Tag: banjir

  • Cuaca Ekstrem Picu Banjir dan Tanah Longsor di Sinjai, Ribuan Warga Terdampak

    Cuaca Ekstrem Picu Banjir dan Tanah Longsor di Sinjai, Ribuan Warga Terdampak

    7cloud.asia – Hujan deras sejak Minggu-Senin (6-7 Juli 2025) telah memicu tanah longsor di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan yang mengakibatkan ratusan warga di lima kecamatan terdampak

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sinjai melaporkan ada dua dusun dengan jumlah 180 jiwa terdampak longsor.

    “Longsor terparah berada di Kecamatan Sinjai Barat,” kata Kepala BPBD Sinjai Budiman saat dikonfirmasi wartawan, Selasa lalu.

    Secara akumulatif total korban terdampak mencapai 3.152 atau 893 keluarga, pengungsi 46 jiwa, korban luka berat dua orang, lahan persawahan seluas 179 hektare lebih, dan 22,57 hektare kebun rusak.

    Tiga jembatan penghubung antardesa terputus, 18 saluran irigasi rusak, empat gedung sekolah terdampak serta 6 ekor sapi hanyut dibawa air.

    Adapun lima kecamatan yang terdampak tanah longsor adalah Kecamatan Sinjai Selatan, Bulupoddo, Sinjai Borong, dan Sinjai Barat.

    Baca: Kemarau basah landa Indonesia hingga Agustus 2025

    Lokasi yang terdampak parah, kata dia, berada di Desa Bontolempangan, Sinjai Barat. Jalan sepanjang 100 meter tertimbun material tanah longsor dengan ketebalan 8-10 meter sehingga sulit diakses.

    Selain itu, ada 10 rumah warga tertimbun material tanah tersebar di enam desa pada Kecamatan Sinjai Borong, Sinjai Tengah dan Sinjai Barat. Sejauh ini tim BPBD dan tim gabungan telah melakukan penanganan.

    Data sementara, terdapat dua warga yang terdampak tanah longsor telah dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan karena mengalami luka berat.

    Selain itu, dampak kerusakan yang ditimbulkan dari bencana tersebut yakni jembatan penghubung antardesa terputus sehingga sulit diakses. Sejauh ini, warga masih mengungsi dan sebagian lainnya masih terisolasi dan membutuhkan bantuan logistik serta obat-obatan.

    Tim SAR Gabungan terus bekerja membersihkan material longsor yang menutup akses jalan. Tim juga berusaha menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak.

    Warga diimbau agar tetap hati-hati, waspada dan siaga longsoran susulan di tengah perubahan cuaca tidak menentu.

    Baca: Perubahan iklim membuat banjir akan makin sering terjadi

    Sebelumnya, Analis kebencanaan BPBD Sinjai Andi Octave menyebutkan dampak cuaca ekstrem pada 6-7 Juli 2025 ada ratusan rumah terendam air hingga 1,5 meter. Selain banjir, bencana tanah longsor juga menutupi jalan.

    Di Kecamatan Pulau Sembilan tercatat empat rumah rusak ringan dampak angin puting beliung. Di Kecamatan Sinjai Barat ada delapan titik longsor, dua rumah tertimbun tanah, delapan tiang listrik rubuh dan sebanyak 23 unit rumah mengalami pergerakan tanah.

    Di Kecamatan Sinjai Tengah, tercatat sebanyak 12 titik longsor, ada empat rumah rusak berat, 15 hektare kebun dan 47 hektare sawah terdampak banjir.

    Sedangkan di Kecamatan Sinjai Borong, tercatat tiga rumah rusak, 6 hektare sawah tergenang, jembatan Alenangka–Samaturue terputus.

    Di Kecamatan Sinjai Timur 64 rumah tergenang, 122 hektare sawah terendam dengan 204 jiwa terdampak.

    Di Kecamatan Bulupoddo, dampak longsor di kebun warga dan satu ekor sapi hanyut. Sedangkan di Kecamatan Sinjai Utara, ada tiga kelurahan terdampak banjir, sebanyak 855 unit dengan 3.072 jiwa terdampak.

    Sementara di Kecamatan Tellulimpoe, Jembatan Biroro–Massaile terputus, saluran irigasi 26 meter rusak, serta di Kecamatan Sinjai Selatan Jembatan Puncak–Songing terputus, lima ekor sapi dinyatakan hilang karena dibawa hanyut oleh air.

    Baca: Mendesain kota responsif terhadap banjir

  • Saringan Sampah TB Simatupang Jadi Titik Awal Kelancaran Aliran Sungai Ciliwung

    Saringan Sampah TB Simatupang Jadi Titik Awal Kelancaran Aliran Sungai Ciliwung

    7cloud.asia – Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta memenyiagakan semua petugas dan memperkuat penanganan sampah di seluruh badan air di lima wilayah di Jakarta.

    Langkah ini dilakukan sebagai upaya menanganin dampak banjir di sejumlah titik aliran Sungai Ciliwung dan 12 sungai lainnya yang melintasi Jakarta.

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto mengatakan, pihaknya telah menyiagakan para pasukan oranye di titik-titik rawan untuk mencegah terjadinya penumpukan sampah di sejumlah titik.

    Penumpukan sampah ini berpotensi menimbulkan efek bendung pada aliran sungai dan memperparah dampak banjir.

    Ia menyampaikan, penanganan sampah dilakukan dari hulu ke hilir aliran sungai, yakni dimulai di Saringan Sampah TB Simatupang (SSTBS) sebagai saringan awal sampah sebelum masuk ke tengah kota.

    Baca: Proyek normalisasi Sungai Ciliwung segera dilanjutkan

    Sebaran sampah di lokasi seperti Jembatan Pelangi Kalibata, Jembatan Kampung Melayu hingga Banjir Kanal Barat (BKB) Season City bisa diantisipasi dengan baik.

    “Sehingga aliran air menuju laut bisa lancar tanpa adanya efek bendung sampah,” ujar Asep, Jumat (11/7/2025) seperti dilansir beritajakarta.id

    Ia menjelaskan, keberadaan Saringan Sampah TB Simatupang sebagai upaya Pemprov DKI Jakarta dalam mengembalikan fungsi ekosistem Sungai Ciliwung yang melewati wilayah Jakarta dengan mengurangi sampah yang masuk ke dalam kota.

    Sebelum Saringan Sampah TB Simatupang beroperasi, kerap terjadi penumpukan sampah di Jembatan Pelangi Kalibata, Jembatan Kampung Melayu, dan Pintu Air Manggarai yang kemudian memicu menghambat aliran air.

    Asep menambahkan, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengerahkan lebih dari 5.000 personel di seluruh wilayah Jakarta saat operasi siaga banjir.

    Baca: Rehabilitasi daerah aliran sungai Bekasi dan Sungai Ciliwung

    Dalam penanganan sampah akibat banjir di Jakarta, kesiapsiagaan para personel ini menjadi kunci dalam mengurangi dampak banjir akibat penyumbatan sampah.

    “Begitu air rob surut, air banjir langsung menggelontor ke laut tanpa terhalang efek bendung sampah,” katanya.

    Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengungkapkan, penyebab terjadinya banjir relatif tinggi dan lama surut di Jakarta karena terjadi bersamaan tiga faktor yaitu banjir kiriman, curah hujan yang tinggi di dalam kota dan naiknya air pasang (rob).

    Pramono menekankan, pentingnya koordinasi lintas instansi agar langkah antisipatif berjalan efektif dengan keselamatan warga sebagai prioritas utama. Selain itu, ia meminta seluruh jajaran Pemprov DKI Jakarta dan petugas di lapangan agar bekerja dengan penuh empati.

    “Saya mengapresiasi kepada para petugas di lapangan yang menjadi garda terdepan dalam penanganan banjir Jakarta. Tugas ini harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan ketulusan hati,” tandasnya.

    Baca: Banjir Jabodetabek dipicu perubahan iklim dan tata ruang yang amburadul

  • Pemprov DKI Jakarta Anggarkan Rp4 Triliun untuk Penanganan Banjir

    Pemprov DKI Jakarta Anggarkan Rp4 Triliun untuk Penanganan Banjir

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengalokasikan anggaran sebesar Rp4 triliun untuk penanganan banjir di ibu kota.

    Anggaran ini akan digunakan untuk program penanggulangan banjir jangka menengah dan panjang. Anggaran yang dialokasikan tersebut digunakan untuk penanganan banjir selama dua tahun hingga 2026.

    Adapun penanganan banjir yang dilakukan termasuk normalisasi Sungai Ciliwung, pembebasan lahan, hingga pengadaan pompa, dan lainnya.

    “Kita sudah memutuskan untuk mengatasi banjir di Jakarta tidak hanya yang bersifat jangka pendek. Dananya cukup besar, hampir 4 triliun rupiah kita sudah alokasikan,” ujar Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (11/7/2025).

    Baca: Pengerukan sungai dan danau di Jakarta berlanjut hingga Agustus 2025

    Pramono Anung menambahkan, nantinya Pemprov DKI juga akan merelokasi warga yang tinggal di bantaran sungai.

    “Untuk membenahi pasti akan ada yang mau tidak mau, suka tidak suka, bahwa itu memang bukan tempat untuk ditinggali ya. Kami akan pindahkan, kami akan siapkan untuk tempat tinggal itu,” jelasnya.

    Pramono menambahkan, Pemprov DKI tengah berupaya untuk mengatasi masalah banjir yang kerap terjadi. Upaya penanganan banjir ini pun juga akan dilanjutkan dalam jangka panjang.

    “Kami ingin menyelesaikan banjir tidak secara pendek, tetapi menengah panjang. Dan untuk itu akan segera dimulai,” tandas Pramono.

    Baca: Proyek normalisasi Sungai Ciliwung akan segera dilanjutkan

    Untuk jangka pendek, Pemprov DKI Jakarta telah melakukan pengerukan sungai dan waduk yang ada dan direncanakan berlangsung hingga bulan Agustus 2025 mendatang.

    Pengerukan dilakukan untuk kembali menormalkan sungai dan waduk yang ada di Jakarta, sehingga daya tampung bertambah dan aliran sungai menjadi lancar.

    Selain itu Pemprov DKI Jakarta juga membangun sejumlah embung baru dan merevitalisasi embung yang sudah ada. Contoh embung baru yang dibangun berada di Srengseng Sawah dan embung Pemuda di Jakarta Selatan.

    Sebelumnya, Pramono Anung juga mengatakan akan segera melanjutkan proyek normalisasi Sungai Ciliwung yang sempat terhenti selama era gubernur Anies Baswedan

  • Banjir Besar di Saat Musim Kemarau: Bukti Krisis Iklim Sudah di Depan Mata

    Banjir Besar di Saat Musim Kemarau: Bukti Krisis Iklim Sudah di Depan Mata

    7cloud.asia – Curah hujan tinggi yang masih terjadi di berbagai wilayah Indonesia pada periode Juli, yang seharusnya sudah memasuki musim kemarau, menjadi pertanda ancaman krisis iklim semakin nyata.

    Jika sebelumnya, banyak daerah mulai mengalami musim kemarau, pada bulan Juli 2025 ini sejumlah daerah justru diguyur hujan lebat yang memicu banjir bear seperti yang terjadi di Jabodetabek, dan kota Mataram di NTB.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa dinamika atmosfer yang tak biasa telah memicu pola cuaca yang tidak stabil dan menyebabkan hujan deras di periode yang semestinya kering.

    Dinamika itu seperti lemahnya monsun Australia, suhu muka laut yang tetap hangat, serta aktifnya gangguan atmosfer tropis seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, dan Rossby.

    Greenpeace Indonesia menegaskan bahwa kondisi ini bukan sekadar anomali musiman, tetapi merupakan konsekuensi langsung dari krisis iklim yang selama ini diabaikan oleh pengambil kebijakan.

    Pemanasan global yang didorong oleh emisi gas rumah kaca, sebagian besar bersumber dari energi fosil, deforestasi, dan industri ekstraktif, telah menyebabkan gangguan sistemik pada iklim dan memperburuk risiko bencana alam di seluruh wilayah Indonesia.

    Baca: Kemarau basah bakal landa Indonesia hingga Agustus 2025

    Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Bondan Andriyanu mengatakan, ketika masyarakat justru dihadapkan pada hujan ekstrem saat musim kemarau, maka alarm krisis iklim seharusnya sudah terdengar sangat jelas.

    Kita tidak bisa lagi menormalkan cuaca ekstrem dan musim yang kacau sebagai hal biasa. Fenomena hujan deras di periode Juli adalah peringatan serius bahwa krisis iklim sudah mengubah wajah musim di Indonesia.

    “Pemerintah harus bertindak cepat dan tegas untuk mengurangi emisi dan melindungi rakyat dari dampak krisis iklim yang makin parah,” tegas Bondan seperti dilansir di laman resmi Greenpeace Indonesia.

    Greenpeace menyerukan kepada pemerintah Indonesia untuk segera memperkuat kebijakan mitigasi dan adaptasi iklim yang konkret dan berkeadilan.

    Krisis iklim harus diintegrasikan dalam seluruh proses perencanaan pembangunan, termasuk dalam sektor energi, tata ruang, dan pengelolaan sumber daya alam.

    Pemerintah juga perlu menghentikan ekspansi energi fosil dan segera beralih ke energi bersih terbarukan yang aman dan berkelanjutan.

    Baca: Musim kemarau 2025 diperkirakan akan lebih singkat

    Meski dampak krisis iklim semakin mengancam, belum terlihat upaya serius dari pemerintah untuk mengurangi pengunaan bahan bakar fosil.

    Hingga 2024 Indonesia mencatat rekor produksi batu bara tertinggi dalam sejarah, yakni 836 juta ton, melampaui target awal 710 juta ton dan peningkatan 7 persen dari tahun sebelumnya (775 juta ton).

    Tanpa komitmen nyata untuk menurunkan emisi, masyarakat Indonesia akan terus menghadapi musim yang tidak menentu, gagal panen, banjir bandang, hingga krisis air bersih.

    Sementara, kebijakan energi yang dikeluarkan pemerintah melalui RPP KEN dan penyediaan tenaga listrik melalui RUPTL semakin jauh dari komitmen transisi energi, dan masih akan bergantung pada energi fosil hingga 2060.

    Dalam RUPTL yang disosialisasikan, masih terdapat rencana penambahan pembangkit listrik tenaga uap batu bara (PLTU Batu Bara) sebesar 6.3 Gigawatt dan pembangkit listrik tenaga gas fosil (PLTG) sebesar 10.3 Gigawatt.

    Penambahan pembangkit listrik baru berbahan bakar fosil akan semakin mengunci pada kondisi coal lock-in dan fossil gas lock-in, baik secara infrastruktur maupun emisi gas rumah kaca (GRK) selama 25 hingga 30 tahun ke depan, bahkan lebih, sesuai dengan masa operasi dari kedua jenis pembangkit tersebut.

    Baca: Penggunaan gas untuk pembangkit listrik menuai kritik

    Selain itu, pada draft RPP KEN terbaru, penggunaan batu bara dan gas fosil masih diperbolehkan hingga tahun 2060.

    Berdasarkan data historis, di saat bauran energi terbarukan hanya mencapai 15 persen pada tahun 2024, laju penambahan pembangkit energi terbarukan tercatat hanya mencapai 3.2 Gigawatt dari 2018 hingga 2023.

    Pemerintah Indonesia, ujar Bondan, harus keluar dari zona nyaman dan berhenti melanjutkan ketergantungan pada energi fosil. Krisis ini tidak pernah adil, dan sayangnya warga serta mereka yang lemah akan menjadi korban paling terdampak.

    ”Kita butuh komitmen ambisius pada pengembangan energi terbarukan, peta jalan transisi energi berkeadilan, dan pembangunan yang berpihak pada kelangsungan hidup, bukan sekadar pertumbuhan ekonomi jangka pendek,” imbuhnya.

    Greenpeace mendesak pemerintah dan DPR segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang Energi Baru dan Energi Terbarukan (RUU EBET) yang progresif dan selaras dengan target penurunan emisi.

    Namun, RUU ini tidak boleh menjadi celah bagi solusi palsu seperti gasifikasi batu bara, co-firing, atau proyek berbasis fosil yang menyamar sebagai “energi baru”. Skema-skema tersebut hanya memperpanjang umur industri kotor dan menghambat transisi energi sejati.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta anggarkan Rp4 triliun untuk penanganan banjir

     

  • Hujan Ekstrem Akibat Perubahan Iklim Memicu Bencana Hidrometeorologi di Sejumlah Negara

    Hujan Ekstrem Akibat Perubahan Iklim Memicu Bencana Hidrometeorologi di Sejumlah Negara

    7cloud.asia – Hujan ekstrem dengan intensitas jauh lebih tinggi dibanding kondisi normal telah menyebabkan sejumlah bencana hidrometeorologi di beberapa negara.

    Bencana hidrometeorologi tersebut, antara lain terjadi di Korea Selatan, Pakistan, China, beberapa negara bagian di India, bahkan di Amerika Serikat, telah menyebabkan kerusakan, gangguan layanan umum, dan mengakibatkan korban jiwa.

    Bencana hidrometeorologi ini mengingatkan bahwa dampak perubahan iklim sudah di depan mata, sehingga dunia tidak bisa lagi terus menutup mata dan harus segera mengambil langkah serius untuk menurunkan emisi karbon sekaligus memulihkan kondisi lingkungan.

    Berikut serangkaian bencana hidrometeorologi yang terjadi di beberapa negara di dunia dalam beberapa bulan terakhir, dikutip dari berbagai sumber.

    Baca: Bencana alam makin intens akibat perubahan iklim

    1. Banjir bandang di Texas, AS, tewaskan total 119 orang
    Banjir bandang yang terjadi di Texas, Amerika Serikat, hingga Rabu (9/7/2025) telah merenggut total korban jiwa hingga 119 orang.

    Kerr County melaporkan 95 korban jiwa, 36 di antaranya anak-anak. Korban tewas yang belum teridentifikasi terdiri dari 14 orang dewasa dan 13 anak, menurut kantor sheriff wilayah itu dalam unggahannya di Facebook.

    Selain jumlah kematian yang telah dikonfirmasi, lima anak dan seorang pembina dari Camp Mystic, sebuah perkemahan anak perempuan di Kerr County, belum ditemukan.

    Sebelumnya pada Senin, perkemahan musim panas itu menyatakan bahwa 27 peserta dan pembina tewas dalam bencana itu.

    Korban jiwa lainnya dilaporkan di beberapa wilayah: tujuh di Travis County, lima di Burnet County, delapan di Kendall County, tiga di Williamson County, dan satu di Tom Green County, menurut laporan CNN.

    Sementara itu, sedikitnya 172 orang masih dinyatakan hilang, 161 di antaranya di Kerr County.

    Baca: Banjir bandang di Texas Amerika Serikat tewaskan lebih dari 100 Orang

    2. Hujan monsun renggut 125 nyawa di Himachal Pradesh, India
    Hujan monsun mengakibatkan banjir besar di negara bagian Himachal Pradesh di India utara yang menewaskan 125 orang, sementara puluhan lainnya luka-luka dan hilang.

    Hujan deras yang terus berlanjut di seluruh negara itu, menurut keterangan pejabat pemerintah pada Senin.

    Menurut pernyataan dari Pusat Operasi Darurat negara bagian tersebut, sedikitnya 125 orang tewas dalam insiden yang terkait hujan sejak Juni, termasuk 55 orang dalam kecelakaan lalu lintas.

    Sebanyak 215 orang lainnya juga mengalami luka-luka, dan 34 orang dilaporkan masih hilang.

    Hujan deras mengguyur negara bagian Himalaya itu pada Senin sehingga menutup jalanan dan menghambat operasi penyelamatan, menurut pernyataan tersebut.

    Baca: Hujan deras guyur Korea Selatan dalam empat hari berturut-turut

    3. Hujan deras tewaskan 4 orang, 1 hilang di Korsel
    Empat orang tewas dan satu orang hilang seiring hujan deras melanda wilayah tengah dan selatan Korea Selatan (Korsel) selama berhari-hari, demikian pernyataan Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan Korsel, Jumat (18/7/2025).

    Empat orang meninggal dunia dan satu orang masih dinyatakan hilang hingga pukul 06.00 pagi waktu setempat (04.00 WIB), papar kementerian itu.

    Sebuah tembok penahan tanah runtuh dan menimpa kendaraan yang sedang melaju di Provinsi Gyeonggi pada Rabu (16/7/2025), menewaskan seorang pengemudi berusia 40-an tahun.

    Seorang pria berusia 60-an tahun ditemukan mengalami serangan jantung di dalam kendaraan yang terendam banjir di Provinsi Chungcheong Selatan pada Kamis (17/7/2025) pagi. Dia sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat, tetapi akhirnya meninggal dunia.

    Dua pria lainnya yang berusia 80-an tahun ditemukan tewas di tengah kondisi banjir pada Kamis tersebut.

    Upaya pencarian seorang pria yang dilaporkan hilang pada Kamis malam akibat terseret arus sungai di dekat jembatan di Provinsi Jeolla Selatan sedang dilakukan.

    Baca: Eropa alami bencana terburuk akibat perubahan iklim

    4. Banjir di Pakistan tewaskan 3 orang, 15 hilang
    Banjir yang dipicu oleh hujan lebat yang melanda Pakistan utara pada Senin menyebabkan sedikitnya tiga wisatawan lokal tewas dan 15 lainnya hilang, kata otoritas penanggulangan bencana negara itu.

    Empat orang juga luka-luka akibat insiden yang terkait hujan setelah hujan deras melanda Babusar Top, sebuah destinasi wisata terkenal yang terletak di Distrik Diamer di wilayah Gilgit-Baltistan (GB), kata Otoritas Penanggulangan Bencana Nasional (NDMA) dalam sebuah pernyataan.

    Juru bicara pemerintahan Gilgit-Baltistan, Faizullah Firaq, mengonfirmasi dalam sebuah pernyataan bahwa 15 wisatawan hilang saat delapan kendaraan wisata hanyut dalam banjir bandang yang terjadi di wilayah tersebut.

    Korban baru tersebut menambah jumlah korban tewas di seluruh negeri menjadi 188 orang selama musim hujan yang berlangsung sejak 26 Juni. Lebih dari 600 orang juga luka-luka selama periode tersebut.

    Baca: Xi Jinping tegaskan komitmen China dalam menahan laju perubahan iklim

    5. Banjir bandang di China timur tewaskan 2 orang, 10 hilang
    Sedikitnya dua orang tewas dan 10 orang lainnya hilang akibat banjir bandang di Provinsi Shandong, China Timur, yang disebabkan oleh hujan deras, menurut laporan surat kabar Global Times pada Selasa.

    Hujan deras melanda Distrik Laiwu, Kota Jinan, dengan puncak curah hujan mencapai 364 milimeter (atau 14,33 inci) sehingga menyebabkan banjir bandang di dua desa terdekat di daerah Dawangzhuang, dan menghancurkan atau merusak 19 rumah.

    Operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung bersamaan dengan upaya bantuan dan pemulihan pascabencana yang dilakukan secara terkoordinasi.

    Perkembangan situasi tersebut terjadi setelah pada Senin China mengeluarkan peringatan darurat tingkat tertinggi menanggapi datangnya Topan Wipha, topan keenam pada tahun ini.

  • Jumlah Korban Meninggal Akibat Banjir Bandang Pakistan Barat Laut Lampaui 650 Orang

    Jumlah Korban Meninggal Akibat Banjir Bandang Pakistan Barat Laut Lampaui 650 Orang

    7cloud.asia – Jumlah korban meninggal akibat banjir bandang yang melanda provinsi Khyber Pakhtunkhwa di Pakistan barat laut terus bertambah dan mencapai 670 orang.

    Jumlah korban diperkirakan masih akan bertambah, karena operasi penyelamatan dan pencarian masih terus berlanjut.

    Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (NDMA), Letjen Inam Haider, dalam konferensi pers di Islamabad pada Senin (18/8/2025), mengatakan bahwa sekitar 1.000 orang terluka dalam kecelakaan yang berkaitan dengan hujan dan banjir di seluruh negeri itu sejak 26 Juni.

    Inam mengatakan pihak berwenang terus berupaya membersihkan jalan dan memulihkan listrik di distrik-distrik yang dilanda banjir dengan mengerahkan tentara dibantu relawan sekitar.

    Baca: Hujan monsun picu banjir bandang di Pakistan

    Sementara itu, hujan deras sejak Jumat (15/8/2025) terus mengguyur Peshawar, ibu kota provinsi, dan distrik Swabi serta Noshehra yang bersebelahan, sementara musim hujan baru mengintai di distrik Buner, Swat, Shangla, dan Mansehra yang dilanda banjir.

    Faraz Mughal, juru bicara pemerintah Khyber Pakhtunkhwa, mengatakan kepada wartawan bahwa setidaknya 200 orang dinyatakan hilang, dan dikhawatirkan korban meninggal akan bertambah.

    Sebagian besar dari mereka yang hilang berasal dari distrik Buner yang paling parah terdampak, dengan 220 kematian telah dikonfirmasi sejak Jumat (15/8/2025)

    Di distrik Harnai, provinsi Balochistan, hujan deras merenggut nyawa dua anak perempuan.

    Baca: Bencana alam semakin intens akibat perubahan iklim

    “Situasi di sini sangat menakutkan. Tidak ada yang tersisa kecuali tumpukan puing dan batu-batu raksasa yang terbuang oleh banjir,” ujar Fazal Maabood, seorang pejabat Yayasan Al-Khidmat.

    Yayasan Al-Khidmat adalah salah satu lembaga bantuan dan penyelamatan terbesar di negara itu, seperti dikutip Anadolu dari distrik Buner.

    Dia mengatakan bahwa tim penyelamat dan relawan sedang berupaya menemukan orang-orang yang hilang, yang diyakini terjebak di bawah reruntuhan, karena hujan dan medan pegunungan menghambat upaya penyelamatan.

    Bersama dengan NDMA dan Yayasan Al-Khidmat, beberapa lembaga bantuan telah mengirimkan bantuan ke daerah-daerah terdampak.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Penanggulangan Banjir Bekasi Jadi Tanggung Jawab Pusat: DPR Dorong Dijadikan PSN

    Penanggulangan Banjir Bekasi Jadi Tanggung Jawab Pusat: DPR Dorong Dijadikan PSN

    7cloud.asia – Anggota Komisi V DPR, Sudjatmiko menegaskan perlunya langkah serius sekaligus terintegrasi untuk mengatasi persoalan banjir di Kota Bekasi yang berulang setiap tahun.

    Sebab itu, ia mendorong agar program normalisasi Sungai Bekasi dimasukkan ke dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) sehingga pendanaan bisa ditanggung oleh pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan.

    Banjir besar di Bekasi, ujarnya, terjadi setiap lima tahun sekali. Dampaknya meluas hingga 25 kelurahan dari 12 kecamatan, sekitar 18.700 kepala keluarga terdampak, dengan kerugian lebih dari Rp4 triliun.

    “Kalau hanya mengandalkan Pemda dan PUPR, tentu berat. Karena itu harus masuk PSN,” tegas Sudjatmiko usai mengikuti agenda Kunjungan Kerja Spesifik Komisi V DPR RI meninjau langsung progres pembangunan Bendungan Kali Bekasi bersama jajaran Kementerian PU di Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat, Kamis (28/8/2025).

    Ia mencontohkan banjir besar pada Maret 2025, ketika curah hujan ekstrem mencapai 232 mm per hari. Air meluap hingga ke kawasan pusat perbelanjaan, termasuk merendam basement Mall Giant.

    “Memang cuaca ekstrem tak bisa dihindari, tapi bisa diantisipasi dengan membangun embung dan melakukan normalisasi sungai,” ujarnya.

    Baca: Upaya mencegah banjir besar terulang di Bekasi

    Sebagai informasi, upaya normalisasi memang sudah berjalan. Pemerintah Kabupaten Bekasi melalui Dinas SDA-BMBK mencatat ada 65 titik bantaran sungai yang tengah dinormalisasi sejak awal tahun 2025 dengan alokasi anggaran sekitar Rp300 miliar.

    Pekerjaan normalisasi Sungai Bekasi mencakup pengerukan, pembangunan turap, dan bendungan kecil.

    Hingga Mei 2025, progres baru sekitar 40 persen, sementara pada Juli sudah ada 54 titik di 13 kecamatan yang tersentuh pengerjaan, termasuk Pebayuran, Babelan, Tambun Utara, dan Karangbahagia. Target penyelesaian seluruh titik dipatok pada Agustus 2025.

    Sudjatmiko juga menyinggung rencana pembangunan delapan embung bekerja sama dengan JICA yang diharapkan mampu mereduksi banjir besar.

    Selain itu, ia menekankan pentingnya menjaga daerah aliran sungai (DAS) dengan dua cara berupa memasang tanda batas (plank) dan penghijauan dengan pohon jati atau sengon.

    “Percuma disertifikasi kalau tidak dijaga. Kalau lahannya diserobot masyarakat, sungai makin menyempit, banjir akan terus berulang,” katanya.

    Baca: Bekasi dilanda banjir terburuk dalam 9 tahun terakhir

    Politisi PKB itu menambahkan, banyak jaringan irigasi di Bekasi kini tidak berfungsi akibat alih fungsi lahan.

    “Lucu kalau banjir bukan hanya dari sungai alam, tapi juga dari saluran irigasi. Kalau sawah sudah tidak ada, kembalikan fungsinya sesuai kebutuhan, apakah untuk air minum, peternakan, atau perikanan,” jelasnya.

    Sudjatmiko juga mengingatkan Jasakirta, badan usaha pengelola jaringan sungai di Bekasi, agar tidak lagi memberikan izin sewa lahan di bantaran sungai. Menurutnya, praktik sewa-menyewa ini memicu konflik dengan masyarakat.

    “Banyak laporan masuk ke DPR, mereka merasa sudah menyewa puluhan tahun sehingga punya hak atas lahan. Itu harus dihentikan, kembalikan lagi sesuai fungsinya,” tegasnya.

    Ia pun mengungkap adanya lahan yang sudah dibebaskan sejak 1960 oleh Kementerian SDA, namun belakangan justru terbit sertifikat baru. BPN tidak berani bayar karena statusnya tumpang tindih sehingga harus diselesaikan agar proyek bisa berjalan.

    Dengan fakta di lapangan bahwa normalisasi 65 titik belum menyelesaikan masalah banjir secara menyeluruh, usulan Sudjatmiko agar proyek normalisasi Sungai Bekasi masuk PSN dinilai relevan.

    Baca: Sodetan Ciliwung belum efektif cegah banjir

    Dalam kesempatan yang sama, anggota Komisi V DPR RI Boyman Harun menegaskan agar pemerintah tidak lagi saling lempar tanggung jawab dalam penanganan banjir Bekasi.

    Menurutnya, bencana banjir bukan hanya masalah daerah, melainkan persoalan nasional yang membutuhkan intervensi langsung pemerintah pusat.

    “Ini kan masalah banjir nasional, jadi tidak bisa lagi hanya mengandalkan Pemda. Kalau ada proyek-proyek strategis nasional, banjir juga harus dipandang sebagai masalah strategis nasional,” ujar Boyman.

    Boyman menilai upaya teknis yang dilakukan Kementerian PUPR, seperti normalisasi sungai, peninggian tanggul, dan pembangunan hilir, sebenarnya sudah berjalan baik. Namun, paparnya, kendala utama justru muncul pada penyediaan lahan yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah.

    Menurutnya, kondisi ini membuat proyek bernilai ratusan miliar rupiah berjalan tersendat.

    “Kalau Pemda bilang tidak punya anggaran untuk pembebasan lahan, lalu dibiarkan, yang rugi tetap masyarakat. Negara juga akhirnya harus keluar uang lebih besar ketika banjir terjadi, mulai dari perbaikan infrastruktur, kerugian ekonomi, sampai relokasi warga,” tegasnya.

    Baca: Pembangunan bendungan Kali Cikarang Bekasi Laut

  • Cuaca Hari Ini: Siap Payung, Hujan Berpotensi Mengguyur Jakarta dan Sejumlah Kota

    Cuaca Hari Ini: Siap Payung, Hujan Berpotensi Mengguyur Jakarta dan Sejumlah Kota

    7cloud.asia – Hujan dengan intensitas ringan hingga hujan disertai petir berpotensi mengguyur sejumlah kota termasuk Jakarta pada Sabtu (30/08/2025).

    Melalui kanal youtube resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hujan berintensitas ringan berpotensi terjadi di wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Jakarta Utara dan Jakarta Barat pada siang hingga sore.

    Malamnya wilayah Jakarta Timur, Jakarta Selatan dan Jakarta Barat berpotensi hujan dengan intensitas ringan. Sementara wilayah lainnya diprediksi berawan.

    Hujan dengan intensitas ringan juga berpeluang terjadi di Kota Padang, Pekanbaru, Tanjung Pinang, Palembang, Pangkal Pinang, Serang, Semarang,Yogyakarta, Pontianak, Palangkaraya, Samarinda, Palu, Ternate, Sorong, Manokwari, Jayapura, Jayawijaya dan Merauke.

    Kemudian hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Medan, Bandung, Tanjung Selor dan Mamuju. Sedangkan hujan disertai petir berpeluang melanda Kota Bengkulu, Bandar Lampung, Banjarmasin dan Nabire.

    BMKG mengimbau masyarakat mewaspadai potensi angin kencang di wilayah Banten, DI Yogyakarta,Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatanpotensi. Selain itu, waspada pula banjir rob di pesisir Maluku.

     

  • Banjir di Pakistan Akibatkan Jutaan Orang Terdampak, Korban Tewas Dekati 900 Orang

    Banjir di Pakistan Akibatkan Jutaan Orang Terdampak, Korban Tewas Dekati 900 Orang

    7cloud.asia – Banjir yang melanda Pakistan telah memengaruhi sekitar 2,4 juta orang dan memaksa lebih dari satu juta penduduk mengungsi dari rumah mereka.

    Informasi ini disampaikan oleh Direktorat Jenderal Perlindungan Sipil dan Operasi Kemanusiaan Eropa (ECHO), yang juga melaporkan hampir 900 korban jiwa akibat bencana alam tersebut.

    Dalam pernyataannya, ECHO menyebut banjir bandang ini dipicu hujan monsun yang biasa terjadi pada Juni hingga September setiap tahunnya. Tahun ini merupakan yang terhebat dalam 40 tahun terakhir.

    Sejak 26 Juni, hujan monsun deras menghantam sejumlah wilayah di Pakistan, terutama Khyber Pakhtunkhwa (KP) dan Punjab.

    Baca: Hujan monsun picu banjir bandang di Pakistan

    “Provinsi Punjab mengalami banjir terburuk dalam empat dekade terakhir akibat pelepasan air yang belum pernah terjadi sebelumnya dari Sungai Sutlej, Chenab, dan Ravi,” menurut pernyataan ECHO.

    “Kondisi ini berdampak pada lebih dari 2,4 juta orang dan membuat lebih dari satu juta penduduk kehilangan tempat tinggal,” demikian ditambahkan.

    Hingga 3 September, sebanyak 881 orang dilaporkan meninggal dunia dan 1.176 lainnya mengalami luka-luka akibat bencana ini.

    Dalam 24 jam terakhir, hujan dan banjir menewaskan 17 orang, melukai 29 orang, serta merusak 9.206 rumah, menurut pernyataan ECHO.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik-OANA

  • Banjir Besar di Bali, 2 Orang Meninggal Ratusan Kepala Keluarga Terdampak

    Banjir Besar di Bali, 2 Orang Meninggal Ratusan Kepala Keluarga Terdampak

    7cloud.asia – Banjir yang melanda sejumlah daerah di Provinsi Bali, pada Rabu (10/9/2025) mengakibatkan 2 orang tewas, 4 orang hilang dan ratusan orang lainnya harus diungsikan.

    Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya mengatakan banjir kali ini merupakan yang terparah dalam 10 tahun terakhir.

    Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir terpantau terjadi di empat kota dan kabupaten di Bali, yaitu Kabupaten Jembrana, Gianyar, Tabanan, Klungkung dan Kota Denpasar.

    Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor Pencarian dan Pertolongan Basarnas Bali, I Wayan Juni Antara, menuturkan proses evakuasi terhadap korban banjir masih terus berlangsung hingga pukul 12.00 Wita sejak pukul 05.00 Wita.

    Menurut Juni Antara, hujan yang melanda sejak kemarin, tidak berhenti sampai hari ini, mengakibatkan luapan air di sungai-sungai wilayah Denpasar.

    Banyak jalan tergenang air sehingga akses jalan terputus dan tidak bisa dilalui kendaraan.

    Baca: Banjir bandang di Nagekeo NTT menewaskan 3 orang

    Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar melaporkan hujan dengan intensitas ringan hingga lebat disertai angin kencang dan petir terjadi di sebagian besar wilayah Bali sejak Selasa (09/09) pagi.

    Data sementara yang diterima BNPB pada Rabu (10/9/2025), pukul 11.30 WIB menyebutkan dua warga meninggal dan 103 KK (200 jiwa) terdampak di Kabupaten Jembrana. Dua orang meninggal tersebut merupakan warga Kabupaten Jembrana,

    Selain itu, BPBD mencatat 85 warga mengungsi di beberapa titik di Kabupaten Jembrana, di antaranya pos balai Desa Yeh Kuning 10 jiwa, pos balai banjar Yeh Kuning 10 jiwa, musala Assidiqie 40 jiwa dan musala Darul Mustofa 25 jiwa.

    Sedangkan di Kabupaten Klungkung, sebanyak 104 KK (432 jiwa) jiwa terdampak.

    Sementara itu, untuk wilayah lain masih dalam proses pendataan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

    Berikut ini wilayah kecamatan yang terdampak banjir di Provinsi Bali, empat kecamatan di Kota Denpasar yaitu Kecamatan Denpasar Timur, Denpasar Utara, Denpasar Selatan dan Debpasar Barat.

    Baca: Bencana alam makin intens akibat perubahan iklim

    Di wilayah Kabupaten Jembrana, banjir melanda Kecamatan Jembrana. Sedangkan daerah lain banjir Kecamatan Sukawati di Kabupaten Gianyar, Kecamatan Kediri di Kabupaten Tabanan dan Kecamatan Dawan di Kabupaten Klungkung.

    Menyikapi bencana tersebut, BPBD setempat masih melakukan upaya penanganan darurat. BPBD Provinsi Bali turut mendukung BPBD kabupaten dan kota untuk memastikan penanganan darurat berjalan baik.

    Kondisi terkini pada Rabu pagi (10/9/2025), banjir masih menggenangi wilayah-wilayah terdampak. BNPB telah memantau situasi penanganan banjir dan berkoordinasi dengan BPBD setempat.

    Melihat pemantauan potensi cuaca, wilayah Bali pada hari ini (10/9/2025) hingga pukul 16.00 Wita masih berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai angin kencang.

    Peringatan dini cuaca teridentifikasi berada di beberapa wilayah Bali, seperti Kabupaten Tabanan, Badung, Gianyar, Klungkung, Bangli, Karangasem, Buleleng dan Kota Denpasar.

    Menyikapi kondisi ini, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk waspada terhadap ancaman bahaya hidrometeorologi basah, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor maupun angin kencang.

    Baca: Hujan ekstrem akibat perubahan iklim picu bencana hidrometeorologi