Tag: kebakaran hutan

  • Masih Hujan, Pemprov Riau Justru Tetapkan Status Siaga Darurat Kebakaran Hutan

    Masih Hujan, Pemprov Riau Justru Tetapkan Status Siaga Darurat Kebakaran Hutan

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi Riau menetapkan status siaga darurat kebakaran hutan, meski hujan hingga menyebabkan banjir melanda sebagian wilayah ini.

    Status siaga darurat kebakaran hutan yang berlaku hingga akhir November ini dituangkan dalam Surat Keputusan (SK) nomor: Kpts.293/III/2024 dan ditandatangani oleh Penjabat (Pj) Gubernur Riau SF Hariyanto,

    “Riau melakukan penetapan siaga darurat karhutla itu karena ada daerah yakni Kota Dumai dan Kabupaten Bengkalis yang telah menetapkan status siaga darurat yang sama,” jelas Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, M Edy Afrizal seperti yang dilansir Kompas.

    Baca: BMKG ingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan

    Menurut Edy, dengan status darurat seperti ini, penanganan kebakaran hutan dan lahan di Riau dapat dilakukan secara maksimal.

    Selain itu pihaknya juga dapat membantu meminimalkan cedera pada manusia, kerusakan lingkungan, kerugian aset/peralatan, dan dampak reputasi yang dapat terjadi.

    Sementara itu berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir per 12 Maret 2024 menunjukkan ada 116 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia.

    Jumlah titik panas ini bertambah 95 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.

    Baca: Titik panas di Sumatera bertambah

    Dari 116 titik panas terdeteksi, satu titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi (skala 80-100), 113 titik skala sedang (30-79), dan dua titik skala rendah (0-29).

    Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Timur sebanyak 54 titik. Kalimantan Selatan menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 15 titik.

    Kepulauan Riau berada di posisi ketiga sebanyak 11 titik panas. Sebanyak tujuh titik panas terdeteksi di Aceh.

    Kemudian Sulawesi Selatan dengan enam titik panas, serta Sulawesi Tengah dan Jambi masing-masing memiliki enam dan empat titik panas terdeteksi.

    Baca: BPBD Riau minta tambahan helikopter untuk padamkan kebakaran hutan

    Untuk wilayah Riau, menurut Edy situasi tahun ini cukup berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

    Sejumlah daerah seperti Pelalawan, Kampar dan Indragiri Hulu masih terendam banjir, tapi daerah pesisir terbakar.

    “Tahun ini cukup unik, Pelalawan, Indragiri Hulu dan daerah lain masih banjir. Tetapi di daerah pesisir seperti Dumai, Bengkalis ini sudah terbakar. Tentu kita patut bersiap,” jelas Edy.

    Reporter: Nurakhmayani

  • BMKG: Titik Panas di Riau Meningkat Jadi 124 Titik

    BMKG: Titik Panas di Riau Meningkat Jadi 124 Titik

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mendeteksi lonjakan jumlah titik panas di Provinsi Riau menjadi 124 titik.

    Kabupaten Kepulauan Meranti menjadi lokasi terbanyak yakni 58 titik panas dari data yang diperbarui, Minggu (24/03/2024) sore.

    Prakirawan BMKG Pekanbaru, Sanya G, menyampaikan, selain Kepulauan Meranti jumlah titik panas yang banyak lainnya juga terdapat di Kota Dumai sebanyak 36 titik.

    Kemudian Kabupaten Bengkalis 13 titik, Pelalawan (8), Inderagiri Hilir (4), Siak (3), dan masing-masing satu di Rokan Hilir dan Kuantan Singingi.

    Baca: Riau tetapkan status darurat kebakaran hutan

    “Ada sebanyak 99 titik panas dengan 14 tingkat kepercayaan rendah, 101 sedang dan sembilan yang tinggi. Tersebar di delapan kabupaten/kota di Riau,” katanya.

    Jumlah titik panas tersebut meningkat dari Minggu pagi yang berjumlah 79 titik. Ketika itu jumlah titik panas terbanyak juga terjadi di Kabupaten Kepulauan Meranti dan Kota Dumai.

    Saat ini di Kota Dumai kabut asap yang pekat terlihat menyelimuti daerah tersebut akibat kebakaran lahan di sana.

    Berdasarkan laporan harian kebencanaan, kebakaran hutan dan lahan terjadi di sejumlah lokasi ada seluas 37 hektare.

    Baca: Sejumlah wilayah berpotensi kebakaran hutan

    Sementara di Kepulauan Meranti juga terjadi karhutla yang luasnya mencapai 40 ha lebih. Itu terjadi di Pulau Rangsang pada lima titik yakni di Desa Telesung, Penyagun, Sungai Gayung Kiri, Renak Dungun dan perbatasan di Mantiasa.

    Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Meranti, Muhlisin, belum bisa memastikan berapa luas kebakaran secara keseluruhan.

    Namun untuk dua titik yaitu di Desa Telesung dan Penyagun saja diperkirakan sudah mencapai 40 hektar.

    Baca: Menteri LHK bantah ada asap yang melintas ke Malaysia

    Sementara itu secara keseluruhan di Pulau Sumatera terdapat 199 titik panas. Selain Provinsi Riau yang menjadi lokasi terbanyak, titik panas dalam jumlah mencolok lainnya terdapat di Bangka Belitung dengan 43 titik.

    Selanjutnya ada 7 titik panas di Sumatera Selatan, masing-masing 5 di Kepulauan Riau dan Jambi.

    Lalu masing-masing dua di Nangroe Aceh Darussalam dan Lampung serta masing-masing 1 di Sumatera Barat dan Sumatera Utara

    Sumber: Antaranews

  • Perubahan Iklim Membuat Kebakaran Hutan di Wilayah Mediterania Semakin Parah

    Perubahan Iklim Membuat Kebakaran Hutan di Wilayah Mediterania Semakin Parah

    7cloud.asia – Ancaman kebakaran hutan yang semakin meningkat, baik dalam frekuensi maupun intensitas, sangat terkait dengan perubahan iklim di wilayah Mediterania Timur yang sangat rentan.

    Peringatan tentang ancaman kebakaran hutan yang meningkat akibat perubahan iklim ini disampaikan ilmuwan terkemuka Prof. Nikos Michalopoulos dari Observatorium Nasional Athena, Yunani.

    “Mediterania, terutama Mediterania Timur, adalah titik panas iklim di mana suhu meningkat jauh lebih cepat dibandingkan dengan wilayah lain di dunia, dan jumlah hari yang sangat panas meningkat secara signifikan dalam tiga dekade terakhir,” katanya dikutip Anadolu.

    Kebakaran hutan ini, menurutnya, disebabkan cuaca kering dan gelombang panas yang ekstrem, dikombinasikan dengan curah hujan yang tidak mencukupi untuk membasahi vegetasi.

    Angin utara yang kencang yang disebut meltemi, menciptakan kondisi sempurna untuk memulai dan dengan cepat menyebarkan kebakaran hutan di Mediterania.

    Baca: Disayangkan, COP 28 tanpa mandat tegas pengurangan energi fosil

    Terkait dampak kebakaran hutan, Michalopoulos mengatakan bahwa emisinya tidak hanya beracun bagi manusia, tetapi juga berkontribusi lebih lanjut pada pemanasan global.

    “Secara langsung, kebakaran hutan melakukannya dengan menyerap radiasi matahari dan menghasilkan gas rumah kaca,” jelasnya.

    Ia menambahkan, kebakaran menghancurkan vegetasi dan lahan hutan yang berfungsi menyaring polutan, sehingga kita terpapar lebih banyak polusi udara.

    Penurunan hutan, yang juga berfungsi sebagai pendingin udara alami, akan membuat cuaca semakin panas di masa mendatang, tambahnya.

    Di Athena, yang telah mengalami beberapa kebakaran hutan besar dalam beberapa tahun terakhir, termasuk satu di awal Agustus, kehancuran hutan dan flora di sana merupakan ancaman yang sangat serius, menurut Michalopoulos.

    Baca: Sekjen PBB serukan untuk tinggalkan energi fosil

    “Dengan mempertimbangkan bahwa hampir 40 persen lahan hutan di sekitar Athena telah hancur dalam delapan tahun terakhir, bulan-bulan dan tahun-tahun mendatang akan lebih berat dalam hal suhu dan kejadian ekstrem lainnya,” katanya memperingatkan.

    Tentang langkah-langkah untuk mengurangi dampak deforestasi yang disebabkan oleh kebakaran hutan, dia mengatakan bahwa fokusnya harus pada pencegahan, dengan menekankan bahwa warga harus berperan serta dan tidak hanya mengandalkan otoritas.

    “Orang-orang harus menjaga lahan mereka tetap bersih dan memiliki tangki air atau waduk kecil di kebun mereka untuk membantu saat kebakaran terjadi,” ujarnya.

    Dari perspektif yang lebih luas, langkah pencegahan paling penting adalah untuk mendinginkan dunia, katanya.

    “Itu adalah upaya jangka panjang yang akan memakan waktu puluhan tahun bahkan jika volume emisi karbon berhenti meningkat seketika,” katanya.

    “Karena itu, kita perlu menyesuaikan cara hidup kita, termasuk tinggal di rumah yang lebih kecil, mengonsumsi lebih sedikit daging, dan akibatnya menghasilkan lebih sedikit gas rumah kaca.”

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu-OANA

  • Kebakaran Hutan Meningkat Akibat Perubahan Iklim, Ini Dampaknya pada Lingkungan

    Kebakaran Hutan Meningkat Akibat Perubahan Iklim, Ini Dampaknya pada Lingkungan

    7cloud.asia – Ancaman kebakaran hutan yang semakin meningkat, baik dalam frekuensi maupun intensitas, di wilayah Mediterania Timur sangat terkait dengan perubahan iklim

    Peneliti senior di Yayasan Penelitian dan Teknologi-Hellas, Athanasios Nenes menyebut kurangnya curah hujan yang cukup dan pola panas ekstrem sebagai alasan utama peningkatan kebakaran hutan di Yunani dan Mediterania Timur.

    Kita, ujarnya, semakin sedikit mendapatkan hujan. Saat hujan turun, itu sering kali terjadi dalam bentuk kejadian ekstrem, termasuk badai dan banjir.

    ”Jadi, air cepat mengalir dan tidak terserap oleh tanah dan ekosistem. Ini benar-benar masalah besar,” kata Nenes, yang juga direktur Laboratorium Proses Atmosfer di Universitas Politeknik Lausanne.

    “Di Mediterania, baik air laut maupun air tanah mengalami suhu yang sangat tinggi. Ketika air sangat hangat, itu juga cenderung memperkuat panas di daratan, karena air berfungsi sebagai penampung panas,” jelasnya.

    Baca: Kebakaran hutan di Yunani tewaskan puluhan orang

    Ia menambahkan, peningkatan frekuensi dan intensitas kebakaran hutan membuat wilayah Mediterania rentan terhadap lebih banyak kebakaran karena tanah tidak punya waktu untuk pulih.

    Kelebihan kunjungan wisatawan dan penggunaan praktik pertanian yang sudah usang yang mengonsumsi terlalu banyak air juga mengeringkan tanah, yang pada akhirnya menyebabkan lebih banyak kebakaran hutan, tambahnya.

    Tentang dampak kebakaran hutan terhadap alam, Nenes mengatakan kebakaran tersebut membakar vegetasi alami yang penting untuk mempertahankan kelembaban dan mengurangi banjir.

    Kebakaran hutan juga menghancurkan flora dan fauna yang merupakan komponen penting dari ekosistem.

    Untuk kesehatan manusia, dia menekankan bahaya serius dari asap yang dikeluarkan oleh kebakaran hutan.

    “Ketika hutan terbakar, Anda melepaskan sejumlah besar partikel yang kaya akan senyawa karsinogenik. Ketika Anda menghirup partikel-partikel ini, tubuh Anda mengalami peradangan dari dalam, akibat stres oksidatif,” katanya.

    Baca: Perubahan iklim akibatkan gelombang panas di Eropa semakin ganas

    “Partikel-partikel ini dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan menyebabkan diabetes, penuaan dini, masalah paru-paru, dan sesak napas.”

    Nenes juga menunjukkan adanya hubungan langsung antara kebakaran hutan dan perubahan iklim.

    “Banyak peneliti telah menunjukkan bahwa tanpa masalah iklim, kita tidak akan mengalami kebakaran hutan besar-besaran seperti sekarang. Mungkin masih ada beberapa kebakaran, karena ini adalah fenomena alami, tetapi tidak seperti yang kita alami sekarang,” katanya.

    Dia menekankan perlunya tindakan di tingkat individu dan negara, seperti meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan publik.

    Orang-orang harus diimbau untuk tidak menyalakan api kecil di hutan, dan perlu ada lebih banyak investasi dalam teknologi baru untuk respons cepat, kata Nenes.

    “Selain itu, solusi paling efektif adalah mengurangi emisi karbon dioksida, emisi gas rumah kaca, dan benar-benar mencapai titik di mana kita tidak lagi mengalami pemanasan,” pungkasnya.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu-OANA

  • BNPB Catat 629 Kasus Karhutla Terjadi di Indonesia Sepanjang 2024

    BNPB Catat 629 Kasus Karhutla Terjadi di Indonesia Sepanjang 2024

    7cloud.asia – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 629 kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah di Indonesia sepanjang tahun 2024.

    Angka ini menurun jika dibandingkan kasus kebakaran hutan dan lahan pada 2023 yang mengakibatkan lebih 1 juta hektare lahan hangus terbakar.

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari di Jakarta, Kamis (9/1/2025) mengatakan hampir semua kasus kebakaran hutan ini berhasil ditanggulangi dengan baik.

    Ditambahkan, kasus kebakaran hutan dan lahan mengalami peningkatan hingga cukup mendominasi pada periode bulan Juli-Oktober 2024.

    BNPB menilai kondisi itu terjadi lantaran pada periode Juli-Oktober Indonesia mulai beralih ke musim kering dan beberapa di antaranya cukup ekstrem karena menjalani hari tanpa hujan yang cukup panjang.

    Baca: Parahnya kebakaran hutan pada 2023

    “Peningkatannya hingga ratusan kejadian per bulan pada periode Juli-Oktober tersebut yang merupakan musim kering,” kata dia.

    Menurutnya sebaran karhutla hampir merata terjadi di antaranya seperti Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Bangka Belitung, Jawa Tengah, Jawa Timur.

    Kebakaran hutan dan lahan juga tercatat terjadi di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan.

    Adapun objek yang terbakar menyasar kawasan hutan, lahan mineral dan gambut yang ada di daerah itu dengan luas ratusan ribu hektare.

    Dari sejumlah daerah tersebut diketahui Provinsi Sumatera Selatan menjadi daerah yang mengalami karhutla cukup signifikan pada tahun 2024.

    Baca: Harga mahal yang harus dibayar akibat kebakaran hutan pada 2023

    Berdasarkan data dari Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan dan Lahan (BPPIKHL) Wilayah Sumatera tercatat luasan karhutla di Sumatera Selatan mencapai 9.697 hektare selama periode Januari-September 2024.

    Karhutla di Sumatera Selatan yang terbanyak terjadi di lahan mineral dengan luas mencapai 6.382 hektare.

    Sementara sisanya terjadi di lahan gambut seluas 3.316 hektare yang masing-masing tersebar di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir, Muara Enim, dan Banyuasin.

    Muhari mengatakan curah hujan yang intens pada 2024 cukup membantu penanganan kebakaran hutan selain juga berkat kolaborasi dari kementerian bersama lembaga terkait dan pemerintah daerah.

    BNPB sendiri menyiagakan sejumlah helikopter untuk waterboombing atau penyiraman air dari udara, pesawat pemantauan udara termasuk dukungan peralatan dan juga dana bantuan operasional ke daerah terdampak karhutla tersebut.

  • Wilayah Riau Paling Sering Dilanda Kebakaran, BMKG Ungkap Penyebabnya

    Wilayah Riau Paling Sering Dilanda Kebakaran, BMKG Ungkap Penyebabnya

    7cloud.asia – Titik api atau hotspot mulai ditemukan di beberapa wilayah. Salah satunya Riau yang tercatat ada 144 titik hotspot dan 81 hektar lahan terbakar hingga akhir April 2025. Riau memang wilayah yang sering dilanda kebakaran, karena berbagai faktor.

    Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menjelaskan wilayah Riau berpotensi terjadi kebakaran lahan meski tanpa ada pembakaran karena faktor angin dan gesekan ranting.

    Dalam rilis BMKG, Dwikorita menerangkan adanya musim kemarau yang terjadi dua kali di Riau menyebabkan wilayah ini menjadi sering terjadi hotspot.

    Baca: BRIN sebut pengolahan lahan gambut pemicu kebakaran lahan

    Khusus Wilayah Riau, secara alamiah berpotensi mengalami dua kali musim kemarau, yakni pada Februari–Maret dan kembali pada Mei hingga Agustus, yang diprediksi menjadi puncak kemarau. Kondisi ini menyebabkan provinsi ini lebih sering mengalami hotspot dibanding wilayah lain.

    “Bahkan meski tanpa pembakaran, potensi kebakaran tetap ada karena faktor angin dan gesekan ranting. Maka prediksi berbasis data sangat penting untuk mitigasi,” jelas mantan rektor UGM ini.

    BMKG memperkirakan periode April-Mei 2025, risiko karhutla umumnya rendah. Namun beberapa area di Riau, Sumatera Utara, dan Nusa Tenggara Timur mulai menunjukkan risiko menengah hingga tinggi.

    Bulan Juni 2025, peningkatan signifikan risiko karhutla terjadi di wilayah Riau (41,5% wilayah berisiko tinggi), Sumatera Utara, Jambi, dan sekitarnya.

    Baca: Curah hujan berkurang, titik panas mulai muncul di Riau

    Sifat kemarau diprediksi didominasi kondisi normal (sekitar 60%), namun 26% wilayah berpotensi mengalami kemarau atas normal (lebih basah) dan 14% bawah normal (lebih kering).

    Lebih jauh Dwikorita memaparkan, periode April-Mei 2025 risiko karhutla umumnya rendah. Sedangkan, Bulan Juli-September 2025, risiko karhutla meluas ke Kalimantan, Nusa Tenggara, dan Papua.

    Wilayah Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Papua Selatan, Kalimantan Selatan, serta Bangka Belitung menjadi wilayah dengan potensi risiko karhutla tertinggi.

    Baca: Musim Kemarau 2025 lebih singkat, ini penyebabnya

    Kemudian pada Oktober 2025, risiko karhutla diprediksi tetap tinggi di wilayah Nusa Tenggara Timur, Papua Selatan, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah.

    Karena itu, BMKG bersama BNPB dan pemerintah daerah melakukan berbagai langkah antisipasi. Diantaranya mendorong upaya pembasahan lahan, upaya mempertahankan tinggi muka air di lahan.

    Selain itu, upaya lainnya adalah pengisian embung-embung serta kanal dengan memanfaatkan hujan yang masih ada saat periode transisi menjelang musim kemarau.

    Baca: Musim kemarau 2025 diperkirakan bulan Mei, waspada dampaknya

    Upaya penguatan lainnya juga dilakukan dalam bentuk penyiagaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), patroli udara, serta pengawasan lapangan secara berkala, khususnya di wilayah Riau yang saat ini telah berstatus siaga darurat karhutla.

    “BMKG berkomitmen untuk terus memantau perkembangan iklim dan potensi karhutla serta menyampaikan informasi terkini kepada masyarakat dan pihak terkait demi mencegah dampak buruk yang mungkin terjadi. Dengan data yang akurat dan tindakan yang cepat, kita bisa mencegah bencana besar,” urainya.

  • Kebakaran Hutan dan Lahan Dilaporkan Mulai Terjadi di Sejumlah Daerah

    Kebakaran Hutan dan Lahan Dilaporkan Mulai Terjadi di Sejumlah Daerah

    7cloud.asia – Memasuki awal musim kemarau, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dilaporkan mulai menerpa sejumlah wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng).

    Menyikapi hal ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendorong pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam mengantisipasi kemungkinan kebakaran hutan di daerah masing-masing.

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam keterangan di Jakarta, Senin (5/5/2025) mengatakan, pihaknya memantau dua kejadian karhutla masing-masing seluas 0,5 hektare di Kabupaten Lamandau dan 1 hektare di Kabupaten Kotawaringin Barat

     

    Baca: Musim kemarau 2025 diperkirakan berlangsung lebih pendek

    Kebakaran hutan di dua wilayah ini telah berhasil dipadamkan oleh petugas BPBD setempat pada Sabtu (3/5/2025).

    “Pemadaman telah dilakukan sejak awal kemunculan titik api dan saat ini kedua lokasi telah dinyatakan padam,” ujarnya.

    Pusat Pengendalian dan Operasi (Pusdalops) BNPB mencatat sebanyak 38 kejadian karhutla terjadi di seluruh wilayah Kalimantan Tengah pada medio Januari hingga 4 Mei 2025, dengan sebaran 180 titik panas dan total luas lahan terdampak mencapai 25,46 hektare.

    Kabupaten Sukamara tercatat sebagai wilayah dengan luas lahan terbakar terbesar, yakni 6,90 hektare, disusul Kabupaten Barito Utara dengan 4,01 hektare.

    Baca: Kebakaran Hutan meningkat akibat perubahan iklim

    Menurut Abdul, penyebab kejadian masih dalam proses penyelidikan oleh aparat penegak hukum di masing-masing wilayah.

    Menanggapi tren karhutla yang terus berulang, BNPB mengingatkan pemerintah daerah untuk menyiagakan peralatan pemadaman, kendaraan operasional, personel, serta anggaran cadangan untuk mendukung upaya pencegahan dan penanggulangan bencana.

    Langkah kesiapsiagaan harus terus diperkuat terutama di enam provinsi prioritas rawan karhutla yaitu Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Jambi, dan Riau.

    “Serta satu provinsi dengan penanganan khusus, yakni Kalimantan Timur,” kata Abdul, seraya mengingatkan supaya masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar dan diharapkan aktif melaporkan jika menemukan titik api di wilayahnya masing-masing

  • Riau Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan, BMKG Lakukan Modifikasi Cuaca

    Riau Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan, BMKG Lakukan Modifikasi Cuaca

    7cloud.asia – Berbagai cara dilakukan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk mengatasi potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang rawan terjadi di Provinsi Riau. Salah satunya Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

    OMC ini dilakukan di wilayah gambut, Provinsi Riau sejak 1 hingga 7 Mei 2025. Saat ini Riau mulai memasuki musim kemarau dan karhutla kerap terjadi.

    Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menjelaskan OMC dilakukan untuk mempercepat turunnya hujan. Dengan begitu lahan menjadi basah dan lembap. Selain itu OMC dilakukan untuk mencegah perluasan kebakaran.

    Sebab, lahan gambut yang kering sangat mudah terbakar. Apalagi kecepatan angin cukup kencang, sehingga proses pemadaman api akan sulit.

    Baca: Riau kerap terjadi kebakaran hutan, ini penyebabnya

    “Bahkan tanpa aktivitas pembakaran, lahan gambut tetap berpotensi terbakar karena angin kencang dan gesekan ranting saat musim kemarau. Karena itu, mitigasi harus dilakukan sebelum munculnya api,” jelas Dwikorita dalam keterangan persnya.

    Selanjutnya Dwikorita menjelaskan saat ini sebanyak 10 kabupaten/kota di Riau telah menetapkan status siaga darurat karhutla, menyusul munculnya 144 titik panas (hotspot) dan terbakarnya 81 hektare lahan.

    Hingga 4 Mei 2025, OMC telah dilakukan sebanyak empat sorti penyemaian awan dengan total 3,2 ton bahan semai berupa garam (NaCl).

    Total waktu terbang mencapai 8 jam 33 menit, menyasar awan-awan potensial yang mampu menghasilkan hujan.

    Baca: Kebakaran hutan dan lahan mulai terjadi

    Dwikorita memaparkan target OMC difokuskan pada pesisir timur bagian utara dan selatan Provinsi Riau. Area ini kerap terjadi kebakaran dengan frekuensi tinggi.

    Dengan dilakukan OMC, kubah air dalam tanah gambut terisi kembali sehingga tidak mudah mengering dan terbakar saat musim kemarau berlangsung.

    Berdasarkan sistem early warning BMKG, musim kemarau di Indonesia, termasuk Riau, telah dimulai sejak April dan diprediksi mencapai puncaknya antara Juni hingga Agustus 2025.

    Baca: BNPB catat 269 kasus kebakaran hutan dan lahan sepanjang 2024

    Sementara Provinsi Riau mengalami dua kali musim kemarau dalam setahun, yakni Februari–Maret dan Mei–September. Kondisi ini meningkatkan risiko kebakaran hutan di Provinsi Riau menjadi lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya.

    Potensi kekeringan dan Karhutla pada Mei hingga September 2025 diperkirakan meningkat akibat anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik dan wilayah barat Indonesia.

    “Karena itu, diperlukan intervensi melalui OMC untuk menjaga kelembapan gambut dan mencegah kebakaran sebelum musim kemarau mencapai puncaknya,” jelas Dwikorita.

    Sementara itu, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menjelaskan kondisi cuaca saat ini mendukung untuk dilakukan OMC.

    Baca: Curah hujan berkurang, titik panas di Riau mulai muncul

    “Dengan kondisi cuaca yang masih relatif mendukung pembentukan awan hujan, OMC diharapkan mampu menekan jumlah hotspot dan mengurangi risiko kebakaran gambut yang biasa terjadi pada pertengahan hingga akhir musim kemarau,” jelas Seto.

    Lebih jauh Seto memaparkan pelaksanaan OMC di Riau merupakan hasil kolaborasi antara BMKG, BNPB, TNI Angkatan Udara, operator swasta, dan sejumlah pemangku kepentingan.

    Operasi ini menggunakan pesawat Cessna Caravan 208B yang telah dimodifikasi khusus untuk penyemaian awan.

     

  • Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit Diminta Ikut Mengantisipasi Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan

    Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit Diminta Ikut Mengantisipasi Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan

    7cloud.asia – Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq meminta perusahaan perkebunan kelapa sawit ikut mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

    Sikap perusahaan sawit tersebut dianggap penting untuk menghadapi risiko kebakaran hutan di awal kemarau, terutama di lahan gambut dan perkebunan.

    Hanif mengingatkan hal tersebut dalam rapat koordinasi bersama organisasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) di Pekanbaru, Riau, pada Sabtu, 10 Mei 2025. Riau termasuk rawan dan memiliki potensi tinggi terjadinya karhutla.

    “Jika perusahaan bisa mengimplementasikan sistem manajemen kebakaran yang baik, maka kita memiliki harapan besar untuk mencapai target zero kebakaran di wilayah perkebunan,” katanya agenda tersebut, dikutip dari keterangan tertulis.

    Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup, ada 184 titik panas yang ditemukan di seluruh Indonesia hingga 9 Mei lalu. Jumlah ini menurun 61 persen dibanding 2024. Namun, Karhutla tetap menjadi ancaman besar di wilayah seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Riau.

    “Angka hotspot ini adalah indikator nyata dari meningkatnya kerawanan kebakaran. Meski ada penurunan, kita tidak boleh lengah,” ujar Hanif.

    Dia menyebut perubahan iklim dan pola cuaca semakin ekstrem. Dampaknya termasuk kemarau panjang yang menjadi salah satu faktor utama meningkatnya kebakaran hutan.

    Hanif meminta GAPKI dan seluruh perusahaan anggotanya tidak tinggal diam. Entitas pengelola perkebunan dianggap berperan vital mengendalikan karhutla.

    Untuk mencegah Karhutla, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggelar serangkaian modifikasi cuaca, yaitu pada 1-7 Mei, kemudian disambung hingga 12 Mei 2025. Operasi ini menyasar lahan gambut yang rawan terbakar ketika kemarau panjang, serta untuk mengisi embung-embung cadangan air.

    “Dengan mempertimbangkan masih adanya potensi awan hujan yang bisa diturunkan, untuk memaksimalkan upaya pembasahan,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari pada Rabu, 7 Mei 2025.

  • Penggunaan Teknologi Komputasi Dinamika Fluida untuk Mencegah dan Mengatasi Kebakaran Hutan

    Penggunaan Teknologi Komputasi Dinamika Fluida untuk Mencegah dan Mengatasi Kebakaran Hutan

    7cloud.asia – Perubahan iklim membuat kebakaran hutan semakin sering terjadi, lebih besar, cepat, dan semakin merusak.

    Kita tentu masih ingat kebakaran hebat yang bermula dari hutan yang melanda Los Angeles, California AS, sehingga menewaskan puluhan warga dan mengakibatkan kerugian miliaran dolar.

    Pada tahun 2023, Kanada kehilangan lebih dari 4,3 juta hektare hutan akibat kebakaran hutan menjadi pengingat bahwa setiap orang, terlepas dari kekayaan atau status, rentan terhadap dampak perubahan iklim.

    Kebakaran hutan juga dapat terjadi akibat pembakaran terkendali yang berubah menjadi tidak terkendali.

    Hal ini seperti yang terjadi dengan Kebakaran Calf Canyon/Hermits Peak – kebakaran hutan terbesar dalam sejarah negara bagian New Mexico – dimulai oleh dua contoh berbeda dari pembakaran terkendali, yang keduanya sengaja dimulai oleh Dinas Kehutanan AS.

    Dalam kasus ini, teknologi komputasi dinamika fluida (Computational Fluid Dinamics/CFD) dapat digunakan untuk mengendalikan kebakaran dengan lebih baik, sehingga mengurangi risiko kebakaran yang tidak terkendali.

    Baca: Teknologi CFD membangun resilien terhadap udara panas

    CFD juga dapat membantu kita memahami bagaimana angin membawa api dan asap. Model-model ini dapat membantu memprediksi pola kebakaran, memandu penempatan sekat api, dan merancang strategi evakuasi.

    Model-model ini juga membantu membangun struktur tahan api dengan mensimulasikan bagaimana bara api dan panas dapat merambat di medan yang kompleks.

    Prospek penerapan CFD
    Dalam tulisan sebelumnya, telah diulas bagaimana komputasi dinamika fluida dapat digunakan untuk mengatasi pulau panas perkotaan dan mendesain kota yang lebih tahan banjir.

    Daftar ini tidak mencakup potensi penuh CFD untuk ketahanan iklim. Faktanya memang CFD masih kurang digunakan terutama karena kompleksitasnya, dan kebutuhan daya pemrosesan komputer yang tinggi.

    Namun, diperkirakan kondisi ini akan berubah dalam tahun-tahun mendatang. Peningkatan perangkat keras yang berkelanjutan menurunkan biaya dan intensitas energi CFD.

    Beberapa tahun belakangan, chip komputasi berkinerja tinggi menjadi jauh lebih murah dan lebih bertenaga.

    Baca: Teknologi CFD membangun kota responsif terhadap banjir

    Demikian pula, kluster komputasi berkinerja tinggi dan platform superkomputer berbasis cloud menjadi lebih cepat dan lebih efisien.

    Keduanya juga menjadi lebih mudah digunakan. Kecerdasan buatan akan semakin membuat CFD dapat diakses oleh mereka yang memiliki keterampilan pengkodean terbatas.

    Banyaknya tutorial daring, dukungan komunitas, model bahasa yang besar, dan kumpulan data yang tersedia secara gratis semuanya berarti bahwa CFD sumber terbuka menjadi lebih mudah diakses oleh perencana kota dengan anggaran dan pelatihan terbatas.

    Tentu saja, seperti halnya teknologi baru lainnya, mereka yang baru mengenal CFD harus waspada terhadap sistem CFD yang dianalisis dengan buruk, karena hal ini dapat menyebabkan desain yang salah atau berbahaya.

    Pada akhirnya, aksesibilitas CFD akan meningkat secara eksponensial. Karena semakin banyak orang yang menggunakannya, akan semakin banyak model yang telah divalidasi sebelumnya dan kumpulan data yang terstandarisasi.

    Basis pengetahuan bersama ini dapat mengurangi siklus coba-coba secara signifikan.

    Baca: Bangunan hijau jadi solusi untuk kota yang berkelanjutan