Tag: lebaran

  • Sambut Libur Lebaran 1445 H, TMII Gelar Acara “Jelajah Seru Festival Pulang Kampung”

    Sambut Libur Lebaran 1445 H, TMII Gelar Acara “Jelajah Seru Festival Pulang Kampung”

    7cloud.asia – Menyambut libur Lebaran 1445 Hijriah yang berlangsung 8 April-15 April 2024, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) menyuguhkan pertunjukan “Jelajah Seru Festival Pulang Kampung” 

     

    Rangkaian acara menyambut Lebaran 1445 H itu mulai dari bazar kuliner dan UMKM dari berbagai anjungan daerah hingga atraksi budaya dan kesenian.

    Kegiatan Lebaran 1445 H ini dimulai pada 8 April 2024 dengan suguhan tradisi lompat batu asal Nias, Sumatera Utara. Festival Pulang Kampung juga menyuguhkan berbagai ragam kuliner Nusantara.

    Kemudian pertunjukan Reog Ponorogo, bambu gila, Borneo Show, kuda lumping yang ditampilkan di area Plaza Kori Agung, parade Harmoni, pertunjukan bakar batu di anjungan Papua.

    Lalu atraksi perpaduan teknologi visual, musik, pertunjukan cahaya, penampilan animasi dongeng Nusantara dalam air mancur menari, air mancur Menari Tirta Renjana, dan air mancur menari Tirta Cerita.

    Baca: Masjid yang biasa jadi tujuan wisata religi

    Direktur Utama TMII Claudia Ingkiriwang mengatakan kegiatan ini ditujukan untuk warga yang ingin menikmati libur Lebaran tapi tidak dapat mudik ke kampung halaman.

    “Kan kalau Lebaran inginnya pulang kampung. Nah pulang kampungnya di Taman Mini, dengan konsep menjelajahi Taman Mini,” kata Claudia saat jumpa pers di TMII, Cipayung, Jakarta Timur, Senin (8/4/2024).

    “Ada juga penampilan Disko Pantera. Untuk kuliner juga sudah kita siapkan, kita datangkan UMKM asli dari daerah asalnya seperti Lontong Medan, Ketupat. Semua sudah kita siapkan,” ujarnya.

    Seluruh hiburan tersebut dapat dinikmati pengunjung tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan, atau sudah termasuk dalam tiket masuk TMII Rp35 ribu.

    Caludia mengatakan, selama libur Lebaran ini harga tiket itu memang naik bila dibandingkan pada hari biasa Rp25 ribu.

    Baca: Mengenal uniknya masjid Tjia Kang Ho

    Namun, ujarnya selama libur lebaran TMII menambah suguhan hiburan dan pelayanan pengunjung.

    Pengunjung hanya dikenakan biaya tambahan bila hendak menjajal wahana tambahan seperti kereta gantung untuk menikmati pemandangan TMII dari langit, atau sewa kendaraan listrik.

    Pada hari pertama lebaran, 10 April 2024, TMII akan buka mulai pukul 09.00 hingga 20.00 WIB, sedangkan hari-hari berikutnya akan beroperasi mulai pukul 06.00 hingga 20.00 WIB.

    Claudia mengimbau agar pengunjung membeli tiket secara online untuk menghindari antrean di pintu masuk. Bagi yang menggunakan angkutan umum terdapat bus TransJakarta di pintu masuk TMII.

    Tersedia juga layanan antar jemput (shuttle) gratis yang langsung mengangkut pengunjung dari stasiun LRT TMII ke Tourist Information Center TMII dan sebaliknya.

    Sumber: Antaranews.com

  • Mengapa Idul Fitri Disebut Lebaran di Indonesia, Apa Maknanya?

    Mengapa Idul Fitri Disebut Lebaran di Indonesia, Apa Maknanya?

    7cloud.asia – Sebentar lagi umat Islam di seluruh dunia akan kembali merayakan keistimewaan Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan.

    Di Indonesia perayaan 1 Syawal atau hari raya Idul Fitri sering disebut dengan Lebaran. Keunikan ini ternyata tidak ditemukan di negara lain 

    Mungkin Anda sudah cukup familiar menyebut Idul Fitri dengan istilah Lebaran karena memang istilah ini sudah cukup populer dan identik di Indonesia.

    Namun, apa makna Idul Fitri yang sesungguhnya? Untuk mengetahui jawabannya, mari simak penjelasan lengkap mengenai makna dan tradisi unik Idul Fitri ataupun Lebaran di Indonesia melalui artikel ini.

    Baca: Muslim Indonesia rayakan idul Fitri 1445 H bersamaan 

    Makna Idul Fitri
    Melansir laman resmi Nahdlatul Ulama (NU), Idul Fitri bukan sekadar tentang hari perayaan, pakaian baru, dan hal-hal lain yang serba baru.

    Meski pada dasarnya umat muslim disunnahkan untuk menggunakan pakaian baru, tetapi secara hakikat, bukan itu makna sesungguhnya dari Hari Raya Idul Fitri.

    Lebih dari itu, Idul Fitri dimaknai sebagai bentuk refleksi diri, bentuk rasa syukur, permohonan ampun sekaligus mengungkapkan kegembiraan.

    Dalam hal ini, refleksi diri berarti setiap umat muslim dianjurkan untuk introspeksi diri dan kembali kepada fitrah Islamiyah.

    Artinya, umat muslim diharapkan dapat kembali suci setelah dibersihkan dengan ibadah puasa Ramadan selama 1 bulan penuh, yang kemudian disempurnakan dengan mengeluarkan zakat fitrah sebagai bentuk rasa syukur.

    Baca: Makna mudik Lebaran, tak sekadar pulang kampung

    Zakat fitrah ini juga merupakan amalan untuk berbagi kepada sesama, serta saling memaafkan atas kesalahan yang pernah terjadi.

    Jika dilihat dari gabungan katanya, Idul Fitri berasal dari dua kata, yaitu ‘id’ dan ‘al-fitri’. Id secara bahasa berasal dari kata ada – ya’uudu, yang artinya kembali.

    Sedangkan, kata al-fitri memiliki dua makna, yaitu suci dan berbuka. Suci artinya bersih dari segala dosa, kesalahan, dan keburukan. Sementara itu, makna fitri yang berarti berbuka didasari oleh hadits Rasulullah SAW, yaitu:

    “Dari Anas bin Malik: Tak sekali pun Nabi Muhammad SAW pergi (untuk shalat) pada Hari Raya Idul Fitri tanpa makan beberapa kurma sebelumnya.”

    Lantas, bagaimana dengan makna lebaran? Umat muslim di Indonesia memang identik menyebut Idul Fitri sebagai lebaran.

    Baca: Mengapa sering terjadi perbedaan dalam merayakan idul fitri

    Berdasarkan KBBI atau Kamus Besar Bahasa Indonesia, Lebaran dijelaskan sebagai hari raya para umat Islam pada tanggal 1 Syawal setelah ibadah puasa selesai dijalankan selama bulan Ramadhan.

    Terkait asal usul istilah lebaran ini ternyata ada berbagai versi yang sudah ada sejak zaman dahulu. M.A. Salamun, seorang sastrawan di era 1960-an menganggap istilah lebaran berasal dari tradisi Hindu atau Jawa kuno.

    Lebar berasal dari kata lebar yang berarti sudah selesai, usai, atau habis. Dalam hal ini menandakan bahwa habisnya masa berpuasa di bulan Ramadan.

    Ada pula anggapan lebaran yang berasal dari kata ‘lebar’, yang artinya luas atau lapang. Istilah ini merupakan metafora bagi umat muslim untuk saling berlapang dada dan ikhlas sehingga dianjurkan untuk saling memaafkan terhadap sesama.

    Namun hingga saat ini, belum ada sumber otentik tertulis terkait asal kata lebaran dan sejak kapan istilah ini mulai dipakai. Yang jelas, istilah lebaran tidak dikenal dalam bahasa Arab. Itulah mengapa istilah ini erat kaitannya dengan pengaruh budaya di Indonesia.

     

  • Tradisi Idul Fitri atau Lebaran yang Hanya Ditemukan di Indonesia

    Tradisi Idul Fitri atau Lebaran yang Hanya Ditemukan di Indonesia

    7cloud.asia – Setiap daerah tentu memiliki tradisi khas untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran, begitu pula dengan umat muslim di Indonesia.

    Anda pasti sudah sangat familiar dengan mudik, takbiran, beli baju baru, dan lain sebagainya, bukan? Itu hanya sebagian kecil tradisi yang biasa dilakukan umat muslim di Indonesia.

    Ada beragam tradisi khas dengan cerita unik di balik tradisi lebaran tersebut. 

    Melakukan beragam tradisi tersebut kadang dibutuhkan persiapan yang matang sejak jauh-jauh hari, bahkan sejak pekan pertama bulan Ramadhan.

    Termasuk saat membeli kebutuhan menjelang Idul Fitri, seperti beli baju baru, kebutuhan makanan pokok, THR, dan lain sebagainya.

    Baca: Idul Fitri 1445 Hijriah dirayakan bersamaan

    Berikut adalah beberapa tradisi Idul Fitri atau Lebaran di Indonesia yang masih dilakukan hingga saat ini:

    Mudik
    Pulang kampung atau mudik menjadi tradisi lebaran orang Indonesia yang cukup fenomenal. Tradisi ini biasanya dilakukan beberapa hari atau bahkan minggu sebelum Idul Fitri tiba.

    Tradisi ini jadi momen untuk saling bersilaturahmi antara keluarga yang sudah merantau ke berbagai daerah.

    Ketupat
    Perayaan Hari Raya Idul Fitri rasanya kurang lengkap tanpa kehadiran ketupat dan lauk pauk lainnya. Ketupat menjadi salah satu makanan khas orang Indonesia saat lebaran tiba.

    Biasanya ketupat disajikan dengan opor, rendang, gulai, sambal goreng kentang, dan masakan khas lainnya.

    Baca: Mengapa Idul Fitri juga disebut Lebaran, dan apa maknanya

    Malam takbiran
    Tradisi lebaran selanjutnya yang identik dengan umat muslim di Indonesia yaitu malam takbiran, dalam segala bentuk rupanya.

    Biasanya takbiran dilakukan pada malam hari menjelang Idul Fitri, di mana orang-orang akan berkeliling mengumandangkan takbir sambil menabuh bedug dengan meriah.

    Namun, umumnya pawai takbiran ini pun berbeda-beda di setiap daerah, tergantung tradisi yang sudah turun temurun di daerah tersebut.

    Ziarah ke makam
    Tradisi selanjutnya yaitu ziarah atau ‘nyekar’ ke makam keluarga dan leluhur. Biasanya tradisi ini dilakukan sehari sebelum Idul Fitri atau setelah shalat Eid.

    Tak jarang pula orang yang membawa bunga-bunga atau kemenyan saat berziarah ke makam di hari Lebaran.

    Baca: ide hampers ramah lingkungan

    Parcel atau hampers lebaran
    Parcel atau hampers juga jadi salah satu tradisi Idul Fitri yang cukup populer di Indonesia. Biasanya orang-orang akan saling mengirimkan parcel atau hampers, baik untuk keluarga, sahabat, atau rekan kerja yang merayakan Idul Fitri.

    Saat ini banyak parcel lebaran cukup variatif dan kreatif sehingga lebih mudah bagi Anda untuk memilih parcel yang cocok.

    THR
    Tradisi lebaran lainnya yang identik di Indonesia yaitu pembagian fitrah atau tunjangan hari raya (THR).

    Biasanya tradisi ini dilakukan oleh anggota keluarga yang telah dewasa dan berpenghasilan, nantinya mereka akan membagikan amplop berisi sejumlah uang kepada saudara yang masih kecil. Tak heran jika THR menjadi tradisi yang ditunggu oleh anak-anak saat Idul Fitri tiba.

    Halal bi halal
    Idul Fitri di Indonesia juga sangat identik dengan silaturahmi dari satu rumah ke rumah lainnya. Biasanya kegiatan silaturahmi atau halal bi halal dilakukan di hari pertama dan kedua Idul Fitri.

    Ini merupakan momen untuk mengunjungi keluarga, sahabat, atau tetangga untuk saling memaafkan dan merayakan hari raya.

    Itulah beberapa tradisi lebaran yang identik dilakukan oleh sebagian besar umat muslim di Indonesia. Ada beberapa di antaranya yang wajib dilakukan, namun ada juga yang bisa disesuaikan dengan kemampuan. 

  • Dodol Betawi, Makanan Khas Betawi yang Rumit Pembuatannya

    Dodol Betawi, Makanan Khas Betawi yang Rumit Pembuatannya

    7cloud.asia – Dodol Betawi menjadi salah satu hidangan khas Lebaran yang banyak ditemukan di Jakarta dan sekitarnya.

    Budayawan Yahya Andi Saputra mengatakan dodol Betawi bukan termasuk hidangan khas Lebaran yang mudah dibuat karena ada aturan dan pantangan.

    Karena itu, orang Betawi membuat dodol Betawi hanya pada hari-hari tertentu seperti Lebaran dan pernikahan.

    “Dulu, dodol Betawi kan bukan kue murahan dan gampangan. ‘Bikinnye ribet’. Ada aturan dan pantangan,” ajar budayawan yang tergabung di Lembaga Kebudayaan Betawi itu, seperti dikutip  Antaranwscom Kamis (11/4/2024).

    Baca  Ini alasan mengapa ketupat menjadi hidangan khas lebaran

    Namun kini, relatif sudah banyak orang yang membuat dodol Betawi sehingga tinggal memilih yang cocok dan membelinya.

    “Kalo dulu ngaduk sendiri, sekarang udah banyak yang jualan, ya kita beli. Pilih mana yang paling ‘pas’ dan paling cocok sama bikinan keluarga. Itu gampang jadinya,” kata dia.

    Dodol Betawi saat ini, menurut Yahya, sudah menjadi kue pasar sehingga dapat dinikmati kapan saja dan dalam berbagai kegiatan atau acara.

    “Keluarga saye sih, kalau Lebaran, dari jaman engkong ampe sekarang, tetep sediain dodol Betawi,” ujar dia.

    Baca: Tidak berlebihan makanan menjadi salah satu cara Lebaran yang ramah lingkungan  

    Merujuk laman Warisan Budaya Takbenda Indonesia Kementerian Kebudayaan bahwa pembuatan dodol Betawi yang terdiri dari varian ketan putih, ketan hitam dan durian, rumit.

    Bahan baku pembuatan yang terdiri dari ketan, gula merah, gula pasir dan santan harus dimasak di atas tungku dengan kayu bakar selama delapan jam.

    Kemudian, untuk membuatnya perlu tenaga ekstra dalam mengaduk adonan dodol. Hal ini karena dalam satu panci kuali besar dengan diameter satu meter, adonan dodol harus diaduk selama tujuh jam tanpa berhenti.

    Jika berhenti maka adonan akan keras dan rasanya tidak merata.

    Baca: Bisakah membayar zakat fitrah untuk keluarga sendiri

    Keluarga besar Betawi yang dulunya hidup berdekatan, saling melengkapi bahan dasar pembuatan dodol.

    Begitu bahan tersedia, para pria bertugas membuat dodol Betawi dan mengaduk adonan. Sedangkan para wanita menyiapkan semua bahan yang dibutuhkan.

    bahwa dodol Betawi sebenarnya paling asyik dinikmati pada pagi atau sore hari sesudah Lebaran.

    “‘Dinikmatin’ pagi atawa sore dengan kopi ‘pait’ ‘atawa’ teh ‘pait’,” 

    Yahya mengatakan apabila ingin menikmati dodol Betawi, keluarganya membuat sendiri. 

  • Libur Lebaran, Warga Ramai-Ramai Menjajal TransJakarta Pencakar Langit

    Libur Lebaran, Warga Ramai-Ramai Menjajal TransJakarta Pencakar Langit

    7cloud.asia – Rute bus wisata PT Transportasi Jakarta (TransJakarta) dengan kode BW 4 yang bertema gedung pencakar langit (skycraper) menjadi favorit warga lantaran mengelilingi gedung-gedung di Jakarta.

    Sejumlah ratusan warga terlihat antusias mengantre untuk bisa menaiki rute bus wisata TransJakarta di halte non koridor IRTI Monas, Jakarta Pusat.
    Dari anak muda, keluarga hingga wisatawan mancanegara mencoba menaiki bus wisata yang disediakan TransJakarta tersebut pada hari kedua Lebaran.

    Mulai pukul 11.18 Waktu Indonesia Barat tepat, bus bertingkat ini melaju mengantarkan para wisatawan menjelajahi ibu kota.

     
    “Istana Merdeka menjadi tempat perhelatan terbesar di Jakarta seperti merayakan ulang tahun kemerdekaan Indonesia,” demikian kata sang pemandu wisata yang bernama Ahmad.
     
    Baca: Tetap beroperasi, MRT Jakarta tawarkan program khusus

    Sementara, warga bernama Tomi (26) asal Jember menuturkan mengaku puas dengan layanan bus wisata ini yang memanjakan wisatawan dari luar Jakarta.

    “Fasilitasnya oke dan gratis, armada yang dipakai beda dengan yang umum jadi sesuai sama tujuan wisatanya,” ujar Tomi.

    Dia juga menyarankan agar rute itu bisa beroperasi hingga malam hari mengingat pemandangan Jakarta tak kalah indah dari siang hari.

     
    Adapun jam operasional bus wisata ini setiap hari dimulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB pada hari libur Lebaran ini.
     
    Bus wisata TransJakarta bernama Jakarta Explorer saat ini memiliki empat rute wisata yang berbeda, yakni bus wisata (BW) 1, 2, 4, dan 9. Rute lainnya dikatakan masih menjalani revitalisasi.
     
    Rute Bus Wisata 1 (BW 1) bertema sejarah Jakarta melewati Juanda Istiqlal-Museum Bank Indonesia-Kali Besar Barat 1).

    Rute BW 2 bertema melewati Jakarta Baru: Juanda Masjid Istiqlal-Monas 1-Monas 2-Monas 3 – IRTI Monas-Sarinah 1-Wisma Nusantara-Plaza Indonesia-Sarinah 2-Museum Nasional-Pecenongan-Juanda-Masjid Istiqlal.

     
    Rute BW 4 atau pencakar langit Jakarta melewati IRTI Monas-Sarinah 1-Wisma Nusantara-Bumi Putera-Karet 1-Bendungan Hilir 1-Gelora Bung Karno 1-Bundaran Senayan 1-FX Sudirman-Gelora Bung Karno 2-Bendungan Hilir 2-Karet 2-Menara Astra-Dukuh Atas 2-Tosari-Plaza Indonesia-Sarinah 2-Museum Nasional-Monas 2-Monas 3-Monas.
     
    BW 9 melewati Kota Tua-PIK melewati (Kali Besar Barat 1-Buddha Tzu Chi-Gold Coast-Food Street-PIK2 Pantjoran-Melody Golf-Pantai Maju-Melody Golf 2-Seberang Food Street-The Piano-Fresh Market PIK-PIK Avenue).
     
    Sumber: Antaranews.com
  • Pakar Kesehatan: Waspada Penyakit Kronik yang Muncul di Minggu Pertama Lebaran

    Pakar Kesehatan: Waspada Penyakit Kronik yang Muncul di Minggu Pertama Lebaran

    7cloud.asia – Lebaran identik dengan makanan berlemak tinggi dan bersantan. Akibatnya penyakit kronis berpotensi muncul kembali pada minggu pertama lebaran.

    Guru besar Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam menjelaskan penyakit tersebut muncul akibat makanan yang tak terkontrol saat lebaran.

    “Bisa saja kambuh dalam sehari dua hari saat lebaran, oleh karena itu ini yang harus kita antisipasi supaya penyakit kronis ini tidak kambuh,” ujar Ari seperti yang dilansir Antaranews.

    Ari menjelaskan penyakit kronis yang berpotensi muncul adalah asam urat, kencing manis karena gula darah berlebih dan sakit maag.

    Pada saat puasa, penyakit tersebut sebenarnya sudah bisa terkontrol. Sebab selama puasa, kita terbiasa makan di jam teratur dan mengurangi kebiasaan makan berlebihan.

    Sebagian besar pasien pun menurutnya mengalami perbaikan pada penyakit maag-nya karena berpuasa.

    Karena itu, agar penyakit tersebut tidak kambuh, Ari menyarankan untuk memilih makanan saat lebaran dan tidak mengonsumsi makanan berlebihan.

    Selain itu, Ari mengingatkan untuk menghindari mengonsumsi makanan yang terlalu asin atau terlalu manis.

    “Di satu sisi saya ingatkan harus tetap mengonsumsi sayur dan buah karena ini bisa mengurangi penyerapan kolesterol di usus halus, selain itu serat dari sayur dan buah ini bisa membuat buang air besar lancar,” jelasnya. 

    Tak hanya penyakit kronis, Ari menjelaskan penyakit lain yang berpotensi muncul saat lebaran adalah penyakit infeksi karena kelelahan dan daya tahan tubuh yang menurun saat harus beraktivitas, bersilaturahmi atau berekreasi saat libur lebaran.

    Penyakit infeksi tersebut antara lain infeksi saluran pernapasan atas, infeksi demam berdarah, dan daya tahan tubuh menurun karena kelelahan.

    Daya tahan tubuh yang menurun juga dapat menimbulkan kecelakaan yang tidak diinginkan saat melakukan perjalanan mudik.

    Karena itu, lanjut Ari, meski libur lebaran bukan berarti libur olahraga pula. Olahraga penting untuk menjaga kesehatan dan kebugaran serta rutin mengonsumsi air putih untuk mencukupi cairan tubuh.

    “Lebaran mestinya lebih bebas melakukan olahraga karena tidak berpuasa. jadi kalau banyak keringat bisa langsung konsumsi air, di masa lebaran nanti kebetulan juga libur tapi tetap lakukan olahraga,” paparnya.

    Namun, jika selama lebaran merasa tidak mengontrol makanan dengan baik, Ari menyarankan untuk melakukan cek kondisi kesehatan atau medical check up usai lebaran.

    Hal ini perlu dilakukan untuk melihat kadar kolesterol, asam urat, hingga gula darah dalam kadar yang sesuai demi antisipasi tetap sehat pasca lebaran.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Libur Lebaran, Produksi Sampah di Jakarta Selatan Turun hingga 500 Ton Sehari

    Libur Lebaran, Produksi Sampah di Jakarta Selatan Turun hingga 500 Ton Sehari

    7cloud.asia – Produksi sampah di wilayah Jakarta Selatan turun hampir 35 persen selama libur Lebaran 2024. 

    Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Selatan (Sudin LH Jaksel) Mohamad Amin mengatakan selama libur lebaran produksi sampah menurun sebanyak 500 ton menjadi sekitar 1000 ton per hari, sedangkan pada hari biasa sebesar 1.500 ton.

    “Kecamatan dengan produksi sampah terbanyak selama libur Lebaran adalah Kecamatan Kebayoran Lama,” katanya di Jakarta, Selasa (16/4/2024).

    Amin mengatakan, produksi sampah di 10 kecamatan yang berada di Jakarta Selatan, setiap harinya mencapai 1.500 ton, namun pada momentum libur Lebaran 2024 terdapat penurunan produksi sampah menjadi 1.000 ton per hari.

    Ia mengatakan, penurunan produksi sampah tersebut dikarenakan banyaknya warga yang mudik ke kampung halaman sehingga produksi pun berkurang cukup banyak.

    Menurut dia, untuk periode libur Lebaran yaitu dari tanggal 6 sampai dengan 15 April 2024.

    Namun dari data yang ada ada satu kecamatan yang paling menyumbangkan produksi sampah terbanyak yaitu Kecamatan Kebayoran Lama.

    Amin menambahkan, selama libur Lebaran 2024 total petugas yang disiagakan sebanyak 1.200 orang yang disebar di 10 kecamatan daerah itu.

    “Sedangkan jumlah armada pengangkutan sampah ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantar Gebang sebanyak 334 kendaraan,” katanya.

    Sebelumnya, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengangkut 66 ribu ton lebih sampah selama periode tujuh hari sebelum (H-7) hingga hari kedua Lebaran 2024 atau Kamis (11/4) di lima wilayah kota administrasi dan Kabupaten Kepulauan Seribu.

    “Periode tujuh hari sebelum Lebaran sampai hari kedua Lebaran, sampah yang berhasil kami angkut sebanyak 66.615,84 ton,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH( DKI Jakarta Asep Kuswanto.

    Berdasarkan data yang diterima dari DLH DKI Jakarta, jumlah sampah hari pertama dan kedua Lebaran 2024 mengalami penurunan dibandingkan sebelum Lebaran.

    Pada hari pertama Lebaran tercatat sampah yang diangkut sebanyak 2.610,14 ton, sedangkan pada hari kedua sebanyak 2.987,82 ton.

    Asep menyebutkan, proses pengangkutan sampah dari rumah warga ke tempat pembuangan sementara (TPS) sempat dihentikan sementara untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri 1445 Hijriah.

  • Pasca Lebaran, Hindari Makan Daging dan Gorengan

    Pasca Lebaran, Hindari Makan Daging dan Gorengan

    7cloud.asia – Lebaran telah berlalu. Tetapi masih banyak orang yang mengonsumsi daging dan gorengan pasca lebaran. Akibatnya kadar kolestrol dalam tubuh naik.

    Menurut dokter Spesialis Gizi Klinik dari Universitas Hasanuddin, Dr. dr. A. Yasmin Syauki, M.Sc, Sp.GK(K), agar kolestrol tidak naik dan badan tetap sehat usai lebaran maka perlu menghindari mengonsumsi daging dan gorengan.

    Melansir Antaranews, pasca lebaran sebaiknya tidak lagi mengonsumsi makanan mengandung santan dan hindari makanan seperti daging, makanan laut, dan makanan yang digoreng.

    Selain itu juga perlu menghindari makanan kue kering yang mungkin sudah banyak dikonsumsi saat Lebaran.

    “Harus sudah kita kembalikan seperti biasa, bahwa kita makan seperti biasa tidak lagi makan kue kering, kemudian makan daging sapi atau kambing ganti ke variasi ikan,” jelas Yasmin.

    Selanjutnya Yasmin menerangkan, seharusnya setelah lebaran segera kembali menerapkan pola makan sehat dengan gizi yang seimbang.

    Yaitu makanan yang mengandung karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral.

    Selain itu, Yasmin juga menganjurkan gizi tersebut ada pada tiga makan utama dalam sehari, yaitu makan pagi, makan siang dan makan malam.

    Selain kadar kolesterol tinggi, berbagai penyakit metabolik dapat muncul pasca puasa dan lebaran seperti hipertensi, diabetes, asam urat atau kolesterol hingga penyakit lainnya.

    Sebab, saat periode puasa atau lebaran, berat badan naik antara lain karena aktivitas fisik dan asupan makanan tidak seimbang

    Karena itu, perlu olahraga kembali secara teratur yang mungkin selama puasa dan lebaran sering absen olahraga.

    Selain itu, Yasmin juga menyarankan untuk membatasi konsumsi lemak dan karbohidrat, termasuk gula pasir dan gorengan, terutama makanan bertepung yang digoreng.

    “Termasuk ikan goreng, ayam goreng, apalagi ayam goreng tepung maka itu yang harus dihindari sehingga berat badan kembali jadi ideal,” ujarnya.

     

    Reporter: Nurakhmayani

  • Tekanan Darah Naik Pasca Lebaran? Coba Konsumsi Buah Kiwi

    Tekanan Darah Naik Pasca Lebaran? Coba Konsumsi Buah Kiwi

    7cloud.asia – Buah kiwi merupakan buah yang menyerupai sawo. Buah yang rasanya manis keasaman ini mengandung banyak manfaat manfaat bagi kesehatan. Diantaranya mengatur tekanan darah.

    Daging buah kiwi yang berwarna hijau mengandung vitamin C, vitamin K, vitamin E, asam folat dan kalium.

    Selain itu, kiwi juga mengandung banyak antioksidan dan merupakan sumber serat yang baik.

    Biji hitam kecil yang terdapat pada kiwi sama enaknya dengan kulit cokelatnya. Namun, karena permukaan kulitnya kasar banyak orang lebih suka mengupas buah kiwi sebelum dimakan.

    Melansir dari Dijen Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, ada beberapa manfaat buah kiwi, yaitu:

    1. Mengatasi Masalah Rambut

    Ekstrak buah kiwi dan minyak buah kiwi kaya akan vitamin dan nutrisi yang membantu menjaga kesehatan kulit.

    Penggunaan ekstrak buah kiwi dapat mengobati masalah kulit seperti ketombe, rambut kering, dan rambut kasar.

    Vitamin C yang terdapat pada kiwi dapat merangsang pertumbuhan rambut dengan menjaga sirkulasi darah ke folikel rambut.

    Kiwi juga mengandung vitamin E yang tinggi yang sehingga dapat mendorong pertumbuhan rambut.

    1. Melancarkan Pencernaan

    Kandungan actinin, enzim pelarut protein yang terdapat pada buah kiwi dapat membantu mencerna makanan seperti papain dalam pepaya atau bromelain dalam nanas.

    Kiwi merupakan sumber serat yang bagus. Dengan mengonsumsi buah kiwi ini secara rutin maka dapat mencegah sembelit dan masalah perut lainnya.

    1. Mengatur Tekanan Darah

    Buah kiwi juga mengandung potasium yang tinggi dan bermanfaat membantu menjaga keseimbangan elektrolit dengan mengangkal efek natrium.

    Tak hanya itu, kandungan kalium dalam buah kiwi berkhasiat untuk menjaga fungsi kesehatan jantung, serta melancarkan peredaran darah agar tetap stabil.

    1. Meningkatkan Imunitas

    Kandungan vitamin C yang tinggi pada kiwi, serta senyawa antioksidan lainnya telah terbukti mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

    1. Menstabilkan Diabetes

    Buah kiwi termasuk dalam kategori indeks glikemik rendah, yang artinya buah ini tidak menaikkan gula darah dengan cepat.

    Buah ini cocok dikomsumsi oleh penderita diabetes karena memiliki beban glikemik yang rendah.

    1. Menyehatkan Kulit

    Manfaat lain yang diperoleh dari mengonsumsi buah kiwi adalah dapat menyehatkan kulit. Sebab buah kiwi mengandung antioksidan yang mampu menjaga elastisitas kulit sehingga dapat mencegah penuaan dini.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Hindari Melontarkan Pertanyaan Basa-basi Ini Saat Silaturahmi Keluarga

    Hindari Melontarkan Pertanyaan Basa-basi Ini Saat Silaturahmi Keluarga

    7cloud.asia – Momen di bulan Ramadan, terutama saat buka bersama, dan kumpul keluarga saat lebaran seharusnya menjadi momen yang bisa digunakan untuk mengenang kembali memori baik di masa lalu.

    Momen ini juga bisa menjadi ajang silaturahmi untuk bisa mengenal keluarga yang jarang ditemui. Dengan menjalin silaturahmi, kita bisa pula mempererat koneksi.

    Sayangnya, di Indonesia, kini makin umum fenomena di mana perantau, termasuk diaspora, enggan pulang kampung ketika lebaran. Alasannya beragam, mulai dari biaya transportasi yang mahal hingga tidak mau bertemu keluarga besar.

    Riset penulis di Selandia Baru, sejak tahun 2019, menunjukkan bahwa faktor terbesar penyebab mereka tidak mau berkumpul bersama keluarga adalah menjamurnya pertanyaan basa-basi.

    Ini mencakup pertanyaan seperti “kapan punya anak?”, “kapan menikah?”, dan “kapan lulus kuliah?” yang berujung pada diskriminasi struktural dan bentuk pengucilan di Indonesia.

    Baca: Kiat menjawab pertanyaan “kapan menikah?”

    Basa-basi memang sudah menjadi bagian budaya Indonesia, karena memang tujuannya bukan sesuatu yang buruk dan dimaksudkan untuk bertanya hal-hal ringan.

    Namun, peserta penelitian kami mengungkapkan bahwa pertanyaan basa-basi yang mungkin datang dari maksud baik, sering kali membuat mereka merasa terkucil daripada merasa dirangkul dan merayakan kebersamaan.

    Basa-basi yang menyakiti
    Peserta penelitian berjumlah 23 orang yang berasal dari Asia Tenggara dan Asia Selatan, termasuk dari Indonesia.

    Mayoritas negara asal mereka adalah negara heteronormatif, di mana menikah dan punya anak adalah sebuah konsensus sosial. Ini termasuk Indonesia.

    Ada faktor kenormalan yang diasumsikan bahwa semua orang dianggap memiliki nilai-nilai hidup dan pengalaman yang sama, yaitu, setelah mencapai usia tertentu, diharapkan secara sosial sudah menikah, lalu mempunyai anak.

    Baca: Makin banyak generasi muda yang menunda pernikahan

    Kolektivisme yang dianut oleh kebanyakan orang Asia, termasuk Asia Tenggara, dapat menjadi tolak ukur di sini. Kebebasan atau pilihan individu seakan tidak terlihat.

    Beberapa peserta penelitian kami yang merupakan diaspora mengakui bahwa mereka enggan untuk pulang kampung, termasuk untuk liburan, atau bertemu dengan keluarga besar mereka.

    Mereka mengatakan bahwa liburan ke kampung halaman yang sudah mereka rencanakan dengan baik, seringkali menjadi pengalaman yang tidak mengenakan.

    Salah satunya alasannya karena mereka sering mendapatkan pertanyaan, “sudah/kapan punya anak?” atau “putranya sudah berapa?”.

    Salah satu informan kami, Sari (usia akhir 30 tahunan) dan suaminya, contohnya, mengaku trauma. Mereka telah menikah beberapa tahun tapi belum memiliki anak meski sudah melakukan banyak cara, termasuk medis, untuk mendapatkan keturunan.

    Baca: Mengapa perempuan Korea menolak menikah?

    Pertanyaan tersebut memang tidak memiliki maksud buruk, hanya basa-basi, tetapi akhirnya membangkitkan kesedihan dalam dirinya.

    Dengan pertanyaan ini, Sari seperti diingatkan kembali segala pengorbanan dan kesakitan, baik fisik maupun psikologis- yang ia alami saat proses IVF (bayi tabung) demi mendapatkan buah hati.

    Belum lagi, ada pula pertanyaan atau komentar lain yang dimaksud sebagai candaan, namun dapat membuat orang lain tersinggung

    Hal ini karena bersifat pribadi dan instrusif seperti dengan mempertanyakan sebab musabab mengapa mereka susah diberikan keturunan atau mempertanyakan kejantanan suami/pasangan.

    Acara reuni dan kumpul keluarga yang awalnya diharapkan sebagai ajang untuk bertemu kangen dan bertukar cerita seringkali meninggalkan dampak psikologis lebih dalam bagi sebagian orang.

    Lantas, bagaimana seharusnya kita bersikap saat kumpul bersama keluarga? Jawabannya akan diulas dalam tulisan selanjutnya.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Nelly Martin-Anatias (Lecturer of Academic English at Massey University College, Te Kunenga ki Pūrehuroa – Massey University) dan Sharyn Graham Davies (Director, Herb Feith Indonesian Engagement Centre, Monash University)