Mengintip Guyubnya Pemilik Warteg di Jakarta, Saling Membantu Atasi Masalah

Written by

in

7cloud.asia – Keberadaan warung Tegal atau warteg telah banyak membantu warga kota Jakarta menjalani aktivitas kesehariannya.  

Dan, dalam perjalanannya Warteg yang awalnya dirintis para pekerja asal kota Tegal Jawa Tengah yang bermigrasi ke kota Jakarta menghadapi pasang surut.

Berbagai kejadian baik politik maupun ekonomi, seperti naik turunnya harga pangan akhirnya mendorong para pemilik warteg di Kota Jakarta dan sekitarnya berkumpul bersama dan membentuk komunitas yang dinamakan Komunitas Warteg Nusantara (Kowantara).

Komunitas pemilik warteg ini dibentuk dengan tujuan agar mereka dapat saling membantu dalam menjalani usaha warung makan ini.

Baca: Kisah warteg, dibuat warga Tegal kemudian jadi merek bersama

Ketua Komunitas Warteg Nusantara, Mukroni seperti dikutip BBC News Indonesia, mengatakan pada awal mulanya Kowantara dibentuk dengan tujuan dilahturahmi, agar para pemilik warteg dapat saling kenal dan berkumpul bersama.

Namun, kini fungsi Komunitas Warteg Nusantara sudah berkembang menjadi lebih luas.

“Jadi silaturahmi istilahnya, sebagi bentuk persaudaraan antar-para pegiat warteg. Yang kedua, ya kalau bisa kita menggerakkan ekonomi, kita nanti akan mendirikan beberapa koperasi,“ kata Mukroni kepada BBC News Indonesia.

Koperasi yang diberi nama Koperasi Warteg Nusantara tersebut digunakan oleh komunitas itu untuk membeli bahan-bahan dasar makanan dalam jumlah besar dan disalurkan kepada para anggota.

Baca: Mengenal uniknya tradisi seba

“Itu ide kita, gagasan kita untuk mewadahi agar mereka [para pemilik warteg] dapat memperoleh harga bahan sembako, bahan pokok untuk kebutuhan warteg dengan harga yang cukup murah dan berkualitas,“ ujarnya.

Koperasi itu ternyata menjadi sangat berguna dalam mengatasi lonjakan harga bahan pangan, terutama minyak goreng yang sempat mengalami kelangkaan di pasar.

Ada pula bahan makanan lain seperti beras dan telur yang disediakan oleh Koperasi Warteg Nusantara

“Jadi kalau kita kompak, kalau kita bersama solid, kita akan bisa mendapatkan harga murah, barangnya berkualitas,“ lanjutnya.

Baca: Tradisi mudik ternyata sudah ada sejak jaman Majapahit

Selain menyediakan bahan makanan dengan harga terjangkau, Koperasi Warteg Nusantara juga mengadakan pelatihan-pelatihan untuk anggotanya yang ingin meningkatkan skill mereka di bidang kuliner, baik itu dari segi kesehatan ataupun modifikasi menu.

“Kita pernah kerjasama itu dengan Unilever, misalnya dengan bahan baku yang murah tapi tidak mengandung bahan kimia.

Jadi masih ada keterkaitan dengan makanan. Dari segi halal, kesehatan, kebersihan, ya terus pembiayaan, akses. Misalnya ada bank yang mau menyalurkan PUR, monggo silakan daftar.

Lebih lanjut, Mukroni mengatakan bahwa Kowantara juga membantu legalitas usaha para anggotanya dengan dalam pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB).

Baca: Mengenal sumbu filosofi Yogyakarta

Dengan memiliki NIB, sambungnya, para pemilik warteg dapat dipermudah dalam mengakses layanan perbankan dan terdaftar untuk menerima bantuan pemerintah.

Program-program tersebut direncanakan bersama pada pertemuan para anggota yang digelar sekali setiap bulan di wilayah masing-masing.

Sementara, untuk acara pertemuan para anggota secara nasional, biasanya diadakan setahun sekali.

“Itu per Kanwil biasanya. Misalnya di Bogor, terus nanti kan jaraknya lumayan, makanya kita datangi. Ayo di Bogor adakan Kopdar [Kopi Darat], nanti kita bisa sambil arisan.

Baca: Malioboro akan dijadikan kawasan rendah emisi

“Makanannya juga enggak jauh-jauh dari warteg atau dari biasanya kupat, kupat khas Tegal atau tauco/ Ya paling nggak opor ayam, warteg ini kan makanan rumah. Jadi kan enggak susah,” ujar Mukroni sambil tertawa.

Sementara, Tarsih, yang menjabat sebagai sekretaris Koperasi Warteg Nusantara mengatakan bahwa komunitas itu seringkali menjadi wadah penyaluran aspirasi para pengusaha warteg.

“Kalau ada peraturan-peraturan pemerintah yang kayaknya merugikan. Kemarin waktu Warteg mau dikenakan pajak, berat banget karena yang makan [di warteg] bukan orang-orang yang banyak duit,” kata Tarsih.

Sumber: BBC News Indonesia

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *