Tag: sampah makanan

  • Sampah Makanan Rumah Tangga Besar Kontribusinya pada Sampah Global, Ini yang Bisa Dilakukan

    Sampah Makanan Rumah Tangga Besar Kontribusinya pada Sampah Global, Ini yang Bisa Dilakukan

    7cloud.asia – Sampah makanan bukan hanya masalah negara ataupun pelaku usaha/perusahaan, setiap individu juga ikut bertanggung jawab. Pasalnya sampah rumah tangga menyumbang 37 persen dari total sampah global.

    Untuk membuat perbedaan nyata terkait sampah makanan, kita perlu mengubah kebiasaan dan pola pikir kita tentang pangan dan konsumsi makanan.

    Cara sederhana untuk mengurangi sampah makanan di rumah adalah dengan menata makanan kita. Anda dapat menata lemari es agar barang-barang dengan tanggal kedaluwarsa terdekat berada di depan dan di tengah.

    Mencatat inventaris makanan dan tanggal kedaluwarsanya secara berkala juga dapat membantu mencegah pembelian berlebihan dan makanan yang terlupakan.

    Meskipun ini mungkin tampak memakan waktu, sebuah studi tahun 2020 menunjukkan bahwa kebiasaan kecil ini dapat menghasilkan penghematan yang signifikan, baik dari segi makanan maupun uang.

    Kita juga perlu mengubah persepsi kita tentang makanan. Alih-alih memasak apa pun yang kita inginkan, kita harus membuat keputusan menu berdasarkan apa yang perlu digunakan terlebih dahulu.

    Baca: Penerapan ekonomi sirkular untuk mengurangi sampah makanan

    Lebih lanjut, meneliti resep yang menggunakan sisa makanan adalah cara yang bagus untuk menjadi lebih kreatif.

    Misalnya, meningkatkan tingkat pengomposan secara global dapat menghasilkan penghematan karbon yang setara dengan menghilangkan sekitar 15 juta kendaraan penumpang dari jalan raya selama tiga dekade.

    Mengubah pola makan kita menjadi lebih berkelanjutan juga dapat berdampak signifikan. Para ahli sepakat bahwa manusia saat ini mengonsumsi terlalu banyak ikan, lemak, gula, dan makanan olahan.

    Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) merekomendasikan agar kita beralih ke pola makan yang utamanya terdiri dari makanan rendah karbon. Ini berarti berfokus pada makanan seperti sereal, kacang-kacangan, buah-buahan, dan sayuran.

    Dengan berupaya secara sadar untuk mengonsumsi lebih banyak makanan nabati, kita dapat memastikan pola makan seimbang sekaligus menurunkan jejak karbon kita.

    Merencanakan dan mempersiapkan dengan cermat makanan adalah kebiasaan baik lainnya yang dapat menghemat waktu dan sumber daya. Ini juga akan membantu Anda menghindari pembelian berlebihan dan pemborosan makanan.

    Baca: Sistem pangan sirkular untuk mengurangi sampah makanan

    Selain membantu lingkungan, Anda juga akan mendapatkan manfaat dari mengurangi sampah makanan. Berikut beberapa di antaranya:

    1. Anda akan dapat menghemat uang dengan merencanakan secara cermat apa yang akan dibeli dengan benar.

    2. Menjaga berat badan yang sehat dan mencegah makan berlebihan.

    3. Mengurangi risiko keracunan makanan di rumah Anda, karena menyimpan makanan yang terkontaminasi dapat terkonsumsi secara tidak sengaja tanpa Anda sadari.

    4. Dapur yang tertata rapi dan beraroma segar. Tidak akan ada bau tak sedap atau sampah makanan yang berantakan di sekitar dapur Anda.

    5. Mengendalikan hama, ketiadaan sampah makanan juga berarti Anda dapat mengusir hama, seperti tikus, lalat, ataupun kecoa.

    Baca: Limbah makanan jadi ancaman serius untuk lingkungan

  • Memahami Arti Label Makanan untuk Mengurangi Sampah Makanan Rumah Tangga

    Memahami Arti Label Makanan untuk Mengurangi Sampah Makanan Rumah Tangga

    7cloud.asia – Mengurangi sampah makanan rumah tangga adalah langkah kecil yang dapat Anda lakukan untuk turut merawat lingkungan. Pasalnya, sampah makanan rumah tangga merupakan salah salah satu sumber terbesar sampah.

    Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi sampah makanan adalah mengatur belanja makanan dan menata stok makanan. Satu hal yang tak kalah penting dalam urusan ini adalah memahami label makanan.

    Dengan memahami label makanan dan arti tanggal dalam label makanan dapat membantu Anda mengatur belanja makanan. Namun, perlu dicatat bahwa beberapa produsen mungkin tidak mencantumkan label ini pada produk mereka.

    Misalnya, jika Anda pergi ke pasar daging atau pasar ikan, Anda mungkin menerima produk dalam kantong biasa tanpa label.

    Jika hal ini yang terjadi, maka Anda dapat memngikuti panduan dasar kapan makanan aman dikonsumsi berikut ini, sebagaimana kami kutip dari Earth.org:

    Susu
    susu biasanya aman dikonsumsi hingga satu minggu setelah dibuka.

    Baca: Sampah makanan rumah tangga berkontribusi pada produksi sampah global

    Telur
    Jika disimpan dengan benar di lemari es, telur seringkali masih aman dikonsumsi dalam tiga hingga lima minggu sejak tanggal pembelian.

    Unggas dan makanan laut
    Daging unggas dan makanan laut sebaiknya dimasak atau bekukan dalam satu hingga dua hari setelah pembelian.

    Daging sapi atau babi
    Daging sapi dan babi dapat dimasak atau dibekukan dalam tiga hingga lima hari.

    Makanan kaleng
    Makanan kaleng aman dikonsumsi selama bertahun-tahun setelah tanggal “baik sebelum” selama kaleng tidak rusak (penyok, menggembung, atau bocor).

    Keasaman makanan dapat memengaruhi rasa dan teksturnya seiring waktu, tetapi umumnya, makanan kaleng dapat disimpan dalam jangka waktu yang sangat lama.

    Dan, berikut arti tanggal dalam label makanan:
    1. Tanggal “Jual Sebelum”
    Tanggal ini menunjukkan hari terakhir suatu produk harus dijual dengan kualitas terbaik. Tanggal ini bukan berarti makanan tersebut tidak lagi aman untuk dikonsumsi, Ini hanya menunjukkan bahwa barang tersebut mungkin mulai kehilangan sebagian kesegarannya.

    Baca: Penerapan ekonomi sirkular untuk mengurangi sampah makanan

    2. Tanggal “Baik digunakan sebelum (atau sebelum)”
    Tanggal ini menunjukkan kapan makanan akan berada dalam kualitas terbaiknya untuk dimakan.

    Ini bukan berarti makanan tidak dapat dimakan setelah tanggal ini, tetapi hanya memberi tahu pelanggan waktu terbaik untuk mengonsumsi makanan demi rasa dan kesegaran yang optimal.

    3. Tanggal “Dijamin segar”
    Tanggal ini mengacu pada tanggal ketika barang berada dalam kesegaran optimalnya. Ini biasanya digunakan untuk produk roti.

    4. “Tanggal pengemasan”
    Ini biasanya terdapat pada makanan kaleng atau kemasan. Ini memberi tahu kita kapan produk dikemas. Ini tidak menunjukkan kapan harus dikonsumsi.

    5. Tanggal “Gunakan Sebelum”
    Ini adalah tanggal terakhir produsen menjamin produk berada dalam kualitas maksimalnya.

    6. Tanggal “Kedaluwarsa pada”
    Tanggal ini paling umum ditemukan pada barang-barang yang mudah rusak seperti daging, susu, dan telur.

    Berbeda dengan tanggal “jual sebelum” atau “baik sebelum”, yang menunjukkan kualitas terbaik, tanggal kedaluwarsa berkaitan langsung dengan keamanan pangan.

    Baca: Sistem pangan sirkular untuk mengurangi sampah makanan

  • UNEP Luncurkan Inisiatif untuk Kurangi Sampah Makanan

    UNEP Luncurkan Inisiatif untuk Kurangi Sampah Makanan

    7cloud.asia – Program Lingkungan PBB (United Nation Environment Programme/UNEP) dan para mitranya pada 13 November lalu meluncurkan inisiatif baru untuk mengurangi sampah makanan pada tahun 2030.

    Inisiatif yang dinamai Food Waste Breakthrough ini sekaligus untuk mengurangi emisi metana hingga tujuh persen sebagai bagian dari upaya memperlambat perubahan iklim.

    Diluncurkan di sela COP 30 di Belém, Food Waste Breakthrough merupakan Solusi Iklim 2030 di bawah Kemitraan Marrakech untuk Aksi Iklim Global.

    Inisiatif ini menyatukan pemerintah, kota, dan masyarakat sipil untuk bertindak terhadap isu yang menyentuh inti dari kelaparan global dan perubahan iklim.

    Penelitian mengungkap, masyarakat global membuang lebih dari satu miliar ton sampah makanan setiap tahun, menyumbang hingga 10 persen dari emisi gas rumah kaca global.

    Sampah makanan menyumbang hingga 14 persen emisi metana, yang meski berumur pendek tapi 84 kali lebih kuat dalam menghangatkan atmosfer daripada karbon dioksida selama 20 tahun.

    Baca: Sampah makanan picu masalah serius pada lingkungan

    Dengan kontribusi terhadap kerugian finansial sebesar 1 triliun dolar AS per tahun, mengurangi sampah makanan menawarkan salah satu solusi paling hemat biaya, terukur, dan berdampak tinggi untuk mengatasi perubahan iklim dan kelaparan terutama di perkotaan.

    “Dunia membuang makanan dalam jumlah yang tak termaafkan setiap tahun, di setiap negara, kaya maupun miskin,” kata Inger Andersen, Direktur Eksekutif UNEP.

    Dia menambahkan, mengurangi sampah makanan menjadi kunci untuk mengatasi kelaparan dan mengurangi emisi metana dari tempat pembuangan sampah – tindakan tegas untuk menurunkan suhu global, menghemat uang, dan mengatasi kerawanan pangan secara bersamaan.

    ”Food Waste Breakthrough adalah jenis inisiatif besar yang kita butuhkan untuk mengendalikan perubahan iklim dan menyimpan makanan bergizi bagi mereka yang membutuhkannya,” imbuhnya.

    Climate High-Level Champion COP 30, Dan Ioschpe mengatakan bahwa jika tidak ditangani, dampak metana dari sampah makanan dapat meningkat dua kali lipat pada tahun 2050, mengancam iklim dan ketahanan pangan global.

    Namun, Ioschpe menegaskan, masyarakat global bisa mengambil aksi untuk mencari solusi dari masalah ini. Ia mengajak negara-negara bersatu.

    Baca: Fakta mengejutkan soal sampah makanan

    ”Dengan menyatukan pemerintah, kota, bisnis, dan komunitas di seluruh dunia untuk mengurangi separuh sampah makanan pada tahun 2030 dan mencegah makanan berakhir di tempat pembuangan akhir, kita dapat mengurangi metana, membuka aksi iklim yang berani, dan mendorong umat manusia menuju masa depan di mana kekurangan pangan dan sampah menjadi sejarah,” ujarnya.

    Tiga pilar utama
    Food Waste Breakthrough dibangun di atas tiga pilar, yakni peningkatan kapasitas dan advokasi, data dan kebijakan, serta keuangan dan Implementasi.

    Didanai oleh Fasilitas Lingkungan Global, UNEP akan meluncurkan proyek global senilai 3 juta dolar AS selama empat tahun untuk mengimplementasikan target Terobosan Sampah Makanan.

    Proyek ini akan mempercepat pencegahan limbah makanan dan mitigasi metana dengan mengadaptasi dan meningkatkan skala solusi yang telah terbukti di tingkat nasional dan sub-nasional di negara-negara berkembang, serta mendorong kolaborasi global dalam topik ini.

    “Menangani limbah makanan melalui pencegahan dan perubahan perilaku tidak hanya menjanjikan aksi iklim yang hemat biaya, tetapi juga mendukung konsumsi berkelanjutan,” ujar Carlos Manuel Rodríguez, CEO dan Ketua Global Environment Facility.

    “Kami berharap dapat bermitra dengan negara dan kota untuk meningkatkan investasi tersebut sebagai bagian dari komitmen kami untuk mewujudkan perubahan transformasional melalui solusi terintegrasi.”

    UNEP juga bekerja sama dengan lembaga keuangan dan yayasan untuk mengamankan tantangan senilai 5 juta dolar AS, untuk mendanai 20-25 inovasi komunitas yang dipimpin oleh kota-kota atau pemuda di Amerika Latin dan Karibia, Asia, Afrika, serta Timur Tengah.

    Baca: Sistem pangan sirkular jadi solusi untuk atasi sampah makanan

  • Mahasiswa UGM Kembangkan Aplikasi untuk Kurangi Sampah Makanan dari Program MBG

    Mahasiswa UGM Kembangkan Aplikasi untuk Kurangi Sampah Makanan dari Program MBG

    7cloud.asia – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai dijalankan pemerintah sejak Januari 2025 masih menghadapi berbagai tantangan di lapangan.

    Implementasi program MBG mengalami kendala seperti menu yang kurang sesuai selera anak, kualitas makanan yang tidak konsisten, hingga meningkatnya sampah makanan.

    Kondisi ini menegaskan perlunya pendekatan yang lebih sistematis untuk pemenuhan gizi yang berkelanjutan.

    Menanggapi permasalahan tersebut, tim Program Kreativitas Mahasiswa – Video Gagasan Konstruktif (PKM-VGK) Universitas Gadjah Mada yang diketuai oleh Muhammad Afnand Kabhila merancang Sustainable Integrated Kitchen System (SIKE).

    Inovasi ini berupa dapur pintar berbasis Artificial Intelligence (AI) ini dirancang untuk mengoptimalkan pelaksanaan program MBG sekaligus mengolah sampah makanan menjadi energi terbarukan.

    Adapun tim yang lolos ke PIMNAS ke-38 ini beranggotakan Fauzi Septriantoro, Muhammad Rizky Khoirul Amar, Safira Mahardika Rahayu, dan Muhammad Firdaus Ar Riza, di bawah  bimbingan Ni Nyoman Nepi Marleni, S.T., M.Sc., Ph.D.

    Baca: Pelaksanaan MBG justru mengganggu tata kelola gizi di Indonesia

    Afnand menjelaskan bahwa program MBG merupakan langkah penting pemerintah, namun penyelenggaraannya masih menghadapi hambatan dari aspek selera anak hingga manajemen logistik.

    Akibatnya, sisa makanan kerap meningkat dan memperburuk persoalan food wasting. Ia berharap SIKE dapat hadir sebagai solusi end-to-end untuk menjawab masalah tersebut.

    “SIKE kami rancang sebagai solusi end to-end untuk memutus paradoks ini, memastikan gizi tersampaikan dengan baik dan tidak ada yang terbuang sia-sia,” ujarnya beberapa waktu lalu seperti dikutip ugm.ac.id.

    Lebih lanjut, Afnand memaparkan bahwa SIKE bekerja melalui dua level prioritas utama.

    Prioritas pertama merupakan optimalisasi menu dan rantai pasok, yang didukung AI untuk mengelola stok bahan baku secara real time dan menganalisis kebutuhan gizi siswa berdasarkan preferensi dan ketersediaan pangan lokal.

    Prioritas kedua berfokus pada manajemen limbah melalui konsep ekonomi sirkular. Setiap sisa makanan dipantau dengan sensor berat (load-cell), lalu data tersebut diolah AI sebagai umpan balik untuk evaluasi menu.

    Baca: Banyak makanan terbuang, MBG menambah persoalan lingkungan

    “Puncaknya, limbah sisa dari tahap penyajian akan diolah menjadi energi biogas. Energi ini kemudian akan digunakan kembali untuk proses pengolahan di dapur MBG. Ini adalah siklus tertutup yang sesungguhnya,” jelasnya.

    Dalam upaya memperluas dampak, tim PKM SIKE merilis konsep ini melalui video gagasan konstruktif di kanal YouTube, Instagram, dan TikTok resmi tim.

    Video tersebut mengangkat alur dramatis tentang siswa yang pingsan akibat menu MBG yang tidak sesuai, kemudian mengenalkan SIKE sebagai solusi komprehensif bagi perbaikan program.

    Konten publikasi ini mendapat respons positif dan telah ditonton lebih dari 146.000 kali di Instagram.

    “Kami berharap gagasan ini dapat terus dikembangkan dan menjadi cetak biru pelaksanaan MBG yang lebih efektif dan berkelanjutan,” pungkas Afnand.

    Baca: Program MBG berpotensi picu kekerasan pada anak

  • Studi: Jika Masyarakat Mengubah Pola Makan Efektif Menahan Laju Krisis Iklim

    Studi: Jika Masyarakat Mengubah Pola Makan Efektif Menahan Laju Krisis Iklim

    7cloud.asia – Selama ini, masyarakat kerap mengaitkan krisis iklim dengan kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh deforestasi, emisi transportasi hingga gas buang industri.

    Padahal ada sumber yang diam-diam menjadi penyumbang terbesar emisi karbon, yakni sampah makanan rumah tangga yang tidak kalah bahayanya.

    Penelitian yang dirilis baru-baru ini menunjukkan bahwa sampah makanan sehari-hari yang kita konsumsi juga menjadi salah satu pendorong terbesar krisis iklim karena gas metana yang dihasilkannya.

    Penelitian yang dilansir Science Daily ini menyebutkan, sistem pangan dunia menyumbang lebih dari sepertiga emisi gas rumah kaca global.

    Perubahan kecil yang dilakukan yakni dengan mengurangi sampah makanan, mengambil porsi makan secukupnya, dan mengurangi konsumsi daging sapi dapat memberikan dampak besar untuk menekan laju krisis iklim.

    Baca: UNEP luncurkan inisiatif untuk kurangi sampah makanan

    Penelitian yang dilakukan oleh Universitas British Columbia itu menemukan bahwa 44 persen populasi global perlu mengubah kebiasaan makan mereka untuk menjaga pemanasan global di bawah ambang 2°Celcius,

    Angka ini merupakan batas kenaikan suhu global yang disepakati para ilmuwan untuk menghindari dampak krisis iklim yang lebih parah dan tidak mungkin ditanggung oleh penghuni planet Bumi.

    Temuan tersebut diperoleh dengan menelaah data konsumsi makanan dari 112 negara yang mencakup 99 persen emisi gas rumah kaca terkait pangan secara global, dan membagi populasi setiap negara menjadi 10 kelompok pendapatan.

    Setelah dikelompokkan, tim peneliti yang dipimpin oleh Dr. Juan Diego Martinez dari Universitas British Columbia itu lalu menghitung “kuota emisi makanan” per orang.

    Kuota ini didasarkan berapa banyak gas rumah kaca yang dihasilkan dari sampah makanan yang dihasilkan setiap individu.

    Baca: Orang kaya harus mengerem emisinya agar warga miskin terpenuhi hak dasarnya

    Setelah dibandingkan dengan batas total emisi yang masih bisa ditoleransi jika tetap ingin menjaga pemanasan global di bawah 2°C, hasilnya menunjukkan bahwa hampir setengah populasi dunia sudah melampaui batas tersebut.

    Penelitian itu juga menunjukkan bahwa meski kelompok dengan emisi tertinggi menyumbang porsi besar dari total emisi pangan global, banyak orang dari berbagai kelompok pendapatan di banyak negara lain juga melampaui anggaran emisi makanan yang dianggap aman.

    Oleh karena itu, temuan tersebut menekankan bahwa persoalan emisi dari sampah makanan bukan hanya tanggung jawab segelintir kalangan saja, melainkan tanggung jawab bersama masyarakat dunia.

    Pasalnya, setiap orang di dunia butuh makan dan pilihan makanan berkontribusi pada kondisi iklim.

     

  • Kiat Jalani Puasa Ramadan Secara Ramah Lingkungan

    Kiat Jalani Puasa Ramadan Secara Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Ramadan oleh banyak orang disebut sebagai bulan refleksi dan pengendalian diri. Ironisnya, puasa Ramadan justru jadi pendorong banyak orang untuk lapar mata,

    Akibatnya saat puasa Ramadan yang harusnya jadi bulan pengendalian diri, justru lebih banyak makanan terbuang ke tempat pembuangan akhir. Dan, lonjakan sampah makanan ini jadi satu tantangan terbesar saat Ramadan.

    Data Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan, volume sampah meningkat rata-rata 10–20 persen selama Ramadan, dengan sekitar 40 persen berupa sisa makanan.

    Merespon kondisi ini, Kepala Proyek Ummah for Earth Greenpeace Indonesia, Riska Rahman mengatakan, untuk menekan sampah makanan atau food waste, masyarakat dapat meneladani cara Nabi Muhammad SAW saat berbuka: sederhana dan tidak berlebihan.

    ”Sisa makanan bisa disimpan untuk dikonsumsi kembali, dibagikan kepada yang membutuhkan, atau diolah menjadi kompos. Mengompos di rumah membantu mengurangi timbulan sampah sekaligus mengembalikan nutrisi ke tanah,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang dirilis di laman resmi Greenpeace.

    Baca: Konsumsi pangan lokal lebih baik untuk kelestarian lingkungan

    Peningkatan konsumsi saat Ramadan juga terlihat dari maraknya penggunaan plastik sekali pakai untuk takjil dan buka puasa bersama.

    Riska mengajak masyarakat membawa wadah guna ulang seperti tumbler dan kotak makan, serta memilih kemasan alami seperti besek, tampah, atau daun pisang untuk mengurangi sampah plastik yang mencemari lingkungan.

    Untuk menjalankan puasa dengan lebih ramah lingkungan, ujarnya, kita juga bisa menerapkan gaya hidup minim sampah dan konsumsi bijak selama Ramadan dengan mengikuti panduan Ramadan Ramah Lingkungan.

    Ramadan menjadi momentum untuk memperkuat hablum minal ‘alam—hubungan dengan alam—melalui langkah sederhana yang berdampak nyata.

    “Menahan diri bukan hanya soal lapar dan haus, tetapi juga menahan sikap berlebih-lebihan yang membebani Bumi,” ujarnya.

    Baca: Kebijakan berbuka puasa saat berada di MRT Jakarta

    Selain aksi sehari-hari, Greenpeace juga mengajak umat Muslim memanfaatkan waktu-waktu mustajab selama Ramadan untuk mendoakan kelestarian lingkungan dan kebijakan iklim yang lebih adil.

    Doa dan aksi berjalan beriringan, ujar Riska, sebagai bentuk tanggung jawab moral dan spiritual terutama kepada saudara-saudara kita yang masih belum pulih dari Bencana Iklim di Sumatera dan juga saudara-saudara kita di Palestina yang belum bebas merdeka dari ancaman zionis Israel.

    Menjelang Idul Fitri, refleksi dapat terus disempurnakan lewat pilihan berpakaian. Menggunakan pakaian terbaik memang sunnah, namun tidak harus selalu baru.

    Memakai kembali pakaian yang ada, memperbaiki yang rusak, memilih produk preloved, atau membeli pakaian berkualitas dan tahan lama adalah langkah sederhana untuk mengurangi dampak industri fesyen yang boros sumber daya.

    “Ramadan adalah kesempatan membersihkan jiwa sekaligus memperbaiki jejak kita di Bumi. Aksi sederhana yang dilakukan bersama dapat menjadi wujud nyata amanah kita sebagai khalifah,” tutup Riska.

  • UGM Dampingi Santri Kurangi Sampah Makanan

    UGM Dampingi Santri Kurangi Sampah Makanan

    7cloud.asia – Ini cerita tentang upaya mengurangi sampah makanan di Asrama Putri Pondok Pesantren Al-Imdad, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Timbunan sisa makanan di pondok pesantren ini dapat mencapai sekitar 30-40 kilogram setiap harinya, dengan nasi dan sayur menjadi jenis makanan yang paling banyak tersisa di tumpukan sampah makanan yang ada.

    Melihat fenomena ini, santri dan pengelola pondok menyusun langkah bersama untuk mengurangi jumlah makanan yang tersisa sekaligus mengolah sisa yang masih dihasilkan melalui program “Santri Lawan Food Waste”.

    Dengan didampingi tiga mahasiswa Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada mereka memulai program ini.

    Kadek Darmawan, Stella Stritamar Amabi, dan Karimatul Khalidah mendampingi kegiatan tersebut sebagai bagian dari Mata Kuliah Pemberdayaan Masyarakat dan Networking.

    Langkah pertama yang dilakukan ialah observasi dan wawancara untuk memahami keseharian santri serta pengelolaan makanan di asrama.

    Baca: Mengubah Pola Makan Efektif Menahan Laju Krisis Iklim

    Dari temuan awal tersebut, bersama santri dan unsur pengelola pondok, yaitu pengurus asrama, pengelola dapur, dan pengelola pondok limbah, ketiganya coba mengenali penyebab makanan tersisa dan menentukan langkah yang sesuai dengan kondisi serta sumber daya yang tersedia di pondok.

