Festival Lintas Melawai, Mengenang Keramaian Melawai dan Blok M Era 90an

Written by

in

7cloud.asia – Melawai dan Blok M pernah menjadi lokasi yang sangat hype bagi anak muda di Jakarta pada era 1980-an dan 1990-an.

Melawai yang berada di seputaran Blok M Jakarta Selatan tersebut pernah jadi pusat nongkrong anak muda Jakarta pada era itu. Melawai saat itu tenar disebut sebagai ‘tempat ngeceng’ yang seru.

Kondisi ini tidak lepas dari lokasi Melawai dan Blok M yang mudah dicapai atau dekat dengan sejumlah sekolah favorit di Jakarta, yakni SMAN 6 Bulungan, SMAN 70 ataupun SMAN 28 di Tebet.

Di Melawai dan Blok M ini juga dulu menjadi lokasi dibangunnya sejumlah pusat perbelanjaan awal di Jakarta seperti Aldiron, Pasar Blok M ataupun Mal Blok M.

Baca: Sejarah Jakarta dari Jayakarta menjadi Batavia lalu menjadi Jakarta

Namun, aura Melawai dan Blok M sebagai tempat ngeceng di tahun 1980an hingga 1990an kini memudar, dan tergusur oleh kegiatan komersial di kawasan tersebut.

Blok M dan Melawai kini telah berubah menjadi kawasan perdagangan yang sibuk. Di kawasan ini telah berdiri sejumlah pusat perdagangan seperti Pasaraya, Blok M Square, ataupun Pasar Blok M. 

Lantas ke mana perginya anak muda Jakarta sekarang? Ada banyak sekali tempat nongkrong kekinian yang lebih menarik minat mereka.   

Nah, untuk mengenang kembali kejayaan Melawai digelar event Festival Lintas Melawai pada 28-30 Juli 2023. 

Baca: Metamorfosa Jakarta lewat penataan transportasi publik

Festival Lintas Melawai digagas oleh Helmy Yahya dan Denny Malik, yang juga menjadi anak muda di masanya yang pernah menikmati gegap gempita kawasan Blok M sebagai tempat nongkrong anak muda masa itu.

“Saya berhutang pada Blok M yang membawa saya jadi pelaku industri kreatif, tanpa Blok M saya mungkin jadi akuntan atau PNS. Sekarang, kita mencoba mengajak untuk memulai lagi tradisi mejeng di Blok M lewat acara ini,” ujar Helmy Yahya, Sabtu, 29 Juli 2023.

Helmy Yahya mengaku tidak menyangka Festival Lintas Melawai mendapat sambutan yang gegap gempita dari warga Jakarta. Sejumlah komunitas maupun pelaku ekonomi kreatif dalam acara yang berlangsung selama tig ahari tersebut.

“Kita ingin kembalikan lagi ke era 1980an dan 1990an yang jadi puncak kejayaan budaya pop Indonesia,” kata dia.

 

Baca: LRT siap dioperasikan, segini kisaran tarifnya

Ruangkota.com berkesempatan mengunjungi Festival Lintas Melawai pada Minggu (30/7/2023) atau hari terakhir gelaran Festival Lintas Melawai ini.

Saat tiba di lokasi yang terletak tak jauh dari Terminal Blok M, suasana retro sangat terasa di pintu masuknya.

Meski tak digelar tepat di Lintas Melawai, Festival Melawai sukses mengajak pengunjung bernostalgia ke ambience retro kawasan Blok M era 1980an dan 1990an. 

Sejumlah perangkat era 80an seperti tape deck, pesawat televisi tabung, pesawat telepon bergagang, mesin ketik jadul, radio transistor, buku kenangan, buku harian dan sejenisnya langsung tersaji di depan mata.

Tak ketinggalan ikon Blok M yang pernah digandrungi anak muda masa itu seperti sepeda BMX, box telepon umum dan sebagainya. Namun, sayangnya bus tingkat yang dulu juga menjadi ikon transportasi di Jakarta saat itu tidak dihadirkan di lokasi. 

Baca: Jakarta kini miliki peta bersepeda 

Ada juga kegiatan parade yang akan diramaikan komunitas otomotif mobil Go90s, Klasik Retro, motor klasik seperti Campursari Vespa, 2stroke, sepeda OSBMX, Sepatu Roda Skate Lovers, dan komunitas All Line Dance maupun komunitas Photography Saljudilangit.

Untuk kuliner, hadir kuliner Gule Tikungan alias Gultik hingga Roti Bakar Eddy yang kini melegenda dan punya cabang di mana-mana.

Kepada ruangkota, sejumlah pengunjung mengungkapkan Festival Melawai sukses menghadirkan nostalgia era 1980an dan 1990an. 

Bagaimana Blok M dan Melawai mengenalkan banyak hal baru saat itu, seperti eskalator, telepon umum ataupun bus tingkat. 

Irawan, alumni SMAN 6 Bulungan mengatakan, lewat event ini dia bisa mengenang saat muda dulu. Anggota Sixerhood (sebutan untuk almuni SMAN 6 Jakarta, red) tahun 1983 itu mengatakan, Blok M dan Lintas Melawai sudah sangat berubah. 

“Kita nggak bisa lagi nongkrong-nongkrong santai seperti dulu, karena sudah padat dengan bangunan,” ujarnya.

Baca: Pengembangan kawasan TOD di Jakarta

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *