Tag: krisis air

  • Musim Kemarau Memuncak, Krisis Air Terjadi di Sejumlah Daerah

    Musim Kemarau Memuncak, Krisis Air Terjadi di Sejumlah Daerah

    7cloud.asia – Memasuki akhir musim kemarau, krisis air bersih terjadi di sejumlah daerah seperti Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta; Jember, Jawa Timur; Cianjur dan Bogor Jawa Barat, Nusa Tenggara barat dansejumlah daerah lainnya.

    Kemarau panjang tidak hanya mengancam ketersediaan air bersih, tetapi juga mengancam ratusan hektar lahan pertanian yang berisiko gagal panen karena kurangnya pasokan air.

    Salah satu daerah yang paling terdampak adalah Kampung Leuwi Urug, Desa Rahong, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

    Warga setempat terpaksa menggunakan air kubangan dari aliran Sungai Cilaku untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi, minum, dan memasak, karena sumur-sumur mereka telah mengering.

    Kondisi ini telah menyebabkan sejumlah warga mengalami gangguan kesehatan seperti gatal-gatal.

     

    Baca: Warga Jonggol alami krisis air bersih

    Menyikapi kondisi krisis air ini, Ketua DPR Puan Maharani mendesak agar langkah-langkah darurat segera diambil untuk mengatasi krisis di daerah-daerah yang masih mengalami kekeringan, termasuk di Kampung Leuwi Urug.

    “Pengiriman air bersih harus segera dilakukan sebagai solusi jangka pendek agar warga tidak lagi menggunakan air kubangan yang berpotensi membahayakan kesehatan mereka,” ungkap Puan kepada Parlementaria, Rabu (11/9/2024).

    Puan menekankan perlunya penyediaan bantuan seperti tablet desinfektan air untuk meminimalisir risiko penyakit. Ia juga mendorong Pemerintah Daerah (Pemda) untuk berkoordinasi dengan Pemerintah pusat atau lembaga terkait jika memerlukan bantuan.

    “Dan pastikan libatkan juga instansi kesehatan untuk mengantisipasi dampak penggunaan air tidak sehat terhadap masyarakat,” tambah Puan.

    Puan, mendorong pemerintah untuk bekerja sama dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk sektor swasta, LSM, dan organisasi non-pemerintah (NGO) yang bergerak di bidang air bersih, guna mempercepat distribusi dan penyediaan fasilitas air bersih, terutama di daerah yang sulit dijangkau.

    Baca: Jawa diprediksi akan alami kekeringan parah pada 2100 jika perilaku tak diubah

    “Langkah-langkah ini harus dilakukan secara simultan untuk mengurangi risiko jangka panjang. Respons cepat dari Pemerintah, khususnya Pemda, sangat diharapkan agar kebutuhan dasar masyarakat, seperti akses air bersih dapat terpenuhi,” ujar Puan

    Tidak hanya itu, Puan juga menekankan pentingnya edukasi dan penyuluhan kesehatan bagi warga yang terdampak kemarau panjang.

     Ia meminta Pemerintah untuk memberikan informasi mengenai bahaya penggunaan air yang terkontaminasi serta pentingnya menjaga sanitasi. Edukasi dan penyuluhan, ujarnya, harus beriringan dengan solusi dan antisipasi yang telah dilakukan Pemerintah.

    “Meskipun saat ini sudah memasuki peralihan musim, saya berharap Pemerintah tetap melakukan pendataan dan memonitor wilayah-wilayah yang masih terkena dampak kekeringan,” kata Puan.

    Mengakhiri pernyataannya dengan menegaskan bahwa kerja sama lintas sektor dan langkah antisipatif yang kuat diperlukan untuk memastikan krisis air bersih dapat teratasi dan tidak berulang di masa mendatang.

    Puan menegaskan bahwa Pemerintah harus mempersiapkan langkah-langkah antisipatif jangka panjang untuk menangani kekeringan yang kerap terjadi saat musim kemarau.

    Ia menyarankan pembangunan sarana penyimpanan air dan sumur di daerah-daerah yang rentan terhadap krisis air.

    Puan menambahkan bahwa reboisasi dan perbaikan aliran sungai sangat diperlukan untuk memastikan keberlanjutan sumber air, agar wilayah-wilayah rentan tidak lagi mengalami krisis air setiap tahun.

    “Pengelolaan sumber air secara berkelanjutan adalah kunci untuk menjaga ketersediaan air di masa mendatang,” ungkapnya.

  • Polusi dan Pengelolaan yang Buruk Dapat Memicu Krisis Air Global

    Polusi dan Pengelolaan yang Buruk Dapat Memicu Krisis Air Global

    7cloud.asia – Kekeringan di seluruh dunia menjadi lebih sering terjadi dan intens, serta terjadi dalam periode waktu yang semakin lama dalam beberapa dekade terakhir.

    Dalam laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) tahun 2018, ilmuwan iklim mengatakan bahwa air tanah yang tersimpan dalam akuifer, sangat sensitif terhadap perubahan iklim di masa mendatang.

    Kondisi ini dapat memicu krisis air yang mengancam lebih separuh penduduk dunia. Bahkan, saat inipun krisis air secara sporadis mulai terjadi di sejumlah negara.

    Selain perubahan iklim, kekeringan dan krisis air juga disebabkan oleh pengelolaan air yang buruk, meningkatnya permintaan dan polusi air yang terus meningkat.

    Saat ini, jumlah penduduk dunia diperkirakan mencapai 8 miliar orang, yang berarti permintaan air akan terus meningkat di tengah tekanan ketersediaan air akibat perubahan iklim.

    Urbanisasi dan peningkatan eksponensial dalam permintaan air tawar untuk rumah tangga merupakan faktor pendorong di balik krisis air, terutama di wilayah dengan pasokan air yang buruk.

    Baca: Industri Air Minum dalam Kemasan sembunyikan krisis air global

    Kasus nyata terjadi pada tahun 2018, saat warga kota Cape Town, Afrika Selatan mengalami krisis air dan menjadi kota modern pertama yang kehabisan air minum akibat kekeringan ekstrem. Pengelolaan sumber daya air yang buruk, dan konsumsi berlebihan juga memicu kondisi ini.

    Demikian pula, China juga berisiko kekurangan air karena pengelolaan air yang buruk. Setiap tahun, total sumber daya air terbarukan per penduduk diperkirakan sekitar 2.018 meter kubik, yang 75 persen lebih rendah dari rata-rata global, menurut Bank Dunia.

    Polusi Air
    Air yang terkontaminasi dan tidak aman merupakan faktor lain yang menyebabkan kekurangan air. Polusi air sudah membunuh lebih banyak orang setiap tahunnya dibandingkan perang dan semua bentuk kekerasan lainnya jika digabungkan.

    Dengan hanya kurang dari 1 persen air tawar di planet Bumi yang dapat diakses oleh kita, aktivitas manusia secara aktif mengancam sumber daya air kita sendiri.

    Polusi air dapat berasal dari sejumlah sumber, termasuk limbah dan air limbah – lebih dari 80 persen air limbah dunia mengalir kembali ke lingkungan tanpa diolah.

    Juga dari limpasan pertanian dan industri, tempat pestisida dan bahan kimia beracun meresap ke dalam air tanah dan sistem air tawar di sekitarnya.

    Baca: Banyak orang yang belum sadari dampak perubahan iklim yang sudah nyata

    Akibatnya, sumber daya air yang berharga menjadi terkontaminasi, mengakibatkan berkurangnya ketersediaan air tawar dan air minum.

    Air kini telah menjadi komoditi, bergabung dengan emas, minyak, dan komoditas lain yang dapat diperdagangkan di Wall Street. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa pasar dapat secara dramatis memperburuk dampak kekurangan air dan meningkatkan persaingan.

    Pasar perdagangan air AS, yang pertama dari jenisnya, diluncurkan pada tahun 2020 dengan kontrak senilai 1,1 miliar dolar yang dikaitkan dengan harga air California.

    Hal ini memungkinkan petani, dana lindung nilai, dan kotamadya untuk melakukan lindung nilai terhadap ketersediaan air di masa mendatang di California.

    Meskipun hal ini dapat menghilangkan ketidakpastian seputar harga air, memperlakukan air sebagai komoditas yang dapat diperdagangkan menempatkan hak asasi manusia dasar ke tangan lembaga keuangan dan investor. Sebuah ancaman serius bagi kemanusiaan.

    Baca: Praktik penyalahgunaan air tanah oleh pengelola rumah susun di Jakarta

  • Perubahan Iklim Memicu Kekeringan dan Krisis Air Global

    Perubahan Iklim Memicu Kekeringan dan Krisis Air Global

    7cloud.asia – Kekeringan di seluruh dunia menjadi lebih sering terjadi dan intens, serta terjadi dalam periode waktu yang semakin lama dalam beberapa dekade terakhir.

    Hal ini paling nyata terlihat pada kekeringan hebat yang sedang terjadi di wilayah barat Amerika Serikat, yang mengalami kondisi terkering sepanjang sejarah. Hal inilah yang memicu kebakaran hebat di Los Angeles beberapa waktu lalu.

    Tidak ada benua di Bumi yang tidak tersentuh oleh kelangkaan atau krisis air beberapa tahun ini. Dan, semakin banyak wilayah yang mencapai batas di mana mereka dapat menyediakan layanan air secara berkelanjutan, terutama di wilayah kering.

    Hampir dua pertiga populasi dunia diperkirakan akan menghadapi krisis air pada tahun 2025. Tren yang mengkhawatirkan ini menyebabkan banyak orang bertanya: “apakah kita kehabisan air”?

    Jawaban singkatnya adalah ya, terutama didorong oleh perubahan iklim dan pertumbuhan populasi global. Earth.org menelusuri penyebab-penyebab lain dan dampak-dampak utamanya di seluruh dunia.

    Baca: Separuh populasi dunia terancam krisis air

    Kekeringan dan Perubahan Iklim
    Krisis air terjadi karena sejumlah faktor; Salah satu penyebab terbesar krisis air adalah kekeringan.

    Kekeringan merupakan fenomena alam ketika kondisi kering dan kurangnya presipitasi –baik berupa hujan, salju, atau hujan es– terjadi di wilayah tertentu selama kurun waktu tertentu.

    Meskipun jumlah curah hujan secara alami dapat bervariasi antara berbagai daerah dan waktu dalam setahun, perubahan iklim dan meningkatnya suhu global mengubah pola curah hujan, yang pada gilirannya berdampak pada kualitas dan distribusi spasial sumber daya air global.

    Suhu yang lebih hangat berarti kelembaban di tanah menguap lebih cepat, dan gelombang panas yang lebih sering dan parah memperburuk kondisi kekeringan dan berkontribusi terhadap kekurangan air.

    Baca: Langkah global untuk mengatasi krisis air

    Kondisi yang sangat kering ini juga menciptakan kondisi sempurna terjadinya kebakaran hutan, yang selanjutnya memperparah musim kemarau dan tekanan air.

    Dalam laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) tahun 2018, ilmuwan iklim mengatakan bahwa air tanah yang tersimpan dalam akuifer, sangat sensitif terhadap perubahan iklim di masa mendatang.

    Peringatan ini berdampak serius, pasalnya akuifer ini menyediakan 36 persen pasokan air domestik dunia untuk lebih dari 2 miliar penduduk dunia.

    Para ahli juga menyimpulkan bahwa wilayah basah diperkirakan akan menjadi lebih basah sementara wilayah kering akan menjadi lebih kering akibat perubahan iklim.

    Baca: Cinta Laura kampanyekan upaya konservasi air bersih

    Di China, misalnya, Sungai Yangtze dan Sungai Kuning merupakan dua sumber air utama yang menghidupi negara tersebut. Mereka mengandalkan air lelehan gletser dari Dataran Tinggi Qinghai-Tibet.

    Pemanasan global, di mana suhu di wilayah gletser telah meningkat sebesar 3 hingga 3.5°C selama setengah abad terakhir, telah menghasilkan lebih sedikit salju dan massa es.

    Kondisi ini menyebabkan limpasan gletser ke Sungai Yangtze berkurang sebesar 13,9 persen sejak tahun 1990-an.

    Kekeringan dan krisis air juga disebabkan oleh pengelolaan air yang buruk, meningkatnya permintaan dan polusi air yang terus meningkat. Ulasannya akan kami sajikan dalam tulisan selanjutnya.

  • Krisis Air di Jalur Gaza, Warga Hampir Mati Kehausan

    Krisis Air di Jalur Gaza, Warga Hampir Mati Kehausan

    7cloud.asia – Otoritas Sumber Daya Air Palestina (Palestinian Water Authority/PWA) pada Sabtu (10/5) memperingatkan bahwa saat ini Jalur Gaza menghadapi krisis air dan “hampir mati kehausan” akibat layanan penyediaan air minum dan sanitasi yang nyaris sepenuhnya lumpuh di tengah konflik dengan Israel.

    Dalam sebuah pernyataan, pihak berwenang mengungkapkan bahwa operasi militer Israel, kerusakan infrastruktur yang meluas, pemadaman listrik, dan pembatasan suplai bahan bakar serta pasokan esensial lainnya hampir membuat layanan penyediaan air terhenti sepenuhnya.

    PWA melaporkan bahwa 85 persen fasilitas air dan sanitasi di daerah kantong tersebut rusak parah, sehingga warga hanya memiliki rata-rata tiga hingga lima liter air per orang setiap hari, jauh di bawah standar darurat minimum Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebanyak 15 liter.

    Baca: Israel blokir bantuan, kondisi anak-anak memburuk

    Pernyataan tersebut juga memperingatkan soal meningkatnya risiko kesehatan masyarakat, merujuk pada pembuangan air limbah yang belum diolah dengan ke daerah permukiman serta penggunaan air asin yang tidak layak konsumsi oleh warga.

    Dalam pernyataan yang dirilis pada Jumat (9/5), kantor tersebut mengungkapkan bahwa Israel menutup semua jalur perlintasan Gaza selama 70 hari berturut-turut.

    Selain itu, Israel juga memblokir akses masuk bagi sekitar 39.000 truk bantuan yang membawa bahan bakar, makanan, dan pasokan medis terlepas dari apa yang disebutnya sebagai krisis kesehatan dan kemanusiaan yang semakin memburuk.

    PWA menuding Israel telah melanggar hukum kemanusiaan internasional dan menyerukan penghentian operasi militer sesegera mungkin, penghentian atas apa yang disebutnya sebagai “praktik pendudukan sistematis”, pencabutan blokade, dan perlindungan terhadap para pekerja di sektor air.

    Baca: Puluhan anak di Gaza meninggal akibat kurang gizi

    Secara terpisah, kantor media pemerintah yang dikelola Hamas di Gaza menuduh Israel melakukan “kejahatan terorganisasi” terhadap lebih dari dua juta warga sipil di daerah kantong tersebut dengan memberlakukan blokade menyeluruh dan membatasi masuknya pasokan bantuan kemanusiaan.

    Israel menutup akses ke Gaza pada 2 Maret, menyusul berakhirnya tahap pertama dari kesepakatan gencatan senjata yang dicapai dengan Hamas pada Januari lalu.

    Sampai saat ini, tahap kedua gencatan senjata belum terlaksana akibat belum tercapainya kesepakatan di antara kedua pihak.

    Sumber: Antaranews

  • Bappenas: Sejumlah Daerah di Jawa Berpotensi Alami Krisis Air

    Bappenas: Sejumlah Daerah di Jawa Berpotensi Alami Krisis Air

    7cloud.asia – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyoroti potensi krisis air di sejumlah daerah berterutama di Pulau Jawa.

    Potensi krisis air ini diungkap Direktur Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air Kementerian PPN/Bappenas Dadang Jainal Mutaqin dalam diseminasi Indonesia Environmental Outlook (IEO) 2026 Yayasan KEHATI di dari Jakarta, Jumat (13/3/2026)

    “Jadi sebenarnya Indonesia kalau di rata-rata air itu masih aman. Tapi kalau kita lihat per pulau, per-region, ini yang banyak kekurangan air ini ada di pulau Jawa,” katanya.

    Secara khusus dia menyebut daerah yang memiliki isu terkait ketersediaan air atau krisis air termasuk wilayah Jakarta, Jawa Timur dan juga sejumlah wilayah di Jawa Barat.

    Baca: Cinta Laura kampanyekan konservasi air bersih

    Sementara untuk wilayah di luar Pulau Jawa, potensi krisis air terpantau di sekitar Medan dan Makassar.

    Dari data Bank Dunia pada 2021, potensi ketersediaan air di Indonesia mencapai 3,9 miliar meter kubik per tahun. Dengan 80 persen air nasional digunakan sektor pertanian/irigasi.

    Tidak hanya untuk pertanian, dia menyebut terdapat kebutuhan air untuk energi baru terbarukan dengan 7,5 persen produksi listrik di Indonesia dihasilkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

    Terdapat juga sejumlah tantangan terkait sumber daya air di Tanah Air. Diproyeksikan kebutuhan air akan meningkat 31 persen pada 2045 jika dibandingkan pada 2015.

    Baca: Perubahan iklim memicu kekeringan dan krisis air global

    Hal ini dipengaruhi pertumbuhan penduduk serta peningkatan permintaan industri bertambah empat kali lipat.

    Di sisi lain, terdapat ancaman penurunan muka tanah karena ekstraksi air tanah dan 12,7 juta hektare (ha) lahan kritis.

    Dia menyebut konservasi sumber daya air kini menjadi salah satu perhatian pemerintah. Dimulai dari upaya pengendalian pencemaran dan pemantauan kualitas air hingga perlindungan dan pelestarian sumber air.

    “Terkait dengan swasembada air. Ini adalah program konservasi daerah aliran sungai. Di dalamnya ada rehabilitasi hutan dan lahan, kemudian pengolahan sistem irigasi, pembangunan bendungan multifungsi, dan lain-lain,” jelasnya.

  • Ada Krisis Air Pasca Banjir Bandang di Aceh

    Ada Krisis Air Pasca Banjir Bandang di Aceh

     

    7cloud.asia – Bencana banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Aceh pada November 2025 lalu menyisakan banyak kerusakan fisik: jembatan putus, rumah hanyut, jalan terendam, dan ribuan warga mengungsi ke tenda darurat.

    Namun, di balik kerusakan fisik itu, ada krisis yang juga mematikan tetapi sering luput dari perhatian: lumpuhnya sistem penyediaan air bersih dan hilangnya akses masyarakat terhadap air bersih.

    Riset yang kami lakukan pascabanjir bandang di wilayah pemukiman desa Aceh menunjukkan bahwa krisis air bersih menjadi salah satu tantangan terbesar pada fase pemulihan pascabencana. Dan lagi-lagi, perempuanlah yang paling menanggung bebannya.

    Berdasarkan temuan kami, kualitas air pascabencana memang terlihat jernih dan tidak berbau. Namun, kualitasnya justru rendah karena terkontaminasi bakteri, sedimen, bahan organik dan logam berat sehingga belum tentu aman digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.

    Alhasil, banyak perempuan yang berperan sebagai penyedia air rumah tangga mengalami kesulitan memperoleh air bersih setelah bencana.

    Air jernih belum tentu aman

    Pengukuran kualitas air pada penelitian yang kami lakukan pada bulan Januari 2026 lalu dengan alat ukur TDS in-situ menunjukkan tingkat total dissolved solids (TDS) atau jumlah total zat padat yang terlarut dalam air baku pascabencana mencapai 291 mg/L.

    Mengonsumsi atau menyimpan air dalam kondisi ini tanpa pengolahan yang teruji secara ilmiah berisiko mempercepat penyebaran penyakit bawaan air (water-borne diseases), seperti diare akut dan infeksi kulit.

    Risiko tersebut semakin besar ketika air disimpan dalam wadah darurat yang kebersihannya tidak terjaga atau digunakan dalam jangka waktu yang lama.

    Tanpa pengolahan memadai, masyarakat berisiko menggunakan air yang kualitasnya buruk selepas bencana. Karena itu, keberhasilan bantuan air sebaiknya tidak diukur hanya dari ketersediaan air, tetapi juga dari jaminan kualitas dan keamanannya.

    Perempuan menanggung dampak terbesar

    Krisis air pascabencana adalah bentuk nyata dari ketidakadilan iklim dalam respons gender.

    Di banyak wilayah pedesaan Aceh, perempuan memegang peran utama dalam pengelolaan kebutuhan domestik, termasuk penyediaan air bagi keluarga.

    Dalam riset kami, sebanyak 78 persen perempuan yang berperan sebagai penyedia air rumah tangga mengaku kesulitan memperoleh air bersih setelah bencana.

    Ketika akses air bersih terganggu, perempuan menjadi pihak pertama yang harus mencari solusi. Mereka harus berjalan lebih jauh untuk mendapatkan air, mengantre di lokasi distribusi bantuan, atau menghabiskan waktu untuk memurnikan air keruh yang tersedia agar dapat dikonsumsi oleh anggota keluarga.

    Akibatnya, beban kerja domestik perempuan meningkat signifikan. Waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk beristirahat, memulihkan kondisi psikologis pascabencana, atau berpartisipasi dalam proses pemulihan komunitas justru habis untuk memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga.

    Fenomena ini memicu situasi yang disebut “kemiskinan waktu” (time poverty). Kondisi ini terjadi ketika sebagian besar waktu produktif seseorang terkuras untuk urusan bertahan hidup dasar.

    Akibatnya, mereka kehilangan kesempatan untuk memulihkan diri dari trauma psikologis, memulihkan tekanan mental, atau berpartisipasi dalam forum-forum pengambilan keputusan pemulihan desa.

    Dalam konteks pascabencana, kemiskinan waktu memperlihatkan bagaimana dampak krisis air tidak dialami secara setara oleh seluruh anggota masyarakat.

    Data respons masyarakat yang kami kumpulkan dari kuesioner menunjukkan bahwa kelompok yang paling terdampak adalah perempuan berlatar belakang ibu rumah tangga dan petani berpenghasilan rendah.

    Kelompok ini berada di garis depan dalam menghadapi dampak langsung dari rusaknya infrastruktur air bersih. 

    Inovasi teknologi inklusif

    Temuan kami menunjukkan bahwa penyediaan air aman pascabencana tidak bisa dipandang semata sebagai persoalan teknis. Akses terhadap air juga berkaitan dengan upaya mengurangi beban kerja perempuan dan memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana.

    Di desa-desa yang lokasinya terpencil dan sulit dijangkau, tidak bijaksana jika pemulihan akses air bersih hanya mengandalkan perbaikan sistem air bersih terpusat.

    Oleh karena itu, kami menawarkan solusi melalui penyediaan unit pemurnian air keliling (Rapid Mobile Water Purification) untuk dapat menjangkau lebih banyak daerah terdampak bencana.

    Teknologi yang digunakan mencakup kombinasi proses fisik dan kimia, antara lain filtrasi dengan Ultra Filtration (UF) dan Reserve Osmosis (RO) membrane untuk mengurangi kekeruhan serta desinfeksi menggunakan sinar UV untuk mengendalikan kontaminasi mikrobiologi.

    Alat bekerja secara otomatis, dapat melakukan pemeliharaan (back-wash) dan filter air mandiri sehingga beban perempuan dalam mengolah air berkurang.

    Rapid Mobile Water Purification juga dapat dipindah-pindahkan sehingga dapat menjangkau masyarakat lebih dekat dan meringankan beban perempuan dalam menyediakan air bagi keluarga.

    Di tengah meningkatnya frekuensi bencana akibat perubahan iklim, ketahanan air seharusnya tidak lagi dipahami hanya sebagai persoalan infrastruktur, melainkan persoalan keadilan sosial.

    Sebab, kelompok yang paling merasakan dampaknya sering kali adalah mereka yang paling sedikit terlihat dalam proses pengambilan keputusan, yakni perempuan.


    Artikel ini merupakan hasil kolaborasi diseminasi sains para pakar bersama CommsLab dan The Conversation Indonesia.


    Nanda Savira Ersa, Dosen Teknik Lingkungan, Universitas Malikussaleh

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.