Tag: jakarta

  • Plastik Sekali Pakai Dilarang Tapi Styrofoam yang Berbahaya Masih Banjiri Teluk Jakarta

    Plastik Sekali Pakai Dilarang Tapi Styrofoam yang Berbahaya Masih Banjiri Teluk Jakarta

    7cloud.asia – Larangan penggunaan plastik sekali pakai di kawasan DKI Jakarta yang diteken akhir Desember 2019 dan berlaku efektif 1 Juli 2020 dinilai tidak akan efektif mengurangi sampah plastik yang mengalir ke Teluk Jakarta.

    Penelitian yang dilakukan ilmuwan Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Muhammad Reza Cordova dan Intan Suci Nurhati, yang dipublikasikan 10 Desember 2019 menemukan sampah plastik terbanyak di perairan Jakarta merupakan styrofoam, jenis plastik yang tak dilarang dalam ketentuan baru tersebut.

    Mayoritas atau 59% dari sampah plastik yang mengalir ke Teluk Jakarta adalah styrofoam berbentuk wadah makanan dan pelindung bagian dalam kardus alat elektronik.

    Reza sebagaimana dikutip BBC Indonesia berkata, kajian itu semestinya menjadi pertimbangan pembentukan Pergub DKI 142/2019 yang diteken Gubernur Anies Baswedan Desember 2022 lalu.

    Sayangnya, larangan itu hanya berlaku untuk kantong belanja berbahan plastik sekali pakai dan belum berlaku untuk styrofoam yang bahayanya tidak kalah dibanding plastik. 

    Kajian yang dilakukan Reza dan Intan dilakukan di sembilan muara suangai di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi, selama Juni 2015 hingga Juni 2016. Mereka mengestimasi, setiap hari sampah plastik di perairan itu mencapai sekitar 8,32 ton.
     
    Hasilnya, adalah gugusan pulau sampah yang sangat mencemari air laut. 

    Atas temuan ini, Reza menuturkan, larangan yang dibentuk Pemprov DKI semestinya mencakup beragam jenis plastik.

    Apalagi, kata dia, sampah plastik yang mengalir di sungai-sungai sekitar Jakarta terdiri dari 19 jenis, dari kantong plastik, styrofoam, sedotan, hingga saset.

     

    “Regulasi ini tidak akan signifikan karena sampah yang kami temukan bukan hanya plastik sekali pakai. Harus ada plastik jenis lain yang dilarang, baru hasilnya bisa signifikan,” tutur Reza.

     

    Reza menambahkan, perlu regulasi yang lebih baik agar sampah plastik jenis selain kantong plastik, bisa dilarang. Sampah styrofoam banyak karena bisa pecah menjadi beberapa keping saat terbawa arus. Sebelum menjadi sampah, harusnya styrofoam dilarang.

     

    Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengakui ragam sampah plastik di sekitar ibu kota.

    Meski begitu, larangan kantong plastik sekali pakai diklaim penting diatur lebih dulu demi mengubah pandangan publik terhadap dampak buruk plastik.

    “Pada tahap pertama ini yang kami larang plastik sekali pakai karena itu diproduksi masif dan mempengaruhi gaya hidup masyarakat,” kata Juru Bicara Dinas Lingkungan Hidup DKI, Yogi Ikhwan.

    “Sekarang belanja sedikit pasti pakai kresek. Kebiasaan itu dulu yang ingin kami ubah,” tuturnya.

    Yogi berkata, larangan penggunaan barang berbahan plastik bakal diatur bertahap. Namun ia menyebut tidak ada tenggat waktu untuk memasukkan jenis plastik lain ke dalam peraturan gubernur.

    “Nanti akan ada regulasi terkait yang lain, tapi kampanye awal tujuannya mengubah gaya hidup. Sasaran paling mudah dan yang penggantinya mudah dicari, ya plastik sekali pakai,” kata Yogi.

     

    Baca: Polusi udara sebabkan kematian dini pada 7 juta orang per tahun

    Pergub DKI 142/2019 mendefinisikan kantong kemasan plastik sekali pakai sebagai kantong transparan yang digunakan untuk membungkus dan menjaga sanitasi bahan pangan yang belum terselubung kemasan apapun.

    Menurut Yogi, kantong plastik yang dilarang adalah yang terbuat atau mengandung bahan dasar plastik, polimer thermoplastic, lateks, atau bahan sejenis lainnya yang merupakan polimer turunan hidrokarbon.

    Sementara mayoritas styrofoam yang mendominasi sampah plastik di perairan Jakarta adalah wadah makanan dengan nama ilmiah expanded polystyrene.

    Meski tidak efektif mengurangi volume sampah, Reza menyebut, larangan kantong plastik sekali pakai sebagai upaya positif mengurangi dampak buruk plastik terhadap lingkungan, terutama perairan Jakarta.

    “Semakin banyak Perda yang mengatur hal itu, semakin banyak sampah perusak lingkungan yang dilarang,” ujarnya.

    Namun ia mengingatkan, setiap wilayah punya karakter sampah plastik yang berbeda. Sehingga kebijakan larangan sampah yang dibutuhkan juga berbeda. Ia mencontohkan wilayah Indonesia timur, paling banyak plastik es batu, jadi itu yang harus dilarang lebih dulu di sana.

    “Jakarta baru melarang kantong plastik, tapi diharapkan akan ada jenis lain lagi yang akan dilarang,” kata Reza.

     

    Sikap pengguna 

    Hingga awal 2020, sejumlah pemerintahan provinsi, kabupaten, dan kota telah melarang penggunaan barang berbahan plastik, tapi baru Surabaya, Semarang, Banjarmasin, dan Bandung yang mengharamkan styrofoam.

    Sebagian besar regulasi tentang plastik di beberapa daerah berfokus pada larangan kantong plastik sekali pakai.

     

    Sementara sejumlah pedagang pengguna styrofoam yang dihubungi 7cloud.asia punya pendapat lain. 

    Rae Muiia mengatakan kadang ia memilih menggunakan styrofoam karena tampilannya yang lebih bagus ketimbang menggunakan mika. Sementara dari soal harga, styrofoam lebih murah ketimbang dus kertas.

     

    Selain bungkus makanan, styrofoam selama ini juga digunakan untuk pengepakan barang elektronik. Styrofoam selama ini digunakan sebagai medium pencegah kerusakan barang elektronik selama proses pengiriman dari pabrik ke tangan konsumen.

    Reza Cordova mengatakan, sejumlah penelitian di Indonesia telah menemukan potensi pengganti styrofoam dari bahan baku yang lebih ramah lingkungan atau biofoam.
     

    Bahan alami pembuat biofoam yang pernah ditemukan dan dikaji LIPI itu antara lain ampas tahu serta gabungan pati dan selulosa.

     

    Esti Utami, Dari berbagai sumber

  • Pembongkaran Trotoar di Simpang Santa Dikritik, Ini Alasan Dishub

    Pembongkaran Trotoar di Simpang Santa Dikritik, Ini Alasan Dishub

     

    7cloud.asia – Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) menyesalkan kebijakan Penjabat pelaksana tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono yang mengubah trotoar di Simpang Santa menjadi jalan raya.

    Direktur Eksekutif KPBB Ahmad Safrudin mengatakan, kebijakan ini tidak sejalan dengan kewajiban Pemprov Jakarta yang seharusnya mengurangi beban emisi dari kendaraan bermotor di Jakarta yang tergolong tinggi.

    Ahmad melalui keterangan tertulis, Minggu (16/4/2023), memaparkan beban emisi dari kendaraan bermotor di Jakarta  mencapai 19.165 ton per hari. Sedangkan beban karbondioksida (CO2) mencapai 318.840 ton/hari.

    Ia mengatakan beban emisi itu bersumber dari sepeda motor sebanyak 45 persen, truk 20 persen, bus 13 persen, mobil diesel enam persen, mobil bensin enam persen dan kendaraan roda tiga 0,23 persen.

    Sedangkan beban gas karbon itu bersumber dari truk 43 persen, bus 32 persen, sepeda motor 18 persen, mobil bensin 4 persen, mobil diesel 3 persen, dan kendaraan roda tiga 0,01 persen.

    Sebelumnya Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Syafrin Liputo mengatakan alasan perbaikan ukuran jalan raya yang berhubungan dengan bentuk fisik jalan (geometrik) di Simpang Jalan Wijaya I – Jalan Wolter Monginsidi – Jalan Suryo (lampu merah Santa) itu adalah untuk mengurai kemacetan dan menambah kenyamanan pengguna jalan tersebut.

    “Penataan tersebut dilakukan agar distribusi kendaraan dapat berjalan lebih baik,” kata Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Syafrin Liputo dalam keterangan tertulis, Minggu seperti dikutip Tempo.co.

    Baca: Dua alasan untuk segera beralih ke mobil listrik

    Syafrin mengatakan, kemacetan di area itu semakin tinggi setelah PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) dicabut dan semakin banyak masyarakat yang beraktivitas di luar rumah.

    Penataan Simpang Santa yang berimbas hilangnya trotoar dan jalur sepeda itu mendapat protes dari sejumlah komunitas.

    Dishub DKI sudah bertemu dengan beberapa komunitas itu, yaitu Koalisi Pejalan Kaki, bike to work, Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), Road Safety Asociation, dan Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) pada Minggu pagi di Simpang Santa.

    Dalam pertemuan tersebut Dishub DKI memberikan penjelasan soal tujuan dilaksanakannya penataan simpang Santa. Syafrin juga berjanji akan dilaksanakan penataan kembali terhadap fasilitas pejalan kaki dan pesepeda yang di kawasan tersebut yang hilang imbas trotoar diaspal untuk jalan kendaraan.

    “Kami akan membuat desain penataan fasilitas pejalan kaki dan pesepeda dengan melibatkan komunitas, sebelum dilaksanakan penyediaan fasilitasnya,” katanya. 

    Baca: Polusi udara sebabkan 7 juta kematian dini per tahun

    KPBB menilai Pemprov DKI Jakarta seharusnya melakukan langkah progresif untuk melindungi warganya dari pencemaran udara yang sangat tidak sehat.

    “Sekaligus berkontribusi untuk pengendalian emisi gas rumah kaca atau GRK guna memitigasi krisis iklim,” ucap Safrudin.

    Pembangunan kota modern berorientasi pada penciptaan suasana kota yang laik huni bagi warganya yang ditandai oleh udara segar, ketersediaan ruang terbuka hijau (RTH), kemudahan akses seluruh wilayah kota tanpa diskriminasi bagi berbagai kelompok terutama kelompok rentan, opsi sarana mobilitas berierientasi pada rendah emisi, efisiensi energi dan ruang.

    Dia mengatakan ketika krisis iklim mengemuka dan masyarakat global gelisah, cara yang ditempuh adalah mengendalikan emisi gas rumah kaca (GRK) dari kegiatan kita sehari-hari, kegiatan industri dan transportasi, serta proses pembangunan.

    “Sehingga GRK yang mencakup karbon dioksida (CO2), nitrogen dioksida (N2O), metana (CH4), dan freon (SF6, HFC dan PFC dapat ditekan,” katanya.

    Ahmad menilai akibat dari emisi karbon akan sangat berdampak buruk bagi kehidupan manusia di bumi, yaitu menjadi salah satu senyawa Green House Gas yang melingkupi lapisan stratosfer, sehingga sebagian radiasi panas matahari yang masuk ke atmosfer tidak dapat di lepas ke angkasa luar (green house gas effect).

    Keadaan ini menyebabkan atmosfer meningkat suhunya (global warming), biang kerok dari krisis iklim yang telah menyebabkan berbagai bencana iklim yang ditandai oleh fenomenda La Nina dan El Nino sehigga sering terjadi bencana banjir, badai, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan, gelombang panas, gagal panen dan meluasnya kawasan endemic penyakit tertentu seperti malaria.

     

     
  • Rumitnya Mengelola Sampah yang Diproduksi Warga Jakarta

    Rumitnya Mengelola Sampah yang Diproduksi Warga Jakarta

    7cloud.asia – Pengelolaan sampah di Jakarta menjadi salah satu yang terburuk di dunia. Mayoritas dari sekitar 7000 hingga 8000 ton sampah yang dihasilkan warga Jakarta setiap hari berakhir di pembuangan akhir.

    Untuk menangani jumlah sampah sebanyak itu, Jakarta masih menggunakan open dumping dan pembakaran sampah sebagai metode utama. Proses daur ulang sampah sudah mulai dilakukan di Jakarta, namun persentasenya masih sangat rendah. 

    Sampah-sampah itu diangkut ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu atau TPST Bantargebang dengan menggunakan 1200 truk.

    Jika dilihat dari jenisnya, sampah yang paling banyak diproduksi warga Jakarta adalah sampah organik dengan persentase 49.7%. Sisanya berupa sampah anorganik atau sampah dengan kategori yang sulit terurai oleh alam, seperti botol platik, tas plastik, kaleng dan lainnya. 

    Tingginya produksi sampah yang dihasilkan oleh warga ibu kota Jakarta ini jika tidak ditangani dengan baik, tentu dapat memicu dampak berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. 

    Dan ini pernah terjadi beberapa tahun lalu saat Pemkot Bekasi menolak menerima sampah dari Jakarta karena berselisih soal besarnya sewa lahan. Sampah yang tak terangkut menimbulkan bau busuk.

    Baca: Mengapa belum ada larangan penggunaan styrofoam?

    Masalah sampah di Jakarta sudah menjadi polemik sejak jaman kolonial. Saat itu, pemerintah Batavia kewalahan menangani masalah sampah yang mencemari sungai. Ini terjadi karena masyarakat masih membuang sampah ke sungai atau membakarnya.

    Itu dilakukan karena tidak ada fasilitas yang memadai untuk mengumpulkan dan mengelola sampah. Saat Gubernur Jenderal Maatsuyker berkuasa ia coba mencari solusi dengan menyediakan bak sampah di bantaran sungai. Sampah yang terkumpul lalu diangkut oleh perahu.

    Di era modern, Pemerintah provinsi DKI Jakarta telah merilis sejumlah kebijakan pengelolaan sampah yang sudah dirintis sejak era Jokowi-Ahok.

    Terakhir dirilis Peraturan Gubernur No. 108 Tahun 2019 tentang Kebijakan dan Strategi Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.

    Untuk menjangkau ranah industri, juga terdapat regulasi yang diatur dalam Pergub DKI Jakarta No. 102 Tahun 2021 tentang Kewajiban Pengelolaan Sampah di Kawasan dan Perusahaan. 

    Contoh penerapan dari kebijakan tersebut adalah dengan larangan penggunaan kantong plastik sekali pakai di minimarket dan supermarket. Selain itu, juga diupayakan untuk mendaur ulang sampah organik dengan maggot.

    Baca: Dampak negatif gaya hidup konsumtif untuk lingkungan

    Mengelola sampah dari rumah

    Pemprov DKI Jakarta, dengan menggandeng sejumlah pihak juga mendorong kebiasaan mengelola sampah dari rumah. Langkah ini diharapkan bisa mengurangi produksi sampah dari sumbernya.

    Warga Jakarta diajak untuk mengurangi konsumsi produk kemasan sekali pakai lewat serangkaian kegiatan edukasi seperti penyuluhan kelompok maupun individu. Salah satu program Greeneration Foundation ini berbagi wawasan tentang pengelolaan sampah bertanggung jawab.

    Sejak 2020, sudah ada sekitar 1700 orang di 13 kelurahan Jabodetabek yang kini lebih tahu cara mengurang dan mengelola sampah secara mandiri.

    Untuk mendukung kebiasaan isi ulang warga, Siklus membantu menyediakan layanan isi ulang kebutuhan rumah tangga. Layanan ini memberikan fasilitas pada warga untuk isi ulang sabun, minyak, sampo, dan kebutuhan lainnya. Solusi ini jauh lebih praktis dan ramah lingkungan karena pengguna cukup memesan kebutuhannya lewat aplikasi.

    Kolaborasi ini memberikan ruang bagi masyarakat untuk belajar sekaligus menerapkan wawasannya dan mewujudkannya jadi kebiasaan baik. Pemprov DKI Jakarta juga menggalakkan bank sampah dan menerapkan teknologi modern dalam mengatasi masalah sampah di Jakarta.

    Saat ini ada 2 cara berbasis teknologi untuk mengatasi masalah sampah, yakni landfill mining dan pengoperasian Refused Derived Fuel (RDF).

    Refused Derived Fuel (RDF)
     

    Proyek pengelolaan sampah Refused Derived Fuel (RDF) dibangun dengan biaya Rp 1,07 triliun dan dijadwalkan beroperasi awal 2023. Per harinya, mesin ini bisa mencacah hingga 1.000 ton sampah dan mengubahnya menjadi bahan bakar ramah lingkungan pengganti batu bara.
     
    Bahan bakar yang dihasilkan kemudian dijual ke industri dengan harga Rp 300 ribu per ton. Hingga akhir 2022, sudah ada 2 perusahaan semen lokal yang menandatangi perjanjian kerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta untuk membeli hasil olahan RDF, yaitu PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dan PT Solusi Bangun Indonesia.

     
     

    Landfill Mining
     
    Sementara metode pengolahan sampah lain di TPST Bantargebang yang juga sedang dikembangkan, yaitu Landfill Mining. Metode ini mampu mengurai sampah-sampah lama yang sudah terdekomposisi untuk diolah menjadi tanah dan kompos.

     
    Jika kinerja dua proyek digabungkan, maka bisa mengolah hingga 2 ribu ton sampah perharinya.
     
    Namun, dua proyek di TPST Bantargebang ini belum bisa menyelesaikan masalah sampah Jakarta, karena sampah yang dihasilkan jauh lebih banyak dari yang bisa diolah, sementara Jakarta sudah tidak punya alternatif tempat pembuangan sampah lain.

     
     
    ITF, Solusi Lain Pengolahan Sampah Jakarta

     
    Ada program lain yang sedang dijajagi oleh Pemprov sejak 2016, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Sampah atau Intermediate Treatment Facility (ITF) yang dapat mengolah sekitar 2.200 ton sampah per hari.

    RDF dan ITF memiliki cara kerja yang hampir sama, yaktu mampu mengolah hingga seribu ton sampah per harinya. Namun, biaya pembangunan ITF jauh lebih besar ketimbang RDF, yaitu Rp 5,2 triliun untuk 1 unit.

    Tingginya biaya yang dibutuhkan membuat program ini tidak berjalan mulus. Dari 4 lokasi pembangunan ITF yang diajukan, hanya ITF Sunter yang akhirnya mendapatkan kucuran dana dari APBD DKI Jakarta tahun anggaran 2023.
     
    Jika hanya bergantung pada 1 unit ITF, RDF, dan landfill mining, Pemprov DKI baru mampu mengolah 3 ribu ton sampah perhari. Capaian ini bahkan belum mampu mereduksi 50 persen sampah harian penduduk Jakarta. Jadi Pemprov DKI Jakarta harus terus memutar otak hingga masalah ini terpecahkan.

     

     

    Esti Utami, dari berbagai sumber

    Rujukan: 

    https://greeneration.org/publication/green-info/masalah-sampah-di-jakarta-akan-tuntas/

    https://kumparan.com/kumparannews/lahan-tpst-bantargebang-menipis-bagaimana-nasib-pengolahan-sampah-di-dki-1zUkuyfufCN/4

     
  • Metamorfosa Jakarta lewat Penataan Transportasi Publik

    Metamorfosa Jakarta lewat Penataan Transportasi Publik

    7cloud.asia – “Dengan menggunakan angkutan umum atau transportasi publik berarti kita telah menjadi pahlawan, baik bagi lingkungan maupun keuangan negara,” demikian Wakil Menteri ESDM era Pemerintahan SBY. Widjajono Partowidagdo pernah berkata.

    Saat menjabat sebagai Wamen, Pak Widja demikian ia disapa, biasa naik transportasi publik TransJakarta untuk berangkat kerja dari kediamannya di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ke kantornya di Jalan Thamrin Jakarta Pusat.

    Apa yang disampaikan dan dicontohkan pak Widja ini memang tidak berlebihan. Dengan menggunakan transportasi publik berarti kita mengurangi konsumsi BBM, yang artinya kita membantu negara terkait subsidi BBM yang harus dikeluarkan.

    Naik transportasi publik juga berarti mengurangi jumlah kendaraan yang lalu lalang di jalanan, sehingga bisa membantu mengurangi kemacetan.

    Menggunakan transportasi publik juga berarti mengurangi jejak karbon atau produksi gas karbondioksida yang kita hasilkan alias mengurangi pencemaran udara. Menurut catatan Komite Penghapusan Bensin Bertimbel, sebanyak 46 persen polusi udara di Jakarta berasal sari sektor transportasi yang pada 2019 didominasi oleh kendaraan pribadi.

    Baca: Stasiun Manggarai diarahkan menjadi stasiun sentral

    Alasan-alasan di atas yang mendorong pemerintah dalam hal ini Kementerian Perhubungan dan sejumlah pemerintah daerah intensif menggalakkan penggunaan transportasi publik di sejumlah kota besar di Indonesia.

    Upaya Kemenhub untuk mengajak masyarakat menggunakan transportasi publik adalah dengan meningkatkan kinerja transportasi massal di Indonesia agar mudah digunakan, diminati, dan nyaman.

    Salah satunya dilakukan di Jakarta yang sedang bergerak mengintegrasikan seluruh sistem transportasi publik di kawasan Jabodetabek baik bus, KRL, MRT dan belakangan LRT.. 

    Stasiun dan halte bus telah terhubungkan dan konsep JakLingko semakin menunjukkan dampak baik dan manfaatnya bagi masyarakat.

    Pada 2030 mendatang, DKI Jakarta menargetkan 75 persen masyarakat menjadi pengguna transportasi publik yang secara signifikan akan menurunkan polusi dan mengurai kemacetan.

    Baca: Direnovasi, kapasitas Stasiun Tanah Abang akan meningkat tiga kali lipat

    Gerakan besar ini secara bertahap diharapkan akan mengubah pola mobilitas masyarakat dari ketergantungan pada kendaraan pribadi menjadi pengguna transportasi publik.

    “Kehadiran MRT Jakarta merupakan sebuah langkah maju atau titik berangkat yang baik dalam gerakan perubahan iklim mengurangi emisi dalam konteks pengembangan kota. Meskipun demikian, kalau bicara transportasi publik, itu merupakan sebuah ekosistem,” ungkap Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda) William Sabandar beberapa waktu lalu seperti dikutip di laman resmi MRT

    William menambahkan, banyak kota besar yang secara signifikan menurunkan tingkat kemacetan meskipun memiliki kepadatan populasi tinggi dengan penggunaan transportasi publik yang maksimal dan tata ruang yang terintegrasi.

    “Sehingga kotanya menjadi nyaman. Jakarta sedang bergerak ke arah sana,” imbuhnya. 

    Baca: Alasan beralih ke mobil listrik

    Secara korporasi, PT MRT Jakarta (Perseroda) telah melancarkan kampanye dan komitmen korporasi terkait sustainability.

    “Dalam setiap kehidupan korporasi kita ingin memasikan bahwa sustainability menjadi bagian dari proses bisnis korporasi. Misalnya pengelolaan sampah di PT MRT Jakarta (Perseroda) sudah bergerak dari 3R, sekarang menuju 7R,” jelas William.

    Selain itu, tambah William, PT MRT Jakarta (Perseroda) juga meluncurkan gerakan bekerja sama dengan 10 perusahaan rintisan yang dua di antaranya bergerak di bidang lingkungan, yaitu jejak.in dan rekosistem.

    Selain itu, pembangunan kawasan di setiap stasiun MRT Jakarta dengan mengintegrasikan seluruh moda transportasi publik dan pejalan kaki serta pesepeda akan mendorong semakin banyak mobilitas masyarakat menggunakan transportasi publik.

    Sehingga ke depan, penggunaan transportasi publik secara masif akan secara signifikan menurunkan tingkat kemacetan sekaligus mengurangi emisi gas buang dari penggunaan transportasi pribadi yang berlebihan.

     

     

     

     

     

     

  • Catat! Tarif Parkir di Kawasan Ini Mencapai Rp 60.000 Per Jam

    Catat! Tarif Parkir di Kawasan Ini Mencapai Rp 60.000 Per Jam

    7cloud.asia – Meski sudah dilakukan kajian dan survei sejak pertengahan 2021 lalu, penerapan tarif parkir Rp 60.000 per jam belum sepenuhnya diterapkan.

    Sampai tahun 2023 ini, tarif parkir yang baru tersebut baru dilakukan di tiga ruas jalan di Jakarta.

    Saat ini, Dishub DKI Jakarta masih mempertimbangkan menambah lokasi lain untuk uji coba penerapan tarif parkir sebesar Rp 60.000 per jam

    Dalam memilih lokasi tambahan untuk uji coba tarif parkir Rp 60.000 per jam ini, prinsipnya tetap untuk ruas jalan yang sudah bersinggungan dengan anggutan umum massal.

    Menurut kasubag Tata Usaha Unit Pengelolaan Perparkiran Dishub DKI Jakarta, Dhani Grahutama, dengan tarif parkir baru ini masyarakat diharapkan akan mengurangi penggunakan mobil pribadi dan sepeda motor.

    Baca: Metamorfosa Jakarta lewat penataan transportasi publik

    Beberapa alternatif yang sedang dikaji untuk penerapan tarif parkir baru ini antara lain Plaza Interkon, Park and Ride Kalideres, Pasar Mayestik, ruas Jalan Mangga Besar, ruas Jalan Denpasar Raya, ruas Jalan Boulevard Raya. 

    Dhani mengatakan, penerapan tarif parkir Rp 60.000 per jam mengacu pada revisi Peraturan Gubernur Nomor 31 Tahun 2017.
     
    Dinas Perhubungan DKI Jakarta berencana untuk terus melakukan penyesuaian dan perubahan tarif parkir.
     
    Tarif parkir tertinggi dikenakan untuk mobil sebesar Rp60.000 sedangkan untuk sepeda motor sebesar Rp18.000.

    Selain itu, lokasi penyesuaian tarif parkir, akan diklasifikasikan berdasarkan 2 golongan yaitu A dan B. Penggolongan ini untuk menentukan tarif parkir di Koridor Kawasan Pengendali Parkir (KPP).

    Baca: Stasiuan Manggarai diarahkan jadi stasiun sentral, seperti ini rencana besarnya

    Golongan A untuk mobil diusulkan Rp 5.000 – Rp 60.000/jam dan Golongan B Rp 5.000 – Rp 40.000/jam. Kemudian untuk motor di KPP golongan A diusulkan Rp 2.000 – Rp 18.000/jam dan Golongan B Rp 2.000 – Rp 12.000/jam untuk on street pada lahan milik pemda.

    Untuk ruas jalan yang sudah diuji coba tarif parkir tinggi antara lain di apangan parkir Ikatan Restoran dan Taman Indonesia (IRTI) Monas, pelataran parkir Blok M Square, dan pelataran parkir Samsat Barat. 

    Dhani menjelaskan tarif parkir tertinggi diberlakukan untuk kawasan yang bersinggungan dengan angkutan umum massal hingga radius 500 meter.

    Lokasi tersebut seperti di kawasan Jl Gajah Mada, Jl Hayam Wuruk, Jl KH Hasyim Ashari, dan Jl Ir Juanda.

    “Itu merupakan ruas jalan yang sudah ada angkutan umum massal, yaitu TransJakarta. Jl Gajah Mada ini sisi kiri-kanan banyak beberapa gedung perkantoran atau perhotelan, ini yang akan kita kenakan tarif parkir tinggi dalam usulan revisi pergub kali ini,” ujar Dhani pada Maret 2021 silam
     
    Baca: Kapasitas Stasiun Tanah Abang akan ditingkatkan

    “Bila ada di sebelah barat atau di sebelah timur ada jalan kolektor, itu merupakan ruas jalan yang akan kita kenakan tarif parkir yang lebih rendah atau nonkoridor utama angkutan umum massal,” imbuhnya.

    Adapun tarif parkir di koridor Kawasan Pengendali Parkir (KPP) Golongan A untuk mobil diusulkan Rp 5.000 – Rp 60.000/jam dan Golongan B Rp 5.000 – Rp 40.000/jam.

     
    Kemudian untuk motor di KPP golongan A diusulkan Rp 2.000 – Rp 18.000/jam dan Golongan B Rp 2.000 – Rp 12.000/jam untuk on street pada lahan milik pemda.

    Tarif parkir tertinggi juga akan dikenakan jika masyarakat ketahuan belum membayar pajak kendaraan bermotor dan kendaraan tersebut tidak lulus emisi.

    “Kendaraan yang tidak lulus emisi kita kenakan tarif parkir tertinggi, jadi misalnya tertingginya Rp 25.000, maka bagi yang belum lulus uji emisi dikenakan tarif parkir tertinggi,” tandasnya.

     
    Baca: Penjelasan Dishub terkait pembongkaran trotar di Simpang Santa

    Berikut lokasi yang telah dan akan diterapkan tarif parkir Rp 60.000 per jam untuk kendaraan roda 4 atau mobil: 

    1. Taman Monas
    2. Parkiran Blok M Square
    3. Parkir Samsat Barat
    4. Plaza Interkon
    5. Park and Ride Kalideres
    6. Pasar Mayestik
    7. Ruas Jalan Mangga Besar
    8. Ruas Jalan Boulevard Raya
    9. Ruas Jalan Denpasar Raya
    10. Jalan Gajah Mada
    11. Jalan Hayam Wuruk
    12. Jalan KH Hasyim Ashari
    13. Jalan Ir. Juanda
    Tarif parkir hingga Rp 60.000 per jam juga akan diterapkan di tempat-tempat yang ada gedung perkantoran dan ada jalur TransJakarta

  • Sejarah Jakarta, Berawal dari Sunda Kelapa-Jayakarta-Batavia Lantas Jadi Jakarta

    Sejarah Jakarta, Berawal dari Sunda Kelapa-Jayakarta-Batavia Lantas Jadi Jakarta

    7cloud.asia – Pada Kamis, 22 Juni 2023 mendatang, Kota Jakarta akan memperingati hari jadinya yang ke-496 tahun.

    Peringatan hari jadi Kota Jakarta kali ini mengangkat tema “Jadi Karya untuk Nusantara”, sebagai amplifikasi slogan Sukses Jakarta untuk Indonesia.

    Tema ini mempunyai makna kesiapan Jakarta untuk mengoptimalisasi seluruh sumber daya untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat, serta pemantik kemajuan bagi daerah lain di Indonesia. 

    Ya, sebagai ibukota, Jakarta hingga menjelang 500 tahun usianya saat ini memang menjadi barometer kemajuan Indonesia.

    Baca: Metamorfosa Jakarta dengan penataan transportasi publik

    Penetapan tanggal 22 Juni sebagai hari jadi Kota Jakarta dilakukan Sejak 1956. Namun, sebelum ditetapkan sebagai ibu kota dan berkembang menjadi kota terbesar Indonesia, wilayah yang saat ini dinamakan Jakarta mempunyai riwayat yang sangat panjang.

    Riwayat Jakarta sebagai tempat hunian manusia dimulai ketika digunakan sebagai pemukiman sederhana sudah dimulai sejak awal tahun Masehi. 

    Hal ini dapat diketahui dari situs-situs kepurbakalaan prasejarah yang ada di Jakarta. Kemudian pada masa kekuasaan Kerajaan Tarumanegara, atau sekitar abad ke-4 Masehi, wilayah ini dikenal bernama Sunda Kelapa.

    Lokasinya yang strategis menjadikan Sunda Kelapa terus bertumbuh menjadi kota pusat perdagangan hingga akhirnya menjadi Jakarta sebagai ibukota dan pusat perdagangan seperti saat ini. 

    Baca: Empat kota di dunia yang sangat mengutamakan pejalan kaki

    Selama hampir 17 abad perjalanannya, Sunda Kelapa sempat beberapa kali mengalami perubahan nama. Berikut perjalanan panjang Kota Jakarta dari abad 4 hingga abad 21.

    Antara tahun 397-1527, wilayah yang saat ini disebut Jakarta masih bernama Sunda Kelapa dan berada di bawah kekuasaan kerajaan Hindu.

    Pada periode Kerajaan Tarumanegara, Jakarta yang masih menggunakan nama Sunda Kelapa tumbuh menjadi sebuah kota pusat perdagangan.

    Menurut kesaksian para musafir Portugis, Sunda Kelapa dipimpin oleh pejabat-pejabat tinggi seperti Tumenggung Sang Adipati dan syahbandar.

    Kelimpahan hasil perdagangan itulah yang memikat bangsa Portugis di Malaka untuk membangun benteng di Sunda Kelapa.

    Baca: Makna sumbu filosofi dalam tata kota Yogyakarta

    Namun, sebelum rencana itu berjalan, Pangeran Fatahillah lebih dulu merebut Sunda Kelapa pada 1527 dan mengubah namanya menjadi Jayakarta. 

    Pergantian nama tersebut diperkirakan terjadi pada 22 Juni, yang kemudian diperingati setiap tahunnya sebagai hari jadi Kota Jakarta.

    Di bawah Pangeran Fatahillah, perdagangan di Jayakarta pun semakin ramai hingga timbul persaingan di antara pedagang-pedagang Eropa, khususnya Portugis, Belanda, dan Inggris.

    Orang-orang Eropa tersebut saling berlomba untuk memperoleh konsesi dari penguasa setempat untuk mendirikan kantor dagang.

    Baca: Mengenal Kota Kupang yang pernah jadi rebutan Belanda dan Portugis

    Jayakarta mengalami perubahan nama menjadi Batavia saat VOC memindahkan kantor serikat dagang VOC dari Banten ke Jayakarta pada 1619. Batavia dijadikan sebagai pusat kekuasaan Belanda di Indonesia.

    Batavia pun direncanakan dibangun menyerupai kota-kota di Belanda yang berbentuk blok dan masing-masing dipisahkan oleh kanal.

    Seiring berjalannya waktu, Kota Batavia diperluas dan fasilitas perkotaannya senantiasa ditambah. Pembentukan Kota Batavia seringkali menyangkut kebutuhan untuk mendatangkan orang-orang dari berbagai bangsa untuk bekerja di sana.

    Upaya inilah yang dari awalnya telah menjadikan Batavia, yang kemudian berkembang menjadi Jakarta, sebagai suatu kancah percampuran bangsa.

    Baca: Tiga kota di Indonesia masuk kategori ramah lingkungan

    Dalam sejarahnya, nama Batavia mempunyai masa hidup yang sangat lama, yakni selama lebih dari tiga abad yaitu dari 1619 hingga 1942.

    Saat Jepang menduduki Indonesia pada 1942-1945, nama Batavia diganti menjadi Djakarta atau Djakarta Tokubetsu Shi.

    Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, nama Jakarta tetap dipakai dengan menghapus nama Jepangnya, Tokubetsu Shi yang berarti jauhkan perbedaan.

     

    Pada 1959, status Kota Jakarta mengalami perubahan dari kotapraja menjadi daerah tingkat satu yang dipimpin oleh gubernur. Kemudian pada 1961, statusnya diubah menjadi Daerah Khusus Ibukota (DKI) yang bertahan hingga saat ini.

  • Kabar Gembira untuk Pengguna Sepeda, Kini Jakarta Sudah Miliki Peta Bersepeda

    Kabar Gembira untuk Pengguna Sepeda, Kini Jakarta Sudah Miliki Peta Bersepeda

    7cloud.asia – Bertepatan dengan peringatan Hari Sepeda Dunia yang jatuh pada 3 Juni 2023 lalu, Koalisi Cerdas Bermobilitas meluncurkan Peta Bersepeda. 

    Peta Bersepeda adalah sebuah platform bersama yang memungkinkan setiap orang mengetahui spot parkir untuk sepeda, bengkel sepeda, hingga jalur sepeda di Jakarta.

    Fadli sebagai founder dari Peta Bersepeda mengatakan bahwa keengganan orang Indonesia untuk berjalan kaki maupun bersepeda tak lepas dari perencanaan kota yang tidak ramah untuk pejalan kaki maupun bersepeda.

    Baca: Tak hanya ramah lingkungan, bersepeda juga jadi sarana warga mengenali kota

    Seperti diketahui hasil penelitian di Stanford University mengungkapkan bahwa orang Indonesia tergolong paling malas jalan kaki. Studi yang dirilis pada Agustus 2022 menyebut bahwa rata-rata volume jalan kaki yang dilakukan orang Indonesia hanya 3.513 langkah per hari.

    Sedangkan penggunaan sepeda masih terbatas untuk sarana transportasi di lingkungan yang lebih sempit ataupun sekadar berolah raga.

    “Tidak bisa dipungkiri bahwa orang Indonesia tercatat sebagai orang paling malas berjalan kaki sedunia. Hal ini tidak terlepas dari pembangunan kota yang pro-kendaraan bermotor pribadi,” ujarnya dalam pernyataan resmi yang dirilis Koalisi Cerdas Bermobilitas

    Baca: Empat kota di dunia yang sangat memprioritaskan pejalan kaki

    Fadli menilai orang Indonesia telah terjangkit “candu bermotor” alias tidak bisa lepas dari ketergantungan kendaraan bermotor.

    Sehingga momen Hari Sepeda Dunia layak dijadikan momen sebagai perlawanan terhadap efek candu tersebut.

    “Sebagaimana visi dari Peta Bersepeda yang menyajikan wadah informasi fasilitas pendukung bersepeda di wilayah perkotaan, termasuk tempat parkir dan jalur sepeda,” imbuh Fadli

    Baca: Jalan kaki bagus untuk kesehatan fisik dan mentalmu

    Fadli berharap, dengan hadirnya platform Peta Bersepeda yang bersifat crowdsourcing ini dapat menjadi rapor para pemangku kepentingan dalam menyediakan sarana dan prasarana mobilitas aktif.

    Di sisi lain, Peta Bersepeda ini juga diharapkan dapat membantu pengguna sepeda di Jakarta dalam bermobilitas.”

    Kampanye kreatif dengan pesan utama #SepedaUntukSemua dan #CerdasBermobilitas ini menegaskan kembali bahwa taman dan trotoar sebagai ruang publik di kota seharusnya diperuntukkan untuk aktivitas masyarakat seperti bersepeda dan berjalan kaki. 

    Baca: Metamorfosa Jakarta lewat penataan transportasi publik

    Koalisi Cerdas Bermobilitas antara lain beranggotakan Bike to Work, Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia, Parkir Sepeda Jakarta, Koalisi Pejalan Kaki, Peta Bersepeda, bersama dan komunitas sepeda lainya.

    Dalam aksi kolaboratif yang digelar bertepatan dengan Hari Sepeda Dunia ini membawa pesan bahwa bersepeda merupakan salah satu moda mobilitas yang bebas macet, bebas polusi, dan ramah lingkungan.

    Kegiatan ini bertujuan untuk menekankan kembali bahwa ruang publik di kota seharusnya untuk masyarakat berkegiatan bukan sebagai lahan parkir kendaraan. 

    Baca: Tarif parkir mahal agar warga beralih ke transportasi publik

    Selama ini banyak taman dan trotoar yang digunakan menjadi tempat parkiran kendaraan bermotor pribadi. Jalur sepeda juga sering diserobot menjadi jalur sepeda motor pun kendaraan roda empat.

    Sumber: Greenpeace, baca artikel asli di sini

     

     

  • Komunitas Sepeda: Bersepeda Jadi Cara Warga Menikmati Kotanya

    Komunitas Sepeda: Bersepeda Jadi Cara Warga Menikmati Kotanya

    7cloud.asia – Memperingati Hari Sepeda Sedunia, Greenpeace Indonesia bersama dengan B2W Indonesia, ITDP Indonesia, Parkir Sepeda Jakarta, Koalisi Pejalan Kaki, Peta Bersepeda, bersama dengan komunitas sepeda lainya, melakukan tur sepeda dari kawasan Monumen Nasional hingga Taman Ayodya di kawasan Blok M, Jakarta Selatan.

    Aksi kolaborasi kreatif komunitas sepeda di Jakarta ini membawa pesan bahwa sepeda merupakan salah satu moda mobilitas yang bebas macet, bebas polusi, dan ramah lingkungan.

    Kegiatan ini bertujuan untuk menekankan kembali bahwa ruang publik di kota seharusnya untuk masyarakat berkegiatan bukan sebagai lahan parkir kendaraan pribadi. Sepeda merupakan salah satu moda transportasi tertua di dunia, yang masih digunakan hingga saat ini.

    Sayangnya, semakin berkembangnya kota-kota di dunia termasuk Jakarta, justru semakin meminggirkan sepeda sebagai salah satu moda transportasi, dan lebih berorientasi pada kendaraan bermotor pribadi. 

    Baca: Alasan Dishub DKI Jakarta bongkar trotoar Santa

    Padahal sepeda bisa dijadikan alternatif untuk mengatasi masalah kemacetan dan polusi udara di Jakarta.

    Dilansir dari TomTom Traffic Index, Jakarta menempati urutan ke 29 di dunia untuk angka kemacetan, setelah sebelumnya di 2020 berada di urutan 46. Berdasarkan data dari Polda Metro Jaya, ada sekitar 22 juta unit kendaraan di Jakarta setiap harinya. 

    Kemacetan Jakarta merupakan sumber utama polusi udara dari sumber bergerak. Menurut Dinas Lingkungan Hidup Jakarta, sektor transportasi masih menjadi penyebab utama buruknya kualitas udara Jakarta.

    Laporan IQ Air pada Maret lalu mengungkap bahwa Jakarta menduduki peringkat pertama kota paling berpolusi di kawasan Asia Tenggara. Bahkan, dalam seminggu terakhir kualitas udara Jakarta masuk kategori Tidak Sehat.

    Baca: 4 kota dunia yang prioritaskan pejalan kaki

    Polusi udara memiliki dampak serius pada kesehatan masyarakat. Risiko kesehatan yang ditimbulkan dari polusi udara antara lain penyakit pernapasan, seperti paru obstruktif kronis, ISPA, gagal jantung hingga kelahiran bayi prematur.

    Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof. Dr. Budi Haryanto, melihat adanya korelasi antara penyakit yang terkait dengan polusi udara menyebabkan peningkatan klaim BPJS Kesehatan.

    Berdasarkan hasil studinya, sejak konsentrasi polutan di DKI Jakarta naik pada 2011, penyakit pernapasan seperti asma, pneumonia, dan ISPA (infeksi saluran pernapasan atas) semakin bertambah. 

    “Aksi #SepedaUntukSemua ini sekali lagi ingin menguatkan bahwa bersepeda merupakan cara yang paling efisien dalam upaya menurunkan emisi di perkotaan dan bentuk kontribusi warga mengurai masalah polusi udara dan kemacetan yang kian buruk.” ujar Charlie Albajili, Pengkampanye Keadilan Perkotaan Greenpeace Indonesia. 

    Baca: Metamorfosa Jakarta lewat penataan transportasi publik

    Aksi ini, lanjut Charlie, juga jadi pesan pada pemerintah, di tengah ancaman krisis iklim yang semakin nyata. pemerintah harus menjadi yang terdepan untuk memfasilitasi warganya untuk bersepeda dengan mudah, bukan malah membatasi hak pesepeda.

    Dalam skala lingkungan, sepeda menjadi pilihan mobilitas bagi kelompok rentan, termasuk perempuan dan anak. Di 27 kampung kota di 4 wilayah administratif kota di Jakarta pada 2018-2020 didapati bahwa sepeda menjadi pilihan utama bermobilitas setelah angkutan umum dan berjalan kaki.

    Dengan 65.7% pesepeda di kampung adalah anak-anak dan 94.8% penggunaan sepeda  untuk bersekolah dan bermain (ITDP, 2018-2020). Sementara di pusat kota, jalur sepeda yang terbangun, konsisten digunakan oleh pesepeda mobilitas.

    Sejak tahun 2019 hingga 2022, ITDP Indonesia telah melakukan survei penghitungan pengguna jalur sepeda secara berkala pada periode uji coba jalur sepeda sepanjang 63 kilometer.

    Baca: Cerita tuli, kisah para difabel tuli di Kota Solo

    Dengan lalu lintas yang berangsur-angsur kembali normal pun, jumlah pesepeda yang teramati sepanjang Juni 2022 pada mayoritas titik pengamatan juga mengalami peningkatan.

    Meski begitu, jalur sepeda di Jakarta, masih menyisakan PR besar, yaitu penegakan hukum bagi yang melanggar penggunaan jalur sepeda. 

    Gonggomtua Sitanggang, Direktur Interim ITDP Indonesia mengatakan: “Pada gelaran World Bicycle Day tahun ini, ITDP Indonesia berharap  pemerintah kota terus berupaya untuk membuat bersepeda menjadi kegiatan bermobilitas yang aman dan nyaman di kota.

    Hal tersebut dilakukan baik di skala lingkungan maupun pusat kota dengan membangun infrastruktur dan layanan bersepeda, serta kebijakan pengurangan kecepatan kendaraan bermotor yang dibarengi dengan pembatasan penggunaan kendaraan bermotor serta penegakan hukum.

    Baca: Stasiun Manggarai diarahkan jaid stasiun sentral, seperti ini masterplannya

    Peningkatan penggunaan sepeda juga dapat dilakukan dengan mengintegrasikan sistem antara jalur sepeda dengan transportasi publik sebagai first and last mile melalui sistem bikeshare.” 

    “Jika infrastruktur bersepeda, seperti jalur dan juga parkir diperbanyak oleh pemerintah setempat, maka para pesepeda akan semakin nyaman dan bergembira ketika bersepeda, ucap Fahmi Saimima, Ketua Umum B2W Indonesia.

    “Semakin banyak orang yang senang bersepeda akan meningkatkan kualitas udara kota, dan kualitas hidup karena terbebas dari macet,” tegasnya.

    Di kesempatan yang sama, koalisi meluncurkan Peta Bersepeda, sebuah platform bersama yang memungkinkan setiap orang mengetahui spot parkir untuk sepeda, bengkel sepeda, hingga jalur sepeda di Jakarta.

    Sumber : Greenpeace, baca artikel asli di sini

  • Ilmuwan Gandeng Warga untuk Memetakan Sebaran Kupu-kupu di Jakarta

    Ilmuwan Gandeng Warga untuk Memetakan Sebaran Kupu-kupu di Jakarta

    Siswa SD sedang mengamati kupu kupu dan hasil pengamatannya. Foto: The Conversation

    7cloud.asia – Keberadaan kupu-kupu yang beragam dapat menunjukkan kesehatan ekosistem perkotaan. Sebab, kupu-kupu rentan terhadap perubahan lingkungan, polusi udara, dan hilangnya habitat.

    Untuk memetakan keberadaan kupu-kupu di Jakarta, tim peneliti Research Center for Climate Change-Universitas Indonesia (RCCC-UI) serta komunitas pegiat konservasi Tambora Muda Indonesia melakukan kegiatan bersama. 

    Berikut catatannya sebagaimana dituliskan Nurul Laksmi Winarni, Research Scientist, Universitas Indonesia yang telah diterbitkan di The Conversation dengan tajuk “Masyarakat dan Ilmuwan Sukses Memetakan Sebaran Kupu-kupi di Jabotabek”  

     

    Keberadaan kupu-kupu sangat erat dengan kebutuhannya yaitu tanaman berbunga. Kupu-kupu membutuhkan tumbuhan untuk meletakkan telurnya, membesarkan larva, dan melekatkan kepompongnya. Kupu-kupu juga membutuhkan tanaman berbunga untuk sumber nektar makanannya saat dewasa.

    Baca: Agar pendidikan turut jadi solusi bagi lingkungan

    Selain sebagai polinator (serangga penyerbuk) dan bagian dari rantai makanan, kehadiran populasi kupu-kupu yang beragam dapat menunjukkan kesehatan ekosistem perkotaan.

    Sebab, kupu-kupu rentan terhadap perubahan lingkungan, polusi udara, dan hilangnya habitat.

    Studi terakhir yang saya buat bersama tim di Jurnal Biodiversitas berhasil mencatat 50 jenis kupu-kupu penghuni habitat-habitat yang tersisa (ruang hijau) di Jabodetabek.

    Komposisi ragam jenisnya berbeda antarkota. Depok dan Bogor tercatat mempunyai keragaman kupu-kupu terbanyak, sementara Jakarta tercatat paling sedikit.

    Selain pemetaan populasi kupu-kupu, studi ini juga merupakan wujud kesuksesan kolaborasi warga bersama ilmuwan melalui platform KupuKita.

    Kolaborasi seperti ini penting dalam memberikan sumbangsih berharga terhadap kemajuan ilmu pengetahuan.

    Baca: Mengenal mitos kehidupan bernama Pohon Hayat

    KupuKita dan sains warga

    Kupu-kupu adalah salah satu satwa yang hadir di perkotaan. Mereka dapat ditemui di taman-taman, tepi jalan, hingga pekarangan rumah. Bahkan, kadang mereka dapat terbang melintasi jalan yang ramai.

    Sayangnya, kehadiran kupu-kupu di Indonesia jarang tercatat. Sejauh ini, kebanyakan platform pengamatan kupu-kupu cenderung berbahasa Inggris atau terbatas dilakukan oleh ahli maupun pengamat kupu-kupu yang telah andal.

    Inilah mengapa platform KupuKita hadir. KupuKita adalah platform pemantauan kupu-kupu berbasis warga yang digagas oleh tim peneliti Research Center for Climate Change-Universitas Indonesia (RCCC-UI) serta komunitas pegiat konservasi Tambora Muda Indonesia.

    Lembaga penelitian biologi Southeast Asian Regional Centre for Tropical Biology (SEAMEO-BIOTROP) juga turut mendukung inisiatif kami.

    KupuKita dibangun pada masa pandemi (tahun 2021) yang saat itu membuat galau para peneliti akibat pembatasan sosial.

    Baca: 21 Film tantang lingkungan yang wajib ditonton

    Kegalauan inilah yang menjadi dasar dibangunnya platform pemantauan yang dapat dilakukan semua orang dan dapat menjangkau lokasi-lokasi yang tidak tersentuh ilmuwan (seperti halaman rumah pribadi) dengan hanya berbekal smartphone.

    Platform KupuKita dapat diakses melalui situs Kupukita.org. Platform ini berbentuk kuesioner daring yang dilengkapi foto sebagai panduan.

    KupuKita tidak perlu diunduh secara khusus. Kuesionernya dapat diunggah saat jaringan tersedia. Situs webnya turut memuat panduan mengamati kupu-kupu, daftar jenis kupu-kupu, daftar pengamat hingga peta sebaran kupu-kupu yang diperbarui secara berkala.

    Adapun daftar jenis kupu-kupu berdasarkan urutan temuan terbanyak, daftar pengamat, dan peta sebarannya terhubung langsung dengan data yang diunggah pengamat. Jadi kalau kamu ikut mengunggah hasil pengamatan kupu-kupu, namamu akan muncul di daftar pengamat!

    Menurut peneliti biodiversitas Erik J. van Nieukerken, kupu-kupu yang merupakan ordo Lepidoptera, superfamili Papilionoidea, seharusnya terdiri dari 7 famili. Namun, untuk kemudahan pengamatan dan identifikasi, platform ini hanya berfokus mengamati 3 famili saja: Papilionidae, Nymphalidae, dan Pieridae yang masih mudah dilihat dengan mata telanjang.

    Baca: Riset menunjukkan emeisi karbon sedang tinggi-tingginya

    Ada juga empat pilihan lokasi pengamatan yaitu ruang terbuka hijau (RTH), taman di luar RTH (seperti taman kelurahan, taman di areal mal atau perkantoran, dan kuburan), pekarangan rumah, serta tepi jalan.

    Untuk membangun kerja sama ilmuwan-masyarakat, KupuKita mengadakan serangkaian pelatihan secara daring. Pelatihan dimulai dari training of trainers untuk mencari kandidat pemimpin nodus (wilayah) yang mewakili nodus Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

    Selanjutnya adalah pelatihan-pelatihan bagi murid sekolah SD-SMP, mahasiswa, hingga masyarakat umum.

    Pemimpin nodus selanjutnya bertanggung jawab dalam pengumpulan data sekaligus menjadi pelatih. Pelatihan selalu diikuti dengan praktik pribadi yang hasilnya dikomunikasikan melalui grup Whatsapp untuk memastikan identifikasi jenis kupu-kupu yang tepat.

    Untuk itu, para peserta sangat dianjurkan mengabadikan kupu-kupu yang diamati melalui foto atau atau video. Bahkan peserta dapat langsung menggunakan kamera ponselnya!

    Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan indeks keanekaragaman sederhana untuk membandingkan keanekaragaman kupu-kupu di Jabodetabek. Telaah juga menggunakan analisis kluster untuk memastikan pengelompokan kupu-kupu di lima kota ini berdasarkan kemiripannya.

    Baca: Bumi butuh aksi nyatamu, ayo segera bergabung dengan gerakan iklim

    Bagaimana kupu-kupu di Jabodetabek?

    Berdasarkan hasil pengamatan KupuKita, Jabodetabek (terutama Depok dan Bogor) ternyata menjadi habitat bagi setidaknya 50 jenis kupu-kupu.

    Separuhnya merupakan jenis adaptor perkotaan (urban adapter)–jenis yang mampu beradaptasi dengan kondisi perkotaan. Kawasan perkotaan menggambarkan ekosistem campuran yang terdiri dari elemen buatan dan sebagian elemen alami.

    Ada empat jenis adaptor yang paling umum di Jabodetabek, yaitu Appias olfernaLeptosia ninaEurema sp., dan Hypolimnas bolina. Mereka acap ditemukan di pekarangan rumah dan ruang terbuka hijau.

    Jenis kupu-kupu Leptosia nina_ dan Eurema sp. adalah yang terkecil dan banyak ditemukan di rerumputan dan tanaman herba. Jenis A. olferna dan H. bolina banyak ditemukan di tanaman setinggi semak.

    Sementara itu, Hypolimnas bolina kerap mengunjungi bunga kenikir (Cosmos caudatus) atau melati Jepang (Pseuderanthemum Reticulatum) yang kerap tumbuh di taman-taman dan halaman rumah.

    Kupu-kupu Hypolimnas bolina di bunga kenikir.

    Baca: Indonesia merupakan salah satu negara dengan hutan terluas di dunia

    Di antara 5 kota di Jabodetabek, Depok dan Bogor memiliki keanekaragaman dan kekayaan jenis kupu-kupu tertinggi yaitu 49 dan 48 jenis. Hanya di Bogor, RTH tercatat sebagai penyumbang keanekaragaman jenis tertinggi.

    Sementara itu, tepi jalan cenderung menjadi penyumbang jenis kupu-kupu paling sedikit hampir di semua kota. Ini bisa terjadi akibat kurangnya tanaman inang dan tanaman penghasil nektar, termasuk rerumputan.

    Penyumbang jenis kupu-kupu terbanyak pertama atau kedua di kelima kota ini ternyata adalah pekarangan rumah. Variasi tanaman pada pekarangan rumah tampaknya menjadi daya tarik bagi kupu-kupu.

    Ini juga menunjukkan bahwa pekarangan rumah sangat mendukung penambahan ruang terbuka hijau secara mandiri di perkotaan.

    Gambaran ekosistem perkotaan sesungguhnya dapat dipantau langsung oleh warganya, salah satunya melalui pengamatan kupu-kupu.

    Di sinilah inti dari sains warga. Warga tidak sekedar menjadi penyumbang data, tapi turut serta belajar dan memahami apa yang diamati.

    Semakin banyak data, semakin dalam pula pemahaman kita tentang pemakaian habitat perkotaan oleh kupu-kupu. Tentunya hal tersebut tidak harus berakhir di pemahaman saja. Yuk penuhi pekaranganmu dengan tanaman dan bantu lestarikan kupu-kupu!

  • Tawuran Remaja di Meruya Kian Meresahkan, DPR Minta Polisi Bertindak Tegas

    7cloud.asia – Tawuran yang terjadi di kawasan Meruya Selatan, Kembangan Jakarta Barat  dalam beberapa waktu belakangan sudah sangat meresahkan.
     
    Hal ini karena para pelaku tawuran yang melibatkan puluhan remaja asal Jakarta Barat dan Jakarta Selatan itu menggunakan berbagai jenis senjata tajam (sajam).

     

    Menanggapi hal ini, Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni mendorong aparat penegak hukum menindak tegas pelaku tawuran di wilayah Ibu Kota Jakarta dengan memberikan sanksi yang harus menimbulkan efek jera.
     
    “Jadi polisi di lapangan harus tegas. Proses semua pelaku yang terlibat. Harus ada efek jera yang membuat para pelaku onar itu tidak akan mengulang tindakannya lagi,” kata Sahroni melalui keterangan tertulis yang dikutip Parlementaria, Senin (10/7/2023).
     
     
    Menurut Legislator Dapil Jakarta III ini, tawuran yang dilakukan para remaja adalah masalah sosial yang sangat mengkhawatirkan dan meminta agar permasalahan tersebut segera diatasi.
     
    Salah satu caranya yaitu edukasi masif kepada seluruh pihak, sehingga potensi tawuran antar remaja bisa diminimalisasi.
     
    “Saya menekankan pentingnya edukasi tidak hanya pada anak-anak, tapi juga guru dan orang tua. Polisi perlu mengambil peran aktif dalam hal ini,” Politisi Fraksi Partai NasDem ini.
     
    Meski demikian, Sahroni mengapresiasi kinerja Polres Jakbar yang berhasil meredam tawuran di kawasan Meruya Selatan, Kembangan dan Aparat kepolisian diminta tetap meningkatkan pengawasan.
     
     
    “Pengawasan dan edukasi terkait bahaya tawuran harus terus secara konsisten dilakukan. Jangan sampai ada korban satupun dari aksi anarkis seperti ini,” pungkasnya. 

    Diberitakan sebelumnya, Polsek Kembangan menahan puluhan remaja yang hendak tawuran di jalan Meruya Selatan Kembangan, Jakarta Barat, Sabtu (8/7/2023) dini hari.

    “Mereka (para remaja) berhasil diamankan di jalan Meruya Selatan Kembangan Jakarta Barat pada Sabtu pagi sekira pukul 04.00 WIB,” ujar Kasat Samapta Polres Metro Jakarta Barat AKBP, M Hari Agung Julianto dalam keteranganya, Sabtu (8/7/2023)

    Agung mengatakan, mendapat laporan dari masyarakat bahwa ada puluhan remaja yang berkumpul dan hendak tawuran.
     
     
    Kemudian, polisipun langsung bergegas ke lokasi dan menemukan berbagai senjata tajam dan tumpul yang dibawa 32 remaja tersebut.

    Menerima informasi tersebut kemudian tim patroli perintis presisi polres metro jakarta barat langsung bergegas meluncur ke lokasi dan bergabung dengan Tim Patroli Perintis Presisi Polda Metro Jaya.

    “Kami juga turut mengamankan berbagai senjata tajam maupun senjata tumpul diantaranya 8 buah sajam (6 buah celurit, 1 pedang dan 1 buah corbek), 5 buah senjata tumpul maupun 4 buah petasan yang sudah terpakai,” tambah Agung.

    Baca: Sejarah panjang kota Jakarta

    Lebih lanjut, Agung menjelaskan, dari hasil pemeriksaan 32 orang yang diamankan. Mereka berencana akan tawuran dengan kelompok remaja lainnya dari wilayah Jakarta Selatan yang mana telah janjian sebelumnya lewat media sosial.

    “Berkat kesigapan anggota dilapangan aksi tersebut berhasil dicegah dan tidak terjadi bentrokan antara kedua kelompok tersebut,” ujar Agung.

    Atas hal itu, Agung mengatakan guna mempertanggung jawabkan perbuatannya 32 remaja tanggung tersebut kini diserahkan ke Sat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat untuk proses pemeriksaan lebih lanjut

    “Kami serahkan ke piket sat reskrim untuk dilakukan proses pemeriksaan lebih lanjut,” bebernya sebagaimana dikutip Liputan6.com

    Baca: Metamorfosa Jakarta melalui penataan transportasi publik