Tag: banjir

  • Korban Tewas akibat Banjir di Bali dan Nagekeo Bertambah, Total Menjadi 13 Orang

    Korban Tewas akibat Banjir di Bali dan Nagekeo Bertambah, Total Menjadi 13 Orang

    7cloud.asia – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan, jumlah korban meninggal akibat bencana banjir di Bali dan Nagekeo Nusa Tenggara Timur terus bertambah.

    Hingga Rabu (10/9/2025) petang, sebanyak sembilan orang ditemukan dalam kondisi meninggal dunia akibat banjir di Bali, dua orang hilang dan sebanyak 202 kepala keluarga atau 620 jiwa terdampak.

    Sedangkan di Nagekeo, jumlah korban meninggal akibat banjir di Nagekeo bertambah menjadi 4 orang.

    Wilayah yang terdampak banjir di Bali mencakup enam kabupaten/kota, yakni Kota Denpasar, Kabupaten Jembrana, Kabupaten Gianyar, Kabupaten Klungkung, Kabupaten Badung, dan Kabupaten Tabanan.

    Adapun data rincian penemuan dan pencarian korban meliputi; di Kota Denpasar terdapat lima korban meninggal dunia dan dua orang hilang, di Kabupaten Jembrana dua orang meninggal dunia dengan total 103 kepala keluarga atau 200 jiwa terdampak, di Kabupaten Gianyar satu orang meninggal dunia,

    Sedangkan Kabupaten Badung satu orang meninggal dunia, Kabupaten Klungkung mencatat 99 kepala keluarga atau 420 jiwa terdampak, dan Kabupaten Tabanan masih dalam proses pendataan.

    Baca: Banjir Bali kali ini terbesar dalam 10 tahun terakhir

    Imbas banjir tersebut, sebagian warga juga harus mengungsi karena tempat tinggal mereka masih terendam, dengan rincian di Kabupaten Jembrana tercatat 85 jiwa mengungsi dengan penyebaran di sejumlah posko, di antaranya Balai Desa Yeh Kuning, Balai Banjar Yeh Kuning, Musholla Assidiqie, dan Musholla Darul Musthofa.

    Sementara itu, di Kota Denpasar terdapat 108 jiwa mengungsi yang tersebar di SD 25 Pemecutan, Banjar Sedana Merta Ubung, serta Banjar Dakdakan Peguyangan.

    Dari Nagekeo, pada Rabu (10/9/2025) tim pencarian dan pertolongan gabungan kembali menemukan satu (dari lima orang) warga yang sebelumnya dilaporkan hilang dalam kondisi tidak bernyawa.

    Penemuan jasad tersebut sekaligus menambah jumlah korban meninggal dunia menjadi empat orang, empat orang lainnya masih dinyatakan hilang.

    Tim gabungan terus berupaya memaksimalkan operasi SAR dengan tetap memastikan kondisi lapangan dan cuaca demi keselamatan dan keamanan.

    Hasil kaji cepat di lapangan, banjir yang dipicu oleh cuaca buruk ini berdampak pada 14 desa di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Mauponggo, Kecamatan Nangaroro, dan Kecamatan Boawae.

    Baca: Banjir bandang di Nagekeo Nusa Tenggara Timur

    Kerugian materil mencakup satu rumah hanyut, dua kantor terdampak, tiga ruas jalan tertutup longsor yang meliputi satu jalan provinsi dan dua jalan kabupaten, dua jembatan rusak, serta lahan pertanian dan ternak yang terdampak. Data kerusakan lainnya masih dalam proses pendataan.

    Pemerintah Provinsi NTT melalui BPBD telah menyiapkan bantuan logistik berupa selimut, matras, peralatan masak, hygiene kit, kasur lipat, velbed, peralatan kebersihan, makanan biskuit protein untuk anak-anak, serta tenda keluarga.

    Bantuan tersebut dijadwalkan dikirim pada Kamis (11/9/2025) melalui jalur laut Kupang–Aimere. Selain itu, BPBD Kabupaten Kupang juga menyalurkan bantuan tanggap darurat berupa bahan bangunan.

    Meski dua titik jalan yang sebelumnya terputus sudah dapat ditangani, tiga titik jalan lain masih lumpuh dan membutuhkan alat berat untuk membuka akses.

    Kendala lain yang dihadapi di lapangan antara lain jaringan komunikasi dan listrik yang terputus sehingga menghambat penyampaian laporan dan distribusi bantuan.

    Bupati Nagekeo telah menetapkan status tanggap darurat bencana cuaca ekstrem melalui Keputusan Nomor 330/KEP/HK/2025 yang berlaku selama 21 hari, mulai 9 hingga 30 September 2025.

    Baca: Bencana alam makin intens akibat perubahan iklim

  • Banjir sebagai Cermin Politik: Beda Penanganan Banjir di Semarang dan Surabaya

    Banjir sebagai Cermin Politik: Beda Penanganan Banjir di Semarang dan Surabaya

    7cloud.asia – Demonstrasi besar dan protes masif yang terjadi di Jakarta dan berbagai kota/kabupaten di Indonesia beberapa pekan terakhir adalah buntut dari kekecewaan publik atas buruknya kinerja elite politik, baik lembaga eksekutif maupun legislatif.

    Kemarahan rakyat bukan hanya karena satu kebijakan atau tingkah konyol politikus tertentu saja. Kejengahan ini sudah menumpuk sejak lama, akumulasi dari frustasi rakyat terhadap kebijakan politik yang semakin jauh dari kepentingan publik.

    Pola ini juga bisa ditemukan dalam persoalan banjir, bencana yang paling sering terjadi di Indonesia.

    Riset penulis menunjukkan, genangan air yang merendam rumah warga setiap musim hujan bukan semata karena intensitas curah hujan ekstrem, melainkan akibat kolusi dan kebijakan politik yang lebih berpihak pada pengembang dan pengusaha. Untuk itu, rakyat pantas marah dan demo di jalan.

    Banjir sebagai cermin politik
    Banjir adalah implikasi dari tata kelola dan akuntabilitas politik yang buruk.

    Studi penulis yang diterbitkan oleh International Journal of Disaster Risk Reduction (IJDRR) membandingkan dua kota besar di pesisir utara Jawa, yaitu Surabaya di Jawa Timur dan Semarang di Jawa Tengah.

    Kedua kota ini memiliki kondisi geografis dan curah hujan rata-rata yang hampir sama yaitu 181 mm per bulan. Meski demikian, ternyata mitigasi kedua kota ini berbeda jauh.

    Sejak 2010, Surabaya berhasil menekan jumlah kasus banjir tak lebih dari lima kali per tahun. Sementara Semarang banjir terus, hingga tercatat 16 kasus banjir pada 2020 dengan lebih dari 16 ribu warga terdampak.

    Baca: Banjir Besar di musim kemarau jadi bukti krisis iklim sudah di depan mata

    Padahal, antara tahun 2010 sampai 2020, Semarang menggelontorkan lebih dari 100 juta dolar (sekitar Rp1,6 triliun) untuk proyek pengendalian banjir. Sementara Surabaya, hanya menganggarkan 12 juta dolar (sekitar Rp180 miliar) untuk pengendalian banjir dalam periode yang sama.

    Daerah rawan banjir di Surabaya juga lebih banyak ketimbang Semarang. Namun Surabaya bisa melakukan mitigasi lebih baik.

    Pembeda langkah penanganan banjir antara Surabaya dan Semarang ternyata bukan jumlah anggaran, teknologi, atau infrastruktur, atau jumlah anggaran, melainkan tata kelola politik dan kebijakan.

    Surabaya: Demokrasi bekerja, banjir mereda
    Penulis menemukan bahwa keberhasilan Surabaya menangani banjir bersumber pada keberanian pemerintah kota menegakkan aturan.

    Pemerintah kota membentuk Satuan Tugas Penanganan Banjir yang berani menindak pengembang besar yang melanggar ketentuan drainase, termasuk anak usaha dari salah satu grup properti raksasa Indonesia.

    Bahkan, ketika sebuah kompleks mewah menolak akses pemeriksaan, komandan tim mengancam menutup saluran keluar hingga pengelola menyerah.

    Keterlibatan aktif masyarakat sipil dalam pengawasan mempersempit peluang kolusi antara elite bisnis dan politik di Surabaya.

    Kasus Waduk Sepat menjadi salah satu bukti peran keaktifan masyarakat sipil. Ketika kawasan resapan air hendak dialihkan untuk perumahan mewah, warga mengorganisasi protes, menggugat ke pengadilan, hingga menggandeng Komnas HAM.

    Baca: Bencana alam makin intens akibat perubahan iklim

    Pengadilan pun memutuskan Waduk Sepat tidak boleh dialihfungsikan menjadi perumahan atau kepentingan komersial lainnya.

    Aliansi warga dan organisasi masyarakat sipil memaksa pemerintah kota bertindak tegas. Lingkaran positif pun kemudian terbentuk. Pemerintah menjadi lebih transparan, warga percaya diri mengawasi, dan media kritis memperkuat tekanan dan kontrol publik.

    Semua faktor ini membuat Surabaya mampu mengendalikan banjir lebih efektif dibanding kota lain. Demokrasi lokal terbukti bekerja.

    Semarang: Demokrasi rapuh, banjir tak terbendung
    Kondisi berbeda terjadi di Semarang. Pemerintah kota terlihat enggan menegakkan aturan terhadap pengembang besar dan industri.

    Perumahan-perumahan dibangun tanpa kolam retensi yang layak, bahkan aliran airnya langsung dialirkan ke sungai hingga meluap ke kampung-kampung.

    Hutan karet seluas seribu hektare yang penting sebagai kawasan resapan dikonversi menjadi perumahan elite. Meskipun ada warga yang protes, pembangunan tetap berjalan.

    Dugaan kolusi menguat ketika muncul rumor adanya sokongan dana kampanye dari pengembang untuk politisi yang berkompetisi meraih jabatan publik.

    Media lokal di Semarang juga jarang bersuara kritis karena mereka bergantung pada iklan pemerintah. Sementara organisasi warga lemah.

    Kondisi ini kemudian menghasilkan banjir yang makin parah, meskipun dana yang digelontorkan untuk penanganan banjir sangat besar.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta anggarkan Rp4 triliun untuk penanganan banjir

    Antara banjir dan demonstrasi
    Warga yang sengsara karena rumahnya kebanjiran dan warga yang marah turun ke jalan menghadapi musuh yang sama, yaitu elite politik yang mengabaikan kepentingan rakyat.

    Rakyat pantas mengawasi perilaku elite yang digaji dari pajak rakyat. Demokrasi tidak berhenti saat pemilihan umum usai. Dia adalah proses berkelanjutan.

    Kasus di Surabaya memperlihatkan kepada kita bahwa masyarakat sipil, media independen, dan solidnya pengorganisasian warga adalah “infrastruktur” yang sama pentingnya dengan pompa, kanal, atau tanggul.

    Antropolog dari Universitas Sheffield, AbdouMaliq Simone menyebutnya dengan konsep “People as Infrastructure”.

    Sebaliknya kita melihat di Semarang, tanpa pengawasan publik, keputusan politik akan semakin jauh dari kepentingan rakyat. Rakyat pula yang kembali menanggung akibatnya, termasuk berupa banjir dan lingkungan yang makin rusak.

    Sudah saatnya rakyat mengambil alih peran ketika lembaga legislatif yang semestinya bertugas menjalankan fungsi pengawasan, tidak melakukan tugasnya dengan baik.

    Rakyat pantas marah dan turun ke jalan. Demo harus dilihat sebagai partisipasi rakyat yang tidak boleh dibalas dengan represi.

    Pemerintah harus melindungi independensi media, membuka ruang kebebasan sipil, dan memastikan masyarakat bisa mengawasi jalannya pemerintahan tanpa rasa takut akan kriminalisasi.

    Hanya dengan cara itu, demokrasi dapat kembali berfungsi sebagai benteng pertama menghadapi krisis iklim dan bencana

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Yogi Setya Permana (Peneliti, Badan Riset dan Inovasi Nasional/BRIN)

  • Update Banjir Bali: Korban Meninggal Bertambah Jadi 14 Orang, 2 Orang Masih Dalam Pencarian

    Update Banjir Bali: Korban Meninggal Bertambah Jadi 14 Orang, 2 Orang Masih Dalam Pencarian

    7cloud.asia – Penanganan darurat masih terus dilakukan oleh BPBD masing-masing dengan dibantu BPBD Provinsi Bali dan BNPB di tujuh wilayah kabupaten dan kota di Provinsi Bali yang terdampak bencana banjir dan longsor.

    BNPB terus memantau perkembangan situasi pascabencana hidrometeorologi basah yang dilaporkan sejak Rabu (10/9/2025).

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mencatat lebih dari 120 titik banjir yang menerjang tujuh wilayah administrasi kabupaten dan kota. Jumlah paling tinggi wilayah terdampak banjir berada di Kota Denpasar dengan 81 titik.

    Sedangkan di Kabupaten Gianyar terdapat 14 titik, di Kabupaten Badung 12 titik, Kabupaten Tabanan 8 titik, Kabupaten Karangasem dan Jembrana masing-masing 4 titik. Di Kabupaten Klungkung, banjir berdampak di Kecamatan Dawan.

    Baca: Banjir Bali kali ini terbesar dalam 10 tahun terakhir

    Sedangkan tanah longsor, sebanyak 12 titik terdapat di Kabupaten Karangasem, 5 titik di Kabupaten Gianyar dan satu titik di Kabupaten Badung.

    Pusdalops BPBD kabupaten dan kota juga terus memutakhirkan pendataan di lapangan. Data sementara per Kamis, (11/9/2025) siang total korban meninggal dunia yang sudah ditemukan berjumlah 14 jiwa,  sedangkan 2 warga lainnya dinyatakan hilang.

    Rincian korban meninggal adalah sebagai berikut: di Kota Denpasar 8 jiwa, Kabupaten Jembrana 2 jiwa, Kabupaten Gianyar 3 jiwa dan Kabupaten Badung 1 jiwa. Korban yang hilang sebanyak dua jiwa teridentifikasi di Kota Denpasar.

    Baca: Beda penanganan banjir di Semarang dan Surabaya

    Sementara itu, ratusan warga mengungsi di beberapa titik pos pengungsian. BPBD Provinsi Bali menginformasikan 562 warga mengungsi, dengan rincian 327 warga di Kabupaten Jembrana dan 235 warga di Kota Denpasar.

    Fasilitas umum, seperti sekolah, balai desa, musala dan banjar dimanfaatkan sebagai pos pengungsian sementara.

    Dalam keterangannya, BNPB juga menyebutkan selain Bali dan Nagekeo, banjir juga dilaporkan terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat dan Kabupaten Pesisir Barat, Lampung

    Baca: Bencana alam makin intens akibat perubahan iklim

     

  • Cuaca Hari Ini: Siapkan Payung, Hujan Berpotensi Guyur Jakarta dan Sejumlah Kota

    Cuaca Hari Ini: Siapkan Payung, Hujan Berpotensi Guyur Jakarta dan Sejumlah Kota

    7cloud.asia – Hujan dengan intensitas ringan hingga hujan disertai petir berpotensi mengguyur wilayah Jakarta dan sejumlah kota di Indonesia pada Minggu (14/09/2025).

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui kanal youtube resminya mengatakan hujan dengan intensitas ringan berpotensi terjadi di wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Selatan pada Minggu siang hingga malam hari.

    Di waktu yang sama, wilayah Jakarta lainnya diprediksi cerah, berawan. Pada pagi hari, BMKG memprediksi seluruh wilayah Jakarta cerah dan berawan.   

    Hujan dengan intensitas ringan juga masih terjadi di beberapa kota. Seperti Kota Tanjung Pinang, Padang, Bengkulu, Palembang, Jambi, Bandung, Semarang, Denpasar, Pontianak, Palangkaraya, Samarinda.

    Selain itu, hujan berintensitas ringan juga berpeluang terjadi di Gorontalo, Makassar, Palu, Kendari, Ambon, Ternate, Sorong, Manokwari, Jayapura, Jayawijaya dan Merauke.  

    Kemudian hujan dengan intensitas sedang berpeluang mengguyur Kota Medan, Pekanbaru dan Nabire. Sedangkan hujan lebat berpotensi mengguyur Kota Mamuju. Hujan disertai petir berpotensi melanda Kota Tanjung Selor dan Manado.  

    BMKG juga mengajak masyarakat mewaspadai potensi banjir rob yang melanda sejumlah wilayah pesisir seperti pesisir Kepulauan Riau, pesisir Lampung, pesisir Jawa Tengah dan pesisir Maluku.

    Baca: Bibit siklon tropis di Samudra Hindia bisa memicu hujan lebat pada 12-18 September 2025

     

     

  • Berita Terpopuler Pekan Ini: Dari Penyebab Banjir Bali hingga Hari Udara Bersih Sedunia

    Berita Terpopuler Pekan Ini: Dari Penyebab Banjir Bali hingga Hari Udara Bersih Sedunia

    7cloud.asia – Artikel mengenai penyebab banjir hebat yang menewaskan belasan orang di Bali menjadi berita yang paling banyak dibaca atau berita terpopuler pekan ini di 7cloud.asia.

    Artikel ini menjadi berita terpopuler bersama artikel tentang isu lingkungan lainnya seperti mundurnya belasan musisi dari PestaPora 2025 karena adanya sponsorship dari Freepot dan Hari Udara Bersih Sedunia

    Selain itu artikel mengenai para perempuan yang ditetapkan menjadi pahlawan nasional juga masuk dalam daftar berita terpopuler pekan ini.

    Berikut lima berita terpopuler pekan ini di 7cloud.asia:

    1. Penyebab banjir Bali
    Banjir dan longsor yang melanda Bali pada 9–10 September 2025 lalu merupakan yang terbesar di Bali dalam 10 tahun terakhir.

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut akibat cuaca ekstrem yang dipicu oleh krisis iklim dan kombinasi faktor regional dan lokal.

    Kepala BMKG) dalam rilisnya menjelaskan kondisi atmosfer bumi yang labil memicu terjadinya hujan ekstrem hingga terjadi banjir yang parah di sejumlah wilayah di Bali.

    Baca artikel selengkapnya di sini

    2. 16 Perempuan pahlawan nasional
    “Sejauh mana perjuangan Kartini mampu mempengaruhi pola pikir perempuan saat itu, sehingga mendorong gerakan kesetaraan di masa penjajahan tersebut?“ demikian pertanyaan yang terlontar

    Pelontar pertanyaan beralasan, meski jauh ke depan, pemikiran Kartini hanya dituangkan dalam surat-suratnya kepada JH Abendanon dan tidak dipublikasikan secara luas.

    Sementara, di luar Jawa ada banyak perempuan yang ikut mengangkat senjata melawan penjajah Belanda.

    Baca artikel selengkapnya di sini

    3. Diaspora Indonesia gusar melihat kondisi politik tanah air
    Kondisi politik, ekonomi, sosial Indonesia saat ini membuat ratusan diaspora Indonesia di Sydney, Australia yang tergabung dalam GUSAR (Gerakan untuk Sydney Bersuara) melakukan aksi damai di Victoria Park, Sydney Sabtu (6/9/2025).

    Mereka mengampanyekan tuntutan 17+8 serta menyerukan langkah kebijakan darurat yang dirangkum dalam tiga agenda inti untuk memulihkan kepercayaan rakyat terhadap negara.

    “Kontrak sosial dalam UUD 1945 mewajibkan negara melindungi segenap bangsa dan menyejahterakan seluruh warga. Ketika kebijakan dan praktik di lapangan menyimpang, diaspora tidak boleh diam – kami memilih bersuara, tertib, dan jelas arah,” jelas Mahesti Hasanah, salah satu Fasilitator Aliansi Gusar.

    Baca artikel selengkapnya di sini

    4. Musisi mundur dari PestaPora 2025 tuk protes keterlibatan Freeport
    Sejumlah grup musik membatalkan manggung di festival musik PestaPora 2025 menyusul masuknya PT Freeport Indonesia menjadi sponsor acara tersebut.

    Mundurnya sejumlah band ini menyusul unggahan di media sosial bertuliskan “Tembaga Ikutan Berpestapora” dengan logo PT Freeport Indonesia yang kemudian viral dan menuai reaksi beragam dari warganet.

    Seperti diketahui PT Freeport Indonesia sering dikaitkan dengan kerusakan lingkungan dan pelanggaran hak asasi manusia HAM di tanah Papua.

    Band yang batal manggung di PestaPora 2025 di antaranya adalah grup musik Navicula, Hindia, .Feast, The Panturas, hingga Sukatani

    Baca artikel selengkapnya di sini

    5. Hari Udara Bersih Sedunia
    Memperingati Hari Udara Bersih Sedunia, LBH Jakarta menagih komitmen pemerintah untuk menyediakan udara bersih bagi warga.

    LBH Jakarta menilai terjadi kemunduran dalam pengentasan masalah polusi udara di Indonesia akibat kebijakan yang kontraproduktif dengan pengendalian polusi udara.

    Nihilnya komitmen pemerintah untuk mengentaskan masalah polusi udara segera nampak tatkala baru dua bulan menjabat, Presiden Prabowo Subianto melempar diskusi untuk mengeluarkan Indonesia dari Perjanjian Paris (Paris Agreement).

    Keberadaan udara yang bersih adalah esensial untuk pemenuhan terhadap hak lainnya, misalnya hak atas kesehatan dan hak atas pendidikan. Tidak dipenuhinya hak atas udara bersih dapat berpengaruh kepada berkurangnya hak lainnya.

    Baca artikel selengkapnya di sini

  • Cuaca Hari Ini: Seluruh Wilayah Sumatera Berpotensi Hujan

    Cuaca Hari Ini: Seluruh Wilayah Sumatera Berpotensi Hujan

    7cloud.asia – Hujan berintensitas ringan hingga hujan disertai petir berpotensi mengguyur sejumlah wilayah di Indonesia. Bahkan seluruh wilayah Sumatera berpotensi diguyur hujan pada Selasa (16/09/2025).

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui akun youtube resminya menyebut hujan dengan intensitas ringan berpeluang terjadi di Kota Padang, Pekanbaru, Tanjung Pinang, Bengkulu, Jambi, Palembang, Bandar Lampung.

    Kondisi cuaca serupa berpotensi pula terjadi di Kota Serang, Jakarta, Semarang, Denpasar, Mataram, Tanjung Selor, Palu, Gorontalo, Manado, Ambon, Sorong, Manokwari, Jayapura, Jayawijaya dan Merauke.   

    Sementara hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Yogyakarta dan Pontianak. Kemudian hujan dengan intensitas lebat berpotensi mengguyur Kota Mamuju.

    Sedangkan hujan disertai petir berpotensi melanda Kota Medan, Pangkal Pinang, Bandung, Banjarmasin, Palangkaraya, Samarinda, Ternate dan Nabire.    

    BMKG juga mengajak masyarakat mewaspadai potensi banjir rob yang melanda sejumlah wilayah pesisir seperti pesisir Kepulauan Riau, pesisir Jawa Tengah dan pesisir Maluku.

     

     

     

  • Banjir Akibat Hujan Monsun di India Telah Menewaskan Lebih 450 Orang

    Banjir Akibat Hujan Monsun di India Telah Menewaskan Lebih 450 Orang

    7cloud.asia – Korban meninggal akibat banjir dan longsor yang dipicu hujan monsun di India terus bertambah.

    Musim hujan monsun yang biasanya berlangsung dari Juni hingga September ini telah menyebabkan kerusakan besar di India utara, dengan berbagai insiden hujan lebat, banjir bandang, dan tanah longsor di sejumlah wilayah negara itu.

    Setidaknya sembilan orang tewas di berbagai wilayah di India dalam 24 jam terakhir akibat hujan deras yang terus mengguyur negara Asia Selatan tersebut.

    Dalam pernyataannya pada Selasa (16/9/202), otoritas setempat menyebut dengan bertambahnya korban ini, maka total korban jiwa selama musim monsun yang sedang berlangsung telah melebihi 450 orang.

    Tiga kematian dilaporkan masing-masing di negara bagian barat Maharashtra dan negara bagian utara Himachal Pradesh serta Uttarakhand, akibat hujan lebat yang memicu ledakan awan, banjir bandang, dan tanah longsor.

    Baca: Banjir di Pakistan tewaskan 900 orang

    Di Maharashtra, lebih dari 100 orang telah dievakuasi dalam 24 jam terakhir, menurut pernyataan Departemen Manajemen Bencana Negara Bagian pada Selasav(16/9/2025).

    Kepala Menteri Himachal Pradesh, Sukhvinder Singh Sukhu, mengatakan hujan deras yang terus-menerus sejak Senin malam telah menyebabkan kerusakan luas di distrik-distrik termasuk Mandi, Hamirpur, dan Shimla.

    Dia mengonfirmasi bahwa tiga orang telah meninggal di Himachal Pradesh dan satu orang masih hilang.

    “Hujan telah menyebabkan kerugian signifikan baik jiwa maupun harta benda. Saya telah menginstruksikan pemerintah untuk melakukan operasi bantuan dan penyelamatan secara maksimal di semua wilayah terdampak,” ujarnya.

    Negara bagian yang terletak di kawasan Himalaya ini sangat terdampak musim monsun tahun ini, yang dimulai pada Juni.

    Baca: Hujan monsun picu banjir bandang di Pakistan

    Pernyataan dari otoritas bencana Himachal Pradesh pada Selasa menyatakan, jumlah kematian akibat hujan, termasuk tanah longsor, di negara bagian tersebut saka telah mencapai 409 orang.

    Di negara tetangga Uttarakhand, tiga kematian tambahan tercatat akibat hujan deras, lapor stasiun penyiaran negara DD News.

    Hujan deras yang terjadi pada Senin (15/9/2025) malam di wilayah Karligaad memicu respons dari Perdana Menteri Narendra Modi, yang berbicara dengan Menteri Kepala Uttarakhand, Pushkar Singh Dhami, untuk mengevaluasi situasi.

    Di negara bagian utara Punjab, banjir yang dipicu musim monsun telah menewaskan lebih dari 50 orang dan berdampak pada ratusan ribu penduduk.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Banjir di Bali dan NTT Tegaskan Pentingnya Pembangunan Kota yang Berkelanjutan

    Banjir di Bali dan NTT Tegaskan Pentingnya Pembangunan Kota yang Berkelanjutan

    7cloud.asia – Peristiwa banjir bandang yang melanda Bali dan Nusa Tenggara Timur (NTT) pada September 2025 menjadi peringatan serius bahwa krisis iklim sudah di depan mata.

    Meski di tengah musim kemarau, hujan ekstrem dengan intensitas lebih dari 300 milimeter dalam sehari telah mengakibatkan banjir bandang yang menewaskan belasan orang dan mengakibatkan ribuan orang terdampak.

    Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan tata ruang, infrastruktur, dan masyarakat dalam menghadapi cuaca ekstrem yang semakin sulit diprediksi.

    Guru Besar Bidang Geomorfologi Lingkungan dari Fakultas Geografi UGM Prof. Dr. Djati Mardiatno, mengatakan banjir bandang yang terjadi di Bali dan NTT menurutnya dipicu oleh kombinasi hujan ekstrem dan berkurangnya tutupan lahan.

    “Berkurangnya hutan yang berubah menjadi area terbangun membuat air hujan lebih banyak menjadi aliran permukaan daripada masuk ke dalam tanah. Aliran permukaan yang besar inilah yang dapat memicu banjir bandang,” ujarnya dikutip ugm.ac.id pada Rabu (17/9/2025).

    Baca: Banjir hebat di musim kemarau jadi bukti krisis iklim itu nyata

    Djati menilai tantangan terbesar penanganan banjir bandang adalah luasnya wilayah terdampak serta banyaknya objek vital di perkotaan yang rentan.

    Oleh Karena itu, ia menekankan perlunya solusi jangka panjang berupa penataan tata ruang.

    “Kita harus memperbanyak ruang terbuka hijau agar air hujan bisa meresap ke tanah, membatasi konversi lahan hutan, serta memastikan sungai tidak tersumbat sampah agar saluran air berfungsi optimal,” tambahnya.

    Hal senada disampaikan Prof. Ir. Bakti Setiawan, pakar perencanaan kota Fakultas Teknik UGM. Ia menegaskan bahwa banjir tidak hanya dipicu oleh faktor alam, melainkan juga ulah manusia.

    Ada faktor eksternal berupa krisis iklim yang memicu cuaca ekstrem, tetapi ada juga faktor internal yaitu tata ruang dan perkembangan kota yang tidak terkontrol.

    Baca: Eropa alami bencana terburuk akibat perubahan iklim

    “Jadi tantangan utamanya adalah penataan ruang dan kota yang lemah dalam mengantisipasi risiko bencana,” ujarnya.

    Laki-laki yang biasa dipanggil Bobby ini menilai solusi ke depan harus berupa tata ruang dan pengendalian perkembangan kota yang berbasis pada pengurangan risiko bencana.

    Selain itu, ujarnya, ketangguhan komunitas menjadi kunci dalam memitigasi bencana hidrometeorologi.

    “Peningkatan ketangguhan warga melalui penguatan social capital, baik secara struktural maupun kultural, perlu dilakukan agar masyarakat lebih siap menghadapi bencana,” imbuhnya.

    Kedua pakar sepakat bahwa dalam menghadapi cuaca ekstrem, peran pemerintah, akademisi, dan masyarakat harus berjalan seiring.

    Baca: Penanganan banjir sebagai cermin politik

    Pemerintah daerah dituntut menyiapkan rencana kontinjensi dan menegakkan tata ruang, sementara akademisi berkontribusi melalui riset, pemetaan, dan sosialisasi.

    Di sisi lain, masyarakat diharapkan meningkatkan kesiapsiagaan dengan langkah sederhana seperti membuat sumur resapan, biopori, menjaga ruang terbuka hijau, serta disiplin tidak membuang sampah ke sungai.

    Dengan tata ruang yang terkendali, kebijakan berbasis mitigasi, dan komunitas yang tangguh, risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang dapat ditekan.

    Pasalnya, bencana khususnya bencana hidrometeorologi bukan hanya persoalan alam, melainkan juga cerminan bagaimana manusia mengelola ruang hidupnya.

  • BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem untuk Jawa Barat, Ini Lokasinya

    BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem untuk Jawa Barat, Ini Lokasinya

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem di wilayah Jawa Barat hingga sepekan ke depan.

    Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dalam keterangannya pada Rabu (17/09/2025) menjelaskan cuaca ekstrem tersebut berupa hujan berintensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang hingga 24 September mendatang.

    Meski durasi singkat, namun kondisi cuaca seperti ini bisa membahayakan. Karena itu, masyarakat harus mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi.

    “Kondisi ini dapat memicu terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, maupun pohon tumbang,” kata Dwikorita.

    Baca: BMKG Ingatkan Hujan Lebat Hingga Sangat Lebat Selama Sepekan

    Selanjutnya mantan rektor Universitas Gajah Mada (UGM) ini menjelaskan berdasarkan analisis dinamika, kondisi cuaca ekstrem ini karena sejumlah faktor.

    Faktor tersebut berupa kondisi laut yang menghangat yang membuat suhu muka laut yang relatif hangat di perairan sekitar Indonesia. Sehingga uap air melimpah ke atmosfer.

    Adanya Indeks Dipole Mode (DMI) Negatif, kondisi ini berkontribusi pada peningkatan pembentukan awan hujan di wilayah barat Indonesia.

    Faktor lainnya adanya sirkulasi siklonik di barat Sumatera memicu zona pertemuan angin (konvergensi) yang melintasi Jawa Barat, memaksa massa udara naik dan membentuk awan hujan pekat.

    Faktor ini diperparah dengan kondisi labilitas atmosfer lokal yang berada pada kategori ringan hingga kuat. Hal ini sangat mendukung terbentuknya awan-awan konvektif (awan hujan badai).

    Baca: Hujan Ekstrem Akibatkan Perubahan Iklim

    “Kombinasi inilah yang diperkirakan akan membuat langit Jawa Barat “aktif” menghasilkan hujan lebat sepanjang pekan,” ucap Dwikorita.

    Berikut wilayah di Jawa Barat yang berpotensi dilanda cuaca ekstrem.

    Kamis 18 September 2025.

    Kabupaten dan Kota Bogor, Depok, Kabupaten dan Kota Sukabumi, Cianjur, Purwakarta, Bandung Barat, Bandung, Majalengka, Garut, Kuningan, Kabupaten dan Kota Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, serta Pangandaran.

    Jumat 19 September 2025

    Wilayah terdampak meluas hingga Kabupaten dan Kota Bekasi, Karawang, Subang, Cimahi, Kabupaten dan Kota Bandung, Sumedang, serta sebagian wilayah Cirebon.

    Baca: Perubahan Iklim Memicu Cuaca Ekstrem

    Sabtu-Minggu 20-21 September 2025

    Kondisi serupa dengan hari Jumat diprakirakan masih berlanjut di sebagian besar wilayah yang telah disebutkan.

    Senin 22 September 2025

    Hujan lebat berpotensi mengguyur Kabupaten dan Kota Bogor, Depok, Kabupaten dan Kota Bekasi, Kabupaten dan Kota Sukabumi, serta Cianjur dan Karawang.

    Selasa Rabu 23-24 September 2025

    Hujan signifikan masih mungkin terjadi di Bogor, Sukabumi, dan Cianjur pada Selasa. Sementara pada Rabu, potensi hujan lebat lebih terpusat di wilayah Tasikmalaya dan Pangandaran.

    “Kami mengajak masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, bergotong royong menjaga kebersihan, serta menata lingkungan agar risiko banjir dapat dikurangi,” katanya. 

  • Cuaca Hari Ini: Waspada, Suhu Udara Capai 35 Derajat Celsius di Kota Ini

    Cuaca Hari Ini: Waspada, Suhu Udara Capai 35 Derajat Celsius di Kota Ini

    7cloud.asia – Suhu udara yang panas berpotensi melanda beberapa wilayah di Indonesia pada Minggu (21/09/2025). Bahkan suhu udara mencapai 35 derajat celsius.

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam kanal youtube resminya menyebut, Kota Gorontalo mencapai suhu udara hingga 35 derajat celsius. Kota Makassar suhu udara mencapai 34 derajat celsius.

    Meski demikian, masih ada potensi hujan dengan intensitas ringan hingga hujan disertai petir di sejumlah wilayah di Indonesia.

    Hujan dengan intensitas ringan berpotensi terjadi di Kota Medan, Padang,, Bengkulu, Palembang, Pangkal Pinang, Bandar Lampung, Serang, Semarang, Yogyakarta, Pontianak, Mamuju, Manado, Ternate, Ambon, Sorong, Jayapura dan Jayawijaya.

    Sementara hujan dengan intensitas sedang berpeluang mengguyur Kota Nabire dan Merauke. Sedangkan hujan disertai petir berpotensi melanda Kota Pekanbaru, Bandung dan Tanjung Selor.

    BMKG mengimbau masyarakat mewaspadai potensi banjir rob di sejumlah pesisir seperti pesisir Sumatera Utara, pesisir Kepulauan Riau, pesisir Bangka Belitung, pesisir Jawa Tengah, pesisir Nusa Tenggara Barat, pesisir Sulawesi Tengah, pesisir Sulawesi Utara dan pesisir Maluku.