Tag: unrwa

  • UNRWA Kutuk Pembantaian Anak-anak oleh Zionis

    UNRWA Kutuk Pembantaian Anak-anak oleh Zionis

    7cloud.asia – Badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) mengatakan bahwa Jalur Gaza tidak lagi menjadi tempat yang aman bagi anak-anak setelah Israel kembali mengebom salah satu sekolah yang dikelola PBB di Kota Gaza.

    “Laporan tentang serangan mengerikan lainnya hari ini di salah satu sekolah UNRWA kami di Kota Gaza,” kata Komisaris Jenderal UNRWA Philippe Lazzarini pada Rabu (21/8).

    Israel menargetkan Sekolah Salah al-Din yang menewaskan dua warga Palestina dan melukai 15 lainnya, termasuk anak-anak. Beberapa di antara korban dilaporkan terbakar hingga tewas.

    “Gaza bukan lagi tempat bagi anak-anak. Mereka adalah korban pertama dari perang tanpa ampun ini. Kita tidak bisa membiarkan hal yang tak tertahankan menjadi norma baru. Cukup,” ucapnya.

    Baca: Sebanyak 113 jurnalis tewas dalam konflik di Gaza

    Lazzarini mempertanyakan apakah masih ada kemanusiaan yang tersisa dan menturkan bahwa gencatan senjata sudah sangat terlambat.

    Pada hari yang sama, PBB mengingatkan bahwa perintah evakuasi militer Israel yang sedang berlangsung mengancam penduduk Jalur Gaza dengan pengungsian paksa lebih lanjut, menimbulkan kekhawatiran bahwa layanan penting mungkin akan segera terputus.

    Saksi mata juga mengonfirmasi kepada Anadolu bahwa pesawat tempur Israel mengebom Sekolah Salah al-Din, sekolah kesembilan yang menampung para pengungsi yang menjadi sasaran militer Israel sejak awal Agustus.

    Israel terus melancarkan serangan brutal di Jalur Gaza menyusul serangan kelompok perlawanan Palestina Hamas pada 7 Oktober, meski ada resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan gencatan senjata segera.

    Baca: PBB sebut 84 persen jalur di Gaza di bawah perintah Israel

    Konflik tersebut telah mengakibatkan lebih dari 40.170 kematian warga Palestina, sebagian besar adalah wanita dan anak-anak, dan lebih dari 92.740 orang cedera, menurut otoritas kesehatan setempat.

    Blokade yang terus berlanjut di Gaza telah menyebabkan kekurangan makanan, air bersih, dan obat-obatan, yang mengakibatkan sebagian besar wilayah tersebut hancur.

    Israel menghadapi tuduhan genosida di Mahkamah Internasional yang telah memerintahkan penghentian operasi militer di kota selatan Rafah, tempat lebih dari satu juta warga Palestina mencari perlindungan sebelum wilayah tersebut diserbu pada tanggal 6 Mei.

    Sumber : Anadolu

  • UNRWA Tuding Israel Sengaja Ciptakan Bencana Kelaparan di Jalur Gaza

    UNRWA Tuding Israel Sengaja Ciptakan Bencana Kelaparan di Jalur Gaza

     

    7cloud.asia – Komisioner Jenderal badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) Philippe Lazzarini menyatakan bahwa bencana kelaparan di Jalur Gaza terjadi akibat tindakan yang disengaja melalui blokade bantuan dan serangan sistematis Israel terhadap infrastruktur.

    “Kelaparan menyebar di Gaza. Kelaparan ini seluruhnya adalah karena tindak manusia. Lebih dari 70 persen ladang tanaman pun hancur,” kata Lazzarini dalam pernyataannya di media sosial yang dipantau pada Kamis.

    Ia mengatakan, jumlah warga Gaza yang tidak mendapat bantuan jatah makanan yang mencapai 1 juta orang pada Agustus kemarin, melonjak menjadi 1,4 juta orang pada September.

    Baca: Lebih dari 1 juta warga Palestina terancam kelaparan

    Akibat agresi dan blokade Israel yang menyebabkan kerusakan infrastruktur dan tatanan pemerintahan di Gaza, lebih dari 100 ribu ton pasokan makanan tak bisa masuk, kata dia.

    Terlebih, kehancuran besar di Gaza memaksa seluruh populasi kawasan tersebut, yang jumlahnya sekitar 2,1 juta orang pada 2023, menggantungkan nasib pada bantuan kemanusiaan dari luar.

    Lazzarini menyatakan, pembatasan dan penundaan pengiriman bantuan kemanusiaan hanya akan memperburuk kondisi kehidupan pengungsi di Gaza.

    “Dengan semakin dekatnya musim dingin dan memburuknya kondisi cuaca, kekurangan bantuan kemanusiaan yang layak hanya akan menciptakan penderitaan yang lebih besar lagi,” kata dia.

    Baca: PBB tuding Israel sengaja gunakan metode perang baru, menciptakan kelaparan bagi warga Palestina

    Untuk itu, Komisioner Jenderal UNRWA menegaskan pentingnya gencatan senjata untuk mengakhiri penderitaan rakyat Palestina dan meredakan ketegangan kawasan.

    Diperlukan kehendak politik dan kepemimpinan yang teguh di antara pihak-pihak berkonflik untuk memastikan semua sandera dibebaskan, titik-titik penyeberangan baru dibuka, dan bantuan kemanusiaan dapat masuk ke Gaza tanpa halangan apapun, ucap dia.

    “Memilih perdamaian sebagai cara kita untuk maju adalah pilihan para pemberani. Karena itu, inilah waktunya,” kata Lazzarini.

    Baca: Tragis! Anak-anak Palestina meninggal karena peluru atau mati kelaparan

    Agresi Israel ke Jalur Gaza yang pada 7 Oktober mendatang genap berlangsung selama setahun tersebut telah menyebabkan hampir 41.600 orang tewas, sebagian besar wanita dan anak-anak, serta lebih dari 96.200 lainnya terluka, menurut otoritas kesehatan setempat.

    Serangan Israel juga telah membuat hampir seluruh penduduk wilayah tersebut mengungsi di tengah blokade yang menyebabkan kekurangan makanan, air bersih, dan obat-obatan yang parah.

    Sumber: Antaranews

  • Israel Berencana Melarang UNRWA Beroperasi di Wilayahnya

    7cloud.asia – Kepala badan PBB yang membantu pengungsi Palestina (UNRWA) memperingatkan, jika undang-undang Israel tentang UNRWA benar-benar diadopsi Knesset, semua operasi kemanusiaan di Gaza dan Tepi Barat akan “tercerai-berai,”.

    Buntutnya, akan menyebabkan ratusan ribu warga Palestina berada dalam kondisi sangat membutuhkan bantuan di saat konflik di wilayah tersebut terus berkecamuk.

    Sebuah komisi di parlemen Israel pada Senin (7/10/2024) lalu menyetujui sejumlah rancangan undang-undang yang akan melarang badan bantuan yang dikenal sebagai UNRWA, beroperasi di wilayah Israel.

    Aturan itu juga mendesak diakhirinya semua kontak antara pemerintah dan UNRWA. RUU tersebut memerlukan persetujuan akhir dari Knesset, atau parlemen Israel.

    Komisaris Jenderal UNRWA Philippe Lazzarini mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB pada Rabu (9/10/2024) bahwa para pejabat senior Israel bertekad untuk menghancurkan badan tersebut.

    Baca: Indonesia kecam sikap Israel terhadap UNRWA

    Dia mendesak badan PBB yang paling berkuasa untuk melindungi UNRWA “dari upaya untuk mengakhiri mandatnya secara sewenang-wenang dan prematur tanpa adanya solusi politik yang telah lama dijanjikan”.

    Ditambahkannya, undang-undang tersebut melanggar kewajiban Israel berdasarkan piagam PBB dan hukum internasional.

    Lazzarini menekankan bahwa secara operasional seluruh respons kemanusiaan di Gaza bergantung pada infrastruktur UNRWA – dan “mungkin akan hancur” jika undang-undang tersebut diadopsi.

    Dia juga memperingatkan bahwa penghentian koordinasi dengan Israel akan semakin mengganggu penyediaan tempat tinggal, makanan dan layanan kesehatan bagi warga Palestina menjelang musim dingin.

    Selain itu lebih dari 650.000 anak akan kehilangan harapan untuk melanjutkan pendidikan mereka “dan seluruh generasi akan dikorbankan.”

