Tag: karhutla

  • Mahfud Bantah Indonesia Kirim Kabut Asap ke Negara Tetangga

    Mahfud Bantah Indonesia Kirim Kabut Asap ke Negara Tetangga

    7cloud.asia – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD membantah ada kiriman kabut asap ke negara tetangga akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

    “Tidak ada kiriman asap seperti yang disampaikan oleh beberapa pihak atau seperti yang terjadi setiap tahun di masa lalu. Sekarang tidak ada lagi,” jelas Mahfud yang dikutip Antaranews.

    Memang, jika dibandingkan dengan dua tahun sebelumnya, tahun ini ada peningkatan titik panas (hot spot). Tetapi karhutla yang terjadi lebih kecil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

    Baca: Modifikasi cuaca dilakukan di daerah berpotensi terjadi karhutla

    Hal ini akibat adanya fenomena El Nino yang membuat musim kemarau menjadi lebih lama dan beberapa daerah mengalami cuaca panas ekstrem.  

    “Jika dibandingkan dengan El Nino pada tahun 2019 yang lalu, karhutla pada tahun ini masih lebih kecil dan terkendali. Kita akan terus memonitoring hot spot yang meningkat, meskipun tidak selamanya hot spot menjadi fire spot,” urainya.

    Selanjutnya Mahfud mengatakan berbagai upaya dilakukan pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten untuk mengatasi karhutla.terutama di daerah-daerah yang sebaran titik panasnya luas.

    Baca: Karhutla terjadi di mana-mana, semua pihak diminta turun membantu

    Di antaranya dengan melakukan patroli terpadu, baik Polri, dinas terkait, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan pihak swasta dengan terus memantau titik panas.

    “Operasi darat akan diutamakan dan di maksimalkan, karena operasi udara pesawat kita terbatas,” ujarnya.

    Selain itu, pemerintah juga melakukan teknologi modifikasi cuaca (TMC) dan water bombing di bawah koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

    Baca: Karhutla di Ciremai hanguskan ratusan hektare lahan

    Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri RI mendapat tawaran bantuan dari pemerintah Malaysia untuk menangani masalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.

    Tawaran itu disampaikan pemerintah Malaysia melalui surat yang dilayangkan kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia.

    “Inti surat tersebut menyampaikan kondisi kualitas udara terakhir di Malaysia dan kesiapan Malaysia untuk bekerja sama menangani kebakaran hutan yang terjadi, jika pemerintah Indonesia memerlukan,” kata Kemlu, Lalu Muhamad Iqbal.

    Baca: Perubahan iklim picu gelombang panas makin ganas

    Sementara itu, Menteri KLHK Siti Nurbaya membantah tudingan soal kabut asap dari karhutla yang terjadi di Indonesia melintas ke Malaysia.

    Hal tersebut berdasarkan laporan sandingan peta citra sebaran asap dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) RI dan The ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) untuk periode 28-30 September 2023.

    Arah angin di Indonesia pada umumnya dari tenggara ke barat laut hingga timur laut dan tidak terdeteksi ada asap lintas batas.

    “Kami terus mengikuti perkembangan dan tidak ada transboundary haze ke Malaysia,” tegas Siti.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Sejak Januari Hingga Awal Oktober, 2 Ribu Hektare Lahan di Riau Hangus Terbakar

    Sejak Januari Hingga Awal Oktober, 2 Ribu Hektare Lahan di Riau Hangus Terbakar

    7cloud.asia – Gubernur Riau, Syamsuar mengatakan, sejak Januari hingga 8 Oktober 2023 ada 2.169 titik api kebakaran hutan dan lahan (Karhutla0 di provinsi tersebut.

    Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla ini menghanguskan lahan seluas 2.029,15 hektare di daerah itu. 

    “Dari 2.029,15 hektare lahan terbakar di Riau tersebut tersebar di kabupaten dan kota, dengan Kabupaten Rokan Hulu sebanyak 50,6 hektare lahan terbakar, kemudian Kabupaten Rokan Hilir 238 hektare,” katanya dalam rilis diterima di Pekanbaru.

    Baca Juga: Pemerintah Lakukan Modifikasi Cuaca di Sejumlah daerah yang Rawan Terjadi Karhutla  

    Selain itu lahan terbakar di Kota Dumai seluas 115,67 hektare, Bengkalis 398,29 hektare, Meranti 39,05 hektare, Siak 50,06 hektare, Pekanbaru 45,97 hektare,

    Di wilayah Kampar 193,09 hektare, Pelalawan 261,73 hektare, Indragiri Hulu 349,34 hektare, Indragiri Hilir 258,85 hektare, dan Kabupaten Kuantan Singingi 28,5 hektare.

    Berdasarkan data BPBD Riau, kata dia, hingga kini karhutla di Sungai Raya dan Sekip Hilir, Kabupaten Indragiri Hulu, sudah tidak ada titik api dan saat ini sedang dilakukan pendinginan.

    Baca Juga: BMKG: Musim Kemarau Berlangsung hingga Akhir Oktober

    “Pemprov Riau tetap berupaya memadamkan api dengan melalui pembentukan dan mengaktifkan posko Satgas Karhutla di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, serta posko lapangan di lokasi karhutla,” katanya.

    Selain itu menyiagakan seluruh sumber daya manusia dan sarana prasarana penanggulangan kebakaran hutan dan lahan seperti alat berat eskavator, mesin pompa pemadam, selang, kendaraan operasional.

    Untuk melokalisir karhutla juga dibangun sekat kanal, embung, menara pemantau api, dan lain-lain.

    Baca Juga: Karhutla Terjadi di Mana-mana, Semua Pihak Harus Bahu Membahu Memadamkan

    Pihaknya juga menyiapkan anggaran rutin dan biaya tanggap darurat untuk pencegahan dan penanggulangan kebakaran.

    “Satgas Karhutla gencar melakukan deteksi dini melalui aplikasi dashboard Lancang Kuning, Sipakar Riau, Sipongi KLHK, serta pantauan hotspot BMKG,” katanya.

    Pihaknya juga memperkuat Satgas Karhutla Riau dengan dua helikopter patroli (PK-RTX dan PK-ZGD), dua helikopter water bombing (C-FIZA dan N332N), satu pesawat TMC (Pilatus PC-6).

    Baca Juga: Hujan Deras, Banjir di Aceh Utara Meluas

    Kita, ujarnya,perlu terus mewaspadai arah angin yang mengarah dari tenggara ke barat laut-utara yang berpotensi mengirimkan asap ke wilayah Provinsi Riau sampai ke Malaysia dan Singapura.

    “Kami terus berupaya dalam mengendalikan karhutla di Riau, bahkan potensi personel yang siap ditugaskan sesuai kebutuhan sebanyak 17.764 orang,” kata Syamsuar. 

    Sumber: Antaranews

     

  • Karhutla di Indonesia Tahun Ini Sangat Parah, Dampak Gagalnya Upaya Pencegahan

    Karhutla di Indonesia Tahun Ini Sangat Parah, Dampak Gagalnya Upaya Pencegahan

    7cloud.asia – Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Indonesia terus mengganas.

    Menurut Sistem Informasi Pemantauan Kebakaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), luas area yang hangus akibat karhutla per Agustus lalu sudah mencapai 267 ribu hektare.

    Angka ini sudah melampaui luas area yang hangus akibat karhutla pada tahun 2022 yakni seluas 204.894 hektare.

    Menurut saya, area yang terdampak karhutla akan meluas bahkan dapat melebihi angka tahun 2021 yakni 358 ribu ha ataupun 2020 sebesar 296 ribu ha. Prediksi ini saya sampaikan karena sampai sekarang KLHK tak kunjung merilis data area terbakar akibat karhutla per September 2023.

    Yang membikin miris, karhutla tahun ini juga marak terjadi di banyak kawasan konservasi.

    Padahal, area tersebut penting untuk menjaga simpanan karbon di bumi, pelestarian manfaat ekosistem seperti air bersih dan udara sejuk, serta penjaga keberagaman hayati kita.

    Parahnya karhutla tahun ini dipicu oleh fenomena cuaca El Nino yang mengakibatkan kemarau panjang. Namun, kondisi tersebut bukanlah sebab utama.

    Baca: Pemerintah lakukan modifikasi cuaca di daerah rawan karhutla

    Saya cenderung mengatakan kalau karhutla parah tahun ini lebih disebabkan oleh lemahnya sistem pengendalian kebakaran, khususnya sistem pencegahan, dari tingkat pusat sampai tingkat tapak.

    Gagap mencegah api
    Pemerintah sebenarnya sudah mengadakan Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan sejak akhir tahun lalu.

    Namun, tetap saja, otoritas seperti ‘terlena’ dengan rendahnya amukan api tiga tahun belakangan—didukung oleh fenomena La Nina beruntun sehingga kemarau saat itu cenderung lebih basah.

    Rapat tersebut semestinya menjadi pemantik pemerintah untuk memeriksa ulang secara besar-besaran kesiapan seluruh pihak menghadapi El Nino 2023.

    Sayangnya, kita belum melihat hasil yang signifikan dari rapat tersebut sampai hari ini. Beberapa wilayah seperti tampak tergagap menghadapi hebatnya karhutla yang terjadi di luar dugaan.

    Pemerintah semestinya memanfaatkan rapat tersebut untuk membentuk tim khusus yang independen untuk melakukan audit kepatuhan terpadu pencegahan karhutla.

    Audit ini bertujuan untuk melihat kepatuhan dan kesiapan seluruh pihak (pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan kabupaten kota, serta perusahaan) menghadapi risiko amukan api musim kemarau.

    Melalui pemeriksaan ini, kita dapat mengetahui peralatan apa saja yang perlu ditambahkan agar upaya pencegahan dapat optimal.

    Baca: Karhutla hanguskan 267 ribu hektare lahan

    Audit juga menjadi kesempatan untuk berbagai pihak terkait untuk memperkuat kerja sama mereka meredam kebakaran hutan dan lahan.

    Saya pernah memimpin pelaksanaan audit tersebut pada 2014 di Riau di bawah koordinasi Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4).

    Hasilnya, dari 17 perusahaan yang saya periksa, tidak ada satupun perusahaan yang mematuhi aturan pencegahan karhutla. Hanya ada satu kabupaten yang memenuhi kewajibannya.

    Saat ini, audit tersebut sudah tidak dilakukan lagi. UKP4 pun sudah dibubarkan oleh presiden. Pemeriksaan kepatuhan hanya dilakukan tim pengawas di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

    Beberapa daerah sebenarnya juga melakukan langkah khusus, seperti penetapan status siaga kebakaran hutan sejak awal 2023.

    Namun, kita tidak mengetahui sejauh mana status tersebut diikuti aksi yang cukup.

    Baca: Harga mahal yang harus dibayar akibat karhutla

    Kewalahan di lapangan
    Lemahnya pengendalian kebakaran khususnya pencegahan membuat api dengan leluasa menjalar di tengah musim kering.

    Vegetasi, khususnya tumbuhan bawah dan rumput, tampak menguning karena kekurangan air, sehingga menjadi bahan bakar yang sangat sensitif terjadinya kebakaran, karena tinggal menunggu pemicu.

    Kita bisa menyaksikan, di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang terbakar, api tidak hanya melahap vegetasi yang berada di permukaan tapi juga hingga ke puncak bukit.

    Belum lagi bila lahan bergambut tanpa dikelola dengan baik, maka akan juga mudah mengering dan sensitif terhadap kebakaran.

    Kebakaran gambut inilah yang mengakibatkan timbulnya bencana asap saat ini dan menambah parah emisi karbon karbon di atmosfer.

    Melalui televisi, saya juga melihat pemadaman api dilakukan dengan seadanya, melalui selang yang tidak sesuai dengan kondisi lapangan, juga dengan panjang tidak memadai.

    Petugasnya pun terbatas. Di beberapa lokasi, saat melakukan verifikasi lapangan di wilayah korporasi di Riau, kebakaran tampak dibiarkan oleh pemilik konsesi.

    Baca: Pemanasan global bikin kebakaran hutan makin sering terjadi

    Api juga berisiko meluas karena amukannya berlangsung di kawasan yang jauh dari sumber air. Hal ini tentu saja membuat luas areal terbakar bertambah.

    Selain itu, dalam suatu provinsi dan atau satu kabupaten terjadi kebakaran pada beberapa lokasi dalam waktu yang bersamaan.

    Hal ini ditambah lagi dengan sarana dan prasarana yang tidak memadai, juga sumber daya manusianya. Dapat dibayangkan seperti apa upaya pemadaman yang dilakukan.

    Pada sebagian wilayah, kondisi ini seakan tidak berubah. Tak ubahnya dengan kondisi yang terjadi saat kebakaran hebat melanda Indonesia pada 2015.

    Saat melakukan verifikasi lapangan pada korporasi yang diduga terkait dengan terjadinya karhutla, saya mendapati daerah-daerah bergambut rawan kebakaran seperti Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan sangat kekurangan peralatan pemadaman api.

    Padahal, peralatan ini, diwajibkan dalam Undang Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan dan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pembukaan dan/atau Pengolahan Lahan Perkebunan Tanpa Membakar.

    Baca :PBB ingatkan periode 2023-2027 bakal jadi periode yang panas

    Setidaknya peralatan pemadaman api ini terbagi dalam lima kelompok:

    Peralatan individu (seperti helm, masker)
    Peralatan kelompok (menara pengintai api, drone)
    Perkakas tangan (penepuk api, sekop api)
    Pompa air dan aksesoris (tangki air dan pompa)
    Alat komunikasi dan pengolahan data (GPS dan megafon)
    Tanpa peralatan di atas, petugas lapangan akan sulit memadamkan api, apalagi kalau sudah membesar. Akhirnya api sangat sulit dipadamkan.

    Pemadaman langsung di daratan adalah tahapan krusial karena proses ini bertujuan untuk memastikan api benar-benar padam.

    Penggunaan teknologi mutakhir yang mahal seperti penggunaan helikopter untuk water bombing dari udara juga belum tentu efektif. Tidak sedikit air yang meleset dari sasaran.

    Sekalipun targetnya benar, jika suhu permukaannya mencapai lebih dari 1000°C, air yang jatuh akan segera terevaporasi menjadi uap sehingga tidak memberikan dampak apapun.

    Jika kebakaran sudah sedemikian parah, saya menyarankan penggunaan bahan kimia fire retardant berupa foam (busa) atau gel yang ramah lingkungan.

    Baca: Emisi gas ruang kaca catat rekor

    Namun tetap saja, upaya-upaya di atas perlu dibarengi upaya pemadaman langsung di lapangan agar lebih efektif.

    Bakal sulit efektif meredam kebakaran tanpa dibarengi pemadaman langsung di daratan.

    Langkah segera
    Negara memang sudah melakukan banyak upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan, termasuk dan mengurangi kobaran api.

    Di Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, kita juga melihat pemerintah sedang mengusut dugaan pelanggaran hukum oleh perusahaan–diduga menyebabkan kebakaran.

    Beberapa korporasi yang terbakar saat ini justru pernah ditindak oleh negara dalam perkara yang sama beberapa tahun lalu.

    Sebagian besar korporasi yang diproses terkait pelanggaran hukum yang dilakukan, berada di lahan gambut.

    Namun, langkah ini belum cukup. Pemerintah perlu meningkatkan koordinasi dengan pemerintah daerah untuk mencegah api membesar, atau mengatasi kobaran di titik api yang baru.

    Baca: KLHK ajak warga boikot produk yang nggak peduli sampah plastiknya

    Penanganan kebakaran ini tidak bisa dilakukan hanya oleh pemerintah pusat ataupun Badan Nasional Penanggulangan Bencana saja.

    Pemerintah daerah juga harus memprioritaskan sumber daya dan anggarannya untuk mengendalikan kebakaran, termasuk memadamkan api dan mengatasi efek negatifnya bagi masyarakat di daerah masing-masing.

    Patut diingat bahwa kebakaran hutan dan lahan adalah tanggung jawab kita bersama.

    Kita harus bisa memastikan musim kering kali ini tidak memperparah dampak buruk seperti kerusakan lingkungan, gangguan pernapasan, dan gangguan ekonomi bagi masyarakat.

    Penulis: Bambang Hero Saharjo, Professor of Forest Protection, IPB University

  • Walhi Sumsel Desak Pemerintah Tindak Tegas Perusahaan yang Lalai Jaga Lahan Konsesinya dari Karhutla

    Walhi Sumsel Desak Pemerintah Tindak Tegas Perusahaan yang Lalai Jaga Lahan Konsesinya dari Karhutla

    7cloud.asia – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Selatan (Sumsel) mendesak pemerintah melakukan tindakan tegas dan memberikan sanksi kepada perusahaan yang lalai menjaga lahan konsesinya dari karhutla.

    Melansir Antaranews, Direktur Eksekutif Walhi Sumsel, Yuliusman AS, tindakan tegas ini perlu dilakukan agar kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak berulang di tahun-tahun berikutnya.

    “Melihat fakta di lapangan itu, diharapkan pemerintah daerah dan pihak berwenang melakukan berbagai tindakan yang dapat mencegah terjadinya karhutla sehingga dapat dihindari bencana kabut asap yang dapat mengganggu berbagai aktivitas dan kesehatan masyarakat,” jelas Yuliusman.

    Selain itu, Walhi Sumsel juga mendesak pemerintah membuat program pencegahan dan penanggulangan karhutla yang tepat dan cepat.

    Menurut Yuliusman hal ini perlu dilakukan agar tahun-tahun mendatang pemerintah tidak sibuk menyiapkan satgas serta melakukan operasi darat dan udara untuk pemadaman karhutla.

    Sebab, operasi ini menghabiskan biaya puluhan hingga ratusan miliar rupiah yang seharusnya dana tersebut dapat digunakan untuk kepentingan lainnya.

    Karena itu, masalah karhutla harus diatasi dengan baik. Tidak hanya merusak lingkungan, karhutla menyebabkan asap yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat.

    Berdasarkan data Dinas Kesehatan Sumsel tercatat sekitar 35 ribu masyarakat mengalami gangguan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat kabut asap karhutla pada musim kemarau 2023.

    Walhi Sumsel juga mendata kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mencapai 5.000 hektare di lokasi konsesi perusahaan perkebunan, hutan tanaman industri, dan pertambangan.

    “Contoh konkret karhutla terjadi di lahan konsesi atau perusahaan pemegang izin berbasis lahan yakni dilakukannya penyegelan lahan oleh KLHK di 11 perusahaan yang mengalami karhutla pada musim kemarau 2023 ini,” paparnya.

    Hasil pemantauan Walhi, karhutla tidak hanya terjadi di lahan konsesi 11 perusahaan yang tersebar di tiga daerah yakni Kabupaten Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, dan Kabupaten Musi Banyuasin.

    Tetapi juga terjadi di sekitar lokasi pemegang izin berbasis lahan lainnya seperti di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Muara Enim, Lahat, dan Musirawas.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Marak Terjadi Saat Kemarau, KLHK Terapkan 3 Klaster Tangani Karhutla

    Marak Terjadi Saat Kemarau, KLHK Terapkan 3 Klaster Tangani Karhutla

    7cloud.asia – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah wilayah. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menerapkan tiga klaster utama dalam menangani karhutla secara permanen.

    Selain adanya Instruksi Presiden (Inpres) No.3/2020 tentang Penanggulangan Karhutla, penerapan tiga klaster utama dalam solusi permanen penanganan karhutla menjadi penyebab turunnya jumlah hutan yang terbakar dan titik panas.

    Hal ini dijelaskan oleh Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim KLHK, Laksmi Dhewanthi seperti yang dilansir Antaranews.

    “Solusi permanen penanganan karhutla yang pertama berupa upaya penanggulangan berdasarkan analisis cuaca. BMKG sudah menginformasikan bahwa kita akan mengalami kemarau kering jadi sebelum masa krisis sudah dilakukan upaya seperti teknologi modifikasi cuaca,” jelas Laksmi.

    baca juga: kabut asap menyelimuti kota padang imbas kebakaran hutan dan lahan dari empat provinsi

    Klaster kedua yaitu pengendalian operasional dalam sistem Satgas Patroli terpadu di tingkat wilayah yang diperkuat oleh masyarakat, TNI, Polri, BNPB maupun BPBD.

    Lalu klaster terakhir yaitu pembinaan tata kelola lanskap, khususnya dalam ketaatan pelaku konsesi, praktik pertanian, dan penanganan lagan gambut.

    “Kita melakukan upaya pengelolaan lanskap antara lain praktek pembukaan lahan tanpa bakar, kalau pun dengan bakar itu ada teknisnya. Jadi teknisnya membakar balik dan sebagainya agar api bisa terkendali sehingga kebakaran hutan tidak sebesar atau tidak meluas,” ujarnya.

    Ketiga klaster tersebut dianggap telah berhasil menurunkan jumlah lahan yang terbakar dan sebaran titik panas (hotspot) di Indonesia.

    “Alhamdulillah, kalau dibandingkan dengan kondisi sekarang, sebetulnya saat ini dalam kondisi kering dan suhunya lebih tinggi dari 2019, tapi kalau kita lihat jumlah lahan yang terbakar dan kejadian atau sebaran hotspot itu lebih rendah dari pada 2019,” urai Laksmi.

    baca juga: marak kebakaran hutan klhk segel lahan milik pengusaha singapura

    Memang, jumlah hotspot masih dalam proses perhitungan, namun ia yakin jumlah sebaran di tahun 2023 ini jauh berkurang dari sebaran hotspot yang mencapai 5.106 titik pada periode 14-20 September 2019..

    Selain itu, Laksmi menjelaskan bahwa kebakaran hutan dan lahan yang selama ini terjadi di Indonesia sangat berdampak terhadap produksi emisi gas rumah kaca.

    Pada tahun 2015 dan 2019 dengan jumlah sebaran karhutla tinggi sangat berkorelasi terhadap peningkatan produksi emisi gas rumah kaca yang juga naik signifikan.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • BNPB Catat 629 Kasus Karhutla Terjadi di Indonesia Sepanjang 2024

    BNPB Catat 629 Kasus Karhutla Terjadi di Indonesia Sepanjang 2024

    7cloud.asia – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 629 kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah di Indonesia sepanjang tahun 2024.

    Angka ini menurun jika dibandingkan kasus kebakaran hutan dan lahan pada 2023 yang mengakibatkan lebih 1 juta hektare lahan hangus terbakar.

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari di Jakarta, Kamis (9/1/2025) mengatakan hampir semua kasus kebakaran hutan ini berhasil ditanggulangi dengan baik.

    Ditambahkan, kasus kebakaran hutan dan lahan mengalami peningkatan hingga cukup mendominasi pada periode bulan Juli-Oktober 2024.

    BNPB menilai kondisi itu terjadi lantaran pada periode Juli-Oktober Indonesia mulai beralih ke musim kering dan beberapa di antaranya cukup ekstrem karena menjalani hari tanpa hujan yang cukup panjang.

    Baca: Parahnya kebakaran hutan pada 2023

    “Peningkatannya hingga ratusan kejadian per bulan pada periode Juli-Oktober tersebut yang merupakan musim kering,” kata dia.

    Menurutnya sebaran karhutla hampir merata terjadi di antaranya seperti Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Bangka Belitung, Jawa Tengah, Jawa Timur.

    Kebakaran hutan dan lahan juga tercatat terjadi di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan.

    Adapun objek yang terbakar menyasar kawasan hutan, lahan mineral dan gambut yang ada di daerah itu dengan luas ratusan ribu hektare.

    Dari sejumlah daerah tersebut diketahui Provinsi Sumatera Selatan menjadi daerah yang mengalami karhutla cukup signifikan pada tahun 2024.

    Baca: Harga mahal yang harus dibayar akibat kebakaran hutan pada 2023

    Berdasarkan data dari Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan dan Lahan (BPPIKHL) Wilayah Sumatera tercatat luasan karhutla di Sumatera Selatan mencapai 9.697 hektare selama periode Januari-September 2024.

    Karhutla di Sumatera Selatan yang terbanyak terjadi di lahan mineral dengan luas mencapai 6.382 hektare.

    Sementara sisanya terjadi di lahan gambut seluas 3.316 hektare yang masing-masing tersebar di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir, Muara Enim, dan Banyuasin.

    Muhari mengatakan curah hujan yang intens pada 2024 cukup membantu penanganan kebakaran hutan selain juga berkat kolaborasi dari kementerian bersama lembaga terkait dan pemerintah daerah.

    BNPB sendiri menyiagakan sejumlah helikopter untuk waterboombing atau penyiraman air dari udara, pesawat pemantauan udara termasuk dukungan peralatan dan juga dana bantuan operasional ke daerah terdampak karhutla tersebut.

  • Riau Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan, BMKG Lakukan Modifikasi Cuaca

    Riau Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan, BMKG Lakukan Modifikasi Cuaca

    7cloud.asia – Berbagai cara dilakukan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk mengatasi potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang rawan terjadi di Provinsi Riau. Salah satunya Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

    OMC ini dilakukan di wilayah gambut, Provinsi Riau sejak 1 hingga 7 Mei 2025. Saat ini Riau mulai memasuki musim kemarau dan karhutla kerap terjadi.

    Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menjelaskan OMC dilakukan untuk mempercepat turunnya hujan. Dengan begitu lahan menjadi basah dan lembap. Selain itu OMC dilakukan untuk mencegah perluasan kebakaran.

    Sebab, lahan gambut yang kering sangat mudah terbakar. Apalagi kecepatan angin cukup kencang, sehingga proses pemadaman api akan sulit.

    Baca: Riau kerap terjadi kebakaran hutan, ini penyebabnya

    “Bahkan tanpa aktivitas pembakaran, lahan gambut tetap berpotensi terbakar karena angin kencang dan gesekan ranting saat musim kemarau. Karena itu, mitigasi harus dilakukan sebelum munculnya api,” jelas Dwikorita dalam keterangan persnya.

    Selanjutnya Dwikorita menjelaskan saat ini sebanyak 10 kabupaten/kota di Riau telah menetapkan status siaga darurat karhutla, menyusul munculnya 144 titik panas (hotspot) dan terbakarnya 81 hektare lahan.

    Hingga 4 Mei 2025, OMC telah dilakukan sebanyak empat sorti penyemaian awan dengan total 3,2 ton bahan semai berupa garam (NaCl).

    Total waktu terbang mencapai 8 jam 33 menit, menyasar awan-awan potensial yang mampu menghasilkan hujan.

    Baca: Kebakaran hutan dan lahan mulai terjadi

    Dwikorita memaparkan target OMC difokuskan pada pesisir timur bagian utara dan selatan Provinsi Riau. Area ini kerap terjadi kebakaran dengan frekuensi tinggi.

    Dengan dilakukan OMC, kubah air dalam tanah gambut terisi kembali sehingga tidak mudah mengering dan terbakar saat musim kemarau berlangsung.

    Berdasarkan sistem early warning BMKG, musim kemarau di Indonesia, termasuk Riau, telah dimulai sejak April dan diprediksi mencapai puncaknya antara Juni hingga Agustus 2025.

    Baca: BNPB catat 269 kasus kebakaran hutan dan lahan sepanjang 2024

    Sementara Provinsi Riau mengalami dua kali musim kemarau dalam setahun, yakni Februari–Maret dan Mei–September. Kondisi ini meningkatkan risiko kebakaran hutan di Provinsi Riau menjadi lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya.

    Potensi kekeringan dan Karhutla pada Mei hingga September 2025 diperkirakan meningkat akibat anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik dan wilayah barat Indonesia.

    “Karena itu, diperlukan intervensi melalui OMC untuk menjaga kelembapan gambut dan mencegah kebakaran sebelum musim kemarau mencapai puncaknya,” jelas Dwikorita.

    Sementara itu, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menjelaskan kondisi cuaca saat ini mendukung untuk dilakukan OMC.

    Baca: Curah hujan berkurang, titik panas di Riau mulai muncul

    “Dengan kondisi cuaca yang masih relatif mendukung pembentukan awan hujan, OMC diharapkan mampu menekan jumlah hotspot dan mengurangi risiko kebakaran gambut yang biasa terjadi pada pertengahan hingga akhir musim kemarau,” jelas Seto.

    Lebih jauh Seto memaparkan pelaksanaan OMC di Riau merupakan hasil kolaborasi antara BMKG, BNPB, TNI Angkatan Udara, operator swasta, dan sejumlah pemangku kepentingan.

    Operasi ini menggunakan pesawat Cessna Caravan 208B yang telah dimodifikasi khusus untuk penyemaian awan.

     

  • Kebakaran Hutan dan Lahan Jadi Ancaman Serius di Jambi

    Kebakaran Hutan dan Lahan Jadi Ancaman Serius di Jambi

    7cloud.asia – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman serius di Provinsi Jambi di musim kemarau ini.

    Berdasarkan hasil pemantauan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jambi melalui sistem Fire Information for Resource Management System (FIRMS) milik NASA tercatat sebanyak 578 titik panas (hotspot) selama periode Juli 2025.

    Pemantauan titik panas ini menggunakan sensor VIIRS (Visible Infrared Imaging Radiometer Suite) pada satelit Suomi NPP (N21)

    Dari jumlah tersebut, 114 titik panas berada dalam kawasan konsesi 33 perusahaan perkebunan kelapa sawit, dan 66 titik lainnya tersebar di konsesi Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) 8 perusahaan.

    Fakta ini kembali menegaskan bahwa karhutla bukan semata terjadi karena aktivitas masyarakat, tetapi dominan berlangsung di area yang dikelola oleh korporasi besar pemegang izin konsesi.

    WALHI Jambi menemukan bahwa HGU perusahaan sawit yang memiliki titik panas tertinggi antara lain: Ex. PT Bahari Gembira Ria: 21 titik, PT Ari Kirana Lestari: 11 titik.

    Baca: Kebakaran hutan di Aceh banyak terjadi di lahan milik Negara

    Sedangkan PT Muaro Kahuripan Indonesia: 17 titik dengan Fire Radiative Power (FRP) tertinggi sebesar 40,13 dan tingkat kepercayaan tinggi, yang mengindikasikan kuat adanya kebakaran aktif.

    Hal ini terkonfirmasi oleh masyarakat jaringan WALHI Jambi di lapangan bahwa terjadi kebakaran di wilayah tersebut dengan perkiraan luasan 270 Ha. PT Dharma Tanjung Sawita: 8 titik, PT Tujuh Kaki Dian: 7 titik.

    Selain itu, puluhan perusahaan lainnya tercatat memiliki titik panas meskipun dalam jumlah lebih kecil. Ini mengindikasikan bahwa karhutla terjadi secara sistemik dan berulang di berbagai korporasi.

    Sementara dalam sektor kehutanan (PBPH), pemantauan WALHI Jambi menemukan: PT Wira Karya Sakti (WKS): 33 titik panas, mayoritas terjadi berulang di lokasi yang sama, dan nilai FRP sebesar 14,29 di Kabupaten Batanghari, PT Limbah Kayu Utama: 12 titik panas, dengan FRP 23,39, juga pada level kepercayaan tinggi,

    Perusahaan lain seperti PT Alam Bukit Tiga Puluh, PT Hijau Artha Nusa, PT Malaka Agro Perkasa, dan lainnya turut teridentifikasi sebagai lokasi hotspot.

    Sebaran titik-titik panas ini menunjukkan kelalaian atau bahkan indikasi kesengajaan dalam pengelolaan lahan yang berujung pada kebakaran.

    Baca: Impunitas membuat kebakaran hutan terus berulang

    Direktur Eksekutif WALHI Jambi, Oscar Anugrah, menyatakan bahwa temuan ini mencerminkan kegagalan struktural negara dalam melakukan pengawasan dan penindakan terhadap korporasi yang terus mengulangi pelanggaran lingkungan.

    “Setiap tahun kita mendapati pola yang sama: kebakaran terjadi di wilayah yang itu-itu saja, milik korporasi yang sama, dan hingga kini tidak ada penindakan serius,“ ujarnya.

    Korporasi melanggar, lanjut Oscar, dan rakyat yang harus menanggung sesaknya asap dan rusaknya lingkungan. Karena itu WALHI menegaskan bahwa karhutla adalah kejahatan ekologis yang tidak boleh dimaklumi.

    Temuan ini menunjukkan kegagalan sistematis dalam pengawasan dan penegakan hukum atas aktivitas korporasi di sektor perkebunan dan kehutanan.

    Pemerintah Provinsi Jambi dan aparat penegak hukum tidak bisa terus abai melihat berulangnya karhutla di area konsesi yang sama, apalagi dengan tingkat kepercayaan data yang tinggi dari sistem pemantauan.

    WALHI Jambi mendesak agar korporasi yang wilayah konsesinya terindikasi terbakar segera diperiksa dan ditindak tegas, termasuk pencabutan izin jika terbukti lalai atau sengaja membakar.

    ”Ini bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga soal hak hidup rakyat yang terancam oleh asap dan kehancuran ekologis,” tegas Oscar Anugrah.

    Baca: KLH ingatkan potensi kebakaran hutan di bulan Agustus

  • Ketua DPR Ingatkan Penegakan Hukum dalam Kasus Karhutla Harus Perhatikan Asas Keadilan

    Ketua DPR Ingatkan Penegakan Hukum dalam Kasus Karhutla Harus Perhatikan Asas Keadilan

    7cloud.asia – Pihak berwenang telah menangkap 44 tersangka pembakaran lahan gambut pada semester pertama tahun ini.

    Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan sebanyak 44 orang telah ditetapkan sebagai tersangka, karena diduga secara sengaja membakar lahan mineral dan gambut di Provinsi Riau sepanjang Januari hingga Juli 2025.

    Penetapan puluhan tersangka itu berdasarkan penindakan yang dilakukan Satgas Penegakan Hukum atas 35 kejadian kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla yang dilaporkan.

    Merespon penangkapan ini, Ketua DPR Puan Maharani menyatakan penegakan hukum semata tidak cukup untuk mengatasi masalah kebakaran lahan gambut yang terjadi setiap tahun dan menimbulkan dampak sosial serta lingkungan yang luas.

    “Kebakaran lahan gambut atau karhutla tidak hanya merusak ekosistem yang vital bagi penyerapan karbon dan pengendalian iklim, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat,” kata Puan dalam keterangan persnya, Senin (28/7/2025).

    “Maka penanganan karhutla atau pembakaran lahan gambut harus berbasis pada keadilan sosial dan tata kelola berkelanjutan sehingga masalah ini tidak berulang setiap tahunnya,” lanjutnya.

    Baca: Kebakaran hutan terus berulang karena lemahnya penegakan hukum

    Puan juga menyoroti mayoritas pelaku yang ditangkap adalah petani kecil dan masyarakat lokal yang sering kali menjadi korban dari ketimpangan sistem agraria.

    Sementara itu di sisi lain, izin pembukaan lahan oleh korporasi besar di kawasan gambut seringkali luput dari pengawasan dan penegakan hukum.

    “Ketidakadilan ini harus dihentikan. Kita harus mengetahui siapa sebenarnya aktor utama di balik kebakaran ini dan apa langkah konkret yang diambil untuk menindak pelaku yang sering melakukan pembakaran sebagai metode pembersihan lahan,” sebut Puan dalam keterangan tertulisnya di akhir pekan lalu.

    Sebagai solusi, mantan Menko PMK itu mendorong agar penanganan kebakaran lahan gambut tidak hanya berfokus pada penindakan terhadap perorangan yang terlibat.

    Menurut Puan, penanganan kebakaran hutan dan lahan juga perlu dilakukan melalui reformasi tata kelola agraria yang lebih inklusif dan berkeadilan sosial.

    “Pemerintah perlu memperkuat sistem deteksi dini kebakaran, mengaudit izin korporasi secara menyeluruh, serta menerapkan sertifikasi komoditas bebas bakar untuk melindungi reputasi ekspor Indonesia dan mendorong industri yang ramah lingkungan,” jelasnya.

