Ilustrasi sampah makanan. Foto: majalahcsr.id
7cloud.asia – Waktu kita kecil orang tua kita sering memberikan nasihat agar tidak membuang-buang makanan sehingga menjadi sampah makanan.
“Jangan menyisakan nasi, nanti nasinya nangis lho,” demikian nasehat orang tua yang pernah kita dengar agar kita tidak sering-sering menghasilkan sampah makanan.
Alasan orang tua memberikan nasihat seperti itu biasanya karena tindakan membuang makanan menjadi sampah makanan adalah cermin sikap tidak bersyukur, sebab di luar sana masih banyak orang yang merasa kelaparan karena kesulitan makan.
Akan tetapi, sebenarnya terdapat alasan lain yang mengharuskan kita untuk tidak membuang makanan. Sampah makanan bisa memicu masalahan serius bagi lingkungan.
Namun demikian, masih banyak orang yang menganggap membuang makanan menjadi sampah makanan sebagai hal yang wajar dan tidak ada dampaknya bagi lingkungan.
Baca: Cara bijak kurangi sampah plastik
Food Loss & Food Waste
Mungkin kita lebih sering mendengar istilah food waste yang merujuk pada limbah atau sampah makanan. Namun sebenarnya limbah atau sampah makanan (food wastage) bisa dikategorikan menjadi dua macam, yaitu food loss dan food waste.
Food loss merupakan makanan yang mengalami penurunan kualitas yang disebabkan oleh berbagai faktor selama prosesnya dalam rantai pasokan makanan sebelum menjadi produk akhir. Food loss biasanya terjadi pada tahap produksi, pasca panen, pemrosesan, hingga distribusi dalam rantai pasokan makanan.
Misalnya saat hama menyerang tanaman atau cuaca buruk yang dapat merusak hasil panen. Kemudian ketika diangkut dalam proses distribusi, makanan juga bisa menjadi rusak sehingga tidak layak untuk dikonsumsi.
Sementara itu, food waste adalah makanan yang telah melewati rantai pasokan makanan hingga menjadi produk akhir, berkualitas baik, dan layak dikonsumsi, tetapi tetap tidak dikonsumsi dan dibuang. Makanan yang dibuang ini termasuk yang masih layak ataupun dibuang karena sudah rusak sehingga menjadi sampah makanan.
Baca: 6 Gaya hidup tak ramah lingkungan yang layak ditinggalkan
Food waste biasanya terjadi pada tingkat ritel dan konsumen. Contohnya adalah makanan yang tersisa di piring dan makanan yang sudah kedaluwarsa sehingga akhirnya menjadi sampah makanan
Secara global, sebanyak 1,3 miliar ton makanan terbuang setiap tahunnya. Indonesia sendiri merupakan salah satu negara penghasil sampah makanan (food loss dan food waste) terbesar di dunia, selain Arab Saudi dan Amerika Serikat.
Menurut kajian Bappenas, sampah makanan yang terbuang di Indonesia pada 2000-2019 mencapai 23-48 juta ton per tahun atau setara 115-184 kilogram per kapita setiap tahunnya.
Kerugian ekonomi yang diakibatkan sampah makanan ini diperkirakan mencapai Rp 300 triliun lebih setahun.
Kemudian berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada tahun 2021, di antara semua jenis sampah yang dibuang, sampah makanan menjadi komposisi sampah yang paling banyak yaitu sebesar 29,1 persen dari total sampah.
Baca: Mengapa gaya hidup minimalis lebih ramah lingkungan
Dampak Negatif Food Loss & Food Waste
Setiap makanan yang terbuang menjadi sampah makanan berarti sumber daya yang digunakan untuk setiap langkah tersebut juga terbuang sia-sia. Misalnya, plastik yang digunakan sebagai kemasan sayuran beku yang dibuang. Atau, semua asap dan bahan bakar yang dikeluarkan saat buah dikirim dari suatu wilayah ke wilayah lain.
Penggunaan non-produktif sumber daya alam seperti tanah dan air yang dihasilkan dari food loss dan food waste berdampak pada pengentasan kelaparan dan kemiskinan, gizi, peningkatan pendapatan dan pertumbuhan ekonomi.
Untuk produsen kecil, kerugian kuantitatif secara langsung mengakibatkan lebih sedikit makanan yang tersedia, yang berkontribusi pada kerawanan pangan.
Dampak food loss dan food waste secara kualitatif dapat menyebabkan penurunan status gizi, sementara produk berkualitas rendah mungkin juga tidak aman karena efek buruknya pada kesehatan, kesejahteraan dan produktivitas konsumen.
Baca: Dampak gaya hidup konsumtif bagi lingkungan
Untuk setiap makanan yang terbuang, didalamnya juga terdapat biaya lingkungan yang harus dibayar. Misalnya, air selalu digunakan dalam setiap tahap proses produksi makanan.
Saat ini, sekitar 70% dari sumber daya air tawar global yang tersedia digunakan untuk mengairi tanaman dan menghasilkan makanan. Pengemasan dan pengangkutan makanan juga membutuhkan air.
Ketika makanan terbuang menjadi sampah makanan, maka semua air itu juga terbuang sia-sia. Begitu juga air di dalam makanan yang terbuang misalnya buah yang mengandung air.
Air yang terbuang tersebut setara dengan sekitar 170 triliun liter (atau 45 triliun galon) air per tahun.
Menurut WHO, jumlah minimum air yang dibutuhkan setiap orang per hari adalah sekitar 15-20 liter. Jika sebagian kecil dari air yang terbuang dapat diselamatkan, hal tersebut sangat membantu dalam menyediakan air bagi orang-orang di seluruh dunia.
Membuang-buang makanan artinya membuang begitu banyak air. Sehingga, jika digabungkan, dapat menutupi semua kebutuhan air rumah tangga dunia.
Baca: Mengapa ada Hari Spesies Terancam Punah?
Sampah makanan juga sangat berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca. Saat membusuk di tempat pembuangan sampah, ia menghasilkan gas rumah kaca yang disebut metana, yang lebih berbahaya daripada CO₂.
Gas rumah kaca juga dikeluarkan dalam produksi dan transportasi makanan. Emisi dari kendaraan yang mengangkut makanan menghasilkan CO₂. Kelebihan jumlah gas rumah kaca seperti metana, CO₂ dan CFC menyerap radiasi infra merah dan memanaskan atmosfer bumi, menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim.
Para ilmuwan percaya bahwa jika kita berhenti membuang makanan, kita dapat mencegah 11% emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh sistem pangan.
Kita juga harus mengingat langkah-langkah yang telah dilakukan untuk menghasilkan makanan sejak awal. Misalnya, untuk membuat pabrik, harus membuka lahan. Pembukaan lahan dapat menghancurkan habitat satwa liar dan dapat mengurangi keanekaragaman hayati.
Sumber: ui.ac.id