    Dilansir di ugm.acid, Kadek menjelaskan bahwa proses pendampingan membantu mahasiswa memahami persoalan sisa makanan dari pengalaman sehari-hari santri dan pengelola pondok.

    Dari diskusi yang telah dilakukan, mereka menemukan beberapa faktor yang memengaruhi makanan tersisa, antara lain rasa dan selera, kebiasaan mengonsumsi makanan ringan, suasana hati, porsi yang diambil, dan keterbatasan waktu makan.

    “Kami belajar bersama santri dan pengelola pondok untuk memahami berbagai faktor yang menyebabkan makanan tersisa. Usulan kegiatan muncul dari pengalaman dan kebutuhan mereka, sedangkan kami membantu membuka ruang diskusi agar setiap pihak dapat menyampaikan pandangan dan masukan,” ujar Kadek (18/6/2026).

    Dari rangkaian diskusi tersebut, santri dan pengelola pondok memilih empat kegiatan utama, yaitu edukasi tentang pengambilan porsi dan kebiasaan menghabiskan makanan, penyediaan kotak saran menu.

    Mereka juga mengaktifkan kembali budidaya maggot black soldier fly, serta pengembangan lomba kebersihan kamar yang memasukkan aspek pengurangan sisa makanan.

    Baca: Sampah Makanan Rumah Tangga Besar Kontribusinya pada Sampah Global

    Dari empat kegiatan yang dipilih, tiga di antaranya telah dijalankan.

    Pesan tentang pengambilan porsi sesuai kebutuhan, manfaat mengonsumsi makanan bergizi, dan pentingnya menghabiskan makanan disampaikan dalam kegiatan pembinaan santri setiap Jumat malam setelah salat Isya.

    Materinya dihubungkan dengan nilai yang telah hidup di lingkungan pesantren, seperti sikap tidak berlebih-lebihan atau israf, rasa syukur, dan tanggung jawab dalam memanfaatkan makanan secara bijaksana.

    Kotak saran menu juga telah disediakan sebagai saluran komunikasi antara santri dan pengelola dapur. Melalui kotak tersebut, santri dapat menyampaikan masukan mengenai rasa, variasi, porsi, dan menu yang disajikan.

    Masukan yang terkumpul selanjutnya dapat menjadi bahan pembahasan bagi pengurus dan pengelola dapur. Sementara itu, pengelola pondok limbah mulai mengaktifkan kembali budidaya maggot setelah sekitar empat bulan tidak berjalan.

    Maggot tersebut dimanfaatkan untuk mengolah sisa makanan yang masih dihasilkan.

    Baca: Penerapan Ekonomi Sirkular untuk Mengurangi Limbah Makanan

    Kegiatan berikutnya, yaitu pengembangan lomba kebersihan kamar, masih dalam tahap persiapan untuk dimasukkan ke dalam agenda pondok yang berlangsung dua kali setahun.

    Dalam rancangan tersebut, upaya setiap kamar dalam mengurangi dan menangani sisa makanan menjadi salah satu aspek penilaian.

    Kamar dengan hasil terbaik memperoleh penghargaan, sedangkan kamar yang menghasilkan sisa makanan paling banyak mengikuti pembinaan edukatif kelompok, seperti menyampaikan kultum, membuat poster, mengampanyekan kebiasaan menghabiskan sayur, atau membantu kegiatan di dapur.

    Dengan kegiatan ini, para santri didorong untuk lebih bertanggung jawab atas kebersihan kamar dan konsumsi mereka.

    Sementara bagi mahasiswa, pendampingan tersebut menjadi pengalaman untuk mendengarkan kebutuhan santri dan pengelola pondok, mengenali sumber daya yang telah tersedia, serta mendukung pelaksanaan kegiatan tanpa mengambil alih proses pengambilan keputusan.

    Melalui keterlibatan santri dan pengelola pondok, “Santri Lawan Food Waste” mendukung upaya mengurangi sisa makanan dari sumbernya dan membangun kebiasaan konsumsi yang lebih bertanggung jawab.

    Hal ini sejalan dengan SDGs nomor 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.