    Baca: Kebakaran hutan di Aceh paling banyak terjadi di lahan milik Negara

    Puan mengatakan masyarakat yang terdampak juga perlu dilibatkan untuk mencari solusi kebakaran lahan gambut.

    “Negara harus memastikan bahwa warga terdampak tidak hanya menjadi korban, tetapi juga bagian dari solusi. Mereka harus dilibatkan dalam pembangunan berkelanjutan,” terang Puan.

    Lebih lanjut, Puan menekankan bahwa Indonesia sedang dalam upaya transisi energi dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

    Oleh karena itu, pemerintah melalui kementerian terkait harus mengambil langkah strategis yang mengutamakan kepentingan rakyat.

    “Penegakan hukum dalam kebakaran hutan ini harus dilaksanakan dengan adil, dan negara harus berpihak pada rakyat demi masa depan bangsa,” tutup Puan.

    Baca: KLH ingatkan potensi kebakaran hutan di 10 hari pertama bulan Agustus

     

     

  • WALHI Kalimantan Barat Soroti Penanganan Kasus Karhutla Masih Menyasar Individu

    WALHI Kalimantan Barat Soroti Penanganan Kasus Karhutla Masih Menyasar Individu

    7cloud.asia – Kepala Divisi WKR, Pendidikan dan Pengorganisasian WALHI Kalimantan Barat, Andre Illu mengingatkan kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla sudah agenda peringatan tahunan.

    Sayangnya, ini bukan peringatan yang membanggakan, justru sebagai bentuk kegagalan pemerintah menyelesaikan persoalan karhutla.

    Pasca karhutla hebat tahun 2015, ujarnya, pemerintah menyatakan berkomitmen memulihkan kerusakan gambut akibat karhutla serta melindungi gambut yang masih sehat, tapi setiap tahun kebakaran gambut masih terjadi.

    Andre menyoroti penanganan kasus kejahatan lingkungan dalam konteks karhutla, seringkali menyasar individu, tapi jarang menyentuh korporasi. Padahal dari temuan WALHI, banyak kejadian karhutla berada di lahan korporasi dan daerah konsesi.

    Dalam pernyataan yang dirilis di laman resmi WALHI, Andre menegaskan bahwa Karhutla di Kalimantan Barat tidak lepas dari kerusakan lahan gambut. Karena itu penanganan karhutla harus menyentuh pemulihan lahan gambut ini.

    Baca: Karhutla terus berulang karena lemahnya penegakan hukum

    Dan, perlindungan gambut mestinya menyeluruh dan menyentuh akar masalah. Meskipun beberapa perusahaan telah melakukan penataan air di konsesi, pembukaan kanal di lahan gambut menyebabkan hidrologis pada KHG menjadi rusak, terutama pada kawasan masyarakat yang terkena dampak.

    Andre mengingatkan, musim kemarau masih akan panjang dan saat ini baru awal, tapi kota Pontianak sudah terkena dampak kabut asap dan kualitas udara yang tidak sehat.

    “Jika tidak ada upaya yang benar-benar serius, negara hanya menegaskan kelalainnya dalam memenuhi hak warga atas lingkungan yang baik dan sehat,“ ujarnya.

    Sepanjang Mei hingga mendekati akhir Juli 2025, terdapat 8644 hotspot yang terpantau di seluruh wilayah Kalimantan Barat.

    WALHI Kalbar mencatat titik api ditemukan di seluruh wilayah kabupaten dan kota dengan 5 wilayah tertinggi yaitu Sanggau 1816 hotspot, Mempawah dan Sambas masing-masing 1190 hotspot, Landak 807 hotspot, Ketapang 657 hotspot.

    Baca: Titik panas di Kalimantan dan Sumatera meningkat signifikan

    Dijelaskan, sebanyak 2.652 hotspot terpantau di sejumlah konsesi perusahaan, dengan hotspot terbanyak berada di konsesi PT. Perkebunan Nusantara XIII (124),

    Disusul kemudian PT. Kapuas Palm Industri (108), Sumatera Unggul Makmur (106), PT. Global Kalimantan Makmur (103), Mitra Austral Sejahtera (89), Peniti Sungai Purun (60).

    Sementara itu jika dioverlay dengan peta izin Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH), terdapat 1061 hotspot yang berada pada 54 konsesi. Dengan terbanyak berada di PT. Finantara Intiga (143).

    Disusul PT Duta Andalan Sukses (102), PT Fajar Wana Lestari (88), Inhutani Nanga Pinoh (72), PT. Kanya Resources (71), Mayawana Persada (57), Citra Mulia Inti (43) dan Gambaru Selaras Alam (41).

    Kebakaran lahan gambut masih terjadi di tahun 2.025, identifikasi hotspot yang berada di kawasan Hidrologis gambut, ditemukan 2.353.

    Hotspot ini berada di 36 konsesi perkebunan kelapa sawit, dengan terbanyak pada PT Sumatera Unggul Makmur (89), Peniti Sungai Purun (53), Mitra Andalan Sejahtera (18), Muara Sungai Landak (17), Bumi Perkasa Khatulistiwa (16), Sebukit Internusa (14), Buluh Cawang Plantation(13), Condong Garut (8).

    Baca: KLH ingatkan potensi karhutla di bulan Agustus