Tag: perubahan iklim

  • Cara Anak Muda Flobamorates Berkontribusi Menahan Laju Perubahan Iklim

    Cara Anak Muda Flobamorates Berkontribusi Menahan Laju Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Jambore Komunitas Gotong Royong Untuk Flobamoratas (sebutan untuk Nusa Tenggara Timur/NTT) kembali digelar mulai Selasa, (29/4/2025).

    Ajang tahunan ini diselenggarakan oleh Koalisi Kelompok Orang Muda Untuk Perubahan Iklim (Koalisi KOPI) sejak 2022 bertujuan untuk menggalang inisiatif bersama mengantisipasi perubahan iklim.

    Setiap tahun sedikitnya 100 anak muda dari 12 Kabupaten/Kota di bumi Flobamoratas yaitu Flores Timur, Sikka, Ende, Nagakeo, Ngada, Manggarai Timur, Manggarai, Manggarai Barat, Alor, Lembata, Sumba Timur, dan Timor bertemu dan bertukar pengalaman.

    Dalam keterangan tertulis yang diterima 7cloud.asia, tahun ini, Jambore GRUF dilangsungkan di Pantai Sebanjar yang terletak di Desa Alor Besar, Kecamatan Alor Barat Laut diikuti sekitar 200 pemuda dari 15 kabupaten/kota di NTT.

    “Acara ini diselenggarakan setiap tahun dan menjadi ajang pertemuan anak muda. Niatnya, nantinya akan menjadi seluruh NTT. Tujuan pertemuan kita untuk belajar bersama, lalu melakukan kampanye-kampanye tentang perubahan iklim,” kata Direktur Koalisi KOPI, Dicky Lopulalan saat membuka Jambore GRUF 2025.

    Koalisi KOPI selama ini menghimpun komunitas-komunitas anak muda non-aktivis lingkungan yang ada di berbagai daerah di NTT untuk bergerak di aksi dan kampanye mengenai perubahan iklim.

    Baca: Framing agama ampuh gerakkan aksi lingkungan

    Jambore GRUF adalah salah satu dari kegiatan regular tahunannya.

    “Seringkali ketika isu perubahan iklim, yang kita cari adalah solusi-solusi yang tidak pada tempatnya. Teman-teman muda di sini semuanya berkumpul untuk belajar, mencari tahu, solusi sebenarnya seperti apa,” kata Dicky mengenai tujuan penyelenggaraan Jambore GRUF 2025.

    Jambore GRUF 2025 mengusung tema “Taramiti Tominuku” yang merupakan semboyan masyarakat Alor dari suku Abui yang berarti walaupun berbeda-beda tempat tinggal, namun satu hati”.

    Selama lima hari, para peserta akan mengikuti dan menikmati berbagai kegiatan seperti festival, tukar cerita antar komunitas mengenai praktik-praktik baik dalam menghadapi perubahan iklim, permainan, dan pelatihan-pelatihan lainnya.

    Selain itu diselenggarakan talkshow, pameran hasil dan produk UMKM dari komunitas-komunitas, belajar dan mempraktikkan bagaimana menghitung jejak karbon.

    Ada juga pemutaran film bertema perubahan iklim, dan juga kesempatan bagi peserta untuk mengenal kekayaan dan keindahan Pulau Alor.

    Baca: Agama dan gender sokong adaptasi warga terhadap dampak perubahan iklim

    “Jambore GRUF untuk tahun ini bertujuan mempertemukan orang muda, sebagai ruang bertemu, berbagi pengetahuan dan pengalaman, juga menajamkan isu strategis sebagai hal yang akan kami perjuangkan di Koalisi KOPI, kelompok orang muda untuk perubahan iklim di NTT,” kata Ketua Koalisi KOPI NTT, Magdalena Eda Tukan.

    Ia berharap dengan adanya Jambore GRUF, anak muda NTT semakin solid dan terus bersuara untuk memperjuangkan isu-isu terkait dampak-dampak perubahan iklim yang juga terasa di bumi Flobamoratas.

    Bupati Alor, Iskandar Lakamau, membuka secara resmi Jambore GRUF mengapresiasi upaya para pemuda yang peduli pada lingkungan dan isu perubahan iklim yang berdampak global dan juga terasa di Kabupaten Alor tempat kegiatan ini berlangsung.

    “Saya atas nama Pemerintah Kabupaten Alor memberikan apresiasi yang tinggi buat teman-teman pemuda yang telah berniat dan mempunyai kepedulian yang tinggi untuk melihat perubahan iklim,” katanya.

    “Perubahan iklim merupakan masalah global yang harus kita sikapi, kita lihat dengan serius. Perubahan iklim sangat terasa dan sampai di Alor kita juga merasakan itu. Kita bersyukur dan berterima kasih orang-orang muda punya kepedulian yang cukup tinggi terhadap perubahan iklim yang kita alami saat ini,” kata Bupati Alor.

    Pada kesempatan itu ia berharap masyarakat Pulau Alor dapat mengunjungi Jambore GRUF 2025 di hari terakhir, pada 3 Meil 2025 dan belajar langsung bagaimana berkontribusi pada upaya menahan laju perubahan iklim.

    Baca: Zilenial dan baby boomers aama-sama terdampak perubahan iklim

  • Penerapan Teknologi CFD Dorong Ketahanan Kota terhadap Udara Panas

    Penerapan Teknologi CFD Dorong Ketahanan Kota terhadap Udara Panas

    7cloud.asia – Perubahan iklim bukan lagi masalah masa yang akan datang. Perubahan iklim sedang terjadi dan dampaknya bisa dirasakan sekarang. Kondisi ini membuat teknologi adaptasi memegang peran penting.

    Perubahan iklim memengaruhi kehidupan kota secara tidak proporsional. Bagaimana dampak perubahan iklim ini dimitigasi, ikuti artikel ini sampai selesai.

    Saat ini lebih dari separuh atau 58 persen populasi dunia tinggal di kota, dan diperkirakan angka tersebut akan mencapai 62 persen pada tahun 2035.

    Meskipun mencakup kurang dari 1 persen dari luas total permukaan daratan global, kota menyumbang 67-72 persen dari emisi karbon dioksida (CO2) global.

    Seiring dengan terus bertambahnya populasi perkotaan, jejak lingkungannya akan meluas secara signifikan.

    Baca: Dua Studi ungkap kenaikan suhu Bumi lampaui ambang batas 1,5°C

    Kota menyerap panas, dan saat suhu meningkat, jutaan orang di seluruh dunia akan terpapar fenomena yang dikenal sebagai efek pulau panas perkotaan.

    Pulau panas perkotaan dapat membuat kota hingga 10°C lebih panas daripada daerah pedesaan.

    Hal ini dapat menciptakan lingkaran setan, di mana kota yang lebih panas menyebabkan penggunaan ventilasi dan pendingin udara yang lebih besar, yang pada gilirannya meningkatkan emisi.

    Sering kali, daerah berpendapatan rendah dan berpenduduk padat yang terkena dampak secara tidak proporsional, dan paling tidak mampu membeli sistem pendingin udara dan energi yang menggerakkannya.

    Dua penyebab utama pulau panas perkotaan adalah ventilasi yang buruk dan pilihan bahan permukaan.

    Baca: Bangunan hijau jadi solusi untuk kota yang berkelanjutan

    Pulau panas perkotaan ini dapat ditanggulangi dengan menggunakan teknologi komputasi dinamika fluida (Computational Fluid Dinamics/CFD).

    Teknologi CFD menggunakan matematika dan simulasi komputer untuk meniru perilaku gas dan cairan dalam lingkungan virtual. Teknologi yang banyak digunakan di dunia Formula 1 memungkinkan kita untuk menguji sifat aerodinamis dari desain tertentu.

    Teknologi CFD ini memungkinkan kita untuk mensimulasikan – misalnya – bagaimana angin mengalir melalui kota atau bagaimana air dapat mengalir melalui wilayah pesisir selama banjir.

    Dengan demikian teknologi CFD juga dapat membantu perencana kota memutuskan di mana akan menempatkan taman, permukaan reflektif, ataupun koridor ventilasi sebuah bangunan atau kawasan terbangun.

    Perencana kota Singapura misalnya, menggunakan teknologi CFD untuk merancang koridor angin yang menyalurkan angin sejuk melalui lingkungan yang padat.

    Baca: Penerapan infrastruktur ramah lingkungan dalam perencanaan kota

    Dilansir earth.org, CFD juga dapat digunakan untuk membuat bangunan lebih tahan terhadap angin kencang.

    Ini dapat digunakan untuk menguji bagaimana bangunan merespons beban angin, yang akan terbukti penting di kota-kota yang lebih sering dilanda badai, siklon, dan kejadian angin kencang lainnya.

    CFD juga dapat menurunkan suhu di dalam rumah. Dengan memahami bagaimana udara mengalir melalui rumah, jendela, koridor, dan kamar tidur dapat ditempatkan sedemikian rupa sehingga mendorong pergerakan udara yang merata di seluruh rumah, yang selanjutnya mengurangi ketergantungan pada sistem ventilasi.

    Banyak dari teknik ini yang dirintis oleh arsitek kuno. Misalnya, orang Romawi dan Yunani terampil dalam menciptakan struktur seperti atrium dan koloseum yang menciptakan ventilasi alami.

    Saat ini, kita dapat menggunakan CFD untuk memahami mengapa metode ini berhasil dan, yang lebih penting adalah bagaimana cara meniru dan menerapkannya untuk mengatasi pemanasan perkotaan.

    Baca: Langkah mitigasi atasi suhu panas perkotaan

  • Bencana Alam Makin Intens Akibat Perubahan Iklim: Menuntut Aksi Iklim yang Berkeadilan

    Bencana Alam Makin Intens Akibat Perubahan Iklim: Menuntut Aksi Iklim yang Berkeadilan

    7cloud.asia – Pada tahun 1896, ilmuwan Swedia Svante Arrhenius menyampaikan penjelasan pertama yang jelas tentang perubahan iklim kepada dunia. Namun, saat itu peringatan ini tak terlalu diindahkan.

    Perubahan iklim telah terjadi secara bertahap sejak saat itu, tetapi dampaknya dirasakan semakin nyata beberapa dekade terakhir.

    Meningkatnya suhu laut dan meningkatnya kelembapan di atmosfer meningkatkan frekuensi dan tingkat keparahan bencana alam.

    Intensitas bencana alam akibat perubahan iklim telah melampaui prediksi ilmiah sebelumnya, karena perubahan iklim bertindak sebagai “pengganda ancaman” yang meningkatkan ketidakpastian dan memperkuat dampak bencana alam, menurut Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim.

    “Risiko yang terkait dengan bencana terkait iklim tidak menggambarkan skenario masa depan yang jauh. Risiko tersebut sudah menjadi kenyataan bagi jutaan orang di seluruh dunia, dan tidak akan hilang begitu saja.” ujar Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Politik dan Pembangunan Perdamaian Rosemary Anne DiCarlo

    Badai Katrina, adalah contohnya. Badai Kategori 4 yang dahsyat dengan kecepatan angin melebihi 135 mil per jam (217 kilometer/jam), menghantam New Orleans pada akhir Agustus 2005, menewaskan 1.833 orang.

    Baca: Badai Helene picu banjir terparah di Florida, AS

    Badai Helene September lalu adalah badai paling mematikan yang menghantam benua AS sejak Katrina, dengan jumlah korban tewas melampaui 200 orang.

    Badai Milton, yang menghantam Florida hanya dua minggu kemudian, adalah salah satu badai terkuat yang menghantam negara bagian itu dalam lebih dari 100 tahun.

    Dua badai berturut-turut itu memaksa jutaan orang meninggalkan rumah mereka dan meninggalkan banyak orang dengan beban mental yang berat untuk pemulihan.

    Sebuah studi yang diterbitkan tak lama setelah itu mengonfirmasi bahwa pemanasan laut yang dipicu oleh perubahan iklim buatan manusia mengintensifkan semua badai di Atlantik tahun lalu.

    Pada bulan Januari, kebakaran hutan yang mematikan melanda Los Angeles. Dalam hitungan hari, kebakaran menyebar ke lebih dari 57.000 hektare lahan, menghancurkan ribuan rumah dan bangunan serta menelan lebih dari 30 korban jiwa.

    Penelitian kemudian mengonfirmasi bahwa perubahan iklim berperan dalam kebakaran tersebut.

    Baca: Perubahan iklim mempengaruhi kebakaran hebat di Los Angeles

    Meskipun bencana alam memengaruhi seluruh komunitas, kelompok yang terpinggirkan secara ras dan etnis sering kali menghadapi risiko yang tidak proporsional dan hambatan yang lebih besar selama pemulihan karena kesenjangan sosial, politik, dan ekonomi yang sudah berlangsung lama.

    Bencana alam di era perubahan iklim bukan sekadar peristiwa lingkungan — tetapi juga masalah keadilan sosial.

    Setelah Badai Katrina, 84 persen dari mereka yang dilaporkan hilang di New Orleans adalah orang kulit hitam, meskipun penduduk kulit hitam hanya mencakup 68% dari populasi kota pada saat itu.

    Banyak lingkungan kulit hitam dibangun di dataran rendah kota, dengan lebih sedikit sumber daya untuk evakuasi dengan aman.

    Selama Badai Helene, lebih dari 138.000 rumah mobil di North Carolina terletak di daerah yang menerima deklarasi bencana besar.

    Karena rumah mobil umumnya lebih rentan terhadap cuaca ekstrem, penduduk harus mengungsi ke tempat lain demi keselamatan – biasanya dengan biaya sendiri.

    Baca: Xi Jinping tegaskan komitmen China menahan laju perubahan iklim

    Kebakaran hutan di California berdampak secara tidak proporsional pada warga kulit hitam, pribumi, dan orang kulit berwarna (BIPOC). Mungkin terdengar aneh bagi banyak orang, karena populasi kulit putih lebih banyak terwakili di daerah rawan kebakaran hutan.

    Namun, dibandingkan dengan komunitas lain, orang kulit putih cenderung menerima lebih banyak sumber daya, sehingga menghasilkan ketahanan yang jauh lebih besar terhadap bencana alam.

    Sebuah penelitian menunjukkan bahwa komunitas pribumi di California terpapar sekitar 1,7 kali lebih banyak asap kebakaran hutan daripada populasi umum, secara rata-rata.

    Secara umum, masyarakat pribumi enam kali lebih mungkin tinggal di daerah rawan kebakaran hutan. Sayangnya, komunitas ini tidak didukung dengan baik selama bencana iklim seperti kebakaran hutan, karena kurangnya sumber daya, informasi, dan pendanaan.

    Meskipun ada prosedur evakuasi yang aman, peristiwa cuaca ekstrem masih dapat menyebabkan tekanan emosional yang signifikan dan perasaan terputus, terutama di antara komunitas pribumi yang identitas dan kesejahteraannya terkait erat dengan tanah dan lingkungan alam.

  • Investasi untuk Mitigasi Perubahan Iklim Mampu Redam Dampak Bencana Alam

    Investasi untuk Mitigasi Perubahan Iklim Mampu Redam Dampak Bencana Alam

    7cloud.asia – Menurut Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), intensitas bencana alam telah melampaui prediksi ilmiah sebelumnya.

    Hal ini karena perubahan iklim bertindak sebagai “pengganda ancaman” yang meningkatkan ketidakpastian dan memperkuat dampak bencana alam,

    Dalam laporannya, IPCC menyebut meningkatnya suhu laut dan meningkatnya kelembapan di atmosfer memperkuat frekuensi dan tingkat keparahan bencana alam.

    Namun, tak semua bencana alam harus berubah menjadi bencana yang mengakibatkan kerusakan atau korban yang signifikan. Menerapkan persiapan bencana alam, menilai potensi risiko, dan membangun ketahanan dapat membantu menghindari hal ini.

    Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2024 mengungkapkan bahwa setiap dolar yang dialokasikan untuk ketahanan dan kesiapsiagaan iklim menghasilkan pengembalian sebesar 13 dolar dalam bentuk pengurangan kerusakan, pembersihan, dan gangguan ekonomi.

    Baca: Bencana alam makin intens akibat perubahan iklim

    Menurut perhitungan yang diberikan oleh Kamar Dagang AS, investasi Kota Miami sebesar 10,8 miliar dolar untuk kesiapsiagaan dan ketahanan (mitigasi) terhadap badai membuahkan hasil yang signifikan jika terjadi badai Kategori 4.

    Upaya ini diproyeksikan akan menyelamatkan 184.000 pekerjaan, melindungi hampir 26 miliar dolar dalam hasil ekonomi, dan mempertahankan lebih dari 17 miliar dolar pendapatan di wilayah itu.

    Bahkan tanpa bencana besar, investasi ketahanan akan tetap menghasilkan manfaat ekonomi dengan menciptakan lapangan kerja dan merangsang lapangan kerja lokal selama pelaksanaan.

    Memastikan bahwa kesiapsiagaan bencana dan investasi terkait dilaksanakan secara adil berarti menempatkan fokus yang lebih besar pada masyarakat yang paling berisiko.

    Dukungan harus mudah diakses, dengan informasi dan sumber daya yang disediakan dalam berbagai bahasa untuk memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat.

    Baca: Perubahan iklim mempengaruhi kebakaran hebat di Los Angeles

    Ini termasuk menawarkan bantuan keuangan, berbagi materi pendidikan iklim, meningkatkan infrastruktur lingkungan untuk ketahanan iklim yang lebih besar, dan melatih warga dalam tanggap darurat.

    Agar kebijakan iklim benar-benar adil, kebijakan tersebut harus dipandu oleh pengalaman hidup masyarakat yang terkena dampak dan dikembangkan dalam kemitraan dengan penyelenggara lokal dan pemimpin masyarakat.

    Penting juga untuk mengadaptasi rencana kesiapsiagaan untuk mencerminkan kebutuhan dan pengalaman yang berbeda dari masyarakat adat, yang sering kali berbeda dari populasi lainnya.

    Selain itu, mengintegrasikan pengetahuan ekologi tradisional — yang berakar pada rasa hormat dan hidup berdampingan dengan alam — dapat menawarkan wawasan berharga untuk pengelolaan lingkungan berkelanjutan.

    Baca: Perubahan iklim memicu munculnya eco-anxiety

     

  • ‘Nenengisme’ Sebuah Upaya Membumikan Perubahan Iklim di Media Sosial

    ‘Nenengisme’ Sebuah Upaya Membumikan Perubahan Iklim di Media Sosial

    7cloud.asia“Ilmu bukan hanya milik akademisi saja, petani memahami tanah, nelayan membaca bintang dan pelaut menafsir angin, jauh sebelum buku sains tebal ditulis. Jika sains adalah ilmu tentang alam, maka yang hidup paling dekat dengan alam adalah murid terbaiknya.”

    Kalimat menohok di atas adalah salah satu unggahan Neneng Rosdiyana di akun Facebook-nya beberapa waktu lalu. Tulisan itu disukai 3.700 akun, dibagikan lebih dari 400 kali dan mendapat ratusan komentar.

    Warganet menganggap pesan-pesan lingkungan yang disampaikan Neneng begitu ‘kena di hati’ dan dekat dengan kehidupan mereka, sehingga banyak yang ikut menyebarkannya.

    Neneng bukan ilmuwan, akademisi, ahli lingkungan, atau konsultan komunikasi. Ia adalah seorang ibu rumah tangga yang juga aktif sebagai anggota Komunitas Wanita Tani (KWT) Mentari di Pesawaran, Lampung.

    Ia sering membagikan kegiatan bercocok tanam, panen, hingga pemberdayaan ekonomi ibu-ibu di daerahnya via Facebook.

    Setelah viral, “Neneng” lantas menjelma menjadi simbol perempuan desa dan petani berdaya yang berjuang untuk keadilan sosial dan lingkungan.

     

    Baca: No Music on a Dead Planet kampanye lingkungan di panggung musik

    Warganet menyebut gerakannya sebagai bentuk revolusi ala ibu-ibu petani, sampai-sampai muncul istilah “Nenengisme”.

    Kehadiran Neneng sekaligus menjadi kritik bagi para intelek yang sering kali terjebak dalam jargon dan retorika. Ia mengingatkan kembali pertanyaan mendasar: siapa yang sebenarnya kita ajak bicara?

    Dari mana Neneng muncul?
    Neneng mulai dikenal di media sosial sejak akhir 2023 lalu. Tepatnya pada 23 Desember 2023, ketika fanpage “Marxisme Indonesia” tiba-tiba berubah nama menjadi “Neneng Rosdiyana”.

    Neneng mengaku iseng saja membeli akun Facebook itu dan menggantinya menjadi namanya sendiri. Tapi ia mengaku tidak tahu banyak tentang Marxisme dan awalnya mengira “Marxis” cocok untuk menjadi nama band.

    Fenomena ini menarik perhatian publik karena muncul di tengah ramainya pembahasan soal isu sensitif paham Marxis menjelang Pemilihan Presiden 2024 lalu.

    Banyak yang kemudian mengait-ngaitkan Neneng dengan ide-ide perjuangan kelas melawan kapitalisme yang dibawa Marxisme. Tapi, Neneng tak pusing dengan berbagai teori dan tuduhan tersebut.

    Baca: Membangun narasi kampanye lingkungan dan perubahan iklim

    Unggahan Neneng acap viral dan banyak disukai warganet, terutama karena gaya bahasanya yang sederhana tapi mengandung pesan tajam dan menggelitik, bahkan tak jarang ‘menampar’.

    Tak heran, istilah ‘Nenengisme’ semakin menyebar, pengikutnya di Facebook semakin banyak, kini lebih dari 47 ribu akun. Tak hanya terbatas di Facebook, unggahan Neneng kini juga ramai disebar dan menjadi perbincangan di X (dulu Twitter).

    ‘Nenengisme’ dan gaya komunikasi lingkungan yang membumi
    Dari perspektif komunikasi lingkungan, bahasa Neneng sangat menarik untuk dibedah.

    Kehadiran Neneng menjadi kritik atas kampanye lingkungan di Indonesia yang sering terjebak dalam narasi elitis dengan terminologi rumit seperti “net-zero” atau “carbon offsetting” yang asing bagi masyarakat desa.

    Padahal masyarakat desa dan akar rumput adalah garda terdepan menghadapi dampak krisis iklim.

    Alih-alih menggunakan kosakata umum sehari-hari, para intelek lebih suka memakai ‘bahasa langit’ saat membahas isu-isu publik seperti krisis iklim. Kesenjangan ini menciptakan jurang yang dalam antara bahasa ilmiah dan kenyataan, sehingga membuat pesan tak sampai.

    Baca: Konser musik ramah lingkungan ala Coldplay

    Petani seperti Neneng mungkin tidak mengenal istilah “resiliensi komunitas”, tapi mereka tahu kapan harus pindah lahan ketika tanah sudah tidak lagi subur.

    Mereka mungkin juga tak paham terminologi ilmiah “strategi adaptasi iklim”, tapi punya cara sendiri untuk bangkit setelah gagal panen akibat musim yang tak menentu lantaran perubahan iklim.

    Pesan Neneng juga terkadang mengandung humor yang membuatnya terasa ringan dan mudah diterima, meskipun kadang terkesan sinis.

    “Lahan terbatas bukan halangan, kami menerapkan metode tumpang sari…” curhat Neneng, sebuah satir yang kontras dengan praktik monokultur ala food estate.

    Di tengah diskusi perubahan iklim yang seringkali bernuansa muram dan berat, satire berbalut humor bisa menjadi cara ampuh menyampaikan pesan yang tetap lugas, namun tidak menggurui.

    Artikel ini pertamakali terbit di The Conversation, Penulis: Snezana Swasti Brodjonegoro (PhD Candidate, The University of Queensland) dan Ardhana Riswarie (PhD Candidate, Australian National University)

  • Belajar Komunikasi Lingkungan dari Akun Neneng Rosdiyana

    Belajar Komunikasi Lingkungan dari Akun Neneng Rosdiyana

    7cloud.asia – Dari perspektif komunikasi lingkungan, bahasa yang digunakan akun facebook @Neneng Rosdiyana sangat menarik untuk dibedah.

    Kehadiran Neneng menjadi kritik atas kampanye lingkungan di Indonesia yang sering terjebak dalam narasi elitis dengan terminologi rumit seperti “net-zero” atau “carbon offsetting” yang asing bagi masyarakat desa.

    Padahal masyarakat desa dan kelompok akar rumput merupakan garda terdepan menghadapi dampak perubahan iklim.

    Alih-alih menggunakan kosakata umum sehari-hari, para intelek lebih suka memakai ‘bahasa langit’ saat membahas isu-isu publik seperti krisis iklim. Kesenjangan ini menciptakan jurang yang dalam antara bahasa ilmiah dan kenyataan, sehingga membuat pesan tak sampai.

    Pesan Neneng soal lingkungan dan perubahan iklim terkadang mengandung humor yang membuatnya terasa ringan dan mudah diterima, meskipun kadang terkesan sinis.

    “Lahan terbatas bukan halangan, kami menerapkan metode tumpang sari…” curhat Neneng, sebuah satir yang kontras dengan praktik monokultur ala food estate.

    Baca: Cara Neneng Rosdiyana membumikan kampanye perubahan iklim

    Di tengah diskusi perubahan iklim yang seringkali bernuansa muram dan berat, satire berbalut humor bisa menjadi cara ampuh menyampaikan pesan yang tetap lugas, namun tidak menggurui.

    Belajar komunikasi dari Neneng
    Komunikasi iklim sering terjebak sebagai upaya menyampaikan informasi dari pihak “yang lebih tahu” kepada publik, termasuk masyarakat adat atau warga desa.

    Padahal kita lah yang seharusnya belajar dari mereka. Masyarakat adat punya kearifan lokal dan sudah lama terbukti menjaga keberlanjutan—bahkan sebelum istilah “sustainability” ramai digunakan.

    Komunikasi bukan hanya sekadar menyampaikan informasi, tapi juga proses membangun dialog dan partisipasi.

    Karena itu, kita perlu memahami pandangan dunia mereka, serta konteks sosial, psikologis, dan ekonominya agar bisa relevan dengan masyarakat.

    Bahasa Neneng menyingkap kegagalan komunikasi kita menjangkau akar rumput, sehingga potensi “Nenengisme” untuk mengubah cara komunikasi lingkungan layak digali.

    Baca: Kampanye Lingkungan lewat No Music on Dead Planet

    Fenomena ini mengingatkan bahwa kampanye yang efektif harus berangkat dari bahasa, nilai, dan realitas masyarakat yang dituju—bukan sekadar menerjemahkan istilah ilmiah ke bahasa lokal.

    Kita perlu mengakui bahwa pengetahuan lingkungan bersumber dari kearifan lokal dan pengalaman hidup sehari-hari, bukan hanya dari jurnal dan laboratorium.

    Untuk mencapai perubahan nyata, kita harus mengangkat masalah ketidakadilan struktural dalam narasi lingkungan. Masyarakat akar rumput bukan tidak memahami berbagai persoalan krisis iklim, tapi mereka tersandera dalam sistem yang membatasi pilihan.

    Penting bagi kita untuk menempatkan mereka sebagai subjek aktif dalam mengatasi krisis lingkungan, bukan sekadar objek kampanye.

    Mereka tahu tanggung jawab menjaga lingkungan seharusnya dipikul lebih besar oleh industri dan pembuat kebijakan. Tapi mereka juga tahu, kekuasaan tak berpihak pada mereka.

    Inilah esensi dari komunikasi lingkungan yang membumi: peka terhadap realitas sosial, memberi ruang partisipasi, dan membuka jalan bagi solusi yang mempertimbangkan realitas kehidupan masyarakat. Dan sepertinya kita bisa belajar dari Neneng Rosdiyana yang sudah sukses melakukannya.

    Artikel ini pertamakali terbit di The Conversation, Penulis: Snezana Swasti Brodjonegoro (PhD Candidate, The University of Queensland) dan Ardhana Riswarie (PhD Candidate, Australian National University)

  • Strategi Bertahan Petani Kecil di Tengah Perubahan Iklim

    Strategi Bertahan Petani Kecil di Tengah Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Petani kecil adalah ujung tombak ketahanan pangan nasional. Namun kini mereka harus bergulat dengan banyak tantangan, terutama perubahan iklim.

    Anomali cuaca yang sering tak menentu memperbesar risiko gagal panen yang dialami petani. Kalau pun berhasil panen, kualitas pangan yang dihasilkan cenderung menurun.

    Mau tidak mau, petani perlu menyesuaikan diri dengan keadaan. Riset terbaru kami menunjukkan setiap daerah punya strategi yang berbeda-beda dalam menghadapi perubahan iklim.

    Kami juga menemukan, ada tiga hal yang memengaruhi strategi adaptasi mereka, yakni; gender, akses pada bantuan pemerintah, dan akses terhadap informasi.

    Temuan studi di enam daerah
    Kami bersama para peneliti organisasi masyarakat sipil lokal dari Aliansi Kolibri mewawancarai 125 petani di enam daerah yang mewakili tiga wilayah iklim Indonesia yakni monsoon (monsun), ekuator dan lokal.

    Daerah tersebut adalah Mentawai (Sumatra Barat), Tanjung Jabung Barat (Jambi), Kotawaringin Barat (Kalimantan Tengah), Buton (Sulawesi Tenggara), Sikka (Nusa Tenggara Timur) dan Fakfak (Papua Barat) sepanjang Januari hingga Juni 2022.

    Baca: Petani kopi Gayo berjuang atasi perubahan iklim

    1. Wilayah monsoon
    Petani wilayah iklim monsoon di Tanjung Jabung Barat (Jambi), Kotawaringin Barat (Kalimantan Tengah), Buton (Sulawesi Tenggara), dan Sikka (Nusa Tenggara Timur) merasakan peningkatan curah hujan dalam 10 tahun terakhir.

    Persepsi ini sejalan dengan data NASA Power yang menunjukkan adanya kenaikan curah hujan rata-rata sekitar +2.39 mm/hari di wilayah monsun.

    Imbasnya, sekitar 88 persen petani di wilayah iklim monsun melaporkan penurunan hasil produksi pertanian dibandingkan 10 tahun sebelumnya.

    Dampak ini paling terasa pada komoditas utama seperti kelapa sawit, kelapa, kakao, dan kemiri—tanaman yang memerlukan kelembapan seimbang.

    Menghadapi situasi ini, petani lokal beradaptasi dengan menggabungkan tiga strategi, yakni: diversifikasi tanaman, perawatan lahan, dan diversifikasi mata pencaharian.

    Di Buton, misalnya, petani tak lagi sekadar menjual kelapa, tetapi mulai mengolahnya menjadi produk turunan seperti minyak kelapa dan kopra. Upaya pasca panen ini memberikan nilai tambah dan membuka sumber pendapatan baru bagi mereka.

    Baca: Pertanian tradisional ramah lingkungan kembali dilirik

    Di Tanjung Jabung Barat dan Sikka, komoditas utama pertanian masing-masing adalah sawit dan cokelat serta kemiri.

    Kini, saat musim tanam semakin tidak pasti, petani mulai menanam beragam tanaman hortikultura, jagung, atau tanaman yang tahan cuaca ekstrem untuk mengurangi ketergantungan pada satu jenis komoditas saja.

    Petani di Tanjung Jabung juga membuat embung atau kolam penampungan air hujan sebagai bagian dari manajemen lahan mereka.

    2. Iklim ekuator
    Di wilayah iklim ekuator (Mentawai, Sumatra Barat) curah hujan cenderung stabil dan meningkat secara perlahan dalam satu dekade terakhir dengan rata-rata curah hujan bulanan pada 2011 kisaran 367 mm dan menjadi 391 mm pada 2022.

    Tidak seperti di wilayah iklim monsun, petani Mentawai dengan produksi pisang sebagai komoditas utama justru mengalami peningkatan hasil panen.

    Sehingga, petani di sini fokus pada pemeliharaan lahan dan tidak ada diversifikasi tanaman karena kondisi iklim dan produksi tanaman pisang relatif stabil.

    Baca: Melawan penggurunan dengan pertanian biogeneratif

    Petani di Mentawai biasanya mengandalkan middlemen atau perantara untuk mendapat informasi dari Dinas Kominfo atau Kantor Syahbandar soal jadwal kapal pengangkut hasil kebun ke ibu kota provinsi di Kota Padang.

    Informasi ini menjadi dasar mereka menentukan waktu panen, sehingga hasil pertanian bisa dijual dalam kondisi terbaik dan tidak busuk selama pengiriman.

    3. Iklim lokal
    Petani di Fakfak merasakan bahwa curah hujan cenderung panjang dan kenaikan yang tajam dalam satu dekade terakhir. Rata-rata curah hujan bulanan pada 2011 hanya 304 milimeter dan naik menjadi 407 mm di 2022.

    Petani Fakfak, Papua Barat fokus pada pemeliharaan lahan sebagai respons terhadap situasi tersebut. Petani pala misalnya, memangkas pohon secara rutin untuk mengurangi kelembapan, mempertahankan produktivitas sekaligus menjaga kesehatan tanaman di tengah cuaca ekstrem.

    Sama seperti di Mentawai, di Fakfak tidak ditemukan praktik diversifikasi tanaman maupun diversifikasi penghasilan, petani tetap bertahan dengan pala sebagai komoditas utama di daerah mereka.

    Riset kami menemukan, ragam strategi adaptasi petani di tiga wilayah iklim Indonesia di atas dipengaruhi tiga faktor utama, yakni; gender, akses informasi, dan akses bantuan pemerintah.

    Baca: Mengenal pertanian vertikal dan manfaatnya untuk lingkungan

    Kami menemukan bahwa petani yang menerima bantuan pemerintah, terutama subsidi hingga akses modal, cenderung lebih berani untuk mencoba pola tanam yang lebih beragam dan membuka usaha non-pertanian untuk menambah pendapatan seperti yang terjadi di wilayah iklim monsoon.

    Adapun di wilayah iklim ekuator dan lokal, peran bantuan pemerintah cenderung fokus pada penguatan kapasitas lokal, seperti penguatan kelompok tani, sehingga adaptasi di sana lebih banyak pada pemeliharaan lahan.

    Kami juga menemukan strategi pemeliharaan lahan umumnya dilakukan oleh petani laki-laki.

    Hal ini disebabkan oleh peran sosial dan pembagian kerja berbasis gender, di mana laki-laki lebih dominan dalam kegiatan yang memerlukan tenaga fisik tinggi, seperti perawatan lahan atau pengolahan tanah, sementara perempuan cenderung lebih banyak terlibat dalam kegiatan pasca panen.

    Akses terhadap informasi juga menjadi kunci adaptasi. Temuan di Mentawai menunjukkan, informasi dari jaringan lokal sangat berpengaruh untuk membuat keputusan teknis, seperti waktu jadwal panen terbaik.

    Baca: Aturan anti-deforestasi Eropa hambat keberlanjutan petani kecil

    Ketahanan pangan mustahil tanpa keberlanjutan petani
    Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sejak awal menegaskan akan fokus pada ketahanan pangan.

    Namun ambisi itu hanya akan terwujud jika didukung oleh keberlanjutan petani kecil—mereka yang menyumbang sebagian besar produksi pangan nasional.

    Riset ini menunjukkan bahwa petani telah membuktikan kemampuannya untuk beradaptasi, menggabungkan tradisi lokal dengan pendekatan ilmiah. Tapi kreativitas saja tidak cukup. Mereka butuh dukungan nyata.

    Pemerintah harus menjamin akses terhadap teknologi, informasi, pembiayaan dan infrastruktur yang memadai. Selain itu, juga diperlukan penguatan kebijakan adaptasi yang sensitif gender untuk meningkatkan keterlibatan perempuan dalam pertanian.

    Mengingat kondisi alam dan iklim yang beragam, pemerintah tidak bisa menerapkan pendekatan “satu untuk semua”. Adaptasi harus disesuaikan dengan kondisi iklim lokal dan faktor sosial-ekonomi masing-masing daerah.

    Dalam hal ini, pemerintah daerah mesti mengambil peran aktif untuk menjamin ketahanan pangan lokal dan memperjuangkan nasib para petani dari dampak perubahan iklim.

    Artikel ini pertama kali terbitvdi The Conversation, Penulis: Venticia Hukom (Research Director, Kaleka). Safira Andrista selaku Partnership and Reporting Officer Yayasan Kaleka berkontribusi dalam artikel ini sebagai penulis utama hasil penelitian.

  • Mendesain Kota Responsif terhadap Banjir dengan Teknologi Komputasi Dinamika Fluida

    Mendesain Kota Responsif terhadap Banjir dengan Teknologi Komputasi Dinamika Fluida

     

    7cloud.asia – Banjir merupakan bencana alam yang paling umum dan mengakibatkan kerugian yang sangat besar. Dan, perubahan iklim telah mengakibatkan bencana banjir makin sering dan intens terjadi.

    Antara tahun 2000 hingga 2019, banjir menyumbang 44 persen dari semua bencana yang tercatat di seluruh dunia.

    Seperti peristiwa ekstrem lainnya seperti kekeringan dan badai, perubahan iklim membuat banjir lebih sering terjadi dan lebih parah.

    Sayangnya, sebagian besar kota di dunia tidak dirancang dengan baik untuk ketahanan banjir.

    Salah satu contohnya adalah sistem drainase yang burukdi ibu kota Uni Emirat Arab, Dubai  membuatnya sangat rentan terhadap banjir, seperti yang terjadi pada tahun 2024.

    Baca: Teknologi CFD bangun ketahanan kota terhadap udara panas

    Kabar baiknya, pengembangan teknologi komputasi dinamika fluida (Computational Fluid Dinamics/CFD) dapat mensimulasikan bagaimana air akan mengalir melalui kota selama hujan ekstrem atau pasang surut.

    Simulasi ini sangat penting untuk merancang pertahanan banjir, sistem air hujan hijau, dan apa yang disebut infrastruktur “kota spons”, yang menyerap air alih-alih mengalirkannya ke laut

    Ambil contoh Rotterdam; beberapa bagian kota berada 7 meter di bawah permukaan laut, sehingga rentan terhadap banjir dan kenaikan permukaan laut.

    Dilansir earth.org, kota terbesar kedua di Belanda ini telah menggunakan teknologi komputasi dinamika fluida (CFD) untuk mensimulasikan aliran air dan risiko banjir.

    Baca: Bangunan hijau jadi solusi untuk kota yang berkelanjutan

    Berbekal pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana banjir dapat dan akan merembes ke kota, para perencana kota Rotterdam telah membangun koridor “hijau biru” – aliran air dan area yang dibuat untuk menampung kelebihan air.

    Mereka telah merancang tempat parkir bawah tanah yang dapat menampung curah hujan, dan bahkan merekayasa struktur terapung yang dirancang agar tangguh jika terjadi banjir.

    Struktur ini menggunakan platform yang dapat mengapung dan sistem penahan yang fleksibel agar tetap stabil di atas air. Misalnya, beberapa rumah dirancang untuk mengapung di atas lambung beton yang dipasang di pantai.

    Dengan semakin meluasnya kota ke wilayah pesisir, teknologi komputasi dinamika fluida atau CFD akan terbukti menjadi alat yang sangat berharga untuk merancang kota yang tahan banjir di masa mendatang.

    Baca: Upaya sektor konstruksi temukan solusi atasi perubahan iklim

  • Penggunaan Teknologi Komputasi Dinamika Fluida untuk Mencegah dan Mengatasi Kebakaran Hutan

    Penggunaan Teknologi Komputasi Dinamika Fluida untuk Mencegah dan Mengatasi Kebakaran Hutan

    7cloud.asia – Perubahan iklim membuat kebakaran hutan semakin sering terjadi, lebih besar, cepat, dan semakin merusak.

    Kita tentu masih ingat kebakaran hebat yang bermula dari hutan yang melanda Los Angeles, California AS, sehingga menewaskan puluhan warga dan mengakibatkan kerugian miliaran dolar.

    Pada tahun 2023, Kanada kehilangan lebih dari 4,3 juta hektare hutan akibat kebakaran hutan menjadi pengingat bahwa setiap orang, terlepas dari kekayaan atau status, rentan terhadap dampak perubahan iklim.

    Kebakaran hutan juga dapat terjadi akibat pembakaran terkendali yang berubah menjadi tidak terkendali.

    Hal ini seperti yang terjadi dengan Kebakaran Calf Canyon/Hermits Peak – kebakaran hutan terbesar dalam sejarah negara bagian New Mexico – dimulai oleh dua contoh berbeda dari pembakaran terkendali, yang keduanya sengaja dimulai oleh Dinas Kehutanan AS.

    Dalam kasus ini, teknologi komputasi dinamika fluida (Computational Fluid Dinamics/CFD) dapat digunakan untuk mengendalikan kebakaran dengan lebih baik, sehingga mengurangi risiko kebakaran yang tidak terkendali.

    Baca: Teknologi CFD membangun resilien terhadap udara panas

    CFD juga dapat membantu kita memahami bagaimana angin membawa api dan asap. Model-model ini dapat membantu memprediksi pola kebakaran, memandu penempatan sekat api, dan merancang strategi evakuasi.

    Model-model ini juga membantu membangun struktur tahan api dengan mensimulasikan bagaimana bara api dan panas dapat merambat di medan yang kompleks.

    Prospek penerapan CFD
    Dalam tulisan sebelumnya, telah diulas bagaimana komputasi dinamika fluida dapat digunakan untuk mengatasi pulau panas perkotaan dan mendesain kota yang lebih tahan banjir.

    Daftar ini tidak mencakup potensi penuh CFD untuk ketahanan iklim. Faktanya memang CFD masih kurang digunakan terutama karena kompleksitasnya, dan kebutuhan daya pemrosesan komputer yang tinggi.

    Namun, diperkirakan kondisi ini akan berubah dalam tahun-tahun mendatang. Peningkatan perangkat keras yang berkelanjutan menurunkan biaya dan intensitas energi CFD.

    Beberapa tahun belakangan, chip komputasi berkinerja tinggi menjadi jauh lebih murah dan lebih bertenaga.

    Baca: Teknologi CFD membangun kota responsif terhadap banjir

    Demikian pula, kluster komputasi berkinerja tinggi dan platform superkomputer berbasis cloud menjadi lebih cepat dan lebih efisien.

    Keduanya juga menjadi lebih mudah digunakan. Kecerdasan buatan akan semakin membuat CFD dapat diakses oleh mereka yang memiliki keterampilan pengkodean terbatas.

    Banyaknya tutorial daring, dukungan komunitas, model bahasa yang besar, dan kumpulan data yang tersedia secara gratis semuanya berarti bahwa CFD sumber terbuka menjadi lebih mudah diakses oleh perencana kota dengan anggaran dan pelatihan terbatas.

    Tentu saja, seperti halnya teknologi baru lainnya, mereka yang baru mengenal CFD harus waspada terhadap sistem CFD yang dianalisis dengan buruk, karena hal ini dapat menyebabkan desain yang salah atau berbahaya.

    Pada akhirnya, aksesibilitas CFD akan meningkat secara eksponensial. Karena semakin banyak orang yang menggunakannya, akan semakin banyak model yang telah divalidasi sebelumnya dan kumpulan data yang terstandarisasi.

    Basis pengetahuan bersama ini dapat mengurangi siklus coba-coba secara signifikan.

    Baca: Bangunan hijau jadi solusi untuk kota yang berkelanjutan

  • Tiga Kelompok Siswa dalam Pendidikan Perubahan Iklim: Peragu, Pembelajar dan Advokat

    Tiga Kelompok Siswa dalam Pendidikan Perubahan Iklim: Peragu, Pembelajar dan Advokat

    7cloud.asia – Perubahan iklim sudah menjadi isu global yang bukan sekadar urusan ilmuwan atau pemerintah, tapi juga masyarakat luas, terutama kaum muda.

    Sebab, mereka lah yang akan menjadi calon pengambil keputusan, inovator, dan pemimpin masa depan yang menghadapi dampak nyata dari perubahan iklim.

    Tahun ini, penulis melakukan survei yang melibatkan 4.501 siswa Sekolah Menengah Atas di empat kota di Indonesia, yaitu Jakarta, Surabaya, Malang, dan Balikpapan.

    Studi ini bertujuan mengetahui bagaimana siswa memahami isu perubahan iklim, dengan mengacu pada tiga dimensi: kognitif (pengetahuan), afektif (sosio-emosi), dan perilaku.

    Klaster siswa berdasarkan tingkat konsepsi perubahan iklim. Hasilnya, para siswa dapat dikategorikan ke dalam tiga kelompok besar: si Ragu (The Uncertain) sebanyak 26 persen, si Pembelajar (The Learners) sebanyak 47 persen, dan si Advokat (The Advocates) sebanyak 27 persen.

    Masing-masing kelompok memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga memerlukan pendekatan pendidikan iklim yang berbeda pula.

    Klaster 1: si Ragu (‘The Uncertain’) yang membutuhkan pemantik emosional
    Hasil survei menunjukkan, kelompok si Ragu memiliki tingkat pengetahuan, kepedulian, serta kesiapan bertindak yang relatif rendah.

    Mereka bercirikan cukup tahu soal perubahan iklim, tapi skor rata-rata pengetahuan faktualnya hanya 43 dari skala 100.

    Baca: ‘Nenengisme’ jadi pilihan membumikan isu perubahan iklim

    83 persen siswa masih keliru menganggap penipisan lapisan ozon sebagai penyebab utama perubahan iklim. Mereka memahami perubahan iklim hanya sebagai peningkatan suhu bumi.

    Salah menilai efektivitas aksi mitigasi. Daur ulang rumah tangga dianggap lebih penting ketimbang pengurangan limbah makanan dan perencanaan keluarga, padahal dua opsi terakhir berdampak lebih besar.

    Tingkat kepedulian masih rendah. Mereka cenderung netral atau apatis terhadap isu perubahan iklim, baik untuk diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat luas.

    Harapan terhadap solusi rendah, terutama jika menyangkut kepercayaan terhadap pemimpin politik.

    Kelompok ini cenderung pasif karena kurang inisiatif untuk bertindak dan rasa percaya diri rendah.

    Kelompok ini perlu pemantik emosional agar bisa terhubung secara personal dengan isu perubahan iklim.

    Pendidikan berbasis seni (art-based learning), seperti menulis puisi, membuat poster, atau drama bertema lingkungan, bisa menjadi pintu masuk.

    Sebuah eksperimen di Portugal membuktikan bahwa pembelajaran perubahan iklim berbasis seni bisa meningkatkan keterlibatan emosional dan bisa mengubah pola pikir siswa.

    Baca: Anak muda Flobamorates berkontribusi menahan perubahan iklim

    Kisah inspiratif dari sesama anak muda atau pengalaman komunitas lokal juga efektif membangun empati dan keterlibatan.

    Guru bisa memutar video pendek tentang siswa di daerah lain yang memulai gerakan mengurangi sampah makanan atau mengundang relawan muda dari komunitas lingkungan setempat untuk berbagi pengalaman mereka di kelas.

    Setelah ketertarikan tumbuh, edukasi bisa dilanjutkan dengan memberikan pengetahuan dasar yang sistematis tentang sebab, dampak, dan solusi perubahan iklim melalui modul interaktif, kuis, atau kegiatan diskusi kelompok yang dipandu oleh guru.

    Klaster 2: Si ‘Pelajar’ yang aktif mencari jawaban
    Kelompok ini memiliki jumlah terbesar, hampir setengah dari total responden. Mereka menunjukkan sikap positif, tetapi belum sepenuhnya memiliki pengetahuan atau rasa percaya diri yang cukup untuk bertindak. Ciri-cirinya antara lain:

    Memiliki tingkat pengetahuan yang lebih baik dibanding si Ragu, tapi masih mengalami miskonsepsi.

    Kelompok ini merasa paham tentang isu perubahan iklim, tapi belum benar-benar memahaminya secara ilmiah.

    Bersikap sangat positif terhadap perubahan iklim. Sadar bahwa perubahan iklim adalah ancaman serius dan menunjukkan kepedulian tinggi, khususnya terhadap dampak pada diri dan keluarga.

    Sebagian masih ragu terhadap solusi jangka panjang, terutama yang bergantung pada kebijakan politik.

    Baca: Gen Z dan baby boomers sama-sama terdampak perubahan iklim

    Bersedia menghemat energi, mengurangi konsumsi, dan belajar mengenai perubahan iklim lebih jauh.

    Masih banyak yang tidak yakin apakah tindakan mereka akan berdampak.

    Kelompok ini cocok dengan pembelajaran berbasis inkuiri atau pemecahan masalah (inquiry-based/problem-based learning) yang mendorong penyelidikan aktif dan pemahaman ilmiah yang lebih mendalam.

    Studi kasus dan penelusuran informasi melalui media bisa menjadi strategi pendidikan perubahan iklim yang membantu mereka mengaitkan teori dengan kehidupan nyata.

    Guru bisa mengajak siswa menelusuri berita banjir di kota mereka dan kemudian menghubungkannya dengan isu krisis iklim global, atau membandingkan laporan organisasi iklim dunia seperti IPCC dengan liputan media lokal.

    Selain itu, siswa bisa disuguhi contoh konkret dan kisah sukses, seperti sekolah di Kepulauan Banda yang berhasil bebas plastik berkat inisiatif siswa dan guru. Kisah-kisah ini bisa menumbuhkan harapan dan membangun keyakinan bahwa kontribusi sekecil apa pun tetap berarti.

    Klaster 3: Si ‘Advokat’ yang siap beraksi
    Kelompok ini memiliki pengetahuan yang lebih komplit, punya kepedulian tinggi, dan motivasi besar untuk bertindak. Karakteristiknya adalah sebagai berikut:

    Memiliki pemahaman konseptual yang paling tajam meski nilai pengetahuan faktual belum tinggi.

    Mampu membedakan tindakan yang berdampak lebih akurat daripada kelompok lain.

    Memahami isu iklim sebagai bagian dari persoalan kemanusiaan.

    Baca: Gangguan kecemasan bernama eco-anxiety

    Sangat peduli terhadap perubahan iklim dan dampaknya, tidak hanya pada level individu tetapi juga kolektif.

    Menunjukkan harapan yang konstruktif, yaitu keyakinan bahwa melalui kerja sama, perbaikan masih mungkin terjadi.

    Siap beraksi, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun melalui kampanye, petisi, atau advokasi kebijakan.

    Memiliki keyakinan tinggi terhadap aktivitas manusia sebagai penyebab perubahan iklim, tapi tetap skeptis terhadap strategi mitigasi perubahan iklim.

    Pendekatan terbaik bagi mereka adalah pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) yang melibatkan siswa secara aktif dalam merancang solusi, baik di sekolah maupun komunitas. Mereka bisa dilibatkan dalam proyek jangka panjang, kampanye, kompetisi, atau kerja sama lintas sekolah.

    Si Advokat juga bisa dilatih menjadi fasilitator atau peer educators untuk membimbing teman sekelas atau adik kelas dalam diskusi sederhana tentang gaya hidup ramah iklim. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat kapasitas kepemimpinan, tetapi juga menumbuhkan semangat aktivisme.

    Fokus pada peserta didik
    Ketiga kelompok di atas menunjukkan bahwa tidak ada satu pendekatan tunggal yang cocok untuk semua siswa. Pendidikan perubahan iklim harus dirancang ulang agar adaptif dan responsif terhadap keragaman karakteristik peserta didik.

    Pendekatan yang berpusat pada peserta didik (learner-centred)—berakar pada konteks lokal, nilai, dan realitas sosial-budaya siswa—menjadi kuncinya.

    Pendidikan perubahan iklim sebaiknya tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun kesadaran, empati, dan kapasitas untuk bertindak.

    Dengan memahami karakter siswa lebih dalam, kita bisa menumbuhkan generasi yang tidak hanya paham krisis iklim, tetapi juga siap menjadi bagian dari solusinya.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Kelvin Tang (PhD Candidate, University of Tokyo)