, daerah kantong Palestina tersebut melalui perbatasan Rafah setelah gencatan senjata tujuh hari.

    Selama masa gencatan senjata itu, hanya sedikit bantuan dan bahan bakar yang masuk Gaza.

    Israel kembali melanjutkan serangan di Jalur Gaza setelah berakhirnya gencatan senjata sehingga menelan ratusan korban jiwa pada kalangan warga sipil Palestina.

    Paling sedikit 109 warga Palestina meninggal dan beberapa lainnya luka-luka ketika Israel kembali menyerang berbagai wilayah di Jalur Gaza setelah gencatan senjata berakhir, kata Kementerian Kesehatan di Gaza.

    Baca: WHO ingatkan ancaman penyakit menular di Gaza

    Sebelumnya, gencatan senjata sementara antara Israel dan Hamas berlaku pada 24 November.

    Dilansir VOA Indonesia, Israel telah mengatakan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahwa mereka tidak akan memperbarui visa koordinator residen dan kemanusiaan PBB di wilayah Palestina.

    Israel secara efektif akan mengusir koordinator kemanusiaanPBB di Palestina. 

    Hal ini terjadi di tengah ketegangan hubungan antara Israel dan badan dunia tersebut terkait perang di Gaza.

    Dalam surat tertanggal 12 November dan dilihat oleh VOA, Amir Weissbrod, wakil direktur jenderal kantor Kementerian Luar Negeri Israel yang menangani PBB dan organisasi internasional lainnya, menyatakan ketidaksenangan pemerintahnya terhadap seorang pejabat PBB, Lynn Hastings.

    “Dengan menyesal kami memberi tahu Anda bahwa Nona Hastings telah kehilangan kepercayaan dan keyakinan dari otoritas Israel dan tidak lagi dalam posisi untuk memenuhi tanggung jawabnya secara efektif dengan pejabat Israel terkait,” tulisnya.

    Baca: Dubes Palestina sebut hanya gencatan senjata takkan selesaikan masalah Palestina

    Dia mengatakan bahwa pemerintah Israel tidak akan memperbarui visa Hastings ketika masa berlakunya habis 20 Desember mendatang.

    Weissbrod mengutip apa yang disebutnya sebagai “sikap diam yang berkelanjutan” oleh Hastings mengenai tanggung jawab Hamas atas serangan teror 7 Oktober terhadap Israel.

    “Diamnya Hastings (atas serangan Hamas) ini menjadi lebih mencengangkan, dan sangat ofensif, mengingat sikap Hastings untuk secara teratur dan tidak bertanggung jawab mengarahkan kritik terhadap Israel,” katanya.

    Tiga hari setelah serangan Hamas itu, Hastings mengeluarkan pernyataan yang menyatakan, “Kelompok bersenjata Palestina menyusup ke Israel pada 7 Oktober, membunuh dan menangkap ratusan warga sipil Israel dan anggota pasukan Israel, sambil tanpa pandang bulu menembakkan ribuan roket ke Israel.”

    Pernyataan itu menambahkan: “Warga sipil (Israel) yang ditangkap harus segera dibebaskan dan tanpa syarat” dan “diperlakukan secara manusiawi dan bermartabat.”

    Baca: Hampir 15.000 warga Palestina tewas dalam 46 hari perang Israel-Hamas

    Hastings berulang kali menyerukan peningkatan bantuan ke Gaza. Mulai 7 hingga 21 Oktober, Israel tidak mengizinkan bantuan kemanusiaan apa pun masuk ke wilayah yang dikuasai Hamas.

    Ketika program ini dimulai, dana tersebut terbatas dan tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat.

    Dia juga mendesak Israel untuk membatalkan perintah evakuasi yang menyebabkan lebih dari 1 juta orang dari Gaza utara melarikan diri ke selatan.

    Hastings telah meminta kedua pihak yang berkonflik untuk mematuhi kewajiban mereka berdasarkan hukum humaniter internasional.

    “Saya hanya bisa – dan saya telah mengatakan ini sebelumnya – menegaskan kembali kepercayaan penuh Sekretaris Jenderal PBB terhadap Nona Hastings, cara dia berperilaku dan cara dia melakukan pekerjaannya,” kata juru bicara PBB Stephane Dujarric, Jumat (1/12/2023) sebagai tanggapan terhadap pertanyaan wartawan dan mengkonfirmasi keputusan Israel.

    Baca: Gencatan senjata mulai berlaku

    Dia mencatat bahwa Hastings telah menghadapi serangan publik, termasuk di media sosial.

    “Serangan pribadi dan langsung terhadap personel PBB di mana pun di seluruh dunia tidak dapat diterima dan membahayakan nyawa banyak orang,” kata Dujarric.

    Keputusan Israel diambil di tengah ketegangan hubungan antara Tel Aviv dan PBB.

    Para pejabat Israel selama bertahun-tahun menuduh organisasi tersebut bias terhadap Israel, dan bulan lalu, Duta Besar Gilad Erdan meminta Sekretaris Jenderal Antonio Guterres untuk mengundurkan diri ketika ia mengatakan bahwa serangan Hamas (ke Israel) “tidak terjadi dalam ruang hampa.”

    Guterres menambahkan bahwa rakyat Palestina “telah menjadi sasaran pendudukan yang menyesakkan selama 56 tahun.”

    Erdan mengatakan pada hari itu bahwa Israel juga harus menilai kembali hubungannya dengan PBB.

    Baca: Uni Eropa desak Israel akui kemerdekaan Palestina

    Tuduhan Israel terhadap guru UNRWA

    Secara terpisah, badan PBB yang membantu warga Palestina, UNRWA, mengatakan Jumat (1/12/2023) bahwa pihaknya telah meminta informasi lebih lanjut kepada seorang jurnalis Israel mengenai apa yang dikatakannya sebagai “tuduhan yang sangat serius”.

    Tuduhan itu menyebut seorang guru UNRWA menahan salah satu warga Israel yang diculik pada 7 Oktober di ruangan loteng rumahnya selama 50 hari.

    Reporter saluran televisi Israel 13, Almog Boker, menulis di platform media sosial X pada Kamis (30/11/2023) bahwa tersangka penculik hampir tidak memberikan makanan atau perawatan medis kepada sandera.

    “UNRWA meminta jurnalis untuk segera memberikan klarifikasi atas klaim tersebut dan siapa pun yang mungkin dapat membantu kami dalam menentukan fakta, untuk melapor,” kata badan tersebut dalam sebuah pernyataan.

    Esti Utami, dari berbagai sumber

    “Dengan tidak adanya informasi yang dapat dipercaya untuk mendukung klaim ini, UNRWA meminta jurnalis tersebut untuk segera menghapus postingan tersebut.”

    Postingan Boker diambil oleh beberapa media dan mendapat lebih dari 2.000 postingan ulang di X.

    “Membuat tuduhan serius di ranah publik, tanpa didukung oleh bukti atau fakta yang dapat diverifikasi, bisa dianggap sebagai misinformasi,” tandas UNRWA.

  • Warga di Gaza Hidup dalam Kengerian yang Mendalam, PBB Serukan Gencatan Senjata antara Israel-Hamas

    Warga di Gaza Hidup dalam Kengerian yang Mendalam, PBB Serukan Gencatan Senjata antara Israel-Hamas

    7cloud.asia – Perang antara Israel dan Hamas makin intens di Gaza Selatan, pasca berakhirnya gencatan senjata antara keduanya.

    Kepala urusan HAM PBB Volker Turk mengatakan, rakyat Palestina di Jalur Gaza hidup dalam “kengerian yang semakin dalam”, ketika ia menyerukan gencatan senjata mendesak antara Israel dan Hamas untuk mengakhiri penderitaan warga Gaza.

    Dilansir VOA Indonesia, Turk mengatakan bahwa Gaza dalam kondisi kemanusiaan yang “apokaliptik” seperti ini, terdapat risiko tinggi terjadinya kejahatan keji.

    “Warga sipil di Gaza terus menerus dibombardir oleh Israel dan dihukum secara kolektif menderita kematian, pengepungan, kehancuran dan perampasan kebutuhan paling penting manusia seperti makanan, air, pasokan medis yang menyelamatkan nyawa dan kebutuhan penting lainnya dalam skala besar,” ujarnya pada konferensi pers pada Rabu (6/12/2023).

    Baca : Israel intensifkan serangan ke Gaza Selatan

    “Warga Palestina di Gaza hidup dalam ketakutan yang mendalam.”

    Ia mengatakan 1,9 juta dari 2,2 juta orang yang tinggal di daerah kantong Palestina telah mengungsi dan terpaksa tinggal di “tempat-tempat yang jumlahnya semakin berkurang dan sangat padat di Gaza Selatan, dalam kondisi yang tidak bersih dan tidak sehat”.

    “Situasi bencana yang kita lihat terjadi di Jalur Gaza sepenuhnya dapat diperkirakan dan dicegah. Rekan-rekan saya dalam urusan kemanusiaan menggambarkan situasi ini sebagai sebuah bencana.”

    “Dalam keadaan seperti ini, terdapat peningkatan risiko kejahatan keji,” kata komisaris tinggi PBB untuk urusan HAM itu.

    “Sebagai langkah segera, saya menyerukan penghentian segera permusuhan dan pembebasan semua sandera.”

    Baca: WHO ingatkan ancaman penyakit menular di Gaza

    Turk mengatakan krisis HAM di Tepi Barat yang diduduki juga “sangat mengkhawatirkan”,

    Dan ia menyerukan pihak berwenang Israel untuk segera mengambil langkah-langkah untuk mengakhiri “impunitas yang meluas” atas berbagai pelanggaran.

    Israel menyatakan perang terhadap Hamas setelah serangan kelompok militan tersebut pada 7 Oktober yang menewaskan 1.200 orang, sebagian besar warga sipil, menurut pihak berwenang Israel.

    Dalam serangan ini, Hamas juga menyandera sekitar 240 orang disandera ke Gaza. Sebagian dari sandera ini telah dibebaskan saat gencatan senjata beberapa waktu lalu.  

    Jumlah korban terbaru dari kantor media pemerintah yang dikelola Hamas mengatakan 16.248 orang di Gaza, kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan anak, tewas.

    Baca: WHO sebut setiap 10 menit 1 anak meninggal di Gaza

    Israel telah berjanji untuk menghancurkan Hamas dan membebaskan 138 sandera yang masih ditahan setelah banyak orang dibebaskan dalam gencatan senjata yang berumur pendek.

    “Semua pihak menyadari apa yang sebenarnya diperlukan untuk mencapai perdamaian dan keamanan bagi masyarakat Palestina dan Israel; kekerasan dan balas dendam hanya akan menghasilkan lebih banyak kebencian dan radikalisasi,” simpul Turk.

    “Satu-satunya cara untuk mengakhiri penderitaan akumulatif ini adalah mengakhiri pendudukan dan mencapai solusi dua negara.”

    Sumber: VOA Indonesia

  • Israel Bombardir Gaza Selatan, 80 Persen Warga Gaza Terusir dari Tempat Tinggalnya

    Israel Bombardir Gaza Selatan, 80 Persen Warga Gaza Terusir dari Tempat Tinggalnya

    7cloud.asia – Pasca berakhirnya gencatan senjata, tentara Israel terus membombardir daerah kantong Hamas di Khan Younis, Gaza Selatan. 

    Sebuah ledakan di Jalur Gaza menyebabkan kepulan asap besar membubung ke udara pada Kamis (7/12/2023) ketika Israel terus membombardir daerah kantong Hamas tersebut.

    Serangan udara dan darat Israel yang semakin luas di Gaza Selatan telah menyebabkan puluhan ribu warga Palestina mengungsi.

    Baca: Warga Gaza hidup dalam kengerian

    Kondisi ini makin memperburuk kondisi kemanusiaan yang mengerikan di wilayah Gaza, yang sejak awal Oktober menjadi lokasi pertempuran.

    Pertempuran Israel-Hamas tersebut menghambat distribusi makanan, air dan obat-obatan di luar wilayah selatan Gaza dan perintah evakuasi militer baru memaksa orang-orang mengungsi ke wilayah yang semakin kecil di selatan.

    Serangkaian roket tampak diluncurkan dari Jalur Gaza, di tengah konflik yang sedang berlangsung antara Israel dan kelompok Islam Palestina Hamas, terlihat dari Israel selatan, Rabu (6/12/2023).

    Baca: Israel intesifkan serangan ke Gaza Selatan

    PBB mengatakan 1,87 juta orang – atau lebih dari 80% populasi Gaza – telah terusir dari rumah mereka sejak dimulainya perang Israel-Hamas, yang dipicu oleh serangan mematikan Hamas pada 7 Oktober di Israel selatan.

    Kementerian Kesehatan di Gaza yang dikuasai Hamas mengatakan jumlah korban tewas di wilayah tersebut telah melampaui 16.200 orang, dan lebih dari 42.000 orang terluka.

    Kementerian itu tidak membedakan antara kematian warga sipil dan mereka yang bertempur, namun mengatakan 70% dari korban tewas adalah perempuan dan anak-anak.

    Baca: WHO ingatkan ancaman penyakit menular di Gaza

    Sekitar 1.200 orang tewas di pihak Israel, sebagian besar warga sipil, dalam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 lalu.

    Sumber: VOA Indonesia

  • WHO Sebut Gaza Terputus dari Bantuan Makanan

    WHO Sebut Gaza Terputus dari Bantuan Makanan

    7cloud.asia – Tuntutan internasional untuk menghentikan pertempuran di wilayah Gaza, Palestina yang terkepung semakin menggema.

    Pengeboman Israel terhadap Hamas di Gaza memakan banyak korban jiwa dan semakin langkanya barang-barang kebutuhan pokok untuk bertahan hidup, 

    Sudah dua bulan berlalu sejak serangan terhadap Israel oleh kelompok militan Palestina Hamas 7 Oktober, menewaskan lebih dari 1.200 warga Israel dan warga negara asing, sebagian besar warga sipil, di antaranya ratusan anak muda yang dibantai saat menghadiri festival musik.

    Sudah dua bulan sejak lebih dari 240 sandera diculik dan dibawa ke Gaza, di mana mereka dilaporkan menderita dalam kondisi yang sangat buruk.

    “Namun sudah hampir dua bulan sejak dimulainya kampanye Israel, tidak hanya untuk membela diri melawan Hamas dan kelompok bersenjata, tetapi juga (serangan) terhadap seluruh penduduk Gaza,” kata Christian Lindmeier, juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia, dalam pernyataan yang sangat blak-blakan.

    Berbicara pada hari Jumat (8/12) di Jenewa, Lindmeier menuduh Israel melakukan “kampanye terhadap warga sipil yang tidak bersalah – perempuan, anak-anak dan laki-laki yang telah menjadi sasaran sejak dua bulan terakhir.”

    Baca Juga: Israel Bombardir Gaza Selatan, 80 Persen Warga Gaza Terusir dari Tempat Tinggalnya

    “Hal ini memutus jalur Gaza dari air, makanan, dan apa pun yang diperlukan (warga Gaza) untuk hidup,” katanya, seraya mencatat bahwa kondisi jutaan orang yang terpaksa mengungsi ke wilayah yang semakin kecil dan penuh sesak di wilayah selatan,

    Di tempat yang dulunya merupakan wilayah yang sangat padat penduduknya. yang disebut zona aman, menjadi “semakin hari semakin mengerikan”.

    Israel menyatakan bahwa mereka melakukan yang terbaik untuk memfokuskan serangannya hanya pada sasaran sah Hamas, namun kelompok tersebut sengaja menempatkan aset militer dan administratifnya di tengah penduduk sipil, yang secara efektif menggunakan orang-orang tersebut sebagai tameng manusia.

    Lindmeier mengatakan staf WHO di Gaza menggambarkan skenario mengerikan di mana anak-anak mengemis dan menangis meminta air.

    “Kita berada pada tingkat di mana sebagian besar pasokan normal dan dasar tidak tersedia lagi (di Gaza),” katanya.

    Baca Juga: Warga di Gaza Hidup dalam Kengerian yang Mendalam, PBB Serukan Gencatan Senjata antara Israel-Hamas

    Juru bicara WHO mencatat bahwa masyarakat di Gaza menerima kurang dari dua liter air per hari, bukan tujuh liter per orang per hari yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.

    “Dan itu adalah air untuk segala (keperluan), bukan hanya untuk minum,” katanya.

    “Kami juga mempunyai skenario yang menggambarkan orang-orang mulai menebang tiang telepon untuk mendapatkan sedikit kayu bakar agar tetap hangat, dan mungkin memasak jika mereka punya sesuatu,” katanya.

    “Jadi, kita berada pada tingkat di mana peradaban (kehidupan di Gaza) akan segera ambruk.”

    Sejak gencatan senjata sementara berakhir dan Israel melanjutkan kampanye pengeboman pada 1 Desember, badan-badan kemanusiaan PBB melaporkan lebih dari 2.000 warga Palestina telah terbunuh.

    Dengan demikian jumlah total kematian setidaknya mencapai 17.000 orang.

    Baca Juga: Boikot Produk Pro Israel Jadi Berkah Bagi Produk Steak Lokal

    Mereka melaporkan 70 persen korbannya adalah perempuan dan anak-anak, dan setidaknya 7.200 di antaranya adalah anak-anak.

    Mengomentari situasi di Gaza pada hari Kamis, Koordinator Bantuan PBB Martin Griffiths berkata, “Cukup sudah. Pertempuran harus dihentikan.”

    “Sistem kemanusiaan berada di ambang kehancuran. Kita harus menghindari kehancuran seperti itu dengan cara apa pun,” katanya.

    UNRWA, badan bantuan dan kerja PBB untuk pengungsi Palestina, memperingatkan bahwa konflik tersebut merupakan ancaman yang sangat nyata terhadap perdamaian dan keamanan internasional serta kehidupan hampir seluruh penduduk di Gaza.

    Dalam surat yang dikirim pada hari Kamis kepada presiden Majelis Umum PBB, Komisaris Jenderal UNRWA Philippe Lazzarini mengatakan kemampuan badannya untuk terus melaksanakan mandatnya di Gaza “kini menjadi sangat terbatas.”

    “Kemampuan UNRWA untuk membantu dan melindungi masyarakat berkurang dengan cepat,” katanya.

    Baca Juga: UE: Pengakuan terhadap Negara Palestina Kunci Keamanan Israel

    “Pengeboman yang terus-menerus, aliran makanan dan pasokan kemanusiaan lainnya yang rendah dan tidak teratur ke Jalur Gaza dibandingkan dengan besarnya kebutuhan para pengungsi di tempat penampungan kami yang penuh sesak dan di luar.

    Juru bicara WHO Lindmeier mengatakan bahwa konvoi WHO yang membawa makanan, air dan pasokan medis telah dihentikan memasuki Gaza lebih dari satu kali dan operasi pada hari Jumat untuk membawa pasokan medis ke utara dan mengevakuasi 12 pasien ke selatan untuk perawatan medis telah ditangguhkan.

    “Situasi di Gaza tidak bisa diandalkan,” katanya. “Sistem kesehatan sedang lemah,” dan wilayah selatan bisa mengalami nasib yang sama seperti wilayah utara.

    “Gaza tidak boleh kehilangan satu rumah sakit pun atau tempat tidur rumah sakit apa pun. … Pasien mengeluarkan darah di lantai. Ruang perawatan trauma (justru) menyerupai medan pertempuran,” kata Lindmeier.

    “Ini harus diakhiri. Sikap tidak berperasaan ini harus diakhiri,” katanya. “Kami membutuhkan gencatan senjata, dan kami membutuhkannya sekarang!,” tandasnya.

    Sumber: VOA Indonesia

  • AS Veto Seruan Sekjen PBB Terkait Gencatan Senjata antara Israel dan Hamas

    AS Veto Seruan Sekjen PBB Terkait Gencatan Senjata antara Israel dan Hamas

    7cloud.asia – Amerika Serikat (AS), memveto resolusi Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menerapkan gencatan senjata dalam menyelesaikan konflik antara Israel dan kelompok militan Hamas.

    Dalam sidang DK PBB, pada Jumat (8/12/2023), 13 negara anggota dewan lainnya mendukung usulan resolusi gencatan senjata antara Israel dan Hamas itu, sedangkan Inggris abstain.

    Namun, usulan gencatan senjata antara Israel dan Hamas itu terjegal veto AS, yang merupakan sekutu dekat Israel. AS beralasan bukan waktu yang tepat untuk menerapkan gencatan senjata.

    “Mungkin yang paling tidak realistis, resolusi ini masih menyerukan gencatan senjata tanpa syarat,” kata Wakil Duta Besar AS Robert Wood.

    Wood menjelaskan dalam pernyataannya, mengapa (gencatan senjata) ini tidak saja tidak realistis, tetapi juga berbahaya.

    “Gencatan senjata hanya memberi kesempatan Hamas untuk berkonsolidasi dan mengulang apa yang mereka lakukan pada 7 Oktober.”

    Baca: Gaza terputus dari bantuan makanan dan obat-obatan

    Dia mengatakan Washington sangat mendukung perdamaian yang bertahan agar warga Israel dan Palestina bisa hidup dalam perdamaian dan keamanan. Bukan gencatan senjata “yang hanya menanam benih-benih untuk perang selanjutnya.”

    Pemerintahan Biden sudah mengatakan akan mendukung perpanjangan jeda, seperti jeda kemanusiaan yang berlangsung selama tujuh hari pada November.

    Jeda tersebut membuka jalan pembebasan lebih dari 100 sandera yang ditahan oleh Hamas dan 300 tahanan Palestina dari penjara-penjara Israel.

    AS dan Israel menyalahkan penolakan Hamas untuk membebaskan para sandera perempuan muda sebagai sumber kegagalan jeda itu.

    Hamas mengutuk veto AS atas draf resolusi itu dengan menggambarkannya sebagai tidak etis dan tidak berperikemanusiaan.

    Dewan Keamanan yang beranggotakan 15 negara menggelar pertemuan pada Jumat (8/12/2023) pagi setelah Sekretaris Jenderal PBB menyurati mereka pada Rabu (6/12/2023) bahwa dia akan menerapkan Pasal 99 Piagam PBB.

    Pasal tersebut memberi Guterres kekuasaan untuk mendesak Dewan Keamanan mengambil tindakan atas masalah apa saja yang menurutnya bisa mengancam perdamaian dan keamanan internasional.

    Baca: Gaza dibombardir, 80 persen warganya mengungsi

    Ini adalah pertama kalinya Guterres menerapkan pasal itu selama tujuh tahun menjabat yang dipenuhi oleh berbagai krisis.

    Pasal 99 terakhir kali diterapkan pada 1971 saat pertikaian yang berujung pada pendirian Bangladesh dan pemisahan negara itu dari Pakistan.

    Tuai Protes. Duta Besar Inggris Barbara Woodward menyebut penderitaan warga Palestina “mengerikan dan menyedihkan”.

    Dia juga mengatakan lebih banyak jeda dan durasi jeda yang lebih panjang sangat penting untuk mengirimkan bantuan dan pembebasan sandera.

    “Namun, kita tidak memilih resolusi yang tidak mengutuk kekejaman yang dilakukan Hamas terhadap warga sipil Israel yang tidak berdosa pada 7 Oktober,” kata Woodward.

    “Menyerukan gencatan senjata sama saja dengan mengabaikan fakta bahwa Hamas sudah melakukan aksi teror dan menyandera warga sipil.”

    Baca: Warga Gaza hidup dalam kengerian

    Wakil Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) Mohamed Abushahab mengatakan bahwa sangat disesalkan di tengah penderitaan yang tak terperikan, Dewan Keamanan tidak bisa menuntut gencatan senjata kemanusiaan.

    “Mari saya perjelas: Dengan adanya peringatan keras dari Sekjen PBB, seruan dari para pelaku kemanusiaan, dan opini publik dunia – dewan ini menjadi terisolasi,” ujar Abushahab.

    Duta Besar Palestina mengatakan kegagalan DK PBB untuk menuntut gencatan senjata akan memicu konsekuensi yang berbahaya.

    “Ratusan orang akan terbunuh pada saat ini besok. Kemudian ratusan lagi, dan kemudian ribuan,” kata Mansour. “Anak-anak akan terbunuh. Menjadi yatim-piatu. Cedera. Cacat seumur hidup.”

    Duta Besar Israel mengucapkan terima kasih kepada AS atas dukungannya dan mengatakan gencatan senjata memungkinkan dengan kembalinya seluruh sandera dan kehancuran Hamas.

    Israel dan Hamas Terlibat Pertempuran Sengit di Kota-kota Besar di Gaza
    Sejumlah organisasi bantuan kemanusiaan dan hak-hak asasi manusia (HAM) mengkritik Washington.

    Baca: WHO ingatkan ancaman penyakit menular di Gaza

    “Pemerintah AS berdiri sendiri untuk memveto gencatan senjata membawa kredibilitas AS untuk masalah HAM ke ambang kehancuran,” kata Abby Maxman, Presiden dan Kepala Eksekutif (CEO) Oxfam America.

    “Sekali lagi, AS menggunakan hak vetonya untuk mencegah Dewan Keamanan agar tidak melakukan imbauan-imbauan yang telah AS tuntut sendiri dari Israel dan kelompok-kelompok bersenjata Palestina, termasuk kepatuhan terhadap hukum humaniter internasional, perlindungan warga sipil dan pembebasan semua warga sipil yang disandera,” kata Louis Charbonneau, Direktur PBB pada Human Rights Watch.

    “Dengan terus menyediakan persenjataan dan perlindungan diplomatik untuk Israel sementara negara itu melakukan kekejaman, termasuk menerapkan hukuman kolektif terhadap populasi warga sipil Palestina di Gaza, AS berisiko terlibat dalam kejahatan perang,” kata Charbonneau memperingatkan.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Pertempuran Israel-Hamas Terus Berlanjut, WHO Serukan Bantuan untuk Gaza

    Pertempuran Israel-Hamas Terus Berlanjut, WHO Serukan Bantuan untuk Gaza

     

    7cloud.asia – Menjelang dan setelah sidang Majelis Umum PBB pada Selasa yang menghasilkan seruan gencatan senjata, pertempuran antara Israel dan Hamas berlanjut di Gaza.

    Serangan udara Israel diarahkan ke bagian tengah dan selatan Gaza, yang disebut sebagai masih dalam penguasaan Hamas.

    Militer Israel mengatakan serangan udaranya ditujukan ke tempat-tempat peluncuran roket di Jalur Gaza, dan bahwa pasukan di darat telah menemukan 250 roket, mortir dan granat berpendorong roket dalam serangan itu.

    Di Tepi Barat yang diduduki Israel, kementerian kesehatan Palestina mengatakan pasukan Israel menewaskan empat orang Palestina di kota Jenin.

    Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina mengatakan kematian itu disebabkan oleh serangan drone Israel.

    Baca: Total ada 89 jurnalis yang terbunuh

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Selasa menyerukan “perlindungan terhadap bantuan kemanusiaan dan layanan kesehatan di Gaza.”

    WHO menyebut berbagai kesulitan yang dihadapi timnya sewaktu berusaha mengirimkan pasokan medis ke sebuah rumah sakit di Kota Gaza dan untuk mengevakuasi pasien yang luka parah.

    WHO mengatakan ada penundaan di pos-pos pemeriksaan militer dan bahwa para petugas dari Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina ditahan.

    “Rakyat Gaza punya hak untuk mengakses layanan kesehatan,” kata Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. “Sistem kesehatan harus dilindungi. Bahkan dalam perang.”

    Badan kemanusiaan PBB itu mengatakan bahwa meskipun pengiriman bantuan terbatas terus berlanjut di wilayah Rafah di Gaza Selatan, di dekat perbatasan dengan Mesir, pertempuran telah membuat banyak wilayah di Gaza terputus dari penerimaan bantuan.

    Baca: Gaza terputus dari bantuan makanan dan medis

    Philippe Lazzarini, kepala badan PBB urusan pengungsi Palestina, mengunjungi Gaza hari Selasa dan menggambarkan situasi di sana sebagai “tragedi mendalam yang tiada akhir” dalam postingan di media sosial

    “Orang-orang ada di mana-mana, tinggal di jalan-jalan, perlu semuanya,” kata Lazzarini.

    “Mereka memohon keselamatan dan diakhirinya negara di dunia ini. Rekan-rekan kami diminta untuk melakukan hal yang mustahil di dalam situasi yang mustahil.”

    Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant Senin mengatakan bahwa Israel tidak punya niat untuk bertahan secara permanen di Gaza.

    “Israel akan mengambil tindakan apa pun untuk menghancurkan Hamas, tetapi kami tidak punya niat untuk bertahan secara permanen di Jalur Gaza. Kami hanya peduli pada keamanan kami dan keamanan rakyat kami di sepanjang perbatasan dengan Gaza,” kata Gallant kepada wartawan.

    Baca: 80 persen warga Gaza terusir dari rumah mereka

    Ia tidak memberi kerangka waktu bagi berakhirnya perang dan mengatakan aktivitas militer Israel dapat berlanjut selama berbulan-bulan.

    Kementerian kesehatan yang dikelola Hamas mengatakan hampir 18 ribu orang, kebanyakan perempuan dan anak-anak, telah tewas dalam serangan udara dan darat Israel selama tujuh pekan terakhir.

    Israel memulai kampanye militernya untuk melenyapkan Hamas setelah para anggota kelompok itu memasuki Israel Selatan pada 7 Oktober. Israel mengatakan 1.200 orang tewas dan sekitar 240 orang disandera dalam serangan teror itu.

    Pertempuran itu menyebabkan sekitar 1,9 juta orang meninggalkan rumah mereka di Gaza.

    Banyak di antara mereka yang mencari perlindungan di bagian selatan di fasilitas-fasilitas yang penuh sesak, di tengah-tengah peringatan mengenai kondisi sanitasi yang buruk dan ancaman meningkatnya perebakan penyakit menular.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Hamas: Sandera Tak Akan Dibebaskan hingga Israel Mundur dari Jalur Gaza

    Hamas: Sandera Tak Akan Dibebaskan hingga Israel Mundur dari Jalur Gaza

    7cloud.asia – Kelompk Hamas mengatakan pembahasan mengenai kesepakatan pertukaran sandera-tahanan tak akan terjadi hingga tentara Israel mundur dari Jalur Gaza dan menerapkan gencatan senjata permanen.

    Khalil Al-Haye, perwakilan Hamas di Lebanon, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa mereka akan melanjutkan perlawanan mereka terhadap Israel di wilayah kantung tersebut.

    Wakil Hamas itu menekankan perlunya gencatan senjata komprehensif dan penarikan mundur sepenuhnya pasukan Israel dari Gaza sebelum menyelesaikan isu sandera dan tahanan.

    Serangan udara dan darat Israel di Gaza sejak serangan Hamas pada 7 Oktober telah menewaskan lebih dari 18.700 rakyat Palestina, yang sebagian besarnya adalah perempuan dan anak-anak.

    Baca: Puluhan jurnalis ikut terbunuh dalam perang Israel-Hamas

    Serangan Israel ini juga melukai ribuan warga Palestina lainnya lainnya. Perang telah menyebabkan Gaza hancur dan setengah dari perumahan di wilayah pesisir tersebut rusak atau hancur.

    Hampir 2 juta penduduk mengungsi di daerah kantong padat penduduk tersebut di tengah kekurangan makanan dan air bersih.

    Dari sekitar 240 orang yang disandera oleh Hamas saat serangan lebih dari dua bulan lalu, sekitar 130 orang masih ditahan setelah yang lain dikembalikan dalam gencatan senjata sementara bulan lalu.

    Tentara Israel juga menembak dan menewaskan tiga sandera Israel di Gaza utara setelah salah mengidentifikasi mereka sebagai ancaman, menurut juru bicara militer.

    Baca: 80 persen warga Gaza terusir dari rumahnya

    Menanggapi ungkapan “hari setelahnya,” yang banyak digunakan kalangan Israel untuk menunjukkan skenario pasca-perang Gaza dan pasca-Hamas, Al-Haye berkata:

    “Kemenangan kami adalah hari setelahnya di Gaza. Siapa pun yang memikirkan apa yang terjadi setelah Hamas, mereka sedang melamun. Kami tidak akan menahan diri untuk membela rakyat kami sampai situs dan tanah suci kami dibebaskan.”

    Al-Haye menekankan bahwa Gaza, Tepi Barat, dan seluruh Palestina adalah satu, dan hanya rakyatlah yang akan memutuskan pemerintahan mereka.

    “Masa depan Gaza berkaitan dengan masa depan Yerusalem dan seluruh Palestina, dan kami ada bagian dari rakyat kami.”

    Baca: Warga Gaza hidup dalam kengerian akibat pertempuan Israel dan Hamas

    Dia juga menekankan perlunya ratusan truk bantuan ke Gaza setiap hari, mendesak negara-negara Arab dan Islam untuk memberikan tekanan untuk pengiriman bantuan kemanusiaan.

    “Pendudukan Israel menyerang Gaza dengan dua senjata: bom dan kelaparan,” tambahnya.

    Sumber: Antaranews.com dan Anadolu

  • Hampir 3000 Tentara Israel dalam Perawatan Akibat Perang, Beberapa Alami Gangguan Kesehatan Mental

    Hampir 3000 Tentara Israel dalam Perawatan Akibat Perang, Beberapa Alami Gangguan Kesehatan Mental

    7cloud.asia – Lebih dari 2.800 tentara Israel sedang menerima perawatan rehabilitasi di departemen rehabilitasi Kementerian Pertahanan Israel sejak konflik Gaza pecah pada 7 Oktober 2023.

    Dalam sebuah pemberitaan media lokal Israel, surat kabar Haaretz, pada Selasa (19/12/2023) disebutkan, sekitar 91 persen tentara yang sedang direhabilitasi itu mengalami luka ringan, 6 persen luka sedang, dan 3 persen luka parah.

    Dalam pemberitaannya, Haaretz mengutip data yang diberikan oleh kepala departemen rehabilitasi Limor Luria dalam sidang bersama Komisi Kesehatan Perang Israel.

    Baca: Lebih 100 jurnalis tewas dalam perang Israel-Hamas

    Data tersebut juga menunjukkan bahwa 18 persen tentara Israel menderita gangguan kesehatan mental dan gangguan stres pascatrauma (PTSD).

    Dalam pemberitaan itu, harian Haaretz juga menyebut, 48 persen tentara Israel mengalami cedera pada bagian tubuh.

    Data militer Israel menunjukkan bahwa 463 tentara tewas dan 1.860 lainnya luka-luka sejak konflik Gaza pecah pada 7 Oktober 2023.

    Baca: Gaza terputus dari bantuan, WHO serukan gencatan senjata segera

    Sementara itu, serangan Israel di Jalur Gaza terus berlanjut pasca gencatan senjata selama tujuh hari antara Israel dan Hamas berakhir.

    Perang antara Israel dan Hamas selama lebih dua bulan telah menewaskan 19.667 warga Palestina dan melukai 52.586 lainnya,.

    Menurut otoritas kesehatan Palestina di Gaza, sebagian besar korban meninggal akibat perang Israel-Hamas ini adalah perempuan dan anak-anak.

    Baca: 80 persen warga Gaza terusir dari rumahnya  

    Perang antara Israel dan Hamas juga telah menghancurkan Gaza, dengan setengah dari ketersediaan perumahan yang berada di wilayah pesisir tersebut rusak atau hancur.

    Kondisi ini menyebabkan hampir 2 juta orang harus mengungsi di tengah kekurangan makanan dan air bersih.

    Hampir 1.200 warga Israel diyakini tewas dalam serangan Hamas, sementara lebih dari 130 warga Israel hingga kini masih disandera.

    Baca: Hamas tegaskan tak akan bebaskan sandera hingga Israel mundur dari Gaza

    Perang antara Israel dan Hamas kembali meletus, setelah Hamas melakukan serangan mendadak di wilayah perbatasan. Membalas serangan ini, Israel memborbardir Gaza dengan serangan roket yang berlangsung hingga hari ini.

    Sumber: Antaranews.com dan Anadolu