Perubahan Iklim Memicu Kekeringan dan Krisis Air Global

Written by

in

7cloud.asia – Kekeringan di seluruh dunia menjadi lebih sering terjadi dan intens, serta terjadi dalam periode waktu yang semakin lama dalam beberapa dekade terakhir.

Hal ini paling nyata terlihat pada kekeringan hebat yang sedang terjadi di wilayah barat Amerika Serikat, yang mengalami kondisi terkering sepanjang sejarah. Hal inilah yang memicu kebakaran hebat di Los Angeles beberapa waktu lalu.

Tidak ada benua di Bumi yang tidak tersentuh oleh kelangkaan atau krisis air beberapa tahun ini. Dan, semakin banyak wilayah yang mencapai batas di mana mereka dapat menyediakan layanan air secara berkelanjutan, terutama di wilayah kering.

Hampir dua pertiga populasi dunia diperkirakan akan menghadapi krisis air pada tahun 2025. Tren yang mengkhawatirkan ini menyebabkan banyak orang bertanya: “apakah kita kehabisan air”?

Jawaban singkatnya adalah ya, terutama didorong oleh perubahan iklim dan pertumbuhan populasi global. Earth.org menelusuri penyebab-penyebab lain dan dampak-dampak utamanya di seluruh dunia.

Baca: Separuh populasi dunia terancam krisis air

Kekeringan dan Perubahan Iklim
Krisis air terjadi karena sejumlah faktor; Salah satu penyebab terbesar krisis air adalah kekeringan.

Kekeringan merupakan fenomena alam ketika kondisi kering dan kurangnya presipitasi –baik berupa hujan, salju, atau hujan es– terjadi di wilayah tertentu selama kurun waktu tertentu.

Meskipun jumlah curah hujan secara alami dapat bervariasi antara berbagai daerah dan waktu dalam setahun, perubahan iklim dan meningkatnya suhu global mengubah pola curah hujan, yang pada gilirannya berdampak pada kualitas dan distribusi spasial sumber daya air global.

Suhu yang lebih hangat berarti kelembaban di tanah menguap lebih cepat, dan gelombang panas yang lebih sering dan parah memperburuk kondisi kekeringan dan berkontribusi terhadap kekurangan air.

Baca: Langkah global untuk mengatasi krisis air

Kondisi yang sangat kering ini juga menciptakan kondisi sempurna terjadinya kebakaran hutan, yang selanjutnya memperparah musim kemarau dan tekanan air.

Dalam laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) tahun 2018, ilmuwan iklim mengatakan bahwa air tanah yang tersimpan dalam akuifer, sangat sensitif terhadap perubahan iklim di masa mendatang.

Peringatan ini berdampak serius, pasalnya akuifer ini menyediakan 36 persen pasokan air domestik dunia untuk lebih dari 2 miliar penduduk dunia.

Para ahli juga menyimpulkan bahwa wilayah basah diperkirakan akan menjadi lebih basah sementara wilayah kering akan menjadi lebih kering akibat perubahan iklim.

Baca: Cinta Laura kampanyekan upaya konservasi air bersih

Di China, misalnya, Sungai Yangtze dan Sungai Kuning merupakan dua sumber air utama yang menghidupi negara tersebut. Mereka mengandalkan air lelehan gletser dari Dataran Tinggi Qinghai-Tibet.

Pemanasan global, di mana suhu di wilayah gletser telah meningkat sebesar 3 hingga 3.5°C selama setengah abad terakhir, telah menghasilkan lebih sedikit salju dan massa es.

Kondisi ini menyebabkan limpasan gletser ke Sungai Yangtze berkurang sebesar 13,9 persen sejak tahun 1990-an.

Kekeringan dan krisis air juga disebabkan oleh pengelolaan air yang buruk, meningkatnya permintaan dan polusi air yang terus meningkat. Ulasannya akan kami sajikan dalam tulisan selanjutnya.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *