Tag: sampah makanan

  • Seperti Ini Dampak Sampah Makanan pada Lingkungan

    Ilustrasi sampah makanan. Foto: majalahcsr.id

    7cloud.asia – Waktu kita kecil orang tua kita sering memberikan nasihat agar tidak membuang-buang makanan sehingga menjadi sampah makanan.

    “Jangan menyisakan nasi, nanti nasinya nangis lho,” demikian nasehat orang tua yang pernah kita dengar agar kita tidak sering-sering menghasilkan sampah makanan.

    Alasan orang tua memberikan nasihat seperti itu biasanya karena tindakan membuang makanan menjadi sampah makanan adalah cermin sikap tidak bersyukur, sebab di luar sana masih banyak orang yang merasa kelaparan karena kesulitan makan.

    Akan tetapi, sebenarnya terdapat alasan lain yang mengharuskan kita untuk tidak membuang makanan. Sampah makanan bisa memicu masalahan serius bagi lingkungan.

    Namun demikian, masih banyak orang yang menganggap membuang makanan menjadi sampah makanan sebagai hal yang wajar dan tidak ada dampaknya bagi lingkungan. 

    Baca: Cara bijak kurangi sampah plastik 

    Food Loss & Food Waste

    Mungkin kita lebih sering mendengar istilah food waste yang merujuk pada limbah atau sampah makanan. Namun sebenarnya limbah atau sampah makanan (food wastage) bisa dikategorikan menjadi dua macam, yaitu food loss dan food waste

    Food loss merupakan makanan yang mengalami penurunan kualitas yang disebabkan oleh berbagai faktor selama prosesnya dalam rantai pasokan makanan sebelum menjadi produk akhir. Food loss biasanya terjadi pada tahap produksi, pasca panen, pemrosesan, hingga distribusi dalam rantai pasokan makanan.

    Misalnya saat hama menyerang tanaman atau cuaca buruk yang dapat merusak hasil panen. Kemudian ketika diangkut dalam proses distribusi, makanan juga bisa menjadi rusak sehingga tidak layak untuk dikonsumsi.

    Sementara itu, food waste adalah makanan yang telah melewati rantai pasokan makanan hingga menjadi produk akhir, berkualitas baik, dan layak dikonsumsi, tetapi tetap tidak dikonsumsi dan dibuang. Makanan yang dibuang ini termasuk yang masih layak ataupun dibuang karena sudah rusak sehingga menjadi sampah makanan.

    Baca: 6 Gaya hidup tak ramah lingkungan yang layak ditinggalkan

    Food waste biasanya terjadi pada tingkat ritel dan konsumen. Contohnya adalah makanan yang tersisa di piring dan makanan yang sudah kedaluwarsa sehingga akhirnya menjadi sampah makanan

    Secara global, sebanyak 1,3 miliar ton makanan terbuang setiap tahunnya. Indonesia sendiri merupakan salah satu negara penghasil sampah makanan (food loss dan food waste) terbesar di dunia, selain Arab Saudi dan Amerika Serikat.

    Menurut kajian Bappenas, sampah makanan yang terbuang di Indonesia pada 2000-2019 mencapai 23-48 juta ton per tahun atau setara 115-184 kilogram per kapita setiap tahunnya.

    Kerugian ekonomi yang diakibatkan sampah makanan ini diperkirakan mencapai Rp 300 triliun lebih setahun.

    Kemudian berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada tahun 2021, di antara semua jenis sampah yang dibuang, sampah makanan menjadi komposisi sampah yang paling banyak yaitu sebesar 29,1 persen dari total sampah.

    Baca: Mengapa gaya hidup minimalis lebih ramah lingkungan

    Dampak Negatif Food Loss & Food Waste

    Setiap makanan yang terbuang menjadi sampah makanan berarti sumber daya yang digunakan untuk setiap langkah tersebut juga terbuang sia-sia. Misalnya, plastik yang digunakan sebagai kemasan sayuran beku yang dibuang. Atau, semua asap dan bahan bakar yang dikeluarkan saat buah dikirim dari suatu wilayah ke wilayah lain.

    Penggunaan non-produktif sumber daya alam seperti tanah dan air yang dihasilkan dari food loss dan food waste berdampak pada pengentasan kelaparan dan kemiskinan, gizi, peningkatan pendapatan dan pertumbuhan ekonomi.

    Untuk produsen kecil, kerugian kuantitatif secara langsung mengakibatkan lebih sedikit makanan yang tersedia, yang berkontribusi pada kerawanan pangan.

    Dampak food loss dan food waste secara kualitatif dapat menyebabkan penurunan status gizi, sementara produk berkualitas rendah mungkin juga tidak aman karena efek buruknya pada kesehatan, kesejahteraan dan produktivitas konsumen.

    Baca: Dampak gaya hidup konsumtif bagi lingkungan

    Untuk setiap makanan yang terbuang, didalamnya juga terdapat biaya lingkungan yang harus dibayar. Misalnya, air selalu digunakan dalam setiap tahap proses produksi makanan.

    Saat ini, sekitar 70% dari sumber daya air tawar global yang tersedia digunakan untuk mengairi tanaman dan menghasilkan makanan. Pengemasan dan pengangkutan makanan juga membutuhkan air.

    Ketika makanan terbuang menjadi sampah makanan, maka semua air itu juga terbuang sia-sia. Begitu juga air di dalam makanan yang terbuang misalnya buah yang mengandung air.

    Air yang terbuang tersebut setara dengan sekitar 170 triliun liter (atau 45 triliun galon) air per tahun.

    Menurut WHO, jumlah minimum air yang dibutuhkan setiap orang per hari adalah sekitar 15-20 liter. Jika sebagian kecil dari air yang terbuang dapat diselamatkan, hal tersebut sangat membantu dalam menyediakan air bagi orang-orang di seluruh dunia.

    Membuang-buang makanan artinya membuang begitu banyak air. Sehingga, jika digabungkan, dapat menutupi semua kebutuhan air rumah tangga dunia.

    Baca: Mengapa ada Hari Spesies Terancam Punah?

    Sampah makanan juga sangat berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca. Saat membusuk di tempat pembuangan sampah, ia menghasilkan gas rumah kaca yang disebut metana, yang lebih berbahaya daripada CO₂.

    Gas rumah kaca juga dikeluarkan dalam produksi dan transportasi makanan. Emisi dari kendaraan yang mengangkut makanan menghasilkan CO₂. Kelebihan jumlah gas rumah kaca seperti metana, CO₂ dan CFC menyerap radiasi infra merah dan memanaskan atmosfer bumi, menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim.

    Para ilmuwan percaya bahwa jika kita berhenti membuang makanan, kita dapat mencegah 11% emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh sistem pangan.

    Kita juga harus mengingat langkah-langkah yang telah dilakukan untuk menghasilkan makanan sejak awal. Misalnya, untuk membuat pabrik, harus membuka lahan. Pembukaan lahan dapat menghancurkan habitat satwa liar dan dapat mengurangi keanekaragaman hayati.

    Sumber: ui.ac.id

     
  • Ini yang Bisa Kita Lakukan untuk Kurangi Sampah Makanan

    7cloud.asia – Makanan yang terbuang akan menjadi limbah atau sampah makanan terbukti memicu masalah serius bagi lingkungan.

    Sampah makanan tak hanya membuat banyak sumber daya yang telah digunakan terbuang sia-sia. Sampah makanan juga memicu produksi metana, gas ruang kaca yang lebih berbahaya dibanding karbondioksida.

    Pencegahan produksi sampah makanan bisa dilakukan baik oleh konsumen, produsen, maupun pemerintah lewat kebijakan.

    Sebagai konsumen kita dapat melakukan sejumlah langkah sederhana yang terbukti efektif mengurangi dampak yang ditimbulkan sampah makanan pada lingkungan. 

    Baca: Sampah makanan timbulkan masalah serius bagi lingkungan

    Berikut beberapa langkah yang bisa kita lakukan untuk mencegah atau mengurangi produksi sampah makanan agar tidak mencemari lingkungan.

    1. Memanfaatkan sisa makanan sebaik mungkin dengan membuat makanan baru untuk dimakan keesokan hari daripada membuangnya

    2. Menyimpan makanan dengan benar supaya tidak mudah busuk

    3. Merencanakan menu makanan dengan porsi yang sesuai kebutuhan supaya makanan tidak terbuang nantinya dan dapat menghemat uang. Kita bisa meminta porsi yang lebih kecil jika makan di restoran.

    4. Mengubah pola makan kita menjadi pola makan yang lebih ramah lingkungan. Misalnya, dengan membatasi daging (memproduksi 1,9 pon daging melepaskan 28,6 pon CO₂, serta menggunakan sejumlah besar tanah dan air untuk produksinya)

    5. Mengonsumsi susu serta menjadikan buah-buahan, sayuran, dan kacang-kacangan sebagai makanan pokok.

    6. Memeriksa kulkas atau lemari penyimpanan sebelum pergi berbelanja dan mendaftar apa saja yang dibutuhkan untuk dibeli

    6. Memahami perbedaan tanggal expired (kedaluwarsa) dengan best before (baik digunakan sebelum). Tanggal best before (baik digunakan sebelum) hanyalah panduan kapan produk akan melewati masa terbaiknya sehingga tidak apa-apa untuk memakannya setelah tanggal, selama belum busuk, berjamur, berbau, berubah rasa, atau melewati tanggal kedaluwarsa (jika tertera)

    7. Buah-buahan yang bentuknya salah atau “jelek” tidak selalu buruk dan masih bisa dibeli dan digunakan dalam masakan seperti sup

    8. Membekukan makanan jika tidak dipakai segera, bahkan juga untuk susu. Di beberapa tempat, terutama negara berkembang, pendinginan tidak selalu praktis.

    Salah satu pilihannya adalah dengan mengeringkan makanan atau bisa juga menyimpannya dalam wadah penyimpanan tahan lembab

    9. Terakhir, alih-alih membuang semua makanan makanan yang sudah tidak layak konsumsi, beberapa di antaranya dapat digunakan kembali sebagai pakan ternak. Kita juga bisa membantu tanah dengan membuat kompos dari sisa makanan daripada membuangnya

    Baca: Dengan sistem isi ulang Siklus, kita bisa kurangi sampah plastik

    Selain sembilan langkah di atas, kita juga dapat mengurangi sampah makanan dengan mengatur cara penyimpanan makanan di kulkas supaya tetap segar, awet, dan tidak cepat busuk atau rusak.

    Sedangkan bagi produsen atau pemasok dapat melakukan langkah-langkah berikut ini untuk mengurangi sampah makanan.

    • Peningkatan perencanaan produksi, selaras dengan pasar
    • Menyeimbangkan produksi dengan permintaan, yang berarti penggunaan sumber daya alam lebih sedikit untuk menghasilkan makanan
    • Lebih banyak upaya harus dilakukan untuk mengembangkan proses pemanenan, penyimpanan, pemrosesan, dan pendistribusian makanan yang lebih baik. Jika terjadi kelebihan pasokan, harus mengambil langkah untuk mendistribusikan kembali makanan atau mengirimkannya kepada orang-orang yang membutuhkan
    • Memiliki data yang akurat untuk melihat di titik mana biasa terjadi food loss dan food waste
    • Menerapkan inovasi misalnya dengan membuat platform e-commerce untuk pemasaran atau sistem pemrosesan makanan yang dapat ditarik
    • Pengemasan makanan yang lebih baik serta melonggarkan peraturan dan standar tentang persyaratan estetika untuk buah dan sayuran
    • Penggunaan peti selama pengangkutan telah mengurangi food loss dari sayuran dan buah-buahan hingga 87 persen. Di mana peti menggantikan kantong plastik sekali pakai, ini juga membawa manfaat lingkungan

    Bagi Supermarket dan Toko Grosir

    • Supermarket dapat menurunkan harga makanan yang mungkin dianggap “tidak sempurna” atau “jelek”. Harus juga memperhatikan tanggal “best before” atau “baik digunakan sebelum” pada makanan yang dijual. Dengan begitu, makanan yang benar-benar enak tidak akan dibuang
    • Supermarket juga dapat menyumbangkan makanan yang tidak dijual
    • Mengidentifikasi dimana pemborosan terjadi
    • Jika memang harus dibuang, beberapa dapat diberikan untuk pakan ternak masyarakat setempat

    Bagi Pemerintah

    • Insentif pemerintah untuk mendukung aksi mengurangi tingkat food loss dan food waste serta kolaborasi di seluruh rantai pasokan
    • Mengadakan pelatihan, mendukung teknologi dan inovasi, termasuk untuk produsen skala kecil
    • Memfasilitasi pengadaan bank makanan
    • Memfasilitasi akses petani ke konsumen dengan menjadikan rantai nilai yang lebih pendek melalui pasar petani

    Bagi Sektor Swasta

    Organisasi publik tidak dapat secara langsung mengurangi food loss dan food waste tetapi mereka sangat diperlukan dalam memfasilitasi tindakan dari sektor swasta melalui:

    • Penciptaan lingkungan yang mendukung kebijakan dan kelembagaan
    • Penciptaan iklim investasi yang menguntungkan serta memastikan bahwa semua pelaku rantai, termasuk perempuan dan produsen kecil, menerima bagian yang adil dari manfaat
    • Peningkatan kesadaran dan advokasi
    • Pengembangan kemitraan dan aliansi
    • Dukungan untuk produk dan proses inovatif
    • Pengembangan kapasitas di tingkat rantai pasokan dan kelembagaan
    Sumber: ui.ac.id baca artikel asli di sini

     

  • Insectta, Start Up dari Singapura Ubah Sampah Makanan Jadi Produk Bernilai Tinggi

    Insectta, Start Up dari Singapura Ubah Sampah Makanan Jadi Produk Bernilai Tinggi

    7cloud.asia – Chua Kai-Ning adalah peternak yang tinggal di Singapura. Ia menjalankan usaha ternaknya di bawah bendera Insectta.

    Chua Kai-Ning menghabiskan sebagian besar waktunya untuk memastikan ternaknya diberi makan dengan baik dan tumbuh dengan cepat.

    Tapi Chua Kai-Ning bukan petani biasa, dan binatang yang diternakkannya juga bukan hewan biasa yakni larva lalat hitam.

    Chua dan rekannya, Phua Jun Wei, mendirikan startup Insectta pada tahun 2017. Mereka mengembangkan Insectta untuk memerangi krisis sampah makanan di Singapura dengan bantuan sekutu larva lalat hitam.

    “Konsep di balik Insectta adalah tidak ada yang akan terbuang sia-sia,” kata Chua.

    Baca: Botol kaca dan plastik, mana lebih ramah lingkungan?

    Chua menambahkan, “Dengan Insectta, limbah dapat ditata ulang sebagai sumber daya jika kita mengubah cara kita berpikir tentang metode produksi kita, dan cara kita menangani limbah.”

    Ide Chua mendirikan Insectta didasarkan pada kondisi sampah makanan di Singapura. Pada tahun 2020, Singapura menghasilkan 665.000 metrik ton sampah makanan — hanya 19 persen yang didaur ulang.

    Chua mengatakan, Insectta memberi makan belatung lalat hitam hingga delapan ton limbah makanan per bulan. Jumlah ini termasuk produk sampingan yang diterima dari pabrik dan pabrik kedelai, seperti okara dan biji-bijian bekas.

    Insectta menghubungkan mereka yang ingin membuang sisa atau sampah makanan secara berkelanjutan dengan operasi pengomposan, membantu pengguna menemukan solusi sadar untuk sampah organik di daerah mereka.

    Insectta kemudian mengolah larva lalat hitam ini menjadi pakan ternak, dan mengubah kotorannya menjadi pupuk pertanian.

    Baca: Dampak sampah makanan pada lingkungan

    Untuk memperluas pasar bahan dari larva lalat hitam, Insectta harus membongkar stigma terhadap serangga.

    “Ketika berpikir tentang belatung, hal pertama yang dipikirkan orang adalah  menjijikkan dan berbahaya bagi manusia,” kata Chua. “Dengan mengutamakan manfaat, kita dapat mengubah pendapat ini. 

    Chua mengakui, perdebatan ilmiah yang sedang berlangsung tentang memanfaatkan serangga. Namun Phua mengatakan memelihara larva lalat hitam lebih manusiawi dan berkelanjutan daripada memelihara ternak.

    “Karena serangga membutuhkan lebih sedikit air, energi, dan ruang untuk tumbuh,” tandasnya.

    Baca: Lakukan ini untuk kurangi limbah makanan

    Daripada menjalankan peternakannya sendiri, Insectta berencana untuk menjual telur ke peternakan larva lalat hitam setempat, dan mengumpulkan kerangka luar yang dihasilkan oleh peternakan ini untuk kemudian mengekstrak biomaterial.

    “Insectta tidak hanya ingin serangga memberi makan dunia,” tambah Phua, “kami ingin serangga memberi kekuatan pada dunia.”

    Meskipun ada banyak perusahaan yang menggunakan serangga untuk mengelola limbah, termasuk Goterra, Better Origin, dan AgriProtein, Insectta mengekstrak lebih dari sekadar produk pertanian dari larva lalat hitam.

    Dengan pendanaan dari Trendlines Agrifood Fund dan hibah pemerintah, Insectta mendapatkan biomaterial bernilai tinggi dari produk sampingan larva lalat hitam ini.

    “Selama R&D, kami menyadari bahwa banyak biomaterial berharga yang sudah memiliki nilai pasar dapat diekstraksi dari lalat ini,” kata Chua kepada CNN Business.

    Baca: Masalah yang ditimbulkan pengelolaan sampah dengan sistem landfill

    Lewat Insectta, Chua berharap, biomaterial yang dihasilkannya dapat merevolusi industri produk berbasis serangga yang sedang berkembang dan mengubah cara dunia memandang limbah.

    Untuk mengembangkan produknya, Insectta juga berkolaborasi dengan merek masker wajah Vi-Mask, yang berharap dapat menggunakan kitosan larva lalat hitam untuk membuat lapisan antimikroba di dalam produknya.

    Saat ini, Vi-Mask menggunakan chitosan dari cangkang kepiting pada lapisan masker wajahnya.

    Chua mengatakan, penggunaan kitosan berbasis serangga adalah langkah yang ramah lingkungan, karena kitosan dari Insectta diproses dari sumber yang lebih berkelanjutan.

    “Ekstraksi kitosan dari kerang melibatkan proses kimiawi dan air dalam jumlah besar. teknik ekstraksi Insectta melibatkan lebih sedikit bahan kimia, seperti natrium hidroksida, daripada proses ekstraksi tradisional, menjadikannya alternatif yang lebih berkelanjutan,” terang Chua.

    Baca: Cara bijak masyarakat Bali kelola sampah organik

    Menurut Thomas Hahn, seorang peneliti dari Fraunhofer Institute for Interfacial Engineering and Biotechnology IGB, Jerman, saat ini cangkang kepiting adalah salah satu sumber utama kitosan.

    Bersama ahli biologi Susanne Zibek, Hahn telah mempelajari produksi kitosan berbasis serangga. Menurut Zibek, kitosan bisa menggantikan pengental dan pengawet sintetik dalam kosmetik.

    Zibek mengatakan pasar biomaterial serangga akan tumbuh karena perusahaan ingin menurunkan dampak lingkungannya.

    “Ada perubahan dalam kesadaran konsumen, dan orang menginginkan produk yang berkelanjutan,” ujarnya sembari menambahkan, “Kita bisa dukung itu dengan mengganti produk sintetik dengan kitosan.”

     

    Sumber: CNN Business, baca artikel asli di sini

     

  • Fakta Mengejutkan Soal Sampah Makanan Dunia dan Dampaknya pada Lingkungan

    7cloud.asia – Sampah makanan merupakan masalah lingkungan terbesar yang tersebar luas di seluruh dunia, tidak hanya di negara-negara maju. Saat ini, lebih dari 800 juta orang menderita kekurangan gizi yang parah.

    Satu fakta yang mengejutkan ketika sepertiga dari seluruh makanan yang seharusnya dikonsumsi manusia terbuang menjadi sampah makanan yang mencemari lingkungan.

    Sampah makanan berdampak negatif terhadap lingkungan, perekonomian, ketahanan pangan, dan nutrisi. Keberhasilan dalam mengatasi masalah sampah lingkungan ini masih menjadi tantangan besar di tahun-tahun mendatang.

    Baca: Insectta mengubah sampah makanan menjadi produk bernilai tinggi

    Berikut fakta mengejutkan tentang sampah makanan yang perlu kita ketahui untuk merayakan Hari Peduli Kehilangan dan Sampah Pangan Internasional 2023.

    1. Setiap tahun, sekitar sepertiga dari makanan yang diproduksi untuk konsumsi manusia – sekitar 1,3 miliar ton dan bernilai USD1 triliun – terbuang atau hilang. Jumlah ini cukup untuk memberi makan 3 miliar orang.

    2. Sampah makanan akhirnya menyia-nyiakan seperempat persediaan air dunia dalam bentuk makanan yang tidak dimakan. Jumlah tersebut setara dengan USD 172 miliar air terbuang.

    3. Dengan mempertimbangkan seluruh sumber daya yang digunakan untuk menanam pangan, sampah makanan menghabiskan 21 persen air tawar, 19 persen pupuk, 18 persen lahan pertanian, dan 21persen volume TPA.

    Baca: Seperti ini dampak sampah makanan pada lingkungan

    4. Air yang digunakan untuk menghasilkan sampah makanan dapat digunakan oleh 9 miliar orang dengan jumlah sekitar 200 liter per orang per hari.

    5. Makanan yang saat ini terbuang di Eropa dapat memberi makan 200 juta orang, di Amerika Latin 300 juta orang, dan di Afrika 300 juta orang.

    6. Sampah makanan per kapita tahunan yang dihasilkan konsumen adalah antara 95-115 kilogram per tahun di Eropa dan Amerika Utara, sedangkan di Asia Selatan dan Tenggara, angkanya mencapai 6-11 kilogram.

    7. Setiap tahun, kehilangan dan sampah makanan menyumbang sekitar 4,4 gigaton emisi gas rumah kaca yang mencemari lingkungan. 

    Baca: Ini yang bisa kita lakukan untuk kurangi sampah makanan

    8. Jika kehilangan pangan adalah sebuah negara, maka negara tersebut akan menjadi penghasil gas rumah kaca terbesar ketiga, setelah China dan Amerika Serikat.

    9. Negara-negara maju dan berkembang membuang atau kehilangan makanan dalam jumlah yang hampir sama setiap tahunnya, masing-masing sebesar 670 dan 630 juta ton. Sekitar 88 juta ton di antaranya berada di UE saja.

    10. Jika dirinci berdasarkan kelompok makanan, kerugian, dan limbah per tahun, kira-kira 30 persen untuk sereal, 40-50 persen untuk tanaman umbi-umbian, buah-buahan dan sayur-sayuran, 20 persen untuk minyak biji-bijian, daging, dan susu, dan 35 persen untuk ikan.

    11. Jika 25 persen makanan yang hilang atau terbuang secara global dapat diselamatkan, maka jumlah tersebut akan cukup untuk memberi makan 870 juta orang di seluruh dunia.

    Baca: Ilmuwan AS kembangkan bioplastik dari sampah makanan

    12. Pada pertengahan abad ini, populasi dunia akan mencapai 9 miliar jiwa. Pada saat itu, produksi pangan harus ditingkatkan sebesar 70 persen dari tingkat saat ini untuk memenuhi permintaan tersebut.

  • Sampah Makanan Tak Hanya Picu Masalah Lingkungan, Tapi Juga Kerugian hingga Ratusan Triliun Setahun

    Sampah Makanan Tak Hanya Picu Masalah Lingkungan, Tapi Juga Kerugian hingga Ratusan Triliun Setahun

    7cloud.asia – Urusan sampah, khususnya sampah makanan, memang masih menjadi masalah pelik di Indonesia.

    Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK) Novrizal Tahar mengakui bahwa masalah sampah terutama sampah makanan, menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung bisa teratasi. 

    Data KLHK menyebutkan volume sampah makanan atau food waste mencapai 28,5 juta ton atau 40,6 persen dari seluruh total timbunan sampah di Tanah Air pada 2022.

    Sektor terbanyak yang menyumbangkan sampah makanan tersebut adalah rumah tangga, sebesar 38,3 persen.

    “Perilaku masyarakat pada 2018 yang disurvei oleh BPS (Badan Pusat Statistik -red) itu, 72 persen orang Indonesia nggak peduli terhadap persoalan sampah. Ini juga satu tantangan,” tukas Novrizal.

    Baca: Seperti ini dampak sampah makanan pada lingkungan

    Hampir sama, Bappenas menyebutkan Indonesia membuang 23-48 juta ton sampah makanan per tahun pada periode 2000-2019.

    Food waste tersebut, menurut Bappenas, menimbulkan kerugian ekonomi sebesar Rp213-551 triliun per tahun dan secara sosial sebetulnya dapat memberi makan kepada 61-125 juta orang per tahun.

    Menurut Badan Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) (United Nations Environment Program/UNEP), Indonesia merupakan negara penghasil limbah makanan terbesar di Asia Tenggara.

    Yang menjadi masalah, bukan hanya food waste menjadi pemborosan semata. Namun juga memberi dampak terhadap lingkungan yang banyak tidak orang sadari.

    “Kalau food waste itu dibawa ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir -red) kemudian terdekomposisi, dia akan mengeluarkan, merilis gas metan. Jadi food waste ini kalau tidak dikelola dengan baik, akan menyebabkan emisi gas rumah kaca dalam bentuk gas metan,” ujar Novrizal.

    Baca: Start up dari Singapura ini olah sampah makanan jadi produk bernilai tinggi

    Padahal, lanjutnya, gas metana memiliki potensi pemanasan global yang efeknya sangat dahsyat, yaitu mencapai 28 kali lipat lebih besar dari karbondioksida (CO2).

    Artinya, meskipun metana dilepaskan dalam jumlah yang jauh lebih kecil daripada CO2, dampaknya dalam jangka pendek akan sangat signifikan terhadap temperatur Bumi.

    Data Climate Watch menunjukkan, sampah menyumbang hampir 10 persen dari total emisi karbon Indonesia pada 2020 yang mencapai 1.48 gigaton (Gt).

    Novrizal menekankan pemerintah terus menggodok skenario untuk memangkas volume sampah organik, terutama sampah sisa makanan.

    Pararel dengan program pembangunan industri pengelolaan sampah, imbuhnya, pemerintah juga terus mengampanyekan gerakan hidup minim sampah “zero waste, zero emission.”

    Baca: Gerakan sedekah sampah

    Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa urusan sampah sesungguhnya urusan bersama dan dapat diselesaikan pada level rumah tangga.

    Caranya cukup mudah, kata Novrizal, yaitu dengan menyortir sampah organik dan non-organik di rumah, dan kemudian membuat pupuk kompos dari sisa-sisa sampah organik tersebut.

    Jika semua orang Indonesia mau melakukan komposting sisa-sisa makanan dan sampah dari dapur di rumah, diperkirakan bisa menurunkan emisi gas rumah kacanya kurang lebih 7 juta ton setahun. 

    “Dan bisa mengolah sampah makanan (dari seluruh sektor) kurang lebih 11 juta ton sampai 12 juta ton setahun,” papar Novrizal.

    Novrizal menambahkan membangun industrialisasi pengolahan sampah organik, baik secara komersial dengan teknologi BSF dan teknik pengomposan rumah tangga menjadi bagian upaya pemerintah untuk mencapai target pengurangan karbon.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta akan terapkan retribusi layanan kebersihan

    Pemerintah menargetkan pengurangan Gas Emisi Rumah Kaca (GRK) sebesar 31,89 persen pada 2030 dengan usaha sendiri, atau 43,2 persen jika dibantu oleh dunia internasional.

    Dalam Konferensi Iklim PBB COP-26 di Glasgow, Skotlandia, Pemerintah Indonesia menargetkan bisa mencapai emisi nol karbon atau net zero emission pada 2060.

     

  • Otomatisasi Ritel Bantu Kurangi Sampah Makanan

    7cloud.asia – Otomatisasi ritel yang diterapkan Relex Solution dapat membantu mengurangi permasalahan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan sampah makanan yang belum terkelola dengan baik di Indonesia.

    Sales Director Relex Solutions Onni Rautio mengatakan, otomatisasi ritel juga akan mendorong konsumen lebih bijak dalam mengonsumsi makanan sekaligus  mengatasi masalah sampah makanan yang sudah mengkhawatirkan.

    ”Para peritel dapat memanfaatkan otomatisasi sistem dan berkontribusi dalam mengurangi sampah makanan dan mengurangi masalah tempat pembuangan sampah di Indonesia,” katanya dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (12/3/2024).

    Onni menyoroti volume sampah yang saat ini sudah melebihi kapasitas TPA. Hal itu menyebabkan setidaknya 30 TPA mengalami kebakaran di sepanjang tahun 2023.

    Baca: Sampah makanan picu kerugian hingga triliunan rupiah setahun

    Ia menambahkan, sekitar 70 persen dari total sampah yang ditimbun di TPA merupakan sampah organik terutama sampah makanan yang jumlahnya mencapai 23 hingga 48 juta ton per tahun.

    Ketika stok persediaan melebihi permintaan, terutama bahan makanan segar, peritel menghadapi tantangan yang signifikan dalam mengelola limbah, yang dapat mengakibatkan penurunan harga atau pembusukan.

    Melihat permasalahan tersebut, ia menilai jika para peritel melakukan otomatisasi secara efektif maka dapat mencegah kelebihan stok dan memprediksi permintaan secara akurat.

    Selain itu, otomatisasi juga akan membantu peritel untuk menyederhanakan pengelolaan persediaan agar lebih efisien, mengoptimalkan proses pemesanan, serta meminimalkan melakukan penanganan secara manual.

    Baca: Dampak sampah makanan pada lingkungan

    Upaya itu sejalan dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.75 Tahun 2019 yang menetapkan peta jalan pengurangan sampah.

    Beleid ini mewajibkan produsen di sektor manufaktur, ritel, serta jasa makanan dan minuman untuk mengurangi sampah dari produk, wadah, dan/atau kemasan.

    Onni menjelaskan otomatisasi ritel dalam mengurangi limbah makanan dapat membantu peritel untuk memprediksi permintaan konsumen.

    ”Dengan sistem ini dapat menyesuaikan tingkat persediaan, dan memastikan tingkat stok sesuai dengan kebutuhan konsumen,” ujarnya.

    Baca: Ini yang bisa dilakukan untuk kurangi sampah makanan

    Sistem ini juga membantu pelacakan tanggal kedaluwarsa otomatis yang dapat meningkatkan pengelolaan persediaan dengan merotasi stok secara efektif dan akurat.

    Sistem yang dikembangkan Relex ini juga membantu melacak serta mengelola masa simpan produk untuk mengurangi kemungkinan kelebihan stok dan secara bertahap mencegah produk kedaluwarsa terbuang percuma.

    Otomatisasi ritel juga berguna dalam sistem pengelolaan persediaan pintar, yang memiliki fitur peringatan otomatis untuk tiap produk yang persediaannya tipis.

    Sistem ini juga membantu peritel menunda pengiriman produk dengan stok menumpuk, dan memudahkan pengecekan kelebihan stok bahan.

    Baca: Di Singapura, sampah makanan diolah jadi bahan bernilai tinggi 

    Sistem ini memantau dan menganalisis data persediaan untuk mengidentifikasi barang yang jarang terjual atau yang sudah kedaluwarsa, menggunakan perangkat lunak pelacakan otomatis untuk memastikan persediaan secara akurat.

    Menerapkan solusi otomatisasi ritel di Indonesia dapat memberikan beberapa manfaat bagi lingkungan.

    ”Selain mengurangi limbah makanan, otomatisasi secara signifikan dapat membantu mengurangi konsumsi energi dan mengoptimalkan rute transportasi untuk menurunkan emisi,” pungkas Onni.

    Sumber: Antaranews.com

  • Fakta Mengerikan Dampak Sampah Makanan pada Lingkungan

    Fakta Mengerikan Dampak Sampah Makanan pada Lingkungan

    7cloud.asia – Sampah makanan menjadi masalah yang jamak ditemukan di seluruh dunia, tidak hanya di negara-negara maju.

    Sampah makanan berdampak negatif terhadap lingkungan, perekonomian, ketahanan pangan, dan pemenuhan kebutuhan nutrisi.

    Saat ini, lebih dari 800 juta orang menderita kekurangan gizi yang parah, sebuah pemikiran yang mengejutkan ketika sepertiga dari seluruh makanan yang seharusnya dikonsumsi manusia terbuang percuma atau hilang.

    Keberhasilan mengatasi masalah sampah makanan ini masih menjadi tantangan besar yang dihadapi masyarakat dunia di tahun-tahun mendatang.

    Baca: Dampak sampah makanan pada lingkungan

    Berikut adalah 25 fakta mengejutkan tentang sampah makanan yang perlu Anda ketahui, sebagaimana dilansir di earth.org

    1. Sekitar seperlima dari produksi pangan yang ditujukan untuk konsumsi manusia – sekitar 1,3 miliar ton dan bernilai 1 triliun dolar– terbuang atau hilang setiap tahunnya.

    2. Sampah makanan menghabiskan seperempat persediaan air di Bumi dalam bentuk makanan yang tidak dimakan. Jumlah tersebut setara dengan 172 miliar dolar air yang terbuang.

    3. Dengan mempertimbangkan seluruh sumber daya yang digunakan untuk menanam pangan, sampah makanan menghabiskan 21 persen air tawar, 19 persen pupuk, 18 persen lahan pertanian, dan 21 persen volume tempat peembuangan sampah akhir (TPA).

    4. Air yang digunakan untuk menghasilkan sisa makanan dapat digunakan oleh 9 miliar orang dengan jumlah sekitar 200 liter per orang per hari.

    Baca: Ini yang bisa dilakukan untuk kurangi sampah makanan

    5. Makanan yang saat ini terbuang di Eropa dapat memberi makan 200 juta orang, di Amerika Latin 300 juta orang, dan di Afrika 300 juta orang.

    6. Sampah per kapita konsumen per tahun adalah antara 95-115 kilogram per tahun di Eropa dan Amerika Utara, sementara di Asia Selatan dan Tenggara, angkanya mencapai 6-11 kg.

    7. Kehilangan dan limbah pangan menyumbang sekitar 4,4 gigaton emisi gas rumah kaca setiap tahunnya.

    8. Jika kehilangan pangan adalah sebuah negara, maka negara tersebut akan menjadi penghasil gas rumah kaca terbesar ketiga, setelah China dan Amerika Serikat.

    Baca: Kurangi konsumsi daging bagus untuk lingkungan

    9. Negara-negara maju dan berkembang membuang atau kehilangan makanan dalam jumlah yang hampir sama setiap tahunnya, masing-masing sebesar 670 dan 630 juta ton. Sekitar 88 juta ton dari jumlah tersebut berada di Uni Eropa.

    10. Jika dirinci berdasarkan kelompok makanan, kerugian, dan limbah per tahun, kira-kira 30persen untuk sereal, 40-50persen untuk tanaman umbi-umbian, buah-buahan dan sayur-sayuran, 20persen untuk minyak biji-bijian, daging, dan susu, dan 35persen untuk ikan.

    11. Jika 25peren makanan yang hilang atau terbuang secara global dapat diselamatkan, maka jumlah tersebut akan cukup untuk memberi makan 870 juta orang di seluruh dunia.

    12. Pada pertengahan abad ini, populasi dunia akan mencapai 9 miliar jiwa. Pada saat itu, produksi pangan harus ditingkatkan sebesar 70persen dari tingkat saat ini untuk memenuhi permintaan tersebut.

     

  • DLH DKI Jakarta Wajibkan Hotel, Restoran dan Kafe Kurangi Sampah Makanan

    DLH DKI Jakarta Wajibkan Hotel, Restoran dan Kafe Kurangi Sampah Makanan

    7cloud.asia – Dinas Lingkungan Hidup atau DLH DKI Jakarta mewajibkan hotel, restoran dan kafe (horeka) untuk mengurangi dan mengolah sampah makanan secara mandiri tanpa mengirimkannya ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

    Kepala DLH DKI Jakarta, Asep Kuswanto menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan langkah strategis untuk menanggulangi permasalahan sampah kota khususnya jenis sampah makanan.

    “Sampah makanan menyumbang lebih dari 50 persen dari total sampah kota. Jika kita dapat mengelola food waste dengan baik, maka setengah dari permasalahan pengelolaan sampah kota dapat terselesaikan,” ujar Asep di Jakarta, Selasa (26/11/2024).

    Dia mengatakan bahwa Pergub 102/2021 memberi dasar hukum yang jelas untuk memastikan pengelolaan sampah di Horeka dilakukan dari sumbernya

    Asep juga mendukung kebijakan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq yang menargetkan penurunan signifikan sampah organik di Jakarta.

    Baca: Dampak mengerikan sampah makanan pada Lingkungan

    Ia menambahkan, pengolahan sampah makanan dengan berbagai metode ramah lingkungan sudah dikenalkan oleh pegiat pengurangan sampah di Jakarta.

    Asep menjelaskan, pihaknya mendorong pelaku usaha horeka untuk menggunakan teknologi seperti biokonversi dengan maggot Black Soldier Fly (BSF), komposting, lubang biopori dan metode ramah lingkungan lainnya yang sesuai.

    Pendekatan ini tidak hanya mengurangi volume sampah ke TPA, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi dari sampah makanan.

    Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Sarjoko menyampaikan bahwa pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan ini akan dilakukan secara ketat.

    “Kami telah mengintegrasikan sistem pendataan pengangkutan sampah horeka untuk memastikan kepatuhan. Seluruh sampah yang diangkut dari horeka akan tercatat dan dipantau,” katanya.

    Baca: Sampah makanan tidak lebih aman dari emisi kendaraan

    Pelanggaran terhadap kebijakan pengelolaan sampah ini akan dikenai sanksi tegas. “Mulai dari teguran hingga denda administratif sesuai ketentuan,” ungkap Sarjoko.

    Menurut Sarjoko, sanksi yang diterapkan bertujuan mendorong pelaku horeka agar segera beradaptasi dengan kebijakan ini.

    Sarjoko menjelaskan bahwa pihaknya ingin memastikan bahwa semua pelaku horeka mematuhi kewajiban ini.

    Dengan sistem yang terintegrasi dan pengawasan yang ketat, Jakarta bisa menjadi contoh keberhasilan pengelolaan sampah di tingkat kawasan.

    Baca: Saset produk FMCG sumbang sampah plastik

    Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DKI Jakarta merespon positif langkah DLH DKI Jakarta. Perwakilan PHRI DKI Jakarta, Johanuddin menyatakan bahwa pelaku usaha horeka siap mendukung kebijakan ini.

    Namun ia menekankan perlunya sosialisasi yang masif dari DLH DKI agar target ini bisa tercapai.

    Sosialisasi menjadi kunci agar pelaku usaha hotel, restoran dan kafe dan industri pariwisata lainnya memahami sepenuhnya regulasi dan teknis pengelolaan sampah ini.

    “Kami siap mendukung penuh target pengurangan sampah ini,” kata Johanuddin.

  • Volume Sampah Makanan Melonjak Saat Bulan Ramadan Mengancam Lingkungan

    Volume Sampah Makanan Melonjak Saat Bulan Ramadan Mengancam Lingkungan

    7cloud.asia – Fenomena sampah makanan saat bulan Ramadan menjadi masalah tahunan di Indonesia, terutama akibat kebiasaan kalap makan dan hungry buying setelah seharian berpuasa.

    Rasa lapar yang menumpuk selama puasa Ramadan sering kali membuat kita membeli atau mengambil makanan secara berlebihan tanpa mempertimbangkan kapasitas perut.

    Kebiasaan ini tidak hanya berdampak pada pemborosan uang dan gangguan kesehatan, tetapi juga meningkatkan beban sampah yang dapat merusak lingkungan.

    Sampah makanan menimbulkan dampak lingkungan yang serius, terutama jika pengelolaan sampahnya masih berakhir di tempat pembuangan akhir.

    Berikut sejumlah dampak yang ditimbulkan dari menumpuknya sampah makanan sebagaimana ditulis Rian Mantasa Salve Prastica (PhD student studying urban stormwater management, Environmental Engineering research group, School of Civil Engineering, The University of Queensland) di The Conversation:

    Baca: Jakarta Recycle Centre untuk olah sampah makanan

    1. Cemari sumber air sekitar
    Sampah organik yang tidak terkelola dengan baik akan menghasilkan leachate (lindi), yaitu limbah cair yang meresap ke dalam tanah dan mencemari sumber air di sekitarnya.

    Lindi dapat memperburuk kualitas air tanah, merusak tanah di kawasan pertanian, serta berpotensi menyebarkan bibit penyakit pada manusia.

    2. Perburuk kondisi iklim
    Selain itu, sampah makanan yang membusuk di tempat pembuangan juga menghasilkan gas metana (CH₄).

    Gas ini memiliki efek pemanasan global 28 kali lebih kuat dari karbon dioksida (CO₂), sehingga berkontribusi terhadap perubahan iklim.

    3. Picu ledakan, kebakaran, dan longsor
    Gas metana yang terperangkap di tumpukan sampah juga dapat terkumpul dan menciptakan tekanan tinggi.

    Baca: Setidaknya Ada 306 TPA layak ditutup karena terapkan open dumping

    Jika tidak dikelola dengan baik, gas tersebut berisiko meledak sehingga dapat memicu kebakaran besar.

    Ketika ledakan terjadi, api yang menyala akan sulit dipadamkan karena sampah organik terus menghasilkan gas metana baru.

    Kebakaran di landfill sering berlangsung selama berhari-hari hingga berpekan-pekan, mengeluarkan asap beracun yang mencemari udara dan membahayakan kesehatan warga sekitar.

    Akumulasi sampah yang terus bertambah juga menyebabkan overload di TPA, yang dapat meningkatkan tekanan pada struktur landfill.

    Apabila kelebihan beban, bencana bisa terjadi, seperti Tragedi Ledakan Leuwigajah 2005 di Jawa Barat yang menyebabkan banyak korban jiwa, hingga longsor di TPA Cipeucang.

     

  • Kalap Saat Buka Puasa Picu Lonjakan Sampah Makanan

    Kalap Saat Buka Puasa Picu Lonjakan Sampah Makanan

    7cloud.asia – Fenomena meningkatnya volume sampah makanan saat bulan Ramadan menjadi masalah tahunan di Indonesia, terutama akibat kebiasaan kalap makan dan hungry buying setelah seharian berpuasa.

    Rasa lapar yang menumpuk selama puasa Ramadan sering kali membuat orang membeli atau mengambil makanan secara berlebihan tanpa mempertimbangkan kapasitas perut.

    Kebiasaan ini tidak hanya berdampak pada pemborosan uang dan gangguan kesehatan, tetapi juga meningkatkan volume sampah makanan yang dapat merusak lingkungan.

    Saat bulan Ramadan, jumlah sampah organik yang berasal dari sisa makanan di Indonesia naik rata-rata 20 persen. Indonesia sendiri merupakan salah satu penghasil sampah makanan terbesar di dunia.

    Selanjutnya sampah makanan yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan beban bagi lingkungan.

    Baca: Puasa Ramadan justru memicu konsumsi dan belanja secara impulsif

    Ke mana sampah pergi?
    Setelah makanan terbuang dan menjadi food waste, pertanyaannya adalah, “Ke mana akhirnya sampah ini berlabuh?”

    Dari rumah tangga, restoran, atau tempat berbuka puasa, sampah organik biasanya dikumpulkan di tempat sampah, lalu diangkut oleh petugas kebersihan ke tempat pembuangan sementara (TPS) sebelum akhirnya dibawa ke landfill alias tempat pembuangan akhir (TPA).

    Sayangnya, di Indonesia, sistem pengolahan sampah termasuk sampah makanan masih menghadapi berbagai tantangan.

    Sebagian besar sampah makanan langsung dibuang begitu saja ke TPA, tanpa proses pemilahan atau pengolahan lebih lanjut, sehingga menambah beban pada landfill yang sudah hampir penuh.

    Bijak berbuka puasa
    Saat Ramadan, kita perlu lebih bijak saat berbuka puasa untuk mengurangi sampah makanan langsung dari sumbernya (manusia).

    Baca: Puasa Ramadan jadi media transformasi diri

    Dengan mengambil makanan secukupnya, merencanakan konsumsi dengan baik, serta menghindari pembelian impulsif hanya karena promo atau porsi besar, kita bisa mengurangi limbah makanan yang tidak perlu.

    Apakah mengurangi konsumsi cukup untuk mencegah bencana? Sayangnya tidak. Pengelolaan sampah organik yang sudah terlanjur ada juga harus diperhatikan.

    Sebelum sampai ke tempat pembuangan akhir, sampah makanan bisa kita manfaatkan kembali, misalnya sebagai kompos untuk pertanian atau pakan ternak. Ada juga teknologi biodigester untuk mengelola sampah menjadi energi.

    Pemerintah juga harus memerbaiki pengelolaan sampah di tempat pembuangan akhir. Harus ada pemantauan kualitas lindi untuk mencegah pencemaran air tanah dan penyebaran penyakit di sekitar TPA.

    Baca: Jakarta Recycle Centre untuk olah sampah makanan

    Gas metana yang dihasilkan dari sampah organik juga sebaiknya tidak dibiarkan begitu saja, melainkan dimanfaatkan sebagai energi alternatif untuk menyalakan kompor ataupun pembangkit listrik.

    Terakhir, pemerintah juga perlu mendesain area penumpukan sampah yang lebih aman dan stabil untuk mencegah bencana longsor seperti yang pernah terjadi di berbagai TPA.

    Dengan kombinasi konsumsi bijak saat berbuka dan pengelolaan sampah yang lebih baik, kita dampak meredam dampak negatif sampah makanan, baik dari segi lingkungan maupun kesehatan masyarakat.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Rian Mantasa Salve Prastica (PhD student studying urban stormwater management, Environmental Engineering research group, School of Civil Engineering, The University of Queensland).