Tag: stres

  • Usir Stres dengan Latihan Pernapasan Secara Terpandu

    Usir Stres dengan Latihan Pernapasan Secara Terpandu

    7cloud.asia – Latihan pernapasan disebut bagus untuk kesehatan fisik dan mental. Latihan pernapasan membuat metabolisme lebih stabil sehingga bagus pada tekanan darah dan fungsi jantung.

    Untuk kesehatan mental, latihan pernapasan dapat meminimalisir atau mengurangi stres.

    Menurut Senior Brand Manager OSIM Indonesia, Resti Ruhimat, kondisi stres bisa diminimalisir dengan latihan pernapasan. Cara ini bahkan sudah diteliti oleh beberapa universitas ternama dunia.

    “Sudah ada penelitian dari Harvard dan Yale University, bahwa stress management itu memang ada dan mereka merekomendasikan untuk melakukan olahraga yang full oksigen,” ujar Resti di sela Media Experience OSIM Golden Pair uLove 3 dan uThrone V di Mal Plaza Indonesia, belum lama ini.

    Hasil studi terhadap 15 relawan yang dirilis di cyprusjmedsci.com, juga menemukan latihan pernapasan secara sadar dapat menurunkan kadar hormon stres.

    Baca: Hindari 9 kebiasaan ini karena bisa memicu stres

    Mempertimbangkan efek jangka panjang dari latihan pernapasan, dapat dikatakan bahwa latihan perpasan memiliki efek penyembuhan di area nonfarmakologis dalam hal menyeimbangkan emosi dan mengelola stres.

    Dilansir Kompas.com, Resti menjelaskan, latihan pernapasan bisa ditemukan di beberapa jenis olahraga.

    Semua jenis olahraga memang memiliki manfaat yang baik untuk kesehatan tubuh, akan tetapi Resti merekomendasikan beberapa olahraga yang memang fokus melatih pernapasan.

    “Latihan deep breathing itu juga bisa ditemukan di beberapa olahraga seperti Tai Chi, yoga, dan body building. Karena di rangkaian olahraga itu ada proses inhale dan exhale yang dilakukan secara sadar,” ujarnya.

    Dengan berolahraga sekaligus latihan pernapasan, akan membantu pikiran terasa lebih ringan dan kualitas tidur meningkat jauh lebih baik.

    Baca: Lima pemicu stres ini tak bisa dihindari, berdamailah dengannya

    Hal ini karena tingkat stres dalam tubuh mulai menurun, sehingga kamu bisa mulai kembali menjalani hari dengan lebih bersemangat.

    “Makanya enggak heran kenapa semakin rajin olahraga, rasanya tubuh lebih sehat dan lebih enak tidurnya. Ini juga berpengaruh pada tingkat stres yang akhirnya ikut menurun,” tutur Resti.

    Lebih jauh ia menjelaskan, latihan pernapasan ini juga bisa jadi langkah pertama yang dilakukan ketika mengalami stres.

    Adapun caranya, luangkan waktu sejenak untuk menenangkan diri, dengan menarik napas dan membuangnya. Lakukan cara ini sampai merasa jauh lebih tenang.

    “Salah satu cara yang paling mudah dan bisa jadi solusi cepat ketika pikiran lagi mumet itu melatih pernapasan. Coba saja inhale dan exhale beberapa kali, cara ini secara nggak sadar bikin kamu lebih tenang,” pungkasnya.

    Berikut latihan pernapasan seperti dilansir di laman resmi Kemenkes:

    1. Duduk dengan posisi santai dan nyaman, bayangkan hal yang menyenangkan dengan mata terpejam

    2. Tarik napas dari hidung dalam 3 detik, lalu hembuskan napas dari mulut dalam 3 detik, sambil membayangkan beban pikiran dilepaskan.

    3. Tahan selama 3 detik sebelum ambil napas lagi. Ulangi selama 5-10 menit

    4. Selalu bersyukur, ikhlas dan sabar atas semua yang terjadi

  • Beban Kerja Sering Memicu Stres dan Muncul Keinginan Bunuh Diri, Ini Cara Mengatasinya

    Beban Kerja Sering Memicu Stres dan Muncul Keinginan Bunuh Diri, Ini Cara Mengatasinya

    7cloud.asia – Beban pekerjaan sering memicu gangguan pada kesehatan mental. Sering beban kerja yang berlebihan memicu stres yang berakhir dengan upaya bunuh diri.

    Mengatasi kondisi ini dan menghindari stres Ketua Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia Anna Surti Ariani menekankan pentingnya menyeimbangkan pekerjaan dan kesehatan mental.

    Hal itu bisa dilakukan dengan meluangkan waktu untuk istirahat dan rutinitas seperti berolahraga untuk merawat otot-otot jantung atau tidur.

    Selain itu juga bisa makan makanan sehat yang merawat kemampuan diri untuk mendapatkan energi positif.

    Selain dengan tidur juga bisa mengambil jeda dengan melakukan berbagai hal yang disukai atau yang disebut dengan self care.

    Istirahat, ujarnya, juga berarti melakukan sesuatu hal yang kita senangi itu merawat kesehatan emosional, kita bisa juga ketemu orang-orang yang kita sukai jadi,

    ”Itu semua yang kita sebut self care atau perawatan diri, jadi perawatan diri nggak harus ke salon jadi yang betul-betul kita butuhkan dan kita sukai,” ucap Nina.

    Ia menyebut seseorang juga harus memikirkan hal positif dalam dirinya dan mencoba mengelilingi diri dengan hal yang positif untuk mencegah stres dan memiliki niat untuk mengakhiri hidup.

    ”Langkah itu bisa menyuntikkan semangat dan mensyukuri apa yang terjadi pada diri,” ujarnya seperti dikutip Antaranews.com.

    Nina juga menekankan pentingnya pertolongan orang-orang sekitar pada rekan kerja yang mengalami stres. Dukungan diperlukan untuk mencegah mereka melakukan tindakan bunuh diri dan meringankan masalah yang dihadapi.

    “Memahami apa yang bisa dilakukan sebagai bala bantuan awal kalau ada rekan kerja yang mengalami masalah kesehatan mental, kalau di kantor bisa diberdayakan untuk diberikan pertolongan pertama tadi setidaknya itu akan meringankan beban si tenaga kerja,” katanya.

    Nina mengatakan rekan kerja yang melihat rekan lainnya sedang menghadapi masalah berat, bisa dibantu dengan mengamati lingkungan sekitar orang tersebut.

    Perhatikan juga benda-benda tajam yang ada di sekitarnya untuk disingkirkan agar tidak menjadi alat untuk membahayakan diri rekan kerja yang sedang stres.

    Selain itu bisa juga menyingkirkan jika ada obat-obatan di dekatnya, karena dikhawatirkan orang tersebut akan meminum obat-obatan itu saat tidak sadar.

    Setelah itu, rekan kerja lainnya bisa mendengarkan cerita rekannya jika orang tersebut berkenan untuk bicara.

    “Kita bisa mendengarkan apa-apa yang jadi curahan dia cerita dia seperti apa kalau dia berkenan untuk didengerin ketika itu sudah lebih tenang maka kita bisa menghubungkan ke dukungan psikologis,” kata Nina.

    Psikolog di Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPTUI) itu mengatakan hal ini bisa dilatih pada para pekerja oleh perusahaan untuk meminimalkan stres yang kerap terjadi kepada pekerja kantoran.

    Ia juga mengatakan tempat kerja atau perusahaan sebaiknya memiliki jejaring yang bisa dengan mudah menghubungkan tenaga kesehatan jiwa untuk membantu pekerja yang memiliki masalah kesehatan mental.

    Nina mengatakan Kementerian Kesehatan juga sedang menyosialisasikan pelatihan pada rekan kerja untuk membantu rekan lainnya yang tertimpa masalah yang disebut Pertolongan Pertama Pada Luka Psikologis (P3LP).

    “Kalau memang dibutuhkan dia bisa ke layanan kesehatan mental, pertolongan awal itu yang kita sebut psychological first aid dan itu sedang disosialisasikan Kemenkes sebagai P3LP, Pertolongan Pertama Pada Luka Psikologis,” katanya.

  • Waspada! Cemas atau Stres yang Berkepanjangan Bisa Memicu Penyakit Jantung

    Waspada! Cemas atau Stres yang Berkepanjangan Bisa Memicu Penyakit Jantung

    7cloud.asia – Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari RSUD Prof Dr Margono Soekarjo Purwokerto, Rio Probo Kaneko mengatakan munculnya penyakit jantung bisa dipicu cemas atau stres yang berkepanjangan.

    “Paparan stres secara kumulatif (jangka panjang) itu bisa meningkatkan risiko penyakit jantung,” kata Rio Probo Kaneko dalam diskusi bertajuk “Menjaga Kesehatan Jantung AZ” yang digagas Sekolah ANTARA secara daring, Rabu (18/9/2024)

    Ia menjelaskan stres yang berkepanjangan itu akan direspon oleh tubuh untuk mengeluarkan hormon-hormon epinefrin, kortisol, maupun doplamin, yang berlebih.

    Dengan meningkatnya hormon tersebut, lanjut dia, merupakan sinyal yang tidak bagus bagi kesehatan jantung seseorang yang menderita stres atau cemas berkepanjangan.

    Efek negatif tersebut berupa kerja jantung yang menjadi lebih berat hingga detak jantung menjadi lebih cepat.

    Baca: Perkotaan minim ruang hijau dan perairan tak bagus untuk kesehatan jantung

    Penelitian mengungkap bahwa cemas dan stres bisa meningkatkan kadar lemak dalam tubuh, kemudian terjadi peradangan pembuluh darah pada jantung dan juga beban kerja jantung meningkat, detak jantung cepat, tekanan darah tinggi.

    ”Sehingga risiko terjadinya penyakit jantung baik koronoer dan lainnya,” kata Rio

    Meski demikian, lanjutnya, stres yang hanya sementara atau bersifat sesaat tidak menimbulkan kerusakan kepada jantung.

    Pemicu munculnya sakit jantung terhadap seseorang yang mengalami kecemasan dan juga stres hanya dalam jangka waktu yang panjang.

    Bahkan menurut penelitian yang ada, kata dia, seseorang bisa mengalami sakit jantung akibat cemas dan stres berkepanjangan tersebut, jika mereka mengalaminya dalam jangka waktu selama 6 sampai dengan 12 bulan.

    Baca: Polusi jangka panjang berpengaruh pada kesehatan jantung

    “Jadi banyak penelitian yang mayoritas dilakukan di luar negeri itu menyebutkan bahwa paparan stres kronis yang dialami selama 6 sampai dengan 12 bulan yang bisa menyebabkan jantung tidak sehat,” ucap dia.

    “Kalau cemas atau stres yang hanya 1 sampai dengan 2 hari itu tidak termasuk,” kata Rio.

    Dokter yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Purwokerto itu menjelaskan bahwa pengelolaan stres maupun cemas yang berlebih sangat perlu dilakukan.

    Ketika perasaan itu muncul, ia menyarankan untuk mengeluarkan melalui bercerita kepada orang terdekat dan terpercaya hingga melakukan pertemuan dengan psikiater.

    Hal tersebut dilakukan guna mengeluarkan emosi dan juga perasaan yang tidak nyaman dalam pikiran.

    Sumber:Antaranews.com

  • Minimalisme: Tujuh Langkah Sederhana Menyingkirkan Kekacauan pada Pagi Hari

    Minimalisme: Tujuh Langkah Sederhana Menyingkirkan Kekacauan pada Pagi Hari

    7cloud.asia – Survei terbaru menunjukkan, waktu paling menegangkan dalam satu hari adalah pukul 07.23 pagi. Hal ini mungkin tidak mengherankan bagi banyak dari kita.

    Pagi hari sering kali digambarkan sebagai pikiran-pikiran yang kacau, terburu-buru, dan jauh dari kedamaian. Terlalu banyak yang harus dilakukan dalam waktu yang singkat—terutama untuk mereka yang sudah berkeluarga.

    Mungkinkah pagi hari berjalan secara berbeda? Bagaimana jika alih-alih memulai hari dengan kekacauan, stres, dan frustrasi, kita bisa memulainya dengan ketenangan, fokus, dan kesabaran? Itu akan menjadi hal yang luar biasa?

    Dan, yakinlah manfaatnya akan melampaui jam-jam pagi hari. Henry Ward Beecher pernah berkata, “Jam pertama adalah kemudi hari ini.” Memulai hari-hari kita dengan baik akan memberikan efek positif sepanjang hari.

    Baca: Kita semua minimalis setidaknya dalam satu urusan dalam hidup

    Kabar baiknya adalah pagi seperti ini mungkin terjadi. Berikut tujuh cara mengurangi stres di pagi hari, sebagaimana dikutip dari becomingminimalist.com:

    1.Bangun lebih awal
    Perubahan drastis akan terasa jika Anda bangun beberapa jam lebih awal dari biasanya. Menyediakan waktu ekstra 15–30 menit cukup untuk membuat perbedaan yang signifikan.

    Bangun lebih awal memungkinkan Anda memulai hari dengan lebih tenang dan efektif mengurangi stres ketimbang memulai hari dengan terburu-buru.

    Mungkin Anda berpikir, bangun pagi membuat lebih banyak stres! Meskipun hal ini mungkin benar pada awalnya, tubuh Anda akan beradaptasi lebih mudah dari yang Anda kira.

    2. Persiapkan malam bebelumnya
    Sedikit “persiapan sebelum tidur” memberi Anda awal yang baik untuk memulai hari. Ini bisa saja berarti menyiapkan pakaian untuk hari berikutnya, mengemas tas, merencanakan daftar tugas, memutuskan makan siang, bahkan menyiapkan buku untuk dibaca di pagi hari.

    Tentu saja, ada batasan berapa banyak yang dapat Anda atur pada malam sebelumnya, tetapi beberapa hal kecil tak hanya akan membuat persiapan menjadi lebih mudah, tetapi juga akan menghilangkan stres di pagi hari.

    Baca: Tiga aliran yang dikenal dalam minimalisme

    3. Menu sarapan yang sama
    Temukan sesuatu yang sehat dan mudah dibuat untuk sarapan, lalu pertahankan. Itu bisa telur -baik telur rebus maupun omelet- dan secangkir kopi.

    Ini akan mengurangi yang harus dipikirkan setiap pagi, Anda akan mengurangi stres dan membebaskan energi mental. Anda juga akan mendapatkan cukup energi yang baik (dan saya selalu merekomendasikan protein untuk sarapan).

    Sebagai bonus tambahan, jika Anda tetap mengonsumsi sarapan yang sama, Anda akan menjadi sangat efisien dalam menyiapkannya.

    4. Luangkan 10 menit untuk berbenah pada malam hari
    Bangun di rumah yang bebas dari kekacauan adalah pereda stres yang efektif. Beberapa menit untuk membereskan malam sebelumnya bisa berdampak besar.

    Jadi mulai sekarang luangkan waktu untuk merapikan dapur, ruang tamu, dan kamar tidur Anda setiap malam sebelum tidur dan temukan ketenangan pada keesokan harinya.

    5. Lebih sedikit pakaian & sederhanakan kamar mandi
    Dengan lebih sedikit pakaian membuat persiapan di pagi hari menjadi lebih mudah, karena keputusan tentang apa yang akan dikenakan bisa diambil lebih cepat.

    Ini mengurangi kekacauan mental yang timbul karena terlalu banyak pilihan, membuat Anda lebih fokus sepanjang hari. Itu salah satu alasan utama mengapa banyak borang memakai pakaian yang sama setiap hari.

    Demikian pula, menyimpan lebih sedikit barang di kamar mandi membuat persiapan menjadi lebih mudah, lebih tenang, dan mengurangi stres.

    Baca: Kiat agar konsisten jalani gaya hidup minimalis

    6. Ajari Anak menyelesaikan tugas
    Bagi mereka yang memiliki anak, pagi hari bisa terasa sangat menegangkan. Salah satu cara untuk mengurangi beban tersebut adalah dengan mengajari anak Anda melakukan beberapa tugas sesuai dengan usianya di pagi hari.

    Itu bisa membuat makan siang, mengemas ransel, memilih pakaian, atau bahkan mengikat tali sepatu sendiri.

    Hal ini lebih mudah dilakukan bagi sebagian orang tua dan umumnya dimotivasi oleh kebutuhan, namun berhati-hatilah dalam memilih apa yang dapat dan harus dilakukan oleh anak untuk diri mereka sendiri.

    Hal ini tidak hanya akan mengurangi beban Anda, tetapi juga akan membantu anak Anda belajar tanggung jawab.

    7. Sesuatu selain persiapan
    Cara mengubah pagi Anda adalah dengan menggunakannya untuk hal lain selain bersiap untuk hari itu. Baik itu berolahraga, bermeditasi, berdoa, membaca, atau bahkan sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan seperti menjawab email,

    Memasukkan sesuatu yang penting ke dalam rutinitas pagi Anda dapat memberikan kesan positif untuk sisa hari itu. Dan melakukan sesuatu yang Anda sukai di pagi hari akan membantu Anda memulai hari dengan perasaan nyaman terhadap diri sendiri dan lebih terkendali.

    Sangat mungkin untuk mengurangi stres Anda di pagi hari. Pertimbangkan untuk menerapkan satu atau dua langkah dalam daftar di atas dan rasakan perbedaannya!

    Sumber:becomingminimalist.com

  • Awas! Tidur Tidak Nyenyak Bisa Jadi Pertanda Stres

    Awas! Tidur Tidak Nyenyak Bisa Jadi Pertanda Stres

    7cloud.asia – Dear pembaca, hati-hati jika tidur Anda tidak nyenyak. Pasalnya tidur tidak nyenyak bisa jadi sinyal dari tubuh tentang masalah yang lebih dalam, seperti peningkatan hormon stres, menurut seorang dokter.

    Seorang praktisi holistik bersertifikat di Massachusetts, Dr. Mary Beth Ayer mengungkapkan ada sepuluh tanda yang mungkin menunjukkan kadar kortisol atau hormon stres yang tinggi yang mengakibatkan tidur tidak nyenyak.

    “Pola tidur kita bisa memberi banyak informasi tentang hormon stres. Tidur sangat penting, dan saya tahu betapa frustrasinya bangun tidur tapi masih merasa lelah,” kata Dr. Ayer dalam sebuah video di TikTok yang dikutip dari Medical Daily, Selasa (17/12/2024).

    Berikut gejala yang perlu diperhatikan menurut Dr. Ayer:
    1. Sering terbangun antara pukul 3-4 pagi.
    2. Mimpi yang sangat intens dan penuh tekanan.
    3. Bangun tidur dalam keadaan berkeringat.
    4. Pikiran melaju cepat sebelum tidur.
    5. Nyeri di bahu, leher, atau pergelangan tangan saat bangun tidur.
    6. Lelah sepanjang hari tetapi terjaga saat waktu tidur tiba.
    7. Gelisah dan sering membolak-balik badan saat tidur.
    8. Menggertakkan gigi saat tidur.
    9. Merasa kepanasan saat di tempat tidur.
    10. Merasa sangat lelah ketika bangun tidur.

    Baca: Tidur Teratur Berdampak Positif terhadap Perilaku Anak

    Jika seseorang mengalami tiga atau lebih dari gejala ini, Dr. Ayer menyarankan untuk memeriksa hormon dan mencari cara untuk menyeimbangkan kadar kortisol.

    “Salah satu tips favorit saya adalah mengonsumsi protein, lemak, dan karbohidrat dalam waktu satu jam sebelum tidur. Contohnya, yogurt Yunani, selai kacang, dan pisang,” ungkap Dr. Ayer.

    Kortisol adalah hormon yang berperan penting dalam berbagai fungsi tubuh, termasuk mengatur gula darah, mengurangi peradangan, mengontrol metabolisme, dan membentuk memori.

    Namun, jika tubuh memiliki terlalu banyak kortisol juga bisa menyebabkan sindrom Cushing.

    Selain masalah tidur, kadar kortisol yang tinggi dapat menyebabkan kenaikan berat badan, jerawat, gula darah dan tekanan darah tinggi, kelemahan otot, serta tulang rapuh atau osteoporosis.

    Baca: Gejala Insomnia Kronis dan Cara Mengatasinya

    Kortisol yang tinggi juga bisa memicu timbulnya punuk lemak di antara bahu, wajah membulat, serta stretch mark berwarna merah muda atau ungu di kulit.

    Perubahan gaya hidup sederhana dapat membantu menurunkan kadar kortisol. Tidur yang berkualitas, olahraga teratur, dan pola makan sehat dapat mengurangi stres.

    Mengelola stres dengan teknik relaksasi, seperti latihan pernapasan dalam, juga efektif menurunkan kadar kortisol.

    Jika kadar kortisol yang tinggi disebabkan oleh penggunaan obat glukokortikoid (obat anti-inflamasi) dalam jangka panjang, dokter mungkin akan mempertimbangkan untuk menurunkan dosis atau menghentikannya secara bertahap.

    Namun, dalam beberapa kasus, kadar kortisol yang tinggi bisa disebabkan oleh tumor di kelenjar pituitari yang memerlukan operasi, terapi radiasi, atau pengobatan tertentu.

  • Ketidakpastian dan Situasi Konflik Bisa Memicu Stres

    Ketidakpastian dan Situasi Konflik Bisa Memicu Stres

    7cloud.asia – Demonstrasi yang berlangsung di banyak kota sejak 25 Agustus 2025 menyulut kesedihan dan kemarahan masyarakat.

    Di media sosial, analisis Drone Emprit mengungkapkan bahwa kemarahan masyarakat memuncak setelah tewasnya pengemudi ojek online Affan Kurniawan akibat ditabrak mobil Rantis Brimob.

    Demonstrasi yang awalnya berlangsung damai berubah memanas. Ditambah adanya pihak-pihak tidak bertanggung-jawab, muncullah aksi perusakan dan kekerasan. 

    Hingga Senin (2/9/2025), diperkirakan ada 11 korban meninggal dan lebih dari 400 orang luka-luka.

    Di tengah situasi ini, kerusuhan dan penjarahan terjadi di sejumlah titik. Selain itu informasi simpang siur bertebaran di media sosial dan grup chat.

    Sementara itu, sekolah membatasi kegiatan belajar dan kantor-kantor menerapkan work from home (WFH). Banyak toko, terutama di sekitar pusat-pusat demonstrasi (seperti Kwitang ataupun Malioboro) tutup sementara.

    Baca: Kebebasan menyampaikan pendapat dijamin konstitusi

    Aditya Prasanda dalam tulisannya di The Conversation, menyebut situasi ini bisa membuat masyarakat dilanda rasa cemas, stres, bahkan putus asa.

    Untuk mengetahui cara menjaga kewarasan di tengah situasi saat ini, The Conversation Indonesia (TCID) berbincang dengan pakar psikologi sosial dan psikiatri dari Universitas Indonesia dan Universitas Airlangga.

    Ketidakpastian memicu stres
    Stres akibat situasi konflik dan ketidakstabilan negara merupakan bentuk respons bertahan hidup alami manusia (fight or flight).

    Menurut dosen psikologi Universitas Indonesia Dicky Pelupessy, stres terjadi karena kita menghubungkan situasi krisis dengan hal-hal tidak menyenangkan.

    Misalnya, kita mengkhawatirkan konflik akan mengganggu rutinitas harian, memicu kenaikan harga, kelangkaan barang, hingga kehilangan mata pencaharian ataupun orang terdekat.

    “Persepsi dan antisipasi kita terhadap kesulitan (yang mungkin terjadi) menyebabkan munculnya emosi-emosi negatif (seperti cemas, takut, kecewa, dan marah) serta pikiran negatif soal ketidakpastian di masa mendatang. Ini membuat kita merasa tertekan dan mengalami stres,” ujar Dicky.

    Baca: PBB mendesak dilakukan investigasi terhadap dugaan pelanggaran HAM dalam penanganan demonstrasi 

    Stres, kata dia, bisa menguat ketika kita menganggap bahwa kestidakstabilan negara merupakan kondisi yang tidak biasa.

    Di sisi lain, dosen ilmu kedokteran jiwa Universitas Airlangga (Unair) Damba Bestari, mengatakan bahwa stres yang kita rasakan tidak selalu menandakan hal buruk.

    Dalam kondisi yang proporsional, stres justru bisa menandakan bahwa tubuh dan mental kita hidup.

    “Kalau tidak stres sama sekali, mungkin artinya kita tidak peduli dengan masa depan negara kita. Hal yang terpenting adalah kita memahami cara mengelola stres agar tidak menjadi berlebihan,” ujar Damba yang juga menjadi psikiater di Rumah Sakit Unair.

    Bagaimana mengatasi kecemasan dan situasi yang berkembang ini akan diulas dalam tulisan selanjutnya.

    Baca: Di tengah sorotan mata dunia, aparat menangkapi kelompok kritis

  • Tujuh Cara Menjaga Kewarasan dalam Situasi yang Serba Tak Pasti dan Rawan Klonflik

    Tujuh Cara Menjaga Kewarasan dalam Situasi yang Serba Tak Pasti dan Rawan Klonflik

    7cloud.asia – Situasi saat ini yang penuh ketidakpastian dan rawan konflik bisa membuat masyarakat dilanda rasa cemas, stres, bahkan putus asa.

    Stres akibat situasi konflik dan ketidakstabilan negara merupakan bentuk respons bertahan hidup alami manusia (fight or flight).

    Menurut dosen psikologi Universitas Indonesia Dicky Pelupessy, stres terjadi karena orang menghubungkan situasi krisis dengan hal-hal tidak menyenangkan.

    Misalnya, orang mengkhawatirkan konflik akan mengganggu rutinitas harian, memicu kenaikan harga, kelangkaan barang, hingga kehilangan mata pencaharian ataupun orang terdekat.

    “Persepsi dan antisipasi kita terhadap kesulitan (yang mungkin terjadi) menyebabkan munculnya emosi-emosi negatif (seperti cemas, takut, kecewa, dan marah) serta pikiran negatif soal ketidakpastian di masa mendatang. Ini membuat kita merasa tertekan dan mengalami stres,” ujar Dicky.

    Stres, kata dia, bisa menguat ketika kita menganggap bahwa kestidakstabilan negara merupakan kondisi yang tidak biasa.

    Di sisi lain, dosen ilmu kedokteran jiwa Universitas Airlangga (Unair) Damba Bestari, mengatakan bahwa stres yang kita rasakan tidak selalu menandakan hal buruk.

    Baca: Lima pemicu stres yang tak bisa dihindari

    Dalam kondisi yang proporsional, stres justru bisa menandakan bahwa tubuh dan mental seserang hidup.

    “Kalau tidak stres sama sekali, mungkin artinya kita tidak peduli dengan masa depan negara kita. Hal yang terpenting adalah kita memahami cara mengelola stres agar tidak menjadi berlebihan,” ujar Damba yang juga menjadi psikiater di Rumah Sakit Unair.

    Untuk mengendalikan stres dan menjaga kewarasan di tengah ketidakstabilan sosial-politik-ekonomi Indonesia, ada tujuh cara yang bisa kita lakukan.

    1. Saring informasi yang kita peroleh
    Kita perlu secara sadar (mindful) mengatur informasi yang kita konsumsi. Agar tidak stres, Dicky menyarankan untuk selektif dan membatasi diri dalam mengonsumsi informasi.

    Misalnya, kita perlu selektif dalam memilih sumber informasi dari media/jurnal yang kredibel untuk memahami isu-isu yang serius.

    Pastikan informasi yang disuguhkan akurat dan menggunakan prinsip-prinsip jurnalisme yang kuat. Hindari media yang menyuguhkan berita bombastis ataupun click bait.

    Misalnya dalam satu jam, kita bisa membagi waktu dengan membaca berita serius selama 30 menit, diselingi konten-konten hiburan yang ringan dan santai dalam 30 menit lainnya.

    “Cara ini bisa membuat kita berpikir lebih fleksibel. Sehingga pikiran kita tetap terjaga dalam mengetahui kapan harus mencari informasi yang serius dan kapan mencari informasi yang menghibur,” ujar Dicky.

    Baca: Usir stres dengan latihan pernapasan secara terpandu

    2. Batasi waktu melihat layar
    Agar tidak merasakan kelelahan mental, Damba menyarankan kita membatasi waktu melihat layar (screen time). Idealnya, kurang dari dua jam dalam sehari.

    “Jika kita merasa kewalahan membaca suatu berita, detoks dengan beristirahat sejenak sampai kita merasa lebih baik,” tambah Damba.

    3. Diskusi dengan orang yang tepercaya
    Penting untuk memberi jeda dalam memahami informasi yang kita terima. Di antara waktu tersebut, kita bisa mendiskusikannya dengan orang yang kita percayai.

    Cara ini, menurut Dicky, bisa membantu kita untuk lebih paham dengan mengonfirmasi atau memvalidasi informasi.

    4. Kendalikan pikiran kita
    Situasi konflik sering kali membuat seseorang merasa tidak berdaya dan putus asa.

    Dicky mengingatkan pentingnya meregulasi pikiran kita. Seolah-olah kita memberikan peringatan dini kepada pikiran sendiri, dengan memberikan sugesti bahwa harapan itu masih ada.

    “Kita juga bisa belajar dengan melihat informasi atau bukti-bukti bahwa ada jalan untuk mengatasi ketidakadilan di masa-masa sebelumnya, di kondisi atau tempat lainnya,” ujar Dicky.

    Baca: Rakyat marah karena kritiknya direspons dengan ejekan

    5. Upayakan hal kecil yang bisa kita jangkau
    Kurangnya kemampuan membedakan hal yang bisa kita kendalikan dengan tidak, bisa membuat kita kewalahan. Dalam hal ini, Damba menyarankan agar kita mempraktikkan stoikisme.

    Caranya dengan memahami bahwa di dunia ini ada hal yang bisa kita kendalikan dan tidak. Lepaskan hal di luar kendali (misalnya pendapat orang lain) dan fokus ke hal-hal kecil yang bisa kita usahakan dan berada dalam jangkauan (tindakan kita).

    Mungkin kita bukan golongan yang turun ke jalan, tetapi kita masih bisa terlibat dengan membagi informasi yang bermanfaat atau berdonasi.

    “Meskipun tidak langsung menghasilkan solusi, cara ini sering kali mengurangi stres karena kita merasa berdaya. Ini bisa mengaktivasi nervus vagus (saraf yang meredakan respons fight or flight),” ujar Damba.

    6. Lakukan aktivitas yang menenangkan
    Damba menyarankan untuk mengimbangi satu berita yang tidak nyaman, dengan melakukan dua atau tiga aktivitas yang menenangkan (misalnya berdoa, relaksasi napas, teknik grounding, mendengarkan musik, dan lainnya).

    Pastikan pula untuk memenuhi kebutuhan dasar (makan, minum, tidur) maupun spiritual.

    Sembari mempraktikkan teknik menenangkan stres, usahakan tidak membiarkan emosi negatif mengendalikan pikiran sehingga kita tidak menjadi agresif dan tidak mudah terprovokasi.

    7. Konsultasi dengan psikolog/psikiater
    Jika stres yang kita rasakan belum membaik (ditandai dengan susah tidur, performa kerja memburuk, muncul pikiran membahayakan diri atau orang lain), segera hubungi profesional, seperti psikolog klinis/psikiater.

    Jika kesulitan bertatap muka, gunakan platform konseling kesehatan mental digital (Kalm, Ibunda.id, Riliv, dan lainnya). Beberapa di antaranya menawarkan fasilitas gratis.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis Aditya Prasanda (Health Editor)

     

  • Jangan Abaikan Kebiasaan-kebiasaan Ini, Bisa Menumpuk Stres!

    Jangan Abaikan Kebiasaan-kebiasaan Ini, Bisa Menumpuk Stres!

    7cloud.asia – Banyak orang tanpa sadar menumpuk stres secara diam-diam melalui pola-pola kecil yang berulang yang luput dari kesadarannya .

    Seiring waktu, akumulasi halus ini dapat menjadi stres berlebihan yang berbahaya tanpa kita menyadari apa yang terjadi.

    Tidak satu pun dari kebiasaan pemicu stres ini yang dramatis, dan karena alasan itulah yang membuatnya mudah terlewatkan.

    Tetapi jika tidak ditangani satu per satu, efek kumulatifnya pada tingkat stres harian lebih signifikan daripada yang diperkirakan kebanyakan orang.

    Dilansir Hindustan Times pada Minggu (26/4/2026), CEO ConsciousLeap sekaligus penulis Sanjay Desai membeberkan bagaimana penumpukan stres dan penyebab rasa stres bisa terjadi.

    Berikut daftar kebiasaan-kebiasaan kecil yang tanpa kita sadari bisa memicu stres.

    Memeriksa ponsel di pagi hari
    Sanjay menyoroti bahwa sebelum sistem saraf sepenuhnya terbangun, kita sudah menyerap notifikasi, berita, dan urgensi orang lain.

    Memulai hari secara reaktif daripada secara sengaja menetapkan dasar stres yang sulit untuk dipulihkan.

    Mengatakan “ya” ketika sebenarnya ingin menyampaikan “tidak”
    Setiap komitmen yang dibuat karena kewajiban daripada kemampuan atau keyakinan yang tulus menambah beban yang tak terlihat.

    Stres akibat komitmen berlebihan bukan hanya pekerjaan tambahan, tetapi juga kesadaran tingkat rendah yang konstan bahwa kita telah melampaui kemampuan masing-masing.

    Tetap di depan layar hingga tertidur
    Pikiran membutuhkan periode transisi antara stimulasi dan tidur. Tanpa itu, sistem saraf tetap aktif, kualitas tidur memburuk, dan tubuh membawa stres hari itu ke pagi berikutnya tanpa pelepasan.

    Menganggap istirahat sebagai sesuatu yang diperoleh daripada sesuatu yang dibutuhkan
    Istirahat bukanlah hadiah yang mengikuti produktivitas. Itu adalah kondisi yang memungkinkan produktivitas berkelanjutan.

    Menunda pemulihan secara konsisten tidak meningkatkan hasil; itu secara diam-diam membangun stres dan menguras energi kita.

    Membicarakan masalah tanpa mengambil tindakan apa pun
    Melampiaskan emosi memang bermanfaat, tetapi percakapan berulang tentang masalah tanpa adanya upaya penyelesaian membuat lingkaran stres tetap aktif.

    Menurut dia, pikiran kita menjadi terbiasa dengan perenungan mental yang terus-menerus. Hal itu memenuhi pikiran, tetapi justru membangun stres secara spiral.

    Bahkan langkah kecil dan konkret selanjutnya dapat menggeser sistem saraf dari ketidakberdayaan menuju kemandirian.

    Melewatkan makan atau makan di meja kerja
    Ketidakstabilan gula darah adalah salah satu pendorong fisiologis paling langsung dari kecemasan dan iritabilitas.

    Pola makan yang tidak teratur atau terburu-buru membuat tubuh kekurangan energi stabil yang dibutuhkan untuk mengatur suasana hati dan mengelola tekanan, serta membiarkan stres menumpuk.