Tag: hutan

  • Akibat Pre Wedding, Hampir 1000 Hektar Lahan Bromo Terbakar

    Akibat Pre Wedding, Hampir 1000 Hektar Lahan Bromo Terbakar

    7cloud.asia – Awal September lalu, area lahan Gunung Bromo terbakar akibat ulah rombongan yang melakukan pre wedding dengan menggunakan flare. Area lahan Gunung Bromo hampir 1000 hektar ludes terbakar.

    Hal ini diungkapkan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya di sela-sela meninjau savana Gunung Bromo, Sabtu (23/9/2023).

    “Yang jelas dari mulai Tanggal 6 sampai 14 saat kebakaran itu, men-cover 989 hektare,” ungkap Siti Nurbaya dikutip Detik.com

    Sebelumnya, pihak Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) menyebut lahan terbakar mencapai 504 hektare.

    “Sebelumnya saya dilapori 500 hektare, ternyata sudah 989 hektare,” katanya.

    Pasca kebakaran ini, lanjut Siti, ada beberapa langkah penting yang harus dilakukan. Diantaranya upaya rehabilitasi dari segala aspek. Mulai dari pemulihan hingga edukasi kepada publik.

    Pihaknya akan melibatkan tim ahli dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam mengembalikan ekosistem di kawasan yang terbakar.

    “Bagaimana nilai-nilai mengembalikan ekosistemnya itu sedang diteliti oleh ahli-ahli Bogor, jadi banyak aspek yang kita harus bangun kembali untuk wilayah (TNBTS),” ujarnya.

    Selanjutnya Siti menjelaskan ada 4 poin rehabilitasi yang dilakukan untuk New Bromo yakni rehabilitasi fisik, ekonomi, sosial, dan manajemen.

    “Sekarang masuk rehab fisik tanam pohon, pembibitan pohon. Peningkatan sarpras dengan mendatangkan 2 mobil dari Jakarta minggu depan harus terkirim. Rehab manajemen ganti sepatu pemadam api Bromo, rehab sosial memberikan edukasi ke masyarakat,” jelas Siti.

    Selain itu, ia menjelaskan pihaknya akan membuka sekolah lapang di Bromo serta berinteraksi dengan masyarakat Tengger Semeru.

    Sebab Bromo menjadi pusat wisata dan masuk 10 wisata prioritas di Indonesia. “Harus dirapikan sekali, khususnya shelter untuk pedagang, parkir, termasuk desain manajemen manage wisata,” ucapnya.

    Selain itu, pihaknya juga akan memberikan penghargaan besar-besaran di Bromo. Pemadam api Bromo yang akan mendapatkan penghargaan.

    “Akhir Oktober kalau siap penanaman besar-besaran, ajak masyarakat sambil kasih penghargaan 200 (pemadam kebakaran), ajak presiden ke sini,” urainya.

    Hasil kunjungannya ke Bromo kali ini akan dilaporkan ke Presiden Jokowi. Ia  akan memberikan catatan kepada Presiden Jokowi untuk mengangkat fasilitas New Bromo menjadi penting.

    Bahkan tidak mengeluarkan dana banyak oleh PU seperti Mandalika, Labuan Bajo, Danau Toba, dan lainnya.

    “Di sini banyak yang bagus. Harus kita yang ngangkat bahwa ini 10 destinasi wisata prioritas. Harus ada konsistensi. Kalau bisa 10 destinasi wisata baru itu untuk Bromo juga kelas atas. Dengan usaha sendiri bisa buat Bromo Tengger Semeru (BTS) keren. Saya percaya bahwa ada sesuatu di BTS. Saya pernah kesini tahun 98, saat itu sudah bagus juga,” paparnya.

    Karena itu, pihaknya juga akan mengajak USAID untuk mulai bekerja sama. Sebab TNBTS sangat strategis dan sudah paling awal dikenal secara nasional maupun internasional.

    Reporter: Nurakhmayani

     

     

  • Ketahuan! Gunung Gede Diduga Sengaja Dibakar

    Ketahuan! Gunung Gede Diduga Sengaja Dibakar

    7cloud.asia – Kebakaran yang melanda sabana alun-alun Suryakencana Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) pada Senin (18/09/2023) diduga dilakukan secara sengaja.

    Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) Sapto Aji Prabowo mengatakan dugaan ini berdasarkan hasil penyelidikan dan analisis rekaman CCTV. 

    “Ada dugaan unsur kesengajaan (dibakar),” ujar Sapto melansir Kompas.com. 

    Dalam rekaman CCTV tersebut tampak seseorang berjalan menjauh dari lokasi kepulan asap. 

    “Dalam video ada sosok berbaju putih yang ada di lokasi awal titik api, baik sebelum asap muncul maupun setelah muncul asap,” ungkapnya. 

    Menurutnya, orang yang diduga membakar tersebut berjalan dari arah Gunung Putri menuju Gunung Gemuruh. 

    Tetapi hingga kini pihaknya kesulitan untuk mengidentifikasi identitas pelaku karena kamera perekaman dalam posisi zoom out full.

    “Dengan digital zoom, (kualitas gambar) pecah sehingga penyidik kami kesulitan untuk mengidentifikasi orang tersebut,” kata Sapto.

    Namun, lanjut Sapto, berdasarkan informasi dan keterangan dari para relawan di lokasi kejadian, pihaknya berhasil mendapatkan ciri-ciri pelaku.

    “Menurut informasi yang menyampaikan ke kami, orangnya seperti kurang normal. Pas ditanyain diam, pas mau difoto reaksinya gitu, kayak nggak normal, seperti linglung,” ungkapnya.

    Tetapi ciri-ciri yang lebih spesifik lagi, pihaknya kini masih mendalaminya. “Sejauh ini satu orang (pelaku), ya, sebagaimana yang tampak di gambar CCTV di lokasi kejadian,” katanya.

    Seperti yang diwartakan sebelumnya, sabana alun-alun Suryakencana Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) terbakar pada Senin (19/6/2023) siang.

    Berdasarkan hasil rekaman CCTV, kepulan asap mulai nampak pada pukul 12.39 WIB di dua titik sebelah barat.

    Empat jam kemudian, tim gabungan yang berjumlah 100 pesonel berhasil memadamkan api sehingga tidak sampai meluas ke kawasan hutan.

    Walaupun tak sempat meluas, kebaran ini menghanguskan lahan seluas 3 hektare sabana di Alun-alun Suryakencana.

    Termasuk menghanguskan tanaman Edelweis seluas 2.500 meter persegi. Sisanya adalah  rumput dan cantigi.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Indonesia Banyak Hutan Bambu, Alternatif Bahan Baku Industri Ditengah Krisis Kayu

    Indonesia Banyak Hutan Bambu, Alternatif Bahan Baku Industri Ditengah Krisis Kayu

    7cloud.asia – Indonesia memiliki 162 jenis bambu dari total 1.450 jenis bambu di seluruh dunia. Banyaknya hutan bambu di Indonesia bisa menjawab tantangan krisis kayu yang dipakai sebagai bahan baku industri.

    Peneliti Pusat Riset Kependudukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Budiyanto Dwi Prasetyo menjelaskan bambu punya kualitas yang tak kalah dari kayu.

    Selain itu bambu juga bisa dibentuk apapun melalui proses laminasi, sehingga diminati oleh pasar domestik maupun internasional.

    Baca: Teknik daisugi, cara berkelanjutan Jepang dalam memanen kayu

    Bambu laminasi bisa menghasilkan berbagai aneka perabotan rumah tangga mulai dari kursi, meja, lemari, pintu, plafon, hingga lantai parket.

    “Pemintaan tinggi terhadap kayu bisa disubstitusi dengan bambu,” kata Budiyanto seperti yang dikutip Antaranews.

    Bambu merupakan salah satu produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), nilai HHBK bambu bisa mencapai 90 persen dari nilai hasil hutan.

    Baca: Jaktim siapkan 8.5 hektare lahan untuk hutan kota

    Sedangkan kayu yang selama ini identik dengan hasil utama kehutanan hanya menyumbang 10 persen dari produksi hasil kehutanan.

    Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, produksi bambu di Indonesia mencapai 66,92 juta batang.

    Wilayah persebaran produksi bambu terletak di Pulau Jawa mencapai 66,86 juta batang, Pulau Sumatera sebanyak 29.482 batang, dan Kepulauan Sunda Kecil sebanyak 30.872 batang.

    Selanjutnya Budiyanto memaparkan jika masyarakat lokal memiliki populasi bambu yang masif, maka hal ini harus dipelihara melalui eksploitasi.

    Baca: Komitmen Glasgow, cara dunia merawat hutan

    Sebab dengan eksploitasi tersebut, kerapatan rumpun dapat dikurangi. Selain itu dapat mencegah kerusakan tanaman bambu. “Bambu kalau tidak ditebang saat umur yang pas, tanaman bambu bisa rusak,” ungkapnya.

    Dia mencontohkan hutan bambu yang rusak ada di Gunung Ciremai, Jawa Barat. Hutan bambu ini termasuk kawasan taman nasional tidak boleh dipanen, sehingga rumpun bambu terlalu rapat.

    Jika rumpun bambu terlalu rapat bisa menyebabkan banyak batang bambu patah dan mengganggu sistem perakaran serta rimpang, sehingga bambu tumbuh tidak sehat.

    Baca: Tujuh komoditas Indonesia kena dampak aturan antideforestasi EU

    Jadi, sebuah desa bambu harus ada aktivitas panen lestari untuk menjaga keberlanjutan hutan bambu.

    Sementara itu, Pengawas Yayasan Bambu Lingkungan Lestari, Jajang Agus Sonjaya mengatakan ada banyak pihak yang terlibat untuk menciptakan sebuah desa bambu yang ideal.

    Mulai dari pemerintah, rakyat, penggiat bambu, pengerajin dan tukang, pengusaha, masyarakat adat, hingga perempuan.

    Mereka terlibat dalam tahap proses pengelolaan mulai dari pembibitan, penanaman, pengelolaan rumpun hingga panen lestari.

    “Pada panen lestari ada satu kata kunci yang menarik bahwa cara terbaik merawat hutan bambu itu dengan panen,” kata Jajang.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Marak Kebakaran Hutan, KLHK Segel Lahan Milik Pengusaha Singapura

    Marak Kebakaran Hutan, KLHK Segel Lahan Milik Pengusaha Singapura

    7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyegel lahan perkebunan sawit terbakar di PT. Sampoerna Agro (SA) dengan Penanaman Modal Asing (PMA) milik Singapura.

    Penyegelan lahan oleh KLHK ini dilakukan di tengah maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan.

    Penindakan ini dilakukan langsung oleh Dirjen Penegakan Hukum Lingkungan Hidup KLHK, Rasio Ridho Sani bersama tim pengawas lingkungan hidup.

    Lahan perkebunan sawit tersebut berlokasi di Kecamatan Pedamaran, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan.

    Baca: Kebakaran lahan terjadi di mana-mana

    Selain PT. SA, KLHK juga melakukan penyegelan perkebunan sawit milik PT. Tempirai Palm Resources (PT. TPR). Berdasarkan citra satelit, lahan PT. TPR yang terbakar seluas ±648 ha.

    Rasio Ridho Sani mengatakan penyegelan ini merupakan langkah awal penegakan hukum yang akan dilakukan terhadap karhutla di lokasi perusahaan.

    “Hari ini kami menyegel lahan terbakar di lokasi PT. SA seluas 586 ha. Langkah penyegelan yang dilakukan ini harus menjadi perhatian bagi perusahaan lainnya. Di lokasi ini kebakaran masih terjadi, masih berasap. Karhutla ini berdampak serius bagi kesehatan dan lingkungan,” jelas Rasio.

    Berdasarkan citra satelit, lanjut Sani, kebakaran lahan disekitar lokasi yang disegel mencapai sekitar 1.030 ha.

    Baca: BMKG ingatkan potensi kebakaran lahan di sejumlah daerah

    Pihak KLHK sedang mendalami penanggung jawab atau pemilik lahan ini.  Karena pihak KLHK tidak memiliki akses data HGU. Menurut PT. SA lokasi tersebut bukan HGU mereka.

    “Kami akan berkoordinasi dengan Kementerian ATR/BPN siapa pemegang HGU atau pemilik lahan terbakar tersebut. Data HGU penting untuk mengetahui siapa penanggung jawab karhutla,” urainya.
     
    Tim Pengawas KLHK juga melakukan penyegelan lahan terbakar di PT. Bintang Harapan Palma (PT. BHP).

    PT BHP ini berlokasi di Kecamatan Pangkalan Lampam, Kabupaten Ogan Komering Ilir dengan luas lahan terbakar di PT BHP ±5.148 ha.

    Baca: Karhutla di Gunung Ciremai hanguskan 150 hektare lahan

    Tidak hanya itu, PT. Banyu Kahuripan Indonesia (PT. BKI) juga kembali disegel.

    Penyegelan ini berlokasi di Kecamatan Lalan, Kabupaten Musi Banyuasin karena masih terbakarnya lokasi tersebut.  Luas area yang terbakar sekitar ±200 ha.
     
    Sementara itu Direktur Pengawasan dan Sanksi Administratif KLHK, Ardy Nugroho, mengatakan hingga saat ini KLHK telah menyegel 11 lokasi kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan.

    “Jumlah lokasi yang akan disegel akan bertambah karena tim KLHK sedang menganalisis data hotspot dan citra satelit. Apabila kami melihat ada lokasi yang terbakar kami akan mengirimkan tim ke lokasi”, jelasnya.

    Sementara itu, Rasio menyampaikan sesuai perintah Menteri LHK Siti Nurbaya, ambil tindakan tegas terkait karhutla.

    Baca: Puluhan kebakaran lahan terjadi selama Agustus-September 2023

    “Kami akan gunakan semua instrumen penegakan hukum yang menjadi kewenangan KLHK baik instrumen administratif, perdata dan pidana,” tegas Rasio.
     
    Rasio Sani menambahkan untuk kebakaran berulang tindakan tegas sanksi administratif termasuk pencabutan izin akan dilakukan.

    “Kami juga sudah bicara dengan kuasa hukum dan ahli untuk menghitung ganti rugi lingkungan serta menyiapkan gugatan perdata ganti rugi lingkungan agar ada efek jera”, ucapnya.
     
    Pihaknya juga akan memberlakukan penegakkan hukum karhutla terpadu yang akan melibatkan penyidik KLHK, kepolisian dan Jaksa Agung untuk menangai kasus tindak pidana karhutla.

    Baca: Kebakaran lahan di gunung Arjuno hanguskan 900 hektare lahan
     
    Rasio Sani menambahkan penegakan hukum pidana terpadu dan pidana berlapis akan meningkatkan efektitas penegakan hukum karhutla serta meningkatkan efek jera. 

    Untuk Korporasi dan masyarakat untuk serius mencegah dan menangani karhutla. Ancaman hukuman sangat berat, sesuai Pasal 108 UU No. 32 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan (UU PPLH) pidana pokoknya 10 tahun penjara dan denda Rp. 10 miliar.

    “Untuk badan usaha sesuai Pasal 119 UU PPLH dapat dikenakan pidana tambahan berupa antara lain perampasan keuntungan dan perbaikan akibat tindak pidana. Kami ingatkan kembali, kami tidak akan berhenti untuk menindak tegas pelaku karhutla,” jelasnya.

    Reporter: Nurakhmayani

     

     

     

  • BMKG: Dampak El Nino 2023 Masih Terkendali

    BMKG: Dampak El Nino 2023 Masih Terkendali

    7cloud.asia – Dampak fenomena El Nino seperti kebakaran hutan, kekeringan, petani gagal panen masih dirasakan masyarakat. Dampak El Nino tahun ini disebut masih lebih kecil dan terkendali.

    Hal ini diungkapkan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati usai konferensi pers Rapat Koordinasi Lintas Kementerian/Lembaga di Jakarta, Senin (09/10/2023).

    “Dampaknya lebih kecil dan terkendali dibandingkan El Nino pada 2015 dan 2019,” kata  Dwikorita dikutip Antaranews.

    Baca: BRIN perkirakan El Nino akan berlangsung hingga Mei 2024

    Fenomena El Nino menyebabkan adanya perubahan pola curah hujan, suhu udara yang meningkat, dan kecenderungan peningkatan titik panas di wilayah yang rawan kebakaran hutan dan lahan.

    Terkait karhutla, Dwikorita mengatakan pemerintah sudah berupaya membasahi lahan gambut sejak Februari sampai hari ini dengan melakukan TMC (teknologi modifikasi cuaca) yang fokus ke lahan yang berpotensi terbakar.

    “Meskipun masih ada yang terbakar karena pengaruh tangan manusia,” jelasnya.

    Baca: BMKG perkirakan musim kemarau akan berlangsung hingga akhir Oktober

    Menurut Dwikorita, dengan membasahi lahan gambut tersebut maka muka air tanah tidak kekurangan yang akhirnya dapat memicu karhutla.

    Selain itu, lanjut Dwikorita, TMC tidak hanya untuk membasahi lahan gambut, tapi juga menjaga kualitas udara di sekitar titik panas (hot spot) tidak semakin memburuk.

    Pemerintah melihat kualitas udara yang memburuk ini berkorelasi dengan titik api, tapi yang paling penting bagaimana mencegah titik api menyebar agar kualitas udara juga dipulihkan.

    Baca: Modifikasi dilakukan di kawasan rawan terjadi kebakaran lahan

    “Jadi TMC sasarannya tidak hanya mengantisipasi karhutla tapi juga memulihkan kualitas udara,” urainya.

    Meski beberapa daerah sudah mulai memasuki musim hujan, tetapi fenomena El Nino masih terus berlangsung hingga awal tahun 2024.

    “Saat musim hujan, pengaruh El Nino tidak sedahsyat saat ini. Diharapkan sesuai prediksi kemarau panjang ini berakhir di Oktober dan mulai transisi di November,” katanya.

    Baca: El Nino percepat cairnya salju abadi di Puncak Jaya

    El Nino merupakan fenomena cuaca yang terjadi akibat peningkatan suhu permukaan air di Samudra Pasifik Tengah dan Timur yang menjadi lebih hangat dari biasanya.

    Biasanya terjadi setiap 5 atau 7 tahun sekali. Fenomena alami ini menyebabkan perubahan pola cuaca global, yang berdampak signifikan pada iklim di berbagai wilayah di dunia, termasuk di Indonesia.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Indonesia dan Brasil Jadi Penyumbang Terbesar Deforestasi di Hutan Tropis

    Indonesia dan Brasil Jadi Penyumbang Terbesar Deforestasi di Hutan Tropis

    7cloud.asia – Sejak tahun 1990, setidaknya 420 juta hektare hutan di muka Bumi telah hilang akibat aktivitas manusia yang disebut dengan istilah  defroestasi.

    Masuk dalam deforestasi ini adalah pembukaan lahan dan hutan untuk pertanian/peternakan ataupun diambil kayunya. 

    Meskipun laju deforestasi telah menurun selama tiga dekade terakhir, Bumi masih saja kehilangan ribuan hektare hutan setiap harinya. Dalam setahun, jutaan hektare hutan hilang dari muka Bumi.

    Pada tahun 2020, tutupan hutan tercatat 4 miliar hektare atau hanya mencakup sekitar 31 persen dari total luas daratan dunia. 

    Baca: Mengenal komitmen Glasgow untuk hentikan deforestasi 

    Dan, September 2022 tercatat dalam sejarah sebagai bulan pemecahan rekor deforestasi di Amazon, hutan hujan tropis terbesar dan terpenting di dunia yang terletak di Amerika Latin.

    Ada beberapa  fakta menakjubkan tentang deforestasi yang perlu kita ketahui dan mengapa kita perlu melindungi hutan lebih serius ketimbang sebelumnya.

    Dunia kehilangan sekitar 10 juta hektare hutan setiap tahunnya. Deforestasi ini dilakukan dengan alasan atau atas nama penciptaan ruang bagi tanaman pangan dan peternakan.

    Sebagian dari deforestasi ini juga dilakukan untuk memproduksi bahan-bahan seperti kertas atau kayu untuk pembangunan rumah.

    Baca: Tujuh komoditas Indonesia yang terkena aturan anti deforestasi Uni Eropa

    Jumlah ini menyumbang sekitar 16 persen dari total hilangnya tutupan pohon di hutan-hutan di seluruh dunia.

    “Sekitar 96 persen deforestasi terjadi di hutan tropis,” tulis earth.org

    Lebih spesifik, sebagian besar deforestasi di daerah tropis disumbang oleh Brasil dan Indonesia yang menyumbang hampir setengah dari deforestasi itu.

    Dan, sepertiga deforestasi hutan tropis terjadi di Brazil saja. Jumlahnya sekitar 1,7 juta hektare setiap tahunnya.

    Baik Brasil maupun Indonesia adalah rumah bagi hutan tropis terbesar dan paling beragam di dunia.

    Baca: Pemerintah diminta terbuka soal data deforestasi di hutan skunder di Indonesia

    Ketika industri pertanian terus melakukan pembukaan lahan untuk tanaman pangan dan peternakan, ancaman terhadap keanekaragaman hayati semakin memburuk.

    Studi mengatakan populasi hewan yang diamati mengalami penurunan jumlah populasi rata-rata sebesar 68 persen, akibat deforestasi. 

    Di Kalimantan, deforestasi untuk perkebunan sawit telah mengancam kelestarian  orangutan.

    “Hampir 80 persen populasi orangutan musnah akibat deforestasi di hutan Kalimantan dalam 50 tahun terakhir, ” tulis earth.org.

    Baca: Setelah memuncak pada 2016, laju deforestasi di Indonesia terus turun

  • Perkebunan Monokultur Penyumbang Terbesar Deforestasi atau Penebangan Hutan Global

    Perkebunan Monokultur Penyumbang Terbesar Deforestasi atau Penebangan Hutan Global

    7cloud.asia – Meskipun laju deforestasi telah menurun selama tiga dekade terakhir, dunia masih tetap kehilangan kehilangan ribuan hektare hutan setiap harinya.

    Dunia telah menebang 10 juta hektare hutan setiap tahunnya untuk menciptakan ruang bagi tanaman pangan dan peternakan, serta untuk memproduksi bahan-bahan seperti kertas.

     

    Sejak tahun 1990, 420 juta hektar hutan telah hilang akibat aktivitas manusia termasuk pembukaan lahan untuk pertanian dan penebangan kayu atau yang disebut dengan deforestasi.

    Akibat deforestasi,  tutupan hutan hanya mencakup sekitar 31 persen dari total luas daratan dunia pada Pada tahun 2020. 

    Baca: Indonesia dan Brasil peyumbang terbesar deforestasi hutan tropis dunia

    Bahkan dunia mencatat, pada September 2022 tercatat dalam sejarah sebagai bulan pemecahan rekor deforestasi di Amazon, hutan hujan terbesar dan terpenting di dunia

     

    Setidaknya 3,75 juta hektare hutan hujan primer tropis hilang pada tahun 2021 saja.

    Hal ini menghasilkan 2,5 miliar ton emisi karbon dioksida, setara dengan emisi bahan bakar fosil tahunan di India dan hampir 10 lapangan sepak bola per menit.

    Banyak hutan juga telah diubah menjadi perkebunan monokultur, yang berarti menanam spesies tanaman yang sama di seluruh lahan.

    Baca: Tujuh komoditas INdonesia kena aturan Antideforestasi Uni Eropa

    Deforestasi untuk tanaman monokultur ini  tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati ekosistem, namun juga meningkatkan risiko erosi tanah sekaligus mengurangi kandungan nutrisi tanah

    Salah satu tanaman monokultur yang memicu deforestasi adalah pengembangan kebun sawit secara besar-besaran.

    Industri kelapa sawit juga bertanggung jawab atas sejumlah besar deforestasi di seluruh dunia.

    Minyak sawit digunakan dalam lebih dari dua pertiga produk makanan yang kita konsumsi sehari-hari, mulai dari minyak sayur, coklat, biskuit, serta produk rumah tangga lainnya seperti sabun dan sampo.

    Baca: KLHK sebut laju deforestasi di Indonesia menurun

    Untuk memenuhi permintaan tersebut, lahan hutan yang luasnya setara dengan 300 lapangan sepak bola ditebangi setiap jamnya untuk memberi ruang bagi perkebunan kelapa sawit.

    Penebangan hutan untuk kebun sawit ini menghancurkan habitat penting bagi spesies yang terancam punah seperti orangutan dan harimau Sumatera.

    Budidaya tanaman kedelai juga menjadi salah satu penyebab deforestasi. Banyak orang menganggap kedelai sebagai bagian dari pola makan nabati.

    Tapi tanaman kedelai juga banyak digunakan sebagai pakan ternak dan untuk mendukung permintaan produksi daging yang sangat besar.

    Baca: Indonesia termasuk negara dengan hutan terluas di dunia

    Pakan ternak menghasilkan 77% produksi kedelai, sementara hanya 19,2% yang langsung digunakan sebagai produk pangan manusia.

    Secara global, kedelai bertanggung jawab atas 12 persen dari angka deforestasi di planet Bumi.

    Sumber: earth.org, baca artikel asli di sini

  • Penebangan Hutan atau Deforestasi Sumbang Emisi Karbon dan Picu Masalah Lingkungan

    Penebangan Hutan atau Deforestasi Sumbang Emisi Karbon dan Picu Masalah Lingkungan

    7cloud.asia – Deforestasi atau pembukaan hutan menjadi masalah lingkungan yang hingga kini belum terselesaikan.

    Sejak tahun 1990, 420 juta hektare hutan telah hilang akibat aktivitas manusia termasuk pembukaan lahan untuk pertanian dan penebangan kayu. Deforestasi ini telah memicu berbagai masalah lingkungan.

    Salah satu masalah lingkungan yang disebabkan deforestasi adalah emisi karbon. Para ilmuwan dunia menyebut, deforestasi menyumbang sekitar 4,8 miliar ton emisi karbon dioksida atau CO2 setahun.

    Baca: Indonesia dan Brasil dituding sebagai penyumbang deforestasi terbesar

    Emisi karbon akibat hilangnya hutan dunia yang dipicu deforestasi ini setara dengan hampir 10% emisi tahunan manusia.

    Kabar buruknya, Indonesia disebut sebagai sebagai sumber utama emisi karbon di dunia akibat deforestasi di Kalimantan.

    Peneliti NASA menemukan bahwa percepatan metode penebangan dan pembakaran dalam pembukaan lahan di Kalimantan, berkontribusi terhadap peningkatan emisi karbon global terbesar dalam satu tahun, selama dua milenium terakhir. 

    Baca: Komitmen Indonesia turunkan deforestasi

    Pulau Kalimantan sendiri merupakan pulau terbesar ketiga di dunia dan rumah bagi salah satu hutan tropis tertua di dunia.

    Selain Indonesia, Brasil juga disebut sebagai salah satu penyumbang deforestasi di hutan tropis.

    Dan, dunia mencatat September 2022 sebagai bulan pemecahan rekor deforestasi di Amazon, hutan tropis terbesar dan terpenting di dunia, sepanjang sejarah Bumi.

    Baca: Lewat Komitmen Glasgow, 100 negara dunia sepakat kurangi deforestasi

    Berbagai upaya dilakukan untuk menahan laju deforestasi terutama yang dilakukan di hutan tropis yang menjadi paru-paru dunia. Namun demikian, belum terjadi perkembangan yang signifikan.  

    Earth.org menulis, sebanyak 3,75 juta hektare hutan hujan primer tropis hilang pada tahun 2021 saja.

    “Hal ini menghasilkan 2,5 miliar ton emisi karbon dioksida, setara dengan emisi bahan bakar fosil tahunan di India dan hampir 10 lapangan sepak bola per menit,” tulis earth.org.

    Baca: Jika tidak hati-hati, Bursa Karbon justri bisa picu ketidakadilan iklim

    Meskipun laju deforestasi telah menurun selama tiga dekade terakhir, dunia  semakin kehilangan ribuan hektar setiap harinya.

    Dunia telah menebang 10 juta hektar pohon setiap tahunnya untuk menciptakan ruang bagi tanaman pangan dan peternakan, serta untuk memproduksi bahan-bahan seperti kertas.

    Jumlah ini menyumbang sekitar 16 persen dari total hilangnya tutupan pohon, Dan, sebagian besar atau 96 persen deforestasi terjadi di hutan tropis.

    Baca: DPR usulkan insentif bagi daerah penghasil oksigen

     

  • Suhu Panas Hingga 33 Derajat Celsius, Ini Penyebabnya

    Suhu Panas Hingga 33 Derajat Celsius, Ini Penyebabnya

    7cloud.asia – Suhu udara yang panas saat ini tengah melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Salah satunya Pulau Bintan di Kepulauan Riau (Kepri) yang suhunya mencapai 33 derajat celsius.

    Akibatnya masyarakat merasakan udara panas dan gerah yang tak biasanya.

    “Kami mencatat suhu udara saat ini berada di atas 30 sampai 33 derajat Celsius,” ungkap Prakirawan Stasiun Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Kota Tanjungpinang, Muhammad Fadris D, dikutip Antaranews.

    Padahal, lanjut Fadris, suhu udara di wilayah ini pada siang hari biasanya berkisar antara 28 sampai 30 derajat celcius.

    Cuaca panas yang melanda Pulau Bintan, meliputi Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan diprediksi masih akan berlangsung hingga awal 2024.

    Hal ini terjadi akibat fenomena skala global seperti El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD).

    Selain itu, adanya pergerakan angin dari arah Australia yang cenderung kering, sehingga menyebabkan berkurangnya pembentukan awan hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

    “Namun khusus di Pulau Bintan, untuk hari ini sampai dua hari ke depan ada potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang bersifat lokal,” jelas Fadris.

    Selanjutnya Fadris menjelaskan suhu panas yang terjadi saat ini rentan memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

    Pihaknya telah mendeteksi beberapa titik panas, terutama di wilayah Kabupaten Bintan.

    Karena itu, Fadris mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap pemicu karhutla, seperti tidak membuang puntung rokok sembarangan maupun membakar lahan atau kebun saat cuaca panas.

    Hal ini dapat menimbulkan kebakaran yang lebih besar. “Dari segi kesehatan, perbanyak konsumsi air putih guna mencegah dehidrasi,” ujarnya.

    Sebelumnya Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer pada BRIN (Badan Riset dan Inovesi Nasional), Eddy Hermawan mengatakan puncak suhu panas ekstrim terjadi pada bulan Oktober.

    Normalnya musim kemarau terjadi pada Juni sampai Agustus. Tetapi adanya pengaruh fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) bergeser ke Oktober.

     “Sekarang El Nino positif dan IOD juga positif, keduanya mencapai puncak sekitar Oktober 2023,” kata Eddy. 

    Kedua fenomena osilasi suhu air permukaan laut–El Nino di Samudera Pasifik dan IOD di sebelah barat Samudera Hindia—berdampak cukup masif pada Indonesia dan negara lainnya di garis khatulistiwa.

    Karena itu, lanjut Eddy, beberapa daerah di Indonesia diprediksi mengalami suhu panas ekstrem, di antaranya Kota Surabaya dengan suhu tertinggi diprediksi mencapai 43 derajat Celcius.

    Sementara itu, salah seorang warga Tanjungpinang, Erita, merasakan dampak cuaca panas dalam dua hari ke belakang, terutama pada siang hari.

    “Panasnya sangat terasa, menyebabkan tubuh memproduksi keringat lebih banyak dari biasanya,” kata Erita.

    Reporter: Nurakhmayani 

  • Industri Peternakan Sumbang 41 Persen Deforestasi atau Penebangan Hutan Dunia

    Industri Peternakan Sumbang 41 Persen Deforestasi atau Penebangan Hutan Dunia

    7cloud.asia – Meski laju deforestasi atau penebangan hutan telah menurun selama tiga dekade terakhir, dunia tetap saja kehilangan ribuan hektare hutan setiap harinya.

    Pada 2021, negara-negara dunia sebenarnya telah sepakat untuk menahan laju deforestasi dengan meneken Komitmen Glasgow, namun penebangan hutan tetap terjadi.

    Bahkan, September 2022 tercatat dalam sejarah sebagai bulan pemecahan rekor deforestasi di Amazon, hutan hujan terbesar dan terpenting di dunia. 

    Baca: Sekilas tentang Komitmen Glasgow untuk hentikan deforestasi pada 2030

    Salah satu fakta tentang deforestasi yang menggerus luasan hutan di muka planet Bumi disumbang oleh industri peternakan.

    Para ahli menyebut, industri untuk menghasilkan daging sapi bertanggung jawab atas 41 persen angka deforestasi global.

    Jadi bisa dibayangkan berapa luas hutan yang harus ditebang atau mengalami deforestasi untuk industri ini.

    Baca: Komoditas Indonesia yang terkena dampak aturan antideforestasi Uni Eropa

    Industri peternakan perlu membuka hutan untuk lahan penggembalaan yang luas untuk ternak (dan hewan ternak) guna memenuhi permintaan daging sapi global.

    Diperkirakan 81.081 mil persegi lahan hutan hilang setiap tahunnya untuk produksi daging, 80% di antaranya terjadi di Amazon.

    Negara-negara maju seperti AS dan Tiongkok, yang merupakan konsumen daging sapi terbesar di dunia, mengonsumsi hampir sepertiga daging dunia, merupakan salah satu penyebab terbesar deforestasi.

    Baca: Indonesia dan Brasil disebut sebagai penyumbang deforestasi atau penghilangan hutan hujan tropis

    Namun beberapa tahun terakhir negara-negara berkembang juga melakukan hal yang sama, yakni membuka hutan untuk peternakan. 

    Negara berkembang berada pada jalur peningkatan deforestasi sebesar empat kali lipat dibandingkan negara-negara maju pada tahun 2028.

    Banyak negara yang menyerukan agar masyarakat mengadopsi pola makan nabati sebagai metode memerangi deforestasi dan mempertahankan luasan lahan yang ditutupi hutan.

    Baca: Laju deforestasi di Indonesia terus menurun

    Menjadi vegan juga disebut akan membantu mengurangi efek rumah kaca. emisi gas dari industri pertanian dan memperlambat pemanasan global.

    Jadi bisa dikatakan, dengan menjadi vegetarian dan tidak mengonsumsi daging menjadi salah satu cara kita melindungi hutan dunia. 

    Sumber: earth.org.