    Baca: 453 Serangan Israel menyasar fasilitas kemanusiaan milik UNRWA

    Para pejabat Palestina mengatakan pemboman Israel terhadap Gaza tengah dan utara telah menewaskan puluhan orang dan membuat ribuan orang terjebak di rumah-rumah mereka.

    Sementara itu, jumlah korban tewas dalam perang selama setahun di Gaza telah melampaui 42.000 orang.

    Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan pihaknya menemukan 40 jenazah dari Jabaliya dari Minggu (6/10/2024) hingga Selasa (8/10/2024), dan 14 lainnya dari komunitas yang jauh di utara.

    Pihak kementerian mengatakan bahwa jumlah korban jiwa mungkin lebih tinggi karena masih banyak jenazah yang terkubur di bawah reruntuhan dan di daerah yang tidak dapat diakses.

    Juru bicara militer Israel mengatakan bahwa pasukan Israel beroperasi di Jabaliya untuk mencegah Hamas menghimpun kembali kekuatan dan telah membunuh sekitar 100 militan.

    Sumber:VOAINdonesia

     

  • 258 Staf UNRWA Meninggal Selama Berlangsungnya Perang Gaza

    7cloud.asia – Komisaris Jenderal Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) Philippe Lazzarini mengungkapkan bahwa 258 staf mereka di Jalur Gaza tewas sejak perang meletus pada Oktober 2023 lalu.

    Ia menekankan sudah waktunya mencabut blokade di Gaza untuk mengizinkan akses masuk pasokan kemanusiaan, termasuk pasokan kebutuhan untuk musim dingin.

    Melalui pernyataan kepada media pada Selasa (31/12/2024) Lazzarini mengatakan terdapat hampir 650 insiden di gedung dan fasilitas UNRWA sejak awal perang.

    Ia menekankan bahwa lebih dari dua pertiga gedung UNRWA rusak atau hancur, yang sebagian besar difungsikan sebagai sekolah untuk anak-anak.

    Lazzarini menunjukkan sedikitnya 745 orang tewas di tempat penampungan lembaga tersebut selagi mencari perlindungan PBB.

    Ia juga mengungkapkan bahwa sedikitnya 20 staf UNRWA ditahan di pusat-pusat penahanan Israel, mengatakan: Sudah saatnya membebaskan seluruh pekerja kemanusiaan yang ditahan.

    Menurut UNRWA, tingkat malnutrisi akut di Jalur Gaza 10 kali lebih tinggi dibanding sebelum terjadi perang Israel di Jalur Gaza.

    “80 persen keluarga di Gaza memiliki sedikitnya satu anak yang tidak mendapat makanan cukup dan lebih dari 96 anak anak dan ibu hamil atau menyusui tidak mendapatkan gizi yang cukup,” katanya di platform X, menurut laporan UNICEF pada November.

    Badan PBB itu mendesak agar dilakukan gencatan senjata segera dan alur pasokan penting secara teratur guna memfasilitasi operasi bantuan kemanusiaan.

    Sumber: Antaranwes.com/WAFA

  • PBB: Pelarangan Operasional UNRWA Memiliki Konsekuensi Mengerikan Bagi Warga Gaza

     

    7cloud.asia – Pengiriman bantuan pangan dan kemanusiaan ke Jalur Gaza kembali tidak mencapai jumlah yang ditargetkan dalam beberapa bulan terakhir, meski tercapai kesepakatan gencatan senjata Israel-Hamas.

    Larangan Israel terhadap badan PBB untuk pengungsi Palestina, UNRWA untuk beroperasi di Gaza dikhawatirkan membawa konsekuensi yang mengerikan. Hal ini disampaikan beberapa pejabat PBB dalam konferensi pers di Jenewa akhir pekan lalu.

    Direktur Komunikasi UNRWA, Juliette Touma mengatakan bahwa pihaknya berkomitmen untuk menyediakan layanan penyelamat kehidupan bagi pengungsi Palestina, karena jalan keluar jangka panjang bagi krisis ini masih belum jelas.

    UNRWA, ujarnya, berkomitmen untuk melanjutkan pengiriman layanan penyelamatan jiwa dan layanan mendasar lainnya termasuk untuk Jalur Gaza dan Tepi Barat, termasuk juga Yerusalem Timur,

    “Implementasi penuh UU yang dibuat Knesset di seluruh wilayah Palestina yang diduduki, berupaya mencegah UNRWA dalam memberikan layanan dan akan memiliki konsekuensi mengerikan bagi kehidupan dan masa depan pengungsi Palestina,” kata Touma.

    Baca: Lebih dari 200 staf UNRWA meninggal selama perang Gaza

    Dia menambahkan, UNRWA belum menerima komunikasi resmi apapun dari pemerintah Israel terkait bagaimana larangan itu akan diterapkan.

    Pada Kamis (27/1/2025) Israel secara resmi melarang badan PBB, yang dikenal sebagai UNRWA, untuk beroperasi di Gaza, meskipun ada penolakan diplomatik yang besar.

    Keputusan ini dinilai oleh pejabat-pejabat organisasi kemanusiaan dapat memberikan dampak sangat buruk terhadap pengiriman bantuan dan membahayakan stabilitas regional dalam jangka panjang.

    Sementara itu, anggota Knesset Israel, Yulia Malinovsky mengatakan pada Senin (3/2/2025) bahwa “banyak informasi sudah dikumpulkan terkait hubungan dekat antara UNRWA dengan Hamas.

    “Banyak informasi sudah dikumpulkan terkait hubungan dekat antara UNRWA dan Hamas dan organisasi teroris. Tidak mungkin untuk menyembunyikan itu, itu adalah sebuah fakta, itu sudah menjadi sebuah kenyataan.“ kata Malinovsky.

    Baca: Israel melarang UNRWA beroperasi di wilayahnya

    ”Dan kemudian, saya meloloskan sebuah undang-undang yang pada dasarnya memotong hubungan apapun, memotong kontak apapun antara pejabat Israel manapun atau organisasi Israel dengan UNRWA,” lanjutnya

    Malinovsky yang berasal dari partai sayap kanan Yisrael Beiteinu menyampaikan pernyataan itu di depan gedung kantor pusat UNRWA di Yerusalem Timur.

    Untuk saat ini, sejumlah sekolah dan klinik kesehatan yang dioperasikan UNRWA di Yerusalem Timur tetap melanjutkan operasionalnya, dan badan itu mengatakan bahwa tidak ada perubahan dalam pengiriman bantuan di Jalur Gaza.

    UNRWA menyediakan bantuan dan pelayanan bagi sekitar 2,5 juta pengungsi Palestina di Gaza dan Tepi Barat yang diduduki serta Yerusalem Timur, begitu juga sekitar 3 juta pengungsi lainnya di Suriah, Yordania dan Lebanon.

    Sejak perang Israel-Hamas dimulai pada Oktober 2023, badan itu telah menjadi tumpuan hidup utama bagi populasi yang bergantung pada bantuan kemanusiaan.

    Baca: Serangan Israel sering menyasar fasilitas milik UNRWA

    Larangan terhadap UNRWA diloloskan oleh parlemen Israel pada Oktober 2024, menyusul serangan selama berbulan-bulan terhadap badan itu.

    PM Benyamin Netanyahu dan sekutu sayap kanannya menuding badan tersebut telah disusupi secara mendalam oleh Hamas.

    UNRWA sendiri menolak klaim semacam itu. UU itu juga melarang kontak antara pejabat-pejabat Israel dengan staf UNRWA.

    UNRWA didirikan pada 1949 untuk memberikan layanan bagi lebih dari 700 ribu warga Palestina yang terusir atau melarikan diri dari rumah-rumah mereka di tengah perang sebagai dampak pembentukan negara Israel.

  • UNRWA: Runtuhnya Gencatan Senjata di Gaza Picu Gelombang Pengungsian Baru

    UNRWA: Runtuhnya Gencatan Senjata di Gaza Picu Gelombang Pengungsian Baru

    7cloud.asia – Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) memperingatkan tentang bencana kemanusiaan lain di Jalur Gaza menyusul runtuhnya gencatan senjata bulan lalu.

    Dalam sebuah pernyataan memperingati Hari Anak Palestina Sabtu (5/4/2025), UNRWA mengatakan runtuhnya gencatan senjata telah menyebabkan gelombang pengungsian lainnya.

