7cloud.asia – Memasuki akhir musim kemarau, krisis air bersih terjadi di sejumlah daerah seperti Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta; Jember, Jawa Timur; Cianjur dan Bogor Jawa Barat, Nusa Tenggara barat dansejumlah daerah lainnya.
Kemarau panjang tidak hanya mengancam ketersediaan air bersih, tetapi juga mengancam ratusan hektar lahan pertanian yang berisiko gagal panen karena kurangnya pasokan air.
Salah satu daerah yang paling terdampak adalah Kampung Leuwi Urug, Desa Rahong, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Warga setempat terpaksa menggunakan air kubangan dari aliran Sungai Cilaku untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi, minum, dan memasak, karena sumur-sumur mereka telah mengering.
Kondisi ini telah menyebabkan sejumlah warga mengalami gangguan kesehatan seperti gatal-gatal.
Baca: Warga Jonggol alami krisis air bersih
Menyikapi kondisi krisis air ini, Ketua DPR Puan Maharani mendesak agar langkah-langkah darurat segera diambil untuk mengatasi krisis di daerah-daerah yang masih mengalami kekeringan, termasuk di Kampung Leuwi Urug.
“Pengiriman air bersih harus segera dilakukan sebagai solusi jangka pendek agar warga tidak lagi menggunakan air kubangan yang berpotensi membahayakan kesehatan mereka,” ungkap Puan kepada Parlementaria, Rabu (11/9/2024).
Puan menekankan perlunya penyediaan bantuan seperti tablet desinfektan air untuk meminimalisir risiko penyakit. Ia juga mendorong Pemerintah Daerah (Pemda) untuk berkoordinasi dengan Pemerintah pusat atau lembaga terkait jika memerlukan bantuan.
“Dan pastikan libatkan juga instansi kesehatan untuk mengantisipasi dampak penggunaan air tidak sehat terhadap masyarakat,” tambah Puan.
Puan, mendorong pemerintah untuk bekerja sama dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk sektor swasta, LSM, dan organisasi non-pemerintah (NGO) yang bergerak di bidang air bersih, guna mempercepat distribusi dan penyediaan fasilitas air bersih, terutama di daerah yang sulit dijangkau.
Baca: Jawa diprediksi akan alami kekeringan parah pada 2100 jika perilaku tak diubah
“Langkah-langkah ini harus dilakukan secara simultan untuk mengurangi risiko jangka panjang. Respons cepat dari Pemerintah, khususnya Pemda, sangat diharapkan agar kebutuhan dasar masyarakat, seperti akses air bersih dapat terpenuhi,” ujar Puan
Tidak hanya itu, Puan juga menekankan pentingnya edukasi dan penyuluhan kesehatan bagi warga yang terdampak kemarau panjang.
Ia meminta Pemerintah untuk memberikan informasi mengenai bahaya penggunaan air yang terkontaminasi serta pentingnya menjaga sanitasi. Edukasi dan penyuluhan, ujarnya, harus beriringan dengan solusi dan antisipasi yang telah dilakukan Pemerintah.
“Meskipun saat ini sudah memasuki peralihan musim, saya berharap Pemerintah tetap melakukan pendataan dan memonitor wilayah-wilayah yang masih terkena dampak kekeringan,” kata Puan.
Mengakhiri pernyataannya dengan menegaskan bahwa kerja sama lintas sektor dan langkah antisipatif yang kuat diperlukan untuk memastikan krisis air bersih dapat teratasi dan tidak berulang di masa mendatang.
Puan menegaskan bahwa Pemerintah harus mempersiapkan langkah-langkah antisipatif jangka panjang untuk menangani kekeringan yang kerap terjadi saat musim kemarau.
Ia menyarankan pembangunan sarana penyimpanan air dan sumur di daerah-daerah yang rentan terhadap krisis air.
Puan menambahkan bahwa reboisasi dan perbaikan aliran sungai sangat diperlukan untuk memastikan keberlanjutan sumber air, agar wilayah-wilayah rentan tidak lagi mengalami krisis air setiap tahun.
“Pengelolaan sumber air secara berkelanjutan adalah kunci untuk menjaga ketersediaan air di masa mendatang,” ungkapnya.





