Tag: jakarta

  • Penataan Transportasi Publik dan Pembangunan Kawasan Berkonsep TOD Akankah Kurangi Kemacetan di Jakarta?

    Penataan Transportasi Publik dan Pembangunan Kawasan Berkonsep TOD Akankah Kurangi Kemacetan di Jakarta?

    7cloud.asia – Kemacetan dan buruknya kondisi udara di Jakarta seolah menjadi pengingat sudah saatnya Jakarta mengubah paradigma pembangunannya dengan tidak lagi berorientasi pada kendaraan pribadi khususnya mobil dan beralih ke transportasi publik dan sarana lain yang lebih ramah lingkungan.

    Perubahan tersebut tak hanya dalam penyediaan sistem transportasi publik yang memadai, tapi juga konsep pembangunan kota yang memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi warga Jakarta.

    Konsep ini termasuk penataan kawasan dan integrasi antarmoda transportasi massal di Jakarta.

    Karena alasan inilah, maka PT MRT Jakarta mengembangkan konsep kawasan berorientasi transit atau transit oriented development (TOD) di beberapa stasiun yang ada di fase 1 koridor selatan – utara.

    Baca: Metamorfosa Jakarta lewat penataan transportasi publik

    Dilansir di akun PT MRT Jakarta, TOD merupakan kawasan yang dirancang untuk memadukan fungsi transit dengan manusia, kegiatan, bangunan, dan ruang publik yang bertujuan untuk mengoptimalkan akses terhadap transportasi publik sehingga dapat menunjang daya angkut penumpang.

    Dengan konsep kawasan berorientasi TOD ini, PT MRT Jakarta menawarkan keuntungan bagi warga Jakarta, seperti:

    • Mengurangi penggunaan kendaraan, kemacetan jalan, dan polusi udara;
    • Pembangunan yang mendukung pejalan kaki serta gaya hidup sehat dan aktif;
    • Meningkatkan akses terhadap kesempatan kerja dan ekonomi;
    • Berpotensi menciptakan nilai tambah melalui peningkatan nilai properti;
    • Meningkatkan jumlah penumpang transit dan keuntungan dari penjualan tiket;
    • Menambah pilihan moda pergerakan kawasan perkotaan.

    Baca: LRT segera dioperasikan, tapi tarifnya dinilai kemahalan

    Dalam pembangunan MRT Jakarta fase 1 koridor selatan – utara ini, Pemprov DKI Jakarta pun telah memberikan mandat kepada PT MRT Jakarta (Perseroda) untuk menjadi operator utama pengelola kawasan TOD di lima kawasan, yaitu Lebak Bulus, Fatmawati, Blok M dan Sisingamangaraja, Istora, dan Dukuh Atas.

    Stasiun Lebak Bulus merupakan stasiun pertama di koridor selatan – utara yang diharapkan dapat menjadi magnet bagi masyarakat penglaju dari daerah penyangga seperti Tangerang Selatan yang banyak beraktivitas di Jakarta.

    Para penglaju ini menggunakan kendaraan pribadi dan transportasi publik setiap hari dari area permukiman padat sehingga berpotensi berkontribusi pada kemacetan.

    Baca: Penerapan konsep smart city di IKN

    Kehadiran konsep TOD yang memiliki sejumlah fasilitas penunjang mobilitas penumpang serta memiliki sistem transportasi pengumpan dari dan ke area tersebut diharapkan akan meningkatkan jumlah pengguna transportasi publik berbasis rel kereta ini.

    Dengan demikian, maka secara bertahap masyarakat yang setiap hari bekerja di Jakarta dapat mulai meninggalkan kendaraan pribadi dalam mobilitas sehari-hari mereka.

    Sedangkan kehadiran konsep transportasi publik yang terintegrasi seperti di Dukuh Atas, akan mengatur arus penumpang yang menggunakan lima moda tranportasi berbeda di kawasan ini, yaitu MRT Jakarta, Bus Rapid Transit (BRT) Transjakarta, kereta bandara (railink), kereta komuter (commuterline), dan kereta Light Rapid Transit (LRT) Jabodebek yang sedang dikembangkan oleh pemerintah.

    Baca: Empat kota di dunia yang sangat memperhatikan pejalan kaki

    Pergerakan manusia ini akan didukung oleh sistem pedestrianisasi kawasan yang dikembangkan dengan konsep TOD, baik berupa infrastruktur pedestrian yang baru maupun upgrade dari yang ada serta ruang-ruang terbuka yang akan dibentuk.

    Pengembangan kawasan Cipete (yang mencakup Stasiun Cipete, Haji Nawi, dan Blok A) akan mendorong kawasan perdagangan yang saat ini tumbuh dengan konsep shopping street serta meningkatkan aksesibilitas di setiap bagian dari kawasan tersebut sehingga penyebaran kegiatan tidak hanya terjadi di jalan utama.

    Peningkatan aksesibilitas tersebut diutamakan untuk pejalan kaki dan non-motorized vehicles baik melalui jalan yang ada maupun menggunakan lahan-lahan milik pribadi melalui metode public use private own. 

    Baca: Slow city, konsep tata kelola kota yang lebih ramah lingkungan

    Pengembangan kawasan transit terpadu atau TOD ini diharapkan menjadikan MRT Jakarta atau moda transportasi publik lainnya sebagai pilihan masyarakat dalam mobilitas sehari-harinya.

    Namun pengembangan kawasan TOD di Jakarta ini telah mengalami deviasi dan seolah-olah itu adalah merek sebuah produk properti. Kawasan berkonsep TOD seolah diartikan sebagai hunian yang dibangun menempel ke stasiun atau fasilitas transportasi publik lainnya, yang ini melenceng dari konsep TOD yang sebenarnya.

    Meski demikian, upaya Pemprov DKI Jakarta tetap mendapat apresiasi. Apa saja yang harus dibenahi dan bagaimana konsep TOD yang ideal akan kami bahas dalam tulisan selanjutnya di 7cloud.asia

    Baca: Gaya hidup selow ala warganya membuat Yogyakarta layak disebut sebagai slow city

     

  • LRT Jabodebek Resmi Diujicobakan, Segini Kisaran Tarifnya

    LRT Jabodebek Resmi Diujicobakan, Segini Kisaran Tarifnya

    7cloud.asia – Uji coba terbatas LRT Jabodebek dengan penumpang resmi dilakukan pada Rabu (12/7/2023) kemarin. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Didiek Hartantyo menjajal langsung moda transportasi tanpa masinis ini.

    Ujicoba LRT Jabodebek ini akan dilakukan hingga Agustus mendatang, dan setelah itu penumpang akan dikenai tarif.

    Uji coba terbatas LRT Jabodebek yang dilakukan kemarin hanya untuk undangan terbatas seperti kementerian dan lembaga (K/L), jurnalis, dan komunitas.

    Baca: Kesiapan LRT Jabodebek

    Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Didiek Hartantyo menjelaskan, masyarakat baru bisa menjajal LRT Jabodebek pada 27 Juli sampai 15 Agustus 2023.

    “Tanggal 12-26 Juli akan ada 22 perjalanan setiap hari. Itu yang kita undang stakeholder dan pihak-pihak terkait. Nanti tanggal 27 Juli sampai 15 Agustus akan ada 434 perjalanan setiap hari,” katanya.

    “Jadi setelah terbatas sampai tanggal 26 Juli, kita akan perluas dan nanti 6 perjalanan untuk angkutan penumpang terbatas,” lanjutnya.

    Baca: Tarif LRT Jabodebek dinilai masih kemahalan

    Dalam satu trainset LRT Jabodebek berisi 6 gerbong. Dalam masa uji coba, 1 trainset bisa menampung sekitar 150 orang. Dengan begitu diperkirakan ada 900 penumpang yang bisa menjajal uji coba LRT Jabodebek dalam sehari.

    Ke depan, LRT Jabodebek diharapkan bisa menjadi transportasi andalan bagi warga DKI Jakarta, Depok, Bogor, dan Bekasi sekaligus mengurangi kemacetan di wilayah Jakarta.

    Dengan menggunakan LRT Jabodebek, waktu tempuh bisa dipangkas hingga separuhnya. Waktu tempuh LRT Jabodebek dari Stasiun Dukuh Atas ke Harjamukti Cibubur hanya 39 menit.

    Baca: Konsep TOD diharapkan bisa mengurai kemacetan di Jakarta

    Sementara waktu tempuh LRT Jabodebek dari Stasiun Dukuh Atas ke Stasiun Jatimulya, Bekasi Timur selama 43 menit.

    “Ini lebih cepat dibandingkan menggunakan kendaraan sekalipun lewat tol, yang waktu tempuhnya bisa sekitar 2 jam. Dengan naik LRT Jabidebek mampu memangkas waktu sepertiganya. Ini angka yang signifikan,” tutur Budi Karya Sumadi saat ujicoba beberapa waktu lalu.

    Lantas, berapa tarifnya? Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Risal Wasal menjelaskan, tarif LRT Jabodebek akan diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan. Untuk tarif termurah ditetapkan Rp 5.000.

    Baca: Metamorfosa Jakarta lewat penataan transportasi publik

    Sementara tarif terjauh LRT Jabodebek, yaitu Stasiun Harjamukti Cibubur sampai Stasiun Jati Mulya Bekasi diperkirakan Rp 25.000. Tarif tersebut tinggal menunggu disahkan lewat Peraturan Menteri.

    Adapun hitungan tarifnya adalah Rp 5.000 per kilometer pertama. Tarif per kilometer selanjutnya ditetapkan Rp 700.

    Saat dikonfirmasi apakah tarif tersebut sudah pasti, Risal membenarkan. Tarif itu juga sudah termasuk subsidi dari pemerintah. “Iya Rp 5.000 per kilometer dan Rp 700,” tuturnya.

    Baca: Bersepeda jadi cara warga menikmati kotanya

    Sebelumnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi buka suara soal perkiraan tarif LRT Jabodebek. Menurutnya, tarif LRT Jabodebek bakal ditetapkan di kisaran Rp 20.000-25.000 untuk rute terjauh. Namun pemerintah juga masih menghitung.

    “Kalau dengar-dengar bocorannya ya antara Rp 20.000-25.000 kira-kira, tapi kita akan menghitung. Tentu hitungan itu tidak asal menghitung,” katanya.

  • Jalan-jalan ke Monas Nggak Hanya Bisa Nikmati Suasana Jakarta, Tapi Juga Belajar Sejarah Indonesia

    Jalan-jalan ke Monas Nggak Hanya Bisa Nikmati Suasana Jakarta, Tapi Juga Belajar Sejarah Indonesia

    7cloud.asia – Bulan Juli ini tepat satu tahun Monumen Nasional atau Monas dibuka kembali secara penuh untuk wisatawan umum. Jadi buat kamu yang sedang jalan-jalan ke Jakarta, maka sempatkan mampir ke Monas.

    Nah, buat kamu yang ingin menyambangi Monas, ada banyak spot yang bisa kamu nikmati. Dan, di Monas kamu nggak hanya bakal melancong, kamu bisa belajar banyak di ikon Jakarta yang dibangun di era Presiden Soekarno ini.

    Tugu Monas bisa dibedakan menjadi empat titik, yakni Taman Monas, Pelataran Bawah Monas Pelataran Cawan, Pelataran Puncak, dan Lidah Api. 

     

    Jadi kamu tak hanya bisa naik ke Puncak Lidah Api Monas untuk menikmati keindahan Jakarta dari ketinggian. Kamu juga bisa belajar tentang sejarah Indonesia sejak jaman purba hingga pasca kemerdekaan serta mengenal para pahlawan nasional.

    Baca: Wisata ramah lingkungan itu seperti apa?