    Dampaknya pada lebih dari 142.000 orang hanya dalam rentang waktu 18 hingga 23 Maret.

    “Sejak perang di Gaza dimulai, sekitar 1,9 juta orang – termasuk ribuan anak-anak – telah mengalami pengungsian paksa berulang kali di tengah gempuran bom, ketakutan, dan kehilangan,” lanjut pernyataan tersebut.

    Baca: Dewan HAM PBB sahkan resolusi meminta pertanggungjawaban Israel

    “Jana adalah salah satu dari mereka,” tambahnya, merujuk pada seorang anak yang sebelumnya mereka temui pada Agustus 2024 dan sekali lagi pada akhir Maret 2025.

    “Dia, dan semua anak-anak Palestina, membutuhkan #GencatanSenjataSekarang.”

    Israel melanjutkan serangannya di Gaza pada 18 Maret, menghancurkan gencatan senjata yang berlangsung selama dua bulan.

    Lebih dari 50.600 warga Palestina telah terbunuh di wilayah kantong tersebut akibat serangan militer Israel sejak Oktober 2023, sebagian besar di antaranya adalah perempuan dan anak-anak.

    Baca: Kelaparan di Gaza karena Israel halangi masuknya bantuan makanan

    Mahkamah Pidana Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan pada November lalu terhadap Kepala Otoritas Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Kepala Pertahanannya Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

    Israel juga menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional atas perang yang dilancarkannya di wilayah tersebut.

    Sumber: Anadolu

     

  • UNRWA: Warga Gaza Diserang Saat Mengantri Makanan di Pusat Bantuan

    UNRWA: Warga Gaza Diserang Saat Mengantri Makanan di Pusat Bantuan

    7cloud.asia – Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Sabtu (7/6/2025), melaporkan bahwa warga sipil yang kelaparan di Jalur Gaza menjadi sasaran serangan brutal pasukan Israel saat mereka berupaya mendapatkan makanan di pusat distribusi bantuan Rafah.

    Dalam pernyataannya, UNRWA mengutip kesaksian seorang warga Palestina yang selamat dari serangan di pusat distribusi bantuan yang dikelola Gaza Humanitarian Foundation (Yayasan Kemanusiaan Gaza/GHF) bentukan Amerika Serikat dan Israel dengan dalih bantuan kemanusiaan.

    Menurut pernyataan UNRWA itu, warga Palestina yang kelaparan, dalam keputusasaan mencari makanan, justru menghadapi serangan brutal dari militer Israel di pusat-pusat distribusi tersebut sehingga nyawa mereka terancam.

    Baca: Jebakan Gaza Humanitarian Foundation tewaskan puluhan warga Palestina

    Banyak di antara mereka pulang dengan tangan kosong setelah berhasil selamat dari serangan, tambah pernyataan itu.

    UNRWA menegaskan pentingnya segera mengaktifkan kembali distribusi bantuan yang aman bagi warga Gaza.

    Bantuan tersebut, menurut mereka, harus disalurkan melalui lembaga-lembaga resmi PBB, termasuk UNRWA.

    Sejak 27 Mei, militer Israel melakukan serangan ke sejumlah zona distribusi bantuan yang didirikan GHF.

    Baca: Amerika Serikat veto rancangan Resolusi Dewan Keamanan PBB soal Gaza

    Pasukan Zionis itu melepaskan tembakan ke arah warga sipil yang berkumpul di pusat-pusat distribusi yang berada di “zona penyangga” buatan Israel.

    Berdasarkan data Kantor Media Gaza, sejak 27 Mei hingga 6 Juni, serangan militer Israel di lokasi distribusi bantuan itu telah menewaskan 110 warga Palestina dan melukai 583 lainnya.

    Sementara itu, sembilan jenazah korban dilaporkan masih belum ditemukan hingga kini.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • UNRWA Kecam Rencana Israel Memindahkan Paksa Warga Gaza ke Kamp Konsentrasi

    UNRWA Kecam Rencana Israel Memindahkan Paksa Warga Gaza ke Kamp Konsentrasi

    7cloud.asia – Badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) mengecam rencana Israel memindahkan paksa warga Palestina dari Gaza ke wilayah selatan Kota Rafah.

    Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Jumat (11/7/2025), UNRWA memperingatkan bahwa langkah tersebut dapat berujung pada ‘kamp konsentrasi besar-besaran, serta memperburuk krisis kemanusiaan di daerah kantung Palestina itu.

    Direktur Komunikasi UNRWA Juliette Touma, mengatakan pada Al Jazeera English bahwa pihaknya “dengan tegas menolak segala bentuk pemindahan paksa terhadap penduduk manapun.”

    “Jika itu terjadi, hal itu akan membuat puluhan ribu orang yang telah berulang kali mengungsi selama perang saat ini, dan juga selama beberapa generasi, lebih jauh ke selatan dan dari sana menuju ketidakpastian,” kata Touma.

    Baca: Gaza alami genosida terkejam sepanjang sejarah

    Dia mengatakan bahwa hal yang seharusnya menjadi fokus saat ini adalah mencapai gencatan senjata serta mengizinkan UNRWA mendistribusikan lebih banyak pasokan bantuan yang dibutuhkan untuk mengurangi penderitaan warga Gaza.

    Touma menjelaskan saat ini UNRWA memiliki lebih dari 6.000 truk di Mesir dan Yordania bermuatan obat-obatan yang akan segera kedaluwarsa, makanan yang juga akan rusak, serta perlengkapan kebersihan.

    “Yang kami butuhkan adalah diakhirinya pengepungan, tercapainya gencatan senjata, membolehkan UNRWA dan organisasi PBB melakukan pekerjaan kami,” tambahnya.

    Sebelumnya, PBB telah memperingatkan tentang berlanjutnya pengungsian massal di Jalur Gaza dan bahwa lebih dari 700.000 orang telah mengungsi sejak berakhirnya gencatan senjata pada Maret.

    Baca: Israel lakukan genosida dengan mencegah kelahiran warga Palestina

    Selain itu, kepala pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan ia telah menginstruksikan tentara untuk menyiapkan rencana relokasi semua warga Palestina ke tempat yang disebutnya “kota kemanusiaan” di atas reruntuhan Rafah di Gaza selatan.

    Israel memblokade Gaza sejak Maret lalu, dan beberapa pekan terakhir gencar melancarkan serangan ke sejumlah tempat pengungsian di Gaza.

    Sebelumnya, kelompok perlawanan Hamas menyatakan siap membebaskan 10 sandera untuk tercapainya gencatan senjata yang komprehensif untuk akhiri perang di Gaza.

    Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, jumlah warga Palestina yang meninggal dunia akibat perang genosida Israel di Jalur Gaza telah mendekati angka 57.000 orang.

    Sumber: Antaranews.com/Anaadolu

  • UNRWA: Warga Gaza Kelaparan Karena Kondisi yang Disengaja Israel

    UNRWA: Warga Gaza Kelaparan Karena Kondisi yang Disengaja Israel

    7cloud.asia – Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mengatakan bahwa kelaparan massal di Jalur Gaza “dibuat dan disengaja.”

    Dalam pernyataan yang dirilis Jumat (25/7/2025) UNRWA mengatakan bahwa mekanisme distribusi bantuan yang didukung Israel dan AS, yang dikenal sebagai “Yayasan Kemanusiaan Gaza,” atau GHF, dibentuk untuk memuluskan “tujuan militer dan politik.”

    “Kelaparan massal yang disengaja dan terencana. Hari ini, lebih banyak anak meninggal, tubuh mereka kurus kering karena kelaparan,” demikian pernyataan tersebut.

    Mereka menekankan bahwa “sistem distribusi (GHF) yang cacat tersebut tidak dirancang untuk mengatasi krisis kemanusiaan.”

    UNRWA menekankan bahwa sistem itu “melayani tujuan militer dan politik. Sistem ini kejam karena lebih banyak merenggut nyawa daripada menyelamatkan nyawa.”

    Badan tersebut menjelaskan bahwa di bawah sistem tersebut, Israel mengendalikan “semua aspek akses kemanusiaan, baik di luar maupun di dalam Gaza.”

    Sejak 27 Mei, Tel Aviv mulai melaksanakan rencana penyaluran bantuan melalui “Yayasan Kemanusiaan Gaza,” sebuah mekanisme yang didukung oleh Israel dan AS tetapi ditolak oleh PBB dan organisasi-organisasi kemanusiaan besar.

    UNRWA mencatat bahwa selama gencatan senjata sebelumnya pada 2025, yang dimulai pada Januari dan kemudian tidak diimplementasikan oleh Israel pada Maret, mereka “membalikkan kelaparan yang semakin dalam.”

    Badan tersebut menambahkan bahwa “Saat ini, UNRWA sendiri memiliki 6.000 truk bantuan makanan dan medis yang tertahan di Mesir dan Yordania.”

    UNRWA telah berulang kali menyerukan pengaktifan kembali mekanisme distribusi bantuan yang diawasi PBB untuk membantu meringankan krisis kelaparan di Gaza.

    Sejak 2 Maret, Israel sudah tidak melaksanakan gencatan senjata dan kesepakatan pertukaran tahanan dengan Hamas serta menutup perlintasan Gaza, sehingga ratusan truk bantuan terdampar di perbatasan.

    Israel menolak seruan internasional untuk melaksanakan gencatan senjata dan terus melancarkan serangan brutal di Gaza sejak akhir 2023, sehingga menewaskan lebih dari 59.600 warga Palestina.

    Kematian akibat kelaparan melonjak dalam beberapa hari terakhir akibat blokade yang telah berlangsung selama berbulan-bulan dan buruknya distribusi bantuan yang dilakukan oleh lembaga bantuan GHF yang kontroversial.

    Pada November lalu, Mahkamah Pidana Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk PM Israel Benjamin Netanyahu dan mantan menteri pertahanannya Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

    Israel juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional atas perangnya di daerah kantong tersebut.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • UNRWA: Anak Gaza Terancam Jadi “Generasi Hilang” Akibat Perang

    UNRWA: Anak Gaza Terancam Jadi “Generasi Hilang” Akibat Perang

    7cloud.asia – Badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) memperingatkan lebih dari 660.000 anak di Gaza kehilangan haknya untuk bersekolah akibat perang sejak Oktober 2023.

    UNRWA menyebut kondisi ini dapat pengakibaktan krisis pendidikan di wilayah kantung di Palestina ini.

    “Perang di Gaza adalah perang terhadap anak-anak dan harus segera dihentikan. Anak-anak harus selalu dilindungi,” kata UNRWA dalam pernyataannya pada Sabtu (30/8/2025).

    Badan PBB itu juga memperingatkan bahwa generasi muda Gaza terancam menjadi “generasi yang hilang.”

    Baca: Ratusan ribu anak Gaza menderita malnutrisi

    Sementara itu, sekolah-sekolah di Tepi Barat yang diduduki Israel rencananya akan dibuka kembali pada 1 September, ruang-ruang kelas di Gaza masih tutup.

    Kementerian Pendidikan Palestina menyebutkan sekitar 700.000 siswa di Gaza tak bisa melanjutkan pendidikan dan lebih dari 70.000 di antaranya tidak bisa mengikuti ujian sekolah menengah selama dua tahun berturut-turut.

    Data kementerian itu menunjukkan, sejak Oktober 2023, serangan Israel telah menewaskan sedikitnya 17.000 siswa sekolah dan lebih dari 1.200 mahasiswa di Gaza, serta melukai puluhan ribu lainnya.

    Di wilayah pendudukan Tepi Barat, puluhan pelajar juga tewas, terluka, atau ditahan pasukan Israel selama periode itu.

     

    Baca: Belasan ribu warga Gaza membutuhkan evakuasi medis

    Korban jiwa juga menimpa guru dan tenaga kependidikanan. Hampir 1.000 pekerja pendidikan tewas di Gaza, sementara ribuan lainnya terluka atau ditahan Israel di seluruh wilayah Palestina.

    Sejak Oktober 2023, agresi militer Israel telah menewaskan lebih dari 63.400 warga Palestina di sana. Serangan-serangan rezim Zionis telah menghancurkan wilayah kantong Palestina itu yang kini menghadapi ancaman kelaparan.

    Pada November lalu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap pemimpin Israel Benjamin Netanyahu dan mantan menteri pertahanannya, Yoav Gallant.

    Keduanya dikenai tuduhan telah melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza. Israel juga menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) atas perang yang dilancarkannya di wilayah itu.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu