Tag: tpst bantargebang

  • Pemprov DKI Jakarta Pastikan Bangun Tiga PLTSa Kurangi Beban Sampah di TPST Bantargebang

    Pemprov DKI Jakarta Pastikan Bangun Tiga PLTSa Kurangi Beban Sampah di TPST Bantargebang

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sedang menyiapkan pembangunan tiga Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) untuk mengatasi permasalahan sampah ibu kota.

    Salah satu lokasi yang disiapkan yakni di Bantargebang, Bekasi. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengatakan dirinya telah berkomunikasi dengan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan terkait hal ini.

    “Saya tadi komunikasi langsung dengan Pak Menko Pangan dan beliau meminta untuk lahan di Bantargebang yang dipersiapkan untuk pembangkit listrik tenaga sampah, sudah kami persiapkan,” kata Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (31/3/2026).

    Menurutnya, saat ini beban Tempat Pengolahan Sampah Terpadu atau TPST Bantargebang sudah sangat berat karena terdapat tumpukan sampah yang telah mencapai lebih dari 54 juta ton.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta akan bangun 2 PLTSa di Bantargebang

    Baca: Longsor di TPST Bantargebang, saatnya mereformasi pengelolaan sampah

    Karena itu, Pramono mengaku menyiapkan pembangunan PLTSa sebagai solusi jangka panjang penanganan sampah Jakarta.

    Jakarta sendiri, kata dia, telah menyiapkan pembangunan PLTSa di tiga lokasi. Menurutnya, Pemprov DKI juga telah mengirimkan surat resmi ke pemerintah pusat terkait rencana pembangunannya.

    “Dan Jakarta untuk pembangkit listrik tenaga sampah akan ada tiga dan kami sudah mengirim surat secara resmi kepada Bapak Menko dan juga menteri terkait,” kata Pramono.

    Sebelumnya, Gubernur Pramono menyampaikan usulan Pemprov DKI untuk membangun tiga PLTSa di Bantargebang, Kota Bekasi; Rorotan, Jakarta Utara; dan Sunter, Jakarta Utara.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta akan bangun sejumlah PLTSa

    Baca: Greenpeace dorong tanggung jawab produsen kurangi produksi sampah

    Masing-masing PLTSa direncanakan memiliki kapasitas pengolahan sampah sebesar 3.000 ton per hari di Bantargebang, yang terdiri dari 2.000 ton sampah baru dan 1.000 ton sampah lama dari TPST Bantargebang.

    Sedangkan di Rorotan memiliki kapasitas 2.000 ton sampah baru per hari dan di Sunter dengan kapasitas sekitar 2.500 ton sampah baru per hari.

    Sehingga total kapastias mencapai 7500 ton sehari. Adapun volume sampah Jakarta diperkirakan mencapai 8000 ton sehari.

    Dengan pembangunan 3 PLTSA baru maka sebagian besar sampah Jakarta dapat tertangani dengan baik.

  • Percepat Penanganan Sampah di Dalam Kota, TPS Liar Ditutup Permanen

    Percepat Penanganan Sampah di Dalam Kota, TPS Liar Ditutup Permanen

    7cloud.asia – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menutup sejumlah tempat pembuangan sementara atau TPS liar yang ada di sejumlah titik di Jakarta.

    Langkah ini merupakan reaski cepat menangani penumpukan sampah di sejumlah titik di dalam kota pascalibur Lebaran, serta sebagai dampak dari insiden longsor di TPST Bantargebang.

    Selain untuk memastikan kenyamanan warga tetap terjaga, penutupan TPS liar ini sekaligus menjadi wujud tanggung jawab Pemprov DKI Jakarta dalam memberikan pelayanan publik optimal.

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto mengatakan insiden longsor beberapa waktu lalu berdampak pada penyesuaian operasional pengangkutan sampah menuju TPST Bantargebang.

    Salah satunya, DLH menerapkan pengaturan waktu pengangkutan (shifting) guna mencegah antrean truk dan kepadatan di area maupun akses menuju lokasi.

    “Pascalebaran dan adanya kejadian longsor di TPST Bantargebang beberapa waktu lalu, terjadi penumpukan sampah di beberapa titik di dalam kota. Kami tidak menutup-nutupi kondisi ini dan menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan yang terjadi,” ujar Asep, dalam keterangan resminya kepada media, Kamis (2/4/2026).

    Baca: Emplasemen sampah di Pesanggrahan, Jakarta Selatan resmi ditutup

    Asep menegaskan, DLH tidak melakukan pembatasan kuota pengiriman sampah, melainkan mengoptimalkan proses distribusi melalui pengaturan sistem kerja dan shift pengangkutan truk sampah yang lebih terukur.

    Saat ini, pengangkutan sampah dibagi menjadi tiga shift setiap hari agar alur pengiriman lebih lancar dan antrean kendaraan dapat diminimalkan.

    Dengan pola tersebut, DLH memastikan waktu tunggu (dwelling time) truk sampah tetap terkendali, yakni tidak melebihi tiga jam.

    Selain menjaga efisiensi operasional, langkah ini juga menjadi bagian dari upaya melindungi keselamatan dan kesehatan para pengemudi.

    “Kami ingin memastikan para sopir bekerja dalam kondisi aman dan teratur, sekaligus menjaga kelancaran operasional pengangkutan sampah,” tambahnya.

    Seiring dengan percepatan pengangkutan, DLH juga melakukan penanganan intensif di sejumlah titik yang sebelumnya mengalami penumpukan. Di TPS Kali Anyar, proses pengosongan telah rampung dan kondisi lokasi kini sudah bersih.

    Baca: Bencana di TPST Bantargebang jadi alarm serius dalam pengelolaan sampah di Jakarta

    Sementara itu, TPS Rawadas yang merupakan TPS liar telah ditutup secara permanen melalui kolaborasi bersama pihak kecamatan, kelurahan, serta Satpol PP di kawasan TPU Pondok Kopi.

    Hingga Rabu (1/4/2026) malam, lokasi tersebut telah sepenuhnya bersih dari sampah.

    Penanganan juga tengah berlangsung di TPS Kencana yang berada di bawah ruas Jalan Tol Wiyoto Wiyono (Tol Tanjung Priok).

    Setelah proses pengosongan selesai, lokasi ini akan ditutup permanen dengan pemasangan pagar besi serta penguatan pengawasan melalui posko bersama yang melibatkan Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK), Satpol PP, dan unsur kepolisian.

    DLH menargetkan, dalam pekan ini operasional pengangkutan sampah ke TPST Bantargebang dapat kembali normal.

    Sisa sampah pascaarus balik Lebaran juga diupayakan segera tertangani dan didistribusikan ke fasilitas pengolahan, termasuk TPST Bantargebang dan RDF Plant.

    “Kami berkomitmen mempercepat penanganan sampah di dalam kota agar tidak menimbulkan ketidaknyamanan bagi warga. Seluruh jajaran DLH terus bekerja maksimal agar kondisi segera pulih dan pelayanan pengangkutan sampah tetap berjalan optimal,” pungkas Asep.

    Baca: Pembangunan PLTSa bakal kurangi beban TPST Bantargebang

  • Atasi Pengaturan Pembuangan Sampah di TPST Bantargebang, Pemkot Jakbar Bakal Pinjam Lahan KAI untuk TPS Sementara

    Atasi Pengaturan Pembuangan Sampah di TPST Bantargebang, Pemkot Jakbar Bakal Pinjam Lahan KAI untuk TPS Sementara

    7cloud.asia – Hingga hari ini Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta masih menerapkan pengaturan pembuangan sampah ke TPST Bantargebang.

    Seperti diberitakan sebelumnya, untuk mencegah terulangnya longsoran tumpukan sampah di TPST Bantargebang DLH mengoptimalkan proses distribusi melalui pengaturan sistem kerja dan shift pengangkutan truk sampah yang lebih terukur.

    Saat ini, pengangkutan sampah ke TPST Bantargebang dibagi menjadi tiga shift setiap hari agar alur pengiriman lebih lancar dan antrean kendaraan dapat diminimalkan.

    Dilansir laman resmi Pemprov DKI Jakarta, pengaturan jumlah buang sampah ke TPST Bantargebang berdampak terhadap volume sampah tertahan. Dikhawatirkan, ini memicu penumpukan sampah di kawasan permukiman akibat lambat pengangkutan.

    Untuk mengatasi kondisi ini, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat, berencana meminjam sebagian lahan stasiun milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) di Kecamatan Tambora dan Taman Sari, untuk lokasi tempat penampungan sampah (TPS) sementara.

    Baca: Dinas Lingkungan Hidup Jakarta tutup sejumlah TPS liar

    Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainah mengatakan hal ini terpaksa dilakukan untuk mencegah berbagai masalah yang muncul akibat pembatasan

    “Kita menyadari timbunan sampah tidak boleh dibiarkan terlalu lama sebab akan menimbulkan berbagai persoalan,” katanya, Jumat (3/4/2026).

    Diakui Iin, selama ini baru sekitar 25 persen dari total 807.966 ton sampah di wilayahnya yang bisa dikelola baik setiap tahun.

    Karena itu, pihaknya berencana memanfaatkan sebagian lahan area stasiun milik PT KAI di wilayah Kecamatan Tambora dan Taman Sari jadi lokasi TPS sementara.

    “Kemarin pihak PT KAI sudah setuju dan kami akan melakukan komunikasi lebih lanjut secara efektif,” ungkapnya.

    Baca: Bencana di TPST Bantargebang jadi alarm pengelolaan sampah di Jakarta

    Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup (LH) Jakarta Barat, Hariyadi menambahkan, selain masalah lahan TPS sementara pihaknya juga telah lakukan penyesuaian operasional pengiriman sampah.

    “Kami akan maksimalkan fungsi truk besar dan tidak lagi menggunakan truk ukuran sedang dan kecil untuk angkut sampah ke TPST Bantargebang,” kilahnya.

    Menurut Haryadi, hal ini mampu menekan jumlah rit kendaraan pengangkutan sampah dari Jakarta Barat ke TPST Bantar Gebang hingga lebih dari 38 persen. Disebutnya, bila sebelum pengiriman sampah mencapai 308 truk menjadi hanya 190 truk per hari.

    “Karena aturan yang dibatasi itu jumlah rit kendaraan, kita siasati sampah dipadatkan ke truk besar sehingga volume pengiriman bisa dikurangi,” ungkap Haryadi.

    Sebelumnya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menutup sejumlah tempat pembuangan sementara atau TPS liar yang ada di sejumlah titik di Jakarta.

    Langkah ini merupakan reaski cepat menangani penumpukan sampah di sejumlah titik di dalam kota pascalibur Lebaran, serta sebagai dampak dari insiden longsor di TPST Bantargebang.

     

  • Pembatasan Pembuangan Sampah ke TPST Bantargebang Mulai Diberlakukan Agustus Mendatang

    Pembatasan Pembuangan Sampah ke TPST Bantargebang Mulai Diberlakukan Agustus Mendatang

    7cloud.asia – Wali Kota Jakarta Pusat Arifin mengatakan, pada bulan Agustus mendatang, hanya 50 persen sampah residu yang dibuang ke TPST Bantargebang.

    Dilansir di laman resmi pemkot Jakarta Pusat, Arifin mengatakan bahwa dirinya telah mengintruksikan kepada para lurah untuk segera melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar mulai dari sekarang memilah sampah dari sumber rumah tangga.

    “Baik sampah organik maupun non organik harus dipilah,” katanya saat rakorwil, di Ruang Pola, Kantor Walikota Jakarta Pusat, Jalan Tanah Abang I, Gambir, Selasa (14/4/2026).

    Selain pemilahan sampah, lanjut Arifin, bank sampah di tiap RW harus aktif, betul-betul berjalan sehingga sampah yang organik bisa dikelola.

    “Sampah organik yang dikelola nanti bisa menjadi pendapatan masyarakat di RW masing-masing. Lalu yang non organiknya yang akan ditangani oleh Dinas Lingkungan Hidup. Jika sampah itu bisa ditangani langsung di lingkungan tersebut bisa jauh lebih baik,” ucapnya.

    Arifin kembali menegaskan agar para lurah dapat mencari formula, dan strategi bagaimana mengurangi sampah dari sumbernya. Ia juga meminta kepada bagian Umum dan Protokol Kota Administrasi Jakarta Pusat tidak ada lagi setiap rapat menggunakan snack box dan minuman botol plastik.

    “Kita harus sudah merubah cara kita untuk pengurangan sampah dimulai dari diri kita masing-masing. Rapat harus bawa tambler, penyajian makanan pakai piring sehingga tak ada lagi sampah yang dihasilkan dari kegiatan rapat,” jelasnya.

    Baca: Gerakan Memilah Sampah di Rorotan, Kurangi Sampah Hingga 6 Ton Sehari

    Sementara itu, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah Pemprov DKI Jakarta Fahmi Hermawan menambahkan, masyarakat Jakarta harus sudah mulai bisa mengurangi dan memilah sampah. Hakikat dari pengelolaan sampah ialah memilah.

    “Sampah bukan hanya persoalan pemerintah tetapi semua stakeholder untuk mulai mengelola, mengurangi sampah di tingkat sumbernya. Karena di tahun 2027 sudah tidak ada lagi sampah yang dibuang ke Bantargebang,” tandasnya.

    Menindaklanjuti instruksi ini, dilakukan sosialisasi pembatasan pembuangan sampah ke TPST Bantargebang yang diikuti ratusan tokoh masyarakat dari delapan kelurahan se-Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat.

    Sosialisasi ini digelar Suku Dinas Lingkungan Hidup (LH) Jakarta Pusat di aula kantor Kecamatan Kemayoran, Selasa (21/4/2026).

    Kasudin LH Jakarta Pusat, Slamet Riyadi mengatakan, kunci utama penanganan sampah yakni kesadaran warga untuk memilah sampah langsung dari sumbernya, yaitu rumah tangga.

    “Beberapa langkah nyata yang dapat dilakukan untuk menekan volume sampah yang dikirim ke TPST Bantargebang melalui pemilahan organik dan anorganik agar penanganannya lebih efektif,” ujarnya dilansir beritajakarta.id.

    Baca: Rorotan Jadi Percontohan Pemilahan Sampah 100 Persen

    Slamet mengungkapkan, sampah anorganik yang bernilai ekonomis dapat disetorkan ke Bank Sampah yang kini sudah tersedia di setiap RW di Jakarta Pusat.

    “Sementara sampah organik diimbau untuk diolah menjadi kompos atau digunakan sebagai pakan maggot agar lebih bermanfaat,” ungkapnya.

    Ia juga mengajak perwakilan peserta sosialisasi menerapkan gaya hidup ramah lingkungan seperti membawah kantong belanja ramah lingkungan dan wadah kotak sendiri bagi ibu – ibu saat berbelanja ke pasar untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

    “Membawa kantong belanja dan kotak plastik sendiri ke pasar akan secara signifikan mengurangi tumpukan plastik yang dibawa pulang dari pasar ke rumah,” paparnya.

    Slamet juga mengapresiasi inisiatif salah satu Bank Sampah di Kemayoran yang secara swadaya memiliki mesin pencacah sampah.

    Baca: Pemkot Jakarta Pusat Dorong Sekolah dan Perkantoran Memilah Sampah

    Ke depannya, Sudin LH Jakpus akan menyosialisasikan kepada para petugas gerobak sampah agar tetap menjaga pemilahan sampah yang sudah dilakukan warga dari rumah.

    “Petugas diwajibkan menyediakan karung atau tempat terpisah di gerobak agar sampah yang sudah dipilah tidak tercampur kembali,” paparnya.

    Ia optimistis sosialisasi melalui tokoh masyarakat di delapan kecamatan se Jakarta Pusat yang digelar secara bertahap akan disebarluaskan kembali kepada warga di lingkungan masing-masing.

    Dengan demikian, akan muncul komitmen bersama mengurangi sampah untuk dibuang ke TPST Bantargebang.

    “Kami yakin sosialisasi ini akan disebarluaskan kepada warga di delapan kelurahan se Jakpus sehingga terbentuk kesadaran bersama mengurangi pembuangan sampah yang dibuang ke TPST Bantargebang,” tambahnya.