    Penasaran? Segera saja simak daftar aktivitas yang bisa dinikmati saat menyambangi Tugu Monas yang berada di jantung Kota Jakarta ini: 

    1. Taman Monas 

    Taman Monas memiliki luas 65,4 hektare, merupakan ruang terbuka hijau di pusat Jakarta. Kalau kamu ingin mengitari Taman Monas disarankan memakai alas kaki yang nyaman ataupun topi agar lebih nyaman menjelajahi seluruh sudut di Taman Monas ini. 

    Jangan lupa juga membawa minuman ya, dan yang pasti jangan membuang sampah sembarangan.

    2. Fasilitas olahraga 

    Monas juga punya fasilitas olahraga, seperti lapangan futsal, lapangan voli, dan juga lapangan basket.  Tersedia area tempat refleksi tubuh yang bisa dicoba secara gratis bagi para wisatawan. 

    Baca: Belajar budaya Betawi pesisir di Museum Si Pitung

    3. Patung Diponegoro 

    Selain bisa menikmati berbagai fasilitas yang menarik, di kawasan Monas juga ada beberapa patung para pahlawan Indonesia. Salah satunya adalah Patung Diponegoro yang terletak sisi utara kawasan Monas. 

    Patung itu dulunya adalah pemberian dari mantan Konsul Jenderal Kehormatan Indonesia di Italia, Dr Mario Pitto.

    Patung Diponegoro dibuat oleh pemahat Italia bernama Profesor Cobertaldo.  Diponegoro adalah pahlawan nasional kelahiran Yogyakarta pada 11 November 1785. Dia menjadi tokoh utama dalam Perang Jawa pada periode 1825-1830 melawan Hindia Belanda. 

    Diponegoro dianggap berjasa dan hingga kini masih dijadikan teladan bagi masyarakat Indonesia. 

    Baca: Mengenal batik di 5 museum batik ini

    4. Patung Ikada 

    Di sebelah selatan kawasan Monas ada Patung Ikada, singkatan dari Ikatan Atletik Djakarta. Jika patung lain di Monas menggambarkan pahlawan Indonesia, patung ini berbentuk sosok lima pemuda yang memasang bendera Merah Putih.

    Patung Ikada dibuat untuk mengenang salah satu peristiwa bersejarah di Indonesia, yakni Rapat Raksasa Ikada pada 19 September 1945. 

    Rapat tersebut diabadikan menjadi sebuah patung guna menandai pertama kalinya Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno dan Wakil Presiden pertama RI Mohammad Hatta bertemu dengan rakyat. 

    5. Patung MH Thamrin 

    Di sebelah barat Monas ada Patung Muhammad Husni (MH) Thamrin. MH Thamrin dianggap sebagai pahlawan kemerdekaan asli Betawi.

    Patung MH Thamrin dibuat oleh seniman bernama Arsono serta diresmikan pada 11 Januari 1982.  Bukan hanya terkenal sebagai pahlawan nasional, MH Thamrin juga dikenal sebagai pedagang yang dermawan.

    MH Thamrin diketahui pernah memberikan sejumlah uang kepada keluarga Soekarno.

    Baca: Daftar desa adat yang bisa kita sambangi

    6. Patung RA Kartini 

    Patung RA Kartini dipajang di sisi barat Monas. Di sana ada tiga buah patung yang menggambarkan RA Kartini tengah menari dengan gerakan berbeda. 

    Jika Patung Diponegoro pemberian dari Italia, Patung RA Kartini di Monas ini adalah pemberian dari Pemerintah Jepang kepada Indonesia.

    Bukti patung RA Kartini adalah pemberian Jepang terlihat dari adanya ukiran huruf Jepang di bagian bawah patung. 

    7. Patung Chairil Anwar

    Selain pahlawan, Di Monas juga ada  patung seorang penyair legendaris Indonesia, Chairil Anwar. Patung Chaiaril Anwar diletakkan di kawasan utara Monas.  Patung setengah badan tersebut menggambarkan wajah Chairil Anwar dengan pandangan lurus ke depan.

    Patung berbahan perunggu tersebut juga dibuat oleh Arsono. Peresmian Patung Chairil Anwar dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta R Suprapto pada 21 Maret 1986.   

    Baca: Mengenal flora dan fauna di Kebun Raya

    8. Museum Sejarah Perjuangan Nasional 

    Selain Monas, wisatawan juga bisa berkunjung ke Museum Sejarah Perjuangan Nasional. Museum yang punya tinggi ruangan sampai delapan meter dengan luas 80×80 meter itu berisi 12 diorama dengan menampilkan berbagai peristiwa bersejarah di Indonesia.

    Lebih dari 30 diorama tersebut menggambarkan sejarah Indonesia dari era pra sejarah, zaman kerajaan, masa penjajahan Belanda dan Jepang, hingga peristiwa reformasi Mei 1998.  

    9. Pelataran Bawah 

    Bagian Pelataran Cawan Monas luasnya mencapai 45×45 meter, dikutip dari laman Museum Jakarta. 

    Adapun jarak antara tinggi Monas hingga area Pelataran Cawan lebih kurang 17 meter. Dari tempat ini wisatawan bisa melihat Taman Monas yang menjadi salah satu area beraktivitas masyarakat di Jakarta.

    Baca: Mengenal sejarah bebatuan di Bumi di geopark

    10. Pelataran Puncak 

    Naik ke bagian lebih atas ada Pelataran Puncak Monas yang areanya semakin kecil, punya luas 11×11 meter. Buat wisatawan yang tertarik menuju ke area Pelataran Puncak Monas, bisa naik lift atau tangga.

    Dari Pelataran Puncak Monas ini, kita bisa melihat pemandangan Kota Jakarta. Jika cuaca cerah bisa melihat panorama Gunung Salak serta Kepulauan Seribu. 

    11. Lidah Api 

    Lidah Api Monas menjaid tujuan utama para pengunjung. Lidah api Monas tampak mencolok dengan bentuk seperti kobaran api keemasan.

    Lidah Api Monas terbuat dari bahan perunggu dengan tinggi 17 meter, berdiameter 6 meter, dengan berat 14,5 ton. Bagian luarnya dilapisi dengan emas seberat 45 kilogram (kg) dan terdiri dari 77 bagian kemudian disatukan. 

    Baca: Akankah pembangunan hunian berkonsep TOD mampu atasi kemacetan?

  • Petugas Jumantik dan Pengelola Bank Sampah Bahu Membahu Jaga Kebersihan Kelurahan Malaka Jaya

    Petugas Jumantik dan Pengelola Bank Sampah Bahu Membahu Jaga Kebersihan Kelurahan Malaka Jaya

    7cloud.asia – Ini kisah bank sampah yang terdapat di wilayah Malaka Jaya Perumnas Klender Kelurahan Malaka Jaya, Kecamaatan Duren Sawit Jakarta Timur.

    Berbeda dengan bank sampah Sekarwangi yang beroperasi di jalan, bank sampah di wilayah Malaka Jaya ini memiiki gedung sendiri. Mereka juga punya pegawai tetap.

    Semua kegiatan memilah, membersihkan, mencatat hingga menimbang di bank sampah Malaka Jaya dilakukan oleh pegawai tetap yang berjumlah dua orang. 

    Bank sampah Malaka Jaya tak memiliki kader serta pengurus sebagaimana di bank sampah unit Sekarwangi Cakung Jakarta Timur.

    Baca: Bank sampah Sekarwangi berlangsung di jalanan 

    Para nasabah di bank sampah Malaka Jaya ini, kebanyakan berasal dari warga setempat yang hanya berminat membawa sampah mereka ke bank sampah.

    Setiap seminggu sekali, petugas jumantik membantu dengan menyerahkan hasil JPL (jumantik peduli lingkungan)  ke bank sampah Malaka jaya ini.

    Hasil penjualan sampah berupa botol dan gelas plastik, serta kardus yang sudah tak terpakai ini kemudian dimasukkan ke dalam kas organisasi.

    Baca: Aplikasi ini membantu kamu temukan bank sampah

    Meski hasil JPL tak banyak, namun setidaknya apa yang dilakukan petugas jumantik mampu menciptakan kebersihan dan dapat mengurangi sampah di wilayah sekitar.

    “Tapi dengan mengumpulkan sedikit demi sedikit dari JPL, lama-lama bisa banyak juga. Lalu nanti kalu sudah banyak, kan, bisa digunakan untuk hal yang bermanfaat,” kata salah satu kader jumantik RW 04 Fatimah Hadi.

    Petugas bank sampah Malaka Jaya, Simon mengatakan sampah yang terkumpul dari warga dan petugas jumantik biasanya dibersihkan lebih dulu, dipilah-pilah sesuai dengan jenisnya.

    Baca: Aktivitas bank sampah terbaik di Jakarta

    Lalu sampah itu dimasukkan ke dalam karung. Setelah itu sampah tersebut ditimbang dan dicatat bobotnya ke dalam buku bank sampah milik nasabah serta dikonversi ke dalam rupiah.

    Sampah yang terkumpul, lantas akan diangkut oleh petugas dari dinas KLH di Ciracas atau BSI (bank sampah induk) dengan mobil bak terbuka.

    “Kita biasanya menghubungi petugas dari BSI atau dinas KLH untuk mengangkut sampahsampah ini dulu. Setidaknya minimal 2 ton sampah yang terkumpul di sini, baru mereka angkut,” jelas Simon.

    Baca: Mendulang cuan dari mengolah sampah

    Berdasarkan laporan Pengelolaan Sampah Nasional (SPSN) yang dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), timbunan sampah di DKI Jakarta mencapai 3 juta ton.

    Jakarta merupakan provinsi penghasil timbunan sampah terbesar kedua setelah Jawa Tengah di Indonesia.

    Data Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta pada akhir 2022 juga menyebutkan bahwa Propinsi DKI Jakarta mengirimkan lebih dari 7500 ton sampah setiap harinya ke TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) Bantargebang Bekasi, Jawa Barat.

    Dengan keberadaan bank sampah ini maka sampah yang dikirim ke TPST Bantargebang bisa dikurangi, selain itu juga menghasilkan uang bagi warga.

    Baca: Bisnis menjanjikan dari minyak jelantah

  • Kualitas Udara Buruk, Kota Jakarta Masuk Kota Terpolusi di Dunia

    Kualitas Udara Buruk, Kota Jakarta Masuk Kota Terpolusi di Dunia

    7cloud.asia – Salah satu dampak dari kemarau kering yang dipicu El Nino ini adalah menurunnya kualitas udara Jakarta.

    Berdasarkan data IQAir Jakarta pukul 16.29 WIB, Jakarta tercatat menjadi kota dengan kualitas udara dan polusi terburuk di dunia dengan nilai indeks 168 atau masuk kategori tidak sehat.

    Baca: LRT Jabodebek siap dioperasikan, segini kisaran biayanya

    Wilayah terparah justru berada di Jakarta Selatan. Ragunan menempati urutan teratas dengan nilai indeks 196 disusul Kemang dengan indeks 190.

    Foto yang dirilis Antaranews pada Selasa (25/7/2023) menunjukkan suasana Kota jakarta yang tertutup kabut asap polusi udara.

    Baca: Konsep pembangunan TOD diharapkan mampu mengutai kemacetan di Jakarta

    Dipotret dari ketinggian, sangat terlihat buruknya kualitas udara di Kota Jakarta. Gedung-gedung bertingkat di Jakarta terlihat tertutup oleh kabut akibat polusi udara di Jakarta. 

    Pemprov DKI Jakarta menempuh kebijakan dengan memperbanyak penanaman pohon sebagai upaya untuk memperbaiki kualitas udara di Ibu Kota.

    Baca: Metamorfosa kota Jakarta lewat penataan transportasi publik

    Namun upaya ini akan kurang efektif jika tidak dibarengi dengan pengurangan emisi karbon yang memicu polusi udara di Kota Jakarta.

    Pembatasan penggunaan bahan bakar fosil menjadi salah satu alternatif solusi untuk mengatasi buruknya kualitas udara di Jakarta.

    Baca: Sukses terapkan konsep TOD, ini manfaat yang dirasakan Kota Bogota

  • Festival Lintas Melawai, Mengenang Keramaian Melawai dan Blok M Era 90an

    Festival Lintas Melawai, Mengenang Keramaian Melawai dan Blok M Era 90an

    7cloud.asia – Melawai dan Blok M pernah menjadi lokasi yang sangat hype bagi anak muda di Jakarta pada era 1980-an dan 1990-an.

    Melawai yang berada di seputaran Blok M Jakarta Selatan tersebut pernah jadi pusat nongkrong anak muda Jakarta pada era itu. Melawai saat itu tenar disebut sebagai ‘tempat ngeceng’ yang seru.

    Kondisi ini tidak lepas dari lokasi Melawai dan Blok M yang mudah dicapai atau dekat dengan sejumlah sekolah favorit di Jakarta, yakni SMAN 6 Bulungan, SMAN 70 ataupun SMAN 28 di Tebet.

    Di Melawai dan Blok M ini juga dulu menjadi lokasi dibangunnya sejumlah pusat perbelanjaan awal di Jakarta seperti Aldiron, Pasar Blok M ataupun Mal Blok M.

    Baca: Sejarah Jakarta dari Jayakarta menjadi Batavia lalu menjadi Jakarta

    Namun, aura Melawai dan Blok M sebagai tempat ngeceng di tahun 1980an hingga 1990an kini memudar, dan tergusur oleh kegiatan komersial di kawasan tersebut.

    Blok M dan Melawai kini telah berubah menjadi kawasan perdagangan yang sibuk. Di kawasan ini telah berdiri sejumlah pusat perdagangan seperti Pasaraya, Blok M Square, ataupun Pasar Blok M. 

    Lantas ke mana perginya anak muda Jakarta sekarang? Ada banyak sekali tempat nongkrong kekinian yang lebih menarik minat mereka.   

    Nah, untuk mengenang kembali kejayaan Melawai digelar event Festival Lintas Melawai pada 28-30 Juli 2023. 

    Baca: Metamorfosa Jakarta lewat penataan transportasi publik

    Festival Lintas Melawai digagas oleh Helmy Yahya dan Denny Malik, yang juga menjadi anak muda di masanya yang pernah menikmati gegap gempita kawasan Blok M sebagai tempat nongkrong anak muda masa itu.

    “Saya berhutang pada Blok M yang membawa saya jadi pelaku industri kreatif, tanpa Blok M saya mungkin jadi akuntan atau PNS. Sekarang, kita mencoba mengajak untuk memulai lagi tradisi mejeng di Blok M lewat acara ini,” ujar Helmy Yahya, Sabtu, 29 Juli 2023.

    Helmy Yahya mengaku tidak menyangka Festival Lintas Melawai mendapat sambutan yang gegap gempita dari warga Jakarta. Sejumlah komunitas maupun pelaku ekonomi kreatif dalam acara yang berlangsung selama tig ahari tersebut.

    “Kita ingin kembalikan lagi ke era 1980an dan 1990an yang jadi puncak kejayaan budaya pop Indonesia,” kata dia.

     

    Baca: LRT siap dioperasikan, segini kisaran tarifnya

    Ruangkota.com berkesempatan mengunjungi Festival Lintas Melawai pada Minggu (30/7/2023) atau hari terakhir gelaran Festival Lintas Melawai ini.

    Saat tiba di lokasi yang terletak tak jauh dari Terminal Blok M, suasana retro sangat terasa di pintu masuknya.

    Meski tak digelar tepat di Lintas Melawai, Festival Melawai sukses mengajak pengunjung bernostalgia ke ambience retro kawasan Blok M era 1980an dan 1990an. 

    Sejumlah perangkat era 80an seperti tape deck, pesawat televisi tabung, pesawat telepon bergagang, mesin ketik jadul, radio transistor, buku kenangan, buku harian dan sejenisnya langsung tersaji di depan mata.

    Tak ketinggalan ikon Blok M yang pernah digandrungi anak muda masa itu seperti sepeda BMX, box telepon umum dan sebagainya. Namun, sayangnya bus tingkat yang dulu juga menjadi ikon transportasi di Jakarta saat itu tidak dihadirkan di lokasi. 

    Baca: Jakarta kini miliki peta bersepeda 

    Ada juga kegiatan parade yang akan diramaikan komunitas otomotif mobil Go90s, Klasik Retro, motor klasik seperti Campursari Vespa, 2stroke, sepeda OSBMX, Sepatu Roda Skate Lovers, dan komunitas All Line Dance maupun komunitas Photography Saljudilangit.

    Untuk kuliner, hadir kuliner Gule Tikungan alias Gultik hingga Roti Bakar Eddy yang kini melegenda dan punya cabang di mana-mana.

    Kepada ruangkota, sejumlah pengunjung mengungkapkan Festival Melawai sukses menghadirkan nostalgia era 1980an dan 1990an. 

    Bagaimana Blok M dan Melawai mengenalkan banyak hal baru saat itu, seperti eskalator, telepon umum ataupun bus tingkat. 

    Irawan, alumni SMAN 6 Bulungan mengatakan, lewat event ini dia bisa mengenang saat muda dulu. Anggota Sixerhood (sebutan untuk almuni SMAN 6 Jakarta, red) tahun 1983 itu mengatakan, Blok M dan Lintas Melawai sudah sangat berubah. 

    “Kita nggak bisa lagi nongkrong-nongkrong santai seperti dulu, karena sudah padat dengan bangunan,” ujarnya.

    Baca: Pengembangan kawasan TOD di Jakarta

     

  • Tak Hanya Mengendalikan Banjir di Jakarta, Sodetan Kali Ciliwung Bisa Jadi Pusat Kegiatan

    Tak Hanya Mengendalikan Banjir di Jakarta, Sodetan Kali Ciliwung Bisa Jadi Pusat Kegiatan

    7cloud.asia – Presiden Joko Widodo (Jokowi), Senin (31/07/2023) meresmikan proyek Sodetan Kali Ciliwung, Jakarta. Proyek yang diharapkan bisa mengurangi banjir di Jakarta ini sempat terhenti di era Anies Baswedan.

    Sejumlah masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah Sodetan Kali Ciliwung yang selama ini menjadi langganan banjir menyampaikan tanggapan dan harapan atas keberadaan sodetan ini.

    Salah satunya adalah Urip Yanto, warga yang tinggal di Kelurahan Bidara Cina, Jakarta Timur sejak 1988. Urip berharap agar kehadiran Sodetan Ciliwung dapat mengurangi banjir di wilayahnya.

    Baca: Tangani sampah Jakarta, Pemprov DKI Jakarta lebih pilih sistem RDF

    “Kalau warga memang mengharapkannya gimana supaya di wilayah Bidara Cina ini enggak terjadi banjir terus, tiap tahun selalu banjir. Dengan adanya Sodetan Kali Ciliwung ini mungkin mudah-mudahan bisa mengurangi banjir semuanya juga lebih bagus lagi. Buat di Ciliwung ini juga jangan terlalu meluap terus. Mudah-mudahan di situ,” ujarnya. 

    Sodetan Kali Ciliwung dibangun untuk mengalirkan sebagian debit banjir dari Sungai Ciliwung menuju Kanal Banjir Timur (KBT).

    Sodetan Kali Ciliwung ini sebenarnya mulai dibangun sejak 2017 dengan menghabiskan biaya RP 1,150 triliun, namun pembangunannya sempat terhenti saat gubernur DKI Jakarta dipegang Anies Baswedan.

     

    Baca: LRT siap dioperasikan, tapi tarifnya dinilai masih kemahalan

    Sodetan Kali Ciliwung memiliki panjang 1,2 km, terdiri dari dua terowongan dan diharapkan bisa mengurangi banjir di 6 kelurahan

    Tidak hanya sebagai pengendali banjir, Sodetan Kali Ciliwung juga diharapkan bisa menjadi pusat kegiatan warga sekitar. 

    Karena itu, Sodetan Kali Ciliwung juga dilengkapi sejumlah fasilitas umum seperti taman bermain, tempat kebugaran luar ruangan, toilet umum, plaza air mancur, hingga warung usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

    Baca: Pembangunan kawasan TOD di Jakarta diharapkan mampu urai kemacetan

    Warga lainnya, Marwati dari Kelurahan Kebon Baru yang tinggal tepat di seberang Sodetan Kali Ciliwung mengaku senang dengan hadirnya fasilitas tersebut.

    Marwati menilai infrastruktur dari sodetan tersebut juga bisa menjadi fasilitas publik yang bermanfaat bagi warga sekitar.

    “Alhamdulillah senang banget Pak. Ini baru kali ini saya datang, bagus sekali [fasilitasnya] jadi anak-anak nanti ke sini semua betah, untuk bermain warga, biar enggak suntuk gitu,” ujar Marwati.

    Baca: Metamorfosa Jakarta lewat penataan transportasi publik

    Senada, Suwarsih warga Sodetan Kali Ciliwung lainnya juga menuturkan bawa infrastruktur sodetan dapat dimanfaatkan sebagai taman bermain anak-anak.

    Tak lupa ia menyampaikan rasa terima kasih kepada Presiden Jokowi dan pemerintah atas pembangunan Sodetan Kali Ciliwung yang sudah ditunggu-tunggu untuk mengurangi banjir di Jakarta ini. 

    “Saya juga cukup berterima kasih kepada Presiden Jokowi dengan adanya sodetan Kali Ciliwung ini jadi lebih berkembang, warga saya juga tidak [terkena] banjir lagi dengan adanya fasilitas yang ada. Yang sudah disediakan ini sangat bagus, jadi ya bagus sekali,” ucap Suwarsih. 

    Sumber: Setkab

  • Mengintip Guyubnya Pemilik Warteg di Jakarta, Saling Membantu Atasi Masalah

    Mengintip Guyubnya Pemilik Warteg di Jakarta, Saling Membantu Atasi Masalah

    7cloud.asia – Keberadaan warung Tegal atau warteg telah banyak membantu warga kota Jakarta menjalani aktivitas kesehariannya.  

    Dan, dalam perjalanannya Warteg yang awalnya dirintis para pekerja asal kota Tegal Jawa Tengah yang bermigrasi ke kota Jakarta menghadapi pasang surut.

    Berbagai kejadian baik politik maupun ekonomi, seperti naik turunnya harga pangan akhirnya mendorong para pemilik warteg di Kota Jakarta dan sekitarnya berkumpul bersama dan membentuk komunitas yang dinamakan Komunitas Warteg Nusantara (Kowantara).

    Komunitas pemilik warteg ini dibentuk dengan tujuan agar mereka dapat saling membantu dalam menjalani usaha warung makan ini.

    Baca: Kisah warteg, dibuat warga Tegal kemudian jadi merek bersama

    Ketua Komunitas Warteg Nusantara, Mukroni seperti dikutip BBC News Indonesia, mengatakan pada awal mulanya Kowantara dibentuk dengan tujuan dilahturahmi, agar para pemilik warteg dapat saling kenal dan berkumpul bersama.

    Namun, kini fungsi Komunitas Warteg Nusantara sudah berkembang menjadi lebih luas.

    “Jadi silaturahmi istilahnya, sebagi bentuk persaudaraan antar-para pegiat warteg. Yang kedua, ya kalau bisa kita menggerakkan ekonomi, kita nanti akan mendirikan beberapa koperasi,“ kata Mukroni kepada BBC News Indonesia.

    Koperasi yang diberi nama Koperasi Warteg Nusantara tersebut digunakan oleh komunitas itu untuk membeli bahan-bahan dasar makanan dalam jumlah besar dan disalurkan kepada para anggota.

    Baca: Mengenal uniknya tradisi seba

    “Itu ide kita, gagasan kita untuk mewadahi agar mereka [para pemilik warteg] dapat memperoleh harga bahan sembako, bahan pokok untuk kebutuhan warteg dengan harga yang cukup murah dan berkualitas,“ ujarnya.

    Koperasi itu ternyata menjadi sangat berguna dalam mengatasi lonjakan harga bahan pangan, terutama minyak goreng yang sempat mengalami kelangkaan di pasar.

    Ada pula bahan makanan lain seperti beras dan telur yang disediakan oleh Koperasi Warteg Nusantara

    “Jadi kalau kita kompak, kalau kita bersama solid, kita akan bisa mendapatkan harga murah, barangnya berkualitas,“ lanjutnya.

    Baca: Tradisi mudik ternyata sudah ada sejak jaman Majapahit

    Selain menyediakan bahan makanan dengan harga terjangkau, Koperasi Warteg Nusantara juga mengadakan pelatihan-pelatihan untuk anggotanya yang ingin meningkatkan skill mereka di bidang kuliner, baik itu dari segi kesehatan ataupun modifikasi menu.

    “Kita pernah kerjasama itu dengan Unilever, misalnya dengan bahan baku yang murah tapi tidak mengandung bahan kimia.

    Jadi masih ada keterkaitan dengan makanan. Dari segi halal, kesehatan, kebersihan, ya terus pembiayaan, akses. Misalnya ada bank yang mau menyalurkan PUR, monggo silakan daftar.

    Lebih lanjut, Mukroni mengatakan bahwa Kowantara juga membantu legalitas usaha para anggotanya dengan dalam pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB).

    Baca: Mengenal sumbu filosofi Yogyakarta

    Dengan memiliki NIB, sambungnya, para pemilik warteg dapat dipermudah dalam mengakses layanan perbankan dan terdaftar untuk menerima bantuan pemerintah.

    Program-program tersebut direncanakan bersama pada pertemuan para anggota yang digelar sekali setiap bulan di wilayah masing-masing.

    Sementara, untuk acara pertemuan para anggota secara nasional, biasanya diadakan setahun sekali.

    “Itu per Kanwil biasanya. Misalnya di Bogor, terus nanti kan jaraknya lumayan, makanya kita datangi. Ayo di Bogor adakan Kopdar [Kopi Darat], nanti kita bisa sambil arisan.

    Baca: Malioboro akan dijadikan kawasan rendah emisi

    “Makanannya juga enggak jauh-jauh dari warteg atau dari biasanya kupat, kupat khas Tegal atau tauco/ Ya paling nggak opor ayam, warteg ini kan makanan rumah. Jadi kan enggak susah,” ujar Mukroni sambil tertawa.

    Sementara, Tarsih, yang menjabat sebagai sekretaris Koperasi Warteg Nusantara mengatakan bahwa komunitas itu seringkali menjadi wadah penyaluran aspirasi para pengusaha warteg.

    “Kalau ada peraturan-peraturan pemerintah yang kayaknya merugikan. Kemarin waktu Warteg mau dikenakan pajak, berat banget karena yang makan [di warteg] bukan orang-orang yang banyak duit,” kata Tarsih.

    Sumber: BBC News Indonesia

     

  • Evolusi Warteg: Dirintis Orang Tegal Lalu Jadi Merek Bersama

    Evolusi Warteg: Dirintis Orang Tegal Lalu Jadi Merek Bersama

     

    7cloud.asia – Warung Tegal atau biasa disingkat Warteg telah lama dikenal sebagai tempat makan yang menyediakan makanan dengan harga yang terjangkau di Jakarta

    Keberadaan warteg diyakini sudah ada di Jakarta sejak tahun 1960an saat banyak warga Tegal bermigrasi ke Jakarta. Warteg kini telah berevolusi menyesuaikan perkembangan zaman. 

    Bisa dikatakan, warteg adalah fast food ala Indonesia yang sangat merakyat dan belakangan juga dilirik oleh kaum berduit. Warung Tegal Marmo di kawasan Tebet, Jakarta Selatan adalah salah satu contohnya.

    Bahkan kini ada pemilik warteg yang membuka franchise atau waralaba, seperti warteg Bahari yang bertebaran di banyak sudut kota Jakarta.

    Baca: Maluku Punya Cerita: dari papeda hingga ina gandong

    Sejarawan Makanan Universitas Padjajaran, Fadly Rahman, seperti dilansir BBC Indonesia mengatakan bahwa awal mula warteg tidak bisa dipisahkan dari migrasi orang-orang Tegal ke Jakarta.

    Ia menyebut, fenomena urbanisasi yang mulai terjadi pada dekade tahun 60-an menjadi asal mula lahirnya warteg.

    Saat itu, Jakarta memang tengah gencar melakukan pembangunan dan banyak sekali membutuhkan tenaga-tenaga kerja dan yang banyak datang untuk bekerja di Jakarta ini di antaranya adalah orang-orang Tegal.

    Baca: Mengenal tradisi mudik yang berasal sejak jaman Majapahit

    Jadi mereka datang dan kemudian dari perjalanan awal sejarah Tegal, awal sejarah warung nasi Tegal ini, istri-istrinya juga ikut.

    Ia mengatakan pada awalnya, para warga Tegal hanya membuka warung-warung kecil agar bisa memenuhi kebutuhan makan para kuli bangunan dan menu yang disajikannya pun sangat sederhana.

    “Para pekerja yang memang melihat Warteg ini adalah tempat makan yang murah meriah tapi porsinya banyak dan pilihan lauk sayur, pilihan sayur lauk pauknya juga sangat beragam.

    Baca: Mengenal tradisi seba masyarakat adat Badui

    Itu, ujarnya, yang membuat kenapa warteg berkembang bukan hanya sebagai makanan para kuli bangunan seperti di awal-awal dekade tahun 1960-an.

    Fadly mengatakan bahwa rahasia di balik keberhasilan warteg dalam bertahan sejak dulu hingga sekarang – meski saingan di bidang kuliner semakin beragam dan kompetitif – berada pada menu ‘rumahan’ warteg yang dapat dinikmati masyarakat kelas manapun.

    “Ini yang membuat kenapa dia enggak bisa tergeser, walaupun industri kuliner sekarang kan memungkinkan siapapun punya preferensi makan apapun, selama kita masih makan nasi dari pagi sampai malam maka warteg itu akan tetap hidup sampai kapanpun.”

    Baca: Negara akui suku Punan Batu sebagai masyarakat adat

    Pemilik warteg Otista, Tarsih Irdayanti mengatakan bahwa saat ia kecil, para warga Tegal yang bermigrasi ke Jakarta untuk membuka usaha warteg terbatas menjadi dua kampung, yakni Desa Sidakaton dan Desa Sidapurna.

    Ia sendiri berasal dari daerah Cabawan, yang letaknya tak jauh dari kedua kampung tersebut.

    “Karena Tegal itu kota bisnis, bahkan saat zaman dulu, Gusdur bilang [Tegal itu] Jepangnya Indonesia. Kenapa? Karena di sana banyak [manufaktur] besi, terus industri lah. Dan banyak juga yang mulai pergi ke Jakarta buat buka usaha,“ ujar Tarsih

    Baca: Lintas Melawai yang pernat hype di 1990an

    Ayah Tarsih pertama kali membuka toko minuman kopi dan rokok di era 70-an di bawah Jembatan Besi, Jakarta Barat. Usaha tersebut kemudian berkembang menjadi warung yang dikelola oleh istrinya.

    “Ibu saya dibantu oleh kakak saya, jadi ITC Roximas itu saya dari masih bedeng sampai jadi tuh saya dagang di sana. Berapa puluh tahun itu kakak saya punya warung disitu, 30 tahunan,“ ujar Tarsih.

    Namun kini, sambungnya, bukan hanya orang Tegal yang menjalani bisnis warteg. 

    Baca: Kurir sepeda Lazada, upaya bisnis yang lebih ramah lingkungan

    Ia mengatakan siapapun yang memiliki modal bisa membuka warteg sendiri atau mengelola cabang warteg atau yang disebut dengan warteg franchise.

    Jadi begitulah perjalanan warteg, dirintis orang Tegal yang kemudian menyebar ke seluruh Indonesia.

    Sumber: BBC Indonesia, baca artikel asli di sini

     

  • Tips Menjalani Slow Living di Kota Besar Macam Jakarta

    Tips Menjalani Slow Living di Kota Besar Macam Jakarta

    7cloud.asia – Mungkinkah menjalani hidup perlahan atau slow living di kota besar yang sibuk macam Jakarta, Medan atau Surabaya? Pertanyaan itu sering dilontarkan oleh banyak orang. 

    Ya, orang berpikir slow living hanya mungkin diterapkan jika kita tinggal di kota kecil atau kawasan pedesaan yang tenang. “Nggak mungkin slow living diterapkan di Jakarta,” demikian kata banyak orang.

    Padahal sejatinya slow living tetap bisa kita jalani meski kita tinggal di kota besar seperti Jakarta. Bagaimana caranya? Mulai hari ini, 7cloud.asia akan secara  membagikan tips untuk memulai slow living di kota besar.

    Baca: Redakan tekanan kota yang sibuk dengan jalani hidup slow living

    Dilansir vanillapapers.net , slow living dapat kita bangun dengan memulai hari dengan tenang. Pagi yang tergesa-gesa dan tidak terencana bisa mengacaukan seluruh hari kamu. 

    Jadi mulai sekarang, mulai hari kamu dengan tenang dan perlahan. Ciptakan rutinitas pagi yang lambat sebagai suatu yang otomatis seperti halnya menyikat gigi.

    Rutinitas pagi yang baik akan menentukan irama hari kamu, membuat kamu berenergi dan lebih siap untuk menghadapi tekanan kehidupan sehari-hari. Seperti itulah slow living akhirnya dijalani.

    Baca: Salah kaprah soal slow living

    Kamu mungkin harus bangun lebih awal untuk membentuk waktu sejenak untuk menulis jurnal, bermeditasi, atau melakukan peregangan yoga.

    Tapi waktu bangun pagi itu akan terbayar sepanjang hari. Ini akan meningkatkan produktivitas dan membuat kamu lebih membumi untuk meluangkan waktu untuk diri sendiri dan orang di sekitar kamu.

    Jadi siapkan kopi dan sarapan sehat dengan tenang. Jika mungkin lakukan sesi meditasi sejenak sebelum memulai hari kamu. 

    Baca: Manfaat menjalani slow living

    Berikut adalah beberapa praktik rutinitas pagi yang tenang untuk mulai menjalani slow living :

    1. Lakukan sesi meditasi terpandu selama 5 menit 

    2. Setel pengatur waktu selama 15 menit dan isi halaman dengan semua hal yang kamu syukuri.

    3. Atau buat daftar semua hal positif yang kamu nantikan hari ini (walaupun itu hanya istirahat makan siang yang menyenangkan).

    4. Lakukan  peregangan di tempat tidur bersama dengan video YouTube untuk mempersiapkan tubuhmu menghadapi hari ini. 

    Baca: Mengapa gaya hidup minimalis lebih ramah lingkungan

    (Sumber: vanillapapers